Eileen Lukito Pianis Muda Indonesia: Belajar Lebih Dalam di Birmingham City dan Leeds University! Pesannya “Live Life To The Fullest”!

Jutaan mahasisa Indonesia bermimpi mereka bisa kuliah ke luar negeri, khususnya Inggris. Hal ini terlihat dari data para pelamar beasiswa LPDP. Ibarat dari 100 pendaftar 60 orangnya memilih Inggris, jadi bisa disimpulkan sendiri seberapa favorit negara Inggris di mata mahasiswa Indonesia. Eh sebentar.... jangan-jangan kamu juga salah satu dari jutaan mahasiswa Indonesia yang pengen kuliah di Inggris?



Nah, kalau kamu juga salah satu pelajar yang tertarik kuliah di Inggris, mending simak aja nih hasil bincang-bincang dengan mbak Eileen yang sekarang lagi lanjut S2 nya di University of Leeds. Yuk... kita simak sama-sama...

Sekarang mending kita kenalan dulu aja ya sama mbak Eileen, siapa sih mbak Eileen dan sekarang lagi menempuh studi apa sampai jauh-jauh ke Inggris.


Nama saya Eileen Lukito. Saya mengambil Bachelor of Music (setara dengan S1) di Birmingham Conservatoire dari tahun 2011-2015. Jadi, Juni 2015 ini baru lulus, bakal ceremony 4 September ini. Saya akan melanjutkan study master course nya Master in Music Management and Business di University of Leeds untuk 1 tahun intensive sampai September 2016. Sekarang lagi summer break sebenarnya, tapi lagi sibuk pindahan dari Birmingham ke Leeds. Orang tua Eileen juga bakal datang sebentar lagi buat attend graduation ceremony dan jalan-jalan sekitar UK dan Europe. 

Dunia Seputar Kampus

Mbak Eileen saya denger sekarang sedang kuliah di jurusan musik ya, kenapa sih memilih Inggris dan memilih Birmingham City Unviersity sebagai tempat menimba Ilmu?

Sebenarnya, saya ada apply di US juga, mengingat lebih banyak keluarga di US dan koko sudah kuliah di sana. Tapi, kemaren dapat offer scholarship dari Birmngham Conservatoire. Birmingham Conservatoire juga salah satu top conservatoire di UK. Selain itu, saya lebih tertarik dengan atmosphere musik UK dan Europe dibanding US. Plus, travelling nya juga sih. Hehe.

Apa yang mbak Eileen pertimbangkan sebelum mendaftar kuliah di Inggris jurusan musik, terlebih lagi dengan baiaya sendiri ya?


Saya mengambil musik sebenarnya nasehat dari mama. Memang dari kecil saya sudah belajar piano (dari umur 6 tahun) dan saya senang bermain piano, tetapi untuk mengambil studi musik sebenarnya nasehat mama melihat lowongan pekerjaan untuk bidang ini masih sangat open. Faktor lain ya jelas biaya, tetapi kemaren thanks God dapat scholarship dari sekolah jadi sangat membantu. Kalau faktor Inggris itu jauh dari orang tua dkk sebenarnya tidak terlalu besar, soalnya orang tua sangat open dan kasih freedom ke Eileen untuk menentukan masa depan Eileen sendiri.

Bisa dijelaskan mbak bagaimana sih proses mendaftar kuliah di Inggris dengan biaya sendiri? (Milih kampus dan jurusan, daftar, dan diterima)

Kemaren daftarnya kalau sekolah musik lewat website online CUKAS.Jadi kemaren, saya kirim recording saya bermain piano; jadi kayak semacam audition online gitu. 

Syarat dan dokumen apa saja yang harus dipenuhi untuk mendaftar kuliah di kampus mbak Eileen dengan jurusan musik tersebut?

Harus minimum ada certificate ABRSM Grade 8 dengan nilai distinction or equivalent, TOEFL, Ijazah SMA, bukti finance.

Untuk jurusan musik jenjang S1, lebih banyak praktek atau teori mbak? Bagaimanakah cara beradaptasi dengan sistem pembelajaran tersebut?

80 persen bisa dibilang praktek. Setiap hari kerjaan nya latihan piano 4-5 jam. One to one lesson tiap minggu. Teori mungkin hanya presentasi dan essay 2-3 tahun sekali. Sisanya dinilai dari performance kayak konser kecil-kecilan gitu. Adaptasi sih harus punya determination. Toh, tapi saya suka bermain piano dan orangnya kalau uda mau pasti saya akan melalakukan apa aja untuk mencapainya. So, kadang orang terkejut waktu saya bilang saya di depan piano 4-5 jam sehari haha. Tapi, 4 tahun saya survive kok and I have no regrets. haha.

Siapakah nama dosen favorit mbak Eileen pada saat menempuh kuliah di Birmingham City University? Mengapa beliau kamu favoritkan?

Katya Apekisheva. Beliau guru piano saya saat saya baru mulai di tahun pertama. Beliau sangat sabar dan bisa dibilang saya tidak akan mencapai level bermain piano sekarang tanpa beliau. Jujur, beliau sangat terkejut dengan level bermain piano saya waktu pertama kali mendengar saya, tetapi dengan sabar beliau mengajar saya dan improve my skills in piano playing.

Bagaimana kampus Birmingham City University dalam menyediakan sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mahasiswa?

Lengkap. Banyak ruang untuk private practice. Oke deh pokoknya.


Tentang Biaya

Seberapa besar pengeluaran mbak Eileen setiap bulannya jika menggunakan biaya sendiri? Baik untuk akomodasi, transport, makan, jalan-jalan, belanja, dll. Kalau biaya kuliah tiap semester menggunakan biaya sendiri berapa mbak?

Biaya undergrad setahun nya kemaren 14000 pounds. Kalau pengeluaran, saya share private apartment berdua sama temen course dari Taiwan, kira-kira rent apartment dan bills sekitar 450 pounds per bulan. Kalau pengeluaran untuk makan dan have fun tergantung sih lagi bulan apa haha. Kalau lagi sibuk ga banyak, kalau lagi libur kayak gini banyak. Tapi mungkin rata-rata sekitar 450 pounds per bulan nya.

Bagaimanakah cara hidup hemat di Inggris terlebih kuliah menggunakan biaya sendiri?

Masak sendiri sih, soalnya eat out di sini mahal sekali. Tapi mungkin bukan posisi saya untuk kasih nasehat ini gara-gara saya jarang banget masak. Terus, kalau beli buah dan sayur gitu di market jangan di supermarket kayak Tesco, Sainsburry. Soalnya jauh lebih fresh dan murah kalau di outdoor market gituu. Kalau transportasi, bisa menggunakan 16-25 card kalau sering travelling. Discount 40% untuks semua rail fare.


Alat Komunikasi

Jika memiliki HP, SIM Card apakah yang biasanya digunakan mahasiswa Indonesia di Inggris? Apa yang sebaiknya digunakan dan apa kelebihannya?

Saya menggunakan Giffgaff. Ini kayak udah paling oke, soalnya dengan 12 pounds bisa mendapatkan 3 GB internet, 500 mins call dan unlimited text per bulannya. haha ini bukan promosi lho ya!

Jika ingin menggunakan layanan internet di tempat tinggal, bagaimanakah cara pemasangannya dan cara pembayarannya? Jaringan apa yang paling direkomendasikan untuk digunakan? Misal di Indonesia kan ada Speedy.

