Biografi Ahmad Fuadi: Penulis Novel Best Seller Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Ahmad Fuadi adalah seorang penulis Novel Negeri 5 Menara. Beliau lahir tanggal 30 Desember 1972 ...

Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Ahmad Fuadi adalah seorang penulis Novel Negeri 5 Menara. Beliau lahir tanggal 30 Desember 1972 di Nagari Bayur, Maninjau, Sumatra Barat. Selain menjadi penulis novel, beliau juga menjalani profesi sebagai praktisi konservasi dan juga wartawan. Beliau termasuk seorang yang punya motivasi tinggi dan pekerja keras. Orang tuanya berprofesi sebagai guru, ibunya seorang guru SD, sedangkan ayahnya adalah guru sekolah madrasah.

Ahmad Fuadi
Novel Negeri 5 Menara adalah novel karya pertamanya dan merupakan salah satu buku pertama dari trilogi novelnya. Novel tersebut tergolong masih baru terbit, namun sudah masuk dalam jajaran best seller pada tahun 2009 lalu. Cerita fiksinya dinilai bisa memberikan motivasi dan semangat untuk meraih cita-cita dan prestasi. Selain itu, pada tahun 2010 Ahmad Fuadi pernah meraih Anugrah Pembaca Puisi Indonesia dan pernah juga masuk pada nominasi Khatulisiwa Literary Award sehingga ada salah satu penerbit di Negeri Jiran Malaysia, yaitu PTS Litera tertarik untuk menerbitkan di negaranya dalam versi Bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa melayu.

Pada tanggal 23 Januari 2011 Ahmad Fuadi menerbitkan novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna. Kemudian beliau mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Komunitas Menara. Yayasan sosial ini digunakan untuk membantu pendidikan kepada masyarakat yang eknominya rendah dan kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Sampai sekarang ini, Komunitas Menara sendiri sudah mempunyai sekolah gratis bagi anak usia dini di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Masa pendidikan SD dan SMP Ahmad Fuadi ia jalani di tanah kelahirannya yaitu Maninjau, Agam, Sumatra Barat. Dan kemudian pada tahun 1988, Ahmad Fuadi memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo karena permintaan ibunya. Iapun meluluskan pendidikannya di pondok pesantren tersebut pada tahun 1992. Di sana ia diberkahi tentang ilmu keikhlasan, ilmu hidup, dan ilmu akhirat oleh seorang kiai dan ustadnyang ada di sana. Di pondok Gontor, ia banyak mendapat pesan dan nasehat dari guru-guru atau ustad-ustadnya “man jadda wajada”, yang artinya "barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menemui kesuksesan", serta ada sebuah kata-kata lagi yang selalu dia ingat bahwa "orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaat." Akhirnya pesan-pesan tersebut yang menjadi prinsip yang selalu ia pegang dalam hidupnya. Di pondok pesantren Gontor ternyata menjadi tahap yang sangat penting dari perjalanan akademis dari Ahmad Fuadi. Selain itu, selama menjalani hari-hari di sana, dirinya dibiasakan untuk selalu mendengarkan siaran radio yang berbahasa Arab dan bahasa Inggris. Dari sanalah kemudian ia mempunyai cita-cita untuk bisa pergi ke luar negeri.

Setelah lulus di podok pesantren Gontor, ia kemudian melajutkan kuliah dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjajaran, Bandung. Sebelum lulus S1, saat itu ia mengikuti sebuah program ASEAN student gathering yang merupakan program S1 di mana mahasiswa ASEAN menjalani perkuliahan bersama di University of Singapore. Selain itu, Fuadi juga pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada tahun 1995-1996. Lulus S1 Hubungan International di Universitas Padjajaran, beliau juga bekerja part time sebagai wartawan majalah Tempo, Voice of America (VOA). Karena prestasinya, pada tahun 1998 ia mendapat beasiswa S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.

Istri Ahmad Faudi yang bernama Yayi juga adalah seorang wartawan Tempo. Keduanya dulu pernah bermimpi untuk merantau ke Washington University dan akhirnya impian itu menjadi kenyataan. Selain kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Mereka pernah melaporkan secara langsung berita bersejarah seperti peristiwa 11September 2001dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Kemudian pada tahun 2004 keberuntungan memihak kepadanya lagi, di mana ia mendapat beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk sebuah bidang dokumenter. Ia juga pernah menjadi direktur komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Berikut ini adalah penghargaan beasiswa A.Fuadi yang pernah ia raih : 

1. SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997.
2. Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001.
3. Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001.
4. The Ford Foundation Award1999-2000.
5. CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002.
6. Beasiswa Fulbright,ProgramPascasarjana, The George Washington University, 1999-2001.
7. Beasiswa British Chevening, ProgramPascasarjana, University of London,London2004-2005.
8. Longlist Khatulistiwa Literary Award 2010.
9. Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.
10. Penulis Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011.
11. Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2012.


Ahmad Fuadi, pasca lulus kuliah

Setelah lulus kuliah dan saat setelah Ahmad Fuadi menjadi direktur di sebuah perusahaan komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy, tiba-tiba dirinya merasa digalaukan tentang sesuatu. Ahmad Fuadi galau karena teringat akan pesan dan nasehat ustadnya, bahwa "orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain". Teringat akan kata-kata itu, kemudian Ahmad Fuadi memutuskan untuk lebih fokus menjadi seorang penulis dan aktif dalam kegiatan sosial, terutama dalam penyelenggaraan sekolah PAUD gratis untuk keluarga miskin.

Saat setelah kuliah, ia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Iapun merasa kesempatan kembali terbuka untuknya, dan akhirnya Tempo menerima Ahmad Fuadi sebagai wartawan pada tahun 1998. Untuk tugas kelas jurnalistiknya yang pertama ia jalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Ahmad Fuadi menguasai bahasa Inggris, Arab dan Perancis. Selain itu, ia pernah menerima  berbagai macam penghargaan (award) di antaranya :
1. Indonesian Cultural Foundation Inc.
2. Award (2000-2001), Columbus School of Arts and Sciences Award.
3. The Goerge Washington University (2000-2001).
4. The Ford Foundation Award (1999-2000).

Novel yang berjudul 'Negeri 5 Menara' adalah sebuah buku pertamanya yang digarap dari rencana trilogi. Cerita-cerita kehidupannya ia dituangkan dalam bukunya tersebut dan kemudian menjadi best seller. Buku tersebut sangat disukai dan begitu menginspirasi banyak orang. Perjalanan hidup Ahmad Fuadi bisa menjadi sebuah cerminan bagi kita bahwa impian dan cita-cita itu tidak selamanya harus menjadi angan-angan semata. Namun, semua itu bisa dicapai dengan diwujudkan melalui kerja keras dan kesungguhan.

Dalam kurun waktu 9 bulan saja Novel Negeri 5 Menara tersebut sudah terjual sebanyak 100 ribu eksemplar. Sebuah rekor baru untuk semua buku lokal yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sepanjang 36 tahun ini. Sebagian royalti buku ini diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, dapur umum, perpustakaan, dan rumah sakit secara gratis untuk kalangan yang tidak mampu.


Cerita Novel 'Negeri 5 Menara' Karya Ahmad Fuadi

Novel Negeri 5 Menara. Ada apa dengan angka 5 ? Kenapa dengan judul '5 menara'? 
Novel ini menceritakan tentang bagaimana kegigihan seseorang dalam meraih mimpi. Masih ingat dengan buku yang berjudul Laskar Pelangi yang penulisnya Andrea Hirata? Nah, sebenarnya hampir mirip dengan ide novel ini, yaitu tentang kegigihan dalam meraih mimpi. Tetapi, lupakanlah tentang kemiripan tema, karena Negeri 5 Menara ini tampil dengan gaya tersendiri dan mengambil tema dari sebuah pesantren. Pada cerita awalnya saat penulis membacanya memang bisa membuat seakan-akan penulis bisa masuk di dalam kehidupan pesantren. Di dalam novel itu menceritakan sebuah keterpaksaan seseorang pemuda ketika harus menuntut ilmu di pondok pesantren. Selain itu, ada banyak sekali tausiyah dan pesan-pesan yang keren yang termuat di dalam cerita novel ini. Di novel ini seakan kita digurui, ada banyak pesan-pesan di dalamnya.  Cerita kehidupan pesantren dengan segala suka dan dukanya, dengan semua kedisiplinan dan kepolosannya. Dan yang paling mendasari dari semua cerita tersebut yaitu sebuah kata 'Man Jadda wajada' yang berarti 'barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan menemui kesuksesan'. Intinya dalam cerita tersebut bahwa setiap hal apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu kalau seseorang akan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya, maka dirinya pasti akan sukses. Insya Allah...

