M FADLI SETIAWAN: Memilih Kuliah di Italia Karena Terbaik Mulai dari Fashion sampai Engineering!

Halo nama saya M. Fadli Setiawan yang berasal dari Malili, sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan. Saat ini saya sedang mengambil master degree pada jurusan Management Engineering di Politecnico di Milano, Italy. 


Saya memilih Italia karena saya suka dengan sport khususnya sepak bola, seperti diketahui bersama bahwa Italia adalah salah satu kiblat sepak bola di dunia. Selain itu Italia terkenal dengan art, culture, dan architecture-nya dan kebetulan saya juga pecinta budaya. Dari segi pendidikan, menurut saya Italia adalah salah satu yang terbaik di Eropa, mulai dari fashion sampai bidang engineering. Kebetulan kampus saya saat ini merupakan salah satu engineering school terbaik di Eropa berdasarkan QS Ranking 2015. Makanya saya tidak ragu untuk berkuliah di Italia. 

Beasiswa Kuliah di Italia

Sebenarnya saya memulai dengan self-funding karena pertimbangan biaya di Italia lumayan affordable jadi mungkin bisa part time untuk membantu biaya kuliah. Tapi faktanya setelah sampai di Milan, ternyata hampir impossible karena selain pertimbangan bahasa juga dari jadwal kuliah yang padat. Tapi alhamdulilah mulai semester depan insyaAllah saya akan dibantu beasiswa.


Bekerja Part Time

Kalau part time mungkin agak jarang ya ditemuin di sini. Selain mungkin dari faktor harus jago bahasa Italia juga karena nggak ada waktu buat part time. Tapi dari kampus sendiri menyediakan financial aid dalam bentuk part time (150 hours position) yang pastinya penempatannya di area kampus.

BelajarBahasa Italia

Sebelum dan setelah di sini. Saran saja untuk teman-teman yang berencana ke Italia kalau bisa belajar bahasa Italia sedikit-sedikit soalnya mostly orang sini nggak bisa bahasa Inggris. Kalau dalam perkuliahan bahasa yang digunakan in English tapi dengan aksen Italia yang sangat kental.


Sistem Perkuliahan

Mungkin seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, di Italia menggunakan sistem ECTS. Terdiri dari 120 credits yang dibagi ke dalam 4 semester. Untuk sistem penilaian, menggunakan skala 30, nilai 18 untuk minimum lulus dan 30 cumlaude the highest grade.

Kegiatan di Luar Kuliah

Kalau ekstra kampus, biasanya kita mahasiswa Indonesia di sini sering kumpul-kumpul bareng. Biasanya ngadain pengajian dan mengajar tilawah bareng dengan diaspora Indonesia yang ada di Milan juga.

Cuaca di Italia

Standar sih. Kalau musim dingin paling pakai jaket tebal dan beberapa perlengkapan lain tapi musim panas biasanya yang lumayan bisa sampai 27-30 celcius, cara ngakalinnya biasanya stay di rumah saja. Aku pada dasarnya suka semua musim tapi mungkin summer di sini agak berlebihan jadi nggak terlalu nyaman. Kalau most lovable itu spring karena memang baru dapat dua musim di sini.

Tentang Culture Sepak Bola di Italia

Di sini euforianya pecah banget! Bar-bar biasanya mengadakan acara nonton bareng. Terus kan kemarin final champion terakhir di Milan makanya kemarin Milan rame banget sama supporter bola.

Kemarin rencananya ingin nonton langsung tapi pas di Sansiro nggak ada nonton bareng akhirnya nonton bareng di rumah deh, hehehe. Oh iya, kemarin sempat juga ketemu beberapa turis Indonesia yang ingin nonton langsung.


Fasilitas Kesehatan di Italia

Kalau masalah fasilitas kesehatan menurut saya sudah cukup baik sih. Jadi dari pemerintah Italia sendiri menawarkn asuransi kesehatan yang perlakuannya sama dengan masyarakat lokal. Nama asuransinya SSN. Jadi nanti, setelah mendapatkan SSN itu kita bebas pilih medico (dokter) dan itu free. Dengar-dengar juga biaya rumah sakit gratis juga bahkan sampai yang butuh operasi digratiskan. Kalau menggunakan sih aku alhamdulilah belum pernah dan jangan sampai.

Pengalaman Unik

Kalau pengalaman sih bukan unik kali ya. Ini lebih ke pengalaman traumatic. Jadi waktu itu pas baru datang ke Milan sempat kecurian. Jadi ceritanya waktu itu pas baru tiba terus dijemput sama anak Indonesia yang kuliah di sini, terus dalam perjalanan menuju apartemen ada sekumpulan orang begitu memang terkenal sih kalau di Milan. Mereka mencoba mengambil barang aku yang isinya itu HP, passport, dan barang-barang penting lainnya dan alhamdulilah keburu nyadar akhirnya nggak sempat kecurian. Ada hikmahnya juga sih biar semakin waspada.

Saran Untuk Teman Indonesia yang Ingin Kuliah ke Italia

Sarannya, semangat aja buat teman-teman yang mau dan sedang berjuang buat studi ke luar negeri. Studi ke luar itu butuh serangkaian proses. Jangan menyerah pada proses, terus berjuang dan ikhtiar sama tujuan awalnya. Dan yang paling terpenting doa orang tua yang dijamin mujarb. Eropa khususnya Italia banyak sekali menyediakan beasiswa tinggal cara kita bagaimana menjemput ‘bola’ tersebut.

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Cerita dan Perjalanan Imdad Azizy dari Pondok Pesantren di Jawa Timur Sampai Universitas Al Azhar Mesir

Kuliah ke luar negeri bisa dimanapun sesuai minat dan keinginan. Bagi para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia dengan orientasi studi bidang ilmu-ilmu Islam, Mesir dengan Universitas Al Azhar adalah satu pilihan tepat. Seperti Imdad Azizy yang seorang lulusan pondok pesantren kemudian mengambil kesempatan untuk kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Berikut cerita perjalanan dan pengalamannya.



Mas Imdad terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bersedia di-interview. Pertama Mas Imdad bisa cerita dulu mengenai background-nya, kenapa ingin kuliah di Mesir, sebelum di Mesir belajar dimana, lalu apakah kuliah di Mesir itu dari kecil sudah punya keinginannya atau bagaimana?

Saya lulusan pesantren, Darussalam Gontor, Jawa Timur. Sebelumnya saya sempat mengenyam pendidikan SMP di Pontianak Kalimantan Barat lalu setelah itu baru ke Darussalam Gontor untuk menempuh pendidikan SMA termasuk belajar bahasa Arab juga. Bagi sebagian lulusan pondok tentu ingin melanjutkan studi di luar negeri dengan basic yang memang dipunya, yaitu bahasa Arab jadi alangkah baiknya jika bisa melanjutkan studi ke ngara-negara yang berbasis bahasa Arab.

Banyak pilihan di kawasan Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Mesir, Maroko, dsb. Banyak juga peluang yang memang ditawarkan oleh masing-masing kedutaan dari berbagai negara tersebut untuk pelajar dari Indonesia. Salah satu yang paling menarik adalah Mesir karena disana bukan hanya karena persoalan budayanya saja atau kampusnya saja Al Azhar yang memang terkenal tapi juga dinamika kehidupan disana dan juga sebagai pusat peradaban disana. Banyak hal yang membuat kami lulusan pondol tertarik untuk melanjutkan studi di Mesir dan akhirnya saya serta teman-teman mengikuti ujian yang ditawarkan oleh kedutaan Mesir di Jakarta.

Ikut ujian dan Alhamdulillah terpilih dimana pada saat saya mengikuti seleksi, yang lulus hanya 144 orang, pada tahun tahun 2011. Pada waktu itu sebenarnya ada 2 ujian yaitu ujian di kedutaan Mesir yang ada di Indonesia namun kemudian batal karena sedang ada masalah di Mesir, lalu ada ujian lagi di akhir tahun yaitu di UIN Jakarta yang diadakan oleh Kementerian Agama. Untuk ujian seleksi kuliah di Mesir dari Kementerian Agama memang itu di UIN pusatnya.