Bisa menggunakan Sky atau Virgin. Bisa menelpon company atau do it online untuk register. Bayarnya paling convenient pakai direct debit per bulan langsung di cash di bank account yang didaftar. Layanan ini bisa dikombinasikan dengan layanan TV channels dan telepon juga kalau mau ada TV  di rumah.


Kesehatan

Adakah kartu asuransi khusus kesehatan atau yang sejenis? Bagaimanakah skema berobat ke rumah sakit atau ke dokter bagi mehasiswa Indonesia yang sedang sakit?

Waktu saya datang sampe tahun ini biaya kesehatan semua gratis. Tinggal register dengan General Practice (rumah sakit umum) yang di area tempat tinggal. Terus, kalau ada masalah, tinggal book appointment, ketemu dokter, terus dikasih prescription. Hanya prescription aja yang harus kita bayar. Biaya dokter semua gratis. Tetapi sekarang waktu saya baru extend visa bulan Agustus ini, international students dikenakan biaya kesehetan mengikuti regulations yang baru. Kemaren setahun dicas 225 pounds.


Masyarakat

Masyarakat Inggris itu kan ramah-ramah ya mbak, kira-kira bagaimanakah cara bergaul paling pas dengan mereka di sana?


Be confident! Orang inggris pintar sekali dalam ngomong tapi kita ga boleh malu dan just go for it! Toh, worst case kita salah ngomong, mereka easy going kok, mereka bakal melihat kesalahan itu like something funny dan you will make a lot of friends like that! Tapi, gini-gini juga harus lihat sikon dan ada batas nya sih. Pintar-pintar lihat keadaan  dan baca orang deh. Haha. Tapi yang jelas, making friends sama orang inggris ga gitu beda jauh sama orang Indo. Mereka terkadang emang lebih eksklusif, tapi toh itu gara-gara mereka melihat kita beda culture sudah. That's why we need to be excel at adaptation! :D :D

Dalam masyarakat, apakah ada aturan-aturan dalam berpakaian?

Ga ada kok. Haha. Everything is accepted! Tapi mostly pakai coat mulu sih. Anginnnya kencengg banget!


PPI Inggris

Bagaimanakah peran teman-teman PPI dalam mengisi hari-hari mbak Eileen selama kuliah di Inggris? Seperti apakah mereka di mata mbak Eileen?


Saya hanya mengetahui ada PPI waktu tahun kedua saya. Tahun pertama saya tidak mengenal any Indonesians, semua temen kampus campuran dari Asia, UK, Europe. Jelas habis mengenal PPI, saya lebih mengenal banyak masyarakat Indo; mereka sangat membantu making UK feels like home banget deh. Apalagi dengan masakan-masakan Indo yang top habis. Kadang kita sering ngumpul-ngumpul ngmong Bahasa Indo, nyanyi lagu indo, catch up dengan apapun yang hot di indo. Kita juga sering travelling bareng, do sports together. Beneran deh, they are already like my second family!


Serba-serbi

Bagaimanakah cara mbak Eileen dalam mengusir rasa kebosanan saat diluar jam perkuliahan?


Travelling! travelling di UK sangat mudah dengan kereta. Toh, UK bisa dibilang kecil. Sangat convenient. Kadang, kita juga rent mobil bareng dan just pick up any interesting place and we are on the road! :D :D Kadang kalau weekend panjang, atau break, kita juga plan ke Europe (emang butuh apply Schengen visa lagi), tapi kalau sudah sekolah di UK, ga ke Europe menurut saya sangat wasted! Haha. you need to travel when you are still young! Live the life gitu loh sebelum kerja dan bekeluarga. haha.


Saya juga mengisi kebosenan dengan bermain badminton. Mungkin seminggu bisa 2-3 kali. Ikut school's club dan club lain di Birmingham. Selalu mewakilin PPI kalau ada acara Indofest, Atikdbud. Seru banget kalau udah serempakan uniform dari Birmingham waktu ketemu anak indo dari city lain. Haha.


Motivasi dan Semangat

Berikanlah motivasi dan semangat kepada teman-teman di Indonesia yang ingin melanjutkan ke Inggris agar mereka semakin semangat dalam meraih cita-cita!


Umm apa yah hahaha.  Gini deh untuk yang lagi galau milih-milih mau ke Inggris atau ga, I think the most important thing is that to realize that you will never make a wrong decision. What makes it wrong is when you start to regret it; but, once you make a choice, you should  always try your best to reach it and defo have fun while you are at it! Live life to the fullest please peeps! 

Yak, udah nyimak cerita di atas? Berarti kamu udah lumayan dapet gambaran tentang Inggris dong? Nah, sekarang saatnya kamu cari informasi yang lebih banyak lagi, biar kalau kamu daftar nanti makin matep dan makin punya kesempatan yang lebih besar diterimanya.

Salam berkuliah.com!

Narasumber: Eileen Lukito
Reporter: Imam Sultan Assidiq

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



10 NEGARA DENGAN BIAYA KULIAH LEBIH RENDAH DARI INDONESIA

Pingin kuliah ke Luar Negeri tapi dengan biaya sendiri atau biaya murah?
Buat kalian yang mau kuliah ke Luar Negeri dengan pilihan negara berbiaya murah. Berikut rekomendasi www bekuliah.com buat kamu!

1. Itali
Meskipun perguruan tinggi swasta di Italia dapat diketahui biaya berkisar hingga US $ 17.360 (Rp 250.279.120) per tahun, perguruan tinggi negeri di Italia yang nyata lebih murah, berbayar antara US $ 920-1,080 (Rp 13.263.640-15.570.360) per tahun untuk program sarjana.

SiswaUni Eropa yang memenuhi syarat untuk menerima peluang pendanaan yang sama seperti mahasiswa Italia, termasuk pinjaman, hibah, beasiswa dan keringanan biaya. Biaya hidup di Italia juga tidak setinggi seperti yang Anda kira, sekitar US $ 1.300 (Rp 18.742.100) per bulan. Tahun ini, Milan menempati peringkat ke-36 dalam QS Best Student Cities.



2. Spanyol
Dengan hak pendidikan yang sama seperti siswa Spanyol, siswa Uni Eropa tidak diharuskan untuk membayar biaya pendidikan tinggi. Mahasiswa internasional, sementara itu, dapat belajar di Spanyol untuk harga antara US $ 740-1,500 (Rp 10.668.580-21.625.500)/tahun di lembaga publik. Biaya dibebankan pada 'per kredit' dasar dan bisa lebih tinggi di tingkat pascasarjana. 

Untuk tinggal di Spanyol Anda dapat menghabiskan antara US $ 970-1,200 (Rp 13.984.490-17.300.400) biaya hidup. Barcelona dan Madrid sama-sama ditampilkan dalam QS Best Student Cities 2015 peringkat, di 19 dan 39 masing-masing.



 3. Yunani
Semua siswa dari dalam Uni Eropa atau EEA dapat belajar di luar negeri secara gratis di Yunani di perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi di semua tingkat, dengan pengecualian program gelar beberapa master. Dan jika ini tidak terdengar seperti tidak cukup, anda juga bisa mendapatkan buku-buku pelajaran secara gratis!

Siswa Internasional juga yang memenuhi persyaratan mendapatkan kesempatan untuk pendidikan dengan harga murah, sekitar US $ 1.630 (Rp 23.499.710) per tahun. Yunani menawarkan salah satu biaya terendah yang tinggal di Uni Eropa.



4. Taiwan
Biaya kuliah di Taiwan  dengan universitas terkemuka bangsa menawarkan program yang terjangkau. Sebagai contoh, National Taiwan University (NTU), universitas terkemuka di negara itu 76 di QS World University Rankings 2014/15, tahun lalu dibebankan mahasiswa hanya US $ 1,600-2,000 (Rp 23.067.200-28.834.000) untuk tahun ini. Dalam QS Best Student Cities 2015, Taipei menduduki peringkat 25 di dunia dan kota yang paling terjangkau bagi siswa di 2015.


5. Jerman
Jerman salah satu negara Eropa yang menjadi tujuan favorit untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Tahun lalu dari 16 negara, Jerman menghapuskan biaya kuliah untuk mahasiswa sarjana di seluruh perguruan tinggi publik Jerman. Ini berarti, baik mahasiswa sarjana domestik dan internasional di universitas negeri di Jerman dapat belajar secara gratis, hanya dengan biaya yang kecil untuk menutupi administrasi dan biaya lainnya per semester.

Berdasarkan angka resmi dari DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman), biaya rata-rata belajar di Jerman hanya US $ 10.520  (Rp 151.666.840) per tahun, mendekati ke US $ 540 (Rp 7.785.180)untuk biaya sekolah dan US $ 9.980 (Rp 143.881.660) selama 12 bulan hidup yang meliputi makanan, transportasi, akomodasi, hiburan, materi kursus dan keperluan lainnya.


6. Austria
Negara lain di mana siswa dapat belajar di Eropa gratis (atau dengan biaya yang sangat rendah) adalah Austria. Siswa EU/EEA menikmati hak yang sama dengan Austria terkait biaya pendidikan yang lebih tinggi, dan dapat belajar selama dua semester secara gratis pada setiap tingkat. Setelah waktu ini, siswa membayar biaya hanya US $ 390 (Rp 5.622.630) per semester.

Mahasiswa internasional dari luar Uni Eropa atau EEA harus membayar biaya sedikit lebih tinggi dari sekitar US $ 790 (Rp 11.389.430) per semester. Biaya hidup akan mengatur semua siswa kembali sekitar antara US $ 920-1,080 (Rp 13.263.640-15.570.360) bulan. Wina, ibukota Austria, menduduki peringkat ke-20 dalam QS Best Student Cities 2015.



7. Republik Ceko
Siswa yang yang dapat berbahasa Ceko akan mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri secara gratis di Republik Ceko di universitas publik. Siswa yang ingin belajar bahasa Inggris juga dapat belajar cukup murah, sekitar US $ 1.080 (Rp 15.570.360)per semester. Biaya hidup yang lebih terjangkau daripada di banyak negara di Eropa Barat, di sekitar US $ 350-750 (Rp 5.045.950-10.812.750) per bulan. Ibukota Ceko, Praha, adalah tahun ini 49 peringkat di QS Best Student Cities.



8. Nordic
Dikenal dengan kualitas tinggi dari kehidupan, alam yang menakjubkan dan politik liberal, negara-negara Eropa Utara (dikenal sebagai negara-negara Nordik) juga membanggakan pada beberapa sistem pendidikan terkuat tinggi di dunia. Dan bagi banyak siswa, itu mungkin untuk belajar di luar negeri secara gratis di empat dari lima negara Nordik!

Sementara Islandia tidak biaya kuliah biaya, sesama negara Nordik Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia semua menawarkan kesempatan untuk belajar secara gratis. Namun, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi siswa.

Di Norwegia, studi universitas yang tersedia secara gratis untuk semua siswa, terlepas dari tingkat pendidikan atau kebangsaan. Mayoritas program sarjana diajarkan hanya dalam Norwegia, dan siswa internasional harus menunjukkan bukti kemahiran dalam Norwegia untuk belajar di tingkat ini.
Dari kedua negara Denmark dan Swedia, biaya internasional di sarjana dan master tingkat bervariasi. Di Denmark, biaya universitas berkisar dari antara US $ 6,550- $ 17,500 (Rp 94.431.350-252.297.500) per tahun, sedangkan di Swedia mereka jatuh antara US $ 9,400-16,500 (Rp 135.519.800-237.880.500).




9. India
Di India, siswa internasional di tingkat sarjana sering akan membayar sejumlah tahunan gabungan antara US $ 1.200- $ 5.300 (Rp 17.300.400-76.410.100) untuk menutupi kedua biaya kuliah mereka dan akomodasi mereka. Sementara lembaga pemerintah memungut biaya cukup mirip, gelar sarjana cenderung lebih mahal dan sekolah swasta biaya secara signifikan lebih.

Biaya hidup di India, bagi sebagian besar siswa, mungkin akan sangat menarik. Menurut Numbeo, harga konsumen adalah 236% lebih murah daripada di Inggris, sementara harga sewa sebanyak 471% lebih murah.


10. Perancis
Perancis mungkin tidak begitu dikenal seperti  Jerman untuk pendidikan tinggi yang terjangkau, tapi sekali lagi, siswa internasional mungkin akan terkejut mendengar bahwa mereka juga dapat belajar di Perancis gratis (atau, dengan biaya yang sangat rendah), terlepas dari kebangsaan mereka.
Meskipun secara teknis biaya universitas memang ada di universitas negeri di Perancis, mereka cukup membayar US $ 250 (Rp 3.604.250) per tahun untuk menutupi administrasi saja.

Seperti halnya di Jerman, sebagian besar program menawarkan kesempatan untuk belajar di Perancis secara gratis diajarkan dalam bahasa asli. Namun, ada semakin banyak kesempatan untuk belajar dalam bahasa Inggris, terutama di tingkat pascasarjana. Anda juga bisa menghadiri sekolah persiapan untuk menyempurnakan keterampilan Perancis sebelum memulai kelas anda.

Meskipun dimungkinkan untuk belajar di Perancis secara gratis, biaya hidup sangat besar, terutama di ibukota yang populer. Yang mengatakan, meskipun ketenaran untuk biaya hidup yang tinggi, Paris masih cukup terjangkau, dengan biaya hidup sebesar sekitar US $ 10.430(Rp 150.369.310) per tahun. Keterjangkauan komparatif Perancis ibukota, dikombinasikan dengan pilihan besar universitas internasional peringkat, berarti terus ke atas indeks QS Best Student Cities.
Peringkat tertinggi lembaga: ENS Paris (24 di QS World University Rankings 2014/15)



Pebri Nurhayati, S.Pd

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Naely Syarifah Pemenang Paket Liburan ke Singapura dari Inspira Book

Semua tentu tahukan kalau Inspira Book mengadakan undian berhadiah. Undian berhadiah tersebut terdiri atas 1 Paket Liburan ke Singapura, 3 Paspor Gratis, 50 Paket DVD Ebook JKLN 3 Negara Senilai Rp 285.000 dan Hadiah langsung tanpa diundi berupa Coaching Clinic ke Luar Negeri di 6 Kota.  Nah, sekarang kita bakal ngobrol dengan mbak Naely yang beruntung dan terpilih sebagai pemenang 1 Paket Liburan ke Singapura. Kamu penasaran? Langsung simak saja ya liputannya. :)

1. Selamat siang Mbak... Bolehkah diceritakan sekilas profil dari Mbak Naely? Bisa dimulai dari nama lengkap, asalnya dari mana, asal universitas mana, jurusan apa, tinggal dimana?

Halo perkenalkan nama saya Naely Syarifah, bisa dipanggil Naely. Saya asalnya dari Kebumen, lulusan Farmasi UGM. Saat ini saya tinggal di Jalan Kaliurang KM 6,5.

2. Apa yang dipelajari dan menjadi fokus studi mbak dijurusan tersebut?

Di Farmasi saya mendalami klinis dan komunitas.