Bagian lain yang sangat menyentuh hati, bahkan sampai menitikan air mata ketika cerita saat kerinduan Alif menyeruak pada sosok emaknya. “Dan di saat  hatiku rusuh dan nyeri beliau selalu datang dengan sepotong senyum yang sanggup merawat hatiku yang buncah”, itulah deskripsi tentang emaknya bagi seorang Alif.

Di Novel ini selain 'Man Jadda wajada', ada juga kalimat populernya yaitu 'Ajtahidu fauqa mustawal akhar' yang artinya 'berjuang di atas usaha orang lain'. Dan semangat Alif ketika memaksa diri untuk belajar dan setiap ingin menyerah kemudian tidur. Menyeruak dalam hati Alif ketika itu “Ayo satu halaman lagi…satu kalimat lagi.. dan satu kata lagi..” . Kata-kata inilah yang kemudian memacu semangat dan motivasi penulis sendiri. Pokoknya, disepanjang cerita novel ini sangat banyak memberi kita inspirasi dan keren sekali. Ada juga pesan-pesan penting dari ustadz Salman, yaitu bagaimana kita dalam mempersiapkan diri dalam meraih sukses. Apa pesan-pesan itu? Silahkan kamu baca sendiri jika kamu memang belum membacanya. Bisa dipastikan kamu tidak akan menyesal setelah membaca novel ini. Ada banyak sekali pesan yang tersirat di dalamnya. Selamat membaca dan penasaran... 

Ahmad Fuadi dan karya novelnya 

Amad Fuadi di negara asing dengan beasiswa

Ahamad Fuadi adalah seorang anak yang lahir dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Fuadi adalah seorang anak bangsa dari pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat yang mampu menjelajahi banyak negara melalui beasiswa dan akademisnya. Selain itu, ia mampu menciptakan beberapa novel yang bisa menginspirasi banyak orang. Ketika diadakan Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Angkatan 6 (PK 6), ia menyempatkan hadir di tengah-tengah para peserta. Di acara tersebut, ia berbagi cerita dan pengalamannya tentang bagaimana perjuanganya dulu dari nol sampai saat ini, bercerita bagaimana perjuangan dirinya dulu dalam menggapai mimpi dengan penuh keyakinan, kerja keras dan kesungguhan, sehingga mampu meraih sukses dan merubah hidupnya kini. Dan semboyan yang selalu dia pegang yaitu 'Man Jadda wajada'...'barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil...'

Semasa kecilnya, Ahmad Fuadi pernah membaca sebuah buku yang mengilustrasikan seseorang yang sedang memegang sebuah es. Dengan kepolosannya, dari situlah ia merasakan kekagumannya terhadap buku itu dan saat itulah ia mengenal salju dari buku itu. Kemudian, saat dirinya berumur 15 tahun, Ahmad Fuadi merasakan apa yang ada di buku tersebut melalui program pertukaran pelajar di Kanada kala itu. Dan akhirnya pada tahun 1997, Ahmad Fuadi mendapatkan beasiswa Singapore SIF Asean Fellowship.Wow,, Sungguh prestasi yang hebat sekali, bukan? Tak kunjung berhenti sampai di situ, prestasinya terus dia raih yaitu pada tahun 1999 sampai 2002 saat ia berhasil mendapatkan Fullbright Scholarship dari Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 2004 sampai 2005 dirinya mendapatkan Chevening Award dari Pemerintah Inggris. Selain semua itu, masih ada banyak sekali hal yang diraih dan didapat dari perjalanan hidupnya ketika  ia belajar di luar negeri dengan beasiswa.

Pada acara itu Ahmad Fuadi mengajak kepada semua peserta PK 6 untuk mengoptimalkan semua waktu selama belajar di luar negeri. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan di kelas tersebut. Bisa juga bekerja part time di sekitar kampus atau di sekitar kos yang kita tinggali. Bukan hanya materi yang kita bisa dapatkan, tetapi juga etos kerja kita berupa value dan wawasan yang bisa menjadi bekal kita untuk menyongsong masa depan yang cerah. Mengikuti organisasi di luar juga sangat berguna untuk kebaikan bersosialisasi kita dengan orang lain, bisa belajar memahami karakter orang lain, bisa belajar dari teman organisasi kita dan meningkatkan jaringan atau memperluas teman.

