Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: "Jika Aku Menteri Pendidikan Indonesia"

Pendidikan di Indonesia? Beberapa orang mungkin akan bosan untuk membahasnya. Tapi, untuk para akademisi yang ingin pendidikan di Indonesia...

Pendidikan di Indonesia? Beberapa orang mungkin akan bosan untuk membahasnya. Tapi, untuk para akademisi yang ingin pendidikan di Indonesia lebih maju lagi, tentunya ini merupakan topik yang selalu hangat. Banyak yang merasa pendidikan di negara kita masih selalu kurang dan membutuhkan perhatian yang lebih dari saat ini. Mungkin sampai saat ini, kalian semua tahu bahwa pendidikan di Indonesia masih belum bisa menjangkau ke titik-titik terjauh atau pelosok negeri bumi pertiwi ini. Bagaimana negara ini akan maju jika generasi masa depannya tidak bisa merasakan pendidikan yang layak dan berkualitas?

Tentunya banyak sekali harapan dan mimpi dari para akademisi Indonesia, khususnya kaum muda dan intelektual yang sudah berkesempatan merasakan pendidikan yang sangat berkualitas. Untuk itu, tim berkuliah.com akan menampilkan berjuta mimpi dari mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri. Mari kita simak ulasannya di bawah ini.


Seandainya kamu menjadi Menteri Pendidikan Indonesia, apa yang akan kamu lakukan untuk membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik?

Devi Rizal, Ketua Umum PPI Finlandia, S2 di Helsinki Metropolia University of Applied Science (UAS), Finlandia.


Kalo saya jadi Menteri Pendidikan : saya akan membangun pendidikan negeri ini dengan semaksimal mungkin, langkah-langkahnya antara lain : memanfaatkan dana pendidikan yang ada untuk pengadaan alat belajar dan pembangunan infrastruktur, kemudian dengan banyaknya mahasiswa kita yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri maka saya akan memberikan kesempatan bagi mereka semua untuk membantu program-program yang telah dicanangkan sehingga kualitas dan pengalaman mereka akan lebih bermanfaat.


Megah Andriany, S3 di Prince of Songkla University, Thailand


Sebenarnya mimpi saya menjadi Menteri Kesehatan, tapi kalau saya nantin akhirnya jadi Menteri Pendidikan, maka saya akan menekankan kurikulum pada pembangunan karakter bangsa.


Suhendy Lie, Oxford Brookes University, Singapura


Penyetaraan kualitas pendidikan dulu sih. Dimana guru-guru juga diberikan pelatihan untuk jadi capable dalam mengajar. Soalnya untuk sekarang aku rasa cuma di sekolah-sekolah tertentu aja yang gurunya bagus, kan pendidikan sama dengan kualitas SDM kita. Kalau pendidikannya bagus di jamin SDM kita juga bagus. 

Terus sekolah murah atau gratis sampai selesai SMA itu yang penting. Aku yakin budget APBN untuk pendidikan kita itu besar, trus kenapa nggak dimanfaatin buat itu? Aku yakin kalau nggak dikorupsi, itu budget bisa buat cover anak-anak yang nggak bisa sekolah.
Hal yang paling gampang itu aja sih, soalnya kualitas pendidikan di suatu negara penting sekali biar nggak bisa di bego-begoin sama government kita yang jahat. Orang-orang bisa ditipukan juga gara-gara tingkat pendidikan dan logikanya kurang.


Rian Isharyanto, S2 di University of Queensland, Australia


Kalau Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi menteri pendidikan, maka saya akan memperbaiki beberapa aspek. Aspek yang paling utama dan perlu dibangun adalah pembentukan karakter pada kurikulum pendidikan dasar.

Mengurangi perubahan kurikulum yang terlalu sering, karena perubahan kurikulum sangat berpengaruh terhadap anggaran pendidikan indonesia. Selain itu, perubahan kurikulum ini juga berpengaruh terhadap kontinuitas program pendidikan.


Martha Octavia Dwi Sisianty, S2 di University of Porto, Portugal


Seandainya saya jadi Menteri Pendidikan, saya ingin semua anak-anak Indonesia mencintai belajar dengan memberi kebebasan berekspresi dan berfikir kreatif. Mencari tahu sejak dini potensi dan minat bakat setiap anak dan guru-guru di Indonesia. Memberi pengertian bahwa pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, bahwa ilmu yang kita tahu seperti setes air di lautan, tidak ada habisnya.


Agdiosa Manyan, Queensland University of Technology (QUT), Australia


Kalo saya ingin memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum. Saya ingin sikap dan kelakuan dihargai sama dengan nilai yang didapatkan di sekolah. Bagaimana menerapkan disiplin dan kesadaran yang akan tertanam dalam pikiran anak Indonesia. Jangan sampai melahirkan seseorang yang cerdas dan pintar namun korupsi. 

Yang kedua adalah menerapkan pendidikan soft skill. Bukan hanya pintar dan nilai yang bagus yang dibutuhkan untuk sukses, soft skill yang baik juga diperlukan. Skill untuk bersosialisasi, berbicara depan umum, berani untuk berpendapat. Skill-skill tersebut harus dapat ditanamkan kepada generasi muda kita. 

Yang terakhir adalah penambahan pelajaran-pelajaran yang mengeksplorasi potensi anak. Hanya karena dia tidak pandai matematika, bukan berarti dia tidak bisa sukses. Mungkin bakat dan ketertarikannya ada di seni, yang seharusnya bisa mereka eksplore lebih jauh dari kecil. Tidak perlu menunggu saat waktu memilih jurusan kuliah. Pilihan itu seharusnya selalu ada dari kecil untuk mereka bisa mengeksplorasi yang mereka mau.


Savira Ralie, S1 di University of Queensland, Australia


Pertama-tama, aku akan memikirkan kesejahteraan rakyat dulu, memberikan lapangan kerja untuk keluarga agar bisa membiayai pendidikan anaknya. 