3. Aktivitas saat ini diisi dengan apa? Sibuk dengan apa saja, bolehkan diceritakan?

Saya sedang free job dan saat ini saya mengambil les bahasa inggris saja, untuk prepare studi ke Luar Negeri. Iya, doakan saya ingin pinginnya ke Eropa, spesifiknya pinginnya ke Inggris, tapi belum tahu besok, tergantung dan lihat kedepannya kayak gimana. Untuk jurusan yang ingin saya ambil adalah Farmokologi atau enggak Farmakoekonomi.

4. Mbakkan saat ini alhamdulilah terpilih dan menang undian dari JKLN untuk berlibur ke Singapura? Selamat ya mbak! :) Kenapa mbak tertarik dan akhirnya memutuskan untuk membeli atau mendapatkan JKLN?

Yang pertama saya ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri. Tentunya banyak sekali informasi-informasi yang harus saya dapatkan untuk memudahkan saya untuk dapat beasiswa atau untuk mendaftar ke universitas yang ingin saya tuju, itu memerlukan mencari informasi yang komplit. Jika saya googling internet, itu akan memakan banyak waktu. Saya baca review dari JKLN sudah memuat banyak sekali informasi yang dibutuhkan ke luar Negeri. Jadi saya tertarik untuk membeli dan membaca JKLN.

5. Oh iya mbak Naeli, kalau saya boleh bertanya ini adalah pertama kalinya Ke Luar Negeri ya? Lalu, ketika tahu rasanya gimana mbak?

Wahh... Iyes ini pertama kalinya. Awal pertama kalinya saya mendapat kabar ke Luar negeri sempet gak percaya juga mbak. “Beneran ini yang menang aku atau enggak...?!” Perasaannya jelas seneng ya. Soalnya ini pertama kalinya saya ke Luar Negeri, gratis pula! Free mulai dari tiket pesawat pulang pergi, akomodasi, paspor semuanya ditanggung oleh Inspira. Jadi, Alhamdulillah sekali bisa mendapatkan kesempatan berlibur ke Luar Negeri.

6. Jika sudah sampai di Singapura, kira-kira apa saja yang akan dilakukan selama disana?

Berfoto di Patung Marlion mungkin ya salah satunya hehe...

7. Seperti yang mbak utarakan bahwa ada keinginan melanjutkan studi ke Luar Negeri. Sebenarnya apa yang menjadi motivasi tersebut dan usaha apa yang sudah dilakukan untuk mencapai hal tersebut?

Saya memang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas, belajar kebudayaan dari negara lain, mengenal teman dari berbagai negara lain. Itu akan sangat menarik, dan menjadi salah satu motivasi saya kenapa ingin kuliah ke Luar Negeri. Kemudian, untuk persiapan salah satunya saya lakukan dengan membeli dan membaca buku JKLN Inspira. Kemudian mempersiapkan perihal bahasa, karenakan islanya kalau ingin studi keluar negeri, salah satunya syaratnya adalah TOEFL atau IELTS, jadi saya sudah mempersiapkan diri dengan mengambil les bahasa Inggris (IELTS).

8. Poin penting apa yang dapatkan dan rasakan sampai saat ini antara adanya mimpi mbak, JKLN dan Singapura?

JKLN seperti menjadi pintu pembuka bagi saya untuk bisa mewujudkan impian saya untuk melanjutkan studi keluar negeri, dan Singapura adalah salah satu gerbang pertama yang akan mengantarkan saya melihat dunia luar itu seperti apa.

9. Apa kelebihan dari buku JKLN yang mbak rasakan? Apakah JKLN mampu mewujudkan mimpi mbak?

Super Complete itu satu hal yang bisa menggambarkan isi dari buku JKLN. Pembaca bisa mendapatkan semua hal yang dibutuhkan dari satu buku ini.

10. Adakah nasihat serta tips dari mbak Naeli bagi kawan-kawan yang ingin mewujudkan mimpi GO ABROAD dan terkait JKLN?

Yang pertama, harus berusaha, kemudian lakukan apapaun yang kalian bisa sekarang juga. Jangan suka menunda besok-besok, itu enggak akan jalan-jalan. Seperti saya sebelumnya sempat menunda-nunda dan itu tidak akan jalan kalau kamu hanya bermimpi tanpa melakukan aksi satupun. Walaupun hal kecil misalnya dengan membeli buku, nanti akan memicu semangatmu agar kamu mau melakukan dan mewujudkan mimpi.
Kedua, Jangan lupa berdoa dan meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar impianmu diridhoi oleh-Nya.
Kemudian ketiga, meminta restu kedua orang tua, karena restu orang tua akan memudahkan jalanmu nanti.


Mbak Naely, pemenang undian JKLN liburan ke Singapura

Testimoni dari Mbak Naely
“Terima Kasih untuk INSPIRA BOOK telah memberi saya kesempatan berlibur ke Singapura kemudian telah membuka salah satu pintu saya untuk melanjutkan studi ke Luar Negeri”


Terima kasih  Mbak Naely. Sukses untuk aktivitas dan berkarya-nya saat ini :)

Warmest Regards,
Pebri Nurhayati, S.Pd



Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Guru Besar UNY yang Melanglang Buana di Zaman Sulitnya Mendapatkan Pendidikan

Siapa yang tidak bermimpi bisa kuliah Ke Luar Negeri? Apalagi jika kuliahnya dibiayai baik melalui beasiswa yang disediakan oleh negara tujuan studi ataupun dari negara sendiri. Tapi terkadang kita merasa ragu bisa kuliah ke luar negeri bagaimana caranya? Jangan khawatir teman, saat ini sudah banyak penyedia beasiswa yang mau membiayai kamu selama masa studi. Coba tengok saja, di zaman masih sulit yaitu tahun 1960-an seorang anak bangsa mampu menjawab tantangan tersebut. Profesor. Dr. Husain Haikal, MA menjadi salah satu Putra pilihan yang menerima beasiswa ke Luar Negeri. Bagaimana cerita perjalanan beliau selama di Luar Negeri? Yuk langsung simak bersama :)

1. Sebagai seorang akademisi senior yang dikenal oleh banyak orang dan seluruh nusantara. Bolehkah diceritakan sekilas profil dari Prof. Husain Haikal, MA? Bisa dimulai dari asalnya dari mana, asal universitas mana, jurusan apa dan profesi saat ini?

Konon saya dilahirkan di Semarang pada zaman Jepang, fisik saya kecil dibanding orang tua maupun putra saya. Keluarga saya beragam etnis, bahkan ada buku Gan Peng, itu saya termasuk kelompok Ting Hoa. Tapi semua keluarga tidak ada yang berpikir suku kelompok, yang dipikirnya sebagai bangsa Indonesia.

Kemudian saya pindah ke Pekalongan, saya masih ingat saya naik truk dan saya masih ingat suasana-suasana penjajahan, ketika Belanda kembali ingin menjajah, berulang kali berkibar bendera merah putih biru. Saya sekolah sejak SD hingga SDA di Pekalongan. Kemudian saya mendaftar ke UNDIP dan UGM, saat itu untuk kuliah harus mendaftar dan ujian sendiri tidak seperti sekarang. Alhamdulillah kedua-duanya diterima. Kenapa diterima? Karena pendidikan lebih menekankan  mutu.