Selanjutnya untuk Tes atau Seleksnya Waktu itu Apa Saja dan Bagaimana?
Ujiannya berupa pilihan ganda jadi tidak begitu sulit. Pada dasarnya untuk ujian dibagi menjadi 2 yaitu ujian tulis dan lisan. Pertama untuk ujian tulis memang berupa pilhan ganda dengan cakupan ujiannya berbagai bidang seperti tafsir, sejarah keislaman, ilmu shorof, dsb. Kemudian ada juga ujian lisan, jadi kelulusannya terikat dengan 2 ujian itu. Waktu itu ujian lisan saya pengujinya dosen Al Azhar sendiri yang sekarang menjadi rektor. Ujiannya simple, hanya berbicara dengan bahasa Arab tentang perkenalan diri dan kenapa ingin kuliah di Mesir, lalu diikuti hafalan Al-Quran yang waktu itu pada zaman saya minimal 2 Juz dan sekali maju untuk ujian lisan itu berdua.

Misalnya ingin ikut tes-tes untuk kuliah ke Mesir begitu apa yang harus disiapkan?
Karena Mesir itu negara berbahasa Arab jadi menurut saya sepatutnya belajar bahasa Arab. Kemudian juga harus belajar tentang sejarah-sejarah Islam, karena dominannya mahassiwa di Al Azhar dari berbagai negara mengambil studi di fakultas keislaman dengan berbagai jurusan dan bidang khusus yang ditawarkan disana. Jadi kuatkan fondasinya di bahasa Arab dulu. Kalaupun tidak bisa bahasa Arab tapi ada dasar ilmu-ilmu di sejarah Islam, pernah belajar tafsir dsb, sepatutnya tetap dicoba karena bahasa Arab sangat bisa dipelajari ketika sudah tiba di Mesir nanti.

Setelah ujian selesai, pengumumannya berapa lama?
Karena ujiannya waktu itu akhir tahun, penumumannya cepat, hanya sekitar beberapa hari pengumuman tapi lalu ada ujian lagi untuk mencapai jumlah yang akhirnya lolos 144 orang yang bisa berangkat ke mesir. Pengumumanya juga bisa diakses lewat internet jadi memudahkan untuk melihatnya.

Setelah ada pengumuman jeda waktu dengan keberangkatan ke Mesir?
Kalau tidak salah saya dulu seminggu sampai dua minggu hanya untuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk di Mesir mulai dari jaket karena waktu itu musim dingin, lalu obat-obatan, dll. Saya berangkat pada tanggal 22 Oktober 2011. Untuk visa sudah ada pihak yang membantu, kami tinggal menyiapkan kebutuhan-kebutuhan personal saja.


Biaya waktu itu sendiri atau ada bantuan?
Saya menggunakan biaya sendiri karena tes seleksinya dari kementerian, tiket sendiri, visa sendiri. Lalu setibanya di Mesir setelah mulai masuk kuliah dan keluar nilai atau IPK baru bisa mengajukan beasiswa, jadi setelah minimal selesai 1 tingkat (2 semester). Jadi di Mesir itu memang banyak lembaga yang mengeluarkan beasiswa mulai dari Al Azhar sendiri lalu ada misalnya Rumah Kuwait, dll. Jadi teman-teman tidak perlu pusing bagaimana hidup di Mesir tanpa beasiswa dari pemerintah Indonesia, karena beasiswanya justru didapatka disana. Bahkan ada yang menawarkan sampai 1,2 juta Rupiah per bulan. Beasiswanya itu untuk biaya hidup saja karena memang studi di Al Azhar tidak perlu membayar uang kuliah lagi, hanya perlu membayar uang regisrasi untuk pembuatan kartu. Oleh karena itu biaya yang ditawarkan dari beasiswanya itu sepenuhnya untuk biaya hidup dari berbagai lembaga tadi.

Bulan-bulan pertama di Mesir penyesuaiannya bagaimana dengan berbagai peredaan yang ada?
Awalnya itu pasti kaget ya, apalagi waktu tiba disana sedang musim dingin. Sangat perlu beradaptasi apalagi yang paling penting itu faktor makanan. Adaptasi dengan lingkungan lebih mudah daripada adaptasi mengenai makanan. Jadi harus terbiasa dengan makanan Mesir dulu, bahkan cabe-cabe itu di indonesia yang pasti pedas, di Mesir ada ternyata yang nggak pedas. Pada dasarnya penyesuain itu perlu 1 sampai 2 bulan.

Mengenai cara berinteraksi dengan Mesir juga peru penyesuaian. Dasarnya yang kita pelajari adalah bahasa Arab yang tipenya formal dan yang diterapkan seringkali adalah bicara dengan sesama orang Indonesia yang juga bisa menggunakan bahasa Arab. Jadi saya belajar bahasa Arab di Gontor, lalu saya bicara dengan teman saya dari pondok lain di Indonesia, sama, cocok, dan paham bahasanya. Tapi jika bahasanya diterapakan di Mesir akan jelas ada perbedaan. Jadi harus terbiasa mendengar, terbiasa mamahami yang mereka ucapkan baru bisa.

Pastinya akan butuh proses apalagi dengan lingkungan kuliahnya itu sendiri. Kadang ketika tidak bisa datang pagi untuk kuliah, harus duduk paling belakang, kemudian sound system dikelas tidak bagus karena suaranya menggema jadi tidak jelas kuliahnya. Benar-benar perlu adaptasi pastinya dan itu butuh proses.

Waktu pertama datang itu bareng-bareng atau sendiri?
Saya waktu itu bareng-bareng lalu PPMI yang menjemput. Jadi untuk kuliah di Mesir ada beberapa gelombang pemberangkatan, setibanya di mesir PPMI yang menjemput lalu mengenalkan apa itu Al Azhar, mengenalkan bapak kita disana siapa, mengenalkan bagaimana hidup yang baik di Mesir, lalu ada juga semacam orientasi di Mesir untuk mahasiswa baru.

Untuk tempat tinggal sudah disediakan atau bagaimana?
Tempat tinggal diicarikan, bisa dari PPMI, bisa juga dari teman, bahkan kakak kelas juga bisa, banyak pilihannya. Biasanya sesama anak baru dikumpulkan di 1 rumah dimana disana ada 1 senior yang mengarahkan sebagai pembimbing. Itu sudah menjadi semacam adat di Mesir untuk mahasiswa baru. Jadi intinya anak baru tidak dilepaskan dalam 1 rumah bersamaan. Minimal ada 1 kakak senior sebagai pembimbing untuk mengarahkan, jadi sistem ini menurut saya sangat bagus dan sudah menjadi kearifan lokal di Mesir.


Selanjutnya masuk ke perkuliahan di Mesir, jadi disana kuliahnya bagaimana?
Jadi untuk perkuliahan di Al Azhar itu kebijakannya berbeda di setiap jurusan. Jadi yang berlaku di fakultas Hukum Islam begitu mialnya, tidak berlaku di jurusan-jurusan lain, karena itu bahkan bisa sampai tingkatan kebijakan setiap dosen. Pernah dosen saya itu mewajibkan seluruh siswanya untuk masuk dan membacakan presensi, jadi uniknya di Al Azhar ini karena siswanya banyak ya jika dibacakan presensi maka jam kuliahnya habis untuk itu saja. Kalau masuk semua, satu kelas untuk 600-an orang itu tidak cukup. Jadi memang tidak ada absensi di kelas, itu yang pernah saya rasakan, namun di jurusan lain mungkin ada.

Lalu di Al Azhar itu uniknya ilmu yang kita cari tidak hanya bisa dikenyam di bangku kuliah saja, disitu ada masjid Al Azhar, jadi disitu ada dosen-dosen, pakar-pakar setiap bidang berkumpul dan teman-teman juga sering ikut disana untuk mendapatkan berbagai ilmu tambahan. Kadang taman-teman tidak masuk kuliah karena mejanya penuh dan dipaksakan ikut sekalipun tidak akan dapat kursi. Bisa jadi sudah tidak ada posisi enak, adanya jauh dari sound system, kalau sudah begitu saya sendiri memilih keluar dan mengisi waktu dengan kegiatan lain. Sebagian teman-teman punya cara untuk menyiasati hal tersebut yaitu titip rekaman. Jadi saya sendiri punya rekaman kuliah dari tingkat 1 sampai tingkat 4. Tinggal buka filenya jika perlu untuk belajar, itu dalam mp3 formatnya. Caranya titip rekaman cukup menggunakan hp yang diletakkan di meja dosen dimana itu memang boleh karena untuk mengantisipasi meja yang tidak cukup iu tadi.