Kedua, aku akan merubah sistem pendidikan Indonesia menjadi lebih efisien, yang aku maksud dengan efisien adalah setiap anak berhak memilih mata pelajaran apa yang mereka mau pelajari. Sebagai menteri pendidikan aku akan memberikan kebijakan baru berupa itu, mengapa? Karena menurut aku sistem pendidikan yang sekarang berlangsung di Indonesia salah. Aku percaya jika anak dipaksa untuk mempelajari sesuatu, bila itu tidak sesuai dengan passion mereka maka itu akan cenderung menimbulkan kegagalan dan membuat anak merasa seakan-akan bodoh. Pada akhirnya sang anak akan membenci kegiatan belajar di sekolah. 

Ketiga, aku akan mempertahankan kebijakan wajib sekolah sampai dengan tingkat SMA, mempermudah sistem beasiswa, menekankan setiap sekolah untuk lebih menggunakan sistem praktik daripada sistem teori, dan memberikan biaya gratis untuk sekolah atau paling tidak biaya yang masuk akal agar semua anak dari latar belakang ekonomi apapun bisa mendapatkan pendidikan.


Ben K.C Laksana, S2 di Victoria University of Wellington, New Zealand


Kalau seandainya saya menteri pendidikan, kurikulum akan saya rombak secara menyeluruh agar mendorong terbentuknya pemikiran kritis dan kreatif di siswanya. Selain perombakan kurikulum saya juga akan memperbaiki cara pengajaran atau pedagogi pendidikan Indonesia agar pedagogi dan kurikulum saling mendukung dalam pembelajaran kritis siswanya. Salah satunya caranya adalah dengan membaca buku secara kritis. 

Saat ini saja kita dapat melihat bahwa siswa sama sekali tidak diwajibkan membaca buku, apalagi membaca buku secara kritis. Taufik Ismail pernah berkata bahwa ini adalah "Tragedi Nol Buku". Sistem pendidikan negara lain mewajibkan untuk membaca buku diluar buku kurikulum kita. Seperti Jepang mewajibkan 15 buku dan Malaysia 6 buku. Berdasarkan data terakhir dari UNICEF tahun 2013 tingkat melek huruf di Indonesia sudah sangat tinggi yaitu mencapai 98%, dengan sebagian besar masyarakat yang buta huruf berada di daerah Papua. Namun melek haruf bukan berarti masyarakat kita minat membaca buku dan ini sangat fatal untuk perkembangan sosio-ekonomi Indonesia.

Meminjam kata-kata Seno Gumiro Ajidarma “negara kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan."

Masyarakat Indonesia tanpa minat baca yang tinggi dan kemampuan membaca kritis hanya akan menjadi masyarakat konsumeris dan akan sulit mengolah informasi yang mereka terima. Membaca harus lebih dari sekedar membaca dan menerima informasi. Tapi, harus dapat mengolah informasi tersebut secara kritis. Masyarakat akan menelan mentah-mentah tanpa berpikir terlebih dahulu apakah informasi atau ilmu (sosial, ekonomi, politik, agama, budaya dll) yang mereka terima bermanfaat atau buruk atau bahkan secara kreatif dapat di padukan dengan hal lain untuk menghasilkan hal yang baru. 

Tanpa adanya pemikiran kritis kita akan selalu terjebak dalam herd mentality atau mentalitas kawanan. Kita akan terus menjadi pengikut buta bukan individu yang mandiri. Ditambah itu jika kita ingin bersaing dengan negara lain, kita harus dapat berpikir kritis maupun kreatif atau kita akan terus menjadi negara buruh. Hanya dengan pendidikan kritis dan kreatif melalui pendidikan membaca yang kritis, masyarakat kita akan mampu keluar dari lingkaran setan perekenomian yang memperbudak mereka.

Dengan adanya pemikiran kritis kurikulum juga akan dengan mudah mengajarkan critical citizenship dan menjadi warga negara yang kritis. Warga negara yang memamahi peran dan hak mereka dalam pembentukan sebuah masyarakat yang beradab melalui diskursus sosial yang demokratis. Yang terjadi saat ini adalah keberadaban masyarakat kita dilakukan dengan cara indoktrinasi moralitas yang banyak berasal dari agama. Pengalaman kita di di dunia perpolitikan maupun keseharian menunjukkan bahwa orang yang pandai ilmu agamanya belum tentu diaktualisasikan ke dalam akhlak dan moralitas kesehariannya. Dengan critical citizenship siswa diajak untuk berpikir akan peran dan hak mereka dalam menjadi seorang warga negara Indonesia. Ini akan memunculkan kepahaman dari dalam diri akan pentingnya moralitas dan etika dalam konteks kenegaraan dan bukan pemahaman yang semu akan moralitas dan etika yang dihasilkan oleh pemaksaan moralitas.



Popy Kirana, S1 di UGM, Pertukaran Mahasiswa Program Erasmus Mundus-Panacea Project, Polandia


Kalo jadi Menteri Pendidikan,...Propose budget ke pemerintah pusat buat membangkitkan pendidikan di beberapa titik terluar Indonesia yang makin riskan buat ngikut ke negara tetangga. Programnya jadi proyek 5 tahun dan harus kerjasama dengan kementerian ekonomi dan perhubungan, soalnya kalo pembangunan dari pendidikan aja ga akan jalan, pusat ekonomi yang kiblatnya ke Indonesia dan instrastuktur ke daerah mesti dibangun. Kebijakan lainnya, bukan mewajibkan, tapi menyarankan setiap universitas untuk ada KKN. Banyak universitas di Jakarta yang gada program KKN, diganti dengan program magang di perusahaan. bagus memang, tapi mahasiswa dari kota besar ini ga pernah tau ada bagian Indonesia yang njomplang banget. mungkin mereka tau dari media, tapi ga pernah besentuhan lagsung, jadi cuma sekedar tau. Trus yang sulit adalah....menigkatkan standar gaji dosen, dengan tujuan, dosen harus ada maksimal ngajar kelasnya, supaya mahasiswa bimbingan tetep dikasih perhatian sehingga akan banyak penelitian-penelitian yang berkualitas. Dengan begitu, reputasi universitas sebagai pusat riset bisa dicapai.

Kalo tentang perumusan kurikulum yang paling sesuai aku masih kurang paham...Yang lainnya, yang sudah bagus, mendukung program-program yang sudah ada supaya Indo bisa go international kae usahanya si Yohanes Surya untuk berbagai olimpiade.