Saya masih ingat ketika ujian rakyat SD saya tidak lulus namun ujian negara saya lulus. Saya termasuk beruntung karena zaman itu belum banyak orang belajar. Pendidikan zaman itu tidak dipungut biaya, tahun 1963 saya masuk UGM bayarnya Rp 100 dan ketika masuk dipungut biaya Rp 400 bukan untuk kuliah tapi untuk OSPEK dan yayasan atau DEMA (Dewan Mahasiswa). Saya juga heran, kok sekarang mahal. UGM dikenal Universitas Genius Mahasiswanya dan sekarang jadi Universitas Gedi Mbayarnya. Saya saat ini sebagai Dosen di jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bagaimana kisahnya ditahun yang masih sulit informasi dapat melanjutkan pendidikan di Amerika?

Beasiswa itu saya dapatkan deng cara kita berjuang bersama teman-teman dekat saya antara lain seperti Sofyan Effendi, Amien Rais, Kuntowijoyo dan tidak ada garis pemisah, kami bergubungan baik. Saya ketemu Kunto dijembatan dan seperti biasa dia berjalan kaki. Lalu saya tanya “Darimana?” dan dia menjawab “Saya baru periksa kesehatan mau keluar negeri”. Dari situ saya bersiap-siap bagaimana dapat meraih kesempatan kuliah ke luar negeri juga.

Saya bersama Yahya A. Mohaimin yang sempat menjadi Menteri Pendidikan Nasional mengikuti tes yang diselenggarakan oleh British Council. Pada kesempatan yang sama akhirnya saya diterima oleh British Council, Fullbright, USAID dan LPPD (Lembaga Pendidikan Post-Doctoral) IKIP Bandung. Saya sempat kuliah di LPPD IKIP Bandung bersama Syafii Maarif.

Karena British Council  hanya memberikan pendidikan non-degree 1 tahun. Akhirnya saya memilih Fullbright yang memberikan kesempatan another degree. Pada tahun 1975 saya disarankan untuk masuk ke Duquesne University yang berlokasi di Pittsburgh, Pennsylvania untuk program Master hingga akhirnya melanjutkan S3 di University of Hawaii di Manoa Honolulu. Kuncinya adalah relasi berteman baik dan buatlah sebuah komunitas atau perkumpulan dengan orang-orang yang memiliki misi visi yang serupa.


Duquesne University tempat Prof. Dr. Husain Haikal menempuh Program Master

University of Hawaii di Manoa Honolulu tempat Prof. Dr. Husain Haikal menempuh Program Doktor


3. Mengapa kuliah di jurusan dan negara tersebut? Apa yang menarik dari negara ini dan menjadi motivasi dari Prof. Haikal?

Saya melanjutkan studi yang berkaitan dengan S1 saya yaitu Sejarah dan ketika di Amerika saya mengambil studi spesifik western culture, History Department, Faculty of Art, Duquesne University karena hasil saran ketika mendapatkan beasiswa Fullbright. Dilanjutkan dengan S3 saya dengan studi spesifik Indonesia and Western History. Namun, saya disarankan juga untuk mengambil studi tambahan India History dan Kependudukan, History Department, University of Hawaii. Motivasi saat itu adalah ingin mendalami ilmu tersebut dan masih sangat sedikit orang yang mau bersekolah untuk menuntut ilmu.

4. Apakah ada hal yang berbeda dari negara Indonesia dengan tempat studi? Dan apakah kesan pertama saat menginjakan kaki di negara tersebut?

Beberapa hal yang berbeda adalah terkait dengan:

1. Ketepatan waktu, disana semua orang terbiasa dengan ontime mulai dari kalangan anak-anak hingga orang berusia.

2. Fighting Spirit, hal ini dapat dilihat dari berbagai macam bentuk aktivitas orang-orang disana dalam menjalani kehidupan dan menyelesaikan sebuah pekerjaan.

3. Makanan yang beragam, disana memang sulit menjumpai makanan halal saat itu, apalagi saya adalah seorang muslim. Namun, saya tidak khawatir dan solusi saya temukan dengan memasak sendiri. Bahkan, kami para mahasiswa memanfaatkan special day yaitu dimana harga makanan yang ada dijual dengan harga yang murah.

4. Perbedaan iklim yang dimiliki, disana dengan 4 iklim yang berbeda dngan Indonesia hanya 2 iklim. Hal ini memberikan dampak terhadap perbedaan waktu solat. Saat musim dingin untuk solat magrib dilakukan pada pukul 16.00 waktu setempat, namun pada saat musim panas solat magrib dilakukan pada pukul 21.00 waktu setempat.

5. Bolehkah diceritakan tentang universitas tempat Prof. Haikal kuliah? Hal apa saja yang disukai dan direkomendasikan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke negara tersebut?

Untuk unversitas S2 saya di Duquesne University yang disukai adalah bagaimana atmosfer perkuliahan yang sangat aktif dan kompetitif termasuk fighting spirit yang saya sampaikan tadi.  Universitas ini merupakan salah satu universitas katolik TOP di Amerika. Selain itu, Kampus Duquesne adalah oasis yang seperti taman, terletak di puncak bukit tepat diatas jantung kota Pittsburgh yang hidup, dengan kemudahan mengakses seluruh fasilitas yang ditawarkan oleh kota tersebut.

Untuk universitas S3 saya di University  of Hawaii saya mendapatkan rekomendasi dan beasiswa lanjutan, sehingga saya melanjutkan studi di universitas tersebut. Karena beberapa hal, akhirnya studi S3 saya lanjutkan ke Universitas Indonesia.

6. Apa kelebihan dari kampus Amerika tempat Prof. Haikal menempuh studi? mungkin dari segi fasilitas, kurikulum, birokrasi, dan suasana J dan apakah pernah menemukan kesulitan?

Dari segi fasilitas kedua universitas ini relatif sama dan yang sangat saya sukai adalah akses ke perpustakaan yang dipermudah. Bahkan peminjaman buku yang dilakukan tidak terbatas pada satu universitas namun seluruh universitas yang ada di Amerika. Pada prinsipnya universitas-universitas tersebut justru senang ketika anggota perpustakaan yang ada semakin banyak, berbeda dengan negara Indonesia yang tidak jarang justru dipersulit dengan sistem birokrasi yang ada.

Untuk kurikulum yang ada di universitas tersebut berbeda dengan yang ada di Indonesia. Banyaknya SKS yang ada tidak ditentukan sebanyak disini. Saat itu saya hanya mengambil sebanyak 30 SKS untuk S2 dan saya berhasil menyelesaikan selama 1,5 tahun. Yang paling unik adalah untuk setiap mata kuliah tidak harus sesuai dengan yang ditentukan, namun jika kamu minat dengan studi lain, meskipun berbeda jurusan, fakultas bahkan universitas anda tetap bisa mengikuti kelas tersebut melalui rekomendasi dari student advisor anda.

Terkait kesulitan yang saya alami pertama kali adalah sistem pendidikan yang berbeda dibandingkan saat saya masih S1 di Indonesia.

7. Terkait dengan bahasa inggris, Prof. Haikal tentu menjadi persyaratan mutlak bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi. Lalu bagaimana dengan kemampuan bahasa inggris Prof. Kala itu. Adakah kesulitan? Jika iya, bagaimana cara menghadapi dan solusinya?

Apabila bahasa Inggris tidak digunakan lamban laun akan menjadi semakin drop. Begitupun sebaliknya, jika digunakan terus menerus maka akan semakin terasah. Selain itu, saat itu saya yang memang sudah menjadi salah satu dosen di IKIP saat ini UNY berlatih bersama dengan dosen lain yang tertarik melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Selain itu, dahulu saya ingat jika ada turis asing yang ke Jogja, saya sering ajak mereka bincang, sekedar untuk mengasah kemmapuan bahasa Inggris yang saya miliki.