Dan satu hal pesan dari Ahmad Fuadi bahwa yang perlu kita pegang setelah menyelesaikan masa studi  di luar negeri, sebaiknya kita perlu berkontribusi dengan membuat sebuah karya untuk bangsa tercinta kita, Indonesia. Entah itu menulis atau sebuah dedikasi yang nyata untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Karena dengan menulis merupakan salah satu cara untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan bahkan bisa mnginspirasi banyak orang untuk perubahan yang lebih baik lagi. Selain memberikan inspirasi dari novelnya, Ahmad fuadi juga melakukan kegiatan ceramah, workshop dan pelatihan-pelatihan ke berbagai daerah sebagai bentuk perwujudan kepada bangsa Indonesia tercinta. Ahmad Fuadi juga mendirikan sekolah PAUD gratis kepada masyarakat Indonesia yang diperuntukan untuk keluarga yang kurang mampu. Dan salah satu prinsip hidup Ahmad Fuadi seperti tercantum dalam Hadist Nabi Muhammad SAW yaitu, "sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain."

Beliau juga memberikan tips bagi mereka yang termasuk calon penerima beasiswa LPDP, bahwa perlu ada persiapan yang harus kita siapkan ketika nanti masa studi kita di luar negeri.Yang harus dipersiapkan di antaranya yaitu, waktu yang sesingkat itu untuk memperkuat jaringan dan mempelajari budaya. Memperkuat jaringan kita bisa lakukan dengan banyak mengikuti organisasi. Mempelajari budaya di negeri orang juga mungkin tidak bisa kita temui di daerah lain. 


Hikmah pengalaman hidup dari seorang Ahmad Fuadi

Beberapa hikmah dari perjalanan hidup Ahmad Fuadi yang bisa kita petik di antaranya :

-Janganlah takut untuk bermimpi, karena mimpi itulah yang akan mengarahkan diri kita
ke puncak kesuksesan.

-Jangan menoleh dari latar belakang kita untuk menggapai mimpi, karena kesuksesan kita berasal dari usaha keras dan kesungguhan apa yang kita lakukan saat ini. Kita perlu mendokumentasi terhadap apa yang telah kita lakukan, sehingga bisa dinikmati dan kita bisa berbagi untuk semua orang.

-Menggunakan waktu selama studi dengan sebaik-baiknya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berguna untuk kamu ke depannya.

-Membagi apa yang telah kita lakukan kepada orang lain. Karena dengan berbagi kepada sesama, kita bisa menginspirasi banyak orang dan berarti kita telah membantu masyarakat Indonesia untuk perubahan yang lebih baik lagi.


Tips Menulis dari Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi adalah sosok pribadi yang gaya bicaranya tenang dan jauh dari kesan formal. Selain itu, ia selalu merendah kepada orang lain, tidak sombong, dan tidak senang merasa ditinggikan. 

Kata Ahmad Fuadi, ada beberapa macam alasan untuk menulis. Adakalanya menulis untuk memberi informasi dan ada pula menulis untuk sekedar menghibur. Seyogyanya bahwa menulis itu dilakukan untuk menebar kebaikan. Hal yang penting yang dirinya percaya terkait dengan tulis-menulis yaitu, pertama bahwa kata-kata itu sesungguhnya bisa lebih ampuh dari sebuah peluru. Peluru bisa menembus ke satu kepala, sedangkan kata-kata yang ampuh itu bisa menembus ke banyak kepala. Selain itu, peluru bisa mematikan, sedangkan kalau kata-kata ampuh itu bisa dirangkai dengan kalimat yang baik dan bisa lebih menguat bisa menginspirasi ke banyak orang. Paling tidak, seseorang itu bisa menulis di sebuah SMS atau sosial media yang bisa menghadirkan tawa kecil orang lain atau inspirasi. Ahamd Fuadi yakin bahwa dengan menulis, kita bisa melintasi gografis, agama dan bahkan batas sosial. Karena dengan menulis, kita bisa mengeluarkan gagasan dan menjangkau ke berbagai kalangan.

Hal yang menarik dari novel Negeri 5 Menara ini, yang secara umumnya memiliki tema keislaman, ternyata bisa menjadikan seorang Ahmad Fuadi diterima dan didengarkan gagasannya oleh orang-orang nasrani. Karena di cerita islami tersebut nilai keagamaannya yang baik sehingga bisa menyentuh sampai ke hati tanpa membuat orang lain resah akan kepercayaan yang dianutnya, dan nilai kebaikan agama itu tidak mengancam agama lain.

Dalam pandangan tentang tulis menulis, Ahmad Fuadi percaya bahwa tulisan yang baik semestinya menggerakkan dan menghadirkan inspirasi. Beliau memaparkan bahwa tulisan yang baik itu tidak hanya menghadirkan kekaguman, tetapi memiliki kekuatan untuk membuat pembacanya seolah-olah ikut bergerak melakukan sesuatu. Dan setelah membaca sebuah tulisan yang bagus, pembaca bisa merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu itu. Maka dari situlah sesungguhnya muara dari tujuan menulis itu. 

Ahmad Fuadi juga mengatakan bahwa menulis itu bisa membuat awet muda seseorang. Untuk nasehat yang satu ini dirinya dapatkan dari nasihat salah satu Ustadz di Gontor. Ustad beliau mengatakan bahwa dengan menulis, maka penulisnya akan tetap hidup lewat gagasan-gagasan yang dibacanya. Selain itu, penulis itu tidak akan pernah mati karena tulisannya akan terus dibaca hingga lintas zaman.


Tips menulis: WHY, WHAT, HOW, WHEN 

WHY: Mengapa kita harus menulis?

Ada satu ajaran penting yang selalu ia ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Hidupnya dihantui dengan sebuah pertanyaan “ Apa yang saya (Ahmad Faudi) bisa saya lakukan agar bermanfaat untuk orang lain?" Nah, jawaban yang paling mendasar bagi Ahmad Faudi yaitu dengan menulis buku atau novel. Sehingga jawaban dari sebuah pertanyaan Mengapa kita harus menulis? Maka jawabannya yaitu bahwa semakin besar motivasi yang tumbuh dan semakin besar harapan kita untuk berhasil dan menghasilkan sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.


WHAT: Apa yang akan kita tulis?

Sebaiknya menulis yang terbaik itu adalah apa yang menjadi gairah, dipedulikan, dan apa yang disenangi. Menulis dengan apa yang paling kita pedulikan, kita tidak akan merasa cepat bosan menulisnya. Kita bisa bertanya dengan teman-teman atau orang lain hal-hal apa yang mereka bicarakan tidak pernah bosan ketika didengarkan. Begitu juga dengan menulis hal-hal apa saja yang kiranya menarik untuk dibahas dan tidak membuat jenuh.


HOW: Bagaimana kita menuliskannya?

Untuk menulis agar bisa menghadirkan kesan yang berbeda perlu dilakukan dengan belajar dan sungguh-sungguh. Menurutnya bahwa menulis itu bisa dilakukan siapa saja, asal dia mau belajar dan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang tepat.


WHEN: Kapan sebaiknya menulis?

Saat terbaik untuk memulai menulis yaitu Sekarang. Menurut Fuadi, waktu menulis yang paling efekti yaitu subuh ketika bangun tidur, dan sore atau malam sepulang kerja. Gunakan setiap harinya untuk menulis, misalkan sore setengah jam, malam setengah jam, dan subuh setengah jam. Lakukan itu dengan konsisten, maka lama kelamaan dari selembar menjadi sebuah, beberapa halaman, dan akhirnya menjadi sebuah buku.

Ahmad Fuadi
Demikian ulasan singkat tentang profil dari Ahmad Fuadi, salah satu nama yang terkenal sebagai penulis buku novel best seller di Indonesia. Apakah perjalanan hidup dan pesan-pesan yang ia sampaikan cukup menginspirasimu? 

Salam berkuliah.com
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,299,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,14,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,442,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,3,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,59,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,27,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,13,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Biografi Ahmad Fuadi: Penulis Novel Best Seller Indonesia
Biografi Ahmad Fuadi: Penulis Novel Best Seller Indonesia
https://2.bp.blogspot.com/-qxrETySKq6I/VFL_iFIyd-I/AAAAAAAAEqc/vsvlinUUQaw/s1600/acafaf.png
https://2.bp.blogspot.com/-qxrETySKq6I/VFL_iFIyd-I/AAAAAAAAEqc/vsvlinUUQaw/s72-c/acafaf.png
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2014/10/biografi-ahmad-fuadi-penulis-novel.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2014/10/biografi-ahmad-fuadi-penulis-novel.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy