Artikel Terbaru

Menuntut Ilmu Hingga Ke Negeri China Bersama Fathan Asadudin

Siapa yang tidak kenal negeri tirai bambu China? Negeri ini memiliki populasi penduduk terbesar di dunia. Hal itu juga sepadan dengan luas wilayahnya yang besar. China juga dikenal dengan pasar dagangnya yang berhasil menembus di berbagai negera di Dunia. Telah banyak diketahui oleh kita kalau mainan, perabotan rumah tangga, pakaian, buah –buahan dan lainnya banyak berlabel Made In China. 

Ini membuktikan bahwa ekonomi di China berkembang sangat baik. Banyak yang sudah tahu juga bahwa China adalah negara komunis, namun perlu diketahui keadaan di sana sangat aman. Tidak perlu khawatir untuk sendirian sebagai warga asing karena banyak orang asing yang kuliah di China atau hanya sekedar berlibur saja. 

Fathan Asadudin, warga asli Indonesia yang sedang menempuh pendidikan China akan membagi pengalamannya. Simak informasi yang Fathan berikan dengan baik. Sebelum kuliah di China, Fathan menempuh pendidikan S1 di Universitas Padjajaran jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Dia mendapatkan beasiswa berkat informasi dari kedutaan China di Indonesia yang membuka beasiswa bagi mahasiswa siapa saja yang ingin masuk Universitas di China. 
Tahun 2014 ini adalah tahun ke tiga Fathan berada di China. Pada dua tahun pertama, dia mengambil program bahasa mandarin di universitas di Beijing. Tahun ini, Fathan mengambil program Internasional Bisnis program  master di University of International Business and Economic yang terletak di Kota Beijing dan sudah memasuki semester 2. 

Untuk di Beijing, jumlah mahasiswa dari Indonesia adalah yang terbanyak. Bahkan satu asrama hampir semuanya ditinggali oleh mahasiswa Indonesia. Kurang lebihnya, memiliki atmosfir yang sama seperti kos –kosan waktu di Indonesia. Sejak tahun pertama hingga sekarang, Fathan mendapat beasiswa yang sangat menguntungkan. Karena, ia tidak hanya mendapatkan tunjangan biaya kuliah saja, melainkan uang SPP, asrama, transportasi, asuransi kesehatan dan diberi uang saku. Semua biaya itu ditanggung oleh Pemerintahan China. 

Namun ada beberapa syarat yang unik bagi beasiswa S2, yaitu untuk program bahasa mandarin harus melalui rentan waktu 3 tahun. Sedangkan untuk program bahasa Inggris hanya membutuhkan waktu satu tahun saja. Untuk Fathan sendiri lebih memilih dua tahun karena tidak membuang –buang waktu. Menurutnya, bila dua tahun saja bisa lulus kenapa tidak. 

Suasana kampus di China sangat mendukung dan kondusif. Jika di Indonesia kita bisa menjumpai mahasiswa yang sedang berkumpul dan ngobrol bersama entah itu di kantin, tempat yang sudah disediakan dan dilorong –lorong yang sekiranya bisa menjadi tempat duduk, namun di China tidak ada situasi seperti itu. Hal tersebut membawa dampak positif untuk orang asing terutama dari Indonesia. Atmosfir belajar di sana mendorong kita untuk terus berkembang. Sisi negatifnya adalah sosial mereka kurang, ini membuat mereka terlihat tegang dan kaku karena terlalu serius untuk belajar. 

Untuk suasana di luar lingkungan kampus, seperti diperkotaan, kita bisa dengan mudah menjumpai orang-orang asing sibuk berlalu lalang, teruama di pusat kota Beijing. Beijing adalah kota metropolitan. Berbeda dengan di Indonesia seperti di Jakarta meski merupakan kota Metropolitan tetapi jarang sekali di jumpai warga asing yang berlalu lalang. 