8. Kalau sudah sampai sana bagaimana caranya beradaptasi baik dengan suasana belajarnya? Apakah kompetitif dan sulit?

Karena semangat belajar dan pola pikir yang maju, kehidupan dan dunia pendidikan di Amerika antar mahasiswa tentu sangat kompetitif sekali. Saya masih ingat dahulu, Indonesia mengirim mahasiswanya untuk bersekolah ke Amerika hanya sebanyak 1 orang itupun dengan beasiswa luar negeri, sedangkan negara Malaysia mampu mengirimkan 10 orang dengan beasiswa dari negerinya sendiri. Itu juga yang menjadi motivasi penting bagi saya saat itu.

Untuk adaptasi yang saya lakukan adalah saya berusaha untuk tidak malu bertanya kepada mereka jika saya belum tahu, karena prinsipnya “malu bertanya sesat dijalan”. Selain itu karena Profesor dan juga dosen yang sangat enak, ramah dan bersahabat, hal tersebut menjadi kemudahan tersediri dalam belajar dan mendapatkan bimbingan serta ilmu selama di Amerika.

9. Apa pengalaman paling tidak terlupakan selama di Amerika?

Pengalaman paling unik bagi saya adalah karena Amerika memiliki musim yang berbeda dengan Indonesia. Saat musim dingin tiba, saya dan teman-teman tak jarang memanfaatkan toko second hand karena terbilang terjangkau. Atau paling tidak kami memanfaatkan barang-barang yang dibuang dibak barang layak pakai. Hal tersebut kami lakukan selain untuk berhemat juga karena saya berpikir tentu barang-barang tersebut tidak akan terpakai jika saya membelinya dna saat kembali ke tanah air. Bagi saya itu sangat unik.

10. Hal hal apa saja yang dirasakan karena bisa kuliah di Amerika? Lebih percaya diri, bisa memiliki pandangan yang optimis jauh ke depan tentang masa depan Indonesia? Atau hal positif apa yang Prof. Haikal pelajari selama belajar di Amerika?

Saya semkain tahu bahwa tidak semestinya kita tidak terpaku pada kesulitan-kesulitan yang terjadi pada birokrasi seperti di negara kita. Kita dapat berbuat sebaik-baiknya bagi bangsa dan negara ini dengan perbaikan serta optimisme yang kita bangun bersama.

Hal positif yang saya pelajari dari sana adalah belajar dari apapun dan siapapun, sehingga ilmu kita semakin bertambah dan barokah.

11.  Adakah nasihat serta tips dan trik dari Prof. bagi kawan-kawan yang ingin melanjutkan pendidikan di Amerika?

Sebetulnya kita sudah ada modalnya, namun terkadang niat dan kemauannya. Yakin dan percayalah bahwa setiap usaha akan menghasilkan karya terbaiknya. Banyak pemimpin besar yang terlahir dan mengenyam pendidikan disana, jadi yakinalah bahwa kalian bisa :)

Prof. Dr. Husain Haikal, MA befoto dengan buku JKLN

Testimoni untuk JKLN
“Ide ini bagus menciptakan buku dilengkapi  video interview yang akan memberikan motivasi besar bagi putra putri Indonesia untuk menimba ilmu ke Luar Negeri”

Terima kasih,  Prof. Haikal :) Sukses untuk aktivitas dan berkarya-nya saat ini baik bagi nusa dan bangsa serta dunia :)

Warmest Regards,
Pebri Nurhayati, S.Pd

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Irwinanda Satria Putra: Joint Degree ke Perancis Bukan Sesuatu yang Mustahil

Halo sobat berkuliah, Siapa yang nggak tertarik buat kuliah di Perancis? Negara dengan sejuta keindahannya ini memang menarik perhatian para pelajar dari seluruh dunia untuk belajar di negara salah satu pendiri Uni Eropa ini  Bisa menempuh study di Perancis bisa melalui banyak cara. Salah satunya dengan program joint degree. Apa itu joint degrre? Nanda, salah satu mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yang menjalani program joint degree akan menjabarkannya. Kamu bisa kok seperti dia. Yuk, simak pengalamannya selama setahun belajar di negara dengan icon menara Eifeel-nya ini.



1. Halo Nanda, Sebelum melangkah lebih jauh lebih dahulu kita berkenalan dulu, mungkin bisa menyebutkan nama lengkapnya, asal kota, kuliah dimana, jurusan apa, dan mengapa Perancis menjadi pilihan?

Nama lengkap saya Irwinanda Satria Putra. Biasa dipanggil Nanda. Asal kota dari Mojokerto. Saya mahasiswa jurusan teknik otomasi dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. 

Jadi waktu itu kebetulan ada program baru dari universitas yg menawarkan beasiswa joint degree ke Perancis dengan sistem 1 tahun disana dan 3 tahun disini atau menyelesaikan tahun akhir kuliah di Perancis. Beasiswa tersebut dari BPKLN. Jadi, sebenarnya bukan saya yang memilih tapi memang program yg ditawarkan seperti itu.

Nama kampusnya Université d'Auvergne. Kampusnya sendiri dibagi menjadi beberapa fakultas tergantung dari domainnya. karena saya kuliah di teknik jadi saya masuk di IUT. IUT merupakan singkatan dari institut universitaire de technologie. Nama IUT-nya sndiri IUT Clermont-Ferrand.

2. Bagaimana proses joint degree-nya dan bagaimana cara apply sesuai dengan pengalaman Nanda step by step? 

Jadi prosesnya mulai dari seleksi kampus hingga tersaring beberapa anak. Dari anak yg lolos itu tadi wajib mengikuti persiapan bahasa hingga mencapai syarat minimal sampai delf B1. Nah dari yg lolos itu tadi harus apply universitas untuk mendapat LOA. Setelah LOA didapat dan syarat bahasa sudah ada lalu baru bisa mengajukan beasiswa dengan dibantu pihak kampus juga.


3. Apa kelebihan dari kampus tempat Nanda menempuh study? Mungkin dari segi fasilitas, kurikulum, birokrasi, dan suasana 

Keunikannya mungkin terletak di KTM-nya. disana KTM bisa diisi saldo dimana gunanya adalah untuk makan di kantin. tidak hanya di cafetaria kampus saja tempat saya kuliah saja namun bisa di semua cafetaria yg berada di kampus lain di kota saya berkuliah selama masih dibawah naungan CROUS. CROUS sendiri adalah semacam badan yg menaungi urusan mahasiswa untuk menyediakan tempat tinggal (residence mahasiswa), memberikan beasiswa untuk mahasiswa atau sesuatu yang berhubungan dengan mahasiswa. CROUS sendiri dibawah naungan pemerintah Perancis.

Fasilitas yg diberikan kepada mahasiswa sangat lengkap. dalam setahun kita hanya membayar uang kuliah satu kali dan tidak ada pembayaran lain. Semisal untuk mengerjakan sebuah project kuliah yg membutuhkan komponen-komponen elektronika, saya tidak perlu membelinya sendiri. Karena itu tugas dari dosen jadi saya berhak untuk mengajukan segala sesuatu yang saya butuhkan ke kampus dan saya bisa mendapatkan semuanya dengan gratis. Perpustakaan yang ada sangat terintegrasi satu sama lain. Jadi saya hanya perlu satu kartu saja untuk meminjam buku di semua perpustakaan yang ada di kota. Lalu fasilitas wifi yang bisa diakses di segala tempat termasuk di taman-taman kota.

Untuk pelayanan administrasi di Perancis sendiri terkesan ribet. karena Perancis terkenal dengan sebuatn pays de administrative atau negara yang penuh dengan administrasi. Namun bagi saya ribetnya sistem administrasi itu benar-benar memberikan hasil nyata untuk manfaatnya. Ketika ada masalah atau kehilangan data saya bisa mengklaim atau mengurusnya dengan mudah. Karena syarat yang mereka ajukan untuk mengurus sesuatu benar-benar detail. Jadi sebenarnya bukan sistem administrasinya yang ribet namun lebih ke benar-benar ditata secara terstruktur

Sedangkan untuk fasilitas laboratoriumnya-nya sendiri ketika kita mendapatkan sebuah project atau sedang melakukan riset dan menggunakan lab. kita diijinkan untuk menggunakan lab tersebut kapan saja untuk mendukung proses penelitian dengan cara melapor ke sekertaris dan meminta untuk memasukkan id di kartu pelajar atau KTM. Karena pintu lab di Perancis tidak dibuka dengan kunci tapi dengan sistem scan barcode. Jadi kartu pelajar di Perancis berfungsi ganda. Pertama bisa diisi saldo untuk makan di cafetaria. Kedua, sebagai akses masuk ke laboratorium.



4. Serta apa menariknya jurusan yang Nanda ambil, dan apakah pernah menemukan kesulitan?

sisi menariknya itu di Prancis range nilainya dari 0-20. sedangkan untuk bisa lulus satu mata kuliah harus bisa mendapatkan nilai lebih dari 10. nah jika di bandingkan langsungkan dengan Indonesia jika nilai 10 adalah 50. sedangkan nilai 50 itu rasanya di Indonesia itu jelek sekali. namun untuk mendapatkan nilai lebih dari 10 di Prancis apalagi untuk mata kuliah yg sulit itu rasanya sudah sangat bersyukur sekali. kebetulan sy juga ada beberapa mata kuliah yg mendapat nilai kurang 10, namun baiknya sy bisa menutupi dengan nilai yg lain sehingga rata2 sy untuk semua mata kuliah lebih dari 10 sehingga sy bisa dinyatakan lulus
kesulitan tentunya masalah bahasa dan budaya yg berbeda. lalu masalah makanan yg rasanya tidak seberagam seperti di Indonesia. rasa makanan di Prancis seperti hambar.
lalu susahnya ketika musim dingin dan suhu sudah dibawah 0 derajat hingga mencapai minus 5. lalu jika diperburuk turun salju, rasanya untuk berangkat kuliah di pagi hari berat sekali ketika sy harus memakai pakaian rangkap dengan jaket tebal dan semua properti yg menutupi tubuh, ditambah jalanan yg licin karena salju dan cuaca yg gelap karena tidak ada matahari

5. Apakah pernah mengalami Culture Shock? jika iya, dalam hal apa? dan bagaimana cara mengatasinya ?

Tentunya pernah. Paling mencolok dalam hal makanan. Karena tipe makanan yang cenderung beda antara indonesia dan Perancis. Kita yang terbiasa makan nasi harus diganti dengan tipe-tipe roti dan kentang. Awalnya, rasanya aneh ketika makan daging dan sayur dengan roti. Meskipun beras banyak ditemukan namun tetap saja bumbu dan rempah-rempah di Perancis tidak sebanyak di Indonesia. cara mengatasinya dengan membiasakannya, Lama-lama terasa terbiasa dan malah ketagihan.

Lalu keju, pertama kali ketika saya diberi teman untuk mencoba keju Perancis mau muntah rasanya. Ternyata keju yang saya coba tersebut berjenis fromage bleu atau yang terkenal keju yang sangat keras aromanya. Peancis sendiri terkenal dengan kejunya karena Perancis terkenal sebagai negara keju, saya mulai mencoba keju lain yang rasanya lebih lembut dan lama kelamaan saya mulai bisa untuk memakan keju yg rasanya lebih beragam walaupun kadang untuk rasa keju yang keras saya masih sedikit ingin muntah

Namun ada yang unik. Di Indonesia saya paling anti sama daging kambing karena baunya yang sangat menusuk. ketika di Perancis saya pernah disuguhkan daging kambing oleh teman saya dan saya makan sampai habis tanpa ada masalahnya. dan saya baru menyadari ketika sudah habis dan teman saya mengatakan pada saya jika itu daging kambing. Sekedar informasi, daging kambing di Perancis enggak bau kayak daging di Indonesia. Kalau di Indonesia saya paling nggak bisa makan daging kambing karena bisa muntah...hehe


6. Apakah Nanda sudah bertemu dengan teman-teman PPI? Bagaimana tanggapan mereka dalam menyambut kedatangan teman yang baru ?

Sudah. Tanggapan mereka ketika menyambut teman yang baru datang sangat baik. Baik teman-teman PPI di tingkat regional maupun tingkat PPI pusat karena kita semua merasa sebagai saudara yang datang dari tempat yg sama dengan satu tujuan yg baik. 



7. Tempat tinggal terbaik menurut Nanda selama di Perancis dimana ? Apakah di Apartemen, rumah atau yang lain ?

Menurut saya yang paling baik si di apartemen karena di apartemen fasilitas kamarnya lebih lengkap. Sudah ada kamar mandi di dalam rumah, lalu tempat untuk cuci baju dan dapur pribadi. Sedangkan jika tinggal di residence etudiant atau semacam asrama untuk mahasiswa begitu dapurnya menjadi satu untuk banyak orang dan kadang kamar mandinya pun jadi satu. jadi sy merasa kurang nyaman, lebih baik menyewa apartemen dan dibagi dua dengan teman. karena harga apartemen lebih mahal daripada asrama mahasiswa

8. Apakah ada tips dan trik spesial untuk mendapatkan pemasukan tambahan selama kuliah di Perancis? 

Kalau buat nambah pemasukan sebenernya lebih menyesuaikan sama jadwal kuliah. Biasanya untuk yang kuliahnya padet susah sekali untuk cari parttime. Biasanya teman-teman kerja di restoran untuk cuci piring atau bar sebagai pramu saji, Jagain anak orang atau di indonesia macam pembantu rumah tangga cuman disini cuman jagain anaknya aja. Sistemnya dibayar perjam. Sebagai pemegang visa pelajar maka kerja parttime juga tidak boleh lebih dari 20 jam selama seminggunya.

9. Apa pengalaman paling tidak terlupakan selama di Perancis?

Salah satunya pas manjat gerbang metro di Paris. Gara-gara salah keluar gerbang dan ternyata tiket yg aku pake ternyata tiket sekali pakai. Jadi gak bisa masuk lagi. Terus gak ada informasi yang buat beli tiket. Cuma ada tiket otomatis yg cuma bisa pakai koin. Sedangkan di dompet cuma punya uang kertas dan kartu kredit. Karena biasanya mesin otomatis penjual tiket bisa pakai uang kertas dan kartu kredit tapi pada saat itu nggak bisa. Karena nggak ada pilihan lain akhirnya manjat deh. Dan yang dipanjat bukan tipe gerbang yang pendek tpi gerbang yang tinggi.. hehe


10. Hal-hal apa saja yang dirasakan karena bisa kuliah di Perancis? Lebih percaya diri, bisa memiliki pandangan yang optimis jauh ke depan tentang masa depan Indonesia? Atau hal positif apa yang Nanda pelajari selama belajar di perancis?

Hal positif yang saya rasakan tentunya banyak sekai. Kebiasaan disiplin dan menghargai waktu adalah yang paling saya rasakan. Lalu tentunya mental saya lebih terangkat karena saya telah terbiasa berdiskusi dan berpresentasi di depan profeso-profesor saya selama di Perancis. Lalu kebiasaan untuk taat terhadap peraturan dan kebiasaan untuk berjalan dengan cepat terbawa hingga sekarang


11. Adakah nasihat serta tips dan trik dari Nanda bagi kawan-kawan yang ingin melanjutkan pendidikan di Perancis?

Nah ini nih. Saya sering sekali mendapat pertanyaan "Kak gimana si tipsnya buat bisa kuliah di luar negeri?". Tapi ketika saya jelaskan apa saja jalan yang mungkin bisa mereka tempuh untuk mendapat beasiswa. Kelihatan sekali kalau usaha untuk mencari beasiswa minim sekali. Karena setiap kali saya jelaskan kebanyakan tidak mengerti jalur-jalurnya
.
Saya juga melihat teman saya mengatakan ingin mendapat beasiswa seperti saya namun hanya karena gerimis saja sudah menghalangi langkahnya untuk pergi ke kampus. Padahal musim dingin di Eropa jauh lebih berat jika dipagi hari harus pergi kuliah dengan suhu dibawah nol derajat dan tidak ada matahri ditambah jalanan yang licin jika turun salju

Sehingga pesan saya lebih ke cobalah untuk :
  • Lebih rajin berangkat kuliah. Cobalah datang tepat waktu dan tidak terlambat.
  • Mengerjakan tugas sendiri dan tidak copas teman, 
  • Cari informasi yg banyak,
  • dan jangan lupa minta restu kedua orang tua.


Jangan lupa pesan-pesan dari Nanda ya sobat, kalau kamu ingin menempuh pendidikan di Perancis. Selamat berjuang. 
Salam berkuliah

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Narasumber: Irwinanada Satria Putra

Reporter      : Andreanyta Erni










Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Interview di Hungaria: Bagaimana Prasetyani Atikah Putri Menjalani Exchange di Negara Minoritas Warga Asia?

Pernah terpikir untuk exchange di Hungaria? Memang tak banyak yang mengetahui tentang negara yang merupakan bagian dari Eropa timur ini. Mahasiswa Asia yang kuliah disini bisa dihitung dengan jari. Bahkan bahasa yang digunakan warga di Hungaria mayoritas adalah bahasa Hungaria, sehingga bahasa Inggris di negara ini bukanlah bahasa resmi sebagaimana di negara-negara Eropa lainnya. Tapi, hal tersebut justru merupakan tantangan bagi Putri untuk exchange di negara Hungaria. Seperti apa pengalamannya? 


Halo Putri, Sebelum melangkah lebih jauh lebih dahulu kita berkenalan dulu, mungkin bisa menyebutkan nama lengkapnya, asal kota, kuliah dimana, jurusan apa, dan mengapa Hungaria menjadi pilihan?

Halo, saya Prasetyani Atikah Putri saat ini tinggal di Sidoarjo dan saya baru saja menamatkan studi S1 saya di Universitas Brawijaya dengan jurusan Hubungan Internasional. Sebenarnya saya daftar beasiswa ke Hungaria itu hanya iseng karena ada salah satu teman saya yang juga dapat beasiswa yang sama di tahun sebelumnya dan juga persyaratannya tidak begitu sulit jadi saya mendaftar.

Apakah Putri mendapatkan beasiswa? jika iya, apa beasiswanya, dan bagaimana cara apply sesuai dengan pengalaman Putri step by step? Beasiswanya full/ half ?

Beasiswanya diberikan oleh pemerintah Hungaria melalui Balassi Institute. Cara daftarnya hanya mengirimkan berkas secara online dan melalui pos, dan nanti langsung diumumkan hasilnya apakah diterima atau tidak. Yang ditanggung oleh beasiswa ini adalah allowance per bulan, asuransi kesehatan, bebas biaya perkuliahan dan residence permit. Untuk biaya visa dan tiket kesana ditanggung oleh yang mendapatkan beasiswa.




Apa kelebihan dari kampus tempat Putri menempuh study? mungkin dari segi fasilitas, kurikulum, birokrasi, dan suasana 

Kampus saya terletak di tengah kota jadi gampang kalau mau kemana mana, selain itu jumlah mahasiswa per kelas juga sedikit, tidak pernah lebih dari 15 orang.  Untuk urusan birokrasi juga agak sedikit berbelit-belit tapi mereka sangat helpful terhadap mahasiswa asing. Disana juga terdapat organisasi yang bertugas untuk mengurus mahasiswa asing, jadi mereka sering bikin event dan semacamnya supaya para mahasiswa asing dan mahasiswa lokal bisa saling kenal.

Serta apa menariknya jurusan yang Putri ambil, dan apakah pernah menemukan kesulitan?

Disana saya mengambil English and American Studies, sebenarnya tidak beda jauh dengan jurusan yg saya ambil di Indonesia, hanya saja lebih spesifik. Kesulitan yang saya alami paling banyak dalam bahasa, meskipun saya sudah terbiasa dengan bahasa Inggris namun saya tetap harus membiasakan diri lagi. Karena seluruh bentuk perkuliahan menggunakan bahasa Inggris, mulai dari materi, tugas hingga presentasi. Untungnya teman-teman kuliah juga bahasa Inggrisnya cukup bagus jadi tidak kesulitan untuk komunikasi. 

Apakah pernah mengalami Culture Shock? jika iya, dalam hal apa ? dan bagaimana cara mengatasinya ?

Culture shock itu pasti ada, pertama kali saya sampai adalah saat winter. Suhunya sangat dingin bisa sampai minus. Ada saat dimana saya menunggu bus dan kedinginan karena coat yg saya pakai kurang tebal. Saya juga harus berbagi kamar di asrama dengan 3 orang lainnya dan harus bertoleransi dengan mereka. Selain itu orang Asia selain Cina masih sedikit, jadi saya kadang saya dilihatin orang tapi tidak pernah sampai mengganggu. Lalu saya juga jadi terbiasa jalan kemana mana, karena transportasi umum hanya berhenti di setiap halte. Kalau cuma beda 1-2 halte biasanya saya jalan, apalagi disana trotoarnya lebar jadi pejalan kaki tidak akan terganggu.



Menurut Putri bagaimana karakter dosen dalam menyampaikan mata kuliah? Dan bagaimana sikap mahasiswa lokal Hungaria terhadap mahasiswa internasional ?

Selama ini dosen di kampus saya baik semuanya, sebelum kelas dimulai semua mahasiswa diwajibkan untuk membaca materi supaya kegiatan perkuliahan bisa berjalan lancar. Dosen juga selalu menghargai pendapat mahasiswanya, tidak pernah mengatakan benar atau salah. Selain itu mereka sangat jujur dengan nilai, tidak ada cerita dosen me-mark up nilai mahasiswanya seperti yang terjadi di Indonesia. 

Bagaimana dengan sistem kurikulum di Hungaria? Hal apa yang paling signifikan perbedaannya dengan Indonesia?

Sistem pendidikannya hampir sama dengan di Indonesia, terbagi menjadi 2 semester. Spring semester dimulai sekitar Februari dan Autumn semester sekitar bulan September. 


P.S: Sebagai info, Hungaria tidak memiliki PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) seperti di negara-negara lainnya karena mahasiswa Indonesia yang melanjutkan study di Hungaria sangat sedikit, sekitar 2-4 orang setiap tahunnya. 

-------------------------------------------------------------------------------------
Narasumber : Prasetyani Atikah Putri

Reporter        : Andreanyta Erni





Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top