Kalo dana dari pemerintah pusat pun tak juga mencukupi, bolehlah cari donor internasional (USaid, AUsAid, EU,dll) untuk mendukung program-program pendidikan itu. Karena nggak dipungkiri buat memajukan dan mendorong pertumbuhan pendidikan di Indonesia, butuh dana superbesar.

Lagi, fokus pembangungan pendidikan juga menyentuh daerah timur. pendidikan di daerah timur Indonesia itu jauh banget tertingal di belakang, karena itu, harus disuplai guru-guru dari Indonesia Barat kesana dan program pendidikan keguruan lebih banyak untuk Indonesia Timur.


Cecep Eli Kosasih, S2 di Prince of Songkla University, Thailand


Sebenarnya saya tidak ada cita-cita untuk menjadi menteri pendidikan, karena bagi saya jabatan itu terlalu berat buat saya, jabatan adalah amanah. Tapi, kalau sekedar sharing untuk kemajuan pendidikan di Indonesia boleh juga. bagi saya seorang menteri pendidikan harus bisa menjaga nilai-nilai budaya bangsa yang baik dan bisa mencerdaskan bangsa Indonesia sekaligus mensejahterakan para pendidiknya. nilai-nilai yang perlu dijaga pada bangsa Indonesia adalah seperti yang tercantum dalam UUD 45 namun secara nyatanya mungkin bisa diwujudkan dalam bentuk menjaga nilai moral yang baik dan nilai-nilai kemanusiaan yang saat ini mulai menurun. Menteri pendidikan perlu mewujudkan pendidikan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga seluruh rakyat bisa mencapai pendidkan minimal sebagai bangsa yang beradab dan cerdas. terakhir menteri pendidikan perlu memberikan kesejahteraan yang adil pula bagi para pendidik sehingga para pendidik merasa nyaman untuk berkarya tidak perlu dipusingkan dengan keperluan ekonomi, termasuk untuk pendidikan yang berkelanjutan yang didukung oleh beasiswa yang cukup.


Anggarani Fatmawati, Universidad Politecnica de Valencia, Spanyol


Sejujurnya, yang kurang dari pendidikan di indonesia adalah kita masih berfokus pada teoritis, belum terlalu banyak pada praktek. Jadi anak-anak dan mahasiswa banyak yang dituntut untuk paham teori a b c dll, tetapi kurang praktek langsung bagaimana/aplikasi secara langsung dari a b c dll tadi.
Jadi, saya mungkin ingin pendidikan di Indonesia diperbanyak praktek di lapangan, jadi belajar teori sekaligus mempraktekkannya. 

Kemudian ini sih lebih ke personal kali ya, mengurangi jarak antara guru/dosen dengan mahasiswa/murid. sehingga suasana menjadi lebih hidup dan nggak ada lagi ketakutan/segan bertanya terhadap gurunya,


Hendra Wong, Nanyang Technological University, Singapura


1. Memberikan lebih banyak beasiswa untuk pelajar-pelajar berprestasi, karena dengan ini pelajar-pelajar lebih terdorong untuk belajar lebih keras untuk menjadi juara.
2. Tax deduction untuk perusahaan/perseorangan yang mau membantu/menyumbang di sekolah2-sekolah yang kurang mampu. 
3. Mengambil contoh di Singapura, untuk SD, SMP, SMA, dikurangi jumlah pelajarannya, dan lebih didalami pelajaran utama. Contoh: pelajaran agama cukup sampai SMP saja. Tidak perlu ada di SMA, dan sebagai ganti, Matematika diperdalam, terutama kualitas soal ujian. 


Fauzia Ariani, S2 di Jagiellonian University, Polandia


Listnya bisa panjang banget loh ini kalau saya bener-bener jadi Menteri Pendidikan hehehe..Tapi, salah satunya ya mungkin dilatarbelakangi faktor sekolah swasta yang bagus-bagus sekarang harganya tidak terjangkau, jadi ya saya ingin meningkatkan jumlah kerjasama pendidikan dengan berbagai negara, di mana saya bisa mengirimkan tenaga-tenaga pendidik dan staff-staff saya untuk belajar dan melakukan riset tentang berbagai macam metode pendidikan, sehingga diharapkan saat pulang kembali ke Indonesia, kita bisa menyediakan pendidikan yang inovatif dan kompetitif bagi anak-anak dari semua kalangan. 


Micha Gracianna Devi, Universitas Santiago de Compostela, Spanyol


Saya akan memperketat seleksi staff pengajar agar tidak hanya sekedar pintar sesuai bidang, tetapi mampu menyalurkan ilmunya dengan efektif. Dilakukan training staff lebih baik dalam berbahasa asing juga lebih disupport dalam insentif dan penelitian. Kolaborasi antar institusi pendidikan, perusahaan, lembaga pemerintahan, masyarakat dll ditingkatkan. Mahasiswa lebih didorong untuk belajar bahasa asing tidak hanya bahasa inggris tp lainya agar mampu bersaing dgn mahasiswa asing. Sistem pendidikan direvisi, sehingga kita tidak hanya kuat di teori tetapi di praktik lapangan juga.


Syaiful Umam Mahmudi, S1 di Mu’tah University, Yordania


Jika saya jadi menteri pendidikan, hal pertama yang akan saya lakukan adalah lebih menggalakan pendidikan mental pada anak usia dini, seperti pendidikan berdisiplin dan anti korupsi. Untuk kurikulum pendidikan saya akan menerapkan kurikulum yang berbasis keaktifan murid di dalam kelas sehingga suasana kelas hidup. Jadi, ada komunikasi dua arah, bukan seperti yang sudah terjadi, guru menerangkan dan murid hanya mendengarkan.

Di luar itu semua, jika menjadi menteri pendidikan tentu saja saya akan menggratiskan murid yang tidak mampu (sebelumnya berkoordinasi dengan pemerintah dulu). Kemudian menyiapkan sarana pendidikan yang layak bagi murid, dan menyiapkan tenaga pengajar yang berkompeten dengan cara diklat-diklat tenaga pengajar, dan menambah kesejahteraan guru-guru honorer (berkoordinasi dengan pemerintah) dan akan membenahi apa yang selama ini dinilai kurang.


Amelia Setiawan, S2 di James Cook University Singapura & Australia


Menaikan kualitas pengajar dan kurikulum. Membangun sekolah-sekolah dengan fasilitas memadai (setara dengan sekolah-sekolah di Jawa) di Indonesia timur agar pendidikan merata.


Cecilia Resa Ariana Sumedi, HuaQiao University, China


Kasih beasiswa sekolah untuk anak-anak yang benar-benar butuh dan memang kurang mampu. Kemudian memperbanyak tenaga guru untuk mengajar ditempat-tempat terpencil (pedesaan). Terakhir, anak-anak yang sangat berprestasi, diberi kesempatan untuk belajar/ kuliah ke luar negeri.


Muhammad Izdiyan Muttaqin, Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir


Saya akan adakan standarisasi semua sekolah dan universitas, dan mengeluarkan dana untuk menyamakan kualitas semua institusi pendidikan tersebut, agar kualitas manusia di seluruh daerah bisa benar-benar seimbang, dan memasukkan mata pelajaran TOEFL dan IELTS di SMA dan S1.


Muhammad Mahrus, Universitas Seikh Ahmad Kuftaro Damascus, Syria


1.Mendirikan Sekolah/tempat untuk orang yang tidak mampu/gratis, karena pada dasarnya orang yang tidak mampu banyak memiliki cita-cita agar sekolahnya sampai ke jenjang yang lebih tinggi...Adapun rusaknya pergaulan, dan juga kurangnya didikan serta dukungan dari orang tua, dikarenakan tidak mampunyai masalah ekonomi tentunya...

Termasuk langkah yang harus digalakkan adalah pembentukan adab dan moral, yaitu dengan cara memperbanyak pelajaran agama dibanding pelajaran umum, hingga terciptanya karakter yang baik dan punya sopan santun serta etika tinggi...


Robert Dwiputra, Chiba University, Jepang


Mungkin lebih ke arah dana yah saya rasa. seperti mmberikan subsidi sekolah di kampung-kampung, dan banyak memberikan beasiswa atau membuka program-program buat mencoba belajar ke luar negeri (seperti Jepang, walau cuma tukar peljar 2 minggu, 1 bulan, sampai dengan 2 tahun) agar pikiran orang Indonesia bisa lebih terbuka lagi. Tapi masalah utamanya sebenarnya cuma lagi-lagi di "tingkat kebersihan" pemerintahan Indo haha.. KKN nya harus ilang dulu kalo mau maju haha.


Emmolia Estiningtyas, S2 di Arellano University, Filipina


Harapan aku untuk menteri pendidikan adalah untuk merombak kurikulum yang mengotak-kotakkan menjadi kurikulum yang membangu. Kurikulum dibuat menggunakan pendekatan learner centered learning. yang tujuan pendidikan adalah membuat orang orang yang terdidik menjadi orang yang lebih baik. kelas kelas tidak hanya terkotak-kotak pada empat dinding dan satu atap serta satu lantai. Tapi, ruang kelas mereka adalah dunia yang sebenarnya. Ruang kelas yang langsung berhubungan dengan social life.

Kalau dibuat daftar maka akan menjadi seperti ini :
1. Merombak kurikulum yan sudah tidak sesuai untuk membangun pribadi pribadi jadi lebih baik, yang santun, hormat pada orang tua, kasih saya pada sesama, membantu orang lain. (menjadi pribadi yang lebih baik dimanapiun ia berada). kurikulum pendidikan yang mengacu pada learner centered learning dan berorientasi pada kemampuan memecahkan persoalan dan membangun komunitas yang lebih baik).

2. Mendidik para GURU di universitas dan sekolah sekolah untuk memiliki integritas dan kejujuran, yang akan mendidik integritas dan kejujuran pada siswanya. yang berkomitment dan berorientasi pada peningkatan moral valuen bagi students, bukan pada materi materi. pendidikan karakter bagi guru yang sesuai dengan Pancasila dan melaksanakan Pancasila dengan sebenar-benarnya.

3. Strategi yang dilaksanakan beribah lebih pada pengaktivan pembelajar menuju situasi di kehidupan yang sebenarnya. Mendekatkan mereka pada tujuan kurikulum dan mata kuliah yaitu memiliki peningkatan kemampuan. buat ruang ruang kelas mereka adalah life settings yang benar benar ada di masyarakat sejak play group sampai tingkat universitas.

4. Mengasah kepekaan dengan memberikan problem solving projects yang benar benar dilaksanakan di masyarakat. Dan mulai mengurangi sistem evaluasi tertulis menggunakan ujian namun menggunakan lebih banyak strategi yang membangun pemikiran, masuk akal, meningkatkan kemampuan dan menghjasilkan produk produk yang bermanfaat.

5. Yang menjadi dosen dosen di perguruan tinggi yang membutuhkan ketrampilan adalah benar benar ahli, sudah berpengalaman, dan tidak hanya text book semata namun membuka matanya pada life problem dan life challenges.

6. Pendidikan karakter pemberani, mandiri, mandiri secara pemikiran maupun ide, yang selalu berusaha untuk jadi orang yang lebih baik dengan selalu belajar. yang menempatkan dirinya sejajar dengan bangsa bangsa dimanapun. yang telah dimulai dari pendidikan dasar dan berlangsung sampai tingkat universitas yagn oleh pembelajar akan dilaksanakan sepanjang masa.

7. Sistem pendidikan yang kembali pada filosofi pendidikan yang sebenarnya. yang menghargai niai nilai kehidupan, kebersamaan dalam bernegara, bekerja sama dengan bangsa untuk memperkuat persatuan dan persatuan, yang saling menghargai satu sama di setiap bagian masyarakat, agar bangsa kita menjadi bangsa yang percaya diri dan bangga dengan Indonesia.


Dimitri Josephine, S1 di Queensland University of Technology, Australia


Iya seandainya kalo aku jadi menteri pendidikan, aku bakal pecat-pecaiin semua guru yan nggak bisa ngajar, atau guru-guru yang suka main kekerasan baik verbal maupun fisik ke murid-muridnya. Aku bakal saring guru-guru yang mau ngajar di tk, sd, smp, sma lebih ketat lagi, karena murid-murid tk sampai sma itu lagi mentah-mentahnya, apapun yang diajarin ke mereka bakal diserap dan belum tentu mereka tahu gimana cara mengolah ilmunya. Untuk jadi dosen, mereka harus minimal S2. Aku bakal bikin jam sekolah nggak selama sekarang dari jam 7 pagi sampai sore benget, karena nggak efektif banget belajar kelamaan, murid-murid jadi nggak kondusif lagi belajarnya.

