Nggak Boleh Kuliah ke Luar Negeri sama Orangtua? Baca Ini Dulu!

Banyak yang curhat ke gue kalo mereka ga dibolehin keluar negeri sama orang tuanya dengan berbagai alasan. Terutama anak2 cewe. Alasan paling klasik pasti satu: BAHAYA.

Emang bahaya apa sih?

Apa sih bedanya kalo kalian tinggal di Aceh trus dapet kuliah di Makassar? Itu sama2 belum tentu bakal ketemu tiap tahun. Sama2 jauh. Lah terus apa bedanya sama kuliah di Inggris atau Australia misalnya? Bahaya? Lebih bahaya di Jakarta bung!

Awalnya orang tua gue juga ga 100% ngedukung. Tapi gue jelasin ke mereka kenapa gue harus kuliah ke Paris. Kenapa mereka ga perlu khawatir. Yang awalnya ga ngedukung, eh malah mereka yang semangat banget kapan gue berangkat.

Nah menurut gue, Kuncinya di KOMUNIKASI.

Buat temen2 yang punya kasus kaya gini, kalian bisa ikutin tips2 ini:



Bilang ke mereka ini kesempatan sekali seumur hidup

Serius deh, kalo ntar udah kerja, apalagi udah nikah, bakalan susah banget. Menurut gue ya, umur 20-25 itu waktunya kita nikmati hidup. Kita udah non stop 18 tahun belajar dari TK ampe lulus kuliah, yah break sedikit gapapa dong. Umur paling pas kalo mau kuliah di Eropa itu dibawah 26, soalnya kita dianggap Student jadi semua serba murah bahkan gratis! Gue bisa bilang, 2,5 tahun gue di Eropa was the best time in my life!


Persiapin counter attack

Kalian pasti bisa nebak dong kira2 apa argumen orang tua kalian? Nah disitulah lo udah harus siapin jawaban. Misalnya, kuliah keluar bahaya. Bahaya apa? Bisa dibilang jauh lebih bahaya di Jakarta daripada di London atau Paris loh. Atau anak cw bahaya keluar negeri. Lah buktinya ada ribuan pelajar cw yang lagi kuliah diluar and mereka fine2 aja tuh? Berjilbab? Lah temen2 gue aja pada jilbab semua. And ga ada masalah tuh. Bahkan banyak yang baru lulus SMA langsung keluar. Dan kalo mereka bisa, kenapa kalian nggak?


Yakinkan mereka in case ada apa2, banyak yg bisa bantu

Di tiap negara ada KBRI kok, jadi kalo ada apa2, kita bisa minta bantuan ke mereka. Juga pasti ada temen2 PPI lain yang kuliah disana. Temen2 PPI itu udah kaya saudara sendiri jadi pasti selalu siap saling bantu kalo ada apa2.


Kasitau dari jauh2 hari

Jangan gara2 abis liat foto temennya di FB lagi asik jalan2 keliling dunia trus lo tiba2 berhenti kerja trus bilang ke ortu pengen kuliah keluar. Kasitau dari jauh2 hari.


Buat List kenapa harus kesana

Nah buat meyakinkan orang tua, kalian jelasin yang detail kenapa kalian harus kuliah keluar. Misal: buat karir. Nanti begitu pula lebih gampang dapet kerja atau naik jabatan. Juga nambah pengalaman, membuka wawasan, atau bahasa. Bikin mereka yakin kalo ini keputusan tepat. Banyak loh temen gue yang mundur dari kerjanya padahal gajinya gede demi kuliah keluar. Mereka bilang mereka pengen nikmati hidup, pengen belajar lagi, dan kelak pas mereka balik, mereka kadang langsung loncat jabatan.



Yakinin gampang buat keep in touch

Mama gue juga awalnya selalu khawatir gitu. Tiap 3 hari harus Skype. Tapi lama2 mereka kebiasa. Gue dulu tiap hari cukup bbman bilang ga kenapa2. Yang penting mereka tau kabar. Toh sekarang nelpon kemana aja gratis ga kaya jaman SLJJ dulu. Seminggu sekali kalo kangen, usahain Skypean. Atau tiap hari whatsapp aja sekedar Say hi.


Jangan khawatir uang, bakal cari beasiswa

Kondisi tiap keluarga kan beda2, dan uang pasti bakalan selalu jadi hambatan. Nah kalian yakinin mereka jangan khawatir masalah uang, soalnya kalian bakal cari beasiswa.


Buat mereka ngimpi

Ini yang paling penting. Kalo kalian bisa ngeyakinin mereka biar punya mimpi yang sama, mereka pasti dukung. Gue dulu selalu kaya gitu. Misalnya pas nonton bareng trus di film ada kota2 yang eksotis, gue selalu panas2in, "Mam, nanti kalo beneran kuliah disana, bakal ngajak Mam kesana,"

Dan gue akhirnya beneran bisa ngajak! Alhamdulillah gue pernah ngajak mama papa keliling 25 Kota di 12 negara di Eropa. Gue ajak mereka ke tempat yang bahkan ga pernah mereka impikan sebelumnya. So buat mereka ikutan ngimpi ya.


Wejangan terakhir gue, Jangan pernah kuliah keluar kalo ga dapet restu. Dijamin ga akan beres. Gue bisa survive, bisa lulus, bahkan bisa dapet beasiswa ya berkat doa mereka juga. So minta restu dari mereka dulu ya. Good luck!!!

Oleh : Angga Dwi Putra
Lulusan S2 Sorbonne University, Paris, Perancis.


Oya, so far gw punya 3 mentee yang sukses keterima di kampus luar. Di Prancis, Inggris, sama Jepang. 







Nah, kamu ingin belajar langsung bagaimana caranya kuliah ke luar negeri? Inspira mengabarkan sebuah program yang sangat menarik. Nama program itu adalah Workshop Kuliah ke Luar Negeri’.


KAPAN DAN DIMANA

JAKARTA
Tanggal 22 Oktober 2016
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat Hotel IBIS, Jl. Daan Mogot 50B, Jakarta Barat 11460

YOGYAKARTA
Tanggal 19 November 2016
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat Gowongan InnJalan Gowongan Kidul No. 50, Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283

DEPOK
Tanggal 26 November 2016
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat Hotel SANTIKA, Jalan Margonda Raya Kav. 88, Kota Depok 16423

SURABAYA
Tanggal 03 Desember 2016
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat : IBIS STYLE Surabaya, Jl. Raya Jemursari No. 110-112, Kota Surabaya, 60237

MEDAN
Tanggal 10 Desember 2016
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat : Candi Hotel, Jalan Darusalam No.124, Medan Baru, Kota Medan 20121

ACEH
Tanggal : 11 Desember 2016
Waktu : Pukul 08.00 - 18.00 WIB
Tempat : (Menyusul)

BANDUNG
Tanggal 07 Januari 2017
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat Hotel IBIS Budget Asia Afrika, Jalan Asia Afrika No.128, Kota Bandung 40261

DENPASAR, BALI
Tanggal 14 Januari 2017
Waktu Pukul 09.00 – 19.00 WITA
Tempat (Menyusul)

BALIKPAPAN
Tanggal 28 Januari 2017
Waktu Pukul 08.00 – 18.00 WIB
Tempat (Menyusul)

MAKASSAR
Tanggal 04 Februari 2017
Waktu Pukul 09.00 – 19.00 WITA
Tempat (Menyusul)

Yang akan kamu pelajari :

09.00 - 09.10   Pembukaan
09.10 - 09.20   Pembukaan / Pengenalan Inspirabook
09.20 - 09.30   Ice Breaking
09.30 - 10.15   Sesi I (Harus mulai dari mana?)
10.45 - 11.00   Ice breaking & Tanya-jawab
11.00 - 12.00   Sesi II (Persiapan dokumentasi)

12.00 - 12.30   Istirahat, sholat dan makan siang

12.30 - 13.30   Ice breaking & tanya jawab sesi persiapan dokumentasi
13.30 - 14.30   Sesi III (How to Write Motivation Letter)
14.30 - 15.30   Sesi konsultasi Motivation Letter & Tanya jawab
15.30 - 16.00   Istirahat dan sholat
16.00 - 17.30   Sesi IV (Step by step mendaftar ke kampus di luar negeri)
17.30 - 18.00   Istirahat dan sholat
18.00 - 19.00   Life Hack - Deklarasi Impian


Pemateri :

Angga Dwi Putra 
(University of Sorbonne, Perancis)



Ia menyelesaikan pendidikan S1  di Universitas Indonesia jurusan Akuntansi. Selanjutnya, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah Perancis dengan nama beasiswa Eiffel. Ia menyelesaikan pendidikan S2 di University of Sorbonne, Perancis jurusan Ekonomi pada tahun 2013. Disela-sela kesibukannya kuliah, ia memanfaatkan waktu luangnya untuk keliling dunia. Tercatat, ia sudah mengunjungi lebih dari 40 negara di usia yang dibilang masih cukup muda dan masih akan terus bertambah lagi negara yang ia kunjungi. Setelah menyelesaikan studi di Perancis, ia pulang ke Indonesia dan bekerja sebagai Staf Ahli di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).


Zulkhan Indra Putra
(Founder Inspira Book, Editor In Chief Berkuliah.com)



Zulkhan Indra Putra adalah Ketua PPI India periode 2008-2009. Pendidikan S1-nya ia selesaikan di India melalui beasiswa ICCR. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan Master di bidang Conflict Resolution dari Jamia Milia University India. Saat ini Zulkhan menjadi seorang pengusaha. Selain itu, dia juga mengajar di lembaga non profit Ammal Academy yang bertempat di Yogyakarta.


Desi Utami
(University of Hokkaido, Jepang)


Jepang termasuk dalam salah satu negara favorit tujuan kuliah di Asia, khususnya Asia Timur. Saat ini ada lebih dari 2.000 mahasiswa Indonesia di Jepang, dan kebanyakn dari mereka tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang). Nah, selain itu, mereka bisa kuliah di Jepang, selain ada yang menggunakan biaya sendiri, banyak yang menggunakan beasiswa. Ada banyak macam beasiswa, misalnya DIKTI, LPDP, Monbukagakusho, JASSO, INPEX, Honjo, dll. Untuk bisa menjadi seperti teman-teman yang sudah kuliah ke Jepang, kamu harus banyak belajar dan melakukan riset. Mbak Desi Utami, dosen Fakultas Pertanian UGM yang pernah menjalankan study S2 di Environmental Molecular Biology, Hokkaido University. Ia meraih INPEX Scholarship Awardee dan sudah pernah menerima 7 beasiswa dalam dan luar negeri.


Miftachudin Arjuna
(University of Manchester, Inggris)



Miftachudin Arjuna adalah ketua PPI United Kingdom periode 2011-2012. Saat mengajukan beasiswa, beliau berhasil diterima di beberapa program sekaligus. Setelah menyelesaikan program MA di Manchester University, Inggris, kini Miftah kembali aktif sebagai pengajar di Salatiga dan menjadi trainer TOEFL di berbagai pelatihan tingkat nasional. Perjuangannya sedari kecil sangatlah hebat. Dia paham betul bahwa manusia memiliki kekuatan tidak terbatas di dalam dirinya. Saat ini kisahnya sudah menginspirasi banyak orang untuk berani mengambil tindakan, berubah dan sukses, bagaimanapun kondisi mereka.


Berapa Biayanya?

Kuliah ke luar negeri itu mahal. Bisa menghabiskan dana ratusan juga per tahun. Biaya hidup, pesawat, kehidupan sehari-hari. Kalau mau gratis, kamu harus memakai beasiswa. Dan untuk mendapatkan beasiswa, harus melakukan persiapan yang matang.

Workshop ini membantu kamu untuk memahami persiapan-persiapan itu.

Kesempatan ini ada di depan mata kamu. Dengan mengikuti workshop ini, kamu bisa pelajari cara mendapatkan beasiswa langsung dari orang yang sudah berpengalaman.

HARGA NORMAL
Rp 3 Juta

EARLY BIRD
Rp 1,5 Juta



Fasilitas yang Anda Dapatkan
  1. Bimbingan Prosedur Mendaftar ke Kampus di Luar Negeri
  2. Bimbingan Riset Mencari Beasiswa
  3. Bimbingan Membuat Motivation Letter
  4. Bimbingan Interview
  5. Bimbingan Selama Kuliah di Luar Negeri
  6. Buku "Jurus Ampuh Lolos LPDP"
  7. DVD Series Negara Tujuan Kamu 
  8. Money Back Guarantee 100%. Garansi Kepuasan 100% uang kembali jika Anda tidak puas dengan acara Workshop ini.
  9. Join Grup Mentoring di Whatsapp
  10. Bimbingan selama satu tahun penuh!

Siapa Saja yang Wajib Ikut Pelatihan Ini?
  • Pelajar SMA kelas X sampai kelas XII
  • Mahasiswa D3
  • Mahasiswa S1
  • Mahasiswa S2
  • Sarjana (Karyawan) yang ingin melanjutkan kuliah di Perancis
  • Siapa saja yang punya mimpi ingin melanjutkan study ke Perancis

Foto- Foto Acara
Workshop INSPIRA



  




Apa sih bedanya kuliah di Luar Negeri dan di Indonesia? 

Oleh Angga Dwi Putra

Tepat 4 tahun lalu, gw mulai kuliah di Sorbonne. Kampus yang emang dari dulu gw cita2in. Buat keterima disana itu susah banget bro, banyak persiapannya. Next time gw ceritain lebih detail deh prosesnya.

Nah, mungkin pada penasaran apa sih bedanya kuliah di Sorbonne sana sama di Indonesia? Ada dua hal yang bikin gw kaget pas pertama kali gw masuk kelas.

Yang pertama :

Gara2 muridnya campur aduk blek. Ada yang rambutnya pirang kaya emas, ada yang tingginya 2 meter, yang super cantik ampe bikin bengong, sama bingung banyak banget bahasa beda di satu ruangan. Di depan ada yang ngomong Jerman kaya orang marah2. Achtung aufstellung Schweinsteiger krankenwagen! Di belakang ada duo cw Arab yang juga sama kaya lagi berantem. Yallah yallah kutiba alaikumusyam. Ga ada yang ngomong Inggris. Untung banyak yang ngomong Prancis (yaiyalah) jadi akhirnya bisa ikutan nimbrung.

Satu angkatan gw ada 50 orang dari 22 negara, yang dari Indo cuma gw doang, dari Asia ada 4. Namanya juga insting, temen pertama yang gw dapet, ya dari Asia. Anaknya kecil, manis kaya dari Solo, mungil banget. Namanya Mai dari Vietnam. Yang kedua Cristina dari Rumania (yang ada di foto ini) yang kelak bakal akrab kaya ke saudara sendiri, sama satu cowo Prancis ganteng banget bikin jiper namanya Michael.

Yang kedua :

Yang bikin shock, mereka masih make papan kapur! Di kelas juga ga ada tuh komputer, tapi ada proyektor jadi dosen tinggal colok aja.

Banyak hal unik yang gw alamin selama kuliah disana. 2 tahun belajar, gw ga beli buku sama sekali. Dosen disana bilang, buat teori mah terserah pelajarin dari mana aja. Kalo gw paling suka belajar lewat youtube, soalnya lebih gampang ngerti daripada kalo baca. Kita lebih fokus belajar lewat jurnal, soalnya jurnal itu terus up to date sama perkembangan ilmu baru. Juga karena program gw Ekonomi Psikologi itu relatif ilmu baru juga jadi ga banyak textbook yang ada.

Yang juga kentara bedanya itu hubungan sama dosen. Kalo di kita kan dosen itu posisinya diatas kita banget, kadang takut kalo ketemu, sama ga berani bantah, tapi disana nggak. Dosen itu bisa dibilang sejajar. Kita malah kadang manggil pake nama depan loh. Bahkan ga pake Pak. Langsung nama aja.

Dan dosen disana boleh dibantah. Pernah ada temen gw dari Jerman yang ga setuju sama apa yang diajarin. Mereka debat, trus si Jerman ini maen ngeloyor keluar kelas gitu aja. Pas kelas selesai, gw datengin si dosennya, "madame, kalo saya kaya gitu di Indonesia, saya langsung dikasih E dan ga boleh masuk kelas lagi loh". Tapi dia bilang itu normal. Eh dia malah curhat katanya paling suka murid dari Asia. Pendiem, hormat banget sama dosen, tapi nilainya bagus. Sayangnya untuk point ketiga, gw ga termasuk hiks. Maap mengecewakan anda madame hiks.

Mungkin itu yang ngebuat negara Eropa sana maju. Mereka berani ungkapin pendapat, blak2an, dan mereka hobi banget debat. Pernah kita dua jam debat cuma buat nentuin judul penelitian. Tapi debatnya berkualitas. Kalo dirasa ide lawan debat lebih bagus, mereka sepakat make ide itu, tapi setelah debat panjang dulu. 

Ujian juga beda. Ga ada lagi tuh soal2 apalah (well ada juga sih yang afalan tapi ga banyak). Soalnya open question dan kita boleh jawab sekreatif kita, asal ditopang teori yang kuat. Karena 4 tahun gw kebiasaan afalin buku (bahkan kadang nodong asdos buat minta kisi2 soal ujian), gw jadinya ga kebiasa. Jadilah sering banget mengarang bebas yang akibatnya nilai gw terjun bebas pula. Begitu bandingin sama jawaban temen laen, kerasa banget analisis gw kurang tajam. Gw masih kebawa kebiasaan lama yang selalu berpatokan sama buku atau slide yang dikasih, jadi istilahnya mindahin apa yang ada di buku ke kertas ujian. Tapi disana ga gitu. Kita harus jago analisis dari sudut lain, harus berpikir kreatif dan kita emang ditantang untuk gitu. Ini yang gw rasa masih kurang banget di kita. Mahasiswa kita kebanyakan cuma "know what" bukan "know how and why".

Sidang juga jauh beda. Wah pas gw di FEUI, yang namanya sidang tuh momok banget. Ada temen gw yang sidang sampe 5 jam. Ini sidang skripsi apa sidang cerai? Lama bener. Tegang banget apalagi begitu tau dapet dosen penguji killer. Belum lagi ntar ditanya teori kuliah selama 4 tahun (yang menurut gw ga fair ilmu 4 tahun dites dalam sejam), stres bangetlah pokoknya.

Kalo disana nggak. Gw ga terlalu stres. Nervous sih iya, tapi ga takut. Disana sidang namanya soutenance, sama kaya Inggris artinya defense. Kita berusaha mempertahankan hasil penelitian kita. Bedanya, kalo di kita dosen penguji fokus nyari kesalahan yang kemudian dipake untuk nyerang, kalo disana nggak (ini gw kutip dari tulisan pak Rhenald). Dosen disana justru ngasih saran apa aja yang harus diperbaiki. Dan suasananya santai kaya presentasi biasa aja. Sidangnya pun cuma setengah jam. 15 menit gw paparin hasil riset, 15 menit diskusi. 15 menit lagi ngobrol saya mau apa abis lulus, bahkan si dosen penguji iseng godain nanya, gw dapet pacar Prancis ga selama disini (nggak btw hiks lagi). Pas kelar, saya pelukan sama para dosen. Bilang makasih banget buat bimbingan selama ini. Bener2 bersahabat suasananya.

Tapi yang paling hebat dari sistem pendidikan mereka itu menurut gw ada satu: kuliah full gratis. Ini untuk kampus publik ya. Ga peduli dari negara mana, asal keterima, kita bisa kuliah disana. Dan ga dibedain tuh lo orang lokal apa asing. 

Tapi, ada tapinya, karena kampus publik makanya hampir semua make bahasa pengantar Prancis. Dan minimal Level nya harus B2 atau C1. Kalo ibarat IELTS, lo harus dapet IELTS 8 tapi bahasa Prancis. Lah kalo IELTS Inggris dapet 7 aja susah, ini Prancis pulak! Mana ujiannya susah buanged!! Ya gitu deh perjuangannya.

Yang unik juga, karena gratis, orang sana gampang aja maen pindah jurusan. Temen baek gw Damien, dia aslinya anak kedokteran, tapi di tahun keempat dia berhenti terus pindah ke jurusan gw. Buset padahal tinggal setahun lagi. Pas gw tanya kenapa, dia bilang udah ga tertarik lagi. Daripada stress kalo lanjut, mending pindah. Kalo di kita? Boro2. Buat lolos masuk SPMB aja (gw cuma taunya SPMB) susahnya setengah mati, lah ini pindah. Belagu bener. Tapi mungkin disitulah kunci mereka sukses.

Kan ga semua anak bakalan terus suka ama jurusan yang dia ambil. Kalo di tengah2 ternyata ga suka, harus gimana dong? Yang di SMA suka banget sama Akun tapi ternyata beda banget pas kuliah, kan bisa jadi dilema. Sayang kalo keluar udah susah masuknya, bayar mahal pula, tapi kalo lanjut bakal stres ga bisa ngikutin plus dapet nilai nasakom. Dan terbukti di kelas gw, dari awalnya 50, cuma 37 yang akhirnya lulus. Banyak yang nyerah, pindah jurusan, atau DO karena nilainya jelek. Yang lulus? Pinter2 banget! Kecuali gw yang lulus pas2an hiks hiks hiks.

Dosen disana juga peduli banget sama mahasiswa asing. Tau kita kesulitan make Prancis, mereka pada ngebolehin kita nulis make Inggris. Ujianpun selalu dua bahasa dan kita boleh milih. Mereka juga izinin kita ngerekam pas ngajar, atau foto slide, jadi kita fokus ke apa yang dosen omongin bukan sibuk nyalin slide.

Kuncinya disana "Study Smart, Not Study Hard". Di kelas juga dibolehin make gadget apa aja. Ada dosen yang ngajarin make youtube. Semua tugas, bahan slide, kalo ada yang nemu buku Soft copy atau jurnal bagus, semua dikirim di Dropbox jadi bisa saling share, pokoknya teknologi bener2 dimanfaatin di sana. 

Ada satu percakapan unik pas kita lagi belajar bareng. Kita saling cerita gimana masa sekolah di negara masing2. Pas giliran gw cerita, mereka shock begitu tau kita mulai sekolah jam 7 pagi (bahkan banyak yg mulai setengah 7). Buat mereka, itu ga manusiawi banget, apalagi pas winter (mereka lupa mana ada musim salju di kita).

