Menikmati Dunia Perkuliahan di Turki, Bersama Syarifah Suci Armilia

Halo, sobat berkuliah.com! Apa yang kamu ketahui dan kamu pikirkan ketika mendengar nama ‘Turki’?
Ayam Turki? Mungkin iya, kalau kamu adalah orang yang senang berkunjung ke kebun binatang atau menyukai dunia peternakan. Martabak Turki? Iya, kalau kamu orang yang senang sekali makan dan jajan di luar. Atau, mungkin kalau kamu orang yang senang pelajaran sejarah, kamu pastinya tidak asing dengan nama kerajaan Turki Usmani. Yah… itu adalah beberapa istilah yang berkaitan dengan nama ‘Turki’. 



Tapi, kali ini kita tidak membahas tentang itu. Berkuliah.com kali ini akan membahas apa saja dan bagaimana gambaran tentang dunia pendidikan yang ada di Turki, bersama salah satu mahasiswi asal Indonesia yang saat ini menjalani studi kuliahnya di sana. Ia akan berbagai banyak pengalamannya melalui cerita-ceritanya dalam ulasan kali ini. Keren, bukan? 

Siapakah dia? Dan apa saja isi cerita yang ia bagikan? Berikut liputannya:


Halo, Salam kenal, ya! Sebelumnya, bisa diceritakan profil diri kamu? Dan mengapa menjadikan Turki sebagai tujuan kuliah?

Halo, juga. Perkenalkan, saya Syarifah Suci Armilia, akrabnya dipanggil Yaya atau Armilia. Saya lahir dan besar di Pontianak, Kalimantan Barat hingga tamat SMA. Sejak SMP saya sudah ingin menempuh pendidikan S1 di Turki, karena saya jatuh cinta dengan budayanya, sejarahnya, dan dinamika politik dan kehidupan sosial di Turki jika dilihat secara historis. Sebelum ke Turki, saya sempat menempuh pendidikan sekitar 3 bulan di President University. Setelah menerima pengumuman lulus beasiswa, saya memutuskan untuk berangkat ke Turki. 

Waktu itu, penerima beasiswa di tahun kami belum tahu pasti akan kuliah dimana. Kami terlebih dahulu harus belajar Bahasa Turki selama kurang lebih 8 bulan dan harus mendapatkan nilai yang bagus, serta tidak boleh absen lebih dari 3 kali dalam sebulan jika ingin diterima di universitas bergengsi. Setelah melalui beberapa tahap ujian Bahasa Turki, wawancara dalam Bahasa Turki serta menulis personal statement essay dalam Bahasa Turki, saya akhirnya diterima di Marmara University, jurusan Political Science and International Relations.


Bagaimana suasana dunia perkuliahan di negara Turki? Apakah ada perbedaaan yang mencolok dengan Indonesia? Seperti kebiasaan mahasiswa, kebiasaan dosen mengajar, masuk kelas, berpakaian, atau hal lainnya. 

Suasana belajar di Turki dan Indonesia sangat berbeda. Di Turki, perkuliahan terasa sangat santai dan independen. Dosen jarang memberikan tugas dan biasanya absen hanya sebagai penambah nilai ketika ujian (tergantung kebijakan dosen). Hal ini tentunya menjadi culture shock bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia karena kita dari SD dibiasakan untuk mengerjakan tugas untuk membantu membangun kebiasaan belajar secara rutin. Namun yang mengejutkannya, mahasiswa Turki termasuk tipe hard worker. Demi mendapatkan nilai yang memuaskan, mereka rela kurang tidur bahkan tidak tidur selama berminggu-minggu sebelum ujian. Juga, mungkin sedikit banyak menganut budaya Eropa, tidak ada keharusan memakai kemeja dan sepatu di area kampus. Banyak teman-teman saya yang memakai celana training, baju terbuka (bahkan dosen-dosen di sinipun begitu). Hal ini yang masih kurang familiar bagi orang Indonesia, yang banyak mengira orang Turki seperti orang Arab, padahal tidak sama sekali. Dosen-dosen di sini termasuk profesional, selalu hadir mengajar dan hampir tidak pernah datang terlambat.


Apa yang Suci rasakan di masa-masa bulan pertama tinggal dan kuliah di Turki?

Karena di tahun pertama saya hanya belajar Bahasa Turki, maka otomatis tidak terlalu banyak kesibukan pada saat itu. Tentu saja, sebagai seseorang yang memimpikan bisa menempuh pendidikan di Turki, saya merasa sangat excited dan sangat ingin mengeksplor Turki dan budayanya. Kebetulan saya ditempatkan di kota Antalya, yang kata orang “Bali-nya Turki”. Alhasil, saya sering keliling Antalya sendirian dan sering nyasar.


Bisa diceritakan mengenai profil kampus tempat kamu kuliah di Marmara University? Apa kelebihannya, dan mungkin bisa disebutkan 3 jurusan favorit di kampus tersebut?

Marmara University adalah salah satu universitas terpandang di Turki, yang didirikan pada tahun 1883. Banyak alumni Marmara University yang menjadi tokoh terkenal, salah satunya adalah mantan Perdana Menteri Turki, yang baru saja terpilih menjadi Presiden Turki di pemilu tahun ini, Recep Tayyip Erdogan. Ada total 12 kampus MarUn yang tersebar di seluruh penjuru Istanbul, namun sekarang sedang dibangun satu kampus besar untuk menggabungkan beberapa fakultas di satu tempat. 

Umumnya jurusan favorit di MarUn adalah jurusan ilmu sosial, seperti Teologi, Ekonomi, dan Hubungan Internasional. Untuk info lebih lanjut mengenai Marmara University silahkan kunjungi http://www.marmara.edu.tr/en


Bagaimana cara membuat kartu asuransi kesehatan, kartu mahasiswa, dan rekening tabungan?

Karena saya adalah penerima beasiswa pemerintah Turki, maka mekanisme pembuatan asuransi, rekening bank, surat izin tinggal, registrasi universitas, dan lainnya agak berbeda dengan foreigner biasa. Untuk asuransi misal, sudah otomatis terdaftar karena status saya penerima beasiswa. Untuk hal lain memang agak ribet sistemnya dan kadang harus “dilempar” sana-sini. 

Umumnya, dokumen wajib adalah paspor, ikamet (surat izin tinggal), surat keterangan mahasiswa, surat keterangan penerima beasiswa, nomor ID Turki, dan nomor pajak (untuk pembuatan rekening bank). Namun, tiap tahun peraturan bisa saja berubah dan saya melihat mekanisme nya sudah dibuat lebih rapi dan efisien, mengingat makin meningkatnya jumlah expat dan siswa dari luar negeri.


Berdasarkan pengalaman kamu sendiri, di mana kira-kira pilihan jenis tempat tinggal terbaik untuk di sana? Apakah asrama, apartemen atau lainnya? Dan di manakah kota yang nyaman dan aman untuk dijadikan tempat tinggal?

Sebenarnya tergantung kenyamanan masing-masing. Penerima beasiswa dari pemerintah Turki akan disediakan asrama gratis untuk tempat tinggal. Namun, saya bukan tipe orang yang betah sekamar 4-12 orang. Saya juga sempat tinggal satu apartmen dengan mahasiswa Turki (satu apartmen sekitar 6 orang), namun setelah 2 tahun saya memutuskan untuk menyewa apartemen sendiri bersama 3 orang teman Indonesia lain. Saya rasa ini adalah pilihan paling nyaman untuk saya pribadi karena saya merasa lebih bebas, tidak repot dan bisa masak masakan Indonesia kapanpun saya mau. 

Namun, memang tiap pilihan ada plus minus nya masing-masing. Tinggal di asrama swasta (lebih nyaman dari asrama pemerintah) bisa juga jadi salah satu pilihan, bisa juga menyewa studio (konsepnya mirip kost-an) atau share apartemen dengan foreigner lain namun harganya bisa 2 kali lipat lebih besar. Untuk masalah kota juga sebenarnya relatif dan tergantung pilihan masing-masing. Saya sudah jatuh cinta dengan Istanbul karena semua yang saya mau ada disini (universitas-universitas favorit, kegiatan sosial, tempat wisata, pusat hiburan, transportasi dalam kota yang memadai, dan lain sebagainya), maka menurut saya Istanbul adalah kota paling nyaman, hehe.



Untuk seorang perempuan, kira-kira berapa biaya perbulan yang dihabiskan? Mungkin untuk keperluan sehari-hari, makan, tempat tinggal, dan trasportasi?

