Artikel Terbaru

8 Bangunan Bersejarah di Bangka Belitung

Sejarah yang ada dan pernah terjadi pada masa silam memang dapat kita saksikan secara langsung saat ini. Namun di luar itu semua, terdapat bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu tentang berbagai hiruk-pikuk peristiwa pada masa lalu. Bangunan-bangunan peninggalan tersebut secara otomatis juga menjadi rekam jejak dan bukti sejarah yang saat ini menggambarkan kesedihan, kebahagiaan, keangkuhan, perjuangan, dan berbagai watak dan tindak manusia yang pernah berjalan di tanah bumi kala itu.

image credit
Menjadi Negara dengan banyak sejarah yang beragam dan mendunia, Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa telah berhasil melewati zaman es karena matahari yang member kehidupan tidak dapat dirasakan oleh belahan bumi kutub. Hal tersebut mengakibatkan Indonesia yang dulu disebut Nusantara ini menjadi satu di antara sedikit wilayah yang dapat dihuni oleh manusia pada Zaman Es.

Dengan usianya yang panjang, Nusantara Indonesia memiliki beragam tempat dengan berbagai macam peninggalan masa lalu. Pada abad ke- 21 saat ini, beberapa peninggalan yang menjadi warisan silam masih dapat disaksikan secara langsung di berbagai sudut di Negara ini. Salah satu daerah yang di sana tegak berdiri bangunan peninggalan masa silam adalah Bangka Belitung. Untuk itu, berikut kami sajikan 8 bangunan bersejarah yang terdapat di provinsi tersebut:


1. Rumah Pengasingan Bungkarno

Di salah satu gunung yang bernama Menumbing, terdapat bangunan rumah yang dulu pernah singgah di dalamnya sang bapak Proklamator. Karena keberaniannya melawan Belanda dan pengaruhnya terhadap pergerakan bangsa, penjajah merasa perlu untuk mengasingkan Ir. Soekarno di luar pulau Jawa. Rumah yang berlokasi di kota Mentok ini masih berdiri dan juga masih menyimpan beberapa barang-barang miliki Bung Karno.


2. Mercusuar Tanjung Kalian

Mercusuar Tanjung Kalian merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang saat ini bisa kita saksikan bersama kekokohannya. Kota Mentok yang dibangun oleh Belanda sebagai kota pelabuhan menjadi salah satu kota sentral dalam mengatur berbagai macam distribusi kebutuhan saat itu. Karena banyaknya kapal yang akan berlabuh, pada akhirnya Belanda menganggap perlu dibangunnya sebuah mercusuar sebagai penanda tempat labuh kapal yang bersiap menepi. Mercusuar Tanjung Kalian dibangun pada tahun 1862 dan masih kokoh hingga sekarang. Dari puncak bangunan ini, pengunjung bisa menyaksikan indahnya seantero kota Mentok dan sekitarnya.


3. Museum Timah

image credit
Hal yang menjadi keunggulan Bangka Belitung ialah perannya sebagai daerah penghasil timah terbesar di Indonesia, bahkan termasuk di dunia. Untuk itu, berbagai teknologi dan peralatan penambangan timah yang ada di wilayah ini kemudian di museumkan sebagai sebuah rekam jejak pencapaian kebudayaan dan alur teknologi yang pernah tercatat sebagain sejarah kota ini. Museum ini terletak di pusat ibu kota provinsi ini, yaitu Pangkalpinang.


4. Bendungan Pice

Dengan didirikannya perusahaan eksploitasi timah oleh Belanda pada tanggal 15 November 1860, banyak kapal keruk didatangkan untuk memulai upaya pemanfaatan lahan penggalian timah. Perusahaan yang didirikan Belanda yang dinamakan Biliton Maatschappy terus mendatangkan pekrja dari China hingga banyak dari jumlah pekerja China saat itu mencapai 2724 orang.

Seiring berjalannya waktu, kapal keruk berhasil menggali tanah Belitung hingga menjorok cukup jauh kedaratan dan terus menggerus sampai kapal keruk yang disebut Emmer Bagger (EB)—dalam bahasa Belanda—tidak dapat lagi terapung karena sudah jauh dari sumber air. Karena kebutuhan dan hasrat yang tinggi, Belanda pun tidak kehabisan cara untuk terus menggali timah dengan kapal keruk yang sudah tidak dapat bergerak. Solusi yang berhasil ditemukan oleh Belanda adalah membangun sebuah bendungan untuk menampung air agar kapal keruknya tetap dapat beroperasi. 

Pada akhirnya, rencana Belanda ini dapat terealisasi pada tahun 1928. Pengoperasian bendungan ini meliputi buka-tutup pintu air sesuai dengan kedalaman kapal keruk yang sedang melakukan proses penggalian. Karena hal tersebut, Belanda berhasil mendapat banyak keuntungan. Dan ha ini pula menjadi salah satu sejarah pembuka capaian teknologi penambangan timah di Belitung.


5. Rumah Tuan Kuase (Hoofdadministrateur)

Rumah ini berlokasi dengan jarak 250 M dari Tanjung Pendam yang menjadi ibu kota Belitung. Rumah ini saat ini menjadi cagar budaya yang dilindungi undang-undang dan masih terawatt sangat baik. Pada tahun 1883 Bangunan ini pernah dibukukan dalam catatan John Francis Loudon dengan tajuk ‘De eerste jaren del biliton-onderneming’. 


6. Jam Gede

Terletak di Tanjung  Pandan, Jam Gede saat ini berada di gedung Bharata Department Store. Namun yang sangat disayangkan adalah bahwa Jam Gede ini merupakan replika dari Jam Gede asli yang telah termakan usia. Jam Gede yang asli merupakan jam yang memiliki pandul dari kuningan berangka romawi. Jam Gede juga serupa dengan jam-jam besar yang ada di Amsterdam Belanda. Jam yang menjadi Landmark kota Tanjung Pandan ini walau telah termakan usia namun replikanya sedikit menyisakan pengetahuan bahwa dulu pernah ada jam yang begitu bersejarah sehingga dinobatkan sebagai landmark kota Tanjung Pandan.


7. Masjid al-Ikhlas

Masjid yang dulunya dijadikan tempat basis perjuangan melawan penjajah ini dibangun pada tahun 1817. Masjid ini berlokasi di di Desa Sijuk, Belitung. Dengan sejarah perjuangan yang kental mewarnainya, masjid ini juga ternyata merupakan masjid tertua yang pernah ada di Belitung. Karena kondisi masjid yang perlu perbaikan, maka pada tahun 2008 masjid ini mengalami pemugaran kembali. Dilihat dari bentuk fisiknya, masjid ini berukuran delapan kali delapan meter. Bagian mihrab agak menjorok dari bangunan utama dan diberi atap dengan bentuk yang sama dengan bangunan utamanya yakni berbentuk limas tumpuk dua dengan kubah kecil atasnya. Bagian atas mihrab tertera tanggal perbaikan masjid dengan huruf Arab Melayu, bertuliskan “diperbaiki 1 Rajab 1370 Hijriyah”.


8. Wisma Samudera

Wisma Samudra yang terletak di Toboali ini merupakan bangunan bersejarah. Bangunan ini merupakan salah satu tempat pemerintahan pada zaman kolonial Belanda. setelah belanda hengkang, tepatnya pada tahun 1948, ditemani Mr. Agus Salim, Mr. Leimina dan Mr. Suryadarma, Bung Karno dihalaman Wisma Samudera membakar semangat perjuangan masyarakat Toboali dengan retorikanya yang amat terkenal dan mampu mengeskalasi naluri dan jiwa kebangsaan rakyat. Hal tersebut menjadi sejarah kota tobali yang menjadi ibukota Kabupaten Bangka Selatan yang terletak sekitar 125 KM dari ibukota Bangka Belitung Pangkalpinang. 


Demikian informasi seputar “8 bangunan yang memilik nilai historis di Bangka Belitung”. Jika Anda pergi berkunjung ke sana, maka sisihkanlah sedikit waktu Anda untuk merasakan nuansa dan aura sejarah yang dimiliki bangunan-bangunan tersebut.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top