RYAN INDRA MUKTI: Kuliah di Korea Itu Penuh "Surprise", So... Persiapkan Bahasa Koreamu dan Berangkatlah!

Ryan Indra Mukti merupakan salah satu mahasiswa asal Indonesia yang menempuh program master di Korea Selatan. Petualangannya di negeri ginseng menjadi sebuah bagian seru dalam hidupnya yang patut untuk dibagikan kepada banyak orang. Berikut ini Ryan membagikan ceritanya selama kuliah di Korea Selatan.


Mau kenalan sama Mas Ryan? Baca Ini Dulu!

Nama lengkap saya Ryan Indra Mukti, asal dari Kebumen. Sebelumnya saya kuliah S1 di jurusan Teknik Kimia UI. Setelah lulus saya bekerja di bagian produksi salah satu BUMN dan mendapatkan ijin dari perusahaan untuk cuti kuliah dengan beasiswa dari universitas disini. Saya ambil program master, masuk per Februari 2014 dan insyaAllah wisuda bulan depan (Februari 2016). Di Korea saya kuliah di University of Science and Technology. Setiap semester universitas ini membuka pendaftaran beasiswa program master, PhD, dan integrative master-PhD untuk warga Korea maupun foreigner. Info untuk pendaftaraan bisa dilihat langsung di websitenya www.ust.ac.kr. Beasiswa yang didapatkan tergolong tertinggi di Korea karena universitas berkomitmen agar mahasiswa fokus pada aktivitas riset dan studi tanpa terbebani masalah finansial. Informasi beasiswa dapat dicari sendiri di website tersebut. Hehe.

Kenapa kuliah di University of Science and Technology? Hal istimewa apa yang ada di universitas tersebut?

Yang membuat saya tertarik selain beasiswa dan fasilitas pendidikan yang didapatkan, universitas ini bekerja sama dengan lebih dari 30 lembaga riset pemerintah Korea (Government-funded Research Institute/GRI). Saya dan mahasiswa lain yang diterima di universitas ini, melakukan riset dan perkuliahan di GRI sesuai major yang kita pilih. Terdapat sekitar 60 major di bidang sains dan teknologi. Saya mengambil major Green Chemistry and Environmental Biotechnology, kampus saya di Korea Research Institute of Chemical Technology.  Fasilitas lab yang disediakan di tiap GRI juga tergolong advance dengan topik riset terkini, tidak kalah dengan universitas top Korea lainnya. Di lab saya misalnya, tiap mahasiswa diberi topik tertentu dan bertanggung jawab dengan seperangkat reaktor kimia beserta alat analisisnya. Kita juga tidak perlu khawatir dengan biaya penelitian, karena biasanya dialokasikan dari dana riset di GRI terkait. Mahasiswa juga terlibat langsung dalam proyek riset dari pemerintah Korea, dan topik penelitian untuk thesis/paper kita nantinya juga tidak jauh-jauh dari proyek riset tersebut.

Fasilitas lain yang diberikan oleh universitas antara lain asuransi kesehatan, cek kesehatan rutin, tunjangan untuk overseas exchange atau ikut seminar internasional, dan penghargaan-penghargaan untuk mahasiswa berprestasi. Ini juga sepertinya didapatkan mahasiswa di universitas lain di Korea.

Secara spesifik Mas Ryan belajar apa? Jika ada kesulitas bagaimana cara mengatasinya?

Major sudah saya singgung di atas. Topik penelitiannya lebih ke pemanfaatan gas CO2 dan pembuatan katalis untuk proses konversinya. Kesulitan di awal adalah saat pertama kali terjun ke lab langsung disuruh mengoperasikan seperangkat reaktor seperti yang dijelaskan tadi. Alatnya sudah kayak pabrik versi lab. Software dan komputer pendukungnya juga hanya dalam bahasa Korea. Untungnya di lab saya ada mahasiswa dari Indonesia juga dan sangat membantu saat perkenalan alat-alat di lab dan pengoperasiannya.

Walaupun GRI ini cukup terkemuka di Korea, tetapi researcher dan stafnya tidak begitu mahir berbahasa Inggris sehingga saya sering minta bantuan professor jika sudah berhubungan dengan hal-hal teknis di lab yang mengharuskan pakai bahasa Korea. Tapi, ternyata teman Korea saya merasa cukup terbantu dengan kehadiran saya karena dia bisa praktek speaking bahasa Inggris, dan buat saya juga bisa sambil belajar bahasa Korea ke dia.  Menurutnya mahasiswa Korea kurang percaya diri jika disuruh berinteraksi dengan foreigner karena kendala bahasa sehingga jadi terkesan mereka menjauhi foreigner. Tapi pada kenyataanya mereka welcome kok.


Kalau mau tahu tentang persyaratan apply, tes, dan mau ikutan apply ke University of Science and Technology silakan cek di SINI!

Untuk proses aplikasi, saya bisa dibilang cukup beruntung. Pas di perusahaan saya sedang melakukan overhaul, saya menyampaikan ke manager kalo saya ingin melanjutkan kuliah, beliau menanggapi dengan positif dan saya diijinkan. Sebelumnya saya sudah tanya-tanya ke teman sejurusan di UI yang kuliah di Korea tentang peluang melanjutkan studi disana. Kebetulan di labnya sedang membutuhkan mahasiswa dan atas rekomendasinya ke professor, saya bisa bergabung di research group-nya asal lolos seleksi administrasinya di UST.

Seleksi administrasinya berupa dokumen-dokumen seperti study plan, surat rekomendasi, dan tes kemampuan bahasa Inggris (TOEIC, TOEFL, IELTS). Saya pilih TOEIC karena testnya relative lebih murah dan mudah dari yang lain. Sebelum test TOEIC saya tidak ada persiapan khusus dan percaya diri saja. Saya pernah membaca artikel tentang tips belajar bahasa Inggris praktis yang intinya daripada belajar di lembaga kursus, lebih baik belajar sendiri dengan melakukan apa yang orang Inggris/ native speaker lakukan, seperti menonton televisi, membaca berita/novel, mendengarkan radio/podcast dalam bahasa Inggris. Mulai saat itu saya biasakan untuk baca artikel/berita berbahasa Inggris, nonton serial atau film pun juga pakai subtitle bahasa Inggris. Ternyata metode ini cocok buat saya. Saya mengerjakan test TOEIC tersebut hanya bermodal feeling, entah kenapa jika dibaca pas dan enak, itulah jawaban yang saya pilih dan ternyata benar. Tentunya feeling tersebut bisa didapatkan setelah menjalankannya selama berbulan-bulan bahkan tahun.  Tidak hanya feeling yang kita dapat, tapi juga bisa memakai frasa/kalimat bahasa Inggris yang lazim dipakai oleh native speaker daripada membahasaInggriskan bahasa Indonesia secara langsung.

Lanjut ke topik seleksi masuk, jika dokumen diterima, kita akan diberikan jadwal interview/oral presentation, dimana calon mahasiswa diminta membuat presentasi terkait rencana penelitian. Untuk yang diluar Korea, bisa dilakukan melalui telepon atau video conference dengan mengirimkan materi presentasinya terlebih dahulu. Tata cara nya akan dikirmkan secara detil oleh panitia seleksi. Jika lolos tahap ini, universitas akan mengirim dokumen-dokumen persetujuan sebelum mengeluarkan letter of acceptance yang akan dipakai untuk mengurus visa pelajar.

Syarat lain yang diperlukan setelah diterima adalah copy transcript dan ijazah berbahasa inggris yang telah dilegalisir oleh kedutaan Korea, istilahnya apostille requirement. Kita cukup membawa copy legalisir dua dokumen itu dari universitas dan berkas aslinya untuk verifikasi ke kedubes Korea. Prosesnya juga cepat, sekitar 1 jam pas saya apply dulu dan membayar biaya administrasi (saya lupa, mungkin dikisaran 30-50 ribu).

Cara beradaptasi dengan sistem pendidikan di Korea

Dari proses orientasi juga sudah terasa bedanya. Mungkin karena ini untuk program master dan PhD saja, jadi orientasinya fun dan menarik tidak seperti saat ospek S1 dulu. Orientasi mahasiswa berisi pengenalan kurikulum, metode kuliah, dll dan diisi oleh team building dengan main games ala-ala Running Man, seperti lompat tali group, dan memecahkan kode.

Sistem perkuliahan disini berbasis riset dengan porsi sks untuk field research lebih banyak dibandingkan classwork. Credit field research dinilai dari peran aktif kita selama melakukan riset di lab, sedangkan classwork dilakukan seperti kelas pada umumnya. Tingginya beasiswa yang didapat juga tidak lepas dari aktivitas mahasiswa di lab yang diwajibkan datang full time dari jam 9 – 18 (minimal) di hari kerja seperti researcher/staff di GRI. Aktualnya jarang sekali pulang on time, mengingat kultur sini dimana mahasiswa tidak akan pulang sebelum professor pulang. Ditambah profesor biasanya memiliki jabatan penting di GRI tersebut dan jarang juga pulang on time karena kesibukannya. Tapi, diluar kultur ini, kerjaan lab di sini memang cukup banyak dan strict ke deadline, apalagi yang berkaitan dengan reaksi kimia yang kadang prosesnya berlangsung puluhan jam dan mahasiswa diwajibkan standby untuk alasan safety.

Classwork bisa dilakukan pada saat atau diluar jam kerja. Dosen tertentu yang memilik aktifitas padat saat jam kerja lebih memilih membukanya setelah jam kerja, pukul 19 – 21. Kelas bahasa Korea yang saya ikuti juga dilakukan di jam tersebut karena memang padatnya aktifitas lab di laboratorium saya. Awalya cukup berat buat saya setelah seharian di lab, malamnya belajar di kelas, sangat ngantuk dan capek. Profesor saya selalu mengingatkan untuk olahraga rutin dan makan teratur agar kita bisa mengkuti ritme kerja di Korea dalam keadaan fit dan sehat. Setelah saya ikuti saran beliau, lama-lama jadi terbiasa juga. Untungnya dosen bahasa Korea juga dipilih yang sudah lama berpengalaman dan atraktif sehingga tidak membuat kita bosan dan tetap bersemangat.

Ini tentang Dosen di Korea Selatan

Selama 4 semester, saya mengambil mata kuliah di kelas yang dibuka professor saya sendiri, jadi tidak begitu paham dengan karakter dosen lain. Tapi pada umumnya dosen terbuka dalam menyampaikan pengetahuan yang dimiliki asal kita aktif menggalinya. Professor saya juga sering membantu mencarikan solusi diluar aktifitas riset seperti masalah imigrasi, kontrakan, dan kesulitan hidup sehari-hari lainnya. Beliau justru menekankan agar jangan ragu-ragu mengkomunikasikan masalah kita sedetil-detilnya agar solusinya lebih gampang dicari.


Tentang akomodasi selama kuliah di Korea Selatan

Saya tinggal di kontrakan diluar kampus. Karena saat saya masuk tidak ada kamar tersisa di asrama, jadi saya terpaksa tinggal di kontrakan. Saya lebih menyarankan untuk tinggal di asrama saja jika memungkinkan karena jauh lebih murah. Di kampus saya, tarif asrama antara 80.000 – 160.000 won/bulan (KRW 1 ~ IDR 11.5). Sedangkan biaya kontrakan saya 250.000 won/bulan one-room. Mahal karena fasilitas yang didapat cukup lengkap seperti lemari es, kamar mandi dalam, dapur beserta kompornya, AC, penghangat ruangan. Biaya itu belum mencakup tagihan listrik, air, gas, internet. Tergantung musim, tagihan ini berkisar antara 50.000 – 150.00 won/bulan.

Jika kita mengontrak rumah, juga harus menyediakan uang jaminan sebesar 1- 2 juta won yang akan dikembalikan jika kontrak sudah habis setelah dikurangi biaya maintenance dan penggantian kerusakan. Dulu saya hanya dikenakan biaya 30.000 won saat keluar dari kontrakan saya. Di asrama kita tidak repot memikirkan ini karena sudah include semua. Tetapi, kita tidak bebas memasak di asrama. Hanya tersedia dapur umum yang bisa dipakai oleh semua penghuni asrama, tetapi biasanya hanya mahasiswa asing saja yang memasak. Tergantung kultur dan karakter dari negara asal yang mendominasi dapur, kadang dapur asrama kurang nyaman dipakai karena kebersihannya. Kita hanya bisa bersabar saja.

Biaya hidup di Korea Selatan menurut Mahasiswa Indonesia

Selain biaya asrama/kontrakan tadi, biaya makan dan belanja bervariasi tergantung karakter kita. Rata – rata sekali makan di kantin kampus 3.000 – 4.500 won. Makan di luar juga bisa didapatkan dengan harga segitu dengan menu wajar seperti kimbab dan tteokpokki. Menu yang standar berkisar 4.000 – 7.000 won seperti ramyeon dan bibbimbap.  Total pengeluaran termasuk keperluan hiburan dan belanja pribadi berkisar antara 300.000 – 600.000 won/bulan diluar biaya asrama/kost.

Karena saya muslim, saya sering masak sendiri daripada makan di kantin yang sering menyajikan menu non-halal. Memasak sendiri banyak untungnya, selain bisa menghemat, skill memasak kita juga bakal meningkat. Bahan makanan halal tersedia di foreign market atau di Islamic center yang ada di tiap kota. Di beberapa kota besar, termasuk Daejeon, ada juga mushola yang didirikan oleh pekerja Indonesia di Korea, disini kita bisa membeli jajanan dan bahan masakan langsung dari Indonesia dengan harga lebih murah dari yang dijual di foreign market. Di mushola juga sering diadakan pengajian dan makan-makan gratis untuk mengobati rasa kangen akan Indonesia. Jika lebih memilih tinggal di kost, cari teman yang mau share kontrakan.

Di tahun kedua saya share kontrakan tipe two room dilokasi yang lebih jauh dengan harga lebih murah setelah dibagi dua, rata-rata sekitar 200.000 won termasuk biaya utilitas. Untuk menghemat belanja, system online lebih murah daripada di toko. Hampir semua barang termasuk groceries bisa dibeli melalui online, air mineral, beras, kosmetik, makanan kemasan, buah-buahan. Sistem onlinenya juga mudah dan pengirimannya cepat. Di supermarket, juga banyak promo yang ditawarkan, sepeti 1+1, dan diskon lainnya.

Pengalaman menarik dan tak terlupakan

Disini penuh dengan surprise kok, jadi banyak momen yang tidak terlupakan. Contohnya makan kimchi pertama kalinya (gak nyangka rasanya seperti “itu”), naik T-express (roller coaster kayu) di Everland, liat salju pertama kali, main snowboard, sholat di tempat terbuka dan jadi pusat perhatian, dan mungkin yang paling bikin shock adalah pas bilas di pemandian pantai cuma tersedia shower berjejer tanpa sekat di dalam sebuah ruangan besar. Hehehe.

Pengalaman Traveling

Jalan-jalan sudah lumayan banyak tempat yang dikunjungi, seperti Everland (amusement park), Pyeongchang (ski resort), Busan, Jeonju, Nami Island, dll. Juga pernah naik gunung yang merupakan program rutin di GRI saya. Yang paling saya rekomendasikan adalah ski resort dan Everland.  Buat yang suka drama bisa ke Nami Island atau hanok village yang tersebar di berbagai tempat. Buat yang suka wisata alam, di Korea bentang alamnya juga bagus dan didukung infrastruktur yang memadai.

Yang paling berkesan menurut saya adalah sistem transportasi dan kenyamanan dalam memanfaatkan fasilitas publik. Jadwal bus dalam kota (kalo di Indonesia metromini) saja bisa dipantau melalui apps smartphone, lengkap dengan rute kemana dan transfer kemana bisa kita ketahui lewat apps tersebut. Jangan khawatir kita tersesat. Di Seoul, sistem subway nya juga keren dan mudah dipahami untuk warga asing sekalipun. Untuk bis dan  kereta antar kota, tiket bisa dipesan mudah dengan system online.

Kesan yang lain adalah infrastruktur di tempat wisata dibuat dengan bagus sehingga memudahkan pengunjung selama melakukan aktifitas disitu. Bahkan pendakian gunung pun sudah disediakan jalan dengan paving block atau tangga untuk memudahkan dan memberikan keamanan bagi pengunjung. Harga makanan dan snack di lokasi wisata juga relative standar dengan harga di area perumahan, tidak dimark-up seperti di negara kita.

Dan yang terakhir tentunya kecepatan internet yang nomer 1 (atau 2) di dunia. Hampir di semua lokasi sudah support LTE/4G. Ini semakin mendukung dalam memudahkan pelayanan publik yang kebanyakan berbasis online. Tarif internet pun lebih murah dari di Indonesia dengan speed yang jauh lebih cepat. Saya berlangganan internet rumah LTE unlimited hanya sebesar 19.000 won/bulan (200 ribuan rupiah).


Keikutsertaan di PERPIKA

Paling saya hanya jadi anggota aktif PERPIKA di tahun pertama. Sekretariat dan kontak bisa dicari di websitenya www.perpika.kr. Saya pernah ikut di kepanitian acara PERPIKA 2014 yaitu CISAK, acara konferensi tahunan untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah dimanapun. Ini merupakan event terbesarnya PERPIKA, sebagai wadah bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mempresentasikan hasil penelitiannya di bidang sains dan sosial. Keynote speaker acara ini juga dari public figure yang cukup terkenal, seperti Pak Ridwan Kamil dan Bu Risma pernah menjadi keynote speaker acara ini, disamping itu juga ada dari kalangan peneliti/professor Indonesia.  

How to survive in South Korea? Check this TIPS!

Bisa bahasa Korea saya rasa jadi nilai tambah kalau disini. Warga local, teman, bahkan professor kita akan sangat mengapresiasi kita jika berbicara dengan bahasanya, jadi kalau memungkinkan bisa dipelajari dulu. Atau bisa ambil program beasiswa KGSP dimana kita dituntut untuk kuliah bahasa dulu selama satu tahun sebelum terjun ke kampus kita nantinya. Di UST sendiri, salah satu syarat kelulusan adalah lulus TOPIK level 2, ini semacam TOEFL-nya bahasa Korea, jadi tidak  ada salahnya kita belajar dulu bahasa Korea.

Untuk aktivitas kuliah atau riset, karena perbedaan kultur dalam memandang sesuatu, ada baiknya kita sering berkomunikasi/diskusi dengan professor sejelas-jelasnya untuk menghindari miskomunikasi.

Biar semakin banyak teman di perantauan, gabung saja ke PERPIKA, bisa ikut acara-acaranya atau sekalian jadi pengurusnya. PERPIKA sendiri sering mengadakan acara rutin seperti gathering wilayah, jalan-jalan bareng, dan sebagainya.

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Ryan Adiel Zulfikar Soripada: Mahasiswa Bermental Pejuang yang Berhasil Kuliah di HafenCity University, Hamburg, Jerman!