Kadang ada mata kulah yang memang cenderung kita memilih untuk tidak masuk, misalnya untuk orang Mesir itu bahasa Inggris. Itu tipikalnya susah bagi orang Mesir karena pada dasarnya mereka seperti kita. Biasanya orang Indonesia menulis bahasa atau huruf latin lalu diminta menulis bahasa atau huruf Arab akan susah. Sementara itu orang Mesir sudah biasa menulis Arab yang ketika harus menulis latin seperti bahasa Inggris itu jadinya susah. Jadi untuk ilmu-ilmu keagamaan orang-orang Mesir yang masuk banyak, namun untuk bahasa Inggris justru sebaliknya.

Menurut saya tidak adanya presensi itu faktor karena fasilitasnya yang belum cukup saja. Sekarang ini Al Azhar sedang melakukan pembangunan besar-besaran jadi mungkin setelah selesai akan ada perubahan sistem. Cara yang dipakai untuk mengantisipasi itu dengan rekaman juga bagus, jadi meski tidak masuk tetap tidak tertinggal pelajaran. 


Kemudian selain kuliah, pada saat waktu luang apa kegiatannya?
Kalau saya lebih banyak bergerak di organisasi, PPMI. Kegiatannya majemuk di Mesir, dimana kalau tidak salah ada sekitar 3000 mahasiswa dan sebagian dari mereka aktif di organisasi. PPMI itu induknya yang menaungi berbagai organisasi di bawahnya dalam berbagai bentuknya dan lingkupnya. Saya dan teman-teman aktif di organisasi induknya, lalu sering mengadakan event yang bahkan tidak hanya bulanan lagi, tapi mingguan. Intinya silaturahim dengan berbagai organisasi, jadi kehidupan di Mesir memang kalau tidak di organisasi ya kuliah atau belajar.

Tetapi ketika sudah masuk masa ujian, minimal 1 bulan sebelum ujian itu kita semua vakum. Semua mahasiswa Indobesia di Mesir kegiatannya hanya diskusi dan belajar bersama. Jadi kegiatan PPMI itu tidak penuh dalam waktu 1 tahun, ada waktu-waktu khusus dimana kami vakum menjelang ujian. Karena sudah umum diketahui bahwa ujiannya di Al Azhar itu mengerikan, sudah belajar sekalipun masih bisa gagal, apalagi jika tidak belajar. Makanya lebih baik mempersiapkan diri secara maksimal dibanding menyesal setelah nanti keluar hasilnya dan hanya bisa menyesal.

Ujiannya seperti apa di Al Azhar?
Ujian di Al Azhar itu unik, sperti saya bilang sistem perkuliahannya juga sudah unik. Ujiannya dibagi 2 yaitu ujian lisan dan ujian tertulis. Untuk ujian lisan tidak banyak yang diujikan hanya sebagian saja, untuk ujian tulis itu lebih banyak lagi materinya. Contoh di kampus-kampus lain itu ujiannya 1 materi misalkan materi hukum, soalnya ada banyak sampai 10 atau lebih, jadi ketika ada salah beberapa tentu mash ada yang benar beberapa juga. Tapi di Al Azhar itu soalnya cuma 1 atau 2, jadi bisa saja kalau salah semua tidak ada harapan. Saya pernah itu ujian saya materi bukunya 500 halaman, soalnya cuma 2 tapi meskipun ada poin-poin tambahannya, secara umum tetap mengikat pada 2 tema utama jadi ketika salah ya sudah, harapan tipis unuk naik tingkat. Kadang soalnya sedikit tapi mematikan. Contoh, yang 500 halaman tadi, saya baca hanya sebagian dari halaman 1 - 400, tapi ternyata soal yang keluar justru mengenai halaman 401 - 500.

Materi yang paling sulit saat ujian?
Jadi ada bahasan mengenai hukum aborsi di sebuah mata kuliah, soal ujiannya tentang bagaimana pandangan UU Mesir terhadap hukum aborsi ini? Nah, jadi menurut saya juga waktu itu saya sebagai mahasiswa Indonesia, kenapa juga membaca Undang-Undang Mesir, tapi ternyata soalnya begitu yang cenderung ke orang-orang Mesir saja yagng paham. Ujiannya juga essay jadi harus benar-benar paham. Teman-teman unik kalau ujian, jadi sebelum menjawab itu sampai menulis doa juga di lembar jawab untuk menarik perhatian penilai. Selain itu bisa juga dengan menulis yang rapi, menggaris pinggir kertasnya, bahkan ada yang menulis sholawat agar pemberi nilai tertarik.


Ada ceita-cerita yang jarang orang tau, semacam untold story ketika kuliah di Mesir?
Saya pernah mengalami pengalaman unik pas tingkat 3. Jadi saya ujian lisan bersama orang dari Singapura dan Malaysia. Berawal dari kebiasaaan untuk ujian lisan dimana kita tahu kemampuan diri sendiri, saya level belajarnya sekian, jadi saya akan mencari teman-teman yang satu level dengan saya, kemudian belajr bareng, lalu ujiannya juga bareng untuk ujian lisan. Tujuannya jadi kalau tidak bisa satu yang lain juga pasti tidak bisa. Jangan mencari yang berbeda level. Waktu itu saya mau masuk ujian lisan, cari teman yang satu level ternyata sudah tidak ada, tinggal yang pintar semua. Lalu saya hanya menunggu tapi kemudian saya ditarik oleh teman saya orang Malaysia, jadilah didalam dengan orang Malaysia dan Singapura. Waktu itu ujian lisan soalnya hanya 1 saja, siapa pengajar kamu di pelajaran ini? Pertama orang Singapura ditanya, nggak tau, alasannya karena sakit, lalu dosennya tanya kamu sakit setahun sampai tidak kenal? Orang kedua orang Malaysia, ia tidak tau juga, lalu dilempar ke saya, saya tahu karena saya pernah masuk kelasnya. Ya dosennya itu yang menguji itu jawabannya, saya bilang anda pak dosen, lalu akhirnya saya disuruh keluar, selesai, itu ujiannya, dan saya berhasil naik tingkat keempat, 2 teman saya tidak. Jadi ada hal unik yang bahkan tidak akan bisa diprediksi, harus siap saja.

Sering ada konflik dengan orang Mesir?
Harus dipahami bahwa tipikal orang Mesir itu keras kepala, benar atau salah memang begitu, malah kebanyakkan orang Timur Tengah ya begitu. Tapi itu kita maklumi, tidak juga menggeneralisir, masih ada juga yg baik, terutama tetangga-tetangga terdekat yg sering memberikan makanan dan bahkan uang. Ketika bulan puasa warga Mesir berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Semua yang memiliki harta lebih biasanya membuat semacam tempat duduk panjang plus meja lalu menyiapkan makanan untuk buka. Jadi disana tidak perlu pusing mencari makan untuk berbuka, karena banyak semacam rumah makan gratis, dan itu makan berat. Jadi disetiap masjid ada, bahkan di setiap pojok jalan ada. Kita sering memilih diluar rumah karena bisa sekaligus berbaur dengan warga Mesir. Intinya ada yang baik, ada yang kurang kerjaan juga pada dasarnya.

Disana biaya hidupnya bagaimana dibanding Indonesia?
Biaya hidup di Mesir secara umum terjangkau. Uang yang digunakan adalah Pound Mesir, sekitar Rp 1500. Standar bagi kita di Indonesia sebenarnya, misalkan mau beli makan di Indonesia, itu sekitar 15rb Rupiah untuk nasi Padang, sementara di Mesir sekitar 15 Pound Mesir untuk sekali makan. Bedanya nol-nya banyak di indonesia untuk mata uang. Transportasi juga terjangkau, kita bisa kemana saja dengan 1 atau 2 Pound Mesir. Ongkos bis 1 pound bahkan mau ke Pyramid saja bisa sampai dengan MRT. Bayar rumah biasanya patungan, 1 bulan 1000 Pound Mesir, ada 5 orang dalam 1 rumah jadi per orang patungan 200 saja. Kita cenderung dirumah kontrakan jadi satu dengan orang Indoneia saja karena ada yang pernah berbaur itu banyak penyesuaiannya yang misal jadi tidak selera makan, kita masak apa mereka tidak bisa makan dan sebaliknya mereka masak apa kita tidak bsia dsb. Jadi interaksi dengan orang luar di kuliah atau diluar kuliah juga diluar rumah.


