Artikel Terbaru

Cerita Pengalaman Studi di Polandia, Bersama Kinanti Octavian

Halo, sobat berkuliah.com! Berjumpa lagi dengan berkuliah.com dengan topik yang kita ulas kali ini berkenaan dengan cerita dari teman-teman kita yang menjalani studi mereka di luar negeri. Salah satu teman kita, Kinanti, seorang mahasiswi asal Indonesia akan berbagi banyak pengalamannya selama menjalani studi di salah satu kampus di Polandia. Penasaran dengan ceritanya? Simak ulasan berikut ini: 



Halo, Kinanti. Salam kenal, ya. Sebelumnya, bisa diceritakan tentang profil diri kamu?


Salam kenal. Saya Kinanti Octavian Alif, 23 tahun. Asli Yogyakarta dan tinggal bersama keluarga di Tempel. Kuliah di Jurusan Hubungan Internasional (HI), FISIPOL, UGM. Masuk kuliah  tahun dengan beasiswa bibit unggul yang diajukan oleh sekolah. Awalnya mendaftar sendiri ke Jurusan Hubungan Internasional UI dan diterima, tapi tanpa beasiswa jadi memilih di UGM. Pada tahun 2013-2014 saya menjalani program pertukaran mahasiswa di Uniwersytet Warszawski, Polandia dengan beasiswa Erasmus Mundus.


Saat ikut program kuliah di Polandia, apakah Kinanti memilih berdasarkan negaranya, jurusannya dulu, atau hal lain?

Beasiswa untuk program pertukaran mahasiswa yang saya terima bernama PANACEA Program dari skema beasiswa pendidikan Eropa, Erasmus Mundus. Program ini memiliki tema lingkungan, kesehatan, manusia, dan biodiversitas yang sangat sesuai dengan minat saya. Minat studi saya adalah kebijakan dan manajemen lingkungan walaupun lebih banyak membahas dari segi politik. Sebelum mendaftar, saya sudah memulai penilitian tentang pasar karbon Eropa sebagai syarat kelulusan. 

Waktu mendaftar, kami diberikan kesempatan untuk memilih 2 universitas dari daftar yang diberikan oleh PANACEA. Saya memilih Uppsala University, Swedia sebagai pilihan pertama karena mereka memiliki pusat studi lingkungan yang sangat berkualitas. Uniwersytet Warszawaski (UW). Polandia menjadi pilihan kedua karena dari semua pilihan universitas yang ada UW memiliki program Hubungan Internasional yang menarik. Selain itu, pertimbangan untuk belajar di negara yang (bagi orang Indonesia) kurang terkenal dan menggunakan bahasa selain bahasa inggris sangat menantang saya.


Bagaima kita bisa beradaptasi dengan perbedaan sistem perkuliahan? Apakah ada yang bisa dipersiapkan?

Dari yang saya rasakan, sistem perkuliahan di UW tidak banyak berbeda dengan UGM. Beberapa perbedaan adalah, bahwa kegiatan fisik khususnya olahraga diintegrasikan ke dalam kurikulum perkuliahan. Pilihan jenis olahraganya pun sangat beragam, mulai dari renang dan sepakbola sampai tari salsa/tanggo dan panjat dinding. Saya sendiri memilih untuk mengikuti kelas berkuda di musim dingin. 

Di UW, mahasiswa benar-benar dibebaskan untuk mengikuti kelas-kelas yang mereka minati di luar 'major' mereka. Tapi, tentunya tanpa mengganggu proses belajar di bidang utama yang mereka pilih. Hal ini juga didukung dengan begitu banyak pilihan studi dan kelas juga seminar dan e-lecture. Sebagai contoh, di UW saya memang terdaftar sebagai mahasiswa jurusan HI, tapi saya juga mengambil kelas tentang Keamanan Energi. Yang perlu dipersiapkan adalah ketertarikan dan keingintahuan yang besar untuk belajar lebih banyak tentang berbagai hal.


Apa kelebihan dari kampus tempat Kinanti kuliah? Mungkin dari segi fasilitas, kelas, birokrasi, dan suasana bersosialitanya.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, salah satu kelebihan UW adalah pilihan kelas yang sangat banyak, walaupun tidak semuanya berbahasa Inggris sebagai pengantarnya. UW juga memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, mengorganisir banyak seminar/public lecture berlevel internasional, kegiatan budaya, seni, dan traveling. Hidup sebagai mahasiswa UW khususnya mahasiswa Erasmus, kita tidak akan pernah kehabisan acara, baik akademik maupun sosial.