Ada banyak banget yang pengen aku ubah dari pendidikan di Indonesia sih. Aku pengen ganti kurikulumnya, aku bakal bikin anak dari tk sampai kelas 3 sd isinya cuman belajar sambil bermain. Pelajaran agama dan olahraga dijadiin ekstrakulikuler.


Sofie Qorry Aina, S1 di France Business School, Prancis


Seandainya saya menjadi menteri pendidikan Indonesia, saya akan mempermudah jalan untuk para pelajar yang ingin melanjutkan studinya ke luar negeri dengan memberikan beasiswa, kerena saat ini untuk beasiswa s1 luar negeri menurut saya amat sangat minim, dan saya ingin membuka lebih banyak lagi lembaga untuk belajar bahasa-bahasa asing, sehingga para pelajar yang berminat untuk melanjutkan study abroad akan memiliki persiapan yang matang sebelum berangkat ke negeri orang. That's all. 


Syifania Samara, S2 di Gent University, Belgia


Menurut saya kurikulumnya sudah bagus, yang bisa ditingkatkan biar pendidikan tambah bagus itu : 1. Penanaman rasa cinta sama negara, salah satu program jaman orde baru yang menurut saya bagus. Jadi kita punya rasa memiliki dan bangga sama indonesia.

2. Perbaikan SDM dan kesejahteraan guru perlu banget diperhatikan, terutama daerah tertinggal dengan sertifikasi dan pelatihan-pelatihan.

3. Pengawasan mutu pendidikan, apakah guru benar-benar mengajar pada jamnya, apakah siswa benar-benar ada di kelas waktu jam sekolah.


Aditya Perdana, Leibniz Universit├Ąt Hannover, Jerman


Kalau seandainya aku jadi menteri pendidikan, yang pertama aku lakukan adalah mempermudah akses pendidikan buat yang ada di pelosok, pedalaman, atau di ujung-ujung Indonesia, sehingga mutu pendidikannya dari segi pengajar dan infrastrukturnya jadi sama rata. Nggak seperti sekarang yang tiap daerah soal UN nya masih beda-beda, hehe. 


Anggara Pradhana, Postgraduate di University of Manchester, Inggris


Apabila saya menjadi menteri pendidikan, hal pertama yang akan saya lakukan adalah meningkatkan efisiensi budget pemerintah untuk memperbaiki sekolah sekolah yang dirasa kurang memadai. Setelah itu saya akan pelan pelan berusaha untuk menyama ratakan tingkat/mutu pendidikan di semua daerah tidak hanya di kota besar saja. Ini mempunyai tujuan akhir yaitu menyamakan kurikulum di semua daerah di Indonesia. Karena dengan ini, semua pelajar mendapat pendidikan yang sama yang apabila mereka mau masuk ke perguruan tinggi ternama, mereka akan punya kesempatan yang sama. Yang diharapkan adalah, mereka bisa meningkatkan kualitas hidup kota asalnya masing masing sehingga perekonomian Indonesia bisa lebih seimbang antara kota kecil dan besar. Saya juga akan mengirim para pendidik ke luar negeri untuk melihat bagaimana negara negara maju menjalankan pendidikannya dan nantinya menerapkan di Indonesia apa yang bisa diambil dari negara negara maju tersebut. 

Target jangka panjang saya apabila menjadi menteri pendidikan adalah memnberikan pendidikan gratis seperti di Jerman kepada semua masyarakatnya. Karena pendidikan adalah hal yang sangat mendasar untuk membangun suatu bangsa. 


Kusnadi El Ghezwa, Institut Ta’limul Atiq Imam Nafie, Maroko


Selama aku menetap di Maroko, banyak sekali informasi pengetahuan yang aku kantongi meski sebenarnya lebih banyak lagi informasi lainnya yang belum terjamah. Meski disibukan dengan kegiatan belajar dikampus. Di luar ruang kuliah, aku terus memantau perkembangan wacana intelektual di tingkat nasional Maroko. Bagiku, kesempatan belajar di Maroko membuka cakrawalaku luas sekali. Banyak sekali ditemukan ulama-ulama produktif yang karyanya selalu dinantikan oleh penggemar buah pemikirannya, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Para ulama dan pemikir di Maroko mampu berkarya total di dunia yang menjadi keahliannya. Hampir setiap bulannya aku menjumpai karya-karyanya muncul ditoko-toko kitab. Mereka tidak tergoda untuk lompat-lompat ke dunia lain, politik misalnya. Kalaupun ada bisa diketahui dengan hitungan jari. Namun, hingga saat ini mereka masih bisa dikatakan tetap konsen dengan bidangnya masing-masing. Urusan pimpinan tertinggi negara memang sudah final di negeri ini dengan sistem kerajaannya. Namun lebih dari itu, ruang untuk berekspresi tersedia cukup bagus, apalagi setelah Raja Muhammad VI naik tahta, tahun 1999. Lebih dari itu, kesejahteraan dosen juga sangat memadai untuk hidup lebih dari cukup dengan fasilitas yang memadai juga. Rata-rata, dosen PT bergaji 10.000 dirham Maroko (setara 10 juta rupiah) dengan pengeluaran 5-6 ribu dirham perbulan. Maka tidak heran jika mereka ‘enjoy’ sekali dengan dunia membaca, meneliti, menulis dan mengeluarkan karya serius dan berkualitas. Tidak berhenti disitu, Maroko Negara yang hanya memilki penghasilan terbesarnya dari posfat dan para wisatwan yang datang dari mancanegara mampu menjamin pendidikan gratis bagi warganya. Padahal, Maroko termasuk katagori Negara yang kurang produktif, kurangnya lapangan pekerjaan dan tanahnya yang kurang subur. Tapi, patut diacungi jempol karena mampu memberikan pendidikan gratis dan memberikan gaji yang tinggi dengan fasilitas yang memadai bagi para pengajar dan dosen. Tak heran akhirnya Maroko mampu melahirkan orang-orang hebat, budaya membaca dan menulis sangat kentara dinegeri ini. Tak heran jika Maroko mampu bersaing dengan Negara lain dalam bidang intelektual. Yang pada intinya pendidikan dinegeri dengan sebutan negeri seribu benteng ini sangat diperhatikan dan menjadi kiblat Negara lain.