Di China suasana heterogen sangat terasa  

Di kota besar seperti Beijing, Shanghai, Bonggo dan yang lainnya untuk masuk sekolah SD, SMP,SMA dan kuliah sangatlah susah. Karena standar nilai yang diterapkan sangat tinggi. Biaya kuliah disana juga sangat mahal. Untuk etos kerja disana memang sangat tinggi. Mereka berlomba –lomba mencari pekerjaan, bahkan tingkat persaingannya lima kali lipat di Indonesia. Pekerjaan dengan gaji tertinggi menjadi incaran banyak orang. Jadi mereka berharap dengan banyaknya uang yang dikeluarkan untuk pendidikan setidaknya itu bisa mengembalikan modal mereka. 


Banyak juga mahasiswa China yang belajar keluar negeri seperti di Eropa dan Amerika dengan pengharapan bisa memperoleh masa depan yang bagus. Mungkin kamu mengira kalau orang China asli dengan orang keturunan China di Indonesia memiliki sifat yang sama. Tapi pada kenyataannya mereka hanya mirip pada wajah saja. Untuk keramahan masih sangat ramah orang keturunan China di Indonesia. Mengadapi orang Tiongkok kalian harus pinter –pinter mengatur emosi dan harus lebih bersabar. 

Bagaimanapun, ketika hidup di negeri orang, kita harus sopan dan pastinya jangan mencari musuh atau keributan dengan warga lokal. Dan jangan membuat mereka memandang jelek pada bangsa Indonesia karena ulah yang kita buat. Dimana pun, kita harus tetap menjaga nama baik bangsa Indonesia. Mungkin banyak yang menganggap cara bicara orang China sangat kasar. Padahal, jika kalian mengerti bahwa setiap kosa kata bahasa mandarin memiliki nada untuk mengucapkannya. Karena beda nada saja sudah beda arti. 

Banyak nada tinggi yang digunakan dalam bahasa mandarin. Itulah yang membuat kesan galak pada kita warga Indonesia yang dalam percakapan bahasanya tidak memiliki nada. Sebenarnya, orang China tidak merasa menggertak atau memarahi lawan bicaranya. Mereka merasa biasa–biasa saja ketika berbicara. Kalau Fathan sendiri sudah terbiasa karena dia sudah menguasai bahasa mandarin. Jadi, buat kamu yang belum terbiasa, jangan heran dan kaget. 


Tips untuk kalian yang ingin melanjutkan studi di China dari Fathan

Persiapan mental yang kuat karena orang China mereka sangat jago dalam belajar. Jika hanya bermalas–malasan dan tidak mau belajar maka kamu akan tertinggal jauh dari mereka. Apalagi pada awal tahun berada di China, kalian akan merasakan masa yang berat dalam belajar dilingkuangan orang China yang sangat ketat persaingannya. 

Bagi yang beragama muslim siap–siap ribet untuk mencari makanan yang halal. Memang banyak restauran fast food di China, namun tidak mungkin kalian akan selalu makan makanan yang sama. Meski bahasa mandarin tidak begitu diperlukan untuk kelas Internasional setidaknya kamu harus bisa menguasai bahasa sehari hari. Itu akan sangat membantu ketika kamu mencari makanan yang tidak menggunakan daging babi atau minyak babi. 


Bersiap diri menghadapi musim dingin, banyak teman Fathan yang  jatuh sakit ketika musim dingin tiba. Perlu sekali membawa obat cair masuk angin dan jamu–jamuan instan yang biasa diminum di Indonesia. Itu sangat dibutuhkan mengingat kemungkinan besar obat ini jarang dijual di China. 


Kesan Fathan selama tinggal di China

Sebelumnya, jurusan S1 Fathan sangat tidak nyambung dengan jurusan Fathan sekarang. Fathan berpandangan sekarang ini banyak orang China yang berhasil menguasai pasar ekonomi dunia. Mungkin saja China di masa depan bisa menguasai dunia dengan ekonominya. 

Kita belajar dengan susah payah hingga keluar negeri nantinya kita sendiri yang akan merasakan imbasnya. Berpikir jauh ke depan demi masa depan yang baik lagi.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top