Bersama Ramadhona Saville: ‘Negeri Sakura Selalu Menyimpan Cerita Indah’

Wow! Kita kembali lagi ke negeri Jepang yang seakan selalu memiliki banyak cerita menarik yang tak lekang oleh waktu, dan memiliki episode ...

Wow! Kita kembali lagi ke negeri Jepang yang seakan selalu memiliki banyak cerita menarik yang tak lekang oleh waktu, dan memiliki episode yang selalu terbit seperti matahari di setiap pagi. Bagaimana perasaan kalian saat ini? Masih berapi-api dan bersemangat ingin kuliah di Jepang? Jangan mau kalah ya, dengan sahabat-sahabat kita yang telah berhasil lebih dulu merasakan pendidikan tingginya di negeri sakura ini.  



Kali ini, tim berkuliah.com akan menyajikan hasil interview dengan salah satu mahasiswa yang super keren yang sudah menjalani kuliahnya di Jepang. Bagaimana, apakah kamu sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana kisah menariknya? Mari kita simak ulasanya berikut ini.


1.  Hallo, Rama. Mungkin, bisa dijelaskan sedikit tentang profil kamu? Lalu, apakah kamu kuliah di Jepang melalui jalur beasiswa, ataukah biaya sendiri? 

Nama saya Ramadhona Saville, biasa dipanggil Rama. Saya lahir di Bogor 25 tahun silam. Saat ini, saya sedang menempuh tahun kedua pendidikan S-3 di Tokyo University of Agriculture (TUA), pada program International Bio-business Study di bawah bimbingan Prof. Hatanaka Katsumori.  Saya mendapatkan sponsor dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pemerintah Jepang, yakni ‘monbukagakusho’ (monbusho). Selama di Jepang sampai saat ini, saya tinggal di salah satu apartemenyang letaknya di dekat kampus, tepatnya di daerah Setagaya-ku. 


2.  Saat memilih Jepang sebagai negara tujuan kuliah, apakah kamu memilih karena negaranya, atau jurusannya, ataukah ada hal lain?

Semasa SMA, saya memiliki impian untuk melanjutkan jenjang perkuliahan di luar negeri dengan menggunakan beasiswa. Negara utama yang saya tuju pada saat itu adalah Jerman dan Jepang. Saya berangkat ke Tokyo pada bulan April tahun 2007 untuk melanjutkan perkuliahan S-1 selepas SMA.

Setelah lulus SMA, saya langsung mencoba mendaftar untuk tes beasiswa ‘monbusho’ ke kedutaan besar Jepang di Jakarta. Namun, saya tidak berhasil lolos. Kebetulan juga pada saat itu saya telah diterima PMDK ke IPB, dan sedang menunggu hasil tes SPMB ke UI. Alhamdulillah, saya sempat berkuliah di IPB selama satu semester dan UI selama satu bulan pada tahun 2006 setelah lulus SMA. 

Ketika berkuliah di IPB, saya mendapatkan info mengenai beasiswa ke TUA karena IPB berhubungan dengan university dari TUA. Lalu, sayapun mencoba untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut. Saya memutuskan untuk mengikuti tes tersebut karena tekad saya yang memang ingin berangkat ke Jepang. Setelah lolos tes, saya diberitahu bahwa saya mendapat beasiswa full dengan tambahan uang saku setiap bulanya dari TUA, dan jurusan yang akan saya masuki di TUA adalah International Bio-business Study. 


3.  Bagaima kita bisa beradaptasi dengan perbedaan sistem perkuliahan? Apa saja yang perlu untuk dipersiapkan? 

Pada dasarnya, sistem perkuliahan saya di TUA waktu itu semua menggunakan bahasa Jepang. Selain IPB, ada 17 sister universities lainya yang juga mengikuti program seperti saya. Kelemahan dari program tersebut adalah, kami wajib mengikuti perkuliahan secara normal sambil belajar bahasa Jepang setiap seminggu 3 kali pada tahun pertama. Karena itulah, kebanyakan dari kami sama sekali tidak mengerti apapun mengenai mata kuliah yang diajarkan pada tahun pertama. 