Mereka juga kaget kita sekolah lama banget. Kita bisa 40 jam seminggu kalo disana rata2 26 jam. Liat aja anak2 SD kita, mereka bisa sama sibuknya kaya karyawan. Udah sekolah sampe jam 4, lanjut ikut les sana sini. Les Inggrislah, biola, renang, macem2 (semoga ga lupa les ngaji aja hehe). Takutnya mereka malah ga nikmatin masa kecil mereka karena kebanyakan belajar. Soalnya ini yang terjadi di China (gw pernah baca di NatGeo terus gw confirm sama temen gw yang dari China. Anak2 disana itu pada stres banget, bahkan banyak yang sampe bunuh diri. jangan sampe deh kita kaya gitu).

Gw kaget banget pas baca (dan ngobrol sama temen gw dari Finland) kalo di negara Scandinavia, banyak yang ga make sistem nilai. Prinsip mereka, school is fun. Ke sesama teman bukan saling bersaing siapa yang nilainya paling bagus, tapi saling ngebantu. Mereka juga banyak aktivitas diluar kelas biar ga bosen.

Dalam psikologi pendidikan, learning atau proses belajar seharusnya dibagi 3, kognitif (ngerti/otak), afektif (ngerasa/hati) sama psychomotor (ngelakuin/tangan). Sayangnya selama ini kita cuma fokus di kognitif aja. Anak sekolahan kita bisa dibilang salah satu yang paling pinter, buktinya menang olimpiade mulu kan? Tapi banyak juga toh yang nyontek, nyari bocoran soal, itu gara2 afektifnya kurang dilatih. Bahkan dibantu sama gurunya. Soalnya kita terlalu fokus sama nilai. Ga heran pas kuliah banyak yang hobi bakar ban sama blokir jalan.

Anak2 kita sekedar jago teori tapi gatau gimana cara aplikasiin ilmunya. Soalnya kita ga dikasih tau tujuan kita belajar ini buat apa. Coba inget pelajaran fisika pas sma dulu. Misalnya gini: sebuah bola seberat 10 kg dijatohin dari lantai 7 dan dibawahnya ada trampolin yang memiliki elastisitas 2N. Hitung berapa jauh jarak Jakarta Surabaya?

Gw yang dari dulu suka ekonomi atau anak2 yang jago gambar, pasti bilang wtf is this shit? Who cares? Emang itu penting belajar fisika tapi ga berarti kita mesti tau semua toh? Gw denger katanya sekarang pengurusan langsung begitu masuk SMA ya? Good good. Soalnya selama SMA, cuma sekali fisika gw ga merah :)

Kurikulum kita juga kebanyakan hafalan. Makanya coba kalo di tempat les, pasti kita dikasih rumus cara cepet. Kita ngafal bukan paham, makanya begitu soalnya dirubah dikit, langsung KO. Kalo disana belum tentu gitu, mereka bisa berkreasi sesukanya. Makanya ga heran banyak industri kreatif kaya developer game banyak yang asalnya dari Scandinavia. Terus nilai gimana? Gw setuju banget sama Pak Anies. IP bukan segalanya, yang penting cukup buat ngelamar beasiswa atau dipanggil wawancara. 

So apa kita harus ikutin sistem pendidikan kaya di Norway atu Finland? Belum tentu bisa. Mereka bisa gitu soalnya penduduknya ga banyak. Kalo kita kasusnya sama kaya di China, karena penduduknya banyak sementara kapasitasnya dikit, persaingannya jadi super ketat. Susah kalo diaplikasiin disini.



Gw udah ga tau lagi gimana kurikulum sekarang, tapi yang pasti pas jaman gw sekolah, gw ngerasa berat banget. Harusnya yang disebut mahasiswa itu bukan anak kuliahan, tapi anak sekolahan. gimana ga maha, anak SMA bahkan SD belajar semua disiplin ilmu sekaligus: sains, ilmu sosial, fisik, agama, sampe tata negara. 16 pelajaran! Juga ga heran anak sd sekarang pada bawa koper derek gara2 banyak buku paket yang berat2. Tiap hari dari jam 7 sampe jam 4. Kuliah aja ga segitunya. Kalo kata pak Mario, shuuuuper sekaliiiii..

Masalah nilai di Prancis juga fair, kita lulus atau nggak tergantung nilai rata2 akhir. Jadi misalnya di satu mata kuliah kita dapet 2tapi yang laen dapet 8, kita diitung lulus soalnya rata2 akhirnya 5. Kalo di kita kan nggak. Misalnya ada satu kuliah yang dapet E trus, kita ga akan bisa lulus, padahal bisa jadi emang kita bener2 ga ngerti. Kan ga fair juga misalnya 143 sks kita A semua tapi ga bisa lulus gara2 kuliah 1 sks.

Tapi ada hal yang jauh lebih penting selain akademik kalo kalian kuliah di luar negeri. Kalian belajar bareng banyak orang dari seluruh dunia, dengan latar belakang beda. Disitu kalian belajar bagaimana bisa bergaul yang kelak bakal berguna banget kalo kerja sama orang asing. Kalian juga belajar hidup di negara baru, yang beda banget sama di Indonesia. Makanan, bahasa, lifestyle, semua bener2 beda. Disitu kita belajar gimana kita memposisikan diri kita. Kita berubah menjadi orang yang baru, yang lebih baik dibanding kalo kita ga pernah keluar.

So, siapa yang pengen ngerasain kuliah keluar negeri?

Nah, kapan lagi bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki mimpi yang sama dengan kamu? Kapan lagi ada kesempatan dapat konsultasi luar negeri gratis, serta belajar step by step kuliah luar negeri dengan biaya semurah ini?

Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu begitu saja.



Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



11 Alasan Lanjut Kuliah ke Negeri Kangguru, Australia

Oleh : Lisa Andriani
“Kamu lanjut kuliah ke luar negeri?” “Iya,” “Wah keren, ya?”
Siapa sih yang tidak berbangga ketika dipuji karena bisa kuliah ke luar negeri? Bisa merasakan belajar di negara asing dengan kebudayaan yang berbudaya menjadi pengalam mengesankan tersendiri. Tentu saja, pikiran pertama yang terlintas dari para pejuang pendidikan tinggi lanjutan pastilah melanjutkan kuliah ke luar negeri. Lalu dari puluhan bahkan ratusan negara tujuan, mana yang sebaiknya kita pilih?

Yup, Australia, si negeri kangguru, menjadi salah satu pilihan destinasi pendidikan terpopuler. Hal ini dibuktikan berdasarkan data statistik yang dirilis oleh UNESCO Institute for Statistics (UIS), Australia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara destinasi para pelajar internasional untuk melanjutkan jenjang pendidikan setelah Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.

Terus, kenapa sih banyak mahasiswa yang memilih Australia? Ini dia jawabannya.





Biaya Mahal? No Need to Worry

Kuliah ke luar negeri tentu saja memakan banyak biaya, tapi tidak perlu khawatir karena pemerintah Australia membuka banyak kesempatan melalui program beasiswanya. Pemerintah Australia setidaknya menganggarkan lebih dari $200.000.000 per tahunnya untuk beasiswa internasional. Persyaratan yang diberikan untuk memperoleh beasiswa pun tidak sesulit dibandingkan beasiswa di negara lainnya.

Terdapat berbagai program beasiswa seperti Australian Awards Scholarship, International Postgraduate Research Scholarships, serta berbagai bantuan pendidikan yang ditawarkan oleh institusi swasta, departemen pendidikan negara bagian, maupun lembaga pendidikan lainnya. Jadi, bagaimana mungkin kamu melewatkan kesempatan emas ini? Free tuition for study aboard is not impossible anymore.


World-Quality University

Kualitas universitas-universitas di Australia sudah diakui secara internasional. Delapan dari 100 universitas terbaik dunia ada di Australia seperti Australian National University, University of Melbourne, University of Sydney, University of New South Wales dan masih banyak universitas unggulan lainnya. Bahkan pada tahun 2015/2016, berdasarkan data Times Higher Education dari 400 universitas unggulan di seluruh dunia, 20 universitas Australia termasuk di dalamnya.
Selain itu, kamu juga bisa memilih program studi dari 22.000 pilihan yang disediakan oleh 1.200 lembaga pendidikan. Tak perlu pusing jauh-jauh memilih, kan?


Sistem Pendidikan Tak Perlu Diragukan Lagi

Pemerintah Australia sangat mengedepankan pendidikan yang berkualitas. Hukumnya pun sangat melindungi siswa internasional. Institusi pendidikan Australia juga telah menerapkan penggunaan inovasi teknologi canggih berstandar internasional. Universitas unggulannya telah memiliki akses internet yang cepat. Fasilitas belajar mengajar seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium di berbagai universitasnya telah dilengkapi teknologi yang modern. Keren, bukan?

Selain itu, banyak mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Australia memberikan testimoni bahwa sistem pendidikan di universitas menuntut mahasiswanya untuk mengembangkan pola pikir dan keaktifan di dalam kelas. Mereka dituntut untuk membangun pemahaman atas materi yang diberikan untuk menghasilkan individu yang inovatif dan independen. Sehingga mereka merasa mendapatkan ilmu yang lebih bermanfaat.


Perkuliahan yang Unggul dan Bermutu

Setiap kelas akan diajar oleh dosen-dosen bahkan professor yang telah mendapat gelar yang diakui secara internasional Dalam proses perkuliahan/coursework, ada 2 jenis kelas yaitu lecture dan tutor. Lecture merupakan kelas besar untuk membahas materi per minggu, sedangkan tutor adalah kelas kecil untuk membahas secara lebih rinci materi di kelas lecture serta menjelaskan soal assignment. Selain itu, research/penelitian yang nantinya kamu kerjakan di Australia sangat dihargai disana bahkan bisa membantumu untuk melebarkan sayap ke jenjang karir ke depannya.


Jaminan yang Berkualitas

Komitmen pemerintah Australia untuk memberikan perlindungan kepada pelajar internasional membuat kamu tidak perlu khawatir kuliah di Australia. Di beberapa program beasiswa, kamu bakal menemukan bahwa pemerintah Australia akan menanggung biaya tidak hanya bagi kamu tapi juga keluargamu yang akan ikut kesana. Kamu juga tidak perlu khawatir mengurus visa, karena pemerintah memberi kemudahan bagi pelajar internasional. Akses pengurusan visa hingga pembayaran administrasinya bisa kamu lakukan lewat online. Keren, bukan?


Disediakannya Kursus Bahasa Inggris

Sebelum menempuh pendidikan di Australia, kamu bakal memperoleh kursus bahasa Inggris untuk membantu kamu dengan mudah beradaptasi di Australia. Metode pengajaran yang digunakan berfokus pada pemikiran kritis, serta kerja kelompok dan proyek dari pengalaman di kehidupan nyata. Jadi kamu tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.


Prospek Karir Setelah Lulus Terbuka Lebar

Kualitas universitas dan pendidikan Australia yang terjamin membuat siswa lulusannya pun lebih unggul dalam dunia kerja. Pusat karir yang disediakan oleh tiap-tiap universitas bakal membantu kamu untuk disalurkan ke berbagai perusahaan-perusahaan bonafit.

Di Australia sendiri menawarkan banyak lowongan pekerjaan bagi kamu yang ingin lanjut bekerja disana. Ditambah kamu juga bakal mendapat pelatihan langsung dari kantor ketika kamu bekerja. Jadi, bukan sekedar ilmu saja tapi juga skill bisa kamu peroleh.


Harmonisnya Lingkungan Multi Budaya 

Australia dikenal sebagai negara dengan keberagaman budayanya seperti Indonesia. Terdapat berbagai ras, etnis dan suku bangsa yang menetap di Australia. Mereka juga menghormati perbedaan agama khususnya Islam dimana di setiap universitas menyediakan ruang untuk beribadah. Mereka dikenal ramah, bersahabat, terbuka dan memiliki gaya hidup yang santai. Sehingga lingkungan disana yang aman dan stabil membuat kamu bakal nyaman untuk belajar.

Banyaknya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia pun, membuat kamu tidak sulit untuk menemukan organisasi masyarakat maupun komunitas pelajar Indonesia di Australia. Tak lupa, bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa sehari-sehari tidak akan menyulitkan kamu untuk berkomunikasi dengan masyarakat disana. Hal ini akan membantu kamu untuk cepat bersosialisasi dengan lingkungan di Australia.


Kuliah OK, Part Time OK

Standar biaya hidup di Australia memang mahal, tapi tidak semahal di Amerika dan Inggris. Tapi kamu tidak perlu khawatir kehabisan uang saku, karena terdapat banyak sekali kesempatan untuk memperoleh kerja sambilan. Universitas di Australia telah menyediakan “pusat hubungan karir” yang memberikan informasi bagi mahasiswa untuk memperoleh pekerjaan sembari kuliah.

Selain itu, Australia juga menawarkan program berlibur sambil bekerja (Working Holiday Maker Program). Disini mencakup visa Working Holiday dan visa Work Holiday, dimana kamu bisa bepergian dan bekerja di Australia selama total 12 bulan dan studi di Australia hingga 4 bulan. Menggiurkan bukan?



Cuaca dan Musim yang Unik

Iklim di Australia bervariasi dan bisa dibilang unik karena letak geografisnya yang sangat luas. Walaupun Australia memiliki 4 musim, namun keadaan disana tidak seperti negara 4 musim lainnya.

Musim panasnya berlangsung dari bulan Desember s/d Februari, musim gugur dari Maret s/d Mei, musim dingin dari bulan Juni s/d Agustus, kemudian musim semi dari bulan September s/d November. Kamu jangan terkejut ketika Natal bukan salju yang menyambutmu tapi justru sinar mentari yang terik. Sudah jadi tradisi di Australia untuk merayakan Natal di pantai sambil berpesta barbekyu. Unik, bukan?

Temperatur musim panas di Australia terkadang bisa berubah ekstrim antara 26oC mencapai 38oC. Ketika musim dingin, beberapa negara bagian suhunya justru tinggi sekitar 20oC. Namun di wilayah lain seperti Canberra, temperatur udara bisa sangat rendah sampai membeku.

Selain itu, wilayah Australia juga dikenal dengan curah hujannya yang tinggi. Jadi, saran buat kamu agar terlebih dulu mengecek kondisi cuaca di kota tujuanmu sebelum berangkat, ya?!. Sehingga kamu bisa membawa perlengkapan yang sesuai keadaan disana.

Last But Not Least, Jangan Lewatkan Kesempatan Eksplorasi Wisata Alam!

Sudah jauh-jauh ke luar negeri, pasti sayang kan kalau tidak menjelajahi wisatanya? Australia sudah dikenal dengan keeksotisan alamnya. Mulai dari keindahan pantai di Fraser Island, Twelve Apostles, Shark Bay, hingga kumpulan karang terbesarnya di Great Barier Reef. Tak kelewatan berbagai gurun pasir, Uluru yang terkenal, air terjun McKenzie dan Kakadu, Blue Mountains yang menawan, serta masih banyak keindahan alam lainnya yang sayang untuk dilewatkan.

Jadi, jangan lupa masukkan daftar jalan-jalanmu selama menempuh pendidikan di Australia.

Mungkin 11 alasan di atas masih kurang untuk menggambarkan mengapa kamu tidak akan menyesal melanjutkan studimu ke Australia. Jadi, giatlah belajar dan berusaha mencari kesempatan. Apalagi kuliah gratis ke Australia bukanlah hal yang mustahil, bukan?

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



8 Mitos tentang Beasiswa Kuliah Luar Negeri yang Sangat Menyesatkan

Minggu lalu gue nonton film Everest (keren filmnya btw) dan ada satu scene yang gue suka banget. Pas si jurnalis nanya, "kenapa kalian nekat mau manjat Everest?". Padahal itu bahaya, susah, mahal, taruhannya nyawa pula. Terus Doug, salah satu pendaki jawab gini:


"I have kids. Maybe if they see regular guy can follow impossible dream, maybe they'll be inspired and do the same"

Bisa dibilang, perjuangan dapet beasiswa sama kaya kalo kita mau daki Everest. Perlu persiapan yang matang, perlu modal, dan juga perlu banyak pengorbanan. Dulu mendaki Everest dirasa mustahil, tapi buktinya gunung setinggi itupun bisa ditaklukan kan? Walau awalnya banyak yang bilang itu gak mungkin.

Dan itulah alasan kenapa sampe sekarang banyak pendaki yang meninggal pas kesana, buat ngebuktiin kalo mereka bisa kesana. Kalo yang laen aja bisa, kenapa gue nggak?

Kalo lo cek kamus, myths artinya “a widely held but false belief or idea”. Sesuatu yang dipercaya banyak orang tapi belum tentu bener. Nah kalo ngejar beasiswa pun banyak mitos-mitos bertebaran yang kamu kira bener padahal nggak.





Apa saja? Ini beberapa diantaranya :

1. Mulai Cari Beasiswa Pas Udah Lulus
Salah banget. Kalo gue boleh saran, mulai kejar pas tahun terakhir, kan udah jarang ada kelas tuh. Daripada ngalor ngidul gak jelas, mending udah mulai cari2 mau ke kampus mana, mulai ikut les persiapan bahasa, atau ikut magang. Pokoknya lakuin sesuatu yang bisa buat CV lo keliatan bagus pas lulus.



2. Cuma Buat Mahasiswa Kampus Negeri

Banyak yang message ke gue gara2 ini dan pada rendah diri duluan. Well, ga semua orang di dunia tau UI, ITB, UGM toh? Mereka nerima aplikasi dari seluruh dunia loh, so lo kira mereka apal semua kampus negeri tiap negara? Kan nggak. Mereka ga cuma ngeliat dari asal kampus kok, tapi kualitas diri lo. Caranya gimana? Itu semua tercermin di CV sama Motlet lo. Makanya harus yang bagus bikinnya. Kalo beasiswa yang saingannya dalam negeri aja, bisa dibilang yang dari negeri emang punya keuntungan. Tapi daftar ya daftar aja, apa salahnya toh?


3. Harus IPK Tinggi
Emang sih banyak yang ngasih syarat IP yang ga berperikemahasiswamediokeran, tapi ga berati lo harus cum laude juga. IP gue pas S1 cuma 3,1 aja kok. Dibanding temen gue yang laen mah gue ga ada apa2nya. Tapi buktinya bisa kan? So berapa minimal batas aman? Kalo gue boleh bilang 3,25. Tapi kalo bisa mah yang 3,5 keatas (yaiyalah). Nah buat lo yang IP nya diatas 2,9 (dua koma sepuluh, dua koma sebelas), mending kurangin deh cabut kuliahnya. Benerin tuh nilai. Saran gue juga, coba deh lo berbakti sesuatu buat lingkungan. Mereka lebih suka orang biasa yang berguna buat orang banyak, daripada orang pinter yang ilmunya dipake sendiri. Ini banyak pengalaman nyata dari temen2 loh.


4. Rumit
Sebenernya rata2 dokumen yang pasti diminta cuma ada 4 kok. CV, motlet, professional plan, sama proposal tesis (inipun ga semua). Kadang ada yang nyuruh kita bikin essay juga. Tapi makin sering kita apply, ntar tinggal copas aja kok sama tinggal dirubah dikit. Masalahnya bikin template surat2 yang bagus dulu, itu yang susah.


5. Susah Nyarinya
Banyak banget yang nanya link beasiswa ke gue. Helloww, tinggal Google aja keleus. Penyakit nomor waheeed banget ini: PADA MALES NYARI! Kadang sebel gue jadinya. Ya bo kalo Google jangan cuma make bahasa indonesia aja toh yo. Pake inggris kek, German Scholarship, bourse francais atau bahasa negara tujuan apa gitu. Kan abis itu tinggal Google translate. Atau kalo ada event beasiswa, datengin. Akhir bulan ini ada EHEF pameran beasiswa Eropa terbesar loh.


6. Yang Penting Bisa Inggris
Kalo lo kuliah di UK, US, atau Belanda, iya emang. Tapi kalo di negara laen walau kuliah full in English, lo tetep setidaknya harus bisa bahasa mereka buat survive. Soalnya ntar kan kalo ngurusin administrasi, imigrasi, bank, semua kan urus sendiri dan ga semua bisa Inggris. Gue ga ngerti deh kok anak2 Erasmus bisa survive ya pindah negara tiap semester. Hebat mereka. Makanya banyak yang ambil kelas persiapan dulu setahun.


7. Cuma Buat Yang Ga Mampu
Ngaco banget. Ini umumnya kalo beasiswa dalam negeri. Kalo keluar, mereka nyari yang the best quality, Ga peduli kere apa nggak. Beasiswa gue emang dari awal ditujukan buat profesional, jadi mereka ga peduli gue tajir apa nggak yang penting kelak gue bakal bermanfaat buat Prancis entah gimana caranya. Ada juga yang khusus buat dosen. Banyak deh. Makanya rajin2 cari inpoh.


8. Yang Diterima Dikit, Mustahil Broh
Bulan lalu gue diundang seminar ADB untuk posisi Young Professional Program, sama kaya PBB. Mereka nerima 5.000 lamaran, nah lo tau yang diambil berapa? SEMBILAN. Kalo diliat secara matematis, 1 dari 500 emang bikin lemes, tapi kenapa lo semua pada nyerah duluan? Kenapa ga fokus gimana biar bisa jadi si yang 1 itu? Walau kelak ga diterima, setidaknya level lo udah naek so kelak pas daftar beasiswa laen, peluang kalian lebih gede. Juga sekalian nambah pengalaman ikut tes sama diwawancara. Semakin banyak gagal, semakin banyak belajar.

Well kayanya itu dulu deh. Ntar misalnya ada yang laen, bakal diupdate. Atau mungkin ada yang punya pengalaman sendiri? So, are you ready to climb your own Everest? Emang berat banget perjuangan naek keatas, tapi begitu kita berhasil sampe keatas, rasanya puas bangeeeet! Good luck!


Inspira dan Berkuliah.com membuka kelas "kursus kuliah ke luar negeri".
Ikutin kursus ini, kamu bakal diajarin dari A sampai Z seluk beluk kuliah luar negeri dg beasiswa.  Peluangmu lolos beasiswa luar negeri meningkat ratusan kali lipat. Bimbingan dari mulai PENDAFTARAN sampai KEBERANGKATAN.

Pendaftaran s.d
28 September 2016

Kelas Mulai :
01 Oktober 2016

BIAYA NORMAL
Rp 3.000.000,-

EARLY BIRD (Sebelum 28 September)
Rp 1.500.000,-
BENEFIT :
  1. Bimbingan mulai dari pendaftaran kampus
  2. Bimbingan cari beasiswa
  3. Bimbingan bikin motivation letter
  4. Bimbingan interview
  5. Bimbingan selama kuliah di luar negeri
  6. Grup WA khusus untuk mentoring 1 tahun
  7. Buku “Jurus Ampuh Lolos LPDP”
  8. Eksklusif DVD Series JKLN
  9. Update  info beasiswa
  10. Garansi kepuasan uang kembali 100% 

PEMATERI
Angga Dwi Putra
Alumni S2 Universite Paris 1 Pantheon Sorbonne, Perancis
Peraih Beasiswa Eiffel
Traveler 41 Negara



Seat terbatas untuk 30 siswa saja. Cukup membayar DP 500ribu untuk booking seat.
Setiap peserta memiliki kesempatan buat memenangkan doorprize berupa tiket pesawat pulang pergi ke Singapore.  

Sebarkan ke teman-teman Anda yang ingin kuliah ke luar negeri. Bimbingan satu tahun bersama mas Angga dijamin bakalan menjadi pengalaman yang berharga banget buat masa depannya.
Informasi Lanjut hubungi Telp/SMS/WA:
0821-3600-5515 (Puri)

Jl. Pasir no.35, Yogyakarta 55294
Telp. (0274) 5305734


Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Ingin Kuliah di Tiongkok? Simak Tips dari Grace Berikut Ini

Kisah inspiratif kali ini datang dari Grace Fiona Aletha. Perempuan cantik kelahiran 10 Agustus 23 tahun yang lalu ini sedang menjalani masa kuliah di kampus Chongqing Medical University, Tiongkok jurusan Kedokteran. Grace tinggal di daerah sekitar kampusnya yakni di kota Chongqing.



Grace memulai perkuliahannya tahun 2010. Dia diterima kuliah dengan beasiswa mayor dari kampus yang diadakan pertahun dan diseleksi berdasarkan nilai yang diperoleh dalam perkuliahan. Dara yang lahir di Jakarta ini mendapatkan beasiswa tersebut ditahun pertamanya kuliah.

Grace menyadari benar keinginan kuatnya untuk kuliah ke luar negeri, tidak heran jika semua bisa mulus teraih karena kesiapannya sendiri sudah sangat matang sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Persiapan Grace bisa dibilang cukup detail, dari mulai memilih kampus, memilih negara yang akan dituju untuk berkuliah, jurusan, bahkan sampai melihat seberapa berpeluang beasiswa yang akan dia dapat.

Tentu bukan hal yang singkat dan mudah. Namun Grace menentukan hal tersebut berdasarkan skala prioritas yang menurut dia paling penting, "Pertama saya memilih berdasarkan jurusan, jauh-jauh hari saya sudah tahu dan meyakini jurusan apa yang akan saya ambil kelak ketika berkuliah", tutur Grace dengan penuh keyakinan.

Grace memilih untuk berkuliah di jurusan kedokteran. Memilih jurusan favorit dan keren menurut banyak orang bukan tanpa alasan dipilih Grace. Ada beberapa alasan mengapa Grace memilih jurusan kedokteran : Karena memang tertarik dan karena ingin menjadi bermanfaat untuk banyak orang.

Grace punya passion yang cukup besar untuk mendalami ilmu kedokteran, baginya berkontribusi dalam hal kecil atau besar untuk orang lain sehingga orang lain dapat tersenyum puas karena pertolongannya adalah hal yang sangat menyejukkan bagi kehidupannya.

Menurut Grace hal yang paling menantang saat menjalani kuliah di Chongqing Medical University adalah bahasa dan gaya hidup orang-orang disana. Namun demikian secara keseluruhan orang-orang di Tiongkok cukup baik dan sangat friendly.



"Kita hidup di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi budaya etika dan kesopanan, merupakan keuntungan tersendiri ketika berada dalam lingkungan baru yang asing, hal itu sangat memudahkan kita untuk berbaur dalam pergaulan disana", tutur Grace santun.

Diceritakan lebih detail mengenai  cara bergaul Grace saat di Tiongkok, menurutnya beberapa teman sangat salut dengan orang Indonesia yang saling tolong menolong.

Hal itu diungkapkan bukan tanpa sebab, pasalnya waktu pertama kali para mahasiswa Indonesia datang ke Tiongkok, senior-senior Indonesia tanpa segan langsung membantu juniornya.

Mulai dari mengurus kamar, membeli makanan, perlengkapan, bahkan sebelum datang para senior juga membantu memilihkan kamar yang nyaman untuk mahasiswa baru dari Indonesia yang akan kuliah di sana.

"Perlindungan untuk junior merupakan wujud kepedulian paling nyata dan juga menghapus kesan senioritas buruk yang selama ini santer terdengar dilingkup perkuliahan", ucap Grace antusias.

Lanjut berbicara tentang kegiatan Grace semasa menjalani kuliah di Tiongkok, rupanya ia adalah ketua PPI Tiongkok.


Hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan dalam hidupnya. Lebih menarik lagi, Grace menjalani study dan kegiatan diluar kampusnya dengan sangat baik. Terbukti dengan diperolehnya beasiswa setiap tahun dan kegiatan aktif yang di selenggarakan oleh PPI Tiongkok berjalan dengan baik.

Menurut Grace, akan menjadi sangat sia-sia bila kuliah ke luar negeri namun minim pengalaman yang didapat, mengingat kuliah ke luar negeri membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dan tidak mudah juga untuk kebanyakan orang.


Berbicara mengenai manfaat ketika aktif di PPI Tiongkok, Grace mengaku mendapatkan banyak hal. Mulai dari menambah jaringan, berlatih kerjasama, mengasah cara berfikir, belajar bagaimana cara mengatasi masalah dan lain sebagainya.

Ditanya tentang bagaimana membagi waktu antara kegiatan di kampus dan di luar kampus, Grace punya tips jitu tersendiri.

Untuk bisa menjalankan kegiatannya di luar kampus, Grace sangat aktif dalam mengkoordinir timnya. Menjadi sebuah keberuntungan tersendiri ketika tim yang di pimpin Grace saat ini merupakan tim yang cukup solid dan mampu untuk saling mendukung satu sama lain.

Kemudian tips ketika menjalani perkuliahan di kampus sendiri, Grace benar-benar menggunakan waktunya dengan sangat baik dan optimal untuk belajar. "Jadi harus konsisten dan disiplin, kalau lagi dikampus ya belajar tidak untuk mengurusi hal lain,"

Terakhir, pesan untuk adik-adik yang masih sekolah atau sedang menempuh kuliah S1, yang juga memiliki impian kuliah di Tiongkok adalah :

"Jangan takut. Jangan disia-siakan kesempatan untuk membawa nama Indonesia agar harum. Gunakan apa yang sudah di dapat nantinya untuk merubah Indonesia kearah yang lebih baik".

Narasumber : Grace Fiona Alethea
Reporter : Sri Rahmawati

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Kisah Inspiratif Dari Ida Puspita: Dosen Muda UAD Peraih Beasiswa Australian Development Scholarship!

Australia? Seberapa menariknya negara ini? Kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara ini? Emang ada beasiswa ke Australia?


Kalau kamu punya mimpi kuliah ke Australia tapi masih bertanya seperti itu berarti kamu masih perlu update berita tentang Australia lebih banyak lagi. Australia termasuk salah satu negara favorit mahasiswa Indonesia untuk dijadikan negara tujuan untuk menimba ilmu. Biaya hidup yang tinggi bukan halangan untuk bisa kuliah di negera  ini. Ada banyak beasiswa yang bisa mengcover biaya pendidikanmu.

Mungkin kamu nggak begitu yakin dan mantap dengan informasi yang kamu peroleh sampai saat ini. Nah, mending sekarang silakan simak penjelasan panjang tentang pengalaman dari mbak Ida selama kuliah di Australia. Silakan simak ceritanya dengan hikmat ya...

Halo teman-teman berkuliah.com,
Perkenalkan nama saya Ida Puspita, saat ini saya sedang mengajar (dosen) di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Saya menjadi dosen sejak tahun 2004 di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris. Saya kuliah di Australia mengambil program Master pada tahun 2011 di Universitas Wollongong, Jurusan School of English Literatures and Philosophy, dan saya berhasil menyelesaikannya pada tahun 2012 akhir.

Kenapa saya memilih Australia?

Jadi ceritanya gini, pada awalnya saya sebelum memilih Australia, saya dapat tawaran kuliah dengan beasiswa ke Taiwan. Soalnya pada waktu itu, pemerintah Taiwan sedang jor-joran buat kasih beasiswa kepada mahasiswa Internasional. Tapi, setelah saya pikirkan berulang kali, saya kan mau kuliah sastra inggris, kok ke Taiwan? Paling nggak saya harus kuliah ke negara yang berbahasa Inggris dong, setelah itu baru saya memutuskan untuk ke Australia. Selain itu Australia letaknya juga lumayan dekat dengan Indonesia, dan jurusan saya ada di sana.

Penglaman Seputar Apply



Pertama kali waktu itu saya mencari peluang beasiswa ya tentunya. Soalnya kalau pakai biaya sendiri pasti sangat mahal. Kemudian karena saya dosen, jadi saya memanfaatkan kesempatan yang ada, dan saya mendaftar beasiswa DIKTI. Nah, pada waktu itu saya sudah sampai tahap wawancara, kebetulan saya daftar bareng dengan suami, dan kami berdua gagal.

Saya sempat bertanya kepada pihak DIKTI, “Kenapa saya gagal?”

Ceritanya, kebetulan nomor urut wawancara saya dengan suami itu berurutan, saya lebih dulu baru setelah itu suami saya. Nah pada waktu itu saya ditanya, “Bagaimana dengan keluarga, apakah akan dibawa juga ke Australia?” Karena saya terbiasa jujur, maka dari itu saya mengatakan bahwa suami saya juga ikut mendaftar untuk kuliah ke Australia dengan beasiswa DIKTI.

Kemudian pihak DIKTI bertanya kembali “Nama suaminya siapa?”
Lalu saya sebutkan nama suami saya, dan ditanya lagi “Sekarang suami anda dimana?” Saya jawab “Suami saya sedang di luar menunggu giliran untuk wawancara”,  dan nama suami saya pun di catat oleh petugas wawancara. Kemudian saya hanya ditanya 3-4 pertanyaan dan selesai.

Setelah itu giliran suami saya untuk wawancara di tempat yang sama. Saat suami saya belum duduk sudah ditanya namanya, dan suami saya menjawab iya itu nama saya, kemudian nama suami saya di lingkari. Prosesnya sama, cuma ditanya 3-4 pertanyaan setelah itu selesai. Setelah itu kami sudah punya bad feeling, “Ada apa ya kok ditanya-tanya seperti itu?” dan akhirnya memang betul, kami tidak lolos pada saat itu.

Pada waktu itu kami sempat berburuk sangka, tapi akhirnya kami sadar dan yasudahlah. Pada akhirnya suami saya menyerah, namun saya masih tetap semangat dan terus berusaha mencari jalan dan beasiswa lain. Setelah itu saya memutuskan tidak mendaftar beasiswa DIKTI lagi, saya mau mencoba beasiswa yang sistemnya lebih transparan. Akhirnya saya mencoba mendaftar Australian Development Scholarship (ADS), kalau sekarang namanya sudah ganti menjadi Australian Awards Scholarship (AAS).


Setelah saya mendaftar ADS, disusul ada kabar baik dari DIKTI, bahwa kami bisa mendaftar lagi. Pada waktu itu, akhirnya saya mendaftar DIKTI lagi, suami saya sudah menyerah lah pokoknya, tapi saya mengirimkan berkas suami saya tanpa sepengetahuan beliau. Akhirnya kami berdua dipanggil untuk wawancara, nah di sini kami merasakan ada perbedaan. Kami merasa bahwa kami akan lulus di wawancara ini.