Pengeluaran akan berbeda sesuai dengan kota tempat tinggal dan gaya hidup masing-masing. Karena saya tinggal di Istanbul, maka saya harus mengeluarkan uang lebih banyak dibandingkan jika saya tinggal di kota lain. Saya akan memberikan gambaran, misal paket hemat per bulan menurut saya:

uang transportasi = 77 TL* (harga diskon untuk siswa, bisa dipakai untuk bus, metrobus, subway, tramway, marmaray, dan kapal feri).
uang pulsa = 30 TL
uang jajan = 100 TL (biaya makan di luar, snack, buah-buahan, dll)
uang makan di kantin kampus = 25TL (di universitas saya, sekali makan dikenakan biaya 1 TL, sudah termasuk appetizer, main course, dessert (terkadang diganti buah) dan air putih. Disediakan untuk makan siang dan makan malam, namun saya biasanya hanya makan siang di kantin.)
uang sewa rumah + tagihan listrik, air, gas, internet, makan, dll = 300 TL (dengan kondisi harga apartemen 750 TL per bulan, satu apartemen 4 orang).
Kebutuhan lain = 100 TL.
*1 TL (Turkish Lira) = Rp 5.300,-

Jika tinggal di kota lain tentu bisa lebih murah, karena biaya transportasi di beberapa kota untuk pelajar digratiskan, biaya makan dan biaya sewa apartemen jauh lebih murah.


Bagaimana pandangan masyarakat Turki terhadap mahasiswa Indonesia? Apakah rata-rata masyarakat di sana tahu dan paham akan Indonesia?

Rata-rata tahu, namun memang kurang paham. Kebanyakan kesan baik yang saya tahu tentang orang Indonesia dari orang Turki adalah keramahan dan kesopanan orang Indonesia sewaktu Haji dan Umroh. Trademark Indonesia lainnya adalah bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Dan yang ketiga, tragedi Tsunami Aceh pada tahun 2004. Sayangnya, masih banyak yang bahkan belum tahu letak geografis Indonesia. Misal, masih banyak yang mengira Indonesia ada di Afrika. Untungnya, pelajar dan KBRI serta KJRI disini aktif dalam kegiatan promosi Indonesia tiap tahunnya untuk masyarakat Turki dan foreigner yang tinggal di Turki dan turis internasional yang kebetulan hadir di acara-acara tersebut.


Adakah pengalaman unik, menyenangkan, menyebalkan, dan membosankan selama tinggal dan kuliah di Turki?

Banyak sekali! Masa-masa paling tidak terlupakan adalah ketika saya baru belajar bahasa dan kebudayaan Turki. Waktu itu, saya dengan kemampuan Bahasa Turki yang nihil harus tinggal bersama 5 mahasiswa Turki lainnya yang tidak bisa Bahasa Inggris. Saya dituntut untuk terbuka dan sociable, karena orang Turki cenderung penasaran dengan hal-hal asing. Alhasil saya jadi pusat perhatian bagi teman-teman se-apartemen saya, dan juga keluarga mereka, karena saya sering diajak bersilaturahmi ke rumah mereka di kota-kota lain. Disitu saya banyak belajar kebudayaan Turki dan hospitality orang Turki yang luar biasa. Saya pernah diajak nikah di taman dan kendaraan umum sama orang yang tidak dikenal dan ini terjadi tidak cuma sekali. Awalnya sempat parno (ini beneran ngeri), tapi lama-lama I decided to just laugh over it. 

Saya berada di lingkungan multikultural semenjak tahun pertama saya di sini, yang memungkinkan saya untuk mengenal orang dari 5 benua dengan latar belakang, bahasa, budaya yang berbeda, dan itu adalah pengalaman sangat berharga dan investasi masa depan yang tak ternilai. Last but not least, semenjak tinggal di Istanbul saya banyak bertemu tokoh-tokoh terkenal dalam dan luar negeri, serta pejabat pemerintah Turki maupun Indonesia yang menurut saya akan sulit terwujud jika saya tidak di sini. Tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu semua pengalaman saya selama di sini, tapi satu yang saya tahu, sesusah, semenyebalkan dan sesedih apapun kehidupan mahasiswa asing disini, I think it's all worth the fight.


Adakah tips khusus dari Suci tentang bagaimana cara mudah untuk masuk dan apply ke kampus Suci saat ini?

Apa ya, mungkin lebih baik jika saya berbicara cara mudah untuk apply universitas di sini secara general, dan saya akan membagi ke 2 kategori:

1. Kategori penerima beasiswa pemerintah Turki (Turkiye Burslari); satu-satunya cara untuk mendapatkan beasiswa adalah dengan terus up-to-date di situs resmi Turkiye Burslari http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en/ dan di fanpage facebook-nya. Ikuti semua persyaratan yang ada, dan persiapkan semua kriterianya dengan matang dan serius. Berbeda dengan di tahun saya yang mekanisme pendaftarannya ribet dan semua-semuanya yang terkadang tidak jelas, sekarang pemerintah Turki jauh lebih serius dalam penerimaan dan pemberian beasiswa untuk siswa dari luar negeri. Tidak heran jika minat pelajar untuk ke Turki meningkat tiap tahunnya, alhasil persaingan untuk mendapatkan beasiswa semakin ketat.

2. Kategori non-beasiswa; saya sarankan sering-seringlah research di website universitas yang kamu inginkan untuk cari tahu syarat penerimaan mahasiswa di universitas tersebut, karena tiap universitas mencantumkan syarat yang berbeda. Namun secara umum, nilai ijazah harus bagus (rata-rata di atas 8), TOEFL iBT atau SAT (jika jurusan kamu menggunakan pengantar Bahasa Inggris seperti jurusan di universitas saya), dan syarat lainnya.



Well, demikian ulasan dari berkuliah.com tentang pengalaman berkuliah dari Syarifah Suci Armilia selama di Turki. Menyenangkan, bukan? Apakah kamu juga salah satu orang yang memiliki keinginan untuk berkuliah di Turki? Atau, mungkin negara di kawasan lainnya? Makanya, persiapkan diri kamu dari sekarang, ya! Salam sukses selalu dari berkuliah.com.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



3 Hal Penting yang Sering Diabaikan oleh Mahasiswa

Berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan sampai lulus? Ada berapa jumlah jurusan yang ditawarkan? Bagaimana peluang kerja yang didapatkan oleh alumni dari suatu universitas? Bagaimana presentase kelulusan mahasiswanya? Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali terdengar klise. Berkali-kali, orang menanyakan hal yang sama ketika mereka mencari perguruan tinggi.



Pertanyaan-pertanyaan klise tersebut memang penting untuk ditanyakan ketika kamu sedang memilih perguruan tinggi. Kamu perlu tahu berapa biaya yang perlu dikeluarkan supaya kamu bisa mempersiapkannya jauh-jauh hari. Kamu perlu tahu juga jumlah jurusan karena akan mempengaruhi kamu dalam menjatuhkan pilihan. Dan yang dinilai paling penting untuk ditanyakan adalah bagaimana peluang kerjanya kelak.

Tapi, tahukah kamu bahwa ada beberapa hal yang sering kali dilupakan oleh mahasiswa ketika memilih perguruan tinggi? Padahal, poin-poin ini juga cukup penting untuk kamu ketahui sebelum kamu memilih universitas. Bahkan terkadang baru disadari ketika kamu sudah setengah perjalanan menempuh kuliah. Nah, nggak mau kan menyesal di kemudian hari? Maka dari itu, perhatikan hal-hal penting yang kadang dilupakan oleh sebagian besar orang berikut ini.

Ada 3 poin penting yang kadang dilupakan oleh mahasiswa. Apa saja itu? Yuk, simak baik-baik ulasannya berikut ini:


Jumlah komputer yang bisa digunakan di perpustakaan dan laboratorium

Pernah nggak sih mengalami laptopmu dicuri orang? Atau mungkin rusak? Atau mungkin sedang berada di tempat reparasi? Terus, bagaimana kamu mengerjakan tugas-tugas kalau komputermu tidak ada di tanganmu? Nah, ini dia pentingnya universitas menyediakan fasilitas berupa komputer untuk mahasiswanya. Jika universitas menyediakan komputer untuk mahasiswanya, kamu bisa memanfaatkan komputer-komputer itu jika milikmu sedang tidak bisa digunakan.

Masalah berikutnya adalah berapa sih jumlah komputer yang disediakan oleh universitas untuk mahasiswanya? Jumlah mahasiswa dalam satu universitas tidak bisa dihitung dengan jumlah jari kita. Ada ribuan mahasiswa yang sama-sama memiliki hak untuk menikmati fasilitas yang diberikan pihak universitas. Maka dari itu, penting sekali untukmu mengetahui ada berapa jumlah komputer yang bisa digunakan di perpustakaan atau juga di laboratorium.