Ketika Ujian akhir, nilai gsaya di tahun pertama memang agak mengecewakan, bahkan ada mata kuliah yang saya ulang. Persiapan yang harus dilakukan saat itu adalah, belajar bahasa Jepang dengan baik dan dengan metode apapun yang menurut kita paling bagus dan cepat untuk dimengerti. Untuk kasus saya, saya menonton tv, film, drama Jepang, karaoke dengan lagu bahasa Jepang, mencari teman orang Jepang dan berusaha mengajak mengobrol tanpa takut salah dan malu karena memang belum bisa bahasa Jepang.  Selain itu, saya juga harus rajin untuk menerjemahkan bahan kuliah yang didapat di kelas dengan bantuan kamus dan teman yang mengerti bahasa Jepang. 

Mengenai mata kuliah dan jam kuliah, bisa dibilang saya memiliki cukup banyak waktu luang jika dibandingkan dengan dengan perkuliahan di Indonesia. Bukannya menyalahkan sistem di Indonesia, tetapi saya rasa kampus-kampus yang ada di Indonesia memang terlalu banyak kuliahnya. Mahasiswa dijejali dengan perkuliahan yang terlalu banyak, sehingga yang kita banyak temui adalah mahasiswa yang hanya menjadi seorang penghafal, dan bukan pemerhati dan analis. Di sini, yang harus kita persiapkan untuk beradaptasi adalah mental. Kita harus mengubah mental kita yang pada awalnya adalah seorang penghafal pada saat di Indonesia, menjadi orang-orang yang mampu berpikir secara kritis dan peka terhadap kehidupan sekitar.  


4.  Apa saja yang wajib dibawa sebelum berangkat ke Jepang? Adakah barang-barang yang sebaiknya malah tidak perlu dibawa?

Yang harus dibawa tentunya persiapan baju untuk 4 musim, tidak perlu membawa terlalu banyak, cukup sedikit saja sesuai dengan keperluan karena di sini juga bisa membeli baju. Jika memiliki uang lebih, bisa membeli baju baru yang sedang ada diskonnya, seperti pengalaman saya sendiri. Dan jika uangnya terbatas, tetap bisa beli baju second hand yang bahan bajunya tetap bagus dan tidak kalah dengan yang baru. 

Selanjutnya, barang yang perlu disiapkan yaitu kamus, lalu uang secukupnya. Jika mempersiapkan uang, mungkin ada baiknya kalau membawa uang untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk setengah bulan pertama, selain itu persiapkan stok makanan yang tidak mudah basi,  alat tulis seperlunya, dan alat-alat mandi, serta barang-barang lainnya sesuai dengan kebutuhan pribadi. 

Sebaliknya yang tidak usah dibawa ke Jepang adalah ponsel handhone (HP), karena barang ini tidak bisa digunakan. Di Jepang, kita tidak bisa membeli nomor seenaknya seperti di Indonesia. Jadi, di sana kita akan membeli HP dengan sistem kontrak (yang sampai sekarang tahun 2014, peraturan ini belum berubah). Lalu, peralatan makan minum juga bisa dibeli di Jepang, yaitu biasanya ada di took yang namanya ‘Toko 100 Yen’. Di toko tersebut, terdapat berbagai macam makanan serta barang-barang yang dijual dengan harga yang sangat murah, yang setiap barangnya hanya dijual dengan harga berkisar dari 100 sampai 150 Yen saja! Bahkan, ada beberapa macam barang yang harganya jika dijual di Indonesia, kalah jauh murahnya dengan harga di toko tersebut. 

Selain itu, peralatan elektronik seperti rice cooker, kompor, wajan, microwave, mesin cuci, dan perlengkapan berat lainnyapun tidak perlu dibawa, karena akan menyesuaikan dengan keadaan tempat tinggal, apakah di apartemen yang kosong tidak ada peralatan apapun, atau di apartemen yang telah tersedia peralatan tersebut, atau mungkin di asrama. 