Pada waktu itu, ADS tetep jalan terus. Kabar baiknya, saya diterima ADS sebelum pengumuman dari DIKTI. Kemudian saya menelpon pihak DIKTI untuk memberitahukan hal ini, sehingga nantinya jika saya diterima beasiswa DIKTI, nama saya bisa digantikan oleh orang lain. Setelah itu, pengumuman DIKTI, suami saya akhirnya diterima, dan kami bisa kuliah di Australia sama-sama, dan di universitas yang sama.

Lalu untuk berkas-berkasnya memang cukup memakan waktu dan tenaga dalam proses pengumpulannya. Kalau DIKTI, kita harus apply sendiri ke universitas tujuan, dan untuk bisa mendaftar ke DIKTI, kita harus sudah punya LoA (Letter of Acceptance), dan kalau bisa yang LoA Unconditional. Nah, untuk mendapatkan LoA Unconditional syaratnya kita harus sudah punya sertifikat IELTS. Jadi untuk daftar ke DIKTI dokumen penting urutannya Sertifikat IELTS, kemudian LoA, dan baru syarat yang lainnya.

Pada saat itu kami di bantu oleh salah satu lembaga yang ada di Yogyakarta yaitu Edlink. Lengkapnya Edlink & Connex International Education Consultancy, http://www.edlinkeducation.com/. Almanatnya di Jalan Poncowinatan No. 77, Yogyakarta (0274) 517957.  Nah, Edlink ini membantu sekali dalam pengisian-pengisian formulir , terutama pendaftaran dan pengisian aplikasi. Awalnya kami ingin ke IDP, tapi karena sudah ada kenalan di Edlink, jadi ya Edlink aja.

Kemudian untuk IELTS, menurut saya sangat susah. Jadi saran saya adalah, jangan menganggap sambil lalu, kamu harus belajar  dan mempersiapkan sebaik mungkin. Selain memang biaya tesnya yang mahal, jadi supaya nggak rugi nantinya ketika kamu mengikuti TES IELTS.  Kami yang notabene guru, dosen, pengajar dalam bidang bahasa Inggris di Universitas, yang sudah biasa mengajarkan hal yang sama, menulis Essay bahasa Inggris , dan sebagainya. Ternyata ketika kami dihadapkan dengan ujian IELTS, belum tentu semudah yang dibayangkan.

Jadi untuk mendapatkan LoA itu kita harus mengirimkan sertifikat IELTS. Nanti ketika daftar sudah ada form yang harus di isi menggunakan data IELTS kita. Untuk IELTS ini kita bisa daftar ke beberapa lembaga pendidikan bahasa Inggris. Kalau dulu saya daftar ke IALF (Indonesian Australian Language Foundation) Jakarta. Kalau di Jogja itu ada Real English. Nah skor IELTS untu Master pada waktu itu 6.5 minimal. Dengan syarat tidak ada skor/ nilai di bawah 6 di setiap skor (Reading, Listening, Writing, Speaking). Dan biaya untuk tes IELTS pada waktu itu dua juta lebih, dan semuanya tergantung kurs. Kalau untuk Edlink tidak dipungut biaya baik sebelum dan sesudah kuliah.

Tentang Kampus Wollongong dan Jurusan Sastra Inggris

Rata-rata kampus di Australia ini sudah sangat advance, sudah sangat bagus dan besar. Kampusnya memiliki perpustakaan yang sangat besar, memiliki banyak referensi yang luar biasa, dan saya pikir semua kampus di Australia sudah seperti itu. Kalau kita membutuhkan referensi yang saat itu tidak ada di perpustakaan,  kita bisa sampaikan ke petugas perpustakaan kita butuh apa, halaman berapa sampai berapa, dan tidak sampai satu hari biasanya sudah sampai di email kita, dan itu sangat lengkap bisa dari universitas lain di seluruh dunia. Kenapa demikian? Karena perpustakaannya sudah terkoneksi secara online dengan universitas kampus lain di seluruh dunia.

Sebagai informasi, pada tahun 2015 DIKTI mengurangi jumlah universitas di Australia yang dijadikan tujuan kuliah menggunakan beasiswa DIKTI. Pada tahun lalu masih 35 unviersitas di Australia, dan saat ini menjadi 10 universitas, dan Wollongong masih masuk dalam daftar 10 universitas yang masih di percaya.

Untuk jurusan saya banyak hal menarik di dalamnya. Nah dalam Sastra Inggris, selama ini dari S1 saya selalu belajar Sastra Inggris yang berasal dari Inggris. Sastra ini disebut Sastra Agung atau Canon. Jadi Canon ini adalah karya-karya sastra Agung jaman dulu, kayak karya sastra dari William Shakespeare dan sebagainya. Nah ketika saya masuk di Universitas Wollongong, jurusan ini namanya English Literatures bukan English Literature, ada huruf “s” di belakang. Kenapa demikian? Setelah saya tanya, jawabannya, “Fokus dari jurusan sastra Inggris di University of Wollongong itu berbeda dari kebayakan universitas lainnya. Karena yang dipelajari di sini bukan hanya karya sastra agung saja dari Inggris, tapi karya sastra inggris lainnya yang tidak hanya berasal dari Inggris. Misalnya karya sastra Inggris yang ditulis oleh orang-orang Aborigin, atau karya sastra Inggris yang ditulis oleh orang-orang India. Jadi intinya adalah karya sastra manapun dari manapun yang ditulis dalam bahasa Inggris.


Kalau tempat favorit saya di kampus Wollongong ini ya perpustakaan. Soalnya bisa betah banget, dan bukanya sampai jam 10 malam. Saya pikir begini, kenapa di Indonesia menulis skripsi atau thesis itu lama sekali? Sebabnya bukan karena ketidak mampuan mahasiswanya,t api adalah keterbatasan referensi/ resources. Jadi ketika kita bandingkan perpustakaan di Australia dan di Indonesia ya beda jauh, soalnya di Australia itu perpustakaan diibaratkan jantung . Mahasiswa kan perlu riset, dan riset perlu referensi yang banyak. Nah di Indoensia tidak banyak universitas yang memiliki jantung yang sehat. Karena rata-rata universitas di Indonesia perpustakaannya masih sangat kecil, jadi tidak di anggap sebagai organ tubuh yang penting dalam proses hidup universitas.

Kalau animo mahasiswa Australia nya banyak sekali yang tiap harinya datang ke perpustakaan, karena fasilitasnya sangat lengkap ada 5 lantai. Kita bisa booking ruangan untuk diskusi bersama dengan teman-teman. Kemudian di lantai atas ada tempat training, ada tempat baca pastinya, tempat foto copy mandiri tinggal gesek pakai kartu mahasiswa, dan macam-macam.

Menariknya Mengerjakan Thesis di Wollongong

Saya mendapatkan supervisor 3 orang, dan saya sangat beruntung. Thesis saya tentang “Perbandingan Sastra Australia dengan Sastra Indonesia yang Berbahasa Inggris”. Saya memandingkan tulisan Pramoedya Ananta Toer dengan penulis Australia Susannah Katherine Prichard yang menulis tentang  Suku Aborigin Australia. Saya mendapatkan 3 pembimbing yang sangat luar biasa, salah satunya ahli dalam bidang Indonesia. Mereka sangat luar biasa, saya tidak pernah menemukan sebelumnya hubungan dekat antara Dosen dengan Mahasiswa. Di Australia sendiri dalam memanggil dosen cukup dengan nama depan saja, itu sudah menunjukkan kedekatan, dan melambangkan tidak ada jarak antara dosen dengan mahasiswa.

Ada sebuah sistem per dua minggu (minimal), kita harus ketemu untuk membahas dan melakukan evaluasi thesis. Sebelum dua minggu kita sudah mengirimkan thesis kita via email, setelah dua minggu kita ketemuan di mana sambil membicarakan thesis tersebut. Karena saya di Wollongong saya mengambi major thesis, setengah dari halaman desertasi. Minimal dua minggu ketemu itu mereka gunakan untuk evaluasi total, bukan hanya sekedar memberikan masukan, tapi sampai ke grammar. Nah, dari situ saya berpedoman bahwa nanti ketika saya pulang ke Indonesia akan meniru style mereka dalam membimbing.

Oh iya, soal evaluasi ini karena di Australia sangat mementingkan go green ya, jadi mengeprint itu sangat di minimalisir. Jadi koreksi/ evaluasi dilakukan dengan langsung di Ms. Word atau aplikasi lainnya. Kalau grammar mereka langsung membenarkan di tempat, tapi kalau untuk konsep ada hal yang spesial. Dalam konsep mereka hanya memberikan masukan, mau diterima atau tidak terserah kita. Mereka tidak pernah memaksakaan sekalipun itu benar menurut mereka. Jadi betul-betul manusiawi.

Nah, kebudayaan di Indonesia sering sekali mahasiswa bawa makanan atau barang lain untuk dosen pembimbing. Saya coba sekali waktu itu, dan mereka menolaknya dengan mengatakan “You don’t have to do this!”, mereka juga mengatakan bahwa kita sudah bekerja dengan keras, dan itu sudah sangat cukup. Bahkan saya pernah memberikan novel Pramoedya dan mereka bersikeras untuk mengganti, dan saya mengatakan tidak usah diganti, karena saya tidak ada maksud ada apa-apa.
Dalam memilih tema thesis, saya sudah mengontak pembimbing pada saat apply. Dalam website universitas sudah tertera dosen-dosen pembimbing beserta CV nya. Setelah saya memutuskan oh ini dosen yang bagus, maka saya segera mengontaknya dengan mengirimkan draf proposal thesis saya hanya tiga halaman yang penting sudah menjelaskan bahwa nanti kita di sana akan meneliti apa. Setelah mereka melihat kemudian mereka menyutujui, setelah kita mendaftar dan aplikasi sudah masuk, bagian pendaftaran langsung mengkroscek ke pembimbing yang kita sebutkan. Ketika pembimbing sudah mengatakn iya, maka proses kita akan lebih mudah.

Pada waktu itu yang mendaftarkan saya ke universitas dari ADS karena saya penerima beasiswa.  Saya tinggal menuliskan 2 pilihan, mirip sekali dengan SNMPTN , jadi ada pilihan 1 dan ada pilihan 2. Kalau misal yang 1 tidak lolos, kemudian akan ke pilihan ke 2. Tapi karena saya meminta ke Wollongong karena saya sudah mendapatkan LoA, maka ADS memfasilitasi hal tersebut.

Dosen Favorit dan Mahasiswa

Dosen favorit saya adalah salah satu dari supervisor saya, walaupun tiga orang supervisor saya juga sangat istimewa. Nama dosen favorit saya ini adalah Dr. Tony S da Silva, beliau ini adalah orang Australia namun aslinya Portugis. Kenapa saya bisa memfavoritkan beliau? Karena sampai sekarang kami masih terus kontak. Bahkan setelah lulus pun beliau ini bersedia datang ke UAD untuk menjadi Guest Lecture (Dosen Tamu). Beliau datang tanpa kami harus membiayai tiketnya. Kami hanya sekedar memfasilitasi beliau selama ada di Jogja. Sekarang beliau sudah pindah di University of Tasmania, dan beliau masih mengabarkan kepada saya tentang kepindahannya.

Untuk karakter mahasiswa Australia dan mahasiswa internasional secara umum, mungkin bisa kita ceritakan tentang silaturahmi. Nah, kalau orang Indonesia misalkan kedatangan tamu atau ada orang asing di sekitar kita, kita pasti open dan welcome sekali. Tapi ketika kita ada di Australia, terutama untuk penduduk di sana, memang secara permukaan mereka ramah, tapi ketika sudah lama di sana, keramahan itu hanya sekedar basa-basi, dan mereka tidak cukup terbuka dengan orang-orang internasional. Karena mungkin mereka terbiasa dengan bahasa mereka sendiri, sedangkan style Australia lumayan berbeda, jadi untuk ngobrol agak ada jarak “language barrier”.

Kalau budaya sih, mungkin karena mahasiswa Australia sering banget habis dari kelas nongkrong di bar. Sedangkan karena saya muslim, jadi kalau mau nongkrong saya sendiri merasa kurang nyaman. Tapi yang paling utama itu memang ada sedikit perbedaan aksen atau style bicara.
Pengalaman saya, selama 3 hari pertama saya masih belum bisa mengikuti mata kuliah yang disampaikan oleh dosen. Karena dosennya sendiri juga menggunakan aksen Australia yang sangat cepat. Setelah cukup lama, saya sudah mulai terbiasa dengan aksen tersebut.

Nah, dalam bergaul ada hal yang harus diperhatikan. Kalau bisa kita jangan menanyakan tentang usia, agama, status pernikahan, dan politik. Kenapa politik? Karena kemungkinan lawan bicara kita adalah pendukung salah satu partai politik yang sedang kita bicarakan, dan jika kita menjelek-jelekkan, nanti bisa terjadi gap.

Seputar Kegiatan PPI dan KBRI

Kalau PPIA Wollongong itu sangat aktif juga, kebetulan waktu itu saya menjabat sebagai Koordinator Kreativitas Seni dan sekaligus menjadi Manager dari Tim Tari Saman di sana. Kita selalu mengadakan event-event misalnya 17 Agustus. Kalau pas 17 Agustus kita sering ngadain lomba-lomba, misal lomba makan kerupuk sering kita ganti jadi lomba makan donat, karena nyari kerupuk di Australia lumayan susah, sekali ketemu harganya mahal. Untuk lomba masukan paku dalam botol, membawa kelereng, masih bisa kita lakukan untuk anak-anak. Kemudian untuk pentas seni kami sering mengadakan baik untuk dewasa dan anak-anak yang ikut orang tuannya kuliah di Australia. Kemudian untuk Tari Saman beberapa kali sering tampil di event Australia, misalnya International Day di University of Wollongong, Welcome to Wollongong acara pemerintah yang ditujukan untuk menyambut mahasiswa Internasional yang datang ke Wollongong. Kemudian ada Harmony Day, diselenggarakan oleh KJRI.

Tim Saman Dance 
Paling menarik adalah saat mengisi di acara Our Back Yard Festival. Ini lebih ke kebudayaan masyarakat Australia, karena mereka punya halaman belakang yang lebih luas daripada halaman depan. Halaman belakang sering mereka gunakan untuk acara kumpul keluarga, barbeque, dll. Dalam festival ini ada banyak hal, bazar, orang yang jualan makanan, dan PPIA sering mengisi pada acara pentas seninya. Nah, mereka sangat kagum dan tertarik dengan tari saman karena gerakkannya semakin lama semakin cepat.

KJRI sangat mensupport kegiatan kami baik dalam bentuk moril dan materi untuk melaksanakan kegiatan PPIA. Kita juga mengajarkan tari saman ke sekolah SMA di Australia. Bahkan di sekolah tersebut juga ada pelajaran bahasa Indonesia.

Seputar Transportasi, Sekolah Anak, Alat Komunikasi, dan Belanja-Belanja

Selama di Australia saya memakai sepeda, karena saya punya. Tapi kalau yang paling favorit ya bus, soalnya bus di Wollongong ini gratis buat siapa aja, dan pelayanannya sampai jam 10 malam, ini merupakan fasilitas dari pemerintah. Selain itu ada kereta yang saya gunakan untuk ke Sydney kalau pas liburan aja. Karena saya penerima ADS, maka saya juga dianggap sebagai half citizen, jadi setengah orang Indonesia, setengah orang Australia. Oleh sebab itu, saya bisa mendapatkan fasilitas seperti warga Australia, dan diskon-diskon lainnya.


Biasanya untuk keluarga ada yang namanya Sunday Funday. Artinya untuk family day, bisa dapat potongan setengah harga untuk naik bus dan kereta selama masih di New South Wales yang penting hari minggu dan bawa keluarga. Uniknya temen-temen Indonesia yang belum punya anak biasanya pinjam anak dari temen-temen yang punya lebih dari satu anak untuk mendapatkan fasilitas di Sunday Funday tersebut.

Waktu itu saya sudah punya satu anak umur 3,5 tahun, dan saya masukkan Pre-School sampai Kindergarten. Karena saya penerima beasiswa ADS dan sudah dianggap sebagai half citizen makannya anak saya waktu saya masukkan Pre-School mendapatkan potongan harga. Jadi waktu itu saya hanya membayar setengahnya. Ada aturan menarik di Australia, karena negara ini sangat peduli dengan keluarga. Negara ini menyatakan, jangan masukkan anak kesekolah sebelum TK, sebab anak pada umuran di bawah TK itu harus masih selalu di dampingi orang tuannya. Namun jika sudah sangat terpaksa, silakan masukkan ke Pre-School, tapi memang risikonya sangat mahal.

Waktu anak saya masuk TK itu gratis karena saya termasuk half citizen, tapi jika penerima beasiswa DIKTI non ADS, masih harus bayar. TK sudah dianggap pendidikan wajib, dan mulai dari TK sampai kelas  6 itu gratis, serta SD-kelas 6 SD itu sudah dalam satu lingkungan. Nah, syarat untuk sekolah disana tinggal datang aja dan daftar, kasih foto aja. Waktu itu posisi anak saya sudah di Australia, dan mungkin berbeda jika posisi anak masih di Indonesia. Untuk paspor, anak saya waktu itu sudah punya paspor.

Untuk SIM Card selama di Australia saya pakai Vodavone. Untuk alasannya saya lupa persisnya, tapi di Australia waktu itu sangat populer.

Soal belanja kalau saya sih pengennya ke toko asia terus, lupa namanya apa. Soalnya, produk-produk asia banyak termasuk Indonesia, tapi memang harganya mahal, soalnya import. Kalau yang lebih populer ada swalayan yang namanya Woolworths. Kalau saya sih lebih sering masak, dan misal kalau mau jajan masakan Indonesia harus ke Sydney karena pada waktu itu belum ada restoran Indonesia. Pada waktu itu banyaknya restoran Thailand dan Vietnam, tapi sekarang sudah ada restoran Indonesia. Tapi memang lebih baik masak sendiri, apalagi kita bersama keluarga.

Tidak banyak masyarakat muslim di Australia, jadi ketika kita hendak mencari makanan halal, ada beberapa restoran yang memberikan logo halal food di depannya. Nah, jadi kita bisa ke restoran ini, biasanya ada Jepang, Thailand, dan asia lainnya ada logo halal food.

Untuk menjaga sholat saat berada di luar negeri itu lumayan nyaman karena kalau di Wollongong itu ada masjidnya. Mungkin ini karena Wollongong membuka cabang di Dubai, jadi di universitas Wollongong ada masjid. Kalau dalam perjalanan memang agak susah, tapi kita bisa kok sholat di pinggir jalan atau dimana aja, yang penting jangan lupa bawa sajadah kecil. Memang untuk cari air buat wudhu agak susah, kalau di jalan kita bisa tayamum. Menurut pengalaman, saya pernah sampai menangis pada waktu itu karena pada hari pertama saya belum tahu lokasi masjid dimana dan susah sekali mencari tempat wudhu. Buka kran di taman susah sekali, dan masuk toilet di kampus ada aturan kalau di toilet ga boleh ada cipratan air, udah kesana kemari dan akhirnya terduduk menangis, sampai pada akhirnya teman saya menyarankan untuk tayamum. Akhirnya saya tayamum setelah kesana kemari karena waktu dzuhur udah mau habis.

Akomodasi

Jadi ceritanya pada waktu itu saya lumayan tertolong karena salah satu supervisor saya pensiun. Karena pensiun akhirnya saya diminta untuk menunggu selama satu semester sampai pada akhirnya saya mendapatkan ganti supervisor  yang baru. Akhirnya suami saya berangkat duluan, tapi suami saya pada waktu itu belum punya akomodasi juga. Akhirnya beliau tinggal di tempat teman Indonesia yang sudah lebih dulu kuliah di Australia. Jadi kita numpang terlebih dahulu, baru nanti sambil cari  akomodasi.

Sebagai informasi, akomodasi di Australia itu pertama harganya mahal, dan kedua untuk mendapatkannya itu sangat susah karena kita harus bersaing dengan banyak sekali mahasiswa internasional lainnya. Bahkan, kalau ada sati berita tentang akomodasi, yang ngantri itu bisa banyak sekali untuk survei dan melihat. Memang sih University of Wollongong menyediakan asrama untuk mahasiswa internasional, baik yang singgel ataupun yang sudah berkeluarga.  Tapi memang kita harus daftar terlebih dahulu, dan modelnya antri. Jadi waktu kita sampai di Australia belum tentu dapat nomor antriannya, dan kita harus daftar lewat website dan juga harus bayar dulu, waktu itu sekitar 75 dollar Australia.  Walaupun sudah bayar, saat kita tiba di Australia kita udah dapat akomodasinya.

Pada waktu itu saya sudah mendaftar, namun baru satu tahun kemudian kami mendapatkan akomodasinya. Kemudian kami memutuskan untuk tidak pindah, karena kami sudah merasanya nyaman dengan akomodasi kami saat itu. Untuk Wollongong ini akomodasinya lebih murah daripada di Sydney, karena di tempat kami pada waktu itu masih boleh  210 dollar per minggu. Jadi kalau satu bulan sekitar 840 dollar. Memang uang beasiswa itu setengahnya untuk akomodasi, dan setengahnya untuk makan, dan lain-lain.

Bekerja Part Time

Menurut pengalaman saya, mahasiswa Indonesia banyak sekali yang bekerja sebagai cleaning service, di bioskop, di bar-bar, di club malam, dan di restoran. Ada yang biasanya kerja sebagai kitchen hand (pencuci piring) di restoran-restoran. Karena cleaning service ini membutuhkan tenaga ekstra, maka pada waktu itu saya memilih bekerja sebagai kitchen hand di salah satu restoran vietnam. Kitchen hand ini bekerjanya malam hari, jam 12 malam sampai jam 5 pagi. Untuk gajinya 15 dollar per jam, dan mungkins ekarang udah naik.

Kitchen hand di luar negeri ternyata beda lho sama pencuci piring di Indonesia. Ada banyak teknologi dalam mencuci piring, ada yang semprot dari atas dan pokoknya pakai mesin-mesin. Piring yang harus saya cuci ini besar-besar dan banyak lemaknya yang susah bersihinnya. Pada waktu itu saya sudah bawa anak, dan saya bekerja dengan suami saya. Waktu saya bekerja dengan suami saya, anak saya taruh di dalam mobil. Sayacuma bisa bertahan satu hari, dan suami saya yang bisa melanjutkan. Karena saya merasa tidak sanggup, karena mungkin saya sudah punya anak dan besoknya harus kuliah.

Kemudian saya merasa beruntung karena ada tawaran dari ABC TV (TV Australia) untuk mahasiswa Internasional siapapun untuk menjadi guest star dalam film dokumenter. Akhirnya saya mengikuti proses seleksinya, dan yang ikut sangat banyak sekali, banyak mahasiswa Internasional dari seluruh Australia yang mengikutinya. Alhamdulillah akhirnya dari 11 orang yang terpilih saya termasuk salah satu di dalamnya untuk mewakili Indonesia. Walaupun 4 hari saja, tapi gajinya besar sekali karena itu dari stasiun TV.

Dalam acara dokumenter itu, kami sebagai tokoh utama dalam film dokumenter, judulnya “My Australia”. Film ini menceritakan  tentang pengalaman mahasiswa Internasional yang tingga dan kuliah di Australia. Mereka diminta untuk menceritakan bagaimana cara menyesuaikan diri dengan berbagai macam perbedaan, mulai dari budaya, cuaca, sistem pendidikan, dan sebagainya. Waktu itu saya diminta untuk memilih apa sih yang ingin saya tunjukkan, dan akhirnya saya memilih ingin bertemu dengan orang Aborigin di Australia,  ingin belajar olahraga di Australia, dan terakhir ingin camping di Australia.

Episode pertama saya belajar melukis Aborigin. Saya diajak ke komunitas Aborigin, dan di situ saya syuting  8 jam dalam 1 sehari. Episode berikutnya saya syuting tentang keseharian saya sebagai mahasiswa, sebagai ibu rumah tangga, manajer tari saman, dan aktif memberi dari PPIA. Hari berikutnya saya syuting tentang belajar Lawn Bowling, yaitu bowlingnya australia yang bukan di ruangan tapi di rumput. Keempat saya syuting tentang belajar camping dengan pemandangan alam Australia yang istimewa. Nah, acara ini ditayangkan di 45 negara Asia Pasifik, dan di Indonesia ditayangkan di TV kabel. Tayangan ini juga tersedia di youtube, kalau mau melihat silakan cari dengan keyword My Australia Ida.

Pengalaman Traveling

Pada saat liburan sering sekali saya sekeluarga menghabiskannya dengan jalan-jalan. Pertama saya dan keluarga ke Snowy Mountain, cukup jauh dari Wollongong, sekitar 8-9 jam ditempuh menggunakan mobil ke arah Selatan dari Wollongong. Lokasinya hampir mendekati Melbourne. Kemudian yang kedua kami ke Canberra (Ibu Kota Australia). Kami tempuh dengan jalan darat sekitar 5 jam. Kemudian kami ke Queensland  yang jauh sekali dari Wollongong, kami tempuh menggunakan mobil selama 14 jam, jadi saya gantian nyopirnya dengan suami saya. Kami nggak pakai SIM Internasional, karena SIM Indonesia ternyata bisa di pakai di sana.

Kenapa kami nggak bisa cepet, soalnya di Australia nggak bisa kebut-kebutan dan ada patokan speed. Kita nggak bakalan dikejar sama polisi kalau misal kita kebut-kebutan, tapi nanti tiba-tiba ada surat yang datang ke rumah kita dan harus langsung bayar. Pernah saya ke New Zealand karena saya harus persentasi ke sana, tepatnya di Wellington.

Menurut saya dari sekian banyak tempat yang saya kunjungi, yang  paling menarik adalah Snowy Mountain karena di sana saya bisa melihat salju untuk pertama kalinya. Tapi memang, setelah melihat salju saya berpikiran bahwa salju itu tidak sebagus yang dibuku atau di tv, bentuknya mirip banget sama es serut. Tapi saya pikir saya nggak kuat kalau harus tinggal lama di daerah dingin.

Pencapaian Akademik

Pertama yang membuat saya bahagia adalah saya bisa mendapatkan beasiswa ADS yang memang sangat kompetitif dengan jurusan Sastra Inggris. Karena menurut pengalaman teman-teman selama ini, sastra Inggris banyak sekali yang gagal untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS. Entah itu tema thesis atau penelitian saya yang tidak terlalu jauh dari Indonesia atau ada faktor lain. Dalam hal ini Rektor UAD juga sangat bangga, karena sampai saat ini baru ada dua orang yang bisa mendapatkan beasiswa ini.

Kedua adalah saya bisa menyelesaikan thesis tepat waktu. Jadi itu kebanggan yang luar biasa buat saya sendiri. Karena, kita kan nggak bisa tinggal lama-lama di Australia. Jadi kalau sudah selesai tepat waktu, artinya kita bisa pulang tanpa beban. Karena ada juga teman yang sudah pulang tapi thesis atau disertasinya belum selesai.

Pengalaman Paling Menarik dan Berkesan

Selain tadi terlibat dalam film dokumenter dengan ABC TV, saya juga punya pengalaman yang sangat berkesan tentang sistem pendidikan di Australia. Ketika saya menyekolahkan anak saya di sana, saya jadi tahu dengan sistem pendidikan yang sangat luat biasa dan sangat ramah dengan anak, sehingga patut kita contoh. Misalnya begini: untuk menghindari timbulnya gap antara senior dan junior disekolah TK, maka di saat anak masuk ketika itu juga dipasangkan dengan buddy (teman) yang dari kelas 6 atau kelas 5. Jadi yang menyambut mereka ini kakak kelasnya dan mereka sangat ramah. Jadi yang menyambut dan memperkenalkan semuanya adalah kakak kelas. Kalau misal butuh apa-apa nanti tinggal bilang kakak kelasnya. Pada saat itu buddy anak saya namanya Jack.

Kedua, hal tentang Bullying ini sistemnya sangat baik. Sejak kecil anak sudah diberikan materi-materi anti bullying. Dalam hal ini mereka punya motto “Don,t, Go, Tell”. Maksudnya “Jika ada teman yang sedang membully kamu atau membully orang lain maka katakan DON’T do that!” namun “Jika ada teman yang masih melakukaannya ketika sudah dibilang DON’T, maka kamu harus GO (Pergi)!” kemudian “Jika masih di bully juga, maka TELL your teacher!” Jadi 3 hal ini sudah disampaikan sejak masih kecil.

Sistem pendidikan di sekolah dasar juga melibatkan orang tua. Setiap hari ada orang tua siswa yang secara bergantian dijadwal untuk bisa terlibat dalam kegiatan belajar mengejar di dalam kelas. Jadi orang tua diminta untuk menjadi volunteer dan sekedar membacakan cerita di dalam kelas. Selain itu terlibat di dalam kelas, dan orang tua ikut dalam kelompok-kelompok diskusi anak di sekolah.

Oh iya, pertama kali ke sana anak saya kan masih 3,5 tahun, dan bahasa Indonesia aja masih belajar. Kemudian saya masukkan ke Pre-School, namun anak saya cuma diem aja di dalam kelas mungkin sekitar 1-3 bulan. Jadi anak saya benar-benar mereasakan culture shock bahasa. Namun guru di sana sangat luar biasa, karena mereka menganggapnya seperti anak sendiri. Mereka mengatakan kepada saya agar tidak usah khawatir, biarkan anaknya nangis karena itu hal biasa, kalau saya khawatir, nanti mereka tidak bisa maksimal dan nyaman dalam menemani anak saya.


Setelah itu anak saya dibiasakan komunikasi dengan bahasa Inggris, dan di ulang-ulang. Dalam waktu 3 bulan itu, anak saya menjadi pendiam, bahkan  pernah pulang sekolah dalam posisi celananya basah karena nggak berani untuk bilang mau ke kamar kecil. Akhirnya saya dan suami saya memutuskan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi, dan pada bulan ke empat anak saya sudah lumayan pandai dalam menggunakan bahasa Inggris. Anak kecil itu cepat sekali belajar bahasanya.

Pada akhirnya waktu itu anak saya lupa dengan bahasa Indonesia, dan sekarang sudah ingat lagi. Pada saat pertama kali datang ke Indonesia lagi, saya harus mengajari bahasa Indonesia lagi, dan anak saya sempat shock sampai akhirnya dia bilang kenapa kita harus pindah negara ke Indonesia, Australia itu negara saya. Ini memang kesalahan kami karena kami lupa mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kita. Namun sekarang anak saya sudah pandai berbahasa Indonesia.

Kebudayaan unik yang pernah saya temui adalah ketika saya bertemu dengan suku asli Aborigin. Suku Aborigin masih sangat dekat dengan alam, tarian dan ritual-ritual yang dilakukan sangat berhubungan dengan alam. Salah satu upacara penyambutan ketika saya datang ke komunitas Aborigin ini adalah waktu itu kita disemprotkan air  ke kepala kita, nah air itu bekas kumur-kumur mereka. Kalau menurut kita mungkin jijik ya dan kita harus menghormatinya. Katanya kalau kita tidak mau disemprot, nanti akan ada hal buruk terjadi kepada kita misalnya kejatuhan ular, ban mobil pecah, ada anggota keluarga yang sakit, dan lain-lain.

Motivasi Untuk Pelajar Indonesia

Saya punya moto yang sudah saya miliki sejak SMA, karena waktu itu saya sempat memiliki pengalaman beberapa kali gagal. Jadi moto saya, “Orang yang jatuh berkali-kali itu biasa, tapi orang yang jatuh berkali-kali dan mampu bangkit lagi itu yang LUAR BIASA!”. Motto ini selalu saya pegang dan selalu saya ngiang-ngiangkan dalam pikiran saya. Motto ini juga saya terapkan saat saya mendaftar beasiswa.



Kedua “Jangan takut untuk bermimpi!”

Saya dari dulu suka sekali bermimpi, dan waktu kecil saya punya cita-cita untuk bisa upacara di Istana Negara. Kemudian saya mencoba untuk masuk dalam tim PASKIBRAKA dan karena tinggi badan saya kurang saya gagal di tingkat kabupaten. Kemudian saya ikut SISWA TELADAN, dan saya gagal di tingkat Propinsi. Waktu itu impian saya sempat mati suri, saya lalu mencoba masuk ke universitas negeri  tapi gagal, dan impian saya mati suri lagi. Kemudian saya masuk dan kuliah di UAD, dan ternyata di sini saya bisa mewujudkan impian saya. Saya bisa masuk ke Istana Negara, karena saya mengikuti Lomba Mahasiswa Berprestasi, bisa masuk 15 besar, jadi finalis, dan akhirnya bisa ikut upacara di Istana Negara.

Kedua, karena dulu saya sering baca dongeng dan sastra, dan saya berharap bisa pergi ke negara pembuat dongeng atau buku sastra tersebut. Ternyata akhirnya tercapai dengan bisa ke Australia, walaupun itu bukan Inggris tapi mirip lah sama Inggris.

Ketiga, saya dulu pengen masuk tv karena lihat artis kan jadi pengen banget. Akhirnya saya bisa juga masuk tv waktu di Australia (ABC TV) ikut acara pembuatan film dokumenter, dan di situ saya menjadi Guest Star.

Jadi, jangan pernah takut bermimpi, walaupun menurut sebagian atau banyak orang mimpi itu mimpi yang konyol. Ketika kamu benar-benar mengejar dan berusaha mewujudkannya, konyol itu bisa jadi  sesuatu yang masuk akal.

Yang terakhir “Never Give Up!”

Kalau sudah jatuh jangan terus  menyerah tapi bangkit dan mencoba dan terus mencoba mewujudkannya!

Narasumber: Ida Puspita, S.S, M.A. Res, Lecturer of English Literature Department, Head of International Office (OIA), Ahmad Dahlan University.
Reporter: Imam Sultan Assidiq

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top