Dari segi fasilitas, tentu berbeda walaupun tidak signifikan. Yang paling saya sukai dari fasilitas di UW adalah bangunan kampus yang sangat bergaya klasik dengan sentuhan modern yang tepat. Selain itu, terdapat fasilitas yang sangat baik untuk para diffable, yang mana sangat jarang dan sulit ditemui di kampus-kampus Indonesia. Perpustakaan pusat UW adalah salah satu perpustakaan terbaik yang saya pribadi pernah datangi. Tidak hanya besar dengan fasilitas lengkap dan memiliki koleksi yang sangat banyak bahkan dari beberapa abad lalu, perpustakaan ini juga merupakan tempat yang sangat artistik dengan model arsitektur dan koleksi seninya juga sangat nyaman dengan taman yang besar di atapnya.

Untuk masalah birokrasi, kesabaran adalah kuncinya. Yang saya tahu, dengan asumsi baik atau husnudzan, jumlah staff di UW khususnya untuk menangani urusan dengan mahasiswa internasional tidak seimbang. Hanya ada sekitar selusin staff di Kantor Urusan Internasional sedangkan jumlah mahasiswa asing di UW mencapai ratusan dengan berbagai masalah, baik akademik maupun hal lain seperti akomodasi. Walaupun demikian mereka tetap berusaha memberikan pelayan dan bantuan terbaik. Saya sendiri beruntung mendapatkan koordinator program yang sangat baik, membantu, dan ramah bahkan di luar kampus. 

Hal lain yang sering menjadi masalah adalah perbedaan bahasa. Poles atau orang Polandia tidak semua lancar bahkan bisa berbahasa Inggris. Kalaupun mereka bisa memahami kita, belum tentu mereka mau menanggapi dalam bahasa Inggris. Lagi, saya berhusnudzan, mungking mereka kurang percaya diri atau tidak terlalu mengerti. Masalah ini khususnya selalu dialami oleh mahasiswa asing yang memilih tinggal di asrama kampus dengan pengelola yang hampir semua tidak berbahasa Inggris. Tetapi, hal ini malah menjadi tantangan untuk belajar bahasa Polandia atau Polish lebih baik lagi.

Sama seperti mahasiswa Indonesia, beberapa mahasiswa asli Polandia di UW juga cukup tertarik dengan mahasiswa asing. Jika mereka cukup lancar berbahasa Inggris, mereka akan ramah dan membantu bila diminta. Tapi, mereka juga bisa menjadi sangat cuek dan tidak mau mencampuri urusan orang lain, hal yang sebenarnya baik dan saya suka. 



Hal yang cukup sulit bagi saya dalam bersosialisasi adalah budaya untuk pergi ke klub dan minum sampai hampir/sangat mabuk. Hal ini bukan semata karena saya muslim, tapi memang bukan sesuatu yang saya pribadi suka lakukan. (Minum soda saja saya tidak suka, apalagi minum vodka yang menjadi kekhasan Polandia. Saya suka musik yang tenang dan hanya cukup untuk membuat badan bergerak, bukan musik yang membuat saya pusing dan telinga saya sakit). Namun, hal ini bisa saya atasi melalui hobi masak saya. Sebulan sekali, atau bila saya sedang ingin masak dan bergaul, saya mengundang teman-teman saya baik mahasiswa internasional lainnya dan teman Polandia saya untuk datang ke dapur asrama saya untuk memasak dan makan dengan saya. Biasanya mereka juga memasak atau membawa sesuatu khas dari negara mereka. Kadang saya mengundang sedikit teman hanya untuk makan bakwan jagung buatan saya dan minum teh melati asli Indonesia di sore hari. Ternyata mereka juga sangat suka kegiatan ini, selain tentunya pergi ke klub.


Bagaimana dengan musim di Polandia? Apakah ada saat-saat dimana musim berubah ekstrim? Jika ada, bagaimana cara mengatasinya?

Kebetulan saya menjalani program pertukaran saya di musim gugur dan dingin (hanya 6 bulan). Pada hari pertama saya setelah keluar dari bandara, yang saya rasakan adalah dingin yang jauh lebih dingin dari malam terdingin di rumah saya. Kalau tidak salah, suhu (awal) musim gugur sudah 13-15 derajat. Awalnya saya agak kaget, terutama karena pada tahun sebelumnya saya menjalani operasi patah tulang dan masih memakai pen di dua kaki saya dan punggung. Dingin menjadi sangat menyakitkan. Belum lagi di puncak musim dingin suhu pernah mencapai minus 26 derajat disertai badai salju dan angin dingin yang menggigit. 

Yang saya lakukan sehari kemudian setelah kedatangan saya adalah membeli sepatu boots tinggi dengan lapisan bulu hangat di dalam untuk menjaga kaki saya dari rasa sakit. Jika teman-teman akan datang ke Eropa di semester musim gugur (universitas di Eropa biasanya memulai tahun akademik baru di musim gugur), saya sarankan untuk tidak membawa banyak baju hangat sari Indonesia, seperlunya saja. Lebih baik membeli perlengkapan dan baju untuk musim dingin di Eropa, karena bahan yang digunakan biasanya berbeda dan barang-barang di Eropa sudah sangat disesuaikan dengan kondisi di sana. Untuk masalah harga juga tidak banyak berbeda. Hal ini kan membuat kepindahan dari Indonesia ke Eropa lebih mudah dan ringan. 