5.  Apakah ada hal-hal tentang Jepang yang selama ini salah dipersepsikan oleh masyarakat Indonesia?

- Di Tokyo. ‘Jepang itu sangat mahal, dan merupakan kota termahal di dunia’. Stereotipe tersebut tidak sepenuhnya benar, karena bahkan banyak benda-benda yang harganya lebih murah jika dibandingkan dengan Indonesia. 

- Banyak orang di Indonesia yang bertanya, “Wah, sering makan ramen dong, di sana?” Faktanya, saya muslim, dan kebanyakan ramen bahkan hampir semuanya yang dijual di Jepang mengandung babi, jadi banyak ramen yang tidak bisa saya makan. 

- Banyak orang di Indonesia yang bertanya, “Wah, sering makan sushi dong, di sana?” Faktanya, sushi itu harganya relatif mahal, karena keuangan saya terbatas, saya tidak bisa sering-sering makan. 

- Banyak orang Indonesia yang beranggapan bahwa jika di Jepang, kita bisa naik gunung Fuji kapanpun. Faktanya, gunung Fuji hanya dibuka untuk pendakian bagi umum pada bulan Agustus awal sampai dengan September pertengahan saja. 

- Ada beberapa kejadian di mana turis Indonesia yang ke datang ke Jepang lalu melakukan kebiasaan seperti di Indonesia. Contohnya saja seperti “tidak tepat waktu”, “tidak mau antre”, “merasa pejabat dan bossy”, “selalu ingin diantar jemput”, “barang-barang dibawakan” termasuk ketika makan di restoran banyak restoran di Jepang memberlakukan self-service untuk pengambilan air putih ataupun untuk piring kotor setelah makan, seharusnya kita antarkan sendiri ke tempat khusus piring kotor. Namun, karena kebiasaan di Indonesia setelah makan kita hampir selalu meninggalkan bekas makanan, jadi kebiasaan itupun dilakukan di Jepang. Intinya, ketika di Jepang, kita harus bisa peka dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya sekitar. 


6. Apa pengeluaran terbesar selama tinggal di Jepang ? Lalu, apa cara yang kamu lakukan selama ini untuk mengatasinya?

Pengeluaran terbesar saya setiap bulannya adalah untuk sewa apartemen. Trik untuk menyiasatinya, saya rasa hanya ada satu cara, jangan pilih apartemen yang mahal! Berikutnya adalah makanan, triknya jangan juga sering-sering makan di tempat yang mahal, ada baiknya jika memasak sendiri. Selain itu, memasak juga relatif lebih aman untuk muslim karena bahan masaknya kita olah sendiri, sehingga mengurangi resiko kita untuk mengkonsumsi bahan makanan yang tidak boleh dimakan. 

Memasak juga merupakan salah satu solusi menghilangkan penat, contohnya ketika riset tidak berjalan lancar, stress mengenai pekerjaan dan hal lainnya bisa dikurangi dengan memasak. Pengeluaran berikutnya yakni transportasi, hal ini juga bisa diminimalisir dengan menaiki sepeda atau jalan kaki sambil olahraga. 


7. Apakah ada tips dan trik spesial untuk mendapatkan pemasukan tambahan selama kuliah di Jepang?

Ada banyak cara untuk mendapatkan penghasilan lebih selama beberapa tahun saya di Jepang. Contohnya, kita bisa bekerja part time, saya sendiri pernah bekerja di berbagai macam bidang pekerjaan. Mulai dari tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, waiters di restoran, membantu memasak di restoran, bekerja di restoran cepat saji, guide, interpreter dan translator, sampai asisten dosen dan research assistant. 

Pada dasarnya, saya berfikir selama pekerjaan yang saya lakukan halal dan tidak mengganggu kehidupan akademis, maka itu bisa dijadikan sebagai penghasilan tambahan. Tapi, jangan salah. Part time di Jepang itu dianggap sama dengan karyawan lainnya, kerjanya sama beratnya, sama tertib dan disiplinnya. Yang membedakan hanyalah waktu kita bekerja, di mana untuk part time, waktu bekerja pelajar dibatasi oleh pemerintah Jepang yaitu sebanyak 25 jam seminggu dan tidak melebihi 8 jam sehari. 


8. Menurut kamu, di mana pilihan jenis tempat tinggal terbaik, khususnya untuk para mahasiswa? Apakah asrama, apartemen atau adakan tempat lainnya?