Ryan Adiel Zulfikar Soripada menjadi salah satu contoh bagi kita untuk tidak boleh menyerah hanya karena satu kegagalan. Sempat gagal melanjutkan pendidikan di Jerman, Ryan terus bangkit dan mengejar mimpinya untuk bisa menyelesaikan pendidikan di Jerman. Cowok yang saat ini tengah menempuh kuliah di HafenCity University ini membagikan kisahnya kepada tim Berkuliah.com. Check this out!


You want to know the Big Guy? Check here...

Halo, nama saya Ryan Adiel Zulfikar Soripada. Saya berasal dari Denpasar, Bali. Sekarang saya sedang kuliah di HafenCity University, Hamburg, jurusan Teknik Sipil dan masuk tahun 2014. Sebelumnya sempat kuliah di Technical University Hamburg-Harburg; jurusan teknik mesin selama empat semester dari tahun 2012.

Kuliah di dua tempat? WOW... bagaimana bisa? Mungkin di sini kamu bisa menyimak ceritanya!

Mungkin saya akan menjelaskan awal dulu di Jerman. Saya tiba di Jerman pada tahun 2010 bulan Oktober, kemudian sebagai mahasiswa asing kami harus mengikuti pre-university selama satu tahun. Peraturan di Jerman, yang sangat berbeda dengan Indonesia adalah ketika kita tidak lulus tiga kali dalam satu mata kuliah, walaupun mata kuliah lain mempunyai hasil yang cukup baik, tidak bisa melanjutkan di jurusan tersebut ataupun jurusan lain yang mempunyai mata kuliah dengan bahasan yang sama. Dan unfortunately, itu yang terjadi pada saya. Saya tidak lulus mata kuliah informatika (di teknik mesin) sebanyak tiga kali dan saya tidak bisa melanjutkan di jurusan tersebut. Saat itu saya hampir menyerah kembali ke Indonesia, karena banyak jurusan tidak bisa menerima saya karena kekurangan saya tersebut. Tapi akhirnya saya mendapatkan pilihan untuk kuliah di teknik sipil pada tahun 2014 sampai sekarang. Berat memang, tapi pengalaman dan perjuangannya itu yang benar-benar worth it.
Jadi, kenapa Mas Ryan waktu itu memilih Jerman?

Akademisnya. Jerman termasuk unggul di bidang akademik, penelitiannya, dan teknologi  pada khususnya. Salah satunya juga karena inspirasi saya sih, Bapak Habibie. Saya juga ingin mencari pengalaman di luar, kenal dengan kebudayaan luar, dan bisa melihat dunia dari perspektif lain adalah hadiah yang cukup menarik buat saya.


Bisa diceritakan sedikit tentang HafenCity University?

Seperti universitas pada umumnya di Jerman, universitas di sini memiliki kualitas akademik yang sama. Yang membedakan adalah riset-riset yang dilakukan di universitas tersebut. Dan universitas negeri pada umumnya di Jerman juga, universitasnya gratis, walaupun tetap membayar tiket transportasi dalam satu semester. Kalau kampus saya pada khususnya, kampus saya adalah satu-satunya universitas negeri di Jerman yang fokus pada pembangunan dan pengembangan kota. Jadi jurusan yang ada di sini adalah teknik sipil, arsitektur, tata kota, dan geodesi. Lalu HanfenCity adalah bagian kota Hamburg, yang ditujukan sebagai kota ‘modern’ di Hamburg. HafenCity University adalah ‘embodiment’ dari kota modern ini. 

Bagaimana sistem perkuliahan yang berlaku di kampus Ryan saat ini? Adakah peraturan yang Ryan rasa unik atau berbeda dengan yang ada di Indonesia?

Mungkin yang tadi saya bilang, jika tidak lulus tiga kali pada satu mata kuliah, tidak bisa melanjutkan di jurusan tersebut atau jurusan lain yang memiliki mata kuliah yang sama. Kuliah bachelor (S1) rata-rata di sini adalah tiga tahun kalau di Indonesia kan empat tahun. Kemudian kedisiplinan di sini sangat ditekankan. Kuliah di sini lebih fokus daripada di Indonesia. Di Indonesia yang dipelajari jauh lebih luas biasanya. Student di sini juga lebih dibiasakan untuk mandiri. Contohnya kalau di Indonesia kan ada dosen wali. Untuk masalah IP, kalau IP di Indonesia 1-4 dan 4 paling tinggi. Kalau di Jerman 1-4 juga tetapi 1 yang paling tinggi. Satu mata kuliah dengan 3 sks kadang diadakan tiga pertemuan. Sedangkan di sini satu pertemuan panjang dengan 5 sks dan tugas yang banyak.

Bisa diceritakan dulu bagaimana proses apply yang dilalui oleh Ryan? Mungkin tentang persiapan apa saja yang saat itu dilakukan.

Yang pertama, ijazah pre-university yang sempat saya sampaikan. Ini diwajibkan khususnya bagi pendaftar bachelor (S1). Kemudian mengisi form pendaftaran online, melalui tiga opsi yang ditentukan oleh masing-masing universitas yaitu langsung melalui universitas tersebut, melalui sebuah website/institusi bernama uni-assist.de, dan melalui sebuah website bernama hochschulstart.de. Kemudian mengirimkan data-data yang diperlukan untuk program bachelor di antaranya adalah ijazah pre-university (studienkolleg), ijazah SMA, surat izin tinggal, CV (jika diperlukan), dan motivation letter (jika diperlukan). Sedangkan untuk program master syaratnya hampir sama seperti program bachelor tetapi ijazah pre-university diganti dengan ijazah dari universitas terdahulu kemudian ditambah sertifikat bahasa Jerman C2 resmi/ TOEFL/IELTS.

Kalau untuk dosen, bagaimana karakter dosen mengajar di kampus Ryan? Lalu siapa dosen yang paling Ryan favoritkan?

Dosen di sini disiplin, tegas, dan dosen di sini tidak bisa dipengaruhi dengan apapun, seperti rasa kasihan atau sejenisnya. Tapi mereka mengajar dengan sangat bagus dan benar-benar menjelaskan secara detail. Dosen favorit saya namanya Prof. Klotz. Cara mengajar beliau sangat enak, jelas, lucu, tetapi serius. Beliau mengajar mekanika statik di kampus saya.


Dimana Ryan tinggal selama kuliah di Jerman dan berapa biaya yang Ryan keluarkan untuk tempat tinggal ini?

Saya tinggal di apartemen di daerah Veddel, Hamburg bersama dengan dua orang Indonesia lainnya. Saya membayar apartemen sebesar 182 euro per bulan. Untuk di Jerman, khususnya di kota saya, Hamburg, itu sudah tergolong murah.

Bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari di Kota Hamburg?

Saya menghabiskan uang sebesar, 180 euro untuk tempat tinggal, 50 euro untuk transportasi, 80 euro untuk asuransi, 30 euro untuk telepon, dan 40 euro untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Pengeluaran ini untuk satu bulan jadi selama satu bulan kira-kira saya mengeluarkan 380 euro. Tetapi untuk standarnya, di Hamburg satu bulan pengeluaran sebesar 400-500 euro.

Setelah merasakan tinggal di Jerman, apa pendapat Ryan tentang masyarakat di sana? Bagaimana juga gaya pergaulan di Jerman menurut Ryan?

Masyarakat di sini tertutup. Ketika bukan kita yang memulai pembicaraan maka tidak ada pembicaraan. Harus kita yang memulai. Selain itu masyarakat di sini sangat disiplin. Mereka selalu tepat waktu dan sangat tidak mentolerir keterlambatan. Mungkin itu sebabnya sebagian orang Jerman itu kaku. Bahkan, menurut saya bahasanya pun terlalu monoton. Tetapi, ketika kita sudah masuk di lingkaran mereka, mereka sangat asyik diajak ngobrol. Mereka juga sangat toleran antar agama dan antar adat. Mereka bahkan tertarik untuk belajar. Kemampuan mereka menganalisis sesuatu juga bukan seusatu yang bisa diremehkan. 

Kalau untuk pergaulan, di sini gaya pergaulannya seperti di daerah barat lainnya, ya tergolong bebas. Tapi sekali lagi, mereka toleran. Ketika kita tidak mau mengiyakan ajakan yang bertentangan dengan agama atau adat kita, mereka mengerti dan tidak memaksa kita. Tapi sepertinya, untuk masalah disiplin, orang Indonesia perlu belajar dari orang Jerman.


Bagaimana pendapat Ryan soal fasilitas umum yang ada di Jerman?

Fasilitas umum di sini sangat terjaga. Dari transportasi yang rutin bersih dan rapi, jalanan yang bersih, dan sebagainya. Semuanya terawat dengan baik.

Apa pengalaman unik tak terlupakan yang sempat Ryan alami selama tinggal di Jerman?

Duh, apa ya. Saya bingung kalau ditanya seperti ini. Kalau bagi saya sih, seluruh hidup saya di sini pengalaman unik dan tak terlupakan. Karena setiap harinya, bahkan setiap menitnya, saya belajar sesuatu yang baru. Dari yang bersifat sosial sampai akademik. Dari saya belajar untuk mengambil resiko dan bagaimana saya bersosialisasi dengan orang yang berbeda budaya. 

Tips dari Mas Ryan buat teman-teman yang ingin kuliah di Jerman!