Bagaimana caranya mengetahui jumlah komputer yang bisa digunakan? Ketika kamu melakukan kunjungan universitas, pastikan kamu melihat berapa jumlah komputer yang kosong atau tidak digunakan ketika suasana perustakaan atau laboratorium sedang dalam keadaan ramai. Jika ada cukup banyak komputer yang tidak digunakan, maka universitas sudah menyediakan fasilitas yang cukup memadai. Tetapi, jika tidak ada komputer yang kosong atau dalam arti semua komputer dipakai oleh mahasiswa, itu artinya universitas tidak menyediakan fasilitas yang seimbang dengan jumlah mahasiswa.

Benar bukan, kalau hal sepenting ini sering dilupakan oleh mahasiswa ketika memilih universitas? Bisa jadi mereka memang mempertimbangkan keberadaan fasilitas elektronik seperti komputer, akan tetapi sering dilupakan berapa jumlah dari komputer itu. Kadang kalau sudah tahu bahwa ada komputer orang akan berpikir ‘Oh…berarti lengkap ya fasilitasnya ada komputer juga,’. Padahal belum tentu jumlah komputernya seimbang dengan jumlah mahasiswa yang menggunakannya.

Selain jumlahnya, perhatikan pula kualitas komputernya. Apakah komputer bisa berfungsi dengan baik atau tidak. Percuma saja jika jumlahnya banyak tapi tidak berfungsi dengan baik, misalnya sering rusak atau terkena virus yang malah bisa mengancam keberadaan tugas-tugasmu. Pastikan juga komputer-komputer itu memiliki koneksi internet yang disediakan universitas. Koneksi internet bisa menjadi poin lebih untuk kamu mempertimbangkan suatu universitas. Karena tampaknya jaman sekarang ini, internet telah menjadi kebutuhan pokok setiap mahasiswa. Iya, kan?


Tersedianya tempat tenang untuk belajar

Sadar nggak sih kalau kamu memerlukan tempat yang tenang di mana kamu bisa sendiri dan belajar dengan nyaman? Adakah tempat tersebut di kampusmu? Apakah universitas menyediakan tempat semacam ini untuk mahasiswanya?

Tempat yang tenang seperti ini sangat penting terutama untuk mahasiswa baru. Apalagi jika kamu sebagai mahasiswa baru yang tidur sekamar dengan teman asrama. Kamu tidak bisa belajar dengan tenang di kamarmu sendiri, karena mau tidak mau akan selalu ada orang lain di kamar yakni teman sekamarmu. Mungkin dia memang tidak mengganggu, tapi secara tidak langsung konsentrasimu akan terpecah jika ada orang lain di sekitarmu saat kamu butuh ketenangan untuk belajar.

Bagaimana? Hal penting semacam ini juga pasti sering dilupakan, bukan? Kebanyakan orang hanya akan menanyakan bagaimana suasana kelas atau ruangan kuliah yang digunakan. Apa saja fasilitas yang disediakan di ruang kelas tersebut. Padahal, untuk belajar mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang kelas di kampusnya, tetapi juga tempat pribadi yang tenang yang dapat mengajak kamu untuk konsentrasi penuh.

Seandainya saja pihak kampus sudah menyediakan tempat semacam ini di lingkungan kampus, usahakan kamu melihatnya ketika kamu mengikuti kunjungan universitas. Amati ruangan yang disediakan oleh pihak kampus tersebut. Apakah sudah sesuai dengan apa yang kamu bayangkan atau belum. Jangan lupa perhatikan juga ada berapa ruangan khusus untuk belajar seperti ini yang ada di kampus. Jangan-jangan terlalu sedikit sampai-sampai kamu kesulitan untuk memakai ruangan tersebut ketika akan belajar.


Kualitas pelayanan kesehatan untuk mahasiswa

Tidak ada yang bisa menjamin kamu akan selalu sehat selama mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus. Bisa saja tiba-tiba kamu jatuh sakit dan membutuhkan perawatan. Bagaimana peranan pihak kampus jika hal seperti ini terjadi padamu? Fasilitas apa yang mereka sediakan untuk mengatasi hal-hal semacam ini?

Pernah tidak, pertanyaan seperti ini terlintas di pikiranmu? Jarang, bukan? Karena biasanya orang tidak akan berpikir sampai jauh, sampai ke kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. 

Jika universitas menyediakan pelayanan kesehatan untuk mahasiswanya, perlu kamu ketahui lebih lanjut bagaimana kualitas pelayanan kesehatan tersebut. Apakah sesuai dengan biaya yang kamu keluarkan untuk kuliah di universitas tersebut? Apakah fasilitas kesehatan yang disediakan pihak kampus bisa mencakup semua bentuk keadaan emergency yang bisa saja menyerang kondisi kesehatanmu?

Ada banyak hal yang perlu kamu tanyakan lebih lanjut tentang ketersediaan layanan kesehatan yang disediakan pihak kampus untukmu. Misalnya, tanyakan ada berapa jumlah dokter yang bekerja di sana. Sama seperti jumlah komputer tadi, jika jumlah dokternya terlalu sedikit sehingga tidak seimbang dengan jumlah mahasiswanya, maka kamu perlu mempertimbangkan untuk mencari universitas lain yang memberikan layanan kesehatan lebih baik. Kemudian tanyakan pula apakah ada biaya tambahan jika kamu ingin menggunakan layanan kesehatan yang disediakan pihak kampus.

Sadar atau tidak, ketiga hal tersebut adalah poin penting yang justru paling sering dilupakan oleh mahasiswa. Terkadang hal-hal detail seperti ini malah menjadi pertimbangan akhir dalam memilih universitas, atau bahkan malah sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Jangan sampai kamu salah memilih universitas dan menyadari bahwa universitasmu ternyata tidak memberikan fasilitas yang memadai seperti yang kamu inginkan. Jadi, berhati-hatilah dalam mempertimbangkan universitas mana yang akan kamu pilih.

Salam berkuliah.com

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Hendra Wong: Pengalaman Berkuliah di Singapura, Nanyang Technological University (NTU)

Halo, sobat berkuliah.com! Lulus sekolah SMA, dan ketika akan melanjutkan pendidikanmu ke jenjang perguruan tinggi, pernahkan terlintas di pikiranmu untuk melakukan studi di luar negeri? Kemana sajakah itu? Apakah Amerika, Inggris, atau yang tidak terlalu jauh seperti di sekitar kawasan Asia? Di Asia sendiri, khususnya yang dekat dengan Indonesia, negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan negara lainnya seringkali menjadi tujuan favorit untuk dijelajahi, baik untuk sekedar jalan-jalan, maupun untuk melakukan studi. Tapi dimanapun itu, baik dekat maupun jauh, ketika kamu memutuskan untuk jauh dari tempat asalmu apalagi dengan tujuan untuk menuntut ilmu, itu merupakan suatu hal yang membanggakan dan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjalaninya. 



Dalam ulasan kali ini, tim berkuliah.com berhasil menginterview salah satu mahasiswa asal Indonesia yang menjalani studinya di Singapura. Siapakah dia? Dan apa saja pengalaman yang ia bagikan? Berikut ulasannya: 


Halo, salam kenal. Sebelumnya, bisa kenalkan diri kamu? Apa yang membuat kamu memilih kuliah di Singapura? 

Perkenalkan, saya Hendra Wong. Asal saya dari Kotamobagu, Sulawesi Utara. Di Singapura, saya kuliah di kampus Nanyang Technological University (NTU), dan mengambil jurusan Chemistry and Biological.
Singapura menjadi pilihan saya karena kualitas universitasnya dan kebersihan serta keamanan yang ada di Singapura.


Beasiswa apa yang Hendra ambil selama kuliah di Singapura? Bagaimana sifat beasiswa tersebut? Dan sesuai pengalaman Hendra sendiri, bagaimana cara applynya?

Saya mendapat Tuition Grant dari pemerintah Singapura, yaitu subsidi 75% dari total biaya kuliah. Syaratnya adalah kita perlu bekerja di perusahaan atau institusi yang teregister di Singapura (lokasi kerja bisa di Singapura atau negara lain).

Cara applynya adalah melalui website ministry of education singapore www.moe.gov.sg


Apa saja kelebihan yang dimiliki kampus Hendra di Nanyang Technological University (NTU)? 

NTU memiliki reputasi yang baik (TOP 100 in the world). Fasilitas yang dimiliki kampusnya tentu baik, internet lancar, dan lingkungan yang kompetitif.


Apa saja yang Hendra pelajari dari di jurusan yang diambil? Pernahkan menemui kesulitan? Jika iya, lalu bagaimana kemudian cara kamu mengatasinya?   

Saya belajar banyak hal mengenai kimia murni ditambah module-module pilihan lainnya seperti business dan entrepreneurship. Module tertentu lebih menantang dibandingkan module lainnya. Dengan mengadakan diskusi bersama teman, membuat bisa lebih mengerti materi dengan baik.