Orang kuliah di Mesir itu, yang menurut mas Imdad itu prospek di jurusan atau bidang apa?
Pada dasarnya ilmu-ilmu atau jurusan-jurusan dan fakultas di Al Azhar itu ada di Indonesia semua misalnya di UIN. Hanya perbedanaanya adalah kita bisa mendapatkan ilmu dari mana saja, di Al Azhar kita langsung mendapatkan ilmu dari para guru atau para pakar yang tidak diragukan lagi. Lalu kita juga ada di lingkungan yang berbeda jadi kita juga bisa melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda pula. Kita bisa tahu harusnya Indonesia bisa begini begitu, dll. Di Al Azhar ada Hukum Islam, Bahasa Arab, dan Ushuluddin, itu yang paling bayak diambil mahasiswa dari Indonesia. Selain itu ada beberapa yang lain namun tidak begitu ramai. Biasanya sebelum ke Mesir masing-masing sudah tahu ingin ambil jurusan atau bidang apa. Misalkan di daerah saya pakar Hukum Islam kurang, jadi kuliahnya ambil yang itu di Mesir.

Lalu ada sistem baru di Al Azhar, dimana teman-teman yang lolos seleksi di kementerian akan masuk kelas yang namanya markaz bahasa. Disana mereka dididik ulang tentang bahasa. Jadi yang menganggap dirinya tidak bisa bahasa Arab atau bahasa Arab-nya masih kurang, nanti dididik bahasa arabnya sekaligus belajar dasar-dasar ilmu agamanya, itu adalah bekal yang sangat efektif sebelum kuliah. Program itu baru dimulai tahun 2014, jadi pada waktu saya dulu belum ada. Menurut saya hal itu memang bisa memfasilitasi teman-teman yang menganggap dirinya kurang mumpuni dalam skil bahsaa Arab dan juga sekaligus banyak belajar ilmu-ilmu dasarnya yang nantinya akan dipelajari di kuliah lebih lanjut.

Mas Imdad dulu menggunakan beasiswa?
Saya memanfaatkan beasiswa Al Azhar sampai akhir kuliah tapi daftarnya waktu tingkat kedua. Karena biasanya lembaga pemberi beasiswa punya syarat sendiri. Misalkan Rumah Kuwait, beasiswa ditawarkan untuk mahasiswa asing, tapi minimal mengantongi nilai yang baik, bagus, atau good standarnya untuk di Mesir. Di Al Azhar nilai itu tidak menggunakan IPK tetapi yang digunakan adalah good, very good, enough, atau dibawahnya. Bahkan ketika ditanya teman-teman juga menggunakan bahasa itu, bukan bilang nilainya 3,5 atau berapa. Beberapa lembaga beasiswa juga bahkan menyediakan tiket pulang kemanapun negara asalnya. Syarat beasiswa Al Azhar yang saya pergunakan cuma perlu menunjukkan bukti naik tingkat saja.


Pengalaman paling menarik selama di Mesir?
Banyak pengalaman seru, menarik dan unik selama saya berada di Mesir. Namun kalau disuruh memilih salah satu pengalaman diantara beribu pengalaman menarik adalah saat saya berada di tahun ketiga. Waktu itu seluruh mahasiswa universitas Al Azhar sedang tekun mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester. Saya juga demikian, sampai begadang membaca diktat yang akan diujikan lalu mengulang hapalan. Kala itu kami sedang menghadapi ujian lisan. Ujian lisan merupakan salah satu yang paling saya takuti sebenarnya. Karena selain yang diujikan adalah materi-materi dari berbagai mata kuliah juga diujikan pula hafalan Al Quran. Dengan persiapan yang kurang matang karen sibuk di berbagai kegiatan dan kurang menguasai banyak materi untuk menghadapi ujian lisan ini, saya memasuki ruangan ujian dengan terbata bata bersama dua rekan saya dari Singapura dan Malaysia. Ketika duduk setelah mengucapkan salam, sang penguji melontarkan pertanyaan pertama kepada kami. Pertanyaannya 'Man mudarrisuka fid darsi Ushul Fiqh' Siapa pengajarmu pada materi Ushul Fiqh tanyanya. Pertanyaan ini dilontarkan bergantian mulai dari rekan saya yang Malaysia lalu Singapura lalu saya. Sayangnya dua rekan saya tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan itu karena belum pernah masuk pada materi Ushul Fiqh. Ketika tiba giliran saya, saya menjawab 'Antum ya Duktur', Anda pak dosen yang menjadi pengajar dalam materi ushulu fiqh'.

Sang penguji tersenyum dan mengatakan 'Silahkan kamu keluar kamu lulus ujian lisan'. Saya girang dan keluar dengan sangat senang. Karena memang saya sendiri belum matang untuk mempersiapkan ujian lisan dari mulai pemahaman materi kuliah atau hafalan Al-Quran.

Pesan untuk adik adik yang mau kuliah di Mesir?
Orang-orang menjuluki Mesir sebagai pusat keilmuan, kalau kita ingin mengambil ilmu tersebut maka datangi sumbernya. Mesir tidak hanya menjanjikan ilmu, wawasan, pengetahuan dari bangku kuliah saja. Diluar perkuliahan juga demikian. Selain itu Mesir juga menawarkan keindahan alam serta peradaban yang luar biasa dan dikenal dunia. Dengan belajar di luar negeri, kita dapat melihat Indonesia dari perspektif luar untuk dapat berkontribusi lebih baik lagi.

Reporter : Rizqi Akbar Syah

Editor : Denal Sukma Dewa

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



RISA ADISTYA PRIMASTUTI: Kuliah S2 di Korea University Jurusan Curriculum Studies

Korea Selatan ternyata bukan hanya sebuah negara yang populer karena idol group-nya. Lebih dari itu, Korea Selatan memiliki kualitas pendidikan yang baik dan fasilitas yang sangat memadai untuk para mahasiswa asing. Risa Adistya Primastuti atau yang akrab disapa Risa ini telah merasakan sendiri bagaimana serunya kuliah di Korea Selatan. Ingin tahu bagaimana cerita lengkapnya? Ini dia hasil wawancara dengan Risa.


Halo, silakan perkenalkan diri terlebih dahulu nama saya Risa Adistya Primastuti dari Yogyakarta. Saya kuliah S1 di Psikologi UGM angkatan 2008 lalu melanjutkan S2 di Korea University jurusan Curriculum Studies angkatan 2014.

Saya di Korea Selatan karena memang tertarik atas dua hal, pertama negara kedua universitasnya. Alasan memilih Korea karena Korea sama Indonesia kan merdeka hanya selisih beberapa hari tapi Korea bisa semaju sekarang ini. Nah, dari research yang aku lakukan, salah satu alasannya Korea bisa sebesar ini adalah karena pendidikannya. Jadilah aku kemudian mantap memilih Korea. Selain itu, profesor di kampus tempat aku belajar sekarang ini adalah salah satu profesor terkenal dan orang yang berpengaruh di dunia pendidikan Korea. Maka dari itu aku memilih universitas ini.

Pengalaman Apply

Kalau apply universitas, pertama aku mencari profesor yang research interest-nya sama dengan aku kemudian aku kirim email deh. Kalau beliau juga tertarik sama kita biasanya emailnya akan dibalas kemudian ada interview yang bisa dilakukan by email atau skype. Bagian yang menurutku paling susah sih paling kalau pas sudah kirim email tapi di-ignore sama profesornya. Tapi akhirnya aku bisa diterima dan mendapat Beasiswa LPDP.

Tips Bergaul

Aku pertama kali punya temen Korea waktu program di UGM dan mereka ramah banget. Terus aku juga sempat exchange ke Jepang selama setahun di sana. Aku juga dapat teman dekat orang Korea saat itu dan sangat baik. Tapi, pas aku datang ke sini mereka nggak sebaik teman-teman aku makanya aku agak kaget juga sih. Mereka cenderung agak tertutup dengan orang baru terutama foreigners. Hmm...bisa bahasa Korea itu penting banget. Mereka akan lebih welcome kalau kita bisa bahasa Korea. 

Nah, biar komunikasi lancar, bergaul lancar, belajar lancar, hidup dilingkungan juga lancar, sebelum ke korea aku belajar dulu bahasanya. Aku sempat belajar di pusat bahasa Korea di UGM satu level kemudian pas di Jepang aku juga ambil kelas bahasa Korea tapi kebanyakan otodidak sambil main sama teman-teman Korea.

Selama di Korea aku nggak hanya kuliah pulang aja, aku biasanya ikut dalam program volunteer. Sekarang aku sedang mengikuti program ASEAN Korea lebih ke taekwondo begitu kegiatannya. Jadi kegiatan ini mempertemukan anak-anak ASEAN dengan anak Korea untuk belajar taekwondo sekaligus juga untuk pertukaran budaya. Dalam program ini aku membantu sebagai staff. Sebelumnya aku juga sering mengikuti kegiatan Perpika, sering jadi panitia dalam event-event yang diadakan Perpika. 