Kuliah di luar negeri itu gampang tapi susah. Semuanya mudah asal bahasa Jerman bisa, well minimal bahasa Inggris. Itu yang paling penting. Pelajaran lain bisa menyusul, asalkan bahasa bisa dikuasai. Penjelasan di sini sangat jelas, kalau mengerti bahasanya. Mudah kalau sudah research dari awal bagaimana kehidupan di sini. Susah kalau kesini hanya dengan bekal nekat tanpa persiapan apa-apa. Kuliah di luar negeri juga bisa dikatakan baik tapi buruk. Kehidupan di sini sangatlah bagus. Orang-orang yang toleran, disiplin, respect, pendidikan, kerja semuanya lengkap. Tapi itu sama saja bohong jika kita melupakan tujuan pertama kita ke luar negeri yaitu pendidikan. Tergoda gaji atau kebanyakan main, melupakan kuliah, kehilangan ijin tinggal, kembali ke Indonesia. Tidak sedikit yang seperti itu. Jadi tidak bisa kita ke sini dengan menggunakan mental ‘rumahan’. Kuatkan mental dan tekad dari awal, agar bertahan hidup di sini. 

Kuliah di Jerman juga murah tapi mahal. Untuk negara dengan pendidikan yang berkualitas top, Jerman tergolong negara yang murah. Kuliahnya gratis! Kadang, bisa saja lebih murah daripada hidup di Jakarta, jika dihitung juga pendapatan di Jerman (walaupun part time) dan di Jakarta. Tapi, jika dirupiahkan, bukan uang yang sedikit. Apalagi banyak yang kesini dibiayai orang tua. Belajar yang benar, agar apa yang orang tua korbankan untuk kita membuahkan hasil, bukan membuahkan bencana. Seperti kata bapak saya, be though and never give up. Semua ada jalan, asal kita berusaha dan berdoa. Ditunggu kehadirannya di sini!

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Cerita Singkat Annisa Anindita Zein Kuliah di Tokyo Institute of Technology

Salah satu negara yang bisa dibilang populer dan memang menjadi favorit dari cukup banyak pelajar dan mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan studi atau sekedar mengikuti program-program pertukaran adalah Jepang. Budaya Jepang yang terkenal disiplin lalu juga sistem pendidikan dan standar kompetensi yang sudah teruji mampu menghasilkan banyak ilmuwan dan penemuan dalam berbagai bidang khususnya teknologi merupakan beberapa alasan yang menjadikan Jepang sebagai satu pilihan populer dan favorit untuk kuliah ke luar negeri khususnya bagi pelajar dan mahasiswa dari Indonesia. Sudah tentu hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajar ditemukan di negara maju seperti Jepang dimana hingga saat ini tentu sudah ada banyak mahasiswa dan pelajar dari Indonesia yang merasakan pengalaman belajar disana.

Annisa Anindita Zein adalah satu dari sekian banyak mahasiswa dari Indonesia yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Jepang. Annisa menempuh studi jenjang S2 di Tokyo Institute of Technology pada jurusan Social Engineering. Satu alasan yang membuatnya memutuskan untuk kuliah di Jepang adalah ingatan dan kenangan yang luar biasa akan masa-masa pertukaran ke Jepang yang ia ikuti sebelumnya. Setelah lulus kuliah jenjang S1, Annisa mengikuti program pertukaran yang bernama Kanazawa University Student Exchange Program atau KUSEP. Segera setelah kembali dari Jepang untuk mengikuti program tersebut, ia memutuskan untuk segera melanjutkan studi pada jenjang S2 di Jepang. Suasana Jepang yang sangat nyaman untuk studi adalah satu alasan yang membuatnya tidak bisa melupakan dan meninggalkan Jepang.



Terlepas dari pemilihan negara yang biasanya ribet namun Annisa melakukannya dengan mudah dan langsung memilih Jepang, pada dasarnya hidup di negara lain itu pasti sulit. Tahun pertama benar-benar tidak mudah karena adanya ketidaksesuaian antara program kuliah yang ditawarkan sebelumnya dengan kenyataan ketika sudah mulai menempuh studi adalah satu faktor utama penyebab sulitnya masa awal kuliah di Jepang. Selain iu masih ditambah belum sepenuhnya menguasai bahasa Jepang hingga masa awal perkuliahan disana sangat sulit. Meskipun statusnya sebagai mahasiswa asing, penguasaan bahasa Jepang itu wajib karena memang diperlukan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitar. Satu lagi hal yang cukup mengganggu adalah perbedaan budaya yaitu di Tokyo semua orang cenderung sangat cepat dalam melakukan berbagai kegiatan. Kebiasaan untuk cenderung santai dan pelan-pelan di Indonesia sangat tidak bisa diteruskan disana.

Terlepas dari sulitnya masa awal kuliah di Jepang, dengan kemauan yang keras dan semangat yang tinggi semua bisa terlewati. Hal ini juga dipengaruhi oleh sistem perkuliahan di Jepang yang memang berbeda dibanding dengan Indonesia. Karena memang studi yang diambil Annisa adalah S2 yang berbasis pada penelitian atau riset, hal ini membuatnya lebih bersemangat dalam menghadapi masa studi disana. Teori di kelas justru merupakan pilihan karena memang lebih diutamakan untuk penelitian dan riset. Di Jepang setiap tahun mahasiswa harus melakukan penelitian jika memang studinya lebih berkonsentrasi pada riset. Dalam hal perkuliahan itu sendiri ketika satu kelas terdiri dari banyak mahasiswa Jepang maka suasananya akan lebih pasif namun jika banyak dari mahasiswa di kelas yang berasal dari Eropa maka kelas akan lebih aktif dengan diskusi dan banyak pertanyaan.

Selain kegiatan utama sebagai mahasiswa yaitu menjalani kuliah dan melakukan riset atau penelitian, ada juga kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lain yang bisa diikuti. Seperti juga di Indonesia dimana ada BEM, LEM, dan UKM, ketika di Jepang ternyata juga kegiatan-kegiatan demikian. Berbagai kegiatan tersebut biasanya didasarkan pada minat-minat tertentu seperti musik, olahraga, dan bahkan robot. Hal ini sangat menyenangkan diikuti sebagai mahasiswa asing karena bisa mencari teman baru sekaligus mengasah kemampuan komunikasi dan juga akan bisa mempelajari hal-hal baru yang bisa jadi nanti bisa dikembangkan lagi setelah kuliah entah sebagai hobi atau mungkin sebagai usaha tambahan.



Satu hal yang bisa sangat membantu ketika sedang menempuh studi di luar negeri adalah adanya komunitas mahasiswa atau pelajar Indonesia yang secara umum tergabung dalam Persatuan Pelakar Indonesia atau PPI. Jangan lewatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh PPI secara resmi atau bahkan sekedar berkumpul di waktu luang bersama teman-teman dari PPI guna mengobati rasa kangen akan Indonesia. Pada saat kuliah di Jepang Annisa bergabung dengan teman-teman dari Indonesia di PPI Tokodai. Selain itu ia juga bergabung dengan Forum Silaturahmi Muslimah atau FUHIMA. Jadi ketika kuliah di luar negeri jangan hanya menghabiskan waktu di kampus atau di tempat tinggal saja. Bergaul itu sangat perlu apalagi dengan teman-teman dari  Indonesia juga.

Nah satu lagi dari cerita singkat Annisa ini yang sangat menarik dan penting diketahui adalah mengenai makanan khususnya yang halal. Jepang memang bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim. Jepang juga bukan negara Islam namun ternyata bahkan sudah ada cukup banyak restoran yang memiliki sertifikasi halal. Hal ini berawal dari fakta bahwa penduduk asli Jepang sangat menghargai agama lain yang ada di Jepang bahkan jika itu pendatang sekalipun. Ketika mencari makanan halal, ada makanan-makanan yang memang tidak mempunyai logo halal namun dari keterangan produknya tidak mengandung bahan yang haram. Selain itu ada juga yang sudah sangat jelas menampilkan logo halal. Salah satu tempat yang layak dikunjungi untuk mencari makanan halal di Jepang adalah Manhattan Fish Market yang meskipun belum lama beroperasi namun sudah dinyatakan halal.

Sedikit cerita pengalaman Annisa tersebut tentu bisa menjadikan gambaran akan suasana kuliah di Jepang. Memang akan selalu ada kesulitan yang sudah tentu juga selalu bisa dihadapi jika memang niatnya sudah kuat. Jadi, buat kamu yang saat ini masih menyimpan rapat-rapat keinginan untuk kuliah ke luar negeri hanya karena takut ini itu dan yang lainnya, kenapa harus takut? Sudah banyak yang membuktikan bahwa kuliah ke luar negeri itu mudah, baik itu untuk mendapatkan kesempatannya ataupun bertahan dan menyelesaikannya.



Rahasia Mahasiswa Indonesia Kuliah ke Luar Negeri Ada DISINI

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Jauh dari Rumah demi Investasi Masa Depan, Pengalaman Michael Kurniawan Kuliah di Amerika Serikat

Satu hal yang sudah pasti akan dialami dan dirasakan oleh mahasiswa yang memutuskan untuk kuliah di luar negeri adalah jauh dari rumah. Hal ini berarti kehidupan akan benar-benar berbeda dibanding ketika berada di daerah asal. Namun, hingga saat ini ada banyak mahasiswa dari Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri. Bahkan jumlah mereka setiap tahun selalu meningkat. Bukan hanya itu, faktanya bahwa penyedia program beasiswa dan bantuan keuangan lain untuk kuliah ke luar negeri juga selalu bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa kuliah ke luar negeri bukan merupakan satu hal yang menakutkan. Selain itu, kuliah ke luar negeri juga bukan merupakan hal yang sulit didapat. 

Michael Kurniawan adalah satu dari lebih dari 100 mahasiswa dari Indonesia pada saat ia mengejar gelar PhD di Amerika Serikat yang berhasil didapatkan pada tahun 2015 silam tepatnya di kota Pittsburgh. Saat ia masih melanjutkan studinya pada jenjang Post-Doctoral di universitas yang sama dimana ia mendapatkan gelar PhD. Pria yang senang menikmati kopi sambil ngobrol ini sebelumnya menempuh studi jenjang S1 di Nanyang Technological University Singapore dan mendapatkan gelar BSc pada bidang Fisika di tahun 2009. Setelah itu ia sempat bekerja di NTU sebagai Research Officer hingga tahun 2012 dimana ia mempelajari den meneliti berbagai hal seputar tenaga surya. Kesenangannya akan hal-hal baru adalah salah satu faktor yang membuatnya memutuskan untuk menempuh studi di luar negeri dan bahkan melanjutkan terus studinya hingga ke jenjang Post-Doctoral.



Kembali pada kali pertama Michael menapakkan kaki di Amerika Serikat, tepatnya di kota Pittsburgh pada tahun 2012, tujuan utamanya adalah untuk mengejar gelar PhD pada bidang Materials Science & Engineering. Saat itu ia memutuskan untuk mengejar gelar tersebut di sebuah universitas yang mungkin bagi yang belum pernah mendengar namanya akan terdengar unik bahkan aneh. Carnegie Mellon University atau CMU adalah universitas dimana Michael menempuh studinya yang ia pilih karena reputasi CMU pada bidang teknik sangat luar biasa lalu juga karena jaringan alumninya yang sangat erat serta lokasinya itu sendiri di kota Pittsburgh. Menurut Michael salah satu hal yang harus dilakukan ketika berniat untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri adalah menentukan pilihan berdasarkan minimal tiga faktor penentu. Jika sudah menemukan satu pilihan berdasarkan tiga faktor penentu yang bisa apa saja tersebut maka biasanya pilihan yang dibuat sudah benar-benar sesuai dengan yang diinginkan. Paling tidak itu yang ia lakukan.

Setelah menemukan sebuah pilihan kemudian Michael mengatakan bahwa selanjutnya harus dipikirkan juga tentang pencapaian yang akan dikejar ketika menempuh studi di luar negeri. Ada banyak hal yang bisa dijadikan target untuk dikejar selain dari tentu saja gelar kuliah itu sendiri. Reputasi dari universitas yang dituju dalam bidang yang diminati sangat penting. Michael memilih CME karena memang bidang teknik dan teknologi berbasis komputer disana cukup terkemuka. Selain itu CME juga dikenal sebagai semacam penyedia dan penyalur lulusan-lulusan universitas yang pada akhirnya bisa bekerja di Apple, Google, Intel, Microsoft, dan berbagai perusahaan dalam bidang teknologi lainnya. Ada pepatah bahwa kamu adalah rata-rata dari orang-orang disekitarmu dan hal ini berarti ketika berada dalam lingkungan orang-orang luar biasa, paling tidak diri kita adalah sebuah rata-rata dari mereka. Hal ini selalu diingat oleh Michael yang membuatnya selalu berjuang keras dalam studinya. Bahkan setiap akhir pekan setelah selesai menghubungi keluarga dan teman terdekat melalui Skype, ia kembali ke kampus. Hal ini memberikan hasil positif dan juga tanggapan positif dari salah satu pembimbingnya yang bahkan memberikan izin untuk pulang selama satu bulan setiap tahunnya.



Pittsburgh adalah sebuah kota yang menyenangkan sebagai tempat tinggal. Hal ini yang dirasakan Michael ketika harus mau tidak mau tinggal disana selama beberapa tahun sembari mengejar gelar PhD yang ia inginkan. Pittsburgh berjarak sekitar 6 jam dari Chicago, 4 jam dari Washington DC, dan 7 jam dari New York yang ditempuh dengan mengendarai mobil. Ini berarti Pittsburgh cukup dekat dengan kota-kota besar dan terkenal di Amerika Serikat. Pittsburgh bisa dibilang merupakan kota pelajar dimana sangat mudah ditemui pelajar, mahasiswa, dan profesional muda dalam aktivitas masing-masing. Hal ini memberikan sebuah lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar dan menjadi produktif serta selalu merasa muda dan penuh semangat. Pittsburgh juga merupakan kota yang aman dan ramah dimana mencari teman baru bisa dibilang mudah. Biaya sewa juga sangat terjangkau meskipun untuk mahasiswa internasional. Selain itu satu hal yang mengejutkan adalah bahwa makanan Indonesia tersedia dan bahkan gampang ditemukan. Selain itu setiap tahun juga ada pesta perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang sudah pasti ada acara makan-makan juga. Hal ini membuat Michael tidak merasa sedang jauh dari rumah di Indonesia.

Pada akhirnya Michael benar-benar merasakan bahwa pilihan yang ia buat dengan menggunakan tiga faktor penentu memang sebuah pilihan yang pas. Faktanya, kuliah di luar negeri itu adalah sebuah investasi awal untuk kehidupan di masa yang akan datang. Dalam hal pekerjaan, kuliah di luar negeri bisa menjadi sebuah batu loncatan juga. Meskipun harus jauh dari rumah dan orang-orang terdekat, semua hal itu pada akhirnya akan sepadan dengan apa yang nantinya bisa didapatkan setelah lulus. Peluang untuk menjadi orang yang jauh lebih baik dan lebih besar setelah kuliah di luar negeri itu sangat besar. Jadi, kenapa masih ragu untuk kuliah di luar negeri?

Hidup itu adalah tentang memunculkan keberanian untuk menuju pada hal-hal baru dalam berbagai bidang, seperti dalam cerita Secret Life of Walter Mitty. Jika kamu merasa puas hanya berada dalam lingkup hal-hal yang sudah kamu ketahui dan tidak ada keinginan untuk mencari hal-hal baru yang belum kemu ketahui, maka kamu belum benar-benar bersyukur akan hidup. Jangan pernah berhenti mengejar impian dan keinginan untuk kuliah di luar negeri!



Jadikan Mimpimu Kuliah ke Luar Negeri NYATA
sumber: Indonesia Mengglobal

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Moh Abdul Hakim: Mahasiswa Indonesia yang Menempuh PhD Bidang Psikologi Sosial dan Politik di Massey University, New Zealand

Moh Abdul Hakim merupakan sosok sederhana yang ramah, tekun, dan tak kenal kata menyerah. Karena ketekunannya itulah saat ini pria yang akrab disapa Hakim ini berhasil sampai ke New Zealand untuk menempuh program doktoral. Pengalamannya tinggal dan kuliah di New Zealand ia bagikan kepada tim Berkuliah.com dengan harapan agar bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang. Berikut ini kisah Moh Abdul Hakim selama merantau di New Zealand.



Mari kita kenalan dulu...

Halloo, saya Moh Abdul Hakim (memang Moh gitu nulisnya karena Pak Carik males nulis panjang-panjang dulu, hehehe). Saya sedang menempuh studi PhD di Massey University di bawah supervisi Prof. James H.Liu, salah satu sarjana psikologi politik dan lintas budaya yang cukup menonjol saat ini. Bidang keilmuan saya psikologi sosial dan politik. Saya mulai kuliah di sini pada bulan Mei 2015 lalu.

Emang belajar apa saja Jurusan Psikologi Sosial dan Politik?

Well, pada dasarnya psikologi sosial dan politik fokus memahami, menjelaskan, dan memprediksi berbagai macam perilaku di dunia politik, baik di antara elit maupun orang-orang biasa. Secara spesifik kami mencoba menganalisis berbagai perilaku politik dengan pisau analisis teori-teori psikologi.

Kalau mau ikutan Apply simak di sini!

Kalau untuk sistem pendidikan doktoral di NZ, langkah pertama itu bikin proposal singkat/research intent. Nah, setelah itu kita harus dapat professor yang mau membimbing kita. Baru setelah itu kita apply ke universitas, mengisi application form, paspor, research intent, IELTS/TOEFL. Sama mungkin juga dibutuhkan sample of academic writing.

Why New Zealand?

Alasan paling penting sebenarnya adalah faktor supervisor. Saya sepenuhnya sadar bahwa studi pada level doktoral itu lebih banyak bergantung pada keahlian supervisor yang akan membimbing kita. Karena selama studi doktoral kita akan memperdalam keahlian kita pada bidang yang spesifik, biasanya hanya sedikit yang expert di situ. So, ketika saya memilih supervisor saya tidak terlalu mempertimbangkan negara dan universitas. Tapi ya, NZ memang salah satu tempat paling nyaman untuk studi juga sih.

Supervisor? Memangnya bagaimana karakter supervisornya?

Saya sudah mengikuti kuliah dan karya-karya ilmiah beliau sejak masih kuliah S1. Menurut saya, topik yang beliau dalami dan cara beliau melakukan penelitian sangat keren. Nah, setelah saya ikut proyeknya dua tahun dan akhirnya di sini, saya semakin mengenal beliau secara personal. Beliau orang yang sangat terbuka dan cukup berimbang. Dalam artian beliau tipikal pekerja keras, produktif secara akademis, tetapi di sisi lain suka banget melakukan hal-hal seru. Dan, selalu menjaga keseimbangan antara kehidupan akademis dan kehidupan keluarga. Beliau cenderung tidak suka menyuruh mahasiswanya untuk melakukan riset sesuai petunjuknya. Melainkan beliau membiarkan mereka mengembangkan ide-ide secara bebas dan kreatif. Secara personal kami cukup dekat. Kita sering sharing hal-hal personal seperti masalah keluarga dan pekerjaan. Kami juga sering BBQ-an bareng di rumahnya. Saya cukup dekat juga dengan istri dan anaknya.

Alasan lain tentang New Zealand

Banyak alasannya. Kalau dilihat dari berbagai indeks, NZ bisa dikatakan sebagai negara yang paling manusiawi. NZ memiliki skor terendah dalam indeks korupsi, skor tertinggi untuk social indicator index. Ini menunjukkan tingkat stabilitas dan kesejahteraan sosial yang tinggi. Kemudian juga berhasil memadukan budaya Maori dan Eropa dengan sangat baik. Contohnya kalau buka website universitas-universitas di sini pasti mereka akan mencantumkan namanya dalam dua bahasa yaitu Maori dan Inggris. Berbeda dengan bangsa Indian di Amerika atau Aborigin di Aussie, di sini orang Maori mendapatkan tempat secara terhormat, sejajar dengan orang Eropa. Dan mereka bangga betul dengan berbagai tradisi dan simbol-simbol budaya Maori. Orang-orangnya juga cenderung ramah dan helpful. Plus, alamnya epic.

Ketersediaan tempat ibadah untuk masyarakat muslim

Ya, saya muslim dan di Auckland setiap kampus besar punya mushola atau masjid. Tidak sulit menemukan tempat ibadah karena cukup banyak mahasiswa yang berasal dari negara-negara mayoritas muslim di sini.


Selain sibuk di dalam kampus, kesibukan apa saja yang diikuti oleh Mas Hakim?

Kebetulan saya cukup banyak terlibat kegiatan di luar kampus. Beberapa kali saya menjadi volunteer untuk organisasi sosial di sini. Selain itu, dari awal tahun ini kebetulan saya juga jadi pengurus PPI Auckland. Banyak juga kegiatan yang diselenggarakan masyarakat Indonesia yang mukim di sini. So, kami sering dilibatkan. Kalau di kalangan mahasiswa Indonesia kita punya beberapa kegiatan rutin seperti diskusi, terus acara seni dan budaya, dan juga jalan-jalan bareng. Kalau sama masyarakat Indonesia (sebagian besar sudah bekerja dan berkeluarga di sini), kita ikut pengajian mingguan, terus merayakan hari raya juga bareng-bareng, sama bikin Indonesia Cultural in Auckland setiap tahun. Terus, saya juga baru saja dapat kontrak untuk menjadi teaching staff di kampus, lumayanlah untuk tambahan uang saku.

Mas Hakim jadi Teaching Staff di kampus? Ceritain dong mas bagaimana kesibukannya?

Well, basically tugasnya membantu kerjaan main teacher. Misalnya saya harus mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk tugas dan ujian akhir. Terus membantu mahasiswa untuk menguasai materi lewat diskusi. Terus kebetulan saya juga diminta untuk mengisi satu sesi mata kuliah yang topiknya sesuai dengan keahlian yang saya dalami.

Biaya hidup di New Zealand

Biaya hidup di Auckland lebih mahal dibanding kota-kota lain di NZ. Untuk flat setidaknya NZD 175-200 tiap minggu. Saya sendiri tinggal di flat single bed room. Kalau untuk makan asal masak sendiri telatif murah, mungkin NZD 2-3 tiap kali makan. Kalau beli di kantin kampus sekali makan NZD 7-9. Pengeluaran sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara disiplin mengatur uang karena kalau sampai tidak, dipastikan spending-nya akan banyak soalnya di sini apa-apa mahal. Lalu usahakan untuk masak sendiri. Untuk tempat tinggal sebisa mungkin sharing sama teman.

Tentang fasilitas kesehatan dan asuransi kesehatan

Pernah. Selama punya asuransi sih InsyaAllah akan aman. Soalnya di klinik pasti langsung pakai itu. Di sini apa-apa sebenarnya gampang asalkan sesuai aturan. Untuk asuransi, kalau kuliah di NZ sudah otomatis akan terdaftar saat pendaftaran universitas. Preminya juga sudah masuk ke tuition fee.

Pengalaman paling menarik selama kuliah di New Zealand

Ada banyak sebenarnya pengalaman yang menarik. Tapi ini yang paling berkesan, sehari setelah saya sampai di Auckland saya langsung dijemput supervisor saya dan keluarganya, diajak ke Wellington lewat jalan darat. Itu cukup jauh perjalanan 8 jam. Nah, selama perjalanan itu kami menjumpai pelangi dua kali berturut-turut di tempat yang berbeda. Saat itu professor saya bilang, “Looks, Hakim, New Zealand seems to welcome you!”

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Program Beasiswa Prestasi USAID 2017/2018 untuk Studi S2 di Amerika Serikat

Khusus buat kamu yang baru saja menyelesaikan studi jenjang S1 dan sudah mempunyai keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2, Beasiswa Prestasi USAID adalah sebuah pilihan yang bisa kamu ambil. Seperti pada periode-periode sebelumnya, Beasiswa Prestasi USAID kembali tersedia untuk memberikan kesempatan khusus bagi para mahasiswa dari Indonesia lulusan S1 yang ingin melanjutkan studi di Amerika Serikat. Program beasiswa ini rutin ditawarkan setiap dua tahun sekali dan yang saat ini tersedia adalah untuk studi jenjang S2 mulai pada tahun akademik 2017/2018. Melalui USAID Prestasi Scholarship Program beasiswa ini ditawarkan bersama dengan beberapa program yang diprioritaskan didalamnya untuk dipilih para pemohon beasiswa.


Bidang seperti kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan bidang-bidang yang berhubungan dengan pembangunan adalah yang akan diprioritaskan untuk diberikan beasiswa ini. Secara khusus beasiswa ini akan diberikan selain kepada mahasiswa jenjang S2 adalah juga bagi yang sudah mempunyai pengalaman kerja di bidangnya minimal selama dua tahun. Penerima beasiswa ini juga harus masih mempunyai kesempatan bekerja lagi minimal selama 10 tahun sebelum waktu pensiun agar bisa menerapkan ilmu yang sudah didapatkan.
Hal penting yang wajib diketahui sebelum mengajukan permohonan beasiswa ini adalah bahwa ini bukan merupakan beasiswa penuh. Pada dasarnya Beasiswa Prestasi USAID merupakan beasiswa parsial dengan sebagian besar pembiayaan ditanggung oleh pihak USAID dan sisanya ditanggung oleh tempat kerja pemohon beasiswa ini.

Biaya yang ditanggung oleh USAID meliputi biaya pendidikan, pelatihan pra-akademik, biaya hidup, tunjangan pra-akademik, tes iBT TOEFL sebanyak 2 kali dan tes GRE, penempatan universitas hingga 4 kali, biaya buku dan laptop, serta juga asuransi. Jumlah biaya ini bisa diperkirakan mencapai USD 95.000. Selain biaya-biaya tersebut masih ada lagi yang harus ditanggung oleh tempat kerja pemohon beasiswa ini yang jumlahnya sekitar USD 5.000. Biaya ini digunakan sebagai biaya perjalanan PP Indonesia – Amerika Serikat dan juga biaya transportasi dari lokasi asal pemohon ke Jakarta. Selain itu biaya itu juga termasuk biaya kesehatan, biaya tes-tes tambahan, dan biaya penempatan universitas jika sudah lebih dari 4 kali.

Bidang Studi Prioritas
Berikut ini adalah daftar bidang studi yang enjadi prioritas dari program Beasiswa Prestas USAID. Pastikan kamu mengambil pilihan dari bidang-bidang yang ada dalam daftar ini agar supaya peluang untuk bisa mendapatkan beasiswa ini jadi lebih besar.

1. Environment (code: ENV)
Bidang ini meliputi Forestry, Marine Studies, dan Water & Sanitation

2. Higher Education (code: HED)
Gelar Master of Education
Information Communications Technology in teaching methodologies for higher education
Science (applied and social), engineering, mathematics education
Curriculum development in higher education
Workforce development through higher education institutions
Educational leadership and management in higher education institutions
Education policy for higher education
Disability service
Gelar Master (Riset)
USAID akan sepenuhnya mendukung peneliti dan ilmuwan di perguruan tinggi atau institusi pendidikan berbasis penelitian guna mempelajari keterampilan yang ada kaitannya dengan penelitian atau riset seperti misalnya penyakit menular, kesehatan ibu & anak, keanekaragaman hayati, ilmu kelautan, perubahan iklim, dan fokus di area-area strategis USAID lainnya.

3. Health (code: Health)
Public health
Maternal child heath and reproductive health
Health promotion and behavior change
Hospital management
Nursing management
Health system strengthening (health financing/economics, health management & policy, data information management, logistic supply chain management, health insurance, Pharmaceutical Economics and Policy, Pharmaceutical Management)
Biostatistics/Epidemiology
Infectious diseases
Zoonosis
Environmental health
Medical laboratory science
Bioinformatics
Medicinal Chemistry & Pharmacology


Kriteria & Persyaratan
Selanjutnya setelah mengetahui bidang-bidang yang menjadi fokus dari program beasiswa ini kamu harus juga mengetahui hal-hal yang menjadi kriteria dan juga persyaratan dari pemohon untuk bisa diterima dalam program beasiswa ini.

Kriteria
Memiliki bukti nyata dalam hal kepemimpinan
Memiliki kepemimpinan yang kuat
Memiliki penguasaan lapangan yang baik di bidang yang memang ditekuni
Memiliki minat yang tinggi untuk melanjutkan studi ke bidang-bidang yang menjadi fokus USAID Indonesia untuk memajukan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang
Memenuhi kualifikasi teknik yang diperlukan untuk pelatihan-pelatihan di bidang-bidang terkait

Persyaratan
Merupakan warga negara Indonesia tanpa adanya kewarganegaraan ganda
Bukan merupakan karyawan atau kontraktor USAID
Memiliki pengalaman bekerja minimal 2 tahun dalam bidang yang diinginkan dan juga memiliki sisa masa kerja minimal 10 tahun hingga waktu pensiun untuk mengamalkan ilmu yang didapat
Memiliki kemampuan mengunkan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan skor ITP TOEFL 450, IBT TOEFL 45, atau IELTS 5,0
Memiliki gelar sarjana atau gelar lain yang setara dari perguruan tinggi yang terakreditasi dan memiliki IPK minimal 2,75 dalam skala 4,0
Memiliki komitmen yang kuat untuk kembali ke Indonesia dan mengembangkan ilmunya setelah lulus
Tidak sedang menerima beasiswa dari lembaga atau pihak lain
Sedang bekerja dalam bidang yang ingin diambil dalam beasiswa ini
Tidak ada penundaan penerimaan beasiswa jika sudah diterima atau lolos seleksi
Pemohon dari daerah yang cenderung tertinggal akan mendapatkan prioritas lebih tinggi dari USAID
Penerima beasiswa harus lolos pemeriksaan kesehatan sebelum memulai studi
Penerima beasiswa harus bisa menyelesaikan pelatihan pra-akademik sebelum keberangkatan setelah dinyatakan lolos
Penerima beasiswa yang merupakan PNS wajib memperoleh paspor biru/service terlebih dahulu


Pendaftaran
Selanjutnya kamu harus melakukan dan mengikuti proses pendaftaran terlebih dahulu dengan mengirimkan dokumen-dokumen berikut ini sebagai persyaratan pendaftarannya.
Formulir pendaftaran (unduh disini) yang sudah diisi lengkap dan ditandatangani oleh pemohon sejumlah 4 (1 asli & 3 fotokopi)
Salinan ijazah sarjana sejumlah 4 (1 fotokopi dilegalisir & 3 fotokopi)
Transkrip resmi dari studi sarja sejumlah 4 (1 fotokopi dilegalisir & 3 fotokopi)
Foto terbaru ukuran 4x6 boleh hitam putih atau warna yang ditempel di 4 buah formulir pendaftaran tadi
Salinan kartu identitas yang berlaku resmi seperti KTP atau bisa juga aspor sejumlah 3
Salinan bukti sertifikat skor ITP TOEFL, IBT TOEFL, atau IELTS yang masa berlakunya hingga 16 November 2016 sejumlah 3
Surat rekomendasi dalam amplop tertutup sejumlah 3 rangkap
CV dalam bahasa Inggris cukup 1 saja
Salinan sertifikat penghargaan jika ada
Salinan jurnal, artikel, penelitian, atau halaman sampul dari publikasi yang sudah dibuat jika ada masing-masing 1 saja

Pastikan semua dokumen tersebut sudah lengkap dan sesuai yang diisyaratkan oleh USAID kemudian kamu cukup mengirimkan semua itu dalam satu paket ke 

USAID Indonesia
USAID PRESTASI Scholarship Program
Indonesian International Education Foundation (IIEF) Office
Menara Imperium, Lantai 28, Suite C
Jalan HR Rasuna Said Kav.1, Kuningan, jakarta 12980

Semua dokumen diatas harus dikirimkan dalam satu paket dan paling lambat diterima oleh pihak USAID pada tanggal 16 Mei 2016. Dokumen-dokumen tersebut akan menjalani seleksi administrasi yang hasilnya akan diumumkan pada bulan Juni 2016 dan pemohon yang lolos akan diminta mengikuti seleksi wawancara pada bulan Juli 2016 di Jakarta. Hasil seleksi wawancara akan diumumkan pada bulan Agustus 2016 yang kemudian pemohon yang lolos akan diminta mengikuti pelatihan pra-akademik dan persiapan keberangkatan ke Amerika Serikat.

Pihak USAID Indonesia bisa dihubungi melalui kontak-kontak berikut ini jika membutuhkan informasi lebih lanjut atau panduan lebih lengkap dan jelas mengenai program-program dari USAID.
Telepon: 021 831 7330 ext. 239
Email: prestasi@iief.or.id
Website: www.prestasi-iief.org 



Tingkatkan Peluangmu Kuliah ke Luar Negeri DISINI

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Beasiswa KPMG ASEAN untuk Mahasiswa Semester Awal Jurusan Bisnis dan Akuntansi

Beasiswa sudah tentu menjadi satu solusi favorit mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri. Terlepas dari lingkup lokasi yang diinginkan sebagai tempat menempuh studinya, pasti ada beasiswa yang bisa dipilih dan digunakan. Sebagai pelajar yang berasal dari Indonesia jika ingin melanjutkan studi di luar negeri namun tidak ingin terlalu jauh dari Indonesia tentu bisa mencari kesempatan beasiswa di lingkup ASEAN. Banyak pelajar yang berniat melanjutkan kuliah di luar negeri pada akhirnya merasa bahwa tidak ada wadah yang bisa mengakomodasi keinginan mereka hanya karena mereka tidak mencari informasi-informasi seputar program-program pendidikan dan beasiswa-beasiswa sesuai yang mereka inginkan. Jadi intinya adalah bahwa sebenarnya asal mau mencari informasinya pasti akan ketemu.

Nah salah satu program beasiswa yang lingkupnya adalah ASEAN dan saat ini masih tersedia adalah Beasiswa KPMG ASEAN. Program beasiswa ini merupakan sebuah program baru dari KPMG khusus untuk wilayah Asia Tenggara yang dimulai pada tahun 2015. Program ini sepenuhnya didukung oleh KPMG di wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. KPMG melalui program ini berniat untuk mengembangkan talenta-talenta muda dari kawasan Asia Tenggara khususnya dalam bidang bisnis dan akuntansi dengan cara memberikan panduan untuk para mahasiswa yang masih menjalani studi jenjang S1 untuk bisa menjalankan bisnis.


Beasiswa ini disiapkan dan diperuntukkan bagi mahasiswa semester awal atau tahun pertama studi jenjang S1 untuk bidang bisnis dan akuntansi. Tawaran pembiayaan dari beasiswa ini sangat menarik dan sayang jika dilewatkan begitu saja.Sejumlah total pembiayaan 45 juta Rupiah setiap tahunnya akan diberikan selama tiga tahun terakhir studi S1 yang sedang ditempuh. Selain itu tentu juga penerima beasiswa ini akan mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna seputar menjalankan bisnis karena akan ada juga kesempatan-kesempatan untuk magang di berbagai perusahaan selama menempuh studi dengan beasiswa ini pada tahun ketiga dan keempat. Masing-masing dari kegiatan magang tersebut akan dilangsungkan di perusahaan dalam negeri dan juga luar negeri dengan pembiayaan juga sepenuhnya ditanggung oleh pihak KPMG.

Selain mendapatkan kesempatan magang dalam perusahaan, penerima beasiswa ini juga bisa saja mengikuti pertukaran magang di lingkup area yang lebih luas lagi jika memang dinilai layak. Tentunya akan ada tunjangan juga dari pihak KPMG untuk kegiatan ini. Pada akhirnya setelah lulus nanti bisa saja penerima beasiswa ini akan mendapatkan tawaran dan kesempatan untuk bekerja di kantor-kantor KPMG masing-masing negara atau bisa juga di negara lain. Dengan adanya hal-hal tersebut sudah jelas bukan bahwa memang program beasiswa ini sangat sayang jika hanya dilewatkan begitu saja apalagi jika kamu memang ingin kuliah diluar negeri atau memang sangat menyukai bidang bisnis.

Persyaratan
Agar kamu tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja, maka sudah seharusnya kamu memperhatikan persyaratan-persyaratan dari program Beasiswa KPMG ASEAN ini yang terdiri dari hal-hal berikut ini.

Merupakan seorang pribadi yang memiliki motivasi tinggi dan juga diiringi prestasi akademi yang baik serta konsisten
Memperolah nilai total UN minimum 51 yang artinya rata-rata 8,5 untuk setiap mata pelajaran dengan nilai Bahasa Inggris minimalnya adalah 8,5
Mempunyai IPK minimum 3,5 dari skala 4,0 pada masa studi yang sudah dilewati yaitu semester pertama studi S1
Saat ini sedang menempuh studi jenjang S1 pada bidang bisnis atau akuntansi tepatnya pada tahun pertama atau maksimal tahun kedua
Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan ko-kurikuler baik itu di sekolah atau unversitas maupun masyarakat
Mempunyai jiwa kepemimpinan yag kuat dan juga mempunyai pola pikir internasional
Mampu berkomunikasi dengan sangat baik serta menunjukkan inisiatif yang tingi lengkap dengan antusiasme dan kematangan pribadi
Penuh percaya diri dan takd untuk berasil di masa yang akan datang


Pendaftaran
Bagi mahasiswa dari Indonesia yang ingin mengikuti seleksi program beasiswa ini bisa memulai dengan mengunduh formulir pendaftarannya yang bisa didapatkan di Formulir Pendaftaran Beasiswa KPMG ASEAN yang kemudian diisi dan dilengkapi apapun yang diisyaratkan dalam proses pendaftaran tersebut ke alamat email careers@kpmg.co.id dengan subjek email yang harus dicantumkan adalah KPMG ASEAN Scholarship Indonesia.

Pendaftaran program beasiswa ini bisa dikirimkan dan harus sudah diterima oleh pihak KPMG pada tanggal 15 April 2016. Selanjutnya seleksi wawancara dan pengumuman penerimaan dari program beasiswa ini akan dilaksanakan dari bulan Mei hingga bulan Juni 2016. Hanya pemohon beasiswa yang memang dinyatakan lolos seleksi tahap awal yang akan dihubungi dan diundang untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya. Setelah semua proses seleksi dilakukan maka penerima beasiswa ini akan mengikuti semacam ceremony pada akhir bulan Juni 2016.

Informasi lebih lanjut mengenai beasiswa ini bisa didapat di Beasiswa KPMG ASEAN.



Panduan Lengkap Kuliah ke Luar Negeri

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Rahasia Melewati Masa Transisi dan Adaptasi Kuliah di Australia

Kuliah di luar negeri memang adalah satu hal yang diinginkan banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara umumnya dan dari Indonesia khususnya. Kuliah di luar negeri berarti harus tinggal juga di negara dimana universitas, perguruan tinggi, atau institusi pendidikan yang dipilih berada. Salah satu pilihan yang menjadi favorit dari mahasiswa Indonesia adalah Australia. Lokasi dari Australia yang dekat dengan Indonesia adalah salah satu faktor yang membuat banyak mahasiswa dan pelajar dari Indonesia memutuskan untuk melanjutkan studi disana. Apakah kamu juga termasuk salah satu mahasiswa dan pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Australia?


Ketika harus pindah dari satu lokasi ke lokasi lain sudah tentu akan ada perbedaan-perbedaan dalam berbagai hal. Dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa asing yang menempuh studi di Australia tentu akan ada perbedaan bahasa, budaya, bahkan tuntutan akademis dalam lingkup pendidikannya disana. Hal-hal seperti ini jika tidak disikapi dengan baik justru akan bisa sangat merugikan diri sendiri. Akan tetapi karena keinginan yang sudah sangat kuat, hal-hal seperti itu tidak menyurutkan semangat pelajar dan mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan studi di Australia. Tercatat pada tahun 2015 lalu ada sejumlah 17,000 mahasiswa Indonesia yang tinggal dan kuliah di Australia dalam berbagai jenjang pendidikan dan jurusan atau bidang studi.
Nah, jika kamu benar-benar ingin melanjutkan studi di Australia tahun ini, tahun depan, atau tahun depannya lagi, pastikan kamu memahami dulu hal-hal penting berikut ini yang dijamin akan membuatmu bisa selamat dan bertahan dari masa-masa penyesuaian diri di semester awal perkuliahan di Australia. Simak baik-baik ya.

Minta Bantuan
Sebagai mahasiswa asing pastinya kamu akan membutuhkan banyak bantuan dati siapapun yang ada disekitar agar kamu bisa menyesuaikan diri dan belajar mengikuti kehidupan di Australia. Lokasi baru, bahasa baru, budaya baru, dan berbagai hal akademis misal cara melakukan penelitian atau cara menulis esai merupakan hal-hal yang akan sangat dekat dengan proses adaptasi di Australia ketika kamu baru memulai menjalani studi disana. Jika kamu sudah mulai menjalani kuliah di Australia berarti kamu sudah lolos tes TOEFL sesuai syarat yang dibutuhkan tetapi hal itu tidak serta merta menjamin kamu akan langsung lancar berkomunikasi di kampus dan juga di berbagai lokasi selain kampus. Aksen bahasa Inggris di Australia yang sedikit berbeda karena memang dipengaruhi oleh British English pada mulanya akan menyulitkan komunikasi. Nah hal ini hanya membutuhkan latihan dan kebiasaan jadi kamu harus aktif mengajak berbicara mahasiswa lokal australia dan juga penduduk disana. Tanyakanlah berbagai hal mengenai Australia atau kampus itu sendiri untuk bahan pembicaraan sekaligus melatih kemampuanmu berkomunikasi di Australia.

Dalam hal akademis khususnya menulis esai kamu harus benar-benar mencari informasi terlebih dahulu sejelas-jelasnya. Universitas di Australia sangat ketat dan tegas dalam hal plagiarism dimana kutipan dari apapun dan siapapun harus dituliskan semestinya dan ada sumbernya. Jika tidak kamu akan langsung dicap melakukan plagiarism dan akan ada sangsi yang diberikan padamu. Jadi hati-hatilah dalam mengerjakan tugas apapun itu jika melibatkan laporan atau esai. Pihak universitas menyediakan banyak bantuan dalam hal ini mulai dari bimbingan dengan para dosen hingga file tertulis yang bisa diunduh oleh mahasiswa.


Universitas-universitas yang menerima mahasiswa internasional di Australia sudah tentu merupakan kampus yang besar. Hal ini sangat memungkinkan seorang mahasiswa untuk tersesat dan salah jalan. Hal ini bisa sangat merugikan jika sudah sangat terburu-buru untuk mengikuti kelas kuliah. Kamu tidak perlu khawatir karena selain bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa lain atau juga penjaga dan karyawan kampus beberapa universitas menyediakan aplikasi untuk ponsel semacam GPS yang akan memandumu menuju lokasi tertentu di area kampus. Menarik bukan?

Adaptasi
Memang terdengar klise namun pada faktanya yang harus kamu lakukan untuk bertahan dari semester awal perkuliahan di Australia hanyalah untuk adaptasi semaksimal mungkin. Akan tetapi sudah pasti adaptasi yang dimaksud itu sendiri lingkupnya sangat luas. Dalam bahasa Inggris ada trik yang bernama 3A (Three As) yang bisa kamu lakukan untuk adaptasi dengan lancar di Australia. Trik itu terdiri dari Adapt (beradaptasi), Adjust (menyesuaikan diri), dan Adopt (mengadopsi). Dalam masa adaptasi dan transisi ini biasanya pihak universitas akan menyediakan semacam Guru BK ketika SMA atau Pmbimbing Akademik ketika kuliah di Indonesia yang khusus menangani masalah adaptasi. Salah satu pembimbing atau mentor ini adalah Anthony Siew yang sudah membantu banyak mahasiswa internasional untuk bisa bertahan dan menyelesaikan studi mereka di Australia. Hal ini benar-benar menunjukkan bahwa pihak universitas di Australia sangat mengedepankan pendidikan karena bahkan untuk mahasiswa asing sampai disediakan mentor guna memastikan mereka bertahan dan bisa menyelesaikan studi mereka. Nggak perlu khawatir lagi kan sekarang?

Membaur
Sudah jelas bahwa dalam bergaul kita harus membaur dengan orang-orang dilokasi kita berada. Hal ini juga yang sangat disarankan bagi mahasiswa asing untuk bisa bertahan dan melewati masa transisi dan adaptasi di awal perkuliahan. Pada mulanya tentu akan terasa sulit karena adanya banyak kendala seperti bahasa dan tentu topik pembicaraan. Namun lama kelamaan setelah usaha yang konsisten maka proses membaur dengan orang-orang sekitar tidak akan terasa sulit lagi. Bahkan bisa jadi lama kelamaan kamu akan terlihat sudah menjadi bagian dari mereka. Satu hal yang bisa dilakukan untuk lebih memaksimalkan proses membaur ini adalah dengan tinggal di semacam homestay dengan mahasiswa lokal australia. Jika ada asrama kampus dimana ada juga mahasiswa-mahasiswa Australia disana maka lebih baik tinggal disana. Selain biaya akan lebih murah sudah jelas kamu akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk bergaul dan membaur.

Selain tinggal bersama dengan mahasiswa lokal Australia kamu juga bisa selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan baik itu di lingkup kampus, asrama, tempat tinggal, ataupun umum di berbagai lokasi sekitar kampus. Kegiatan seperti masa orientasi, perkumpulan mahasiswa, hingga menjadi relawan berbagai kelompok di luar kampus bisa kamu jadikan pilihan dalam hal ini. Namun pastikan kamu bisa membagi waktu dengan baik agar tidak lalu membuat perkuliahanmu tersendat karena kelelahan. Lakukan segala hal yang dibutuhkan untuk bergaul, membaru, dan mencari teman selama semester pertama secara maksimal maka kamu akan bisa bertahan dan menjalani semester-semester selanjutnya dengan lebih mudah. Satu hal yang pasti hilangkan rasa malu untuk bergaul atau itu akan merugikan dirimu sendiri.


Cari Hal-Hal Baru
Banyak mahasiswa asing yang cenderung hanya berdiam diri saja selepas kuliah dan bahkan di hari-hari libur. Jika kamu ingin bertahan di masa adaptasi serta transisi untuk kuliah di Australia maka kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus keluar rumah atau tempat tinggal dan mencari hal-hal baru disana. Hal-hal baru disini bisa berupa banyak hal mulai dari sosialisasi dengan penduduk setempat, pergi ke tempat-tempat wisata, mencoba menu-menu lokal Australia, dan masih banyak lagi. Intinya adalah dengan kamu mencari den mengenal hal-hal baru disana maka kamu perlahan-lahan akan bisa menemukan kenyamanan dan kebiasaan akan hal-hal tersebut sehingga tidak ada lagi perasaan sebagai orang asing atau pendatang. Kamu bisa mulai dari lokasi-lokasi sekitar kampus atau sekitar tempat tinggal sembari mencari informasi berbagai hal yang menarik untuk dilakukan dan dicoba.

Hanya ada 4 hal itu tadi yang akan menjadi kunci untuk bisa melewati masa adaptasi dan transisi sebagai mahasiswa asing dari Indonesia yang menempuh studi di Australia. Jadi, apakah kamu sudah siap untuk kuliah di Australia?



Baca Ini Kamu Pasti Kuliah ke Luar Negeri!

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top