Apakah mahasiswa Indonesia di Polandia bisa mendapatkan kerja part time? Jika iya, pekerjaan apakah yang recommended untuk diambil?

Jika teman-teman berkuliah di Eropa dengan biaya pribadi dan untuk program full-degree, kalian bisa melakukan kerja part-time. Biasanya dengan syarat memiliki residence card atau izin tinggal. Jumlah jam kerja juga mungkin berbeda dengan mahasiswa asli. Pekerjaan yang bisa dilakukan sangat beragam, beberapa di antaranya adalah mengajar bahasa Inggris (harus dibuktikan dengan level kecakapan tertentu), bekerja di cafe, penulis atau fotografer untuk koran/majalah setempat, mengasuh bayi, menjadi tenaga kebersihan (kurang direkomendasikan), dan lain-lain.


Ketika kangen dengan Indonesia, entah itu makanannya, orang-orangnya, apa yang biasa Kinanti lakukan?

Kebetulan saya sangat suka memasak dan saya juga membawa beberapa bahan makanan dari Indonesia, sambal terutama. Tentu saja saya sangat kangen dengan masakan asli Indonesia, terutama karena bahan-bahannya cukup sulit didapat di supermarket di Polandia. Tetapi dengan sedikit modifikasi, saya masih bisa memasak makanan Indonesia seperti soto, mie ayam, lumpia, bakwan, dan lain-lain. Jika saya ke luar Polandia untuk jalan-jalan dan menemukan restaurant Indonesia, yang terjangkau tentunya, saya akan mampir dan makan di sana. 

Dan jika sedang kangen dengan keluarga dan teman-teman, yang untungnya jarang karena saya cukup sibuk dengan kuliah dan jalan-jalan, saya biasa menelpon mereka via skype baik teleconference maupun skype credit untuk telpon langsung ke handphone mereka di Indonesia. Kami juga selau saling mengirim kabar via berbagai aplikasi seperti Whatsapp atau Viber. 


Apakah Kinanti pernah mengalami kejadian unik selama di Polandia? Atau pernahkah melihat kejadian-kejadian yang aneh dan berbeda, dan itu tidak ditemukan di Indonesia?

Setiap waktu yang saya lewati selama belajar dan berpetualang di Eropa sangat berkesan, dan merupakan pengalaman unik bagi saya pribadi. Setiap hal yang saya lakukan rasanya baru. Setiap orang dan tempat yang saya kunjungi sepertinya menjadi suatu hal yang luar biasa. Dan pengalaman saya sebenarnya cukup lancar, tidak ada kejadian-kejadian yang membahayakan ataupun sangat menyedihkan. 

Mungkin salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat saya mengunjungi kota Gdanks di utara Polandia setelah sehari sebelumnya kota ini terkena badai salju yang cukup parah. Kunjungan tersebut merupakan solo-trip pertama saya ke luar Warszawa, karena sebelumnya saya selalu bersama teman ketika berpetualang. Ketika saya datang, cuacanya sangat cerah. Salju tebal yang menutupi hampir setiap permukaan terasa sangat kontras dengan matahari yang cerah dan hangat. Salju itu pun terlihat berkilauan dan sangat indah di bawah sinar matahari. Tapi, kalau hari sudah gelap dan udara menjadi super dingin, saljunya menjadi tidak indah lagi dan malah menjengkelkan karena membuat boots saya basah dan kotor. Ini membuat saya berpikir bahwa perubahan itu tidak dapat dihindari, suka tidak suka harus dihadapi, dan perspective menjadi sangat penting ketika menghadapinya.


Adakah tips khusus yang ingin Kinanti bagikan tentang bagaimana cara mudah untuk masuk dan apply ke universitas Kinanti saat ini?  

Tidak ada tips khusus sebenarnya, baik untuk masuk ke UW dan universitas-universitas lain di Eropa. Yang jelas perlu dipersiapkan adalah kelengkapan persyaratan. Sertifikat kecakapan berbahasa Inggris sebaiknya dipersiapkan jauh hari dan sesuai seperti yang disyaratkan. Motivation letter juga sebaiknya tidak dibuat secara tergesa-gesa dan benar-benar disesuaikan dengan program yang akan dimasuki. Berhubungan dengan pihak universitas yang dituju akan sangat membantu, khususnya jika kita masih bingung dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang program yang ada.


Sekian pertanyaan dari kami Kinanti. Terima kasih banyak Kinanti telah bersedia meluangkan waktu untuk interview di berkuliah.com. Semoga Kinanti semakin sukses di sana, dan terus menginspirasi kami semua.



Kinanti Octavian Alif

Center for European Studies
University of Warsaw
Department of International Relations
Gadjah Mada University

Mobile: +6282112266645
Kromodangsan RT/RW: 04/18
Lumbungrejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta, Indonesia, 55552

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top