Inilah 7 Butir Rencana Aksi untuk Indonesia, Hasil Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo



Simposium Internasional di Kairo, Mesir Menghasilkan 7 Butir Rencana Aksi untuk Indonesia

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tahun ini dihelat di Kairo, Mesir. Event tahunan PPI Dunia tersebut berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 28 Juli 2016. Simposium kali ini mengusung sebuah tema “Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia”, dan diisi beberapa seminar dialog kebangsaan, diskusi komisi, rapat tahunan dan sidang  kongres PPI Dunia. Dalam acara ini Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin beserta Deputi Grand Syekh Azhar turut hadir dan sekaligus membuka jalannya acara.
Dalam sesi dialog interaktif bersama Menteri Agama, Lukman Hakim menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki cirikhas dalam tata cara berbangsa dan beragama. Hal ini terhimpun dalam pancasila sebagai simbol keberagaman agama. Menurutnya keberagaman ini (pluralitas) mestinya mendorong kita untuk saling melengkapi, bukan bertengkar dan bermusuhan.

Diskusi panel

Rangkaian kegiatan simposium pun dilanjut dengan diskusi panel. Dalam sesi ini terbagi ke dalam empat panel diantaranya: politik, ekonomi, agama, pendidikan dan budaya. Dalam sesi ini juga panitia menghadirkan sejumlah pakar dan tokoh nasional, seperti Prof. Mahfud MD, Prof. Joseph Kristiadi, Prof. Nasaruddin Umar, Prof. Amsal Bakhtiar, Faisal Basri, S.E, M.A., Yudi Latif, Ph.D, Dr. J.B Heru Prakosa, Sabeth Abilawa, M.E, Tubagus Mansur, Ak., M.Acc., Dr. Muchlis Hanafi dan Muhammad Danial Nafis.

Sesuai tema yang diangkat, empat diskusi panel diatas membahas persoalan-persoalan terbaru di Indonesia yang menyangkut keutuhan identitas bangsa. Namun secara umum diskusi-diskusi panel tersebut dibahas untuk menjadi tawaran solusi bagaimana memperteguh identitas bangsa Indonesia, yang kemudian solusi tersebut diramu dalam bentuk rekomendasi atau rencana aksi.

Dalam panel politik misalnya, ditekankan bahwa pilar identitas bangsa adalah pancasila. Maka sejatinya nilai-nilai pancasila harus diturunkan ke dalam berbagai dimensi. Namun persoalannya adalah ketidakmampuan kita dalam membumikan pancasila, sehingga dalam praktik politik itu semuanya bergeser. Akan tetapi bagaimanapun pancasila adalah representatif dari masyarakat Indonesia, yang artinya memiliki nilai kebersatuan dalam keberagaman (Unity in diversity).
Adapun dalam panel pendidikan sendiri, ditegaskan bahwa identitas merupakan suatu hal yang bukan dibicarakan tetapi digerakkan sehingga menghasilkan sebuah perubahan. Semua pergerakan dan perubahan sebagian besar berasal dari mahasiswa.

Sementara dalam kacamata ekonomi, narasumber mengutarakan bahwa Indonesia menempati posisi ketujuh terbesar sedunia yang menunjukkan bahwa 2,3 % dari masyarakatnya yang kaya adalah mereka yang dekat dengan penguasa. Sehingga banyak para politikus adalah orang yang punya kuasa terhadap uang. Meskipun demikian sistem perekonomian yang dibangun di Indonesia memang tidak terarah. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Maka boleh jadi dengan hadirnya sistem ekonomi syariah dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin meningkat. Sebab tak bisa dipungkiri perkembangan ekonomi syariah sangat pesat dan telah digunakan di berbagai negara.

Sedangkan dalam panel agama sendiri, narasumber menegaskan secara gamblang bahwa terorisme tidak mengenal agama. Penyebab munculnya paham terorisme tidak tunggal, ia bahkan akumulasi dari berbagai persoalan, yang kemudian dibalut dengan dalil-dalil keagamaan. Maka tugas pemuka agama adalah memberikan klarifikasi yang menyeluruh terhadap tafsir-tafsir keagamaan yang selama ini dipahami secara menyimpang.

Diskusi Komisi: Tujuh Butir Rencana Aksi untuk Indonesia

Diskusi komisi yang diselenggarakan pada tanggal 26 Juli 2016 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penting simposium. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini untuk pertama kalinya PPI Dunia melahirkan gagasan bukan dalam bentuk Deklarasi ataupun Rekomendasi, melainkan Rencana Aksi untuk Indonesia.

Steven Guntur selaku Koordinator PPI Dunia 2015-2016 mengungkapkan bahwa tugas membangun bangsa bukan hanya menjadi tugas pemerintah semata, lebih dari itu juga adalah tugas setiap rakyatnya. Maka pada tahun ini PPI Dunia melibatkan seluruh elemen yang terdiri dari kurang lebih 51 PPI Negara dan 20 BEM kampus di Indonesia untuk merumuskan sebuah gerakan dimana dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat Indonesia. Berikut ini adalah tujuh butir Rencana Aksi:

Komisi Agama

1.     Radikalisme dan ekstremisme yang semakin marak di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemikiran yang melenceng dari ajaran agama yang dianut masyarakat Indonesia dewasa ini. Kemudian mengakibatkan terorisme yang semakin meningkat dan banyaknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Atas dasar itu, PPI Dunia mencoba membentuk sebuah tim kajian sebagai wadah diskusi online secara rutin. Tim kajian ini akan menjalin kerjasama dengan instansi pemerintahan terkait, diantaranya Kementrian Agama, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Selain itu akan dibentuk pula sebuah tim media kerohanian di PPI Dunia.

2.     Kasus pelecehan agama antar umat beragama di Indonesia yang berdampak pada pengikisan rasa persatuan rakyat Indonesia, dan hal ini bertentangan dengan asas pancasila dan UUD. Atas dasar itu dibentuklah tim media kerohanian di PPI Dunia untuk mengatasi isu tersebut. Tim ini diharapkan mampu menghasilkan karya berupa tulisan, foto dan video tentang isu-isu agama yang dikemas dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.


Komisi Politik

3.     Gerakan Separatis Papua Barat. Sebagaimna diketahui gerakan tersebut mencoba membentuk opini internasional bahwa kemerdekaan Papua merupakan hal yang patut didukung oleh dunia. Menanggapi isu tersebut, PPI Dunia tergerak untuk memberikan pandangan dan gagasan serentak bahwa Papua harus tetap menjadi bagian dari Indonesia. Untuk menindaklanjuti isu tersebut, tim kajian Papua yang dihimpun oleh  PPI Dunia terus bersinergi dan memperkuat gerakannya untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan yang sudah direncanakan. Kegiatan tersebut dapat melahirkan opini alternatif di dunia internasional tentang harapan kondisi Papua sesungguhnya (masih dalam NKRI). Dalam hal ini, diawali dengan memperkuat tim kajian Papua PPI Dunia serta mengirimkan tulisan hasil kajian mengenai Papua ke setiap media di Negara masing-masing PPI Negara.

4.     Munculnya gerakan anti demokrasi di berbagai negara, seperti terjadinya banyak kudeta hasil pemilihan umum yang demokratis. Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, berkewajiban mempromosikan nilai demokrasi yang sudah dilaksanakan di Indonesia ke negara-negara tersebut. Atas dasar itu, setiap PPI di seluruh Negara akan mengadakan kegiatan lintas budaya dengan bertemakan demokrasi di Indonesia.


Komisi Pendidikan dan Budaya

5.     Kesejahteraan guru dan pendidikan daerah terpencil. Isu ini diangkat karena terdapat kesehjateraan guru yang memprihatinkan. Selain itu standar pendidikan yang kurang merata merupakan isu yang harus diperhatikan. Berangkat dari hal itu, PPI Dunia menghimpun gerakan pengumpulan dana dan dapat digunakan untuk melaksanakan gerakan pembangunan 100 sekolah dasar. Selain itu gerakan pengumpulan koin untuk kenaikan gaji guru di Indonesia juga menjadi target utama PPI Dunia.

6.     Isu tentang media dan sistem informasi. Sedikitnya informasi yang diterima oleh siswa SMA dan universitas di sekolah di wilayah marginal menjadi poros gerakan pelajar Indonesia di luar negeri untuk membentuk sebuah wadah yang inspiratif di sejumlah kota di Indonesia, baik dalam bentuk online (video, web, atau aplikasi) maupun offline (datang langsung ke SMA, Universitas dan masyarakat umum di daerah tertinggal).


Komisi Ekonomi

7.     Peningkatan perekonomian masyarakat Indonesia di level grass root, dalam ranah penguatan dan perluasan sistem informasi perdagangan dari petani ke konsumen. Berangkat dari isu ini, PPI Dunia mencanangkan beberapa langkah strategis. Pertama, PPI Dunia akan memilih desa binaan bekerjasama dengan LPPM IPB, UIN Jakarta, UIN Palembang, UNPAD, UGM.

Kedua, pelaksanaan Summer Vacation,  yaitu kolaborasi antara PPI Dunia Dan BEM  yang nantinya akan memberi kontribusi nyata dalam program Bina Desa. Selain itu PPI Dunia akan menjalin kerjasama dengan para pemangku kebijakan/stakeholder  yang terdiri dari kelompok tani, perangkat desa, pelaku usaha terkait, dan juga pemuka agama setempat.

Sumber : www.sicairo2016.com

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



MBA Double Degree oleh Oxford Pershing Square Graduate

Pilihan yang bisa diambil kaitannya dengan kuliah di luar negeri memang tidak hanya itu-itu saja. Kesempatan dan pilihan yang tersedia untuk bisa kuliah di luar negeri jumlahnya banyak dan jenisnya bermacam-macam. Salah satu contohnya adalah kesempatan untuk menempuh studi Double Degree di Inggris yang ditawarkan oleh Oxford Pershing Square Graduate melalui sebuah program beasiswa yang rutin ditawarkan setiap tahun.

Beasiswa dalam program ini diberikan oleh Pershing Square Foundation dalam skema beasiswa penuh yang bertujuan untuk mendukung para pelajar internasional yang berprestasi dan ingin menempuh studi untuk mendapatkan gelar ganda dalam program 1+1 MBA. Ininya nanti pada mahasiswa internasional yang berminat untuk mengambil studi dengan gelar MSc bisa mengkombinasikannya dengan MBA dengan memanfaatkan program beasiswa ini.

Berikut ini adalah daftar program-program MSc yang bisa diambil dan dikombinasikan dengan MBA pada program beasiswa ini:
Centre for Criminology
o MSc in Criminology and Criminal Justice
Department of Computer Science
o MSc in Computer Science
Department of Education
o MSc in Education (Child Development and Education)
o MSc in Education (Comparative and International Education)
o MSc in Education (Higher Education)
o MSc in Education (Learning & Technology)
Department of Social Policy and Intervention
o MSc in Comparative Social Policy
o MSc in Evidence-Based Social Intervention and Policy Evaluation
Department of Sociology
o MSc in Sociology
Faculty of History
o MSc Economic and Social History
Faculty of Music
o MSt in Music (Composition)
o MSt in Music (Performance)
o MSt in Music (Musicology)
Oxford Internet Institute
o MSc in Social Science of the Internet
School of Anthropology
o MSc in Social Anthtopology
o MSc in Visual, Material and Museum Anthropology
o MSc in Cognitive and Evolutionary Anthropology
o MSc in Migration Studies
School of Geography and the Environent
o MSc in Biodiversity, Conservation and Management
o MSc in Environmental Change and Management
o MSc in nature, Society and Environmental Governance
o MSc in Water Science, Policy and Management
School of Interisciplinary Area Studies
o MSc in African Studies
o MSc in Contemporary Chinese Studies
o MSc in Contemporary India
o MSc in Modern Japanese Studies
o MSc in Latin American Studies
o MSc in Russian and East European Studies

Program beasiswa ini sudah diadakan sejak tahun 2014 dan selalu memberikan pendanaan yang berupa uang kuliah serta tunjangan hidup selama masa studi yang diambil. Selain hal-hal tersebut juga akan ad kesempatan mentorship dan juga untuk menjalin relasi dengan anggota komunitas Pershing Square Foundation. Para penerima beasiswa ini nantinya juga akan mejadi anggota komunitas Said Business School dan juga diundang untuk mengikuti pertemuan dan workshop di New York bersama para innovator ternama di dunia.


Kriteria dan Persyaratan Beasiswa
Berikut adalah hal-hal yang wajib dipenuhi sebagai kriteria dari beasiswa khusus untuk gelar ganda pada jenjang S2 di Inggris ini:
Memiliki prestasi akademis yang baik
Menunjukkan potensi kepemimpinan melalui pengalaman dan motivasi
Memiliki karakter, intergritas, dan komitmen yang kuat
Berfokus untuk mengatasi masalah global dalam karir, baik pada organisasi yang sudah diikuti atau melalui pengembangan perusahaan baru
Mampu mencapai solusi berskala dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah global yang ada
Mampu menjelaskan bagaimana Program Oxford 1+1 MBA dapat membuat pemohon mencapai tujuan dalah hidupnya

Semua hal tersebut harus benar-benar bisa ditunjukkan pada waktu mengajukan permohonan beasiswa ini baik itu melalui esai beasiswa dan juga pada saat memberikan jawaban wawancara. Esai yang dimaksud harus memiliki panjang maksimal 500 kata yang intinya menjawab pertanyaan “How do you intend to change the world? What does this tell us about you as a person?”

Selanjutnya pada daftar berikut adalah merupakan persyaratan wajib dari program beasiswa ini untuk dipenuhi para pemohon:
Sudah menyelesaikan studi gelar Sarjana
Memiliki pengalaman kerja profesiona;
Skor GMAT atau GRE
Skor TOEFL iBT minimal 110 atau IELTS minimal 7.5
Surat rekomendasi akademik atau dari atasan di tempat kerja
Essay sebanyak 2 buah untuk menjawab pertanyaan berikut:
How do you fit with Oxford Said’s mission?
Is there anything not covered in the application form which you would like the Admissions Committee to know about you? (maksimal 250 kata)
Formulir pendaftaran online

Selain itu harus diperhatikan juga kualifikasi dan juga deadline untuk persyaratan dari program MSc yang terintegrasi dengan MBA pada program Double Degree ini yang bisa dilihat pada tautan berikut ini (link).

Pendaftaran Beasiswa
Ketika akan mengajukan pendaftaran untuk program ini harus dipastikan dulu bahwa semua syarat dan kriteria yang ditentukan oleh pihak penyedia beasiswa sudah dipenuhi. Cara untuk mendaftarkan diri pada program ini bisa dilakukan pada tautan berikut ini (link). Pendaftaran program ini berakhir pada pertengahan bulan Maret dimana kandidat yang lolos seleksi awal akan diundang untuk mengikuti wawancara sebagai tahap seleksi yang selanjutnya. Informasi lebih lanjut mengenai program ini bisa didapatkan dengan mengirimkan email pada alamat berikut (ps.scholars@sbs.ox.ac.uk).




Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Swiss Government Excellence Scholarships dari Pemerintah Swiss

Setiap tahunnya ada semakin banyak negara-negara di dunia yang berlomba-lomba dalam menyediakan beasiswa bagi mahasiswa internasional khusus untuk jenjang pendidikan tinggi. Salah satunya yang sudah cukup rutin menawarkan beasiswa adalah Swiss melalui program Swiss Government Excellence Scholarship. Program ini merupaan sebuah program resmi dari Pemerintah Swiss yang merupakan sebuah beasiswa internasional yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dari luar Swiss untuk menempuh studi S3, postdoctoral, atau riset.

Pemohon program beasiswa ini nantinya yang udah lolos seleksi akan mendapatkan beasiswa S3 untuk masa studi maksimal selama 3 tahun, beasiswa postdoctoral untuk masa stidi maksimal selama 12 bulan, atau beasiswa riset dengan lama riset maksimal selama 12 bulan. Komponen-komponen dalam beasiswa ini mencakup tunjangan bulanan sebesar 1.920 Swiss Franch, biaya kuliah, asuransi kesehatan, biaya penerbangan di akhir masa pemberian beasiswa, tunjangan perumahan sebesar 300 Swiss Franch pada awal masa pemberian beasiswa, kartu transportasi umum untuk 1,5 tahun, bimbingan dan kegiatan penunjang studi, biaya makan malam, dan juga sejumlah tur wisata selama menempuh studi atau riset dengan beasiswa.

Pihak penyedia beasiswa yaitu Pemerintah Swiss melalui Federal Comission for Scholarship for Foreign Students (FCS) memberikan kebebasan bagi para pemohon dari beasiswa ini untuk memilih studi yang akan diambil di 10 universitas, 2 institut teknologi, pusat penelitian, atau universitas-universitas ilmu terapan yang ada di Swiss. Berikut ini daftar lengkapnya:
Universitas Umum
University of Basel, University of Bern, University of Geneva, University of Fribourg, University of Lausanne, University of Neuchatel, University of Lucerne, University of St.Gallen, University of Lugano, University of Zurich
Institut Teknologi
Swiss Federal Institute of Technology Zurich (ETZH) dan Swiss Federal Institute of Technology Lausanne (EPFL)
Lembaga Penelitian
Graduate Institute of International and Development Studies (IHEID)
Universitas Ilmu Terapan (khusus postdoktoral dan riset)
The Zurcher Fachhochschule, University of Applied Sciences Western Switzerland, University of Applied Sciences Northwest Switzerland, Bern University of Applied Sciences, University of Applied Sciences Eastern Switzerland, University of Applied Sciences and Arts of Southern Switzerland, dan Lucerne University of Applied Sciences and Arts


Persyaratan dan Kriteria Beasiswa
Berikut ini adalah hal-hal yang penting untuk diketahui sebagai persyaratan-persyaratan dan kriteria-kriteria dari beasiswa ini:
Mempunyai gelar Master untuk pemohon pada program S3 atau gelar lain yang setara dan diakui di perguruan tinggi Swiss
Usia maksimal adalah 35 tahun saat mendaftarkan diri
Pemohon yang sudah berada di Swiss selama lebih dari 1 tahun pada saat beasiswa mulai diberikan tidak berhak mendapatkan beasiswa
Memperoleh surat atau email dari seorang professor di universitas atau institusi pendidikan di Swiss yang menyatakan kesediaannya untuk memberikan pengawasan sebagai supervisor PhD atau pada studi PhD di suatu sekolah doctor terstruktur pemohon harus memberikan surat penerimaan atau paling tidak bukti bahwa pemohon dipertimbangkan untuk menjadi mahasiswa disana
Pemohon harus memiliki proposal penelitian serta jangka waktu yang dibutuhkan
Pemohon memiliki keterampilan bahasa yang diperlukan untuk studi PhD
Pemohon yang sebelumnya sudah pernah menerima beasiswa dari Swiss tidak berhak mendapatkan beasiswa ini dan tidak bisa mengajukan permohonan kedua

Selanjutnya yang juga harus diperhatikan adalah dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan untuk seleksi beasiswa ini yang mencakup:
Formulir pendaftaran FCS yang diketik dan dicetak
Salinan ijazah beserta nilai pada jenjang S1 dan S2 yang sudah dilegalisir serta harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, atau Italia
Surat rekomendasi sebanyak 2 buah dari professor di bidang sesuai minat pemohon menggunakan formulir FCS
Proposal penelitian lengkap dengan halaman maksimal 5 halaman menggunakan formulir FCS
Letter of Motivation maksimal 2 halaman
Curriculum Vitae beserta daftar publikasi akademik
Salinan konfirmasi surat atau email dari professor di perguruan tinggi di Swiss yang bersedia menjadi supervisor untuk studi S3 yang akan diambil termasuk CV singkat dari supervisornya tersebut
Surat keterangan sehat menggunakan formulir FCS
Copy paspor sebanyak 2 lembar


Pendaftaran
Proses untuk mendaftarkan diri dalam seleksi dari beasiswa ini bisa dilakukan dengan mendapatkan formulir pendaftaran lengkap dari Pemerintah Swiss melalui Kedutaan Besar Swiss di Jakarta atau bisa juga diminta melalui email pada alamat jak.vertretung@eda.admin.ch. Pengajuan yang dilakukan dibuat sebanyak 3 rangkap yang berupa asli 1 dan sisanya fotocopy dengan kertas A4 dan dikirimkan ke alamat berikut:
     
     Swiss Embassy in Jakarta
     Jalan H.R. Rasuna Said Kav X3/2, 12950 Jakarta

Perlu diingat bahwa pengajuan beasiswa ini terpisah dari pengajuan atau pendaftaran mahasiswa ke universitas yang dituju. Pendaftaran untuk beasiswa ini maksimal dilakuka pada pertengahan bulan Desember.

Informasi dan Kontak
Penjelasan lebih lanjut mengenai program ini bisa didapatkan di halaman berikut ini (link). Selain itu untuk informasi tambahan bisa menghubungi nomer telepon +62215256061, atau pada website berikut ini (link).




Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Beasiswa Kuliah Master Program on Forestry dari Vietnam National University of Forestry

Benar adanya bahwa pilihan beasiswa untuk bisa kuliah ke luar negeri tersedia dalam semakin banyak pilihan bidang hingga bahkan khusus untuk studi pada bidang kehutanan juga ditawarkan. Beasiswa ini disediakan oleh Vietnam National University of Forestry (VNUF) yang juga didukung oleh German Academic Exchange Services (DAAD). Program beasiswa ini ditawarkan dan disediakan bagi para pemohon dari negara-negara ASEAN termasuk Indonesia tentunya.

Vietnam National University of Forestry atau VNUF memiliki visi untuk menjadi universitas terdepan khususnya di Vietnam pada bidang-bidang terkait dengan Forestry dimana disana ada program-program seperti Forestry Industry, Forest Resources Management, Rural Development dan sebagainya. Beasiswa ini merupakan sebuah beasiswa penuh untuk program S2 yang sangat saying jika tidak dimanfaatkan.

Rincian Beasiswa
Program beasiswa untuk kuliah S2 di VNUF ini merupakan sebuah kerja sama antara Vietnam National University of Forestry, Lao National University, University of Gottingen, Technical University of Dresden, dan Royal University of Agriculture. Keuntungan terbesar dari program ini nantinya adalah bahwa para penerimany akan bisa berinteraksi serta bertukar pengalaman dan pikiran dengan para ahli bidang Kehutanan dan Manajemen Sumber Daya Alam dalam lingkup internasional.

Beasiswa ini nantinya akan diberikan kepada total 10 pemohon terbaik yang semuanya harus berasal dari kawasan ASEAN. Sejumlah 5 penerima beasiswa akan mendapatkan biaya perkuliahan penuh selama masa studi S2 dan juga biaya akomodasi . Selebihnya sejumlah 5 yang lain akan mendapatkan bantuan beasiswa parsial yang mencakup sebagian tanggungan biaya kuliah sebesar $1000 per tahun dan juga tentunya biaya akomodasi.

Kegiatan perkuliahan dalam program ini akan disampaikan menggunakan bahasa Inggris oleh ara professor dari jerman, VNUF, NUoL, dan RUA yang tentu fokusnya ada pada ilmu kehutanan, manajemen kehutanan berkelanjutan, konservasi ekosistem kehutanan, kebijakan perhutanan, dan juga konservasi biodiversity kawasan tropis. Berbagai bidang tersebut memang sangat sesuai dengan daerah atau kawasan ASEAN jadi memang sangat tepat jika beasiswa ini dikhususkan untuk pemohon dari kawasan ASEAN saja.


Persyaratan Beasiswa
Selanjutnya yang sangat penting untuk diketahui adalah persyaratan wajib dari program beasiswa ini yang mencakup berbagai hal berikut:
Lancer menggunakan bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan
Merupakan warganegara dari negara-negara di kawasan ASEAN
Sudah menyelesaikan studi S1

Selain dari hal-hal tersebut yang menjadi persyaratan wajib dari program beasiswa ini masih ada juga dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk pengajuan permohonan dari program beasiswa ini yaitu:
Formulir pendaftaran (link)
Motivation letter
Salinan resmi ijazah dan transkrip nilai S1
Curriculum vitae
Pasfoto berwarna ukuran 3x4 dengan background putih sebanyak 4 buah
Sertifikat bahasa Inggris yang bisa berupa TOEFL, IELTS, atau CEFR
Surat referensi dari professor universitas sebanyak 2 buah sebagai alternative surat referensi dari atasan di tempat kerja
Surat keterangan sehat yang dikeluarkan 6 bulan terkhir dari masa pengajuan beasiswa

Dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam seleksi beasiswa ini harus dalam bahasa Inggris yang jika bahasa aslinya bukan bahasa Inggris maka bisa diterjemahkan dengan menggunakan jasa penerjemah tersumpah.

Pendaftaran
Seluruh berkas dokumen yang sudah disebutkan tadi harus dikirimkan via pos ke bagian yang terkait dengan program beasiswa ini pada alamat berikut:

     Division of Post-graduate Training Division,
     Vietnam National University of Forestry
     Xuan Mai, Chuong My, Hanoi, Vietnam

Batas waktu pengumpulan dan pengiriman dari berkas-berkas syarat pendaftaran seleksi beasiswa ini adalah pada akhir bulan Agustus. Pemohon selanjutnya akan diinterview melalui Skype. Pemohon yang memang mempunyai dan bisa menunjukkan sertifikat bahasa Inggris akan mendapatkan poin lebih dalam seleksi dari beasiswa ini. Informasi danpertanyaan lebih lanjut mengenai program beasiswa ini bisa didapatkan dengan menghubungi Assoc. Prof., Dr. Vu Tien Thinh melalui email di alamat vutienthinh@hotmail.com.




Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



"When There Is a Hello, There would be a good bye.." Mesir, Terimakasih atas kenangannya

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.
Simposium PPI Dunia 2016 di Kairo sudah berakhir.
Namun, kenangan dan ceritanya tidak akan pernah berakhir.
Banyak peserta Simposium yang jatuh hati dengan Mesir.
Entah jatuh hati pada negaranya.
Atau jatuh hati pada orang-orang atau seseorang yang mereka temui di sana. 

Berikut ini adalah cerita-cerita pendek dari beberapa peserta Simposium yang mengabadikan cerita itu lewat tulisan dan foto.

Azri Alhaq (PPMI Arab Saudi)



Perkenalan Singkat yang berujung dengan Pertemanan Dahsyat (InsyaAllah)

Acara Simposium International Cairo 2016 Hari pertama telah usai, para peserta delegasipun beranjak untuk beristirahat di kamar masing-masing.

Hotel OASIS namanya, yang terletak di Kota Giza - Cairo, menjadi tempat tinggal para delegasi selama mengikuti acara Simposium International Cairo 2016.

Saya (Azri Alhaq - PPMI Arab Saudi) tinggal sekamar dengan Muhammad Dhafi Iskandar (Alumni PPI Prancis) dan Ibnu Abdullah (PPI Afrika Selatan), Hotel OASIS kamar 1601.
Kebetulan kamar yang kami tempati memiliki 2 kasur besar dan 1 kasur kecil.
Dimana saya menempati kasur yang kecil, sedangkan 2 kawan saya masing-masing menempati kasur yang besar.

Malam itu, ketika kami lelap tertidur dikarenakan seharian penuh mengikuti rangkaian acara Simposium International, pintu kamar berbunyi "tok tok tok", akupun terbangun dengan setengah sadar, dan kemudian kudengar lagi ketokan pintu sampai diriku benar-benar terjaga, waktu menunjukkan pukul 02.15 waktu mesir, akupun berdiri dari tempat tidurku lantas menghampiri pintu dan segera membukakan pintu tersebut.

"Assalamualaikum, maaf mengganggu", kudengar salam dan permohonan maaf dari sesosok orang yang sudah saya kenal.
Ia adalah Muhammad Zidni Ilmi (PPMI Mesir), salah seorang panitia acara Simposium International bagian Transportasi dan Penjemputan peserta Delegasi.

Kujawab kembali salamnya "Waalaikumussalam, iya ada apa?"

Zidnipun mengutarakan tujuannya pada saat itu dan lanjut berkata:
"Jadi begini, ada 2 orang peserta delegasi yang baru saja tiba saat ini di Hotel, akan tetapi kamar yang sudah disediakan untuk mereka sedang dipakai sementara oleh panitia.
Maka bisakah 2 orang tersebut menginap sementara dikamar ini untuk sekedar beristirahat sampai esok hari? Karna mereka baru saja tiba dan terlihat sangat lelah sekali".

Mendengar penjelasannya, spontan kujawab "Oh silakan, tidak ada masalah dengan itu.
Bawa saja mereka kemari dan biarlah mereka beristirahat disini".

Kemudian Zidnipun memanggil mereka berdua, dan sayapun membangunkan Ibnu Abdullah untuk pindah ke kasur sebelah dan tidur di samping Muhammad Dhafi, sambil menjelaskan secara singkat padanya keadaan pada saat itu.
Juga agar 2 orang yang dimaksud oleh Zidni tersebut dapat istirahat di salah satu kasur besar di kamar kami.

Dalam 10 menit, Zidni beserta 2 orang yang ia ceritakan sudah berada di depan kamar kami.
Sayapun mempersilakan mereka berdua masuk dan Zidnipun pamit meninggalkan kami.

Sayapun memulai percakapan dengan salam dan memperkenalkan diri kepada 2 orang tersebut, begitu pula dengan mereka.
Dan akhirnya sayapun tau bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang sangat hebat.

Yang pertama adalah Gigih Giandono (seseorang yang diundang khusus oleh panitia dalam acara Simposium International ini karna telah memenangkan Lomba Fotografi yang diadakan oleh pihak panitia), dan yang kedua adalah Pandu Dharma Wicaksono (peserta delegasi utusan BEM Universitas Gajah Mada).

Setelah itu, sayapun mempersilakan mereka berdua untuk beristirahat tanpa lanjut bercerita panjang, karna terlihat dari wajah mereka bahwa mereka sangat lelah sekali.
Kemudian merekapun langsung beristirahat.

Perkenalan yang kurang dari 5 menit itu, siapa yang mengira akan membawa sebuah cerita panjang ... ?

Keesokan harinya, pada saat acara Simposium hari kedua dimulai, kitapun mengikuti rangkaian acara Simposium International seolah-olah kita sudah kenal sejak lama.

Dari mulai pembahasan mengenai diskusi panel utama, sidang komisi, city tour Cairo sampai berakhir dengan perpisahan di Bandara International Cairo, kita telah membuat banyak cerita.

Akhir kata, semoga pertemanan ini dapat terus dijalin hingga membawa kita semua ke Taman Surga nanti. Amin

Oleh: Azri Alhaq


Nadhira Zhafirany (PPI Belgia)


Saya Nadhira Zhafirany dari PPI Belgia, salah satu peserta Simposium Internasional PPI Se-Dunia di Cairo. Menurut saya, seluruh kegiatan di SI Cairo 2016 itu gak bisa terlupakan. Dari yang sidang serius 19 jam sampe ketawa non-stop waktu jalan2!
Tapi satu hal yang paling saya inget adalah ketika Mas Agie, dari PPI Italia ngajak saya dan beberapa delegasi selfie.....pake SEPATU!😂
Saya kaget dan geli banget sampe ketawa ga berhenti. Akhirnya kita selfie bersama deh di depan Masjid Muhammad Ali.


Tiara  Aprilia


Keindahan Alexandria menjadi penutup yang magis dalam perjalananku di Mesir. Sebelumnya tak pernah terbayang buah tulisan yang diikutsertakan dalam lomba  dapat membawaku ke negeri ini, Mesir. Bukti peradaban kuno yang kami singgahi di Giza, kedamaian yang kami dapat dari Sungai penuh keberkahan, ketakjuban melihat Universitas yang melahirkan ulama-ulama besar dimuka bumi, dan rasa mawas diri setelah berziarah ke makam Imam Besar Umat Islam disini.

Bersama pemuda Indonesia yang sedang menggeluti bidangnya masing-masing, kami bertemu, bersama menapaki makna Identitas diri kami, Identitas bangsa kami, di negeri yang setiap jengkalnya penuh sejarah dan misteri. Disini pula kami menorehkan kisah kami, berjuang mengungkap misteri akan masa depan bangsa kami, Indonesia. 


Dhila Fadhilatul Hasanah
Pasca UIN Raden Fatah Palembang

Assalamu’alaikum Cairo,,, itu yang diucapkan pertama kali waktu tiba di Cairo…Mesir…Egypt
Yaa.. pertama lihat kota Cairo ini… mataku nampak terpana pada nuansa coklat dan kotak-kotak di kota ini dan aku menyebutnya “Kota Kotak Coklat”. Warna-warni pun jarang kita lihat..hingga menurutku 80% isi kota ini adalah coklat dan kotak yaa begitulah sepanjang jalan yang lihat diatas bus yang kami tumpangi menuju Hotel Oasis yang ada di Giza yang mana kami pun untuk menuju sana melewati bangunan-bangunan kuno, padang pasir, dan sungai fenomenal yaitu sungai NIL… sungai nil yang indah dan kami pun dapat melihat Piramid dari kejauhan selama perjalanan mendekati hotel yang akan kami tempati selama 8 hari kedepan. Setiba di hotel dalam hati ada penasaran yang membara atas apa-apa yang telah ku lihat sepanjang jalan tadi bagaimanakah didalam rumah kotak coklat itu apakah setiap rumah sama ataukah sama yang seperti tampak dari luar…..



Pengalaman berharga selama mengikuti symposium di Cairo ini adalah dengan berkumpulnya keluarga baru..saudara-saudari baru dari berbagai asal suku dan budaya serta berkumpul dengan pemuda-pemudi Indonesia yang sama-sama mengejar mimpi sampai ke negara-negara lain dari Eropa, Asia, Timur Tengah dll.. Berkumpul dengan pemuda-pemudi penerus bangsa Indonesia membuat seolah cita-cita dan harapan semakin mendekat. Inspirasi dari teman-teman yang kuliah di luar negeri membuatku untuk lebih berfikir maju lagi dan semangat untuk  menggapai cita-cita postgraduate atau pun doctor ke luar negeri juga.  Tak lupa juga dimomen symposium di Kairo ini kami bisa bertemu dan mendapatkan wejangan-wejangan dari petinggi-petinggi Negara Indonesia maupun Kairo. Temanss and all KALIAN LUAR BIASA …


Sesuatu yang membuatku terperangah dan tak pernah ku bayangkan, aku dapat melihat dan mendatangi benteng dan masjid Salahuddin Al Ayubbi yang arsiterktur dan keindahan masjidnya sangat membuatku terpanah.. Saat sore hari di tgl 28 Agustus aku dan semua delegasi berkunjung ke Taman Al Azhar  yang hijau dan banyak ditumbuhi pepohonan yang terbentang disana kita tak kan berfikir jika kita sedang berada di Mesir karena ditaman itu kita seolah-olah berada ditempat yang sejuk tanpa padang pasir, disana pun kami dapat memandang masjid indah masjid Salahuddin Al-Ayubbi dari Taman Al-Azhar aku berandai-andai dan seolah-olah sedang berada di Turki… yaa Mesir ala Turki.. bangunan yang indah yang dibuat dimasa itu. Turki negara impian tempat melanjutkan studiku..semoga suatu saat ku benar kesana dan menggapainya.


Berawal dari Khan Khalili yang adalah semacam Diagon Alley nya Harry Potter di mana kita dapat menemukan apa pun disana tempat yang unik dan bangunan-bangunan yang menarik perhatianku dan penasaran itu pun menggebu-gebu. Dengan ditemani dua orang teman baru ku yang adalah Mahasiswi yang kuliah di Al-Azhar, mb Iis dan mb Haura akhirnya aku menelusuri kota kotak coklat disekitar Khan Khalili. Aku menelusuri, mengamati dan melihat tradisi orang-orang Mesir secara dekat dan tak lupa keingintahuanku dengan rumah-rumah kotak coklat yang membuat pertama kali kupenasaran setiba di Kairo Mesir ini.



Tradisi orang Mesir masih sama seperti dalam sejarahnya zaman Rasulullah ada sisi baiknya yang bisa kita rasakan kebaikan-kebaikan mereka dan ada juga sisi buruknya yang mana zaman jahiliyah akan kita rasakan juga. Oh iya terkait isi rumah “kota kotak coklat” di Kairo didalamnya itu sangat berbeda dengan tampak diluarnya, didalam lebih indah dan berwarna-warni mereka menghiasi rumah mereka sesuai dengan selera mereka yang glamor seperti Cleopatra.


Wawan Nur Rewa (Makasar)


Mahasiswa Indonesia menuju Forum Dunia

Perhimpunan pelajar indonesia atau yang biasa di singkat PPI, kini telah usai melakukan Symposium International PPI DUNIA di kampus Al-Azhar University Cairo Mesir 24-28 July 2016.

Kegiatan ini adalah agenda rapat tahunan setiap akhir masa jabatan kepengurusan PPI Dunia (pergantian structure) dan sidang komisi agenda yang berjalan selama 4 hari di Mesir yang dihadiri 41 negara di dunia. Saya adalah salah satunya. Saya mewakili mahasiswa kota Makassar dan Asean Muslim Students Association (AMSA) yang terlibat langsung pada forum PPI DUNIA di Mesir.

Pengelaman ini tentunya sangat mengasikkan apa lagi perjalanan yang sangat lama diatas udara (27 jam) dari Jakarta-Dubai-Mesir, semenjak pertemuan itu di laksanakan di Al-Azhar University minggu lalu (24-28 july 2016) saya merasa sangat bangga terhadap pelajar indonesia yang kuliah di luar negeri yang antusias dan semangat dalam melaksanakan Symposium tahun ini.

Hasil yang saya dapatkan dari simposium tahun ini adalah tentunya membangun Indonesia ke depan dan menjadi solusi problem bangsa, trobosan-trobosan yang di lahirkan dari hasil Simposium ini sangat baik. Setelah saya pelajari setiba di indonesia beberapa hari yang lalu dan saya berharap ini tetap berlanjut untuk tetap komitmen dalam nuansa memperteguh identitas bangsa Indonesia.

Walaupun perjalanan ini tidak semuanya manis, namun tidak bisa di pungkiri juga pasti ada pahitnya di mana perjalanan ini sangat melelahkan bagi diri saya. Selain tubuh kurang cairan, saya juga merasakan kelelahan otak saya selama di Mesir yang terkuras begitu banyak demi memecahkan problem bangsa hari ini.

Sedikit saya bertele-teleh dengan keberadaan PPI DUNIA selama simposium di Mesir mendapatkan begitu banyak lirikan dari negara lain di dunia dengan Tema "Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia".

Pelajar Indonesia di luar negeri meyakini bahwa adanya PPI ini menjadi pertimbangan besar terhadap negara bagi pelajar yang melanjutkan study di luar negeri. Tanggung jawab serta nasionalisme bangsa selalu di perteguhkan dengan menciptakan trobosan baru memalui PPI DUNIA.

Pada hari kedua saya menyempatkan berdialog bersama teman-teman PPI Yaman, Yordan dan Thiongkok. Selain fokus dalam memecahkan problem bangsa, saya juga sedikit keluar dari pembahasan tersebut hingga saya harus membangung kerja sama antar negara dalam dunia nyata kedepan nantinya agar dapat menjadi sebuah solusi dalam kepribadian saya dan juga solusi dalam memperteguh identitas bangsa Indonesia ke depan.

Setelah itu, kami mengkaji beberapa informasi mengenai simposium tahun ini bahwa kehadiran PPI menjadi sebuah Perhimpunan (Association) terbaik di dunia, yang dapat menampung seluruh pelajar Indonesia mulai S1, S2 dan lainnya yang berstatus pelajar di luar negeri. Sehingga, para pelajar yang study di berbagai belahan dunia dapat berkumpul dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Bukan hanya itu, trobosan yang lahir setiap simposium internasional PPI Dunia juga di yakini adalah sebuah hasil gagasan terbaik dari sidang khusus pelajar indonesia di belahan dunia dalam satu forum, 41 Delegasi PPI Dunia duduk dalam satu forum dan masing-masing membawah referensi dari setiap negara untuk memecahkan problem bangsa. Apa yang saya dapatkan dari simposium ini adalah sebuah penghargaan besar kepada diri saya dan kota Makassar ke depannya. Saya berharap bahwa pelajar Indonesia yang belum terlibat pada PPI Dunia dapat bergabung untuk membuka cakrawala berfikir sebagai agen of change.


Dan saya ucapkan banyak terimakasih kepada panitia simposium tahun ini (PPMI MESIR) atas segala fasilitas yang di berikan maupun pelayanan yang sangat baik.

Thank you for you PPI DUNIA.



Pratiwi Widya W (PPI Polandia)



Nama saya Pratiwi Widya W, merupakan delegasi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Polandia (PPI Polandia) yang hadir di Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, Mesir. Pada tanggal 24-29 Juli 2016 terdapat acara akbar pelajar Indonesia sedunia, yaitu Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, Mesir. Acara yang merupakan rapat tahunan ini diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia sedunia (PPI Dunia) dan dihadiri lebih dari 70 delegasi PPI Negara dan BEM.

Pada awalnya, ketua PPI Polandia beserta wakilnya berencana menghadiri Simposium Internasional tersebut. Tetapi mereka tidak jadi berangkat karena satu dan dua hal. Akhirnya saya mencoba mengajukan diri untuk menghadiri acara tersebut, dan pengajuan saya diterima oleh PPI Polandia. Tidak perlu menunggu lama, saya langsung mengajukan pembuatan Visa Mesir dengan bantuan KBRI Warsaw di Polandia. Dalam waktu beberapa jam setelah pengajuan, saya mendapatkan keputusan bahwa pengajuan visa saya diterima.

Saya yang memiliki hobi travelling ini merasa sangat beruntung memiliki kesempatan untuk mengunjungi Mesir selain karena gurun adalah destinasi impian saya, Visa Mesir juga terkenal susah untuk mendapatkannya. Saya masih teringat informasi bahwa ketika dua minggu sebelum keberangkatan, hanya empat orang delegasi dari kawasan Amerika dan Eropa yang visanya diterima, termasuk saya. Dapat dibayangkan betapa susahnya untuk mendapatkan Visa Mesir.

Saya pergi ke Kairo, Mesir naik pesawat dan berangkat dari Warsaw tanggal 22 Juli 2016 kemudian transit di Turki selama enam jam. Saya dilanda kebosanan yang besar saat menunggu pesawat lanjutan di dalam bandara Turki sehingga perasaan mengantuk terus datang. Setelah menunggu lama akhirnya pesawat lanjutan saya datang, dan kemudian saya langsung tertidur begitu menyentuh kursi pesawat.

Saya terus tidur di kursi samping jendela pesawat dan tidak memperhatikan siapa yang duduk di kursi sebelah. Yang saya ingat adalah ada wanita berkerudung memakai baju pink yang saya tebak mungkin berasal dari Malaysia. Dia sedikit menyenggol saya ketika akan duduk, tetapi saya acuhkan dan melanjutkan tidur. Di tengah perjalanan, saya dibangunkan oleh wanita berkerudung yang berbaju pink tersebut untuk menerima makanan dan minuman. Saya yang masih mengantuk mengucapkan terima kasih dalam Bahasa Inggris. Setelah selesai makan, saya melanjutkan tidur lagi. 

Di tengah perjalanan, wanita berkerudung yang berbaju pink itu membangunkan saya lagi untuk memberikan formulir isian yang harus diserahkan kepada imigrasi Kairo.

     “Are you travelling alone?” tanya dia.
     “Yes, I am,” jawab saya.
     “Ok this is for you,” katanya sambil menyerahkan formulir.
     “Thank you,” kata saya sambil tersenyum mengantuk, wanita tersebut pun hanya
     tersenyum.

Akhirnya setelah terbang beberapa jam, pesawat saya mendarat di Kairo pada pukul 2 dini hari. Saya segera mengumpulkan kesadaran yang sudah hilang selama perjalanan. Sambil mengantuk saya berjalan keluar pesawat untuk menuju terminal. Begitu menyentuhkan kaki di terminal bandara, semua kantuk saya menghilang. Ingin sekali saya berteriak, I’m here!

Dengan perasaan semangat yang tiba-tiba muncul entah dari mana, saya langsung berjalan menuju imigrasi. Saya melihat antrian yang sangat panjang dan kebingungan di manakah saya harus antri. Tiba-tiba saya melihat wanita berkerudung yang berbaju pink itu lagi dan berinisiatif untuk bertanya ke dia.

     “Is it for all passport?” tanya saya.
     “Yes,” jawab dia sambil tersenyum.

Kemudian saya langsung antri di belakang dan mempersiapkan semua dokumen-dokumen. Saya hanya memiliki surat undangan Simposium Internasional, dan hanya membawa uang sedikit. Berdasarkan pengalaman melewati imigrasi super ketat, semua orang harus mempersiapkan dokumen yang lengkap, apalagi Mesir ini terkenal sebagai negara yang memiliki tingkat pertahanan border yang ketat. Tidak ingin terhambat di sini, saya mencoba untuk tetap tenang dan menyapa petugas imigrasi.

     “Good morning,” salam saya sambil menyerahkan passport dan dokumen lain.
     “You are travelling with your friend, right?” tanya petugas imigrasi.
     Saya keheranan mengapa dia bertanya begitu. Karena saya datang sendiri maka
     dengan tegas saya jawab, “No, I’m alone.”

Setelah itu petugas imigrasi mengembalikan paspor sambil memandangi saya. Dengan perasaan senang, saya langsung berjalan menuju tempat pengambilan bagasi dan kemudian menghadapi petugas lagi.

     “Good morning,” kata saya sambil menyerahkan paspor.
     “What are you doing here?” tanya petugas tersebut.
     “I will attend a conference in Cairo,” jawab saya sambil tersenyum.
     “Welcome to Egypt!” sambut petugas tersebut.

Dengan perasaan senang, saya keluar menuju pintu kedatangan dan duduk di ruang tunggu. Saya menghubungi pihak panitia simposium untuk mengabarkan bahwa saya sudah menunggu di bandara. Sekilas saya melihat wanita berkerudung yang berbaju pink itu lagi sedang mendorong trolinya menuju area parkir. Wah beruntung sekali pasti dia sudah ada yang menjemput, pikir saya.

Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya dua orang lelaki datang menghampiri saya dan bertanya menggunakan Bahasa Indonesia,

     ”Delegasi ya Mbak?”
     “Iya,” jawab saya.
     “Apakah sudah menunggu lama? Tadi kami juga menjemput delegasi yang pesawatnya
     mendarat di terminal ini tetapi tidak menemukan Mbak Pratiwi,” katanya.
     “Oh ya? Ada berapa banyak? Wah saya tidak tahu kalau ada orang Indonesia yang
     pesawatnya juga mendarat di sini,” jawab saya.

Kemudian kami langsung pergi menuju tempat parkir mobil dan mereka membawa saya menuju home stay. Tempat ini merupakan tempat beristirahat khusus untuk delegasi yang datang lebih awal, sebelum semua dikumpulkan di Hotel Oasis. Setelah puas beristirahat, di home stay ini saya berkenalan dengan banyak orang, tidak hanya panitia tetapi juga delegasi yang datang lebih awal. Kemudian ada salah satu panitia memberi informasi bahwa ada delegasi yang tinggal di home stay yang lain.

     “Pukul dua dini hari tadi kami menjemput delegasi yang pesawatnya mendarat
     bersamaan dengan Mbak Pratiwi, namanya Mbak Hana. Apakah Mbak Pratiwi kemarin
     bertemu dia? Seandainya Mbak bersama dia, mungkin Mbak tidak perlu menunggu kami
     lebih lama. Oh ya, nanti semua delegasi yang tinggal di home stay lain akan berkumpul
     di sini termasuk Mbak Hana,” kata panitia tersebut.

     “Hmm saya tidak tahu. Saya rasa kemarin ada orang berkerudung dan berbaju pink.
     Kalau tidak salah dia duduk di sebelah saya. Eh..?” kemudian saya tersadar.
     Jangan-jangan dia orang Indonesia?
     “Loh Mbak Pratiwi tidak tahu apakah dia orang Indonesia atau bukan?” tanya panitia
     tersebut dengan keheranan.
     “Ngga, karena saya tidur terus dan berbicara dengan dia juga memakai Bahasa Inggris,”
     jawab saya.

Setelah menunggu selama beberapa jam, rombongan delegasi yang tinggal di home stay lain sudah datang. Saya mencoba menengok. Dan benar saja, ada wanita berkerudung yang berbaju pink itu! Sambil menahan tawa, saya kemudian menghampirinya.

     “Mbak!” sapa saya. Wanita tersebut yang akhirnya saya ketahui bernama Hana, terkejut
     dan kemudian kami tertawa bersama.
     “Astaga ternyata Mbak delegasi? Saya pikir Mbak orang Filipina,” seru Mbak Hana.
     “Iya Mbak. Saya juga mengira Mbak ini orang Malaysia. Ya ampun kita lucu banget ya!
     Bisa-bisanya kita ngga nyadar kalau teman sebelah kursi di pesawat adalah orang
     Indonesia. Ngga heran kemarin petugas imigrasi nanya apakah saya datang bersama
     teman,” kata saya.

Akhirnya kami menceritakan semuanya kepada panitia bahwa sebenarnya kami duduk bersebelahan di pesawat tetapi tidak menyadari bahwa kami berasal dari tanah air yang sama. Bahkan kami sempat berbicara dalam Bahasa Inggris, bukan dalam Bahasa Indonesia. Setelah pertemuan ini kami berdua tinggal di kamar yang sama di Hotel Oasis dan sempat berfoto bersama di piramida.

     “Akhirnya kita kenal beneran ya,” kata saya sambil bercanda.
     “Iya. Pertama kita tidak kenal ketika duduk sebelahan di pesawat, sekarang malah jadi
     sekamar. Hahaha,” kata Mbak Hana.



Raihanna Rizki




Mesir adalah negara unik bin ajaib menurutku. Bagaimana kita bisa merasakan wisata duniawi dan surgawi dalam saat yang bersamaan. Seperti kata pepatah mesir, semakin kita menginjakkan kaki di Mesir, maka akan semakin banyak misteri yang kan kita temui. Banyak hal menarik yang aku dapatkan selama perjalanan di Kairo. Dan kegiatan simposium kemarin mungkin hanya menampilkan sebagian kecil hal-hal menarik tentang Mesir. 

Menurutku, kita hanya bisa merasakan cinta tanah air dan menjadi begitu alim saat berada di negeri orang, dan memang itu yang aku rasakan dalam dua minggu keberadaanku di Mesir. Aku biasanya selalu kesal melihat orang Indonesia yang suka asal berbelok tanpa memberi tanda saat di jalan raya, tapi disana semua orang seperti itu, bahkan lebih parah, aku jadi bersyukur di Indonesia tidak sampai separah itu. 

Yang aku ingat juga waktu kami para peserta SI di ajak panitia naik kapal melintasi sungai fenomenal Mesir, Sungai Nil. Waktu itu udah sore, jadi udaranya adem. Kami dibagi menjadi dua kelompok dan aku ikut di kelompok satu bareng temen-temen dari BEM dan beberapa PPI dunia. Kami dapet kapal yang tingkat, jadi kami kuasai kapal bagian atas. Kebetulan di atas diletakkan juga sound system, jadi kami bisa menyetel lagu lewat sound system tadi. Karena temen-temen banyak yang kangen lagu Indonesia, jadilah kami menyetel lagu Indonesia apapun yang ada di hp dan bernyanyi berjoget bersama. Suasananya mendadak ceria banget. Puas selfi, grupfi, joget dan nyanyi bareng kenceng-kenceng di negri orang tanpa khawatir ada yang ngomelin.



Cuaca di mesir juga panas banget. Kemarin suhunya mencapai 34 derajat celcius, sepanas itu, dan masisir bilang kalau itu udah mulai adem, What the?. Karena katanya suhu disana bisa mencapai 40 derajat dan puncak panasnya adalah di bulan juli, jadi kami ngga merasakannya, alhamdulillah. Sebelumnya aku selalu mengeluh panas di Sumbawa, kebetulan wilayah NTB yang letaknya di wilayah tengah Indonesia juga mendapatkan hawa panas yang lumayan, sama dengan di Indonesia Timur. Tapi setelah aku merasakan suhu panas Mesir, membuatku bertekad ngga akan lagi ngeluh dengan panasnya cuaca disana karena di Mesir lebih parah. 

Aku ingat gimana susahnya mencari makanan yang sesuai dengan lidah kita karena orang Mesir menyukai makanan yang manis dan asin sementara kita menyukai makanan yang gurih dan pedas. Tapi hal ini tetap ngga menyurutkan niatku untuk melakukan wisata kuliner. Beberapa makanan khas pun sempat ku coba, seperti kushari, togin, ikan file, bathotis, syibsi dan roti isy. 

Ada yang menarik tentang roti isy. Roti isy merupakan makanan pokok orang mesir. Sama halnya nasi bagi kita, maka roti isy adalah sesuatu yang wajib ada di meja makan apapun makanannya. Awalnya aku sempat agak jijik karena mereka suka meletakkan roti isy di tempat yang menurutku, ngga banget. Tapi setelah dicoba, ternyata, emang biasa aja. 

Roti isy yang dijual dipinggir jalan, biasanya disajikan dengan udang dengan harga 5 LE atau pun ikan file dengan harga 11 LE, ditambah dengan tohinah, saus yang biasa disajikan berbarengan dengan roti isy berwarna putih seperti santan dan rasanya gurih. Konon katanya roti isy itu ada dua, yang untuk pria dan wanita. Bedanya adalah yang untuk wanita berwarna putih bersih dan ngga terlalu keras, sementara yang untuk pria adalah yang biasa kita temui di jalan. 



Cerita lain mengenai roti isy adalah saat jalan-jalan ke Alexandria setelah kegiatan simposium. Saat makan siang kebetulan kami ditraktir oleh Bang Gobe di restoran seafood. Awalnya aku kira menunya akan dipesan sendiri-sendiri, tapi tiba-tiba pelayannya datang membawa makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Namanya juga ditraktir, ya bersyukur aja. Aku sempet kaget melihat ikan yang disajikan lebih besar daripada tanganku. Tapi yang menarik perhatian adalah keberadaan gundukan makanan berwarna coklat disebelahnya. Apalagi kalau bukan nasi, dan ini adalah nasi goreng. Seperti menemukan air di tengah gurun, aku yang rindu masakan indonesia segera menyuap nasi dan ikannya dalam porsi cukup besar. Tapi persis makanan itu masuk mulut, rasa garam yang overload langsung hinggap di lidahku. Aku langsung minum hampir 2 gelas demi menghilangkan rasa asin tadi. Apa daya, ingin lidah makan makanan normal, malah dapet yang asinnya parah begini. Jadilah nafsu makan yang sempat tinggi tadi langsung turun ke level “gapapa deh yang penting makan”.

Kebetulan disajikan juga 4 saus dan sambal, juga tak ketinggalan, roti isy. Berhubung aku ngga minat sama saus dan sambalnya, jadi aku coba makan nasi dan ikan tadi bersama roti isy. Aneh bin ajaib, rasa asin yang overload tadi mendadak hilang dan rasa makanan kembali normal. Jika diibaratkan, maka roti isy adalah gula yang menetralisir rasa sayuran yang asin. Akhirnya aku mengerti kenapa roti isy selalu ada di hidangan masakan mesir. 

Selain makanan, yang membuatku kagum adalah buah-buahan. Sepanjang jalan di Cairo, menemukan pedagang buah adalah hal yang lazim kita temui, terutama buah mangga, buah tin, dan buah anggur. Harganya pun sangat menggoda, hanya sekitar 12 Le untuk satu kilo mangga, 1 Le untuk satu buah tin, dan 5 Le untuk sekilo anggur. Kalau di Indonesia, anggur harganya bisa mencapai 80 ribu ke atas, maka disini anggur adalah cemilan murah yang bisa dimakan kapan aja. 



Tapi yang menarik perhatianku tetap mangga, karena aku sangat menyukai mangga. Begitu sukanya sampe aku selalu membeli jus mangga setiap hari. Harganya murah, dan jus mangga disana berbeda sama yang ada di Indonesia. Disana jus mangga ngga diblender sampai halus, jadi kita bisa merasakan potongan-potongan mangga yang belum hancur. Cerita tentang jus mangga, mengingatkanku  dengan kejadian lucu di hari terakhirku disana. 
Hari itu aku nemenin temenku pergi ke kantor pusat bank Faisal, sebuah bank di Mesir, untuk mengurus uang beasiswanya di daerah Sittah Uktubar. Seperti biasa, aku selalu beli jus mangga di belakang Azhar.

Sudah menjadi peraturan tidak tertulis di Mesir bahwa penjual adalah raja, bukan sebaliknya. Maksudnya pembeli disana sering tidak dilayani dengan baik, dibikin lama nunggu, oleh karena itu terkadang ada saja masisir yang jail karena merasa kesal, salah satunya adalah temanku. Saat aku menyebutkan pesenan, ‘amu penjual pergi buat mengambil jusnya. Kami dibuat menunggu cukup lama padahal kami harus segera pergi, akhirnya temanku mengajakku buat pergi. Aku yang merasa ngga enak jadi agak ragu buat pergi juga, tapi temenku menarik tanganku. Akhirnya kami pergi gitu aja tanpa jadi membeli jus mangga. Setelah tau alasannya, akhirnya kami jadi tertawa. Besoknya, aku ngga berani lagi beli di toko itu.

Saat jalan-jalan juga menjadi kegiatan menyenangkan. Seperti saat ke alexandria, salah satu dari sedikit sekali kota di Mesir yang berawan. Disana banyak banget yang ngajak kami foto, jadi berasa turis beneran. Aku pikir yang norak kalo liat bule gitu orang Indonesia aja, taunya orang Mesir juga. Dan sama kaya kita, mereka cuma bisa bedain turis yang dari arab, kalo dari Asia dan Ameroplia mereka akan nganggep kita tetep asia dan bule mau dari negara manapun kita. Makanya waktu disana kemarin, ga sedikit yang suka negur kita dengan bilang, ni hao ma. Kita sih seneng-seneng aja ya, sambil sok-sok ngomong pake bahasa mandarin, padahal bahasa sunda, haha. 



Atau saat ke Hurgadha. Kalo yang ini aku pergi bareng alumni pesantrenku dulu pas MA. Aku ngerasain berenang dan snorkling di Laut Merah, laut yang pernah dibelah nabi Musa dengan Tongkatnya dulu, bahkan sempet tenggelam segala. Trus naik ATV di gurun disana. Nyebrang ke pulau Giftun dan Paradise Island yang cantiknya emang kaya surga dunia. Ya mirip-mirip sama beberapa pulau di Sumbawa dengan kecantikan yang berbeda masing-masingnya. 
  
Selain senang-senang ada saatnya juga aku wisata rohani ziarah ke makam para imam dan sahabat nabi. Aku jadi refleksi diri dan merasa ngga ada apa-apanya. Sampe sempet sedih banget di makam seorang imam. Di hari terakhir aku disana, aku juga sempetin untuk ikut ngaji kitab bersama seorang imam dari Azhar. 

Intinya dua minggu berada disana terasa kurang banget. Aku yang pulang paling lama aja sedih banget, gimana yang cuma sebentar. Tapi aku bersyukur banget karena banyak hal-hal baru yang aku dapet di mesir. Yang jelas, ini adalah perjalanan luar negri bervisa pertama yang aku ikutin dan berhasil memberikan kebahagiaan lahir batin. Thanks to Allah, lewat panitia Simposium, jadi dapet kesempatan ngunjungin negara aneh bin ajaib ini.





Ajeng Ratmawati, 
Universitas Mulawarman



Hal yg paling berkesan selama ajeng mengikuti simposium ppi dunia di cairo adalah ketika ajeng mengunjungi 'the great piramids' dan berkeliling sungai nil dengan perahu. Di the great piramids, ajeng belajar bahwa mesir merupakan negara yg memiliki begitu banyak sejarah peradaban yg kita tidak bisa dapatkan di negara lain. Piramida Khufu, Khofro, dan Munkaro merupakan bukti nyata eksisnya 3 peradaban besar di mesir.

Keindahan sungai nil juga tak bisa dipungkiri menjadi tempat yg sangat mengesankan bagi saya. Ketenangan dan keindahan yg disuguhkan oleh alam membuat saya langsung jatuh cinta pada sungai nil. Semoga ajeng bisa kembali ke cairo dan mengeksplore lebih banyak tempat.


Imam Khairul Annas

Tahun 2011, saya lulus SMA (Pesantren), ketika itu saya mencoba untuk mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia, namun hasilnya "tidak lulus", di tahun itu pula, saya mencoba ikut ujian masuk ke Universitas Al-Azhar Mesir lewat jalur Kementerian Agama RI, dan hasilnya pun sama, saya juga "tidak lulus"



Masih di tahun yang sama, saya coba mendaftar ke UIM (Universitas Islam Madinah) melalui jalur daurah dan muqabalah, saat itu saya belum punya paspor, pendaftaran ke UIM saat itu tidak seketat sekarang, yang mana pendaftar harus memiliki paspor sebelum daftar online.

Desember 2011, saya ke Imigrasi Jakarta Pusat untuk membuat paspor, ketika ditanya petugas, buat paspor mau kemana dik? Saya jawab, saya mau umrah, padahal waktu itu saya belum tau kapan umrahnya dan belum tentu diterima di Madinah.

Tahun 2012, saya coba daftar ke IUA (International University of Africa), Sudan, melalui jalur Kementerian Agama, hasilnya tak keluar juga. Saya masih penasaran dengan Al-Azhar, akhirnya saya ikut tes lagi, dari 3200 peserta tahap pertama, saya lulus bersama 600 peserta lainnya, kemudian saya ikut tes tahap kedua, dimana yang lulus hanya 300 peserta, dan Alhamdulillah saya lulus.

Setelah diterima di Al-Azhar Mesir, saya langsung mengirimkan berkas yang dibutuhkan ke Mesir, termasuk Akte Kelahiran saya yang sudah sampai di Cairo. Visa pun sudah saya peroleh dari Kedutaan Mesir di Jakarta, tinggal beli tiket ke Cairo dan berangkat kesana.

Saat hendak membeli kamus bahasa Arab untuk persiapan ke Mesir di bilangan Ciputat, saya mendapatkan info dari kawan, bahwa saya diterima di UIM. Saya langsung cek ke warnet terdekat, dan Alhamdulillah info tersebut benar. Memang pilihan yang sulit, diterima 2 kampus besar sekaligus, Universitas Al-Azhar Cairo dan Universitas Islam Madinah.

Setelah istikharah dan musyawarah dengan keluarga, kami sepakat untuk mengambil Madinah, dan di Madinahlah perjalanan itu dimulai. Beberapa pertimbangan mengambil studi di Madinah, antara lain beasiswa penuh (untuk meringankan beban kedua orang tua) serta kesempatan menunaikan ibadah haji dan umrah. Saya jadi teringat jawaban saya kepada petugas imigrasi tadi, "saya ingin umrah" yang mana Allah kabulkan keinginan saya.

Di tahun 2016 ini, Allah izinkan saya untuk menginjakkan kaki ke Bumi Kinanah, Bumi Para Nabi, serta salah satu Universitas tertua di dunia, Universitas Al-Azhar, tempat 3000 pelajar dari seluruh penjuru tanah air sedang menuntut ilmu. Mesir adalah negeri ke-4 yang saya kunjungi setelah Arab Saudi, Singapura dan Yordania.

Jasad ini sudah berada di tanah air, namun rasanya hati ini masih ada di Bumi Kinanah. Jujur saja, 9 hari di Mesir itu sangat kurang, mungkin butuh sebulan atau dua bulan untuk berkeliling menengok peradaban Negeri Para Nabi ini.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita, orang tua kita, guru-guru kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita, taufiq, hidayah, keberkahan dunia dan akhirat, Aamiin.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top