Bagaimana karakter dosen di Singapura ketika di dalam kelas dan di luar kelas?

Dosen-dosennya professional. Dan bersedia dengan senang hati melayani pertanyaan-pertanyaan kita walaupun di luar kelas.



Apakah mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana bisa mengambil kerja part time jika mereka membutuhkan uang?

Mahasiswa Indonesia yang berkuliah di NUS, NTU, SMU atau government universities lainnya bisa kerja part time. Tetapi, yang berkuliah di private universities tidak diizinkan.


Apa saja persiapan yang harus disiapkan dari Indonesia untuk menghadapi sistem perkuliahan di sana?

Kurang lebih mirip dengan di Indonesia. Bedanya, di Singapura menggunakan pengantar bahasa Inggris, dan di universitas tertentu persaingannya sangat kompetitif.


Di mana biasanya mahasiswa Indonesia tinggal? Menurut kamu, di mana sebaiknya mahasiswa baru memilih untuk tinggal?

Bervariasi. Ada yang tinggal di student’s hostel. Ada yang rent apartmen. Semuanya oke-oke saja. Sebagian besar yang berkuliah di NTU atau NUS tinggalnya di student’s hostel.


Apakah ada pengalaman atau saran organisasi maupun komunitas apa yang sebaiknya diikuti oleh mahasiswa Indonesia di Singapura ?

Mahasiswa bisa mengikuti organisasi di universitasnya, di mana ia bisa berinteraksi dengan temanteman dari berbagai negara di kampus yang sama, atau join PPIS (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Singapura) dan bisa berinteraksi dengan teman-teman Indonesia dari berbagai kampus atau sekolah yang berbeda.


Apakah ada tips yang sebaiknya dilakukan bagi mahasiswa Indonesia setelah selesai kuliah di sana? Misalnya, peluang kerja di sana, atau hal lainnya. 

Mulai mencari kerja berbulan-bulan sebelum lulus kuliah.



Demikian beberapa cerita singkat dari Hendra Wong yang bisa ia bagikan kepada sobat berkuliah.com. Semoga menginspirasi. Jangan lupa, simak terus informasi lainnya hanya di berkuliah.com, ya! Salam sukses selalu.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Biografi Ahmad Fuadi: Penulis Novel Best Seller Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Ahmad Fuadi adalah seorang penulis Novel Negeri 5 Menara. Beliau lahir tanggal 30 Desember 1972 di Nagari Bayur, Maninjau, Sumatra Barat. Selain menjadi penulis novel, beliau juga menjalani profesi sebagai praktisi konservasi dan juga wartawan. Beliau termasuk seorang yang punya motivasi tinggi dan pekerja keras. Orang tuanya berprofesi sebagai guru, ibunya seorang guru SD, sedangkan ayahnya adalah guru sekolah madrasah.

Ahmad Fuadi
Novel Negeri 5 Menara adalah novel karya pertamanya dan merupakan salah satu buku pertama dari trilogi novelnya. Novel tersebut tergolong masih baru terbit, namun sudah masuk dalam jajaran best seller pada tahun 2009 lalu. Cerita fiksinya dinilai bisa memberikan motivasi dan semangat untuk meraih cita-cita dan prestasi. Selain itu, pada tahun 2010 Ahmad Fuadi pernah meraih Anugrah Pembaca Puisi Indonesia dan pernah juga masuk pada nominasi Khatulisiwa Literary Award sehingga ada salah satu penerbit di Negeri Jiran Malaysia, yaitu PTS Litera tertarik untuk menerbitkan di negaranya dalam versi Bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa melayu.

Pada tanggal 23 Januari 2011 Ahmad Fuadi menerbitkan novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna. Kemudian beliau mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Komunitas Menara. Yayasan sosial ini digunakan untuk membantu pendidikan kepada masyarakat yang eknominya rendah dan kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Sampai sekarang ini, Komunitas Menara sendiri sudah mempunyai sekolah gratis bagi anak usia dini di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Masa pendidikan SD dan SMP Ahmad Fuadi ia jalani di tanah kelahirannya yaitu Maninjau, Agam, Sumatra Barat. Dan kemudian pada tahun 1988, Ahmad Fuadi memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo karena permintaan ibunya. Iapun meluluskan pendidikannya di pondok pesantren tersebut pada tahun 1992. Di sana ia diberkahi tentang ilmu keikhlasan, ilmu hidup, dan ilmu akhirat oleh seorang kiai dan ustadnyang ada di sana. Di pondok Gontor, ia banyak mendapat pesan dan nasehat dari guru-guru atau ustad-ustadnya “man jadda wajada”, yang artinya "barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menemui kesuksesan", serta ada sebuah kata-kata lagi yang selalu dia ingat bahwa "orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaat." Akhirnya pesan-pesan tersebut yang menjadi prinsip yang selalu ia pegang dalam hidupnya. Di pondok pesantren Gontor ternyata menjadi tahap yang sangat penting dari perjalanan akademis dari Ahmad Fuadi. Selain itu, selama menjalani hari-hari di sana, dirinya dibiasakan untuk selalu mendengarkan siaran radio yang berbahasa Arab dan bahasa Inggris. Dari sanalah kemudian ia mempunyai cita-cita untuk bisa pergi ke luar negeri.

Setelah lulus di podok pesantren Gontor, ia kemudian melajutkan kuliah dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjajaran, Bandung. Sebelum lulus S1, saat itu ia mengikuti sebuah program ASEAN student gathering yang merupakan program S1 di mana mahasiswa ASEAN menjalani perkuliahan bersama di University of Singapore. Selain itu, Fuadi juga pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada tahun 1995-1996. Lulus S1 Hubungan International di Universitas Padjajaran, beliau juga bekerja part time sebagai wartawan majalah Tempo, Voice of America (VOA). Karena prestasinya, pada tahun 1998 ia mendapat beasiswa S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.

Istri Ahmad Faudi yang bernama Yayi juga adalah seorang wartawan Tempo. Keduanya dulu pernah bermimpi untuk merantau ke Washington University dan akhirnya impian itu menjadi kenyataan. Selain kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Mereka pernah melaporkan secara langsung berita bersejarah seperti peristiwa 11September 2001dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Kemudian pada tahun 2004 keberuntungan memihak kepadanya lagi, di mana ia mendapat beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk sebuah bidang dokumenter. Ia juga pernah menjadi direktur komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Berikut ini adalah penghargaan beasiswa A.Fuadi yang pernah ia raih : 

1. SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997.
2. Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001.
3. Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001.
4. The Ford Foundation Award1999-2000.
5. CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002.
6. Beasiswa Fulbright,ProgramPascasarjana, The George Washington University, 1999-2001.
7. Beasiswa British Chevening, ProgramPascasarjana, University of London,London2004-2005.
8. Longlist Khatulistiwa Literary Award 2010.
9. Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.
10. Penulis Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011.
11. Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2012.


Ahmad Fuadi, pasca lulus kuliah

Setelah lulus kuliah dan saat setelah Ahmad Fuadi menjadi direktur di sebuah perusahaan komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy, tiba-tiba dirinya merasa digalaukan tentang sesuatu. Ahmad Fuadi galau karena teringat akan pesan dan nasehat ustadnya, bahwa "orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain". Teringat akan kata-kata itu, kemudian Ahmad Fuadi memutuskan untuk lebih fokus menjadi seorang penulis dan aktif dalam kegiatan sosial, terutama dalam penyelenggaraan sekolah PAUD gratis untuk keluarga miskin.

Saat setelah kuliah, ia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Iapun merasa kesempatan kembali terbuka untuknya, dan akhirnya Tempo menerima Ahmad Fuadi sebagai wartawan pada tahun 1998. Untuk tugas kelas jurnalistiknya yang pertama ia jalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Ahmad Fuadi menguasai bahasa Inggris, Arab dan Perancis. Selain itu, ia pernah menerima  berbagai macam penghargaan (award) di antaranya :
1. Indonesian Cultural Foundation Inc.
2. Award (2000-2001), Columbus School of Arts and Sciences Award.
3. The Goerge Washington University (2000-2001).
4. The Ford Foundation Award (1999-2000).

Novel yang berjudul 'Negeri 5 Menara' adalah sebuah buku pertamanya yang digarap dari rencana trilogi. Cerita-cerita kehidupannya ia dituangkan dalam bukunya tersebut dan kemudian menjadi best seller. Buku tersebut sangat disukai dan begitu menginspirasi banyak orang. Perjalanan hidup Ahmad Fuadi bisa menjadi sebuah cerminan bagi kita bahwa impian dan cita-cita itu tidak selamanya harus menjadi angan-angan semata. Namun, semua itu bisa dicapai dengan diwujudkan melalui kerja keras dan kesungguhan.

Dalam kurun waktu 9 bulan saja Novel Negeri 5 Menara tersebut sudah terjual sebanyak 100 ribu eksemplar. Sebuah rekor baru untuk semua buku lokal yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sepanjang 36 tahun ini. Sebagian royalti buku ini diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, dapur umum, perpustakaan, dan rumah sakit secara gratis untuk kalangan yang tidak mampu.


Cerita Novel 'Negeri 5 Menara' Karya Ahmad Fuadi

Novel Negeri 5 Menara. Ada apa dengan angka 5 ? Kenapa dengan judul '5 menara'? 
Novel ini menceritakan tentang bagaimana kegigihan seseorang dalam meraih mimpi. Masih ingat dengan buku yang berjudul Laskar Pelangi yang penulisnya Andrea Hirata? Nah, sebenarnya hampir mirip dengan ide novel ini, yaitu tentang kegigihan dalam meraih mimpi. Tetapi, lupakanlah tentang kemiripan tema, karena Negeri 5 Menara ini tampil dengan gaya tersendiri dan mengambil tema dari sebuah pesantren. Pada cerita awalnya saat penulis membacanya memang bisa membuat seakan-akan penulis bisa masuk di dalam kehidupan pesantren. Di dalam novel itu menceritakan sebuah keterpaksaan seseorang pemuda ketika harus menuntut ilmu di pondok pesantren. Selain itu, ada banyak sekali tausiyah dan pesan-pesan yang keren yang termuat di dalam cerita novel ini. Di novel ini seakan kita digurui, ada banyak pesan-pesan di dalamnya.  Cerita kehidupan pesantren dengan segala suka dan dukanya, dengan semua kedisiplinan dan kepolosannya. Dan yang paling mendasari dari semua cerita tersebut yaitu sebuah kata 'Man Jadda wajada' yang berarti 'barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan menemui kesuksesan'. Intinya dalam cerita tersebut bahwa setiap hal apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu kalau seseorang akan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya, maka dirinya pasti akan sukses. Insya Allah...

Bagian lain yang sangat menyentuh hati, bahkan sampai menitikan air mata ketika cerita saat kerinduan Alif menyeruak pada sosok emaknya. “Dan di saat  hatiku rusuh dan nyeri beliau selalu datang dengan sepotong senyum yang sanggup merawat hatiku yang buncah”, itulah deskripsi tentang emaknya bagi seorang Alif.

Di Novel ini selain 'Man Jadda wajada', ada juga kalimat populernya yaitu 'Ajtahidu fauqa mustawal akhar' yang artinya 'berjuang di atas usaha orang lain'. Dan semangat Alif ketika memaksa diri untuk belajar dan setiap ingin menyerah kemudian tidur. Menyeruak dalam hati Alif ketika itu “Ayo satu halaman lagi…satu kalimat lagi.. dan satu kata lagi..” . Kata-kata inilah yang kemudian memacu semangat dan motivasi penulis sendiri. Pokoknya, disepanjang cerita novel ini sangat banyak memberi kita inspirasi dan keren sekali. Ada juga pesan-pesan penting dari ustadz Salman, yaitu bagaimana kita dalam mempersiapkan diri dalam meraih sukses. Apa pesan-pesan itu? Silahkan kamu baca sendiri jika kamu memang belum membacanya. Bisa dipastikan kamu tidak akan menyesal setelah membaca novel ini. Ada banyak sekali pesan yang tersirat di dalamnya. Selamat membaca dan penasaran... 

Ahmad Fuadi dan karya novelnya 

Amad Fuadi di negara asing dengan beasiswa

Ahamad Fuadi adalah seorang anak yang lahir dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Fuadi adalah seorang anak bangsa dari pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat yang mampu menjelajahi banyak negara melalui beasiswa dan akademisnya. Selain itu, ia mampu menciptakan beberapa novel yang bisa menginspirasi banyak orang. Ketika diadakan Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Angkatan 6 (PK 6), ia menyempatkan hadir di tengah-tengah para peserta. Di acara tersebut, ia berbagi cerita dan pengalamannya tentang bagaimana perjuanganya dulu dari nol sampai saat ini, bercerita bagaimana perjuangan dirinya dulu dalam menggapai mimpi dengan penuh keyakinan, kerja keras dan kesungguhan, sehingga mampu meraih sukses dan merubah hidupnya kini. Dan semboyan yang selalu dia pegang yaitu 'Man Jadda wajada'...'barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil...'

Semasa kecilnya, Ahmad Fuadi pernah membaca sebuah buku yang mengilustrasikan seseorang yang sedang memegang sebuah es. Dengan kepolosannya, dari situlah ia merasakan kekagumannya terhadap buku itu dan saat itulah ia mengenal salju dari buku itu. Kemudian, saat dirinya berumur 15 tahun, Ahmad Fuadi merasakan apa yang ada di buku tersebut melalui program pertukaran pelajar di Kanada kala itu. Dan akhirnya pada tahun 1997, Ahmad Fuadi mendapatkan beasiswa Singapore SIF Asean Fellowship.Wow,, Sungguh prestasi yang hebat sekali, bukan? Tak kunjung berhenti sampai di situ, prestasinya terus dia raih yaitu pada tahun 1999 sampai 2002 saat ia berhasil mendapatkan Fullbright Scholarship dari Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 2004 sampai 2005 dirinya mendapatkan Chevening Award dari Pemerintah Inggris. Selain semua itu, masih ada banyak sekali hal yang diraih dan didapat dari perjalanan hidupnya ketika  ia belajar di luar negeri dengan beasiswa.

Pada acara itu Ahmad Fuadi mengajak kepada semua peserta PK 6 untuk mengoptimalkan semua waktu selama belajar di luar negeri. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan di kelas tersebut. Bisa juga bekerja part time di sekitar kampus atau di sekitar kos yang kita tinggali. Bukan hanya materi yang kita bisa dapatkan, tetapi juga etos kerja kita berupa value dan wawasan yang bisa menjadi bekal kita untuk menyongsong masa depan yang cerah. Mengikuti organisasi di luar juga sangat berguna untuk kebaikan bersosialisasi kita dengan orang lain, bisa belajar memahami karakter orang lain, bisa belajar dari teman organisasi kita dan meningkatkan jaringan atau memperluas teman.

Dan satu hal pesan dari Ahmad Fuadi bahwa yang perlu kita pegang setelah menyelesaikan masa studi  di luar negeri, sebaiknya kita perlu berkontribusi dengan membuat sebuah karya untuk bangsa tercinta kita, Indonesia. Entah itu menulis atau sebuah dedikasi yang nyata untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Karena dengan menulis merupakan salah satu cara untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan bahkan bisa mnginspirasi banyak orang untuk perubahan yang lebih baik lagi. Selain memberikan inspirasi dari novelnya, Ahmad fuadi juga melakukan kegiatan ceramah, workshop dan pelatihan-pelatihan ke berbagai daerah sebagai bentuk perwujudan kepada bangsa Indonesia tercinta. Ahmad Fuadi juga mendirikan sekolah PAUD gratis kepada masyarakat Indonesia yang diperuntukan untuk keluarga yang kurang mampu. Dan salah satu prinsip hidup Ahmad Fuadi seperti tercantum dalam Hadist Nabi Muhammad SAW yaitu, "sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain."

Beliau juga memberikan tips bagi mereka yang termasuk calon penerima beasiswa LPDP, bahwa perlu ada persiapan yang harus kita siapkan ketika nanti masa studi kita di luar negeri.Yang harus dipersiapkan di antaranya yaitu, waktu yang sesingkat itu untuk memperkuat jaringan dan mempelajari budaya. Memperkuat jaringan kita bisa lakukan dengan banyak mengikuti organisasi. Mempelajari budaya di negeri orang juga mungkin tidak bisa kita temui di daerah lain. 


Hikmah pengalaman hidup dari seorang Ahmad Fuadi

Beberapa hikmah dari perjalanan hidup Ahmad Fuadi yang bisa kita petik di antaranya :

-Janganlah takut untuk bermimpi, karena mimpi itulah yang akan mengarahkan diri kita
ke puncak kesuksesan.

-Jangan menoleh dari latar belakang kita untuk menggapai mimpi, karena kesuksesan kita berasal dari usaha keras dan kesungguhan apa yang kita lakukan saat ini. Kita perlu mendokumentasi terhadap apa yang telah kita lakukan, sehingga bisa dinikmati dan kita bisa berbagi untuk semua orang.

-Menggunakan waktu selama studi dengan sebaik-baiknya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berguna untuk kamu ke depannya.

-Membagi apa yang telah kita lakukan kepada orang lain. Karena dengan berbagi kepada sesama, kita bisa menginspirasi banyak orang dan berarti kita telah membantu masyarakat Indonesia untuk perubahan yang lebih baik lagi.


Tips Menulis dari Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi adalah sosok pribadi yang gaya bicaranya tenang dan jauh dari kesan formal. Selain itu, ia selalu merendah kepada orang lain, tidak sombong, dan tidak senang merasa ditinggikan. 

Kata Ahmad Fuadi, ada beberapa macam alasan untuk menulis. Adakalanya menulis untuk memberi informasi dan ada pula menulis untuk sekedar menghibur. Seyogyanya bahwa menulis itu dilakukan untuk menebar kebaikan. Hal yang penting yang dirinya percaya terkait dengan tulis-menulis yaitu, pertama bahwa kata-kata itu sesungguhnya bisa lebih ampuh dari sebuah peluru. Peluru bisa menembus ke satu kepala, sedangkan kata-kata yang ampuh itu bisa menembus ke banyak kepala. Selain itu, peluru bisa mematikan, sedangkan kalau kata-kata ampuh itu bisa dirangkai dengan kalimat yang baik dan bisa lebih menguat bisa menginspirasi ke banyak orang. Paling tidak, seseorang itu bisa menulis di sebuah SMS atau sosial media yang bisa menghadirkan tawa kecil orang lain atau inspirasi. Ahamd Fuadi yakin bahwa dengan menulis, kita bisa melintasi gografis, agama dan bahkan batas sosial. Karena dengan menulis, kita bisa mengeluarkan gagasan dan menjangkau ke berbagai kalangan.

Hal yang menarik dari novel Negeri 5 Menara ini, yang secara umumnya memiliki tema keislaman, ternyata bisa menjadikan seorang Ahmad Fuadi diterima dan didengarkan gagasannya oleh orang-orang nasrani. Karena di cerita islami tersebut nilai keagamaannya yang baik sehingga bisa menyentuh sampai ke hati tanpa membuat orang lain resah akan kepercayaan yang dianutnya, dan nilai kebaikan agama itu tidak mengancam agama lain.

Dalam pandangan tentang tulis menulis, Ahmad Fuadi percaya bahwa tulisan yang baik semestinya menggerakkan dan menghadirkan inspirasi. Beliau memaparkan bahwa tulisan yang baik itu tidak hanya menghadirkan kekaguman, tetapi memiliki kekuatan untuk membuat pembacanya seolah-olah ikut bergerak melakukan sesuatu. Dan setelah membaca sebuah tulisan yang bagus, pembaca bisa merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu itu. Maka dari situlah sesungguhnya muara dari tujuan menulis itu. 

Ahmad Fuadi juga mengatakan bahwa menulis itu bisa membuat awet muda seseorang. Untuk nasehat yang satu ini dirinya dapatkan dari nasihat salah satu Ustadz di Gontor. Ustad beliau mengatakan bahwa dengan menulis, maka penulisnya akan tetap hidup lewat gagasan-gagasan yang dibacanya. Selain itu, penulis itu tidak akan pernah mati karena tulisannya akan terus dibaca hingga lintas zaman.


Tips menulis: WHY, WHAT, HOW, WHEN 

WHY: Mengapa kita harus menulis?

Ada satu ajaran penting yang selalu ia ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Hidupnya dihantui dengan sebuah pertanyaan “ Apa yang saya (Ahmad Faudi) bisa saya lakukan agar bermanfaat untuk orang lain?" Nah, jawaban yang paling mendasar bagi Ahmad Faudi yaitu dengan menulis buku atau novel. Sehingga jawaban dari sebuah pertanyaan Mengapa kita harus menulis? Maka jawabannya yaitu bahwa semakin besar motivasi yang tumbuh dan semakin besar harapan kita untuk berhasil dan menghasilkan sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.


WHAT: Apa yang akan kita tulis?

Sebaiknya menulis yang terbaik itu adalah apa yang menjadi gairah, dipedulikan, dan apa yang disenangi. Menulis dengan apa yang paling kita pedulikan, kita tidak akan merasa cepat bosan menulisnya. Kita bisa bertanya dengan teman-teman atau orang lain hal-hal apa yang mereka bicarakan tidak pernah bosan ketika didengarkan. Begitu juga dengan menulis hal-hal apa saja yang kiranya menarik untuk dibahas dan tidak membuat jenuh.


HOW: Bagaimana kita menuliskannya?

Untuk menulis agar bisa menghadirkan kesan yang berbeda perlu dilakukan dengan belajar dan sungguh-sungguh. Menurutnya bahwa menulis itu bisa dilakukan siapa saja, asal dia mau belajar dan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang tepat.


WHEN: Kapan sebaiknya menulis?

Saat terbaik untuk memulai menulis yaitu Sekarang. Menurut Fuadi, waktu menulis yang paling efekti yaitu subuh ketika bangun tidur, dan sore atau malam sepulang kerja. Gunakan setiap harinya untuk menulis, misalkan sore setengah jam, malam setengah jam, dan subuh setengah jam. Lakukan itu dengan konsisten, maka lama kelamaan dari selembar menjadi sebuah, beberapa halaman, dan akhirnya menjadi sebuah buku.

Ahmad Fuadi
Demikian ulasan singkat tentang profil dari Ahmad Fuadi, salah satu nama yang terkenal sebagai penulis buku novel best seller di Indonesia. Apakah perjalanan hidup dan pesan-pesan yang ia sampaikan cukup menginspirasimu? 

Salam berkuliah.com

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Apa Kata Mereka? "Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan"...(Part 3)

Negara Indonesia seringkali dianggap merupakan salah satu negara yang mutu pendidikannya masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan dikalangan ASEAN, bangsa Indonesia termasuk golongan yang mempunyai kualitas SDM paling rendah. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan di Indonesia masih belum berfungsi seperti yang diharapakan. Maka dari itu, untuk semua itu, pendidikan di Indonesia harus segera diperbaiki agar mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul, berkarakter dan berprestasi di segala bidang agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lainnya.

Untuk melakukan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia diperlukan sistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Untuk memperbaikinya dilakukan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan di perguruan tinggi sekalipun. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menggunakan sistem pendidikan dengan pola kebijakan yang sesuai dengan karakter Indonesia.

Pendidikan di Indonesia sendiri adalah pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik secara terstruktur maupun non terstruktur. Pendidikan di Indonesia ini secara khususnya menjadi tanggung jawab Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan Republik Indonesia (Kemdikbud). Saat ini, kita ketahui bahwa semua penduduk wajib mengikuti program belajar 9 tahun. Karena dengan belajar, masyarakat Indonesia mampu mengikuti arus global dan mengejar segala ketertinggalan dari negara lain. Tetapi, pada kenyataanya sekarang ini masih banyak juga yang penduduk di Indonesia terutama generasi penerus yang masih belum bisa mengenyam pendidikan sama sekali karena terkendalanya beberapa faktor, termasuk faktor ekonomi dan tenaga pendidik yang ada di daerah. Dalam era yang sudah mengglobal ini, diharapkan dalam kepemimpinan dan kemetrian yang baru nanti hal tersebut tidak boleh terjadi, karena akan menghambat perkembangan SDM dan bangsa Indonesia itu sendiri. Oleh sebab itu, dari pemerintah Indonesia terutama Kementrian Pendidikan yang baru nanti harus mengambil kebijakan dan membuat sistem pendidikan yang benar-benar mampu memperbaiki masalah tersebut. Ini menurut penulis....

Nah, mengingat dengan terpilihnya presiden terbaru kita pak Jokowi pada pemilu kemarin, sistem pemerintahan di Indonesia otomatis juga ada perubahan, termasuk dengan Menteri Pendidikan di Indonesia. Terkait dengan Menteri Pendidikan yang baru nanti, maka dari itu berkuliah.com kali ini melanjutkan beberapa atrikel dengan topik yang sama dengan sebelumnya yang mencoba menginterview beberapa mahasiswa, dosen, serta masyarakat dari berbagai kalangan yang juga merupakan para agen pendidikan. Mari kita dengar apa saja pendapat mereka ketika 'Menjadi Menteri Pendidikan'? Berikut ulasannya:


Anik Kristiyana

                                     Jurusan: S1 Akuntansi - Pelita Bangsa Bekasi

Ya, kalo menurutku sih seandainya jadi Menteri Pendidikan, saya akan lebih memperhatikan siswa di Indonesia, dan dalam menetapkan kurikulum harus sesuai dengan norma di Indonesia. Karena yang saya lihat beberapa bulan lalu di sebuah buku Penjaskes kelas XI ada tema pacaran sehat, seharusnya itu tidak boleh dimasukkan dalam pembelajaran, karena secara tidak langsung pemerintah mendukung hal tersebut. Kemudian langkah lain saya akan memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia dengan cara merekrut tenaga pengajar yang profesional sesuai dengan bidangnya.


Sri Aji 

                 Jurusan: D3 Teknik Mesin, Organisasi : BEM di Kampus UGM - UGM

Waduh...Saya enggak begitu ngikutin kerja Menteri Pendidikan. Tapi, seandainya saya jadi Menteri Pendidikan :
Aku pengen ada improve sistem dari kerja menteri sebelumnya, dan semuanya dikerjakan harus serba cepat.
Dari tingkat SD harus ada pemetaan minat dan bakat siswa yang dilakukan oleh guru pengajar selama 6 tahun masa ajar. Pembelajarannya seperti yang ada di luar negeri, tidak rancu seperti sekarang. Dari SD, SMP, SMA ketemu IPA, IPS terus. Harusnya udah spesifik lagi. Tidak harus SD dulu, tapi minimal masuk SMP udah langsung ada pemetaan ke bidang sains/sosial, jadi ilmunya nanti lebih matang.
Adanya beasiswa gratis sekolah sampai masuk perguruan tinggi buat anak-anak yang pintar tapi kurang mampu (yang ini masih banyak banget khusususnya yang belum diekspos).
Adanya asrama buat anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena faktor ekonomi orangtua supaya dapat menganyam pendidikan setingi-tingginya.
Wajib sekolah 9 tahun jangan jadiin wacana saja, tetapi harus dilakukan bagaimana itu caranya namanya harus sekolah. 


Ernawati 

            Jurusan  : S1 Perawat - Akper Karya Bakti Husada Yogyakarta

Yaa...Kalau saya jadi Menteri Pendidikan yang baru nanti, saya akan lebih mengutamakan dan menyejahterakan siswa-siswa atau mahasiswa yang mereka benar-benar mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar dan maju, menfasilitasi sekolah-sekolah yang kurang lengkap fasilitasnya, memberikan beasiswa ataupun bantuan khususnya untuk anak-anak yang kurang mampu, karena mereka juga berhak mengenyam pendidikan sekolah yang lebih baik lagi.

Berhubung saya kuliah mengambil jurusan di bidang kesehatan, saya akan mengenalkan sistem SOP kepada mahasiswa atau mahasiswi di kampus manapun, agar ketika praktek langsung nanti dalam merawat dan mengerjakan sesuatu mengenai keperawatan sudah terbiasa menggunakan sistem SOP.


Eko Yunianto

                         Asisten Dosen di STMIK El Rahma Yogyakarta

Kalau seandainya saya jadi Menteri Pendidikan di Indonesia, yang pertama saya akan lebih mengutamakan ke pendidikan karakter dan mental. Namun, sebelumnya saya akan memberikan pelatihan kepada guru-guru supaya mereka lebih pandai dalam memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak didiknya sesuai dengan usia siswanya.

Yang kedua, saya akan memberikan penyuluhan kepada siswa-siswa atau anak didik dan memberikan pengertian siswa itu bukan untuk disuapi ilmu oleh seorang guru, tetapi siswa mengambil nasi ilmu dari bakul guru untuk dimakan. Dengan kata lain, siswa harus aktif belajar dan terus belajar.

Ketiga, Saya akan memecat semua guru atau dosen yang benar-banar tidak berkompeten di bidang yang mereka ajarkan. Merekrut guru atau dosen dengan mempertimbangkan karakter, kreativitas dan motivasi bukan hanya sekedar almuni dengan segala-gelarnya.

Keempat, saya akan menegaskan dalam pergantian kurikulum normatif minimal 10 tahun. Jangan seperti kurikulum sekarang ini, belum mulai dijalankan sudah mau diganti lagi, hal tersebut membuat bingung guru dan bahkan siswa-siswanya.


Dimar Femi

                             Jurusan : S1 Kebidanan – Poltekes Negeri Yogyakarta

Yang saya lakukan akan mengadakan penyeleksian perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan syarat-syaratnya, karena mengingat lapangan pekerjaan yang sempit sekarang.


Siti Darojah 

                               Jurusan  : S1Pendidikan Biologi – UIN Yogyakarta

Memberikan kurikulum berbasis masyarakat, dan membuat perpustakaan per kampung. Jika saya menjadi menteri, saya akan menanamkan pendidikan sesuai syariat islam dan metode islam. Yang akan saya tanamkan kepada anak didikan adalah penanaman Aqidah yang kokoh, penerapan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak meninggalkan ilmu dunia.


Oji Setyawan

 Jurusan : S1 Teknik Informatika, Organisasi: Kelompok Studi Linux – STMIK El Rahma Yogyakarta

Saya akan mengubah seragam menjadi seperti seragam siswa Jepang agar telihat rapi dan sopan. Hehe. Selain itu, saya akan mendisiplinkan jam masuk dan mengurangi jumlah mata pelajaran yang kurang penting. Karena mengingat saat ini mahasiswa ataupun siswa SD, SMP, SMA dan bahkan di perkuliahan kenyataannya masih ada pula yang memberikan banyak materi yang sesungguhnya itu membebani para siswanya.


Hakim Mirza

                   Jurusan  : S1 Statistik - Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Apabila saya jadi menteri, nanti saya akan lebih mengutamakan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan cara pengoptimalan untuk pembangunan fasilitas pendidikan keberbagai sekolah-sekolah atau tempat-tempat yang terkait dengan pendidikan. Selain itu, saya akan mengadakan pencetakan kader-kader pengajar yang professional dan kompeten untuk disebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Arohman Nur Prabowo 

  Jurusan: S1Teknik Informatika, Organisasi : HIMATIKA. STMIK El Rahma Yogyakarta

Seandainya saya menjadi Mentri Pendidikan, saya akan merubah sistem pendidikan sekarang menjadi lebih maju agar negara yang dulu pernah disegani di Asia ini tidak tertinggal jauh dari negara lain, baik dari negara-negara maju di Eropa, Asia bahkan di Asia Tenggara. Sistem pendidikan yang tidak merata di setiap daerah yang menjadi fokus utama saya nantinya. Saat ini banyak kota besar yang memiliki kualitas pendidikan yang tidak bisa diragukan lagi, bahkan saat ini sudah bertaraf internasional. Banyak sekolah-sekolah asing yang memiliki kualitas internasional yang didirikan di negara tercinta kita ini, namun seperti langit dan bumi kualitas pendidikan di kota-kota kecil atau daerah pegunungan atau daerah terpencil amat sangat jauh tertinggal dibanding di kota-kota besar. Mulai dari fasilitas yang sangat kurang seperti rusaknya bangunan sekolah yang tak lekas diperbaiki, bahkan ada yang sampai menumpang di rumah warga. Selain itu juga kurikulum yang diajarkan pun jauh berbeda dengan kota-kota besar selain itu fasilitas penunjang pembelajaran yang tidak tersedia, hingga jumlah tenaga pengajar yang terbanding terbalik dengan tenaga pengajar yang berada di kota-kota besar. 

Program kerja utama jika saya menjadi Menteri Pendidikan nanti, yaitu :

Pertama, saya akan penyamarataan kualitas pendidikan, karena banyak potensi-potensi yang belum di asah dan tidak terdeteksi keberadaanya berada di kota-kota kecil bahkan terpencil.
Yang kedua yaitu peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga pengajar. Tenaga pengajar merupakan ujung tombak kemajuan bangsa ini, jika kuatitas pengajar buruk, maka buruk pula anak didiknya. Selain itu, kesejahteraan tenaga pengajar merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan. Tenaga pengajar haruslah mendapat penghargaan lebih, upaya mereka terpacu untuk mengembangkan kualitas anak didiknya yang akhirnya akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang berpendidikan dan disegani oleh bangsa lain.


Wiznu Riyadh

     Alumni Jurusan S1Teknik Informatika– STMIK El Rahma Yogyakarta

Langkah yang saya ambil seandainya saya jadi Menteri Pendidikan :

Mengubah sistem pendidikan menjadi lebih nyaman untuk tenaga pendidik dan siswanya.
Mengubah kurikulum yang ada. Karena kurikulum sekarang faktanya memang membebani guru dan siswa. Guru terbebani dengan kurikulum yang diberlakukan. Sedangkan siswa terlalu banyak beban pendidikan yang mereka dapatkan. Jadi, bisa diubah menjadi sistem pendidikan yang lebih nyaman seperti halnya di negara-negara Eropa. Siswa belajar sesuai minat yang mereka inginkan, bukan seperti di Indonesiasaat ini seakan-akan siswa dipaksa untuk bisa semua hal.


Kang Arif 

                Jurusan  : S1Teknik Informatika -  STMIK El Rahma Yogyakarta

Mengubah kurikulum agar mahasiswa tidak terlalu dibebani dengan kurikulum yang sebelumnya. Memprioritaskan kapada anak-anak yang kurang mampu untuk mendapat beasiswa sekolah atau kuliah untuk.


Mariana 

                 Jurusan  : S1 Pendidikan Matematika – Universitas Negeri Yogyakarta
Saya akan perbanyak beasiswa dan pelatihan guru-guru gratis. Beasiswa yang paling utama bagi mereka yang kurang mampu disamping itu mereka mempunyai minat, bakat dan motivasi yang tinggi untuk belajar. Palatihan guru kepada guru-guru yang sudah terjun langsung ke sekolah-sekolah, dan sekolah-sekolah itu di daerah terpencil. Otomatis saya akan mengadakan pelatihan kepada guru-guru di sana agar lebih berkompeten lagi dalam mengajar.


Tri Wahyu Intan Wulan Sari

         Jurusan  : S1 Ilmu Kepemerintahan– Universitas Gajah Mada
Mengurangi jam belajar di sekolah-sekolah. Misalkan dari jam 9-10 saja. Karena jika seperti jam belajar sekarang yang dari jam 7 sampai jam 15.00 itu malah membuat jenuh dan suntuk kepada siswanya karena sudah tidak ada energi yang baik lagi dalam menerim apelajaran. Sebaiknya jam belajar it digunakan untuk materi yang benar-benar diprioritaskan ke materi yang lebih penting misalkan ke materi yang sesuai dengan bidang siswanya. Kemudian saya akan melakukan penghapusan UNAS diganti dengan bimbingan tiap awal  masuk sekolah. Seperti kaya dosen pembimbing gitulah, jadi dosen selalu ngarahin belajar sesuai cita-cita siswanya.


Dedey Erwanda

              Jurusan  : S1Pendidikan Agama Islam– STIQ Ngrukem Bantul

Banyak yang saya lakukan nanti jika saya menjadi Menteri Pendidikan, di antaranya :

Yang pertama akan menghapus sistem kurikulum 2013. Menurutku lebih baik menggunakan kurikulum yang tahun sebelumnya.
Saya akan memusat titikan pada akhlak dengan cara memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada guru-guru agar dapat memberikan pelajaran dengan makharimal akhlaq dengan baik kepada anak didiknya. 
Merubah aplikasi pembelajaran dan mengadakan pembelajaran praktek langsung sesuai bidang pendidikannya di lingkungan masyarakat.
Mensubstansikan bagaimana perpustakaan itu lebih lengkap dengan cara memberikan bantuan buku.
Akan memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada orang tua agar orang tua itu mampu memberikan pembelajaran terutama dalam pembentukan karakter bagi orang tua yang mempunyai anak yang asih dasar. Hal tersebut diharapkan agar orangtua mampu memberikan arah yang baik dan pembelajaran yang mudah diterima oleh anak-anaknya. Agar tidak hanya guru saja yang berpotensi dalam pembelajarankarena menurut survey dari badan penyuluhan bahwa hampir 75 % remaja dikalangan SD, SMP, SMK itu banyak yang memakai obat terlarang dan merokok.Hal itu sngat tidak baik untuk generasi penerus kita.Dengan kata lain saya harus membuat suatu aturan undang-undang bahwa orangtua dan guru sama pentingnya untuk mendidik dan memberikan pengarahan yang baik kepada anak didiknya.
Memperbanyak beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu.
Mempelengkapi fasilitas di sekolah-sekolah yang kurang lengkap seperti kebutuhan tekhnologi seperti komputer, proyektor dan lain sebagainya.


Noventi Aprizah 

                          Jurusan  : S1Teknik Informatika – STMIK El Rahma Yogyakarta
Mewajibkan kepada seluruh generasi muda untuk belajar 12 tahun, dan mengadakan pendidikan gratis bagi yang kurang mampubagi siswa-siswa SD, SMP, SMA bahkan untuk merek ayang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.


Yuniati 

                Jurusan  : S1PGSD – Universitas Tamansiswa Yogyakarta

Saya akan membenahi sistem pendidikan bersama, misalkan membenahi kurikulum yang ada. Sebelumnya membuat kurikulum harus dipikir-pikir dulu lebih matang tidak asal mengambil keputusan. Sapras harus siap sebelum ganti kurikulum. Tidak seperti tahun sekarang ganti kurikulum tapi masih banyak sekolah yang belummenerima buku terbaru. Dan kenyataannya ada yang menerima buku, tapi salah penerbit gara-gara tender-tenderan mendadak.


Adi Priambudi 

                              Jurusan : D3 Manajemen perkantoran LP3I Cikarang

Memotong gaji DPR RI untuk keperluan fasilitas pendidikan. Memperbanyak belajar praktek, memberikan materi yang lebih berbobot untuk semua bidang akademik siswanya, pedoman Pancasila dikuatkan dan memperketat jam waktu belajar agar tidak ada murid yang keloyongan atau bolos.


Harry Rahmanto 

                                Guru SMK Muh Girimulyo Yogyakarta

Mengangkat guru-guru honorer menjadi PNS dan bukan mengangkat guru honorer lewat CPNS. Mengingat terkadang masih banyak siswa yang jenuh ketika guru sedang menerangkan materi. Maka lebih tegasnya saya akan membuat program untuk penyeleksian dan atau memberikan pelatihan khusus kepada guru-guru di Indonesia agar mereka mampu dan memberikan pelajaran secara berkompeten dan berbobot untuk anak didiknya, supaya para siswa mampu menangkap materi dengan baik yang diajarkan guru. Selain itu, saya akan lebih menambah pelajaran praktek di sekolah-sekolah meskipun itu SMA.


Miftakhul Khasanah 

              Jurusan  : S1Pendidikan Matematika Universitas Veteran Yogyakarta

Tidak kepikiran untuk jadi Menteri Pendidikan. Hee.. Tapi, seandainya saja jadi Menteri Pendidikan di Indonesia saya akan mengubah kurikulum yang ada sebelumnya yang rata-rata memberatkan para siswa karena materi dan waktu terlalu dipadatkan. Saya akan memberi materi menyesuaikan dengan usia siswa.


Agus Hermanta

                             Guru TIK (Komputer) di salah satu SMK di Yogyakarta.

Membuat sistem pendidikan yang berorientasi pada kemandirian dan keberagaman kebudayaaan. Tidak meninggalkan budaya timur dan tidak menghindari budaya barat.


Herdisel Santosa 

                     Jurusan  : S1 Teknik Informatika– STMIK EL Rahma Yogyakarta

Mengembalikan kurikulum ke jaman kurikulum tahun 2000an. Menanamkan pada siswa pentingnya belajar. Tidak membenani siswa dengan mata pelajaran yang banyak, tapi siswa tidak tahu gunanya. Siswa malah jadi individual dan tidak peduli dengan lingkungannya. Pendidikan berbasis bermain bagi tingkat dasar, dengan permainan yang mendidik.


Evi Rusdiarfi 

            Jurusan  : S1 Ilmu Hukum – di Salah satu Universitas di Sumbawa
Ratakan pendidikan, terutama hilangkan dulu kurikulum baru yang nggak cocok buat di Indonesia. Ja ngan ada istilah sekolah internasional, karena itu bikin bobrok. UN perbaiki karena sudah bocor. Bayakkan guru yang PNS dikirim ke pelosok. Kasihan yang sekolah di pelosok bangunan sekolahnya jelek, gurupun nggak punya. Yang terpenting menterinya melihat ke bawah juga. Jangan cuma bisa duduk diam nunggu laporan dari staff. 


Ervi Risma Fitriani 

              Jurusan  : S1 Ekonomi Akuntansi – Universitas Negeri Pamulang

Akan lebih memperhatikan moral anak-anak jaman sekarang. Memperbaiki pendidikan di pedalaman daerah. Dan tetap kalau bisa saya akan memperbanyak pendidikan moral dan keagamaan. Untuk kurikulum anak SD tidak saya berikan materi yang banyak karena hal itu akan membebani anak-anak yang masih belia. Saya akan lebih membentuk karakter anak-anak dasar tersebut, bukan malah memberikan pelajaran yang sulit-sulit.


Nahh, sekian hasil interview yang berhasil diliput tim berkuliah.com kepada teman-teman, guru ataupun dosen di berbagai bidang akademik atau profesi mereka. Dengan membaca pendapat mereka, adakah harapan lain di benak kamu terkait dengan  Sistem Pendidikan di Indonesia, setelah terpilihnya Menteri Pendidikan di Indonesia yang baru? Semoga sistem pendidikan nanti akan berjalan sesuai harapan dan memang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Sehingga bisa berjalan sesuai cita-cita bangsa Indonesia, generasi-generasi penerus lebih berkualitas dan berkompeten sehingga mampu mengejar bangsa lain yang lebih maju. 

Salam berkuliah.com

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top