Ada banyak sekali alternatif tempat tinggal di Jepang. Bisa di asrama kampus, asrama mahasiswa umum, guest house, apartemen, atau bisa juga di mansion. Dan masing-masing dari tempat tempat tinggal memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing: 

1. Untuk di asrama, biasanya maksimal periode tinggal di asrama kampus dan umum adalah 2 tahun, dengan harga yang relatif murah. Untuk asrama umum, biasanya tersedia asrama untuk perorangan dan untuk keluarga. Namun, tempat yang tersedia juga sangat terbatas, jadi tidak semua bisa mendapat kamar di asrama. Kekurangan lainnya adalah adanya jadwal jam, misalnya jam malam, atau, jika tidak pulang harus mengabarkan pengelola asrama. 

2. Guest house, harga lebih mahal dari asrama, bisa setingkat dengan apartemen, namun ada pengelola yang lebih jelas. 

3. Apartemen, merupakan tempat tinggal yang paling umum, terutama untuk yang masih single, kebanyakan mahasiswa juga menggunakan apartemen sebagai tempat tinggal mereka. Biasanya, apartemen yang disewakan itu dalam keadaan kosong, jadi kita harus membeli seperti kompor, mesin cuci dan barang keperluan rumah lainnya. Di Indonesia, apartemen lebih mirip dengan kos-kosan. 

4. Mansion, merupakan tempat tinggal yang biayanya setingkat lebih mahal daripada  apartemen. Dan saya sendiri, sampai saat ini hanya pernah tinggal di asrama kampus dan apartemen, dan yang menurut saya lebih baik adalah apartemen. 


9. Ketika kangen dengan Indonesia, entah itu masakannya, orang-orangnya, apa yang biasanya Rama lakukan?

Biasanya, yang saya lakukan ketika kangen masakan Indonesia, adalah masak makanan yang saya kangeni itu. Resep bisa dicar dari internet, dan bahan masaknya juga bisa dibeli di toko Indonesia. Atau, jika mempunyai uang lebih, bisa juga ke restoran Indonesia yang ada di sekitar Tokyo. 

Ketika kangen dengan keluarga atau teman yang ada di Indonesia, saya biasanya chat, atau menelpon, dan video calling meggunakan fasilitas paket data internet, jadi biaya yang digunakan tidak besar. Selain itupun ada banyak organisasi yang didirikan oleh orang Indonesia, semisal, PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang, PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang), dan lainnya. Berbagai organisasi tersebut kerap kali mengadakan acara yang menyediakan sarana untuk kami orang Indonesia di Jepang untuk bisa berkumpul. Kami bisa saling bersilaturrahmi dan bercengkrama, sehingga merasakan kebersamaan yang luar biasa meskipun sedang berada di negeri orang. 



Nah, demikian tadi kisah dan pengalaman menarik dari salah satu mahasiswa Indonesia yang menjalani pendidikannya di Jepang. Ada banyak sekali bukan, informasi menarik yang telah Rama bagikan tentang Jepang? Yang sepertinya bisa membantu menjadi referensi pendukung kamu, jika tertarik dan ingin mengikuti jejak Rama yang telah berhasil mengejar impiannya ke Jepang. Jika kamu masih ingin mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi, pantau terus website berkuliah.com. Salam sukses dan sampai jumpa!
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,297,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,58,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Bersama Ramadhona Saville: ‘Negeri Sakura Selalu Menyimpan Cerita Indah’
Bersama Ramadhona Saville: ‘Negeri Sakura Selalu Menyimpan Cerita Indah’
http://2.bp.blogspot.com/-ICkMTm1315M/VBf-tFI9LqI/AAAAAAAAB44/zMmu_0IUqMc/s1600/rASWDD.png
http://2.bp.blogspot.com/-ICkMTm1315M/VBf-tFI9LqI/AAAAAAAAB44/zMmu_0IUqMc/s72-c/rASWDD.png
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2014/09/bersama-ramadhona-saville-negeri-sakura.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2014/09/bersama-ramadhona-saville-negeri-sakura.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy