Sepenggal Kisah dari Thailand

Nama lengkapnya Doni Marisi Sinaga, akrab disapa Doni. Doni menempuh pendidikan S1 di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Setelah lulus kuliah, ia bekerja selama 11 bulan, lalu resign dan mendapat beasiswa di International Studying Environmental Management, Graduate School Chulalongkorn University. Hingga tahun 2014 ini, ia tinggal di Thailand belum genap satu tahun.
Beasiswa yang diperolehnya mencakup semua biaya yang dibutuhkan, termasuk biaya kuliah dan biaya kesehatan. Bahkan ada rumah sakit universitas dan unit kesehatan apabila mahasiswa membutuhkan perawatan medis. Pada umumnya, biaya hidup di Thailand menghabiskan dana sekitar 16000 Baht. Biaya tempat tinggal juga ditanggung oleh program beasiswa, jadi selama kuliah ia tinggal di asrama dengan mahasiswa dari berbagai bangsa.


Karakter penduduk Thailand

Menurut Doni, karakter orang Thailand sangat ramah, namun kurang mau berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Jadi saat kuliah biasanya orang Thailand hanya mau membuat grup belajar dengan orang lokal saja. Mereka biasanya menghindari mahasiswa asing karena malas untuk berdiskusi dengan bahasa Inggris. Toleransi beragama di Thailand tergolong cukup baik, mayoritas penduduk di sana memeluk agama Buddha.

Banyak objek wisata berupa kuil-kuil Buddha yang sangat menarik untuk dikunjungi. Ada juga Grand Palace Thailand yang sangat megah dan tidak cukup dikunjungi dalam waktu sehari saja. Untuk masuk ke Grand Palace, turis biasanya membayar tarif 500 baht atau sekitar Rp 200.000. Agar lebih murah, sebaiknya menunjukkan kartu mahasiswa atau mengajak teman asli Thailand karena beberapa objek wisata di sana gratis bagi penduduk lokal.


Kesan dan tips dari Doni

Setelah kuliah di Thailand, Doni jadi bisa melihat banyak peluang baru untuk dikembangkan di Indonesia. Wawasannya juga semakin terbuka karena mendapatkan berbagai pengalaman baru yang sangat menarik.


Beberapa tips kuliah di Thailand dari Doni:

- Calon mahasiswa harus mau mencari beasiswa dari berbagai sumber informasi, karena ada banyak jenis beasiswa yang ditawarkan di Thailand. Perhatikan juga biaya apa saja yang akan ditanggung oleh program beasiswa tersebut.

- Bersikaplah sabar dan cermat dalam mengurus berkas-berkas persyaratan yang dibutuhkan saat pendaftaran. Semakin sulit pengurusan berkas, biasanya akan semakin sedikit pula saingannya.

- Setelah berkas-berkas pendaftaran selesai diurus, calon mahasiswa harus membuat surat rekomendasi dari dosen. Jadi sebaiknya saat kuliah S1 banyak-banyaklah bergaul dengan dosen agar mudah mendapatkan surat rekomendasi.

- Lakukan persiapan sejak jauh-jauh hari, terutama untuk tes TOEFL. Jika memungkinkan, pelajari bahasa Thailand secara otodidak atau melalui kursus. Jangan terlalu takut dengan kendala bahasa karena ketrampilan bahasa hanya membutuhkan pembiasaan. Bahkan pada percakapan sehari-hari biasanya tata bahasa baku tidak terlalu dipentingkan.

- Milikilah tujuan jelas apabila ingin berkuliah di luar negeri, karena di Indonesia belum tentu kualitas pendidikannya lebih buruk. Pilihlah jurusan yang sesuai minat dan bakat agar potensi diri semakin berkembang setelah lulus kuliah dari Thailand.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Berbagi Cerita Dari Taiwan Bersama Intan

Taiwan adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Nama kota ini mulai melejit karena filmnya yang sempat booming di Indonesia pada awal tahun 2000-an. Yap, tentu saja Meteor Garden. Siapa yang tak kenal Meteor Garden? Semua orang pasti mengenal keempat aktor F4 nya yang ganteng. Yuk simak dulu sepenggal kisah dari Intan.


Intan kuliah di jurusan Educational Psychology and Counseling, Asia University Taiwan. Pada tahun 2014 ini, ia sudah menjalani kuliah selama dua semester. Ia menempuh pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Intan kuliah di Taiwan dengan program beasiswa. Ada banyak sistem beasiswa yang disediakan masing-masing universitas di Taiwan. Meskipun bahasa sehari-harinya adalah bahasa Mandarin, di Taiwan sudah ada banyak kelas internasional dengan perkuliahan yang menggunakan bahasa Inggris.

Beasiswa yang didapatkan Intan hanya menanggung biaya kuliah saja. Pada umumnya, biaya hidup di Taiwan tidak terlalu berbeda dengan di Jakarta. Di Taipei, biaya hidup sangat tinggi karena merupakan pusat kota. Saat ini ia tinggal di asrama dengan teman-temannya untuk menghemat biaya sewa tempat tinggal. Biaya buku bisa dikurangi dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

Godaan belanja di Taiwan cukup tinggi karena produk-produk di sana dikemas dengan sangat bagus. Bagi mereka yang ingin bekerja, mahasiswa asing diperbolehkan kuliah sambil bekerja. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk mendapat izin kerja dari kampus dan pemerintah. Tips untuk menghemat biaya hidup di Taiwan adalah dengan memasak makanan sendiri dan bepergian menggunakan transportasi bus gratis sebelum mencapai jarak 8 km.


Karakter penduduk Taiwan

Menurut Intan, karakter orang Taiwan lebih menjunjung adat-istiadat cina daripada orang yang tinggal di Cina. Nilai-nilai tradisional budaya Cina sangat dijunjung tinggi. Hal ini terlihat dari cara penulisan huruf menggunakan hukum penulisan Mandarin yang cukup kompleks. Orang Taiwan juga memiliki karakter sosial yang ramah, baik, damai, rapi, bersih dan taat peraturan. Kekurangan mereka adalah takut berinteraksi dengan orang baru, apalagi jika harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Pada umumnya anak muda di Taiwan cenderung agak susah untuk berpikiran terbuka, namun saat ini kebudayaan Taiwan sudah mulai terbuka dengan adanya globalisasi. Toleransi beragama di Taiwan tergolong baik karena orang-orangnya cenderung atheis, namun makanan halal agak susah untuk dicari. Taiwan memiliki empat musim, musim dingin tergolong dingin dan di beberapa daerah turun salju.

Bagi kamu yang rindu dengan Indonesia, bisa bergaul dengan teman-teman dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang tersebar di setiap universitas dan setiap wilayah Taiwan. PPI di sana sering mengadakan berbagai acara sosialisasi dan anggotanya saling membantu untuk dapat beradaptasi.



Kesan dan tips dari Intan

Selama kuliah di Taiwan, rasa cinta Intan semakin besar terhadap Indonesia. Setiap negara masing-masing punya kelebihan, belajar di Taiwan dapat mengajarkannya untuk berani menghadapi berbagai tantangan. Ia merasa bahwa sikapnya saat kuliah di luar negeri adalah representasi Indonesia, jadi ia selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kuliah di Taiwan juga membantunya berpikiran lebih terbuka dan mendapatkan banyak wawasan dari berbagai orang.


Beberapa tips kuliah di Taiwan dari Intan:

- Banyak cara untuk mendapatkan beasiswa di Taiwan, jadi harus terus berusaha mencari cara yang tepat. Taiwan saat ini sedang dalam proses untuk menjadi negara dengan kelas dunia, jadi pemerintah terus mencari mahasiswa internasional.

- TOEFL perlu diambil dan dipersiapkan, apalagi jika berkuliah di jurusan yang banyak mengadakan diskusi. Siapkan juga surat rekomendasi dari dosen.

- Calon mahasiswa harus tahu tujuan belajar dan karakteristik negara dengan jelas melalui berbagai informasi di internet. Hubungilah orang-orang yang sudah berpengalaman tinggal di Taiwan untuk memperoleh berbagai informasi berguna.

- Sebaiknya juga mempelajari bahasa Mandarin agar komunikasi sehari-hari semakin lancar.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Wawancara kuliah di Swiss dengan Iwa Sobara

Swiss merupakan salah satu Negara yang terletak di Eropa. Negara ini berbatasan langsung dengan Prancis, Austria, Itali, dan Liechtenstein. jarang orang yang mengetahui bahwa Swiss adalah salah satu negara yang unik. Banyak kelebihan yang bisa didapatkan. Yuk kita simak cerita dari Iwa Sobara.


Mengapa memilih Swiss?

Iwa Sobara adalah alumni The University of Bern di Swiss. Ia kuliah pada tahun 2009-2011 dengan program beasiswa Swiss Government Scholarships yang diurusnya di Kedutaan Swiss di Jakarta. Ia menempuh pendidikan S1 di jurusan Informasi Bahasa Jerman, Universitas Sriwijaya, Bandung. Beasiswa Swiss sangat ekslusif dan pemegang beasiswanya tersebar di seluruh dunia. Pada umumnya, beasiswa tersebut sudah termasuk biaya hidup, biaya transportasi, biaya kuliah, asuransi, dan lain-lain sehingga mahasiswa asing terkadang tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun saat kuliah di Swiss.

Iwa memilih melanjutkan pendidikan S2 di Swiss karena saat kuliah di Bandung ada dosennya yang berhasil kuliah di Swiss dengan program yang sama. Sejak kecil ia juga sudah bercita-cita pergi ke Swiss. Pada tahun 2008, ia mulai mencari berbagai kesempatan beasiswa. Umumnya orang tidak tahu bahwa Swiss mempunyai kualitas pendidikan yang tidak kalah bagus jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya seperti Jerman dan Prancis. Negara ini memiliki banyak tenaga ahli profesor sehingga berbagai macam ilmu pengetahuan mudah untuk didapatkan. Bahkan di Swiss Federal Institute of Technology di Zurich telah menghasilkan para alumni peraih penghargaan Nobel dan Albert Einstein juga sempat menuntut ilmu di sana.


Sekilas tentang Swiss

Swiss adalah negara yang memiliki sumber daya alam jauh lebih sedikit daripada Indonesia, namun mereka dapat mengelolanya dengan baik sehingga negaranya sangat maju. Tingkat persaingan di Swiss sangat tinggi di berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan dan ekonomi.

Negara ini sempat tidak mau masuk dalam Uni Eropa karena yakin akan potensinya sendiri tanpa harus bergantung dengan negara-negara Eropa lainnya. Toleransi beragama di Swiss tergolong baik karena masyarakatnya saling menghormati. Namun hingga saat ini belum ada tempat ibadah Muslim yang terang-terangan melakukan kegiatan agama seperti masjid-masjid di Indonesia.

Iwa merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah di luar negeri karena bisa melihat banyak hal dari sisi-sisi yang berbeda. Ia menyarankan agar mahasiswa asing jangan hanya fokus pada hal-hal akademis supaya bisa mengenal berbagai wawasan baru selama di Swiss. Ada banyak hal positif yang bisa dipelajari di Swiss tanpa harus membandingkan bahwa semua hal di Indonesia lebih buruk.


Tips kuliah di Swiss

- Calon mahasiswa harus siap dengan ilmu yang akan dipelajari di Swiss. Kemampuan berbahasa Jerman sebaiknya disiapkan sejak jauh-jauh hari sebelum berangkat kuliah.

- Pelajari cara-cara berinteraksi dengan orang yang berbeda kultur dan agama. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang yang berbeda pendapat dan keyakinan.

- Manfaatkan semua hal yang bisa didapatkan di Swiss semaksimal mungkin agar kesempatan kuliah di luar negeri tidak terbuang sia-sia.

- Banyak-banyaklah bergaul dengan berbagai anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) agar tidak merasa kesepian dan kangen dengan Indonesia. Usahakan agar dapat berteman dengan siapa saja dan mampu beradaptasi dimana pun.

Itulah tadi sepenggal kisah dari negeri Swiss oleh Iwa Sobara. Bagi kamu yang ingin kesana, persiapkan sedini mungkin apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat. Karena berdekatan dengan Prancis dan Jerman, alangkah lebih baik jika bisa dua bahasa ini selain kemampuan bahasa Inggris.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Berbagi Cerita Kuliah di Singapura Bersama Gerry

Singapura adalah salah satu negara tetangga yang paling dekat dengan Indonesia. Meskipun negaranya sangat kecil, namun kemajuannya tidak perlu diragukan lagi. Misi mereka untuk menjadi penghubung antara Asia dengan Australia patut diacungi jempol. Untuk mendukung misi ini, salah satu fondasi yang perlu diperkuat adalah bidang pendidikan. Gerry menjadi salah satu warga Indonesia yang beruntung karena mengenyam pendidikan di Singapura.


Latar belakang ke Singapura

Nama lengkapnya Gerry Anggacipta, akrab disapa Gerry. Gerry kuliah di jurusan Computer Science, Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Tahun 2014 ini adalah tahun keempatnya kuliah di luar negeri. Ia kuliah dengan program beasiswa dari salah satu perusahaan di Singapura dengan kontrak kerja selama enam tahun setelah lulus. Kontrak kerja di Singapura biasanya tergantung masing-masing program beasiswanya. Ada program kontrak kerja tiga tahun, enam tahun dan lain sebagainya.

Beasiswa ini bisa diperoleh bagi mahasiswa S1 yang mempunyai nilai bagus dan mendapatkan tawaran interview untuk melanjutkan pendidikan S2. Biaya yang ditanggung mencakup uang saku $6000 selama kuliah di Singapura, biaya sewa asrama sekitar $200, serta tiket pulang-pergi Singapura-Indonesia ketika pertama kali datang dan saat kelulusan.


Keadaan secara umum

Gerry saat ini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Singapura. Saat ini ada sekitar 12000 pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di sana. Perbedaan pendidikan di Singapura adalah kompetisinya yang sangat ketat. Untuk mendapatkan nilai tinggi saat kuliah sangat berat karena setiap nilai mahasiswa dikomparasikan satu sama lain.

Infrastruktur Singapura mempunyai fasilitas belajar yang sangat memadai. Biaya hidup di Singapura tergantung gaya hidup dan tempat belanja masing-masing orang. Biaya sekali makan di kota bisa mencapai $5, namun di lingkungan kampus bisa lebih murah dan sangat terjangkau. Biaya tempat tinggal apabila tidak ditanggung beasiswa akan sangat mahal. Biaya transportasi seperti taksi juga mahal, jadi sebaiknya memilih menggunakan transportasi bus karena tarifnya cukup murah dan fasilitasnya bagus.

Menurut Gerry, Singapura adalah salah satu negara dengan pendidikan terbaik. Di negara ini mahasiswa asing bisa banyak belajar di bidang infrasruktur dan ekonomi yang maju pesat. Singapura juga merupakan negara multikultural, jadi ada banyak orang India, Malaysia, hingga Eropa yang dapat ditemui sehingga memberikan pengalaman budaya yang sangat menarik.


Tips kuliah di Singapura

- Saat kuliah di Singapura, mahasiswa asing harus menyesuaikan ilmunya dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah Singapura. Jadi sejak SMA, calon mahasiswa harus belajar A level. Nilai TOEFL opsional, namun sebaiknya ketrampilan matematika harus ditingkatkan. Nilai Ujian Nasional SMA juga sangat diperhitungkan dalam ujian masuk, jadi usahakan harus bagus agar pendaftaran dapat diterima.

- Apabila ingin mendapatkan beasiswa di Singapura, mahasiswa asing harus mempunyai target matang dan dipersiapkan jauh-jauh hari karena ada kontrak kerja yang harus ditanggung setelah mendapatkan beasiswa.

- Sebaiknya memiliki persiapan finansial karena berbagai biaya hidup di Singapura tergolong lebih mahal daripada di Indonesia. Cari subsidi dan bantuan seperti dari bank, perusahaan dan lembaga-lembaga lain-lain.

Itulah tadi cerita dari Gerry yang sudah kuliah di sana. Banyak kelebihan dari Singapura disbanding negara lain untuk menjadi tujuan kuliah. Suasana ekonomi dan politik yang cukup stabil, letaknya yang dekat dengan Indonesia, dan masih bisa ditemui makanan halal adalah beberapa factor yang membuat mahasiswa lebih memilih negara itu daripada negara lain. Satu lagi, jangan lupa mengunjungi patung Merlion ketika berkunjung ke sana.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Ke Rusia? Simak Dulu Cerita Nyoman!

Rusia adalah negara yang terbentuk setelah runtuhnya Uni Soviet. Banyak yang mengecap negara ini sebagai negara komunis, atheis, berpenduduk dingin, dan sebagainya. Namun apakah benar demikian? Tentunya tidak separah itu. Yuk kita simak penuturan Nyoman yang disajikan kru berkuliah.com buat kamu yang ingin ke Rusia.


Mengapa Rusia?

Nyoman kuliah di salah satu universitas di Moskow, jurusan Hubungan Internasional untuk meraih gelar S2. Ia tinggal di Rusia sejak tahun 2012 di asrama khusus yang disediakan oleh pihak kampusnya. Di masing-masing asrama, tinggal berbagai mahasiswa dari negara-negara lain khususnya dari negara dunia ke-3 seperti Vietnam, Malaysia dan lain-lain. Ia kuliah di Rusia dengan beasiswa dari Kementrian Pendidikan Rusia.

Beasiswa tersebut menanggung biaya kuliah, sedangkan biaya tempat tinggal dibayar sendiri dengan bantuan subsidi dari pemerintah. Mahasiswa yang sedang kuliah di Rusia tidak boleh bekerja meskipun secara legal. Namun apabila ada pekerjaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), mahasiswa Indonesia bisa mendapatkan gaji dari proyek-proyek di sana.

Nyoman menempuh pendidikan S1 di Universitas Jayabaya, Jakarta dengan program studi Hubungan Internasional. Ia memutuskan untuk memilih Rusia sebagai negara tujuan studi S2 karena sejak dulu sudah tertarik untuk mempelajari bahasa Rusia, sehingga ingin menerapkan pengetahuannya di negara aslinya. Ia bisa mengetahui informasi tawaran beasiswa saat mengikuti kursus di pusat kebudayaan Rusia selama 1,5 tahun.


Kehidupan di Rusia

Menurut Nyoman, orang Rusia awalnya terkesan dingin. Namun apabila sudah kenal lebih dekat, mereka akan benar-benar baik hati dan peduli pada orang lain. Toleransi beragama di Rusia cenderung netral karena kebanyakan penduduknya atheis dan tidak mau mencampuri urusan agama orang lain.

Di Moskow banyak mahasiswa asing yang sering berjalan-jalan di salah satu tempat pariwisata paling terkenal yaitu Red Square. Di sana ada Museum Sejarah Uni Soviet, Katedral Santo Basil yang dibangun pada abad XIV, dan berbagai bangunan tua zaman Tsar yang sangat bagus. Turis yang datang dari bandara ke pusat kota bisa dikenai biaya hingga Rp600.000 apabila salah memilih berkendara dengan taksi-taksi gelap yang gemar menaikkan tarif. Oleh karena itu, sebaiknya memilih untuk naik kereta ekspres jika bepergian dari bandara ke pusat kota karena hanya membutuhkan tarif sekitar Rp90.000.

Cuaca di Rusia cukup ekstrem, musim dingin dapat mencapai minus 40 deajat Celcius di luar Moskow. Pada umumnya, orang-orang Rusia lebih teratur daripada orang-orang Indonesia. Walaupun Moskow pernah dicap sebagai kota terjorok di Eropa, secara keseluruhan masih lebih teratur daripada kota-kota di Indonesia.


Tips kuliah di Rusia

- Karena beasiswa pendidikan di Rusia tidak penuh, keuangan harus benar-benar disiapkan karena Moskow adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia.

- Sebelum berangkat kuliah ke Rusia, sebaiknya calon mahasiswa banyak mencari sponsor seperti beasiswa dari Kementrian Pendidikan atau dari lembaga-lembaga lain.

- Rusia tidak seperti negara-negara Eropa Barat pada umumnya. Jadi jangan terlalu berharap untuk mendapatkan tempat kuliah yang mewah seperti di Prancis atau Jerman, karena setiap negara di Eropa mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Catatan Kuliah Mahasiswa Prancis

Ari kuliah di Nantes University di bagian barat Prancis, mengambil program S2 Teknik Sipil. Ia kuliah pada tahun 2011-213 dengan beasiswa dari DIKTI. Beasiswa yang ia dapatkan mencakup uang saku dan biaya tempat tinggal. Menurutnya, pendidikan di Prancis hampir sama dengan di Indonesia, namun bahasannya lebih luas dan global. Kuliah ilmu teknik sipil di Prancis lebih banyak membahas tentang pembangunan di iklim dingin, sedangkan di Indonesia lebih ke iklim tropik.


Terdapat istilah dan cara berbeda dalam perkuliahan, namun apabila diikuti dengan baik tidak akan susah. Yang paling menonjol adalah perbedaan dalam berbahasa. Untuk kuliah di Prancis, ada mahasiswa yang butuh persiapan kursus bahasa Prancis selama 3-8 bulan dan ada yang tidak. Di Prancis terdapat tes bahasa seperti TOEFL bernama DELF. Gelar S2 biasanya membutuhkan serifikat tes DELF B1, sedangkan gelar S1 membutuhkan DELF A2. Saat kuliah di Prancis, Ari tidak mempunyai sertifikat DELF dari kursus bahasa Prancis, sehingga ia cukup kesusahan mengikuti kuliah. Jadi sebaiknya disarankan untuk belajar bahasa Prancis dahulu sebelum mulai kuliah di sana.

Ari bisa mendapat beasiswa untuk berkuliah di Prancis karena saat kuliah S1 di Unissula, ia menjadi asisten dosen dan dianjurkan dosennya untuk melanjutkan kuliah S2 di sana. Setelah membuat dan mengirimkan CV serta abstrak, ia diterima menjadi mahasiswa di Nantes University.

Tantangan kuliah di Prancis adalah adanya sistem limit nilai yang cukup berat. Limit nilai tersebut adalah 10 per 20, jadi banyak mahasiswa yang harus mengulang kuliahnya hingga lulus dari limit yang sudah ditentukan. Menurut Ari, alumini dan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Prancis mempunyai persahabatan erat dan saling membantu. Ada orang-orang Indonesia yang saat menjalani kuliah di Prancis tidak bisa berbahasa Inggris karena lebih tertarik untuk mempelajari bahasa Prancis. Di Prancis juga terdapat Perhimpunan Pelajar Indonesia yang didominasi mahasiswa S2. Di sana kamu dapat bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa sebangsa dari Indonesia.


Orang Prancis itu…

Menurut Ari, karakter orang Prancis berbeda-beda, tergantung daerah tempat tinggalnya. Di daerah selatan Prancis karakter penduduknya lebih terbuka karena banyak imigran. Di daerah tengah Prancis cukup terbuka, sedangkan di pusat-pusat kota seperti Paris penduduknya sangat terbuka. Orang-orang di daerah barat Prancis cenderung lebih sombong dan rasis, bahkan rasa bangga mereka terhadap rasisme sangat tinggi. Namun dengan perkembangan teknologi, masyarakat Prancis kini lebih terbuka dan mau membantu orang asing.

Di beberapa kesempatan saat mengerjakan tugas-tugas kuliah, mahasiswa Prancis dapat terlihat sekali karakter rasisnya. Mahasiswa Asia cenderung bekerja sama dengan mahasiswa asing seperti Maroko. Meskipun orang Prancis gemar menyingkirkan orang-orang asing saat berkerja kelompok, mereka tetap mau membantu seperti meminjamkan laptop untuk presentasi dan lain sebagainya.

Masyarakat di daerah barat Prancis tempat Ari kuliah cenderung tertutup karena daerahnya dibatasi oleh Samudera Atlantik dan terletak di pojok barat Eropa sehingga tidak berbatasan dengan negara-negara lain. Berbeda dengan masyarakat di daerah timur, selatan, dan utara Prancis yang daerahnya berbatasan dengan negara-negara lain sehingga masyarakatnya lebih terbuka. Sebelum kuliah di Prancis, kamu disarankan untuk mencari tahu dulu tentang daerah tempat tinggal karena dapat menentukan keberhasilan kuliah.


Biaya hidup

Biaya hidup di daerah barat Prancis sekitar 400-600 EURO, sehingga beasiswa Dikti sangat cukup untuk biaya makan, telepon, dan tempat tinggal. Namun apabila tinggal di Paris, biaya hidup dengan jumlah tersebut termasuk kurang karena biaya tinggal di sana rata-rata 300-500 EURO. Biaya hidup Ari saat di daerah barat Prancis hanya 150 Euro, namun ia mendapat bantuan dari pemerintah Prancis sehingga ia hanya membayar 90 EURO.

Di Eropa dimana-mana terdapat diskon untuk mahasiswa seperti di restoran, fasilitas transportasi, dan lain-lain sehingga para mahasiswa dapat menghemat uang saku. Makanan di Prancis sangat beragam dan untuk mencari makanan halal cukup mudah. Apabila ingin makanan Asia, banyak restoran Cina yang bertebaran di Prancis. Namun orang-orang Muslim harus berhati-hari memilih makanan Cina karena beberapa diantaranya mengandung daging babi.


Tips dari Ari untuk kuliah di Prancis

- Sebaiknya sudah mempunyai kemampuan bahasa Prancis sebelum kuliah dan harus mendapatkan serifikat.

 - Perbanyak jaringan, agar menemukan banyak cara untuk ke Prancis dan ketika kuliah di sana akan ada banyak orang yang bisa membantu.

- Jangan pernah putus asa apabila gagal. Persiapan kuliah ke luar negeri tidak hanya 1-2 tahun, jadi harus berusaha dan punya keinginan kuat.

Kesan Ari selama di Prancis adalah adanya tuntutan lebih yang harus dikerjakan daripada saat di Indonesia. Tantangannya selama di Prancis adalah perbedaan iklim, budaya, dan etos kerja. Orang-orang Prancis juga sangat menghargai waktu bekerja dan waktu istirahat, jadi jangan ganggu profesormu ketika ia sedang libur mengajar.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Sekilas Tentang Korea Selatan

Siapa yang tidak kenal Korea Selatan? Drama Korea sudah sejak lama masuk ke Indonesia. Ceritanya yang menggugah, aktor dan artisnya yang menawan, dan teknologi yang canggih merupakan gambaran umum di setiap film nya. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa banyak orang Indonesia ingin berkunjung ke sana. Salah satu yang kini sudah tinggal di Korea adalah Dian.


Dian Novikrisna atau yang akrab dipanggil Dian, kuliah di Seoul National University, Graduate School of International Studies dengan program studi International Cooperation. Ia tinggal di Korea Selatan sejak bulan September 2013. Beasiswa yang ia dapatkan selama kuliah mencakup biaya kuliah dan biaya hidup. Menurut Dian, kehidupan di Korea Selatan terasa lebih nyaman daripada di Indonesia. Orang-orang di sana sangat baik hati dan senang menolong.

Berbagai fasilitas di Korea Selatan juga jauh lebih baik kualitasnya. Mahasiswa asing yang tidak bisa berbahasa Korea akan banyak menemui kesulitan untuk komunikasi sehari-hari karena karakter huruf Hangeul berbeda dengan alfabet pada umumnya. Jadi sangat dianjurkan untuk mempelajari bahasa Korea sebelum mulai kuliah di sana.

Dian tinggal di sebuah flat di daerah sekitar kampus dengan fasilitas yang lengkap di dalam kamar. Biaya hidup di Korea Selatan tergantung gaya hidup masing-masing orang. Beasiswa yang didapatkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga berbagai barang di Korea Selatan pada umumnya cukup terjangkau, namun apabila dihitung dengan kurs Rupiah memang lebih mahal.


Sekilas tentang Korea Selatan

Sebelumnya Dian kuliah S1 di Universitas Indonesia, Depok. Ia memilih Korea Selatan sebagai tujuan belajar S2 karena sudah tertarik dengan negara ini sejak belajar di jurusan Hubungan Internasional semasa S1. Di Korea Selatan jumlah mahasiswa S1 dari Indonesia masih terbatas, sedangkan mahasiswa S2 dan S3 ada cukup banyak di berbagai kota. Di jurusannya ada 3-4 orang mahasiswa yang menjadi anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia dan di seluruh kampus ada 20-25 orang. Mahasiswa asing juga bisa menjalani kuliah sambil bekerja part-time atau mengikuti program magang asalkan bisa mengaturnya dengan jadwal kuliah yang cukup padat.

Toleransi beragama di Korea Selatan hingga saat ini sudah cukup bagus. Ada beberapa kampus yang menyediakan failitas ibadah bagi umat Muslim seperti mushola. Untuk salat Jumat atau salat tarawih, ada banyak fasilitas tempat ibadah di berbagai kota seperti sebuah masjid yang cukup besar di daerah Itaewon. Jadi sebisa mungkin mahasiswa asing harus dapat menemukan tempat nyaman untuk beribadah.

Makanan halal di Korea Selatan bisa didapatkan dengan membeli makanan berbahan sayuran. Pada umumnya di restoran-restoran lokal jarang ada masakan yang menggunakan daging halal. Pengalaman culture shock yang dihadapi Dian saat kuliah di Korea Selatan adalah menghadapi supir bus yang lebih ugal-ugalan daripada supir KOPAJA, selain itu ia belum terbiasa dengan orang-orang lokal yang suka membuang ludah di sembarang tempat.


Beberapa tips kuliah di Korea Selatan dari Dian

-  Persiapkan kemampuan berbahasa Inggris sesuai persyaratan program kuliah.

- Beberapa beasiswa tidak mementingkan kemampuan berbahasa Korea bagi mahasiswa asing. Namun
sebaiknya mempelajari bahasa Korea sebelum berangkat kuliah agar lebih memudahkan komunikasi sehari-hari.

- Persiapkan mental untuk jauh dari keluarga dan kebiasaan-kebiasaan Indonesia yang sudah nyaman dijalani selama ini.

- Baca persyaratan dan ketentuan dokumen dengan teliti untuk tiap program studi karena prosedur administrasi harus lengkap benar-benar lengkap saat diteliti pihak universitas.

Apa yang disampaikan di atas semoga bisa memotivasi sobat berkuliah.com. tentunya masih banyak hal yang belum diceritakan. Banyak budaya-budaya lain yang masih bisa digali di Korea. Perhatikan pula tips yang diberikan, penguasaan terhadap bahasa Korea merupakan sesuatu yang mutlak harus dilakukan. Sampai jumpa di cerita yang berbeda.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Mau ke Kanada? Simak Ini Dulu Yuk..

Kanada merupakan salah satu negara maju yang bertetangga dengan Amerika Serikat. Di negara ini banyak
tumbuh pohon maple. Itulah mengapa daun maple menjadi lambang bendera negara. Uniknya, Negara ini memiliki dua bahasa resmi yakni bahasa Inggris dan Prancis. Buat kamu yang ingin ke Kanada sebaiknya kuasai kemampuan kedua bahasa tersebut dengan baik. Salah satu orang yang tertarik berkunjung ke Kanada adalah Kevin. Yuk simak selengkapnya cerita Kevin.


Nama lengkapnya Kevin Sadhira Prambada. Kevin mulai kuliah di Kanada sejak tahun 2010. Pada awalnya ia meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya terlebih dahulu dengan belajar di ESL selama satu tahun tahun. Setelah itu ia pindah dari Ontario ke Toronto. Di Toronto ia kuliah di jurusan International Business Administration dan kemudian pindah ke Vancouver dan mengambil jurusan International Relations.

Di Kanada ada program kuliah dua tahun di college dan dua tahun di universitas. Ada juga program yang langsung empat tahun kuliah di universitas. Keuntungan kuliah di college terlebih dahulu adalah biayanya menjadi lebih murah. Biaya kuliah di universitas mencapai $ 700 sedangkan di college hanya $ 400. Di Kanada ia tinggal bersama kakaknya di apartemen dan kuliah dengan biaya sendiri.

Menurut Kevin, negara ini sangat multikultural. Di kota tempat tinggalnya jumlah turis dan imigran lebih dominan daripada penduduk asli Kanada sendiri. Diskriminasi terhadap perbedaan warna kulit tidak terlalu keras jika dibandingkan dengan rasisme di Amerika. Kanada juga lebih cocok sebagai tempat belajar yang serius daripada Amerika.

Karena kurang populasi penduduk dan merupakan negara terbesar ke-2 di dunia, pemerintah Kanada membuat program yang memudahkan orang asing untuk mendapat green card. Dengan program ini jumlah tenaga kerja di Kanada akan semakin meningkat tanpa perlu proses memperbarui visa. Jadi pemerintah setempat sangat mendukung berbagai kebutuhan mahasiswa asing.


Cuaca dan kerja paruh waktu

Cuaca di Kanada berbeda-beda, tergantung letak daerahnya. Di Toronto cuaca dingin cenderung ekstrim hingga minus 40 derajat Celcius. Di Vancouver curah hujan tingi namun suhu udara hangat. Beralih ke biaya hidup, biaya hidup di Kanada tergantung dengan kota tempat tinggal dan gaya hidup masing-masing orang. Biaya hidup minimum untuk membayar sewa dan makan sekitar $750. Untuk kebutuhan transportasi sudah difasilitasi oleh universitas.

Di Kanada, mahasiswa asing juga bisa kuliah sambil bekerja, asal bisa membagi dan mengatur waktu. Gaji kerja part-time di Kanada pada umumnya cukup besar. Batasan jam kerja tergantung ketentuan masing-masing tempat kerja. Apabila ingin bekerja secara legal, orang asing harus mempunyai izin kerja. Mahasiswa asing bisa mendapatkan izin kerja dari kampusnya dengan persyaratan IPK harus di atas 2.

Di setiap kampus Kanada, ada komunitas-komunitas pelajar Indonesia. Di kampus Kevin selalu ada ‘welcoming party’, semacam perayaan untuk menyambut anak baru, setahun sekali untuk berkenalan dengan mahasiswa baru. Populasi orang Indonesia di kampusnya ada sekitar 53 orang, jadi ia tidak pernah kesulitan mencari sesama orang Indonesia di Kanada.

Bidang pendidikan yang paling unggul di negara ini adalah teknik karena Kanada adalah salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Bidang hubungan internasional dan bisnis juga bagus karena letaknya berdekatan dengan Amerika. Banyak pejabat dan politisi penting Indonesia yang merupakan lulusan Kanada seperti Dino Patti Djalal (Duta Besar Indonesia untuk Amerika) dan Hary Tanoesoedibjo (pengusaha dan politikus). Secara umum perbedaan kualitas untuk setiap universitas di Kanada tidak jauh berbeda.


Tips kuliah di Kanada dari Kevin

- Persiapkan kemampuan berbahasa Inggris agar tidak bingung saat mengikuti perkuliahan. Nilai IELTS harus sesuai standar.

- Harus mampu beradaptasi dengan cuaca dan iklim dingin.

- Harus mampu beradaptasi saat menghadapi culture shock dan tidak boleh merasa superior. Hindari hal-hal yang menyebabkan kesalahpahaman dengan mencoba mengerti berbagai perbedaan budaya internasional.

- Belajarlah untuk lebih mandiri pengalaman dan lebih cermat mengatur keuangan.

- Apabila ada kesempatan, jangan ragu untuk kuliah di luar negri karena dapat menjadi investasi yang baik di masa depan untuk memajukan Indonesia dengan pengetahuan baru.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Kuliah di Jepang? Yuk Simak Cerita Rodiyan

Kuliah di Jepang itu gimana sih? Enak nggak sih? Susah nggak sih? Pasti pertanyaan itu yang akan muncul ketika mendengar nama negara ini disebutkan. Perbedayaan bahasa menjadi kendala tersendiri bagi negara-negara non Asia Timur. Tidak semua orang mengatakan bahwa kuliah di Jepang itu enak. Tidak semua orang mengatakn kuliah di Jepang itu susah. Lalu seperti apa faktanya? Inilah beberapa hal yang diungkapkan oleh Rodiyan.


Biaya hidup yang tinggi

Menurut Rodiyan, kuliah di Jepang mempunyai banyak sisi yang tidak menyenangkan untuk dijalani. Butuh biaya banyak untuk hidup di sana karena kegiatan yang gratis hanya bernafas, begitu candanya. Biaya kuliah untuk gelar S1, S2 dan S3 di universitas negeri rata-rata mencapai Rp 5 juta sebulan, jika kuliah ditempuh selama setahun maka membutuhkan Rp 60 juta. Biaya hidup normal rata-rata sebulan mencapai Rp 10 juta di seluruh Jepang. Uang dan kemampuan finasial sangat berpengaruh untuk dapat bertahan hidup di Jepang.
Mencari uang tambahan bisa dilakukan melalui pinjaman, meminta orang tua atau mencari beasiswa. Banyak beasiswa bisa didapatkan dengan mencari informasi di internet.

Kuliah di Jepang juga sangat berat karena hampir semua standar kelulusan tergantung dengan kemampuan berbahasa Jepang. Tingkat pendidikan S2 dan S3 saat ini sudah mulai merambah tingkat internasional. Salah satu tandanya adalah dengan adanya diskusi bahasa Inggris dalam perkuliahan. Meskipun demikian, bahasa Jepang sangat mutlak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Bahasa Jepang bisa dipelajari setelah tiba di sana namun sebaiknya melakukan persiapan kursus dulu selagi di Indonesia masih sempat.

Secara umum, ujian masuk universitas menggunakan bahasa Jepang. Namun apabila  mendapatkan beasiswa internasional, persiapan bahasa Jepang tidak terlalu dipentingkan. Hampir seluruh tulisan di Jepang menggunakan huruf Kanji, jadi kemampuan membaca dan menulis huruf Kanji dapat sangat membantu di kehidupan sehari-hari.


Harus ikut kata dosen

Rodiyan menekankan bahwa persiapan mental yang tinggi sangat dibutuhkan untuk dapat hidup di Jepang karena negara ini terkenal memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Dosen pembimbing kuliah di Jepang mempunyai kewenangan mutlak, jadi jangan sampai berseberangan dengan mereka karena mahasiswa tidak bisa lulus tanpa persetujuan dosen. Riset yang bagus juga dipentingkan untuk lulus, tapi mahasiswa tetap harus mengikuti kata-kata dosen.


Banyaknya beasiswa

Meskipun ada banyak hal yang berat selama kuliah di Jepang, hal-hal positif yang bisa didapatkan jauh lebih banyak. Beasiswa Jepang tergolong lebih bagus jika dibandingkan dengan negara lain, terutama bagi mahasiswa S1 yang belum menikah. Bantuan biaya dari beasiswa Monbukagakusho tiap bulan sekitar Rp 11-12 juta per bulan dan biaya kuliah gratis. Masih ada kelebihan Rp 2 juta untuk biaya hidup per bulan. Jika menerapkan gaya hidup hemat dan kerja part-time, akan ada uang tambahan yang dapat membiayai keluarga di Indonesia.

Apabila mau belajar sungguh-sungguh, kuliah di Jepang juga dapat membantu memperlancar bahasa Jepang dan Inggris. Dengan kemampuan berbagai bahasa, mahasiswa asing dapat memilih bekerja part-time di bidang yang menguntungkan seperti menjadi penerjemah bagi para pebisnis, orang-orang pemerintahan atau pedagang. Dengan bekerja sebagai penerjemah, ada banyak ilmu dan wawasan baru yang bisa didapat secara cuma-cuma. Dari segi pendapatan, pekerjaan part-time penerjemah juga jauh lebih menguntungkan daripada kerja part-time lain yang hanya mengandalkan tenaga fisik seperti menjadi jadi tukang sapu, buruh bangunan dan lain-lain.

Upah Minimum Regional (UMR) untuk kerja part-time di Jepang adalah Rp 90 ribu per jam. Jika bekerja seharian maka upahnya bisa mencapai Rp 700 ribu per hari. Sedangkan jika bekerja menjadi penerjemah, upah yang didapatkan bisa mencapai Rp 2 juta per hari dengan kerja yang tidak terlalu melelahkan dan bisa mendapat berbagai tambahan ilmu baru.

Walaupun kuliah di Jepang termasuk sulit karena banyak kendala bahasa dan ketentuan dosen, ada banyak kelebihan yang bisa diperoleh jika bekerja di sana. Kelebihan tersebut antara lain adalah kemampuan finansial untuk membiayai keluarga di Indonesia dan kemampuan naik haji hanya dalam kurun waktu kerja 1 tahun tanpa harus antri 10-20 tahun seperti di Indonesia.

Bagaimana? Tentu semakin tertarik bukan untuk kuliah di Jepang? Tidak usah khawatir mengenai perbedaan budaya dan bahasa. Pastinya akan banyak teman dan keluarga baru yang bersedia membantu.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Lebih Dekat Ke Negeri Sakura Bersama Niwa

Jepang adalah salah satu negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Indonesia dan Jepang sempat memiliki hubungan khusus. Yak benar sekali, hubungan imperialisme-kolonialisme. Kini kedua Negara sedang memperbaiki hubungan bilateralnya. Kali ini kru berkuliah.com mempunyai kesempatan mendengarkan cerita dari Niwa. Berikut selengkapnya.

Niwa Rahmad Dwitama lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada bulan Agustus 2013. Pada tahun 2012-2013, selama satu tahun ia berkesempatan melanjutkan studi di Tokyo University of Foreign Studies. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di bidang Research and Business Development di salah satu NGO Jakarta. Ia adalah pendiri NGO Young Leaders bernama IFL atau Indonesian Future Leaders.


Pengalamannya yang paling berkesan saat studi di Jepang adalah ketika ia belajar menempatkan diri untuk hidup dengan kultur dan perspektif berbeda. Saat berada di luar negeri, ia menyarankan untuk mengatur ekspektasi dan toleransi karena di dunia global kemampuan interkultural dan komunikasi sangat penting. Temukan cara agar bisa menempatkan diri di perspektif orang lain supaya dapat memahami mereka.


Budaya orang Jepang

Menurut Niwa, karakter orang Jepang cenderung tidak terlalu terbuka dan introvert. Mereka sedapat mungkin tidak akan berkata jujur untuk segala sesuatu yang dapat merusak hubungan sosial dengan orang lain. Kultur masyarakat Jepang yang menarik adalah persaingan di sana bukanlah sesuatu yang diukur dengan menang atau mengalahkan orang lain. Namun persaingan muncul di dalam diri sendiri dan tergantung target masing-masing orang. Mereka mampu bekerja sangat keras karena motivasi datang dari dalam diri mereka sendiri.

Menurut Niwa, lingkungan pendidikan di Indonesia tidak kalah dengan Jepang. Mahasiswa Indonesia sama kritis dan aktifnya dengan mahasiswa Jepang saat harus mengutarakan pendapat. Yang membuat Jepang jadi negara maju adalah karena mereka sangat menghargai usaha dan kerja keras. Dosen-dosen Jepang lebih mementingkan nilai progresif yang terus meningkat dari waktu ke waktu daripada nilai yang selalu stabil berada di posisi atas.

Progres atau kemajuan sangat dihargai selama proses studi. Bahasa Inggris banyak dimengerti orang Jepang karena sistem pendidikan yang bagus. Namun biasanya orang Jepang tidak mudah mengutarakan kata-kata berbahasa Inggris karena tata bahasa Jepang sangat berbeda. Ada tingkatan sopan santun yang harus diterapkan dalam tata bahasa. Pada umumnya, pengumuman-pengumuman di jalan akan sulit dipahami orang asing karena tata bahasanya berbeda. Di perkuliahan reguler tidak terlalu banyak program studi berbahasa Inggris karena mayoritas mahasiswanya berbahasa Jepang, jadi biasanya mahasiswa asing harus mengikuti kelas bahasa Jepang dulu selama setahun.


Tips kuliah di Jepang dari Niwa


- Berusahalah sebisa mungkin menjalin relasi sebelum berangkat ke Jepang agar mudah mendapatkan akomodasi.

- Berkenalanlah dengan alumni dan anggota dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Jepang.

- Jadilah orang yang terbuka dan mau bertoleransi. Jangan terlalu banyak berkumpul dengan orang-orang
Indonesia agar bisa mendapatkan wawasan baru.

- Arubaito atau kerja part-time harus dimanfaatkan selama berada di Jepang agar bisa mendapakan uang saku tambahan, pengalaman bekerja dan ilmu baru. Hidup di Jepang tanpa beasiswa sama sekali akan sangat sulit, sehingga kerja part-time pasti bisa membantu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bekerja volunteer atau sukarela juga kadang-kadang bisa menambah pendapatan. Untuk bisnis usaha kalau skala besar di Jepang harus ada legalitasnya.

- Yakinkanlah tujuan studi ke Jepang dengan jelas kepada diri sendiri agar bisa menjalani prosesnya secara fokus.

- Berusahalah melakukan riset untuk berbagi informasi beasiswa dan lakukan persiapan jauh-jauh hari.

- Carilah profesor yang tepat untuk membantu tesis atau skripsi sehingga dapat membantu mahasiswa lulus dengan lebih cepat.

- Jangan terlalu banyak berpikir, siapkan niat untuk bekerja keras dan yakinlah diri sendiri bahwa di Jepang akan mendapatkan pendidikan dan pengalaman yang lebih baik.

Cukup detail bukan tips yang diberikan? Meskipun memiliki perbedaan budaya dan bahasa, tentunya tidak menjadi masalah yang besar. Tergantung bagaimana memposisikannya. Akan menjadi masalah jika tidak mau mencoba dan berusaha. Akan menjadi tantangan yang mengasyikkan jika mau berusaha. Yuk tengok indahnya bunga sakura ketika bermekaran.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Perjalanan Menimba Ilmu Ke Inggris Bersama Jaesa Rahmannialdy

Inggris adalah salah satu Negara paling popular di dunia. Bahasanya digunakan oleh jutaan orang di dunia untuk berkomunikasi. Salah satu kotanya yang sangat terkenal adalah London. Konon, London merupakan kota dengan penduduk imigran terbanyak di Eropa. Salah satu situs sejarahnya yang terkenal yaitu Stonehenge. Tertarik ke Inggris? Eits, tunggu dulu. Perjalanan terasa belum lengkap jika belum menyimak cerita Jaesa.


Mengapa Inggris?

Jaesa Rahmannialdy saat ini kuliah S2 di bidang Finance and Marketing di Universitas Salford, Inggris. Ia sudah tinggal negara tersebut sejak tahun 2012 karena sebelum mulai kuliah harus mengikuti kursus bahasa Inggris untuk mendapatkan sertifikat IELTS. Perkuliahan mulai ia ikuti sejak bulan Maret 2013. Dulu ia menempuh pendidikan S1 tahun 2007 di jurusan Akutansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan lulus pada tahun 2011.

Sambil mempersiapkan S2, ia mengikuti Pemilihan Abang-None Jakarta dan beraktivitas dengan orang-orang di Dinas Pariwisata. Ia kuliah di Inggris dengan biaya sendiri. Pada tahun 2008, Jaesa mulai tertarik untuk kuliah di luar negeri saat perusahaan-perusahaan dan bank di Amerika mulai bangkrut dengan adanya sistem bunga yang selama ini diterapkan di sana.

Ia sangat tertarik untuk mempelajari Islamic Finance yang sedang berkembang di Inggris, dan ia tertarik untuk belajar akuntansi Syariah. Sebelum mulai kuliah, ia belajar bahasa Inggris selama tiga bulan dengan tujuan untuk mendapatkan IELTS, mencari akomodasi dan beradaptasi dengan budaya baru.


Biaya di Inggris

Menurut Jaesa, biaya hidup di Inggris berbeda jauh dengan di Indonesia. Harga makanan dan kehalalannya harus diperiksa dengan cermat sebelum membeli. Restoran dengan masakan halal biasanya memiliki tarif mahal dan sulit untuk, ia lebih sering memasak sendiri. Biaya hidup sebulan dapat dihemat hingga 50 Poundsterling dengan memasak makanan sendiri menggunakan bahan yang murah. Biasanya mahasiswa Cina dan Afrika yang kuliah di Inggris sangat jago memasak. Keahlian masak juga bisa menjadi syarat pergaulan dengan cara berbagi resep antar-teman. Apabila ingin berjalan-jalan di Inggris, ada layanan trip dari International Society dengan tarif yang tidak terlalu mahal.

Di berbagai kota di Inggris ada sangat banyak orang Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Kelompok Islam Britania Raya (KIBAR). Ada juga pengajian Manchester bagi orang-orang Indonesia. Pengajian ini rutin mengadakan kegiatan sebulan sekali. Populasi orang Indonesia terbanyak di Inggris tersebar di kota London, Brimingham dan Manchester.

Biaya transportasi di Inggris cukup hemat karena di sana ada budaya untuk berjalan kaki. Ada banyak fasilitas transportasi seperti sepeda, bus dan kereta dengan kualitas yang bagus. Sikap orang Inggris kepada orang asing biasanya terbuka dan respek, karena Inggris adalah negara multi-nasional. Kata-kata “thanks” dan “sorry” sangat membudaya dalam pergaulan sehari-hari sehingga mereka sangat menjaga kesopanan. Jaesa cukup sering menonton Liga Inggris, namun cuma pertandingan Manchester City dan Manchester United saat ada tiket murah. Di Inggris akan sulit untuk menonton pertandingan Big 5, karena tiketnya mahal dan sangat cepat habis.

Kuliah sambil bekerja di Inggris juga memungkinkan karena adanya program part-time bagi mahasiswa asing. Jaesa pernah mengikuti program internship dan kerja part-time di toko dengan bekerja membagi koran ke pelanggan-pelanggannya. Visa pelajar memperbolehkan kerja dalam jangka waktu 20-30 jam per minggu. Ada pendataan absensi bagi mahasiswa agar mereka tidak terlalu banyak bekerja saat kuliah.



Persiapan sebelum berangkat

Setelah berkuliah di Inggris, Jaesa beranggapan bahwa negara Indonesia tidak kalah bagusnya dengan negara-negara asing. Kampus-kampus dan pelajar Indonesia juga sangat kompeten. Jadi jangan merasa rendah diri untuk kuliah di luar negeri karena prosesnya tidak akan terlalu susah asal bisa berkomunikasi dengan baik. Jika ingin berkuliah di Inggris, calon mahasiswa harus menentukan jurusan dan tujuan studi dengan jelas. Nilai IELTS juga harus bagus, 6.5 sudah aman untuk mendaftar kuliah. Sebelum mulai kuliah sebaiknya belajar banyak belajar dari film-film British atau BBC agar dapat memahami perbedaan aksennya.

Persiapkan juga akomodasi juga sejak awal agar tidak terlalu bingung saat tiba di Inggris. Mental harus dipersiapkan untuk keluar dari zona nyaman di Indonesia selama ini. Saat mulai kuliah, sebaiknya jangan hanya bergaul dengan orang-orang Indonesia saja agar bisa mendapatkan pengalaman baru dan mempunyai pergaulan yang lebih luas.

Jaesa Rahmannialdy adalah salah satu mahasiswa yang menjejakkan kaki di tanah London. Ingin lebih seru? Yuk segera agendakan perjalanan ke sana.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Berbagi Cerita Kuliah di Cina Bersama Beny

Cina merupakan salah satu Negara yang terletak di Asia Timur. Seperti umumnya penduduk Asia Timur, mereka memiliki karakter yang kuat, etos kerja tinggi, motivasi dan semangat yang tinggi pula. Namun Cina memiliki perbedaan dengan Negara Asia Timur lainnya. Bahasa, sejarah, dan yang paling mencengangkan dunia adalah pencapainnya dalam hal kemajuan ekonomi. Hampir semua produk di dunia, khususnya di Indonesia kebanjiran produk buatan Cina. Berikut ini sedikit cerita dari Beny, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Cina.


Beny Arief Hidayat saat ini kuliah di salah satu universitas di kota Nanchang, ibu kota provinsi Jiangxi, Cina. Ia kuliah di jurusan Budidaya Perikanan atau yang sering disebut dengan Aquaculture and Fisheries. Semasa tiga tahun di Cina, ia banyak mengikuti kegiatan kuliah yang berhubungan dengan Indonesia. Proses kuliahnya baru dapat diselesaikan dalam jangka waktu empat tahun, dengan tambahan belajar di kelas kursus bahasa Mandarin di Jiangxi Normal University selama satu tahun.

Saat masjid Agung Jawa Tengah mendapat kunjungan dari duta besar Cina, mereka menawarkan beasiswa kuliah di luar negeri kepada para pemuda yang aktif di sana. Beasiswa ia dapatkan melalui jalur masjid tersebut dengan mengikuti program Chinese Government scholarship. Pada tahun 2011, saat ia mendaftar terdapat kuota penerima beasiswa sebanyak tujuh orang. Fasilitas yang ia dapatkan di kampusnya saat ini cukup lengkap.


Budaya dan biaya

Biaya tempat tinggal dan biaya kuliahnya selama di Cina mendapat subsidi dari beasiswa yang diperolehnya. Biaya hidup dapat dipenuhi dengan beasiswa secara berkecukupan layaknya hidup di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, biaya sejumlah 1000 CNY atau sekitar Rp 2 juta dapat mencukupi biaya makan dan transportasi dengan gaya hidup yang sederhana.

Menurut Beny, karakter masyarakat Cina di tempatnya mempunyai persamaan dan perbedaan dengan masyarakat di Indonesia. Jadi proses adaptasi dalam pergaulan tidak terlalu susah untuk dijalani. Kehidupan dalam kampusnya juga menyenangkan dan sering mengadakan berbagai aktivitas. Ia hingga saat ini menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Cina untuk cabang Nanchang.


Tips dan saran

Untuk dapat kuliah di Cina, Beny menyarankan agar calon mahasiswa harus mampu mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet dan berbagai sumber informasi lain. Ada banyak cara dan berbagai tes dasar yang harus diikuti untuk dapat kuliah di Cina. Bahkan ada ribuan mahasiswa asing yang menjadi saingan untuk mendapatkan beasiswa di Cina setiap tahunnya. Setiap universitas menetapkan waktu pendataran yang berbeda-beda setiap tahun. Jadi persiapan harus matang dan dilakukan jauh-jauh hari sebelum mulai mendaftar.

Beny mendapatkan banyak kesan menarik selama kuliah di Cina. Mahasiswa Indonesia biasanya tidak akan mudah merasa kesepian karena ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di kampus bersama teman-temannya dari berbagai negara. Semangat belajar orang Cina sangat tinggi sehingga dapat memotivasi mahasiswa asing untuk berkompetisi dan mencapai prestasi lebih baik.

Cina hingga saat ini masih menjadi Negara yang menarik untuk dikunjungi. Latar belakang sejarah, perbedaan budaya, bahasa, dan perkembangan ekonominya yang pesat menjadi keeksotisan tersendiri bagi pengunjung.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Cuplikan Kisah Kuliah di Belanda

Belanda dan Indonesia tadinya memiliki hubungan yang kurang baik di masa lalu. Hubungan kolonialisme telah menciptakan sejarah tersendiri bagi dua bangsa ini. Masa lalu hanyalah masa lalu. Kisahnya tidak bisa diulang kembali. Hanya pelajaran berharga dan hikmah yang bisa diambil. Kini, pemerintah kedua negara ini berusaha untuk memperbaiki hubungan bilateral. Banyak program-program kerjasama yang ditawarkan. Berikut penuturan salah satu mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda.


Ridho Rahmadi adalah staf pengajar di salah satu universitas Islam di Yogyakarta. Ia kuliah di jenjang S3 jurusan teknik informatika di bawah International Centre for Integrated assessment and Sustainable development (ICIS), Faculty of Science di Radboud University Nijmegen. Di Belanda pada umumnya membutuhkan waktu empat tahun untuk dapat meraih gelar S3.

Menurut Ridho, kehidupan di Belanda terdiri dari dua aspek yaitu aspek sosial dan akademik. Kedua aspek tersebut sangat menyenangkan selama masa kuliahnya karena lingkungan riset sangat terasa di kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Atmosfer pendidikan sangat mudah ditemui dengan banyaknya diskusi keilmuan di berbagai tempat. Bagi mahasiswa S3, riset tidak hanya bagian dari kuliah dan pekerjaan, namun juga dapat menjadi hobi. Di kampus, sikap diskusi selalu positif dan semangat belajar para mahasiswa sangat tinggi.

Ada banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda. Jumlahnya kira-kira mencapai 5000 orang dan mereka tinggal di berbagai wilayah, jadi sangat mudah untuk menemukan teman dari Indonesia. Terdapat berbagai tempat tinggal khusus mahasiswa Indonesia, di sana para mahasiswa dapat mencari informasi dan berdiskusi. Makanan khas Indonesia juga sangat mudah dijumpai di Belanda. Saat Ridho tinggal di negara Ceko dan Austria, ia kesusahan mencari makanan tradisional seperti tempe dan untuk mendapatkannya harus memesan jauh-jauh hari.

Di Belanda sangat mudah untuk mendapatkan tempe, terasi, tahu dan makanan khas Indonesia lainnya. Biaya hidup di Belanda sesuai standar Eropa Barat dan relatif lebih tinggi dari Eropa Timur. Namun apabila beasiswa diatur dan dipergunakan hati-hati, jumlahnya cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk menghemat uang, mahasiswa dapat mencari tempat tinggal yang mempunyai harga sewa murah dan sebaiknya memasak makanan sendiri agar biaya makan tidak terlalu tinggi.

Toleransi beragama di Belanda tergolong sangat baik. Di beberapa kampus disediakan mushola dan banyak mahasiswa yang menjalankan ibadah salat di sana pada waktu subuh dan ashar. Di angkatan Ridho, terdapat 10-15 mahasiswa Indonesia yang mengambil program pascadoktor dan profesor. Di Belanda populasi mahasiswa yang paling banyak adalah mahasiswa S1.

Pada umumnya, jalur pendaftaran kuliah jenjang S1 dan S2 di Belanda sudah jelas dan prosedurnya dapat diikuti dengan mudah. Jalur pendataran S3 berbeda karena harus menghubungi berbagai profesor yang melakukan riset secara personal melalui email. Jadi untuk dapat diterima di universitas, calon mahasiswa S3 harus terus mendekati profesor pilihannya dan mencari kecocokan risetnya. Beberapa hal penting yang dibutuhkan untuk mendaftar kuliah S3 di Belanda adalah komunikasi dengan profesor, letter of acceptance (LOA), sertifikat tes bahasa Inggris, transkrip ijazah dan surat rekomendasi.

Selama kuliah di luar negeri, Ridho tidak pernah merasa bahwa negara-negara asing selalu lebih baik daripada Indonesia. Mindset utamanya adalah perjuangan. Menurut pendapatnya, dengan kuliah di luar negeri berarti seseorang dihadapkan dengan perspektif berbeda sehingga dapat melihat segala sesuatu lebih luas.

Selama masa kuliahnya di Belanda, ada banyak hal yang bisa mengajarkannya untuk menghargai perbedaan. Ada banyak aspek di Indonesia yang harus diperbaiki, seperti rendahnya tingkat pemahaman perbedaan antar-masyarakat dan rendahnya keberanian untuk mengutarakan pendapat. Jadi sebaiknya orang-orang Indonesia harus dapat melihat segala sesuatu dengan perpektif global untuk menjadi warga dunia yang baik.

Itulah tadi cuplikan kisah dari Ridho Rahmadi tentang kuliah di Belanda. Meskipun biaya hidup di Belanda lebih mahal, tidak masalah untuk mencoba negara ini sebagai salah satu tujuan belajar. Banyak beasiswa yang ditawarkan baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Belanda.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Berbagi Cerita di Arab Saudi Dengan Adnan

Adnan kuliah di Arab Saudi sejak awal tahun 2011. Ia belajar di jurusan Program Hukum Syariah Islam untuk meraih gelar S3. Kampusnya adalah King Saud University yang terletak di kota Riyyad, ibu kota Arab Saudi. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Sedangkan gelar S2 ia dapatkan di International Islamic University, Pakistan.


Di Arab Saudi biasanya tidak ada kuliah yang menggunakan biaya sendiri. Semuanya menggunakan beasiswa. Apabila kuliah di Arab Saudi, mahasiswa mendapat imbalan berupa uang saku. Pemerintah setempat memberikan kesempatan belajar untuk mahasiswa asing tanpa persyaratan khusus karena sudah dianggarkan oleh kerajaan. Biaya hidup di Arab Saudi cenderung tinggi. Namun biaya tinggal di asrama, biaya makan dan biaya buku mendapatkan subsidi. Jadi biaya hidup sebagai mahasiswa cukup terjangkau dengan adanya beasiswa dan berbagai fasilitas gratis.


Penduduk Arab Saudi

Karakter orang Arab Saudi sangat berbeda dengan Indonesia. Pada umumnya sifat mereka keras dan bertentangan dengan budaya Indonesia yang halus. Sifat keras tersebut dapat diimbangi tanpa harus melakukan banyak interaksi dan kesabaran sangat dibutuhkan saat menghadapi mereka. Sifat keras dapat muncul karena sifat dan pandangan terbuka.

Orang Arab Saudi biasanya marah secara langsung di depan orang lain, tapi setelah marah tidak akan ada masalah lagi di belakangnya. Karena mayoritas memeluk agama Islam, Hukum Islam di Arab Saudi menggunakan undang-undang berdasarkan al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Hukum ini dijalankan lewat pengadilan dengan proses yang panjang. Tujuan utama hukum di Arab Saudi adalah untuk membawa pengaruh baik bagi seluruh masyarakat. Karena semua warga Arab Saudi adalah umat muslim, jadi hukum dipatuhi secara kompak.

Untuk dapat kuliah di Arab Saudi, test masuk di setiap kota berbeda. Misalnya, di kota Madinah ada persyaratan ujian masuk yang dilaksanakan secara langsung. Di kota-kota lain ada ujian masuk secara online sehingga pendaftaran menjadi lebih mudah. Syarat-syarat pendaftaran kuliah di Arab Saudi bisa dicari di website tiap-tiap kampus. Hampir semua kampus di Arab Saudi menetapkan sistem jatah, jadi hanya dipilih pendaftar dengan nilai terbagus saja di setiap negara. Sebelum mulai mengikuti kuliah, mahasiswa asing harus masuk kelas bahasa Arab selama dua tahun.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Riyyad ada sekitar 60 orang. Di sana ada persatuan pelajar dan perkumpulan mahasiswa King Saud University yang sering mengadakan kegiatan dan diskusi rutin. Makanan di Arab Saudi yang cocok untuk selera orang Indonesia adalah nasi kabsah dengan daging kambing atau yang sering disebut sebagai nasi minyak. Takaran porsi makan di sana sangat besar, jadi lebih hemat untuk makan bersama orang lain.


Kesan dari Arab

Menurut Adnan, tantangan utama selama proses kuliah adalah cuaca yang ekstrim. Cuaca di Arab Saudi cukup keras pada setiap musimnya. Musim panas bisa mencapai 50 derajat celcius, sedangkan musim dingin hingga minus 5 derajat celcius. Namun di sana tersedia berbagai fasilitas AC dan penghangat untuk membantu kenyamanan beraktivitas sehari-hari.

Kuliah di Arab Saudi dapat sangat membantu untuk menggali ilmu-ilmu Islam. Berdasarkan pengalaman Adnan, setiap negara Islam mempunyai kehidupan sosial yang berbeda-beda. Kelebihan kuliah di Mesir adalah tingginya kemajemukan dan kebebasan khazanah berpikir serta biaya hidup lebih murah daripada di Arab Saudi. Di Mesir juga terdapat sangat banyak populasi mahasiswa sehingga ada banyak kegiatan belajar yang bisa diikuti. Kelebihan kuliah di Pakisatan adalah tingkat kenyamanan belajar yang tinggi, adanya kehidupan yang teratur dan para mahasiswa di sana mempunyai kedekatan yang erat. Sementara kelebihan kuliah di Arab Saudi adalah adanya jaminan finansial dan subsidi yang sangat mencukupi. Di sana juga dapat melaksanakan umroh secara bebas dan naik haji tiap tahun. Sedangkan kekurangannya adalah tidak adanya kebebasan khazanah kehidupan seperti di Mesir.

Itulah tadi rangkaian cerita yang sudah disampaikan oleh Adnan. Selama beberapa tahun, dia sudah melanglang buan ke banyak Negara. Kuliah di Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi sudah pernah ia jajaki semua. Bagi kamu yang ingin mencoba untuk kuliah di luar negeri, tidak perlu takut. Sekali kamu mencoba, tentunya nanti ingin menjelajahi ribuan tempat lainnya. Jika tidak pernah mencoba, maka selamanya kamu tidak akan melangkah kemana pun. Simak kisah-kisah menarik lainnya hanya di berkuliah.com.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Melancong Negeri Paman Sam Dengan Steven dan Andre

Andre Poernomo berasal dari Temanggung. Ia mulai kuliah di Amerika sejak tahun 2010 akhir. Pertama ia kuliah di San Diego, kemudian pindah ke Seattle. Saat ini ia kuliah semester ketiga di jurusan arsitek, Arizona State University. Saat ini Andre masih menempuh semester ketiga karena saat kuliah di tahun pertama ia tidak memenuhi batas nilai dan harus mengulang selama satu tahun.


Satu lagi mahasiswa dari Indonesia, namanya Steven Lie. Steven juga kuliah di Amerika sejak tahun 2010. Awalnya ia kuliah di Community College lalu pindah ke Arizona State University. Ia sudah empat tahun tinggal di Amerika dan saat ini sudah memasuki semester kelima jurusan Computer Engineering System (CES). Dulu ia kuliah jurusan bahasa di Community College,  kemudian transfer pendidikan ke Arizona State University. Andre dan Stevan kuliah di Amerika dengan biaya sendiri.


Kuliah di Amerika Serikat

Menurut mereka berdua, perbedaan kuliah di Amerika yang paling terasa adalah kelengkapan fasilitasnya. Koneksi internet di sana sangat cepat, namun tugas-tugas kuliah tidak boleh seenaknya dikerjakan menggunakan sumber-sumber internet karena dapat dianggap melakukan plagiarisme. Tugas-tugas kuliah yang dikerjakan dengan internet harus dilengkapi dengan berbagai riset.

Fasilitas lain adalah adanya perpustakaan yang lengkap dan di kampus tersedia banyak komputer. Di jurusan arsitek terdapat fasilitas canggih seperti laser cutter dan 3D printing. Fasilitas olahraga juga sangat lengkap seperti gym, badminton, voli, basket, futsal, sepak bola dan lain-lain. Berbagai fasilitas olahraga tersebut dapat digunakan secara bongkar pasang sesuai batasan waktu penggunanya.

Persaingan antarmahasiswa sangat ketat di jurusan arsitek Arizona State University. Mahasiswa dengan IPK di posisi 50 teratas baru dapat tersaring untuk melanjutkan perkuliahan selanjutnya. Di jurusan bisnis, untuk meraih gelar BA tidak harus menggunakan tes SAT atau ACT, sementara gelar BS membutuhkan dua tes tersebut atau dengan portfolio. Melalui portfolio, mahasiswa disaring sesuai standar universitas. Jurusan matematika, ilmu alam dan bahasa Inggris juga menggunakan pembatas kelulusan berupa tes SAT atau ACT.


Biaya kuliah

Tips untuk menghemat biaya di Amerika adalah dengan memasak makanan sendiri. Membeli makanan siap saji di luar dapat menghabiskan sekitar $ 7 dan masih ditambah 10% dari harga makanan tersebut untuk biaya tip layanan. Memasak makanan sendiri cuma menghabiskan biaya $ 2 hingga $ 3. Biaya hidup pada tiap kota di Amerika dapat berbeda-beda. Biaya sewa apartemen di kota Phoenix rata-rata $ 700. Sementara di Seattle bisa 50% lebih mahal yaitu sekitar $ 1200. Tren e-commerce di Amerika saat ini adalah situs Amazon yang digunakan untuk jual beli barang di seluruh Amerika dan Craiglist untuk forum pertukaran informasi seperti Kaskus.

Andre bisa kuliah di Amerika karena sebelumnya ia mencari berbagai informasi kuliah di luar negeri lewat agen pendidikan. Agen-agen pendidikan banyak menawarkan layanan gratis dan dapat membantu untuk mempersiapkan berbagai tes dan persyaratan pendaftaran. Beasiswa di Amerika biasanya bisa diajukan saat kuliah apabila IPK di atas 3.5 atau punya prestasi di bidang-bidang tertentu seperti olahraga.

Sebelum kuliah di Amerika, mereka menyarankan agar calon mahasiswa dari Indonesia banyak berlatih bahasa Inggris dengan menonton film dan mendengarkan musik. Kemandirian dan kemampuan beradaptasi juga harus disiapkan karena terdapat berbagai macam culture shock. Sebelum datang ke Amerika sebaiknya mahasiswa baru mencari relasi atau kenalan dulu di sana, sehingga akan ada yang membantu proses awal adaptasi.

Di Amerika ada Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika (PERNIAS) yang mewadahi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di masing-masing daerah. Anggota PERNIAS di daerah Phoenix ada sekitar 20-30 orang dengan jumlah mahasiswa S1 yang lebih banyak daripada S2. Biasanya mereka mengadakan acara spring break atau fundraising.

Dengan kuliah di Amerika, mereka berdua merasa banyak belajar budaya lain sehingga pikiran semakin terbuka. Di sana mereka tidak belajar pelajaran saja, tapi juga belajar bersosialisasi dan cara-cara mengatasi masalah. Orang-orang Amerika punya karakter yang sangat menghargai hak asasi tiap orang, bisa menghargai perbedaan dan berpikiran terbuka. Mereka menganggap bahwa semua orang yang tinggal di sana sama-sama warga negara Amerika.

Apabila ada orang Indonesia berbicara bahasa Inggris dengan pengucapan yang salah, mereka tidak pernah mengejek atau sok menggurui. Mereka memberitahu cara pengucapan yang benar dengan mengulangi lagi pengucapan tersebut sehingga kita bisa belajar berbahasa Inggris sambil tetap merasa dihormati.

Mahasiswa di Amerika hanya boleh bekerja di kampus, sehingga persaingan untuk mendapatkan pekerjaan cukup berat karena harus bersaing dengan puluhan ribu mahasiswa Amerika dan internasional. Biasanya di website kampus sudah dijelaskan persyaratan kerja beserta jumlah gajinya. Mahasiswa tidak diperbolehkan kerja full time, hanya boleh part time dalam batas kerja 29 jam per minggu di dalam lingkungan kampus. Apabila ingin bekerja, mahasiswa harus mengurus Social Security Number yang berisi tracking utang, pajak, dan lain-lain.

Itulah tadi wawancara dengan dua mahasiswa Amerika. Persiapan yang paling utama tentunya persiapan bahasa Inggris. Tidak cukup hanya sebatas TOEFL 550 atau IELTS 6 tapi juga harus memiliki kemampuan lain seperti menulis dan berbicara. Semoga tips di atas cukup bermanfaat. Simak wawancara kru berkuliah.com dengan mahasiswa lainnya.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Mahasiswi UI Ini Berhasil Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Australia...

Australia dikenal dengan negara kanguru, memiliki universitas yang banyak diminati mahasiswa Indonesia. Negeri ini juga tidak jauh dari Indonesia. Apakah kalian salah satu yang berminat kuliah di Australia. Kali ini tim berkuliah.com akan mengajak kamu untuk mengetahui kehidupan Sheila yang kuliah di Australia. Semoga cerita ini bisa menjadi referensi untuk kalian yang ingin belajar di Australia. Simak wawancara kami bersama Sheila Hie.


Sheila adalah mahasiswa dari Unversitas Indonesia yang mengikuti program twining. Program ini menawarkan mahasiswa untuk belajar 2 tahun di Universitas Indonesia dan 2 tahun di Universitas Queensland, Brisbane, Australia. Program ini diadakan dengan perjanjian antara UI dan Universitas Queensland bagi mahasiswa yang mendapat IPK tertinggi. Mereka yang memenuhi syarat berhak mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Qeunland. Biaya beasiswa ini hanya meliputi biaya kuliah saja. Di Indonesia Sheila angkatan 2009 dan lulus dari Australia tahun 2013. Karena pada saat itu Sheila datang ke Australia pada tahun 2011 jadi lulusnya tahun 2013.

Biaya hidup disana sangat tinggi. Ada hal unik di Australia yaitu mall-mall di sana tidak buka hingga malam, hanya buka sampai jam 07.00 malam saja. Saat diwawancarai, Sheila mengatakan ketika pertama kali datang ke Australia pukul 07.00 dan di sana dia kesulitan mencari makan. Jadi bagi kalian yang datang kesana jangan lupa untuk melihat jam ketika akan mencari makan.

Ada perbedaan kelas antara Indonesia dan Australia. Ruang kelas disana lebih besar dan kuota kursi mahasiswa lebih banyak daripada di Indonesia. Dengan ruangan seperti itu, mahasiswa lebih mengandalkan belajar sendiri atau lebih independen. Kalau mahasiswa tidak menguasai mata kuliah dari dasar hal ini bisa membuat ia ketinggalan dan kesulitan karena tidak bisa tanya langsung pada tutor dan dosen bila kesulitan memahami. Berbeda dengan di Indonesia, bila kita ada kesulitan masih bisa tanya dengan dosen dan tutor.

Kelebihan kuliah di Australia adalah setiap per semester mata kuliah lebih sedikit, hanya 4 mata kuliah saja. Berbeda dengan Indonesia, setiap semester bisa mencapai 8 mata kuliah. Meskipun hanya mengambil 4 mata kuliah, ternyata beban yang ditanggung justru lebih berat ketika kuliah di Australia. Sheila pun menjawab bahwa di Australia lebih berat karena kurikulumnya lebih sulit dan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran kuliahnya bukanlah bahasa Indonesia.

Kelebihan lainnya waktu senggang yang dimiliki lebih banyak. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk kuliah sambil bekerja atau part time asalkan tetap memperhatikan waktu. Jam kerja untuk mahasiswa sendiri hanya diperbolehkan kerja selama 20 jam per minggu. Jadi masih memungkinkan untuk belajar sendiri karena belajar sendiri masih bisa dilakukan kapan saja.


Tentang penduduk Australia

Jangan salah menilai dengan orang-orang di sana. Penduduk Autralia adalah orang yang ramah. Bahkan ketika kamu bertemu dengan orang yang tidak dikenal sekalipun, hal yang biasa dilakukan adalah menyapa atau tersenyum. Bahkan bila menggunakan transportasi umum petugas kereta atau bus biasa menyapa  mengucapkan selamat pagi dan tersenyum. Mereka begitu ramah dengan orang asing. Dengan orang yang sama sekali tidak saling mengenal bisa saja bertegur sapa.

Australia memiliki 4 musim namun ketika musim panas suhunya lebih panas daripada di Indonesia. Sheila bercerita bahwa makanan yang dia rasakan tidak enak mungkin karena lidahnya belum terbiasa dengan rasa makanan Australia. Dia mencontohkan, mie instan seperti Indomie yang dijual di Austrlia rasanya tidak enak, berbeda di Indonesia yang rasanya jauh lebih enak. Mungkin karena perusahaan disana juga menyesuaikan dengan selera orang Australia.


Bahasa Inggris dan mandiri

Ada beberapa hal yang perlu disiapkan ketika ingin kuliah di Australia. Belajar mandiri adalah hal yang wajib karena disana kamu akan melakukan semuanya sendiri. Tidak seperti di Indonesia yang masih bisa dibantu orang tua dan saudara. Siapkan bahasa Inggris dengan matang, jika tidak maka kamu bisa kesulitan untuk berkomunikasi maupun menangkap pelajaran yang disampaikan oleh dosen.

Yang paling penting persiapkan mental karena di Australia sendiri kuliahnya lebih berat dan susah. Beda kalau di Indonesia ketika mau ujian belajar ngebut dalam semalam saja sudah bisa dipahami. Kalau di Australia mau belajar seminggu sebelum ujian kalau tidak paham dasarnya, ya benar-benar tidak bisa. Di Indonesia masih bisa cari tahu dosennya mengajar apa dan ujian yang keluar apa saja.

Di sana lebih mengandalkan diri sendiri. Harus memahami dasar kuliah dari awal. Kalau tidak, ketika ujian
tidak akan bisa mengerjakan. Dosen lebih menekankan untuk memahami mata kuliah sendiri. Jadi jangan sia-siakan waktu yang diberikan, usahakan jangan pernah absen kuliah. Sekali ketinggalan akan susah untuk mengejarnya.

Kesan dari Sheila selama kuliah, meski banyak hal yang menyenangkan di Australia dan lebih nyaman, tetap jangan lupa pada tanah air. Jangan jadi orang seperti kacang lupa kulitnya. Karena kalian lahir di Indonesia, besar di Indonesia, keluarga di Indonesia dan makanan favorit adalah masakan Indonesia. Meski keadaan lalu lintas di negara Australia rapi dan teratur, tetap harus lebih cinta Indonesia. Sheila sendiri merasa bahwa ternyata Jakarta semakin hari semakin macet, jauh berbeda dengan Australia. Dimanapun juga negeri sendiri lebih nyaman dari pada negeri orang lain. Tetap ingat dasar negara dan kebudayaan Indonesia.
Itulah cerita dari Sheila yang belajar di Australia. Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari pengalaman Sheila.
Ketika ingin belajar ke luar negeri persiapkan mental lebih dahulu. Disini belajar tidak bisa sesantai di Indonesia, kalian harus lebih mandiri dalam belajar. Tentunya hal ini juga berdampak pada prestasi selanjutnya. Apa yang ditanam suatu saat itulah yang akan dipetik. Pastinya ini juga akan membentuk karakter untuk menghadapi masa depan.

Semoga wawancara kali ini dapat memberi informasi lebih banyak bagi kamu yang ingin kuliah di Australia. Teruslah belajar di manapun tempatnya. Jangan hanya terpaku pada satu Negara atau satu tempat. Di tempat kamu duduk sekarang pun kamu masih bisa mempelajari banyak hal.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Selandia Baru di Mata Joanne Widjaja

Selandia Baru dapat dikatakan sebagai negara tetangga Indonesia, meskipun tidak cukup dekat. Berikut ini adalah wawancara kru berkuliah.com bersama Joanne. Joanne kini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Otago.


Q : Namanya siapa? Asal dari mana? Kuliah di universitas mana? Sejak kapan?

A : Nama saya Joanne asal dari Jakarta. Saya kuliah di Otago University, sejak tahun 2011, dan lulus tahun ini 2014.

Q : Kalau boleh tahu, untuk S1 kuliah dimana?

A : Sekarang masih S1.

Q : Kuliah di New Zealand karena beasiswa atau biaya sendiri?

A : Biaya sendiri.

Q : Bisa ga Mbak Joanne menceritakan bagaimana New Zealand dan karakter orang-orang disana? Soalnya setahu saya New Zealand masih memiliki lingkungan alam yang sangat baik.

A : Semua orang berpikir bahwa alam di New Zealand sangat indah, masih alami, banyak sekali pepohonan hijau, dan itu memang benar. Apalagi di kota dimana saya tinggal, lumayan masih banyak lingkungan alam dan tidak terlalu banyak gedung-gedung tinggi. Untuk orang-orangnya semuanya ramah ya, jadi disini itu bener-bener kota mahasiswa kayak Yogyakarta. Setengah penduduk di kota ini kebanyakan mahasiswa. Kotanya memang kecil, jadi ya kalau kita mau kemana-mana gampang dan enak. Disini juga banyak gedung-gedung tua, dan memang asik suasananya.

Q : Bagaimana sistem transportasinya? Karena pulaunya kecil umumnya pakai apa?

A : Untuk transportasi umum disini biasanya menggunakan bus, akan tetapi kalau letak tujuan dengan tempat tinggalnya dekat ya jalan kaki. Disini masih banyak orang yang jalan kaki.

Q : Untuk biaya hidup di New Zealand bagaimana?

A : Untuk biaya hidup memang lumayan mahal sih, apalagi sekarang NZ Dollar sedang kuat sekali. Pada saat pertama kali saya datang kesini 1 Dollar NZ sekitar Rp.6.500,00 sekarang sudah sekitar Rp. 10.000,00. Setiap orang memiliki pengeluaran yang berbeda, tapi rata-rata orang menurut standar dalam satu tahun setiap orang mengeluarkan sekitar 15 ribu Dollar NZ untuk memenuhi kebutuhannya.

Q : Bagaimana dengan karakter orang-orang New Zealand?

A : Iya, orang-orang di New Zealand sangat ramah dan sangat membantu. Kayak misalnya kita ada perlu apa-apa biasanya mereka benar-benar ingin membantu. Yang paling saya suka disini, seperti dosen dan profesor sangat ramah dan benar-benar menginginkan kita berhasil serta sukses. Mengobrol dengan dosen dan profesor sangat biasa dan santai mereka benar-benar bisa menjadi penolong kita. Beda dengan di Indonesia, kesannya mungkin galak dan susah sekali untuk ditemui serta diajak bicara.

Q : Bagaimana sistem pendidikan di New Zealand, apakah berbeda dengan Indonesia?

A : Kalau di New Zealand untuk jenjang S1 memang lebih cepat dari Indonesia, yaitu 3 tahun. Saya kurang tahu ya kalau di Indonesia mungkin sistemnya per SKS, kalau disini per subyek, tiap subyek terdiri dari 18 point, dan dalam tiga tahun minimal harus ada 360 poin. Jadi kita harus mengambil 20 subyek dalam setiap semester.

Q : Makanan khas New Zealand apa mbak?

A : Memang kalau ditanya tentang makanan khas saya agak bingung, mungkin lebih ke bahan makanan. New Zealand banayak dihuni orang Maori, tapi saya ga begitu tahu makanan khas mereka. Akan tetapi disini banyak makan Eropa dan Asia, untuk nasi juga mudah ditemukan.

Q : Apa aja yang perlu dipersiapkan jauh-jauh hari agar kita tidak kaget saat kita ke New Zealand?

A : Saran saya mending cari teman atau kenalan yang sudah pernah tinggal di New Zealand terus tanya-tanya ngbrol dan cari tahu informasi tentang kota tujuan kamu, tentang bagaimana hidup disana, musimnya, bagaimana pemberangkatannya, terus kamu bisa tinggal dimana. Andai kamu masih bingung mau gimana lagi, mending cari dulu universitas tujuan kamu, kemudian cari jurusan yang ingin kamu pelajari, terus cari tahu tentang kota tujuan kamu.

Kalau kamu suka kota besar seperti Jakarta mungkin kamu cocok di Auckland. Tapi kalau kamu lebih suka yang sepi dengan nuansa alam supaya konsentrasi belajar baik, dan ingin kenal banyak orang dari berbagai negara mungkin kamu bisa tinggal di Dunedin. Penduduk di Dunedin memang banyak sekali mahasiswanya, tapi memang sedikit mahasiswa asal Indonesia disini, tahun ini kalau tidak salah ada sekitar 20 mahasiswa baru asal Indonesia yang tinggal di Dunedin.

Kalau ingin tinggal dengan orang Indonesia, kamu bisa tinggal di Auckland, karena disana terdapat ratusan orang Indonesia baik dari kalangan mahasiswa, alumni yang menetap, bahkan keluarga-keluarga Indonesia.
Dalam hal akademis, apa yang harus di tonjolkan atau apa yang harus dilakukan untuk meraih yang terbaik?
Pertama yang harus dilakukan, mencari syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti nilai ujian nasional di Indonesia. Perbedaan dengan Indonesia, kuliah di New Zealand lebih mudah baik dari proses dan dari akademiknya. Hal ini akan terasa tambah mudah lagi karena orang-orang disini sangat ringan tangan untuk membantu.

Q : Apakah teman-teman PPI NZ sering bikin acara kumpul bersama?

A : Oh iya… sering banget, yang paling sering sih acara makan-makan. Kita juga sering bikin acara bersama kelompok-kelompok mahasiswa dari negara lain. Kita juga pernah bikin acara dangdutan.

Q : Selama di New Zealand sudah pulang berapa kali?

A : Saya sudah hampir tiga tahun di New Zealand baru pulang satu kali.

Q : Apa kesan dan pesan Mbak Joanne buat teman-teman di Indonesia?

A : Kesannya setelah tinggal di New Zealand adalah yang pasti sangat senang bisa punya kesempatan kuliah di luar negeri, karena saya bisa ketemu dengan banyak orang yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Jadi, saya bisa belajar banyak dari mereka, dan mereka juga bisa belajar hal baru dari saya, intinya bisa saling bertukar informasi. Menurut saya bisa kuliah di luar negeri bukan hanya sebatas menambah wawasan dalam bidang akademik saja, akan tetapi bisa manambah wawasan dalam character building juga. Apalagi kalau misalnya teman-teman bisa sekolah di luar negeri sejak SMA, jelas bisa makin mandiri dan percaya diri.

Q : Bagaimana cuaca disana, dingin ya? Soalnya kan dekat dengan kutub?

A : Iya dingin sih, pertama sebelum saya ke New Zealand hampir ga jadi datang ke sini karena takut dingin. Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya jangan deh, jangan takut dingin. Memang dingin sih tapi ada angetnya juga kok, lama-lama juga bakalan terbiasa. Kalau merasa dingin kan tinggal pake baju tebal, jaket, sama slimut mungkin.

Kalau misalnya teman-teman punya kesempatan buat kuliah di luar negeri, walaupun hanya buat exchange program atau pertukaran pelajar, entah satu atau dua tahun, satu atau dua semester, atau buat post graduate  yang jelas saya mendukung banget buat kuliah di luar negeri. Karena kamu disini bakalan mendapatkan pengalaman yang banyak banget, ya walaupun mahal kalau punya kesempatan lakukan aja. Tetap semangat dan positive thinking aja.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Berbagi Cerita Tentang Jerman Bersama Risang

Banyak sekali mahasiswa Indonesia yang tertarik melanjutkan studi ke Jerman. Tidak mengherankan karena cukup banyak tokoh-tokoh internasional yang lahir dari negara ini. Salah satu yang sudah berhasil ke sana adalah Risang Seno Sidik. Bagaimana sih kehidupan dan kuliah di Jerman bagi Risang? Yuk disimak!


Q : Boleh tau nama lengkap Mas Risang? Dimana Mas Risang Kuliah? Jurusan apa? Sejak kapan di Jerman?

A : Nama lengkap saya Risang Seno Sidik, kuliah di Technische Hochschule N├╝rnberg - Georg Simon Ohm Jurusan Ekonomi, saya di Jerman sejak tahun 2007.

Q : Berarti kamu sudah sejak S1 di Jerman?

A : Saya sampai sekarang memang masih S1, karena di Jerman untuk masuk ke universitas dan menempuh S1 sebelumnya harus menempuh foundantion sekitar dua tahun untuk menyetarakan pendidikan setelah itu baru bisa menempuh pendidikan di universitas. Saya juga menempuh foundantion selama dua tahun sejak 2007 sampai dengan 2009, setelah itu baru saya mulai kuliah, dan sekarang sudah semester akhir.

Q : Apakah Mas Risang mendapatkan beasiswa?

A : Tidak, saya tidak mendapatkan beasiswa. Saya kuliah di Jerman menggunakan biaya pribadi.

Q : Bagaimana biaya hidup di Jerman jika menggunakan biaya pribadi di bandingkan dengan Indonesia?

A : Untuk itu saya tidak bisa banyak bilang jika bersangkutan dengan biaya kuliah, karena saya belom pernah mengalami kuliah di Indonesia, saya hanya mendengar dari teman-teman saya disini saja. Tapi dari biaya kuliah memang terkesan relatif, untuk kulaih di Jerman khususnya di propinsi saya  tinggal mulai gratis sejak semester lalu. Sebelumnya  harus bayar, sekitar 500 Euro setiap semester itu sudah mencakup semuanya tidak ada tambahan lagi, memang sangat berbeda dengan Indonesia.

Dari segi biaya hidup sangat realtif untuk semuanya karena hampir semuanya sama. Untuk biaya tempat tinggal tergantung dimana letak provinsi dan kotanya, karena setiap propinsi dan kota memiliki tingkat ekonomi berbeda. Kalau untuk mahasiswa yang tinggal di asrama itu bisa lebih dari 150 Euro atau mungkin bisa mencapai 300 Euro per bulan. Kalau untuk makan telepon atau kebutuhan pribadi sangat relatif dan tergantung oleh masing-masing orang.

Biaya lain yang memang penting untuk teman-teman lain dari Indonesia adalah biaya asuransi kesehatan. Ini menjadi wajib ketika teman-teman sudah mulai masuk kuliah. Biaya asuransi kesehatan per bulan sekitar 80 Euro, setelah membayar ini jika kita sakit dan berobat ke dokter tidak perlu membayar.

Q : Jika kuliah di Jerman gratis, akan tetapi masih ada yang bayar, itu sebenarnya buat bayar apa ya?

A : Waktu saya datang ke Jerman memang kuliah gratis, pada saat saya mengambil foundantion pernah bayar juga, dan sekarang gratis lagi. Sepertinya ini terkait dengan hasil pemilu dan kebijakan pemerintah setelah pemilu.

Pada tahun 2009 temen-temen di Jerman ada yang melakukan unjuk rasa agar pemerintah membebaskan biaya kuliah.  Sampai semester ini kalau ga salah hanya tinggal satu provinsi yang memberlakukan pendidikan tidak gratis. Untuk semester depan akan diberlakukan pendidikan gratis untuk seluruh Jerman.

Q : Di Jerman Mas Risang tinggal dimana dan dengan siapa?

A : Saya tinggal di asrama, akan tetapi satu apartemen saya tinggali sendiri.

Q : Sejak tahun 2007 sudah berapa kali Mas Risang pulang ke Indonesia?

A : Sejak 2007 saya baru pulang ke Indonesia sebanyak dua kali, saya memang jarang pulang. Sampai saat ini belum ada rencana lagi untuk pulang. Mungkin liburan yang akan datang saya baru akan pulang.
Kebanyakan mahasiswa yang kuliah di luar negeri mengambil S2 dan S3.

Q : Bagaimana tips dan trik agar bisa di terima kuliah S1 di Jerman, karena agak sulit untuk bisa masuk disana?

A : Untuk tips buat temen-temen menurut pengalaman pribadi saya, disini sekarang banyak jurusan yang menggunakan bahasa Inggris akan tetapi masih lebih banyak yang menggunakan bahasa Jerman. Untuk kehidupan sehari-hari di luar kampus juga membutuhkan kemampuan bahasa Jerman yang baik, seperti belanja, berkenalan, atau ngobrol sama temen. Jadi saya sarankan buat temen-temen sedini mungkin belajar bahasa Jerman, karena berdasar pengalaman saya bahasa Jerman itu jika ditekuni dengan baik maka temen-temen akan cepat bisa.

Untuk informasi mengenai kuliah di Jerman pada saat saya berangkat tahun 2007 silam memang berbeda dengan yang sekarang. Dulu informasi memang agak sedikit minim, jika sekarang sudah banyak sekali. Untuk itu temen-temen jangan ragu untuk mencari informasi baik itu lewat internet, datang ke kedutaan, ataupun kantor-kantor yang memiliki informasi tentang kulaih di Jerman.

Carilah semua informasi mengenai apa yang dibutuhkan, apa yang harus dibawa, apa yang mesti dipersiapkan, apalagi temen-temen mau kuliah disana. Temen-temen juga bisa nanya lewat grup facebook tentang gimana tinggal di Jerman, atau hal lain. Informasi harus dicari sedini mungkin, masalahnya kita mau kuliah dan kita disana nanti akan berbuat apa agar kita bisa kuliah.

Jadi buat temen-temen yang pengen kuliah S1 harus ambil studi foundation dulu selama dua tahun karena ada penyetaraan pendidikan, baru setelah itu mencari universitas untuk kuliah.
Urutannya :

- Cari informasi sebanyak-banyaknya
- Kuatin bahasa Jemrannya
- Ambil studienkolleg, atau studi foundantion
- Baru pilih universitas

Q : Bahasa Jerman sangat penting untuk komunikasi disana, nah Mas Risang sejak kapan belajar bahasa Jerman?

A : Saya sudah belajar bahasa Jerman sejak SMA, ya walaupun sedikit-sedikit saja.

Q : Apakah sering kumpul bersama teman-teman Indonesia atau PPI?

A : Iya sering sekali, apalagi kalau kita sudah lama kuliah disini, pasti akan saling mencari dan bertemu.

Q : Bagaimana kesan pesan Mas Risang bisa kuliah di luar negeri, karena mungkin mempunyai prespektif berbeda saat pulang ke Indonesia?

A : Mungkin ini seperti perbedaan atau perbandingan gitu ya? Emm… kalau untuk kuliah saya ga bisa bilang apa-apa, karena ya saya ga pernah kuliah di Indonesia. Kalau untuk pengalaman kerja, karena disini banyak sekali teman-teman yang mengambil kerja part time, entah itu part time d restoran, pabrik, atau perusahaan. Menurut saya ini ada hubungannya dengan infrastruktur dan fasilitas yang pemerintah Jerman sediakan.
Saat saya lulus SMA saya pernah kerja beberapa bulan, saya butuh sekitar  satu setengah jam untuk sampai ke kantor, kalau di Jerman dengan jarak yang sama saya menaiki motor hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke kantor. Kalau di Indonesia saya sampai kantor rasanya ingin pulang lagi karena capek dalam perjalanan.  Dengan menaiki trem atau MRT, saya sampai kantor dalam kondisi siap kerja, ini perbedaannya.

Buat teman-teman yang ingin kulaih di Jerman, kalau bisa berbuat secara optimal. Misal saat liburan atau mengisi waktu luang kita bisa kerja untuk menghidupi diri kita sendiri. Belajar masak mungkin penting, karena jika teman-teman ga suka masakan disini bisa masak sendiri. Disini membutuhkan kemandirian yang baik.

Untuk kuliah, karena saya kulaih bukan di universitas biasa, jadi orientasi praktiknya lebih tinggi dari universitas biasa. Staf pengajar dan para dosennya semuanya praktisi, jadi mereka juga aktif dalam perusahaan. Dari sisi materi pengajarannya lebih tepat guna dan sangat detail. Jadi saya tidak usah terlalu banyak mencari sumber-sumber lain.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Catatan Hati Mahasiswi Russia

Russia merupakan negara yang lahir setelah Uni Soviet pecah. Negara yang terkenal dengan paham komunis dan masyarakatnya yang cenderung kaku ini memberikan tantangan tersendiri bagi Nancy. Saat ini Nancy sedang kuliah di Russia.


Q : Mungkin untuk awalnya Mbak Nancy bisa memperkenalkan diri secara singkat dan lengkap?

A : Nama saya Nancy Marisa Natalia, saat ini saya kuliah di Rostov State University of Economic, di Jurusan Ekonomi Internasional di Rostov na Donu.

Q : Wow Russia, pasti seru banget ya mbak disana?

A : Ya begitulah, ada suka dukanya di negeri ini, banyak banget.

Q : Boleh cerita ga mbak, pengalaman yang paling unik dan paling menarik di Russia?

A : Mungkin bisa saya mulai dari pertama kali saya datang ke Russia ya, seperti contohnya unik itu dalam segi budaya. Kita Indonesia cenderung dengan budaya senyum, karakter kita senyum bila mengatakan atau menyampaikan suatu hal. Tapi menurut karakteristik orang Russia senyum itu adalah salah satu hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang pada umumnya, bisa ketika kita senyum dengan orang Russia justru dianggap gila. Saya pernah mendapatkan pengalaman seperti itu, dan saya berusaha untuk mencari tahu apa sebab dan sejarahnya orang Russia jarang sekali tersenyum.

Di balik itu semua ada sejarah senyum orang Russia, yaitu orang Russia umumnya memiliki reputasi sebagai orang-orang yang tegas, serius dan jarang tersenyum. Selama berabad-abad kehidupan sehari-hari di Russia itu penuh dengan perjuangan perang untuk bertahan hidup, kehidupan rakyat melelahkan dan kekhawatiran melekat pada raut wajah mereka. Dalam situasi seperti itu senyum merupakan hal yang tidak biasa, karena senyum itu menunjukkan suatu kemakmuran, kesenangan, kesejahteraan, dan suasana hati yang baik. Bagi orang Russia, senyum merupakan hal yang tidak boleh dilakukan sembarangan. Jika orang Russia tersenyum, itu berarti dia melakukannya dengan jujur dan tulus.

Q : Jadi mungkin anggapan orang bisa jadi benar ya, bahwa banyak sekali mafia di Russia?

A : Kalau mafia itu waktu dulu ada dan sampai saat ini juga masih ada, tapi berhubung Russia sekarang sudah memiliki keamanan yang baik dan kuat, sekarang sudah sangat sedikit. Dulu ada yang namanya Mafia Kepala Botak atau Skinhead, tapi untuk saat ini di Moskow sudah sangat jarang terdengar nama itu.

Q : Jadi sudah tidak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat disana ya?

A : Iya, sudah tidak terlalu berpengaruh.

Q : Apa kelebihan kuliah di Russia?

A : Emm… kelebihan kulaih di Russia itu pakai bahasa Russia, dan waktu saya pertama kali datang kesini saya ga tahu apa-apa dan bisa dibilang tidak mengerti bahasa Russia. Saya sempat seperti anak TK yang tidak paham apa-apa.

Q : Jadi waktu berangkat belum bisa bahasa Russia?

A : Iya saya belum bisa, lalu saya belajar di kelas persiapan. Kebetulan kalau kita datang ke Russia kita belajar disana maka pemerintah Russia akan membekali kita. Jadi ada seperti kelas persiapan bahasa Rusia selama satu tahun.

Q : Apa kelebihan pendidikan di Russia dibandingkan dengan Indonesia?

A : Kelebihan dibandingkan dengan Indonesia salah satunya adalah kita bisa dekat dengan dosen dan kita bisa belajar dengan detail dalam pembuatan karya ilmiah. Contohnya, di Russia ada semacam Course Work dalam bahasa Inggrisnya kalau dalam bahasa Indonesia saya belum terlalu mengerti. Kelebihan dalam hal ini, saya di Russia bisa belajar membuat karya ilmiah yang benar. Jadi setiap semester kita memiliki tugas seperti itu setiap akhir semester, dan itu menurut saya merupakan kelebihan. Sedangkan ketika saya tanyakan ke teman-teman Indonesia jarang sekali universitas yang memiliki program seperti itu untuk setiap semesternya.

Q : Apakah semuanya dalam bahasa Russia?

A : Iya, semua dalam bahasa Russia dan saya belajarnya secara otodidak.

Q : Russia kan masuk dalam benua Eropa, apakah banyak juga yang mengerti dan menggunakan bahasa Inggris?

A : Kalau bahasa Inggris sedikit sekali, karena sangat jarang orang yang mengerti bahasa Inggris, jadi harus tahu bahasa Russia. Akan tetapi kalau ada teman-teman yang mau datang kesini untuk kuliah saya sarankan jangan takut. Kalian pasti bisa, karena saya mengalami hal yang sama ketika pertama kali datang kesini. Pertama kali datang kesini saya tidak bisa apa-apa, dan saya berusaha untuk mandiri, terus mencoba dan akhirnya saya dapatkan kok hasilnya. Karena memang terlihat sulit dan hurufnya sangat berbeda banget.

Q : Apakah penunjuk jalan-jalan di Russia ada yang menggunakan tulisan latin?

A : Semuanya huruf Russia, tapi menarik banget kok hidup disini. Saya jadi teringat kata-kata Andrea Hirata ketika dia bilang kalau belum hidup di Russia itu belum bisa mandiri. Itu kata-kata yang paling saya gemari.

Q : Kalau mengenai suhu, apakah memang benar-benar super dingin?

A : Kalau suhu memang benar-benar ekstrim di Russia, kalau bagi teman-teman yang ingin merasakan suhu yang sangat ekstrim di Russialah tempatnya. Disini ada bermacam-macam kota dan beragam juga suhunya. Seperti Siberia, kalau setelah winter suhunya bisa mencapai -50 derajat C.

Q : Beneran mbak sampe -50? Itu ada orang hidup disana?

A : Adalah mas, banyak banget. Itu di Siberia, bagiannya beberapa Russia. Di Moskow bisa -30 sampai dengan -40 derajat C. Kalau di kota saya baru saja dua minggu yang lalu ada badai salju yang suhunya -30 tapi rasanya seperti -40 derajat C. Tiga minggu yang lalu, selama satu minggu terjadi badai salju dan selama dua minggu kita hanya diam di rumah tidak bisa keluar.

Q : Kalau misalnya sedang musim dingin, kuliah tetap masuk atau libur?

A : Tetap masuk mas, disini ga ada libur walaupun musim dingin atau musim apapun. Untuk libur hanya untuk selesai semester saja. Libur musim dingin juga ada, dan itu juga kalau sudah selesai semester, liburnya juga hanya dua minggu.

Q : Kalau bagi Mbak Nancy sendiri selaku mahasiswa, kehidupan musim dingin disana bagaimana? Mungkin biar ada bayangan bagi temen-temen disini buat ngadepin suhu -30 atau -50 gitu?

A : Kalau menurut saya ketika belajar di -30 itu saya tetap merasa enjoy ya, kita harus memakai pakaian yang benar-benar hangat. Seperti saya contohnya kalau pakai baju mungkin sampai 2 atau 3 lapis untuk menghangatkan badan. Dan jangan lupa bagi teman-teman kalau terjadi -30 atau lebih rendah lagi, selalu ingat pertaturan seperti memakai sarung tangan, topi, penutup kepala, dan lain-lain. Jadi untuk teman-teman yang ingin melanjutkan studi disini jangan takut dengan -30. Karena itu semua tidak sesuai dengan yang kalian pikirkan, kalian ga bakalan beku, kaku, atau apalah. Semuanya yang paling penting tergantung kalian sendiri. Kalau misalnya harus pakai pakaian berlapis-lapais ga papalah. Ini akan jadi pengalaman yang menarik.

Q : Apakah di semua tempat ada penghangat ruangan?

A : Iya mas ada. Seperti di kamar asrama saya juga ada. Kalau kita mau nambah pemanas ruangan sendiri juga boleh.

Q : Untuk biaya hidup disana bagaimana mbak?

A : Untuk biaya hidup bermacam-macam mas, tergantung pribadi mengatur keuangannya. Kalau untuk saya di Rostov sendiri perbulan menghabiskan sekitar 250-300 dollar. Itu karena saya tidak tinggal di ibukota, kalau untuk di Moskow kemungkinan sekitar 400 dollar per bulan, karena memang lebih mahal untuk transportasi dan makanannya.

Q : Kalau untuk biaya kuliah bagaiamana mbak?

A : Sampai saat ini bagi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah ditanggung oleh pemerintah Russia. Mahasiswa hanya perlu membayar asuransi sekitar 6000 Rubel selama satu tahun, jadi sekitar 200 dollar. Aturan setiap kampus untuk membayar asuransi memang berbeda. Untuk asrama kita hanya sekedar bayar uang listrik dan bersih-bersih yang memang terhitung murah. Seperti saya, dalam satu tahun habis sekitar 150 dollar untuk membayar listrik dan kebersihan. Tapi berbeda universitas, beda peraturan. Bahkan ada yang lebih murah, sekitar 30 dollar selama setahun.

Satu hal yang ingin saya share ke teman-teman, hidup di Russia asramanya bukan seperti hotel yang benar-benar nyaman, yang penting kita tahu seperti apa kondisi asrama. Jadi ketika ditempatkan di Russia teman-teman harus sudah siap terhadap apapun yang terjadi. Bagaimanapun teman-teman harus menerima keadaan dengan lapang dada, baik itu asramanya mau bagus atau keadaannya seperti apa, karena itulah Russia. Apalagi kalau kalian dapat beasiswa pemerintah, berbeda jika kalian bayar sendiri.

Q : Tips bagi yang ingin kuliah di Russia, hal apa saja yang harus dilakukan sebelum keberangkatan?

A : Yang harus disiapkan mental, karena hidup di sini sangat keras. Namun saat ini banyak yang sudah berubah. Yang paling pasti adalah mental dan fisik aja.

Q : Kalau untuk akademik bagaimana? Missal menyiapkan bahasa Russia gitu?

A : Boleh sih kalau teman-teman ingin belajar bahasa Russia di Indonesia, tapi misalkan kalian belum bisa ga masalah. Kalian bisa belajar di Russia, seperti saya waktu dulu sama sekali tidak bisa bahasa Russia, saya datang dalam keadaan nol. Jangan pernah takut, karena kalau mau belajar kita pasti bisa.

Q : Tips ketika di Russia, apa aja yang harus dilakukan ketika berada di Russia?

A : Jangan pernah menyerah, itu aja sih. Selalu berjuang, karena kalian berada jauh dari negeri sendiri.

Q : Apakah ada pesan buat teman-teman yang ingin kuliah di Russia?

A : Buat teman-teman yang ingin kuliah di Russia, jangan pernah takut dan menyerah dengan keadaan di Russia. Disini memang keras, namun saya sudah membuktikan, apa yang orang-orang katakaa tentang Russia adalah negara komunis, tidak menghormati agama, atau apalah, jangan pernah mengecap seperti itu. Karena setelah membuka mata, Russia bukan negara yang seperti itu.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top