Tentang tempat tinggal kalau bisa sebelum berangkat ke Korea kamu sudah punya gambaran, kalau bisa sih malah sudah punya tempat tinggal duluan. Aku sih tinggal di dorm dan aku nggak begitu banyak tahu tentang pilihan tempat tinggal lain di sini. Menurut aku dorm di kampus sudah sangat nyaman dan aman. 

Sampai sekarang sih aku bisa menerima dengan baik perbedaan budaya ini. Tapi mungkin aku masih suka sebel kalau tiba-tiba lihat orang pacaran kemudian ciuman di tempat umum. Kalau untuk culture shock, karena aku bukan pertama kali datang ke Korea jadi aku merasa biasa saja. Cuma aku mungkin masih suka shock sama udara dingin yang kadang bisa dingin banget kadang biasa saja.

Pengalaman Paling Seru

Pengalaman seru adalah waktu aku dapat kesempatan untuk jadi translator line drama Nicholas Saputra sama Mariana Renata. Wah, dulu waktu kecil aku ngefans banget sama Nicholas gara-gara film AADC. Terus aku bisa dapat kesempatan untuk menghabiskan dua minggu dengan idolaku ini. Walaupun selama dua minggu tapi sama sekali nggak berasa dia artis, ya cuman kayak teman biasa.


Makanan di Korea Selatan

Squid pedas adalah makanan favorit aku di sana. Kadang juga kangen makanan Indonesia tapi ditahan saja karena makanan Indonesia di sini rasanya nggak enak. Bisa sih kita mendapat makanan Indonesia di sini karena ada beberapa resto Indonesia juga di sini.

Fasilitas Transportasi

Aku biasa naik subway. Wah subway yang biasa aku pilih untuk berpergian ini nyaman sekali. Kalau misalnya di Indonesia ada subway dijamin deh orang-orang pasti lebih senang berpergian naik subway daripada naik mobil.

Mengatasi Rindu Rumah

Ya, pasti ada rasa rindu dengan keluarga apalagi waktu aku pas merasa senang atau sedih. Ditambah kalau lihat media sosial dan ada teman yang posting foto keluarga misalnya pas hari ibu atau pas Idul Adha. Aku biasanya skype atau telepon via whatsapp untuk mengobati kangen.

Bekerja Part Time

Boleh kok. Aku juga bekerja part time, rata-rata sih aku bekerja sebagai translator tapi aku juga kadang menjadi tour guide


Saran untuk Teman-teman yang Ingin Kuliah di Korea Selatan

Lebih ke saran aja sih...aku tidak merekomendasikan untuk mereka yang ke Korea karena alasan K-Pop atau fans artis siapa gitu. Karena menurut aku hidup di Korea tidak seindah kehidupan di drama, yang ketemu cowok ganteng di jalan terus tabrakan dan nikah, hahaha.

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



IKA RAHMAWATI: Kuliah Program D3 di Tiongkok Langsung Lanjut S1 di ZhengZhou University

Ika Rahmawati menjadi salah satu sosok yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu di Tiongkok. Awalnya berkuliah di Jogja namun kemudian takdir membawanya terbang ke Tiongkok dan menjadi mahasiswi di Yellow River Conservancy Technical Institute. Ingin tahu bagaimana Ika menjalani hari-harinya di Tiongkok? Ini dia pengalaman yang Ika bagikan kepada tim berkuliah.com.


Halo, nama lengkap saya Ika Rahmawati. Saya berasal dari Purwokerto dan waktu itu saya berkuliah di Yellow River Conservancy Technical Institute program D3 mengambil Water Conservancy and Hydropower Engineering Management di kota Kaifeng. Tanggal 20 Mei Alhamdulillah saya lulus dan mulai bulan Agustus saya ekstensi program S1 di Zhengzhou University.

Ceritanya lumayan asik sampai dengan saya bisa kuliah di Tiongkok. Sebelumnya saya selama satu tahun kuliah di UGM program D3 jurusan teknik sipil. Lalu ada pengumuman beasiswa ke Tiongkok. Kemudian dengan pengumpulan berkas dan wawancara dan seleksi tersebut saya bisa kuliah di Tiongkok selama tiga tahun dengan start dari awal dengan jurusan saya yang baru.

Setelah dinyatakan lolos beasiswa tidak ada persiapan tertentu, karena sebelumnya saya sudah pernah satu kali ke luar negeri jadi saya hanya mempersiapkan visa saja di Jakarta. Sebelum mendapatkan visa kita harus melakukan medical check up terlebih dahulu juga.

Nah, dalam melakukan packing barang-barang yang di bawa ke Tiongkok sebenarnya untuk pergi ke tempat yang berbeda kita harus back up makanan dulu karena takut kita belum terbiasa dengan makanan di sana. Maka awalnya saya membawa beberapa mie instan dan abon. Lalu saya jelas membawa mukena, alquran, tasbih, yang menjadi kewajiban saya juga untuk beribadah.

Banyak muslim dan muslimah yang membatalkan niat kuliah ke luar negeri karena takut susah nyari tempat ibadah atau makanan halal. Alhamdulilah di Kaifeng ini 10% penduduknya menganut agama Islam jadi banyak resto atau warung makan di sekitaran sini yang menyajikan makanan halal. Tapi karena uang beasiswa per bulannya juga tidak seberapa banyak jadi saya dan teman-teman yang lain memilih untuk masak setiap hari. Tapi kalau kita pergi main setiap weekend untuk berbelanja atau hari lain sewaktu kita ada waktu kita bisa pergi makan di luar. Di kantin juga ada makanan halal cuma sekarang kita lebih memilih masak sendiri untuk lebih hemat pastinya.

Kita ini kan mahasiswa, sebaiknya harus sudah mandiri, jadi kita harus biasakan masak, belanja, dan ngapain aja sendiri. Kalau untuk belanja sayuran, minyak dll biasanya kita pergi ke swalayan. Soalnya harganya lumayan murah dan lebih enak transport ke sana dan bisa sambil jalan-jalan juga. Tapi kalau kita mau berbelanja seperti kecap dan mie instan atau sejenis makanan Indonesia atau kita mau beli apapun seperti sepatu, baju, dll yang susah didapat dan mau harga murah kita bisa belanja online di taobao.com. Di sini semua lengkap.


Kalau saya biasanya sekali belanja misal hari Jumat atau Sabtu itu beli ayam paha dua kira-kira 10.000 dipotong menjadi enam potong. Kemudian saya bisa belanja terong ditambah kentang mungkin 3.000 ditambah membeli telur untuk cadangan makanan juga 4.000 sama mungkin bisa beli cabai satu kotak itu 8.000 bisa satu minggu lebih dipakainya. Kemudian beli beras patungan sama teman-teman yang lain itu kira-kira 10.000 bisa untuk empat sampai lima hari. Lalu karena di hari selasa biasanya siang kita free jadi saya dan teman-teman yang lain belanja lagi. Kadang diselingi beli ikan besoknya, beli dua atau tiga lalu satu ekornya 2.000 ditambah beli buncis atau sayur sawi juga bisa. 

Tentang Masyarakat Tiongkok

Alhamdulilah masyarakat Tiongkok  di sini semua baik-baik walaupun mereka kebanyakan atheis tapi mereka menghargai orang. Dan hobi mereka itu mentraktir orang jadi kita di sini sama dosen-dosen atau orang lain kadang baru kenal juga bisa diajak makan. Orang Tiongkok itu ramah-ramah juga, di Beijing walaupun kota besar juga orangnya ramah-ramah. Kadang suka heran sih kalau di Indonesia suka pada bilang orang Tiongkok itu pelit padahal aslinya baik semua di sini. Hanya karakter orang Tiongkok itu lebih tegas dan disiplin, professional juga. 

Jadi saya tidak merasa kesulitan bergaul ketika di Tiongkok, karena keramahan orang Tiongkok, malah mereka yang selalu mengajak kita main bareng dan banyak juga foreign student atau foreign lainnya. Kadang juga bergaul sama ibu-ibu atau bapak-bapak mengobrol di jalan atau kalau kita lagi di bus di kereta pasti mereka banyak tanya-tanya akhirnya kita mengobrol.


Saat Jauh dengan Keluarga

Awalnya sih memang lebih berat yah. Tapi sebenarnya biasa saja sih karena saya juga sempat kuliah di Jogja selama satu tahun dan jauh dari orang tua jadi sudah mandiri dari dulu dan tidak kaget juga kalau terpaksa harus capek tiap hari memasak sehari dua kali untuk menghemat uang. Kalau dulu sering banget ditelepon atau video call tapi kalau sekarang sudah biasa saja. Ditelepon juga tapi lebih sering ke chat saja paling sama orang rumah. Kalau ada apa-apa pasti selalu keep in touch. Ya sesekali pasti kangen dengan orang rumah dan saya orangnya kadang jadi lebih sensitif banget kalau sudah soal orang tua pasti bisa langsung nangis kalau ada apa-apa. Lebih sering berdoa beribadah saja diserahkan kepada Allah. Tapi sekarang rasanya seperti sudah betah banget di sini hehehe. Kalau di sini seperti lebih terkontrol hidupnya.

Untuk urusan transportasi saya biasanya kemana-mana naik bus sekali naik bayar 2.000. Tapi kalau di kota besar bisa pakai subway. Transportasi umum di sini tertata rapi semuanya. 

Fasilitas Kesehatan

Kalau kampus ada juga klinik kecil ya kadang kita kesitu atau kemarin sempat ke rumah sakit untuk ke dokter gigi. Bagus sih fasilitasnya hanya mereka masih lebih menerapkan ke diri kita juga yang harus pintar menjaga kesehatan. Seperti harus minum air hangat dan mengurangi makan cabai. 


Menghabiskan Waktu Bersama Teman

Saya lebih suka ke pasar malam sih ke pusat perbelanjaan sewaktu pikiran sudah penat. Di sana banyak jajan-jajan yang murah, enak, dan halal. Lalu kita juga bisa sambil berbelanja baju, tas, atau kebutuhan kita yang murah pastinya. Jarang sekali untuk saya dan teman-teman membeli sesuatu yang mahal atau bahkan berbelanja baju di toko terkecuali ada diskon.

Pasar malamnya itu ada di pusat perbelanjaan kota. Di sekitarnya banyak sekali toko-toko baju, ada swalayan, mall, ada toko-toko di bawah tanah. Di daerah itu juga terdapat banyak macam makanan jajan atapun minuman dan juga kafe-kafe. Jadi tempat itu tempat favorit banget yang rutin dikunjungi. Kalau sedang jenuh kita juga bisa karaoke bareng habis makan-makan. Pemandangan kotanya pas malam juga kelihatan bagus.

Pengalaman Paling Menarik

Pengalaman menarik sebenarnya waktu saya tinggal di Beijing selama satu bulan untuk magang di kedubes. Waktu saya pulang dari apartemen teman dengan muka sedih karena sempat ada beberapa masalah di Beijing dan saya hanya hidup sendirian, lalu ada seorang ibu dengan penampilan sangat biasa atau sudah kucel menghampiri saya karena saya berjilbab dan dia juga seorang muslimah. Lalu dia mengajak saya untuk makan bersama keluarganya dan imam di rumahnya weekend nanti. Sebenarnya saya juga bingung untuk menerima atau menolak karena saya sendiri merasa weekend hanya untuk istirahat karena magang saya sudah cukup melelahkan. Lalu saya mengiyakan ajakannya dan hari itu saya melihat dia dengan sosok yang baru. Dia berdandan layaknya orang kaya lalu mengajak saya bertemu dengan imam. Kami kemudian ke pasar dimana adiknya berbisnis daging halal lalu ke rumah adik dan saudara-saudara islam yang saya tidak tahu untuk dibacakan doa-doa oleh imamnya itu. Lalu kita lanjut ke aparteman dan imamnya pun kembali berdoa di rumah itu. Suasana rumah dan orang-orang di rumah itu sangat nyaman, semua orang sangat baik. Lalu kita makan bersama di restoran kita banyak bercerita lalu kita berpisah. Dia bilang sesama orang muslim adalah saudara, itulah orang muslim di Tiongkok, semua sangat baik.

Tentang magang saya di dubes, di sana saya masuk di departemen seni dan budaya. Saya diajarkan mengenai laporan harian mingguan dan laporan khusus yang biasa mereka buat lalu saya juga mengeksplorasi pariwisata Indonesia untuk dijadikan jadwal pariwisata nantinya. Saya magang di sana selama satu bulan. 


Pelajaran Penting Ketika Kuliah di Tiongkok

Lebih menghargai semua yang kita miliki. Dari menghargai orang tua, karena kita berada di sini juga karena doa orang tua. Harus lebih banyak menabung seharusnya karena masalah bisa datang tiba-tiba dan hanya diri kita sendiri yang bisa menyelesaikan masalah kita, tidak dengan bergantung pada orang lain. 

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Cari Universitas Paling Cocok Buat Kamu dengan 'Search Course' dari Hotcourses Indonesia

Sebagai penyedia informasi dan panduan seputar kuliah ke luar negeri, Hotcourses berupaya maksimal dalam menghadirkan informasi-informasi tersebut bagi para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan sebuah fitur utama di laman Hotcourses yaitu Search Course. Seperti apakah fitur Search Course itu dan bisa apa saja kegunaannya?

Fitur Search Course dari Hotcourses bisa ditemukan dan diakses di tampilan utama laman Hotcourses Indonesia pada tautan berikut ini (link).



Tujuan utama dari adanya fitur ini terdiri dari 2 hal yaitu:
1. Menyaring pilihan universitas paling cocok sesuai dengan profil akademik yang dimiliki dan diinginkan.
2. Membandingkan pilihan-pilihan universitas yang sesuai dengan minat namun  masih bingung memutuskan pilihan akhirnya.

Memang ada banyak informasi seputar kuliah ke luar negeri yang kemudian menuju pada pilihan-pilihan untuk diambil dimana fitur Search Course memiliki peranan besar dalam hal tersebut.

Selain memiliki tujuan utama tersebut fitur Search Course dari Hotcourses ini juga memberikan berbagai keuntungan khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri. Meskipun informasi itu tersedia jika tidak dicari dengan benar maka bisa saja informasi yang sebenarnya dibutuhkan justru tidak muncul. Lalu, apa saja keuntungan dari fitur Search Course di Hotcourses ini?

1. Bisa menemukan pilihan universitas dengan penawaran jurusan yang dicari.
Dengan menggunakan fitur Search Course, berbagai pilihan universitas yang ada dengan penawaran jurusan sesuai yang dicari bisa dengan mudah ditemukan. Hal ini cukup dilakukan dengan menuliskan jurusan yang diinginkan, lalu negara tujuan, dan jenjang studinya. Misal untuk mencari pilihan studi S2 Hukum di Inggris maka bisa langsung dimasukkan kriteria tersebut kemudian gunakan tombol search untuk mencari pilihan yang tersedia. Setelah itu akan muncul tampilan baru dengan berbagai universitas yang menawarkan studi S2 Hukum di Inggris sesuai kriteria pencarian yang tadi dimasukkan.





2. Bisa menyaring pilihan universitas sesuai profil akademik yang dimiliki.
Selanjutnya setelah pilihan-pilihan universitas muncul sesuai kriteria pencarian awal tadi, dalam contoh adalah studi S2 Hukum di inggris, maka penyaringan lebih lanjut bisa dilakukan dengan menggunakan profil akademik yang dimiliki. Beberapa kriteria yang bisa digunakan dalam penyaringan antara lain negara asal, jenjang terakhir dan asalnya, nilai, dan bahkan wilayah dari negara tujuan serta biaya. Setelah itu gunakan tombol saring pencarian untuk mendapatkan pilihan yang lebih spesifik lagi.





3. Bisa mengetahui jurusan yang ada di universitas-universitas tertentu.
Kembali pada halaman hasil pencarian universitas dengan kriteria awal studi S2 di Inggris tadi, nama-nama universitas yang ada bisa dipilih untuk kemudian memunculkan tampilan baru. Pada tampilan tersebut akan terlihat berbagai jurusan atau program pada bidang Hukum di universitas tersebut. Pada masing-masing jurusan akan ditampilkan informasi nama jurusan, jenjang, lama waktu studi, dan juga biaya studinya.



4. Bisa menghubungi pihak universitas secara langsung.
Pada halaman detail dari universitas yang sudah dipilih tadi, selain ada berbagai informasi jurusan yang ditawarkan akan ada juga tombol berwarna hijau dengan tulisan Hubungi Universitas, Hubungi Institusi, atau Meminta Informasi. Tombol tersebut bisa digunakan secara langsung untuk menuju ke kontak-kontak yang tersedia dari universitas tersebut. Jadi jika ingin secara langsung menanyakan berbagai hal seputar universitas tersebut dan jurusan yang diminati maka bisa langsung melakukannya dari tombol tersebut. Tentu informasi yang secara langsung diberikan oleh universitas tersebut bisa sangat membantu.



5. Bisa membandingkan pilihan-pilihan universitas yang tersedia untuk menemukan pilihan paling tepat.
Meskipun sudah disaring dengan kriteria-kriteria tertentu sesuai minat dan keinginan dalam melanjutkan studi di luar negeri, tetap saja pilihannya masih ada beberapa yang sangat bisa membuat bingung. Nah, untuk menghilangkan kebingungan dan lalu menemukan pilihan terbaik yang bisa diambil maka bisa menggunakan fitur Search Course untuk membandingkan pilihan-pilihan yang tersedia. Hal-hal yang bisa dibandingkan seperti biaya kuliah, biaya hidup, biaya akomodasi, peringkat universitas di dunia, dan bahkan popularitas universitas tersebut dalam lingkup internasional. Untuk artikel yang menjelaskan mekanisme ini secara rinci, ada di tautan berikut ini: (link)

Nah, berikut ini adalah cara untuk bisa membandingkan berbagai pilihan universitas yang muncul dalam pencarian sesuai minat di Hotcourses menggunakan fitur Search Course.
1. Daftarkan diri terlebih dahulu di Hotcourses dengan menggunakan tombol pada bagian kanan atas di laman utama Hotcourses.



2. Setelah mendaftar lalu lakukan pencarian universitas sampai masuk pada laman detail dari universitasnya dan klik gambar hati untuk memasukkan universitas tersebut dalam daftar favorit. Untuk bisa membandingkan pastikan ada lebih dari 1 universitasnya ya yang dimasukkan dalam daftar favorit.



3. Setelah masuk ke laman akun yang sudah dibuat dengan mendaftarkan diri tadi dan pilih bagian universitas dimana disitu sudah akan ada jumlah universitas yang tadi dimasukkan dalam daftar favorit.



4. Selanjutnya cukup gunakan tombol bandingkan yang berwarna oranye di bagian atas dari halaman universitas dalam menu tersebut, maka akan muncul tampilan laman lain yang berupa perbandingan berbagai informasi seputar universitas-universitas tersebut.



Dengan adanya perbandingan yang secara langsung ditampilkan bersamaan tersebut maka sudah tentu akan lebih mudah untuk bisa menentukan pilihan universitas yang nantinya diambil.



Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini informasi bergerak dengan sangat cepat dan dengan intensitas yang luar biasa tinggi, namun untuk mencari informasi-informasi yang tepat dan sesuai tentu tidak mudah. Oleh karena itu Hotcourses Indonesia dengan fitur Search Course sangat-sangat membantu dalam mencari informasi sebagai dasar menentukan pilihan untuk kuliah ke luar negeri.




Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Beasiswa Kuliah S1 di Amerika Serikat dan Kanada

Kawasan Benua Amerika bagian utara khususnya Amerika Serikat dan Kanada sangat bisa dijadikan petimbangan negara tujuan jika ingin meneruskan studi atau kuliah ke luar negeri pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Khusus bagi yang berniat melanjutkan studi pada jenjang S1, berikut ini adalah beberapa pilihan program beasiswa terbaru yang bisa digunakan di Amerika Serikat atau Kanada

Presidential Scholarship dari University of IOWA, Amerika Serikat

Pelajar dari Indonesia yang ingin melanjutkan studinya pada jenjang S1 di Amerika Serikat bisa memanfaatkan beasiswa dari University of Iowa melalui skema program Presidential Scholarship. Beasiswa yang ditawarkan bisa berlaku bagi pelajar dari AS atau juga pelajar internasional untuk menempuh studi pada semua program S1 yang memang ditawarkan oleh University of Iowa. Setiap periode atau tahun pemberiannya disediakan sebanyak total 20 beasiswa dengan jangka waktu pemberian beasiswa maksimal adalah 4 tahun. Khusus bagi pelajar internasional jumlah beasiswa yang nantinya diterima adalah sebesar USD 10.000 per tahun atau jika dijumlah selama 4 tahun menjadi USD 40.000. 


Selama masa kuliah S1 di University of Iowa, penerima Presidential Scholarship ini nantinya juga akan memiliki akses ke spektrum kegiatan khas yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk bisa mendorong level intelektual yang luar biasa, professional, dan juga ditambah pengembangan diri. Berpartisipasi pada seminar khusus penerima Presidential Scholarship adalah salah satu kegiatan yang nantinya akan diikuti para penerima beasiswa ini.

Berikut ini adalah persyaratan wajib dari program Presidential Scholarship yang harus diperhatikan oleh para kandidat:
1. Mendaftar dan sudah diterima di niversity of Iowa pa program S1
2. Memiliki nilai rata-rata minimal 380 pada skala 400yang bisa disetarakan dengan nilai 9.5 pada skala 10
3. Meraih skor komposit ACT minmal 30 atau skor SAT gabungan Matematika dan Membaca Kritis minimal 1330

Selain persyaratan tersebut para kandidat juga harus memperhatikan berbagai hal yang menjadi kriteria seleksi dari program beasiswa ini agar bisa menyiasati dan memaksimalkan hasil seleksinya, yaitu:
1. Rasa ingin tahu dalam lingkup intelektual
2. Kemampuan luar biasa dalam bidang akademik
3. Integritas dalam beasiswa, kepemimpinan, dan layanan
4. Komitmen kuat pada masyarakat
5. Menghormati perbedaan dalam hidup

Pendaftaran pada program ini harus dimulai dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di University of Iowa pada program S1 yang sesuai dengan minat. Setelah melakukan pendaftaran pada tautan berikut (link) dan diterima sebagai mahasiswa maka baru bisa mengajukan permohonan Presidential Sholarship melalui tautan berikut (link). Kandidat harus login terlebih dahulu dengan ID dan password yang didapatkan setelah diterima sebagai mahasiswa. Kemudian kandidat hanya perlu mengisi survey pendaftaran umum dan bisa mencari bagian khusus Presidential Scholarship . Jika kandidat dianggap memenuhi syarat maka akan ikut direkomendasikan dalam daftar penerima beasiswa. Pendaftaran maksimal bisa dilakukan pada tanggal 28 November 2016 dengan informasi lengkapnya bisa didapatkan dengan mengirimkan email ke alamat honors-program@uiowa.edu



University of Alberta Centenary Scholarship dari University of Alberta, Kanada

Selanjutnya adalah pilihan beasiswa yang saat ini masih tersedia berasal dari Kanada yaitu tepatnya University of Alberta. Melalui program University of Alberta Centenary Scholarhsip ditawarkan bantuan beasiswa bagi pelajar internasional yang berniat menempuh studi S1 di Kanada khususnya University of Alberta. Jumlah dari beasiswa yang diberikan bervariasi dari $20.000 paling rendah yang dibayarkan selama 4 tahun masa studi S1. Beasiswa ini ditargetkan bagi kandidat dengan prestasi unggul dan baru saja memasuki tahun pertama studi S1 di Uniersity of Alberta.


Program beasiswa ini pada dasarnya adalah sebuah beasiswa kompetisi sehingga hanya kandidat terbaik yang akan dipilih dan menjadi penerima beasiswa. Untuk bisa mengikuti seleksi program beasiswa dari University of Alberta ini kandidat harus memenuhi berbagai persyaratan dan mengikuti beberapa ketentuan yang ada dimana salah satunya adalah adanya pengajuan permohonan terpisah untuk beasiswa ini sendiri.

Berikut ini adalah persyaratan wajib dari program University of Alberta Centenary Scholarship yang harus diperhatikan oleh para kandidat:
1. Memiliki izin untuk belajar dengan prestasi akademik yang unggul
2. Mampu menunjukkan kualitas dan jiwa kepemimpinan berdasarkan keterlibatan di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan masyarakat
3. Memiliki surat rekomendasi dari pembimbing
4. Memiliki kurang dari 24 IB, AP atau kredit A-lebel
5. Bukan merupakan mahasiswa transfer

Karena program beasiswa ini membutuhkan pengajuan yang terpisah dengan pendaftaran menjadi mahasiswa di University of Alberta maka ada beberapa dokumen yang harus disiapkan untuk proses seleksinya yaitu:
1. Surat referensi
2. Salinan ijazah dan juga transkrip SLTA
3. Terjemahan resmi dokumen dalam bahasa Inggris

Proses pendaftaran bisa dimulai dengan kandidat terlebih dahulu mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di University of Alberta sesuai dengan program S1 yang diminati yang bisa dilakukan pada tautan berikut ini (link). Setelah melakukan pendaftaran maka kandidat akan diberikan Campus Computing ID atau CCID dan juga passwordnya yang nantinya akan bisa digunakan untuk mengakses laman beasiswa dan mendaftarkan diri.

Setelah itu kandidat bisa masuk ke laman pengajuan beasiswa yaitu pada tautan berikut (link) untuk melengkapi pengajuan beasiswa secara online. Pastikan untuk mengisi semua informasi yang diminta dimana pada tahap kelima harus dipilih pada Major International Scholarship Application kemudian lanjutkan hingga selesai.

Pendaftaran untuk program beasiswa ini bisa dilakukan maksimal hingga tanggal 5 Desember 2016 dimana peserta juga sudah harus mendaftarkan diri ke universitas sebelum tanggal tersebut. Keputusan pemenang sebagai penerima beasiswa akan disampaikan pada bulan Maret 2017.

Nah, itu tadi adalah 2 pilihan beasiswa S1 dari universitas yang masing-masing ada di Amerika Serikat dan Kanada untuk dimanfaatkan bagi para pelajar Indonesia yang berniat melanjutkan studi S1 di luar negeri.




Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



MARISSA IRENE ULI: Rasa Keingintahuan yang Tinggi Mendorongnya Untuk Kuliah di Kanada

Muda dan penuh semangat. Begitulah karakter yang melekat pada Marissa Irene Uli. Meskipun sempat merasa kikuk dan canggung karena harus jauh dari keluarga, Marissa berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di Kanada. Setelah terdaftar sebagai mahasiswi di University of Toronto, Marissa percaya bahwa ia harus terus berani dan bekerja keras agar bisa melewati semua tantangan selama berkuliah di sana. Inilah dia pengalaman Marissa selama berkuliah di Toronto, Kanada.


Halo sobat berkuliah nama saya Marissa Irene Uli. Saya berasal dari Bandung tapi sudah pindah ke Jakarta lumayan lama. Saya sekarang kuliah di University of Toronto dan mengambil jurusan komunikasi dan geografi program bachelor (S1). Saya mulai kuliah di sini tahun 2015.

Banyak yang tanya kenapa saya malah kuliah ke Kanada? Jawabannya, karena saya sangat suka melihat dan belajar dari kultur lain, terlebih lagi saya juga belum pernah ke Kanada sebelumnya jadi saya sangat tertarik untuk ke sini. Orang tua juga sangat senang saya diterima di Kanada dan ini sesuatu yang saya tidak pernah mimpikan sebelumnya karena di sekolah saya tidak begitu pintar seperti teman-teman saya yang sekarang kuliah di Amerika, Inggris, dan di negara lainnya. Selain itu juga karena saya sangat suka dan tertarik dengan jurusan yang saya ambil di sini.

Di sini saya mengambil dua major yaitu komunikasi dan geografi. Jadi di kampus saya ini saya bisa ambil specialist atau mengambil dua major sama minor. Waktu saya di sekolah saya mempunyai guru yang melihat saya suka mempelajari bagaimana dunia ini dan juga mempelajari penggunaan media dalam sebuah event begitu. Jadilah saya tertarik mengambil jurusan ini. Untuk sekarang sih saya belum tahu ingin mengambil minor apa tetapi saya pasti mengambil major komunikasi dan geografi.


Kelebihan lain kuliah di sini yaitu profesornya baik semua. Mereka enak diajak untuk sharing dan ngobrol. Saya kan baru akan selesai tahun pertama di sini, tetapi karena saya mengambil IB Diploma pass di SMA saya sudah mempunyai credit yang memenuhi geografi tahun pertama jadi sekarang saya di tahun kedua lebih banyak mengambil subject geografi. Saya sering ke office hours dosen dimana mereka memberikan waktu selama dua jam untuk student yang ingin bertanya. Oh iya, saya juga sering bercerita dengan dosen-dosen di sana, saya sih suka sekali cerita tentang Indonesia dan dosen di sini sangat baik juga fleksibel dan mau membantu saya jadi saya merasa nyaman.

Sampai-sampai saya punya dosen favorit, namanya Prof. Nicole yang mengajar Research Methods sama ada juga Prof. Jeffrey yang mengajar population geography. Mereka banyak sekali membantu saya dan memotivasi saya untuk terus bekerja keras dan lebih baik lagi. Tapi selain mereka saya juga menyukai dosen-dosen lainnya karena pada dasarnya mereka sangat baik dan ramah.

Pengalaman Apply

Saya waktu itu apply ke enam universitas. Satu universitas di Amerika, lima universitas di Kanada. Kebetulan saat itu semua proses apply dilakukan secara online. Saya banyak dibantu pihak sekolah untuk apply dan sent application. Di sekolah saya ada counsler yang membantu kita saat apply ke universitas. Sebenarnya saya merasa ragu untuk apply ke UofT karena UofT itu rangkingnya lumayan tinggi. Tapi setelah apply saya akhirnya masuk ke tiga universitas di Kanada dan satu di Amerika. 

Kesan Pertama di Kanada

Uhm, sangat aneh pertama kali. Saya juga merasa sedih karena orang tua saya ada di Indonesia dan terasa sangat jauh. Makanan-makanan di Indonesia juga jauh lebih enak daripada di sini. Tetapi saya tetap senang bisa sampai ke Kanada. Waktu itu juga saya mengikuti kegiatan orientasi dengan tema ‘welcome home’. Di acara tersebut semuanya sangat baik dan membantu jadi saya merasa sangat senang.


Hal yang membuat saya kagum…

Saya kagum dengan bagaimana semua yang ada di sini bisa begitu sangat baik. Saya ingat suatu hari saya sangat lelah jadi saya tidur di sofa di sekolah. Langsung ada seseorang yang bertanya apakah saya baik-baik saja padahal saya tidak kenal dengannya. Mereka benar-benar peduli dan ramah kepada orang lain. Dosen-dosen di sini juga sangat baik, saya sangat kagum. Saya kadang datang ke office hours hanya untuk mengobrol tentang saya yang masih menjadi anak baru di kampus. Pokoknya saya kagum dengan orang-orang di sini yang sangat baik dan ramah.

Dalam bergaul saya sama sekali tidak kesulitan. Saya orangnya sangat suka bertemu dengan orang-orang baru. Saya juga baru saja ikut volunteer sama tedxuoft. Ini semacam konferensi begitu dimana kita bisa ketemu professor atau orang yang sangat terkenal dengan ide-ide mereka. 

Saya setahun di residence council seperti OSIS untuk orang-orang asrama begitu. Saya assistant salah satu vp community and environment. Kita banyak mengadakan event untuk anak-anak yang tinggal di asrama. Kemudian saya ikut tedxuoft dan baru selesai juga main untuk field hockey.

Ketika libur tiba saya biasa jalan-jalan. Toronto itu seperti Jakarta tapi bisa jalan kemana-mana. Di Toronto banyak sekali perpustakaan UofT dimana-mana. Saya suka sekali pergi ke perpustakaan. Selain itu di Toronto juga ada banyak event seperti snowball fight semua UofT campus atau pillow fight.

Saya tinggal di asrama UofT kampus Missisusaga dekat Toronto. Banyak fasilitasnya di sini mulai dari makanan sampai dokter. Harganya memang mahal tapi lebih murah jika dibandingkan asrama di Amerika dan Inggris.

Kangen orang tua pas kuliah di luar negeri itu pasti terjadi, saya dengan orang tua sering Skype atau komunikasi via Whatsapp. Dengan teman-teman juga masih sering berkomunikasi. Kalau lagi kangen banget saya juga biasa mengatasinya dengan cari makanan asia. Di sini ada Asian Town, ada restoran namanya Asian Bowl. Ada banyak makanan Asia yang enak-enak di sana.


Pesan Untuk Pelajar Indonesia yang Ingin Kuliah ke Kanada

Jangan lupa bekerja keras di sekolah dan juga di luar sekolah seperti aktif mengikuti kegiatan. Jangan malas dan tetap semangat dengan banyak mencari informasi. Jangan lupa juga untuk mengikuti apa yang menurut kamu benar. Percayalah bahwa ada tempat untukmu di dunia ini.

Reporter: Adelina Mayang

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Scroll To Top