Berkaca dari situ maka, jika seandainya aku menjadi  menteri pendidikan tentunya pertamakali yang aku lakukan adalah bagaimana agar masyarakat baik dari tingkat bawah dan menengah mampu mengenyam pendidikan tanpa dipungut biaya sepeserpun. Di samping itu mereka juga harus mendapatkan tunjangan tunai untuk memenuhi kebutuhan lainnya sehingga mampu mendorong semangat untuk belajar seperti di Maroko. Seringkali saya dibuat malu oleh para dosen dikampusku, tepatnya ketika ingin mengambil beasiswa yang kuperoleh setiap bulan tapi bisa diambil tiap 3 bulan sekali. "kalau dari negaramu, berapa banyak beasiswa yang kamu terima tiap bulannya?"  Aku terhentak, diam sesaat. Untuk menjawabnya butuh sedikit waktu untuk merangkai kata yang tepat. 

Sang dosen justru lebih kaget ketika mendengar jawabanku. Indonesia Negara yang terkenal subur, makmur dan kaya raya serta memilki mayoritas muslim terbesar di dunia ternyata kurang memperhatikan nasib pendidikan rakyatnya. Aku sungguh malu dibuatnya.

Kedua, disamping memberikan pendidikan gratis juga mampu mensejahterakan para pengajar dan dosen dengan memberikan fasilitas yang memadai dan menaikan gaji yang lebih besar sehingga mereka benar-benar konsen dalam mendidik anak didiknya. Selanjutnya menggalakan gemar membaca dan menulis dengan memberikan bantuan buku-buku secara cuma-cuma ditiap kampus, sekolahan dan pesantren sehingga menulis dan membaca menjadi budaya dinegeri kita. Seperti yang aku temukan di kota-kota, sekolahan dan kampus di Maroko terdapat perpustakaan yang difasilitasi oleh pemerintah. Dari sinilah aku yakin dunia pendidikan di Indonesia bisa maju. Semua itu tentunya dengan mengedepankan pendidikan ahlak, karena ahlaklah yang nebjadi pondasi utama bagi para pelajar dan ahlaklah yang membedakan antara manusia dan hewan. Seperti di Maroko ahirnya mampu melahirkan ulama-ulama dan para  pemikir yang tidak hanya gemar membaca tapi mampu menuangkan buah pemikirannya lewat sebuah karya yang bisa dinikmati oleh semua orang. Dalam dunia intelektual pun tidak ketinggalan dengan negara lainnya. 


Risa Santoso, S1 di UC Berkeley dan S2 di Harvard University, USA


Menurut saya, pendidikan memang adalah syarat utama untuk perkembangan ekonomi agar Indonesia bisa bersaing di era global ini. Tetapi mengingat luasnya wilayah Indonesia, perbedaan kualitas antar sekolah merupakan tantangan yang besar bagi negri kita.

Jadi, kalau saya jadi mentri pendidikan, hal pertama yang ingin saya lakukan adalah untuk meningkatkan standar kualitas pendidikan dan menyamaratakan kualitas antar sekolah agar murid-murid yang tinggal di daerah juga mendapatkan pendidikan yang setara dengan pendidikan di kota-kota besar seperti Jakarta maupun Surabaya. 

Selain itu, saya juga ingin meningkatkan program beasiswa dan program akselerasi dini untuk murid berbakat, juga menciptakan satu badan khusus yang dapat mendorong inovasi dan mengevaluasi kualitas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.


Ngo Maria Christina, S2 di James Cook University, Singapura


Kalau jadi menteri pendidikan, saya lebih concern sama pendidikan untuk anak-anak yang di desa yang sampai sekarang fasilitas dan pengajarannya masih sangat minim. Jadi nggak cuma yang di kota aja yang maju tapi anak-anak di desa juga harus mendapatkan pendidikan yang layak dan setara.

Selain itu, untuk kurikulumnya tidak membuat anak-anak semakin stress di sekolah. Memang baik mereka dididik dengan kurikulum yang menuntut anak-anak harus mengeluarkan efforts lebih, tapi menurut saya kurikulum sekarang jauh lebih berat dari kurikulum sebelum-sebelumnya, dan anak-anak jadi condong stress.


Stefanus Arinno, S2 di Tampere University of Technology, Finlandia


Meningkatkan kualitas guru, fasilitas belajar mengajar, dan pendidikan yang gratis. Ini yang bisa dan harus direalisasikan dalam jangka waktu yang dekat, dan ini merupakan usaha minimal yang benar-benar bisa dilakukan.


Kania Azrina, Master in Applied Urban Science and Informatics, New York University, USA


Sumber daya manusia merupakan kunci kesuksesan pembangunan suatu negara. Maka dari itu, saya berharap agar Indonesia dapat meningkatkan kualitas pengajar yang dimilikinya, serta membuka lebih banyak kesempatan kepada pelajar Indonesia agar dapat merasakan pendidikan bertaraf Internasional dan mengundang mereka kembali ke tanah air untuk membangun Indonesia.


Rendy Bahri, S1 di Chiba University, Jepang


Hal yang akan saya lakukan adalah:
1. Perbaikan kurikullum yang ada, serta pengamatan yang lebih ketat terhadap lembaga-lembaga penerbit buku pelajaran (textbook).
2. Pembinaan yang lebih lagi untuk murid dan guru-guru mengenai akhlak dan budi pekerti.
3. Pemerataan guru-guru yang berprestasi di seluruh Indonesia.
4. Penggunaan sistem internet disemua pelosok Indonesia agar anak-anak sekolah yang berada di desa-desa pikirannya dapat berkembang. Mereka mampu mengetahui perekembangan-perkembangan yang terjadi di luar daerah mereka.

Memang banyak sekali hal yang akan saya lakukan, namun itulah yang harus saya kerjakan dan selesaikan terlebih dahulu.


Atika Rahmi Nainggolan, Guru Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia (TK-SMA) di Songserm Sasana Vitaya School, Hatyai, Thailand


Aku lulusan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kalau misalkan aku jadi menteri pendidikan Indonesia, aku bakalan memperbaiki sistem pendidikan, nggak usah terlalu banyak adminitrasi guru, nggak usah terlalu banyak tugas untuk muridnya, dan yang paling penting mendidik guru-gurunya untuk menjadi pengajar yang berkompeten.


Ananda Putri Widayanti, S1 di University of Groningen dan S2 di Erasmus University Rotterdam , Belanda


Saya ingin berbagi semangat kepada masyarakat Indonesia bahwa jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak adalah suatu aset, bukan beban bagi pemerintah-suatu paradigma yang harus diubah, seperti halnya kita menganggap bahwa lautan adalah penyatu kepulauan-kepulauan di Indonesia, bukan pemisah. Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030 dan ini adalah suatu kesempatan yang harus dikelola dengan baik. Bayangkan jika penduduk Indonesia dapat menjangkau pendidikan yang berkualitas, akan ada berapa banyak ilmuwan-ilmuwan yang lahir setiap tahunnya, serta berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta. Oleh karena itu, jika saya menjadi menteri pendidikan, saya akan memfokuskan kepada pemerataan kuantitas serta kualitas pendidikan sehingga saudara-saudara kita yang bermukim di timur Indonesia, daerah perbatasan, serta daerah pelosok lain sehingga dapat menikmati pendidikan yang sama dengan saudara sebangsanya yang bermukim di Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, tentunya butuh rentang waktu yang agak panjang mengingat banyaknya penduduk serta luasnya wilayah Indonesia. Namun, jika pemerintah terus fokus pada tujuan tersebut, saya yakin kelak Indonesia akan bisa mencapai hal tersebut dan melahirkan generasi emas. Selain itu menurut saya, pendidikan berbasis pembentukan karakter juga sangat penting untuk membentuk kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, masyarakat Indonesia kelak tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga cerdas secara emosional. Sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP, saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada pemerintah yang telah serius berinvestasi untuk masyarakat Indonesia agar bisa melanjutkan ke jenjang magister dan doktoral. Namun, harapan saya, pemerintah juga serius berinvestasi kepada pendidikan wajib dan dasar bagi seluruh anak-anak Indonesia, serta meningkatkan kualitas pendidikan tersebut.


Kinanti Octavian Alif, Pertukaran Mahasiswa di Uniwersytet Warszawski, Polandia


Pendidikan yang holistic, sustainable, dan humanis. Maksudnya, pendidikan itu tidak sekedar berhitung dan menghafal tapi juga tentang menjadi peka terhadap lingkungan sekitar dan mampu memberi solusi atau perbaikan akan masalah yang ada. Pendidikan untuk semua dan tidak dibatasi oleh bangku institusi formal.  

Pendidikan juga harus bersifat sepanjang hidup. Jadi walaupun sudah kakek-nenek tetap bisa mengakses pendidikan, misal memperkaya pemahaman diri tentang bidang yang diminati. Anak-anak juga mendapatkan pendidikan sesuai pertumbuhannya. Budi pekerti dan wawasan kebudayaan dan lingkungan harus menjadi lebih penting dari pencapaian akademik.

Kurikulum, kesadaran dan keinginan akan pendidikan yang purna serta keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci kesuksesan pendidikan Indonesia, selain juga dikembangkannya fasilitas pendukung.


Isram Rasal, S2 di Universite de Bourgogne, Prancis


Memperkuat SDM tenaga pendidik dengan memberikan insentif-insentif sehinggga mereka mengajar dan mendidik sepenuh hati tanpa memikirkan nasib keluarganya di masa yang akan datang.


Aditya Putrawan, S1 di Yalova University, Turki


Yang jelas sih, saya ingin menghapuskan UN yang menurut saya lebih banyak bobroknya daripada faedahnya. LLalu untuk mengatasi masalah yang sangat fundamental, penyetaraan kualitas pendidikan, menurut saya kementerian pendidikan harus mengutamakan hal ini jangan cuma membuat program-program yang diperuntukkan untuk sekolah-sekolah yang sudah ada masih banyak sekali anak usia dini di pelosok yang membutuhkan pendidikan ini diperlukan agar tak ada jenjang pendidikan yang curam antara ketika anak-anak ini beranjak dewasa semakin banyak orang yang berpendidikan di Indonesia, maka akan lebih baik ke depannya.


Maryam Ahyani Siddiqah, S2 di Universitas Oulu, Finlandia


Pertama, yang pasti harus diperhatikan, kesejahteraan dan kelanjutan pendidikan guru yang sudah ada. Miris rasanya setiap baca berita, guru/ kepala sekolah harus melakukan pekerjaan lain dikarenakan gaji mereka yang kurang mencukupi untuk kehidupan sehari2. Selain itu, perlu diperhatikan juga, kelanjutan pendidikan untuk para guru tersebut. Karena, setiap ilmu itu pasti ada perkembangannya, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kelanjutan pendidikan bagi para guru bisa menimbulkan misinformasi kepada anak didik. Selain itu, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, tentunya, para guru itu juga bisa up to date tentang cara mengajar yang lebih praktis dan mudah dipahami juga dinikmati oleh anak didik.

Kedua, perlu dilakukan semacam penelitian langsung ke sekolah-sekola, terutama sekolah-sekolah di daerah terpencil. Apa-apa saja yang mereka butuhkan untuk menunjang berlangsungnya pembelajaran di sekolah? Buku sekolah? Perbaikan gedung sekolah? Akses ke sekolah? Dan lainnya. Kenapa untuk langkah awal saya lebih fokus ke guru terlebih dahulu? Karena guru adalah faktor penunjang pendidikan nomor 1 setelah orang tua. Jika kesejahteraan guru terjamin, ada kelanjutan pendidikan (yang akan berujung kepada peningkatan jabatan), dan fasilitas pembelajaran memadai, niscaya upaya yang dikeluarkan oleh guru akan maksimal, mereka akan mengajar dengan lebih bersemangat dan para anak didik akan tertular oleh semangat guru2 mereka dan menikmati pembelajaran yang disediakan. 

Ketiga, kurikulum pendidikan harus diperbaiki. Tentunya, perbaikan itu harus dijustifikasi dengan adanya penelitian terlebih dahulu, dengan mempertimbangkan masukan-makanan dari para guru terkait.


Mohd. Agoes Aufiya, Ketua PPI India, S2 di Jawaharlal Nehru University (JNU), India


Jika saya menjadi Menteri Pendidikan, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan, khususnya saya mengambil nilai positif pendidikan di India. 

Pertama, menjadikan pendidikan dengan biaya terjangkau dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, yaitu dengan memberikan subsidi kepada lembaga milik pemerintah tersebut, sehingga siswa dan mahasiswa tidak selalu dikenai kenaikan biaya pendidikan yang tinggi setiap tahunnya. 

Kedua, meberikan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia secara otomatis khususnya didalam negeri bagi yang menempuh S2 & S3 tanpa perlu melakukan seleksi yang ketat sebagaimana yang berlaku saat ini. 

Ketiga, mendatangkan penerbit-penerbit buku internasional untuk mencetak bukunya di Indonesia, sehingga pelajar Indonesia bisa mendapatkan buku berkualitas dengan harga murah dan berkualitas.

Keempat, pemerataan pendidikan antara daerah perkotaan dan tertinggal baik dalam hal fasilitas, sumber daya pengajar, buku, dan keperluan lainnya, sehingga terwujud pemertaan pendidikan dan standar kualitas yang merata. 

Kelima, peningkatan kualitas dan kuantitas guru sekaligus peningkatan kesejahteraannya, karena saya sadar bahwa guru adalah tonggak kemajuan bangsa ini, karena ilmu yang mereka bawa akan membawa pada pencerahan.


Nindya Kirana Wiranegara, University of Manchester, Inggris


Kalau saya menjadi menteri pendidikan, saya ingin guru-guru di sekolah untuk tidak hanya mengajar pelajaran tetapi membangun interpersonal skill untuk para pelajar, karena menurut saya pribadi ini sangat penting di kedepannya. Saya juga ingin program ‘work experience’ dimana murid-murid di haruskan bekerja di mana saja selama seminggu untuk di lakukan di tahap SMA. Ini akan sangat berguna untuk mempersiapkan mereka terhadap dunia kerja dan juga melatih communication skill mereka. Saya ingin membangun bangsa yang tidak hanya cerdas tetapi juga pintar dan percaya diri dalam menyampaikan ide mereka ke dunia luar.


Kiki Wirianto, S2 di Delft University of Technology, Belanda


"2 hal utama yang saya lakukan jika saya menjadi menteri pendidikan adalah perbaikan sistem pendidikan dan pemerataan pendidikan. Menurut saya sistem pendidikan kita perlu diperbaiki dan kita dapat memulainya dengan mengevaluasi sistem yang telah ada sekarang. Kita perlu menyusun sistem pendidikan baru dengan kurikulum yang tetap (tidak seperti kurikulum saat ini yang selalu berganti setiap beberapa tahun) dan tentu saja mendukung sepenuhnya pengembangan minat dan bakat anak-anak Indonesia. Mengadopsi sistem pendidikan negara lain yang telah mapan memang perlu, namun akan lebih baik jika kita dapat mengadaptasikannya dengan kondisi anak-anak Indonesia. Seperti yang telah saya sebutkan di kesempatan sebelumnya, pemerataan pendidikan adalah salah satu hal penting yang belum dijumpai di Indonesia saat ini. Memang untuk merealisasikan hal tersebut, perlu kerjasama dari berbagai pihak, misalnya pembangunan sarana dan infrastruktur yang memadai dan mendukung bagi siswa dan pengajar. Menurut saya, salah satu hal utama yang menghambat kesediaan pengajar-pengajar untuk masuk ke pelosok-pelosok adalah kurangnya fasilitas hidup yang memadai. Jika hal ini dapat diatasi, pemerataan pendidikan akan lebih mudah dicapai."


Wahyu Hadi Pradana, S1 di UGM, Pertukaran Pelajar Erasmus Mundus di Vrije Universiteit Brussel (VUB), Belgia


Jika saya menjadi menteri pendidikan, hal yang akan saya lakukan adalah perubahan kurikulum. Saya rasa beban untuk pelajar tingkat sekolah menengah terlalu padat dan terlalu banyak, serta sangat menekankan pada luaran berupa nilai yang baik. Oleh karena itu, banyak hal-hal penting dikesampingkan hanya untuk mengejar orientasi nilai yang dianggap 'baik'. Saya ingin agar beban pelajaran di sekolah menengah, khususnya SMA, diringankan dan mulai dibebaskan untuk memilih pelajaran apa yang ingin didalami, tentunya tetap memberikan pelajaran wajib. Sehingga, para pelajar Indonesia dapat berlatih untuk menentukan dan bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri sedini mungkin dan tentunya tidak ada lagi alasan untuk tidak menyukai pelajaran di sekolah. Pada dasarnya saya ingin menciptakan iklim belajar yang menyenangkan. 


Oke sobat berkuliah.com, itu tadi berbagai pernyataan dari sahabat kita jika mereka nantinya bisa menjadi Menteri Pendidikan Indonesia. Memang tugas seorang menteri itu berat, namun jika semuanya sudah terancang dengan matang, kemudian semua lini bisa bekerjasama dengan baik, pasti apa yang menjadi mimpi kita bersama dapat terwujud. Itu jika mereka yang menjadi menteri pendidikan, bagaimana dengan kamu sendiri?

Tetap semangat dan berusahalah untuk mewujudkan mimpi-mimpimu menjadi kenyataan. Salam sukses dan sampai jumpa!
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,297,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,58,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: "Jika Aku Menteri Pendidikan Indonesia"
Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: "Jika Aku Menteri Pendidikan Indonesia"
http://1.bp.blogspot.com/-g4zF2H1rkwM/VFSFQ0syluI/AAAAAAAAEtI/3pwXVh8-3LM/s1600/Devi%2BRizal.png
http://1.bp.blogspot.com/-g4zF2H1rkwM/VFSFQ0syluI/AAAAAAAAEtI/3pwXVh8-3LM/s72-c/Devi%2BRizal.png
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2014/11/jika-aku-menteri-pendidikan-indonesia.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2014/11/jika-aku-menteri-pendidikan-indonesia.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy