Waktu Gue Exchange: Satu Tahun Exchange di Belgia, “Can’t get enough of it!”

Bunga Astria P. Master of Public Health (Health-Nutrition) Universitas Gadjah Mada angkatan 2012. Program master exchange Erasmus Mundus A...

Bunga Astria P.

Master of Public Health (Health-Nutrition) Universitas Gadjah Mada angkatan 2012. Program master exchange Erasmus Mundus Action 2 (Lotus) jurusan Nutrition and Rural Development (Human Nutrition) Ghent University 2013-2014.

Awalnya... 

Saya bukan anak paling pintar di kelas ataupun punya IPK tertinggi di jurusan, saya juga bukan ketua organisasi yang memegang program dan kegiatan besar. Saya bukan anak seorang pejabat, profesor, dokter ataupun pengusaha kaya. Saya hanyalah orang biasa yang mempunyai mimpi-mimpi besar dan meyakini bahwa Tuhan Maha Besar atas segala-galanya. Saya percaya with God, nothing’s impossible!

“Work with any tool you have now”

Itulah kalimat selalu menyemangati saya. Saya yang sudah terdaftar sebagai mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Minat Utama: Gizi Kesehatan), Universitas Gadjah Mada, masih memiliki kesempatan untuk mencicipi studi di luar negri, yaitu melalui program exchange. Usaha saya dalam meraih beasiswa untuk studi di luar negri diawali dari niat saya yang ingin melihat dunia ciptaan Tuhan ini. Dunia tempat saya bisa belajar banyak di luar buku yang saya baca, di luar kelas yang diajarkan semasa kuliah dan bukan hanya sekadar pengalaman orang lain. Saya ingin merasakannya sendiri! Saya ingin melihat dunia sebagai susunan kepingan puzzle dari atas!



Malam itu saya mendapatkan sebuah email yang membuat saya menyadari bahwa tidak ada hal yang sia-sia dalam usaha saya. Saya diterima sebagai mahasiswa master exchange selama satu tahun di jurusan Nutrition and Rural Development (Human Nutrition), Ghent University, Belgia!!!


Belgium, I’m coming!

Sebuah perjalanan mengesankan dalam hidup saya pun dimulai. Belgia, waffle dan cokelat bukan lagi hanya sebatas gambar wallpaper di handphone saya. It’s now a part of my life.

Di Ghent University, saya mengambil dua semester dimana saya duduk dan kuliah bersama mahasiswa full degree di setiap mata kuliah yang saya ambil. Saya mengambil mata kuliah untuk mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua. Kelebihannya, saya bisa memiliki lebih banyak teman dan lebih mudah mengintegrasikan mata kuliah antara tahun pertama dan kedua. Kekurangannya, tentu saja jadwal kuliah yang menggila! Tapi saya tidak menyesal karena saya mendapatkan banyak pelajaran berharga, fasilitas laboratorium lengkap dan dosen yang sarat pengalaman untuk dibagi kepada para mahasiswanya, bahkan peneliti kelas dunia pun adalah profesor yang mengajar di kelas saya. Kesempatan yang benar-benar patut disyukuri!


Dengan berbekal satu tahun ilmu yang sudah saya dapatkan di tahun pertama S2 saya di Master of Public Health, Universitas Gadjah Mada, saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam memahami pelajaran di kelas. Mungkin inilah keunggulan dari program exhange, bahwa kita sudah berbekal ilmu sebelum kita masuk ke dunia baru dalam perkuliahan di luar negri. Saat dosen-dosen di host university tersebut menjelaskan mengenai sebuah teori, setidaknya kita sudah mendapatkan prior knowledge sebelumnya dari home university. Kemudian saat dosen-dosen di host university tersebut menjelaskan program-program gizi dan kesehatan global, saya bisa dengan mudah mengkaitkannya dengan masalah yang ada di Indonesia.


Kuliah

Lalu, apa bedanya kuliah di luar negri dengan di dalam negeri?

Saya tidak mengatakan bahwa dosen di luar negri lebih pintar dari dosen di dalam negri. Namun saat saya kuliah di Ghent University, saya menyadari bahwa profesor dan dosen di sana tidak mengajari kuliah sepenggal-sepenggal, artinya secara keseluruhan. Mereka tidak mengajari detil materi secara terpisah, namun materi secara lebih luas, kemudian mengkaitkan materi satu ke materi yang lainnya. Mereka tidak memberikan kita ilmu secara mentah, namun mereka menekankan bagaimana kita bisa mengaplikasikan ilmu itu saat kita kembali ke negara kita. Saat kita merasa kebingungan, kita bebas bertanya kepada mereka di luar jam kuliah dan dengan senang hati mereka akan menanggapi kita meskipun mereka sibuk dan meskipun pertanyaan yang kita ajukan hanyalah sepele. Mereka juga tidak pelit dalam merespon melalui email, jadi tidak ada alasan bagi dosen untuk sulit ditemui. Di sana, saya merasa tidak ada batasan antara dosen dan mahasiswa. Bahkan hingga saat ini, saya masih keep in touch dengan salah seorang profesor di Ghent University dan dalam waktu dekat kami akan melakukan penelitian bersama!



Saya tidak mengatakan bahwa mahasiswa Indonesia lebih bodoh daripada mahasiswa di luar negri. Saya hanya menyayangkan bahwa budaya segan dan malu menjadikan kita sebagai individu yang pasif. Di kelas saya sewaktu kuliah di Belgia, para mahasiswa begitu aktif bertanya dan menanggapi kuliah dosen. Mereka mungkin tidak lebih pintar daripada mahasiswa yang pasif, namun mereka tidak mentah-mentah menerima ilmu yang diberikan kepada mereka. Rasa ingin tahu mereka kuat, sikap berani berpendapat mereka sangat tinggi dan daya imajinasi mereka tidak terbatas. Sikap kritis dan rasa penasaran inilah yang membuka lebar-lebar gerbang informasi dan ilmu pengetahun sehingga kita bisa terus berkembang, dan inilah salah satu kelemahan bagi mayoritas mahasiswa di Indonesia.



Saya tidak mengatakan bahwa kuliah di dalam negri lebih jelek daripada di luar negri dan bahwa mahasiswa yang kuliah di luar negri akan dijamin sukses di masa depannya. Kita punya sumber daya manusia yang cerdas dan sistem pendidikan di Indonesia semakin meningkat kualitasnya. Namun, usaha untuk mendapatkan ilmu tidak ada batasnya. Capailah cita-citamu setinggi langit! Belajarlah sampai negri Cina! Bukankah itu pepatah yang sering kita dengar? There’s no telling how many miles you will have to run while chasing a dream! Dengan belajar di luar negri, selain memperkaya ilmu pengetahuan, kita juga akan mendapatkan pengalaman hidup dan mengenal dunia secara lebih luas dari sudut pandang yang berbeda!


Teman-teman

Saya berteman dengan banyak mahasiswa yang berasal dari beberapa negara baik di dalam maupun di luar Eropa. Saya mendapatkan pengalaman menarik dari masing-masing teman saya itu.



Mereka yang berasal dari negara miskin di Afrika memberikan saya segudang cerita tentang masalah gizi dan kesehatan di negaranya, bagaimana cita-cita mereka, bagaimana kegigihan mereka, yang kemudian menginspirasi saya. What can I do for my country? Saya belajar dari mahasiswa asal Cina akan keuletan mereka mengikuti pelajaran meskipun terkendala dalam bahasa. Mereka membawa kamus di kelas untuk menerjemahkan presentasi di kelas! Mereka juga tidak malu-malu bertanya kepada dosen atau teman di bagian mana mereka tidak mengerti. Saya belajar dari mahasiswa asal USA yang kalau dilihat di kelas mereka seperti mahasiswa yang santai, kurang memperhatikan pelajaran dan bisanya hanya bertanya dan mengkritik dosen, ternyata mereka sangat kreatif dalam belajar. Mereka membuat mind map dari setiap mata kuliah, kemudian membagikannya di kelas. Mereka mencoba menerka soal ujian dengan melihat mata kuliah secara keseluruhan, mencoba menjawab soal yang mereka buat, kemudian saling berbagi dengan teman-teman kelas.



Saya belajar banyak dari mereka, hal-hal kecil yang mendorong saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Hingga saat ini saya masih rutin berkomunikasi dengan mereka, membahas mata kuliah dan memimpikan untuk bertemu kembali saat PhD!


Saya juga belajar dari profesor favorit saya. Dia yang memiliki kedisiplinan tinggi, selalu datang lebih awal dan mempersiapkan presentasi sebelum mahasiswa datang. Dia yang notabennya adalah seorang profesor, tidak malu-malu pergi ke kampus dengan bersepeda. Dia selalu duduk sejajar dengan mahasiswa sebagai seorang sahabat yang mendengar keluhan dari mahasiswanya. Saya sangat menghormatinya. He is my role!




Selama menjadi mahasiswa exchange, selain belajar bersama-sama dengan mahasiswa full degree di kelas reguler, saya juga mengambil mata kuliah pilihan bahasa Belanda di Fakultas Sastra. Setiap hari Rabu malam sepulang kuliah, saya bergabung dengan mahasiswa internasional lainnya untuk mempelajari salah satu bahasa nasional di Belgia itu. Maklum, Belgia memiliki 3 bahasa nasional yaitu Belanda, Prancis dan Jerman. Dalam perkuliahan, saya dan pihak civitas kampus selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan penduduk Belgia sendiri rata-rata memahami bahasa Inggris. Namun, saya yakin bahwa kelas bahasa ini akan membantu saya dalam bersosialisasi dengan orang asli Belgia. Siapa coba yang tidak suka disapa oleh bule yang menggunakan bahasa kita?



Saya juga aktif mengikuti kegiatan PPI Ghent di acara-acara Indonesia di Belgia. Contohnya, saya yang tidak pandai menari ini ternyata bisa juga tampil untuk menari Saman setelah beberapa minggu di-godog¬. Lalu, saya juga tampil untuk mengalunkan beberapa lagu daerah lewat alat musik angklung. Bahkan, memasak bersama anggota PPI dan warga Indonesia di Belgia pun menjadi pengalaman yang tidak terlupakan buat saya. Selama berada di Belgia, teman-teman PPI inilah yang menjadi keluarga saya sehingga saya merasa aman dan nyaman berada di negri orang.


Saya beruntung mendapat kesempatan exchange  di Eropa, terlebih di negara Belgia, negara maju dengan wilayah yang tidak begitu luas dan diapit oleh negara-negara Eropa lainnya. Dalam beberapa kesempatan liburan, saya memanfaatkannya untuk berlibur ke Amsterdam, Paris, Berlin, Barcelona, Milan dan kota-kota di Eropa lainnya. Saya sebelumnya tidak pernah bermimpi untuk keliling Eropa. Awalnya saya hanya bermimpi untuk studi di luar negri. Tapi mimpi ini seakan menjalar ke mimpi-mimpi lainnya! Bayangkan saja, saya dan teman saya yang terkejut dan menangis tersedu saat kami berada di antara kaki-kaki menara Eiffel! Atau saat saya terperanga di tengah ladang tulip di Keukenhoff, Belanda! Atau saat saya mengunjungi ruang ganti klub sepak bola Inter- dan AC Milan! Kemudian Stadion Camp Nou milik klub Barcelona!!! Lalu merasakan empat musim dalam setahun selama saya exchange, God is great! Satu tahun yang penuh dengan kejutan bagi saya. Dunia luar yang begitu mempesona. Di sisi lain, rasa kagum saya saat saya berada di benua biru justru menambah rasa cinta saya pada tanah air, Indonesia.



Usaha, doa dan keberanian

Keajaiban demi keajaiban yang saya alami selama menjadi mahasiswa exchange tidak akan tercapai apabila usaha saya hanya sebatas niat. Hampir semua beasiswa mensyaratkan nilai TOEFL/IELTS dengan skor tertentu, ketercapaian akademik, surat motivasi dan rekomendasi, yang semuanya itu tidak bisa langsung jadi dalam sekejap. Butuh kesabaran dan motivasi diri yang kuat. Dulu, saya juga pernah gagal dalam aplikasi beasiswa dan nilai skor TOEFL yang belum cukup. Namun saat saya mengalami kegagalan, saya selalu berkata pada diri saya sendiri, “It’s okay. God sees our process. He will give us the best as long as we give our best”. Dulu, saya tidak tahu kapan usaha saya ini akan terjawab, tapi saya yakin bahwa saya akan mendapat kabar baik dari-Nya, segera! Doa saya pun telah terjawab.

Hapus perasaan tidak percaya diri dalam diri! Banyak sekali teman yang merasa tidak cukup kompeten untuk mengikuti kuliah di luar negri, takut gagal dan tidak lulus, apalagi kuliah diberikan dalam bahasa Inggris! Akhirnya, mereka enggan untuk kuliah di luar negri. Dari pengalaman saya, mahasiswa Indonesia tidak kalah cerdas dengan mahasiswa internasional, bahkan cukup memiliki daya saing yang tinggi saat mereka kuliah di luar negri. Jadi, tidak ada alasan untuk gagal bahkan sebelum mencoba. Be brave and confident! Takut gagal? Tidak bisa bahasa Inggris? Bukankah manusia diberikan kemampuan berpikir untuk terus belajar? Keep learning!!! Selain itu, tidak usah khawatir masalah uang yang ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa. Beasiswa untuk mahasiswa exchange sama dengan besar beasiswa mahasiswa full degree  per bulannya, lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari yang wajar. Saya saja masih bisa menabung untuk membeli buku dan berjalan-jalan di waktu senggang saya.



Menjadi mahasiswa exchange  selama satu tahun memberikan saya pengalaman yang luar biasa. Dari segi ilmu, saya mendapatkan kombinasi berharga dari home university saya (Universitas Gadjah Mada) dan host university saya di Belgia (Ghent University). Dari segi pengalaman, saya kaya akan praktik lapangan selama di home university dimana saya bisa mengetahui lebih dalam permasalahan di Indonesia. Di sisi lain, saya juga mendapatkan pengalaman berharga dari profesor dan dosen di Belgia bagaimana cara mengatasi masalah itu secara global, belajar pengalaman negara-negara lain, sehingga bisa menjadi masukan untuk mengatasi permasalahan di Indonesia. Manfaat lainnya adalah saya bisa mendapatkan link untuk kerja sama dalam penelitian, tawaran untuk menempuh PhD di host university dan tentu saja pelajaran hidup yang berharga yang membuat saya lebih percaya diri, disiplin, toleran, yang membantu saya untuk menjadi sosok yang lebih dewasa.

Dare to be an exchange student? I’d say thousand times: yes, you should try! 
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,13,Beasiswa,304,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,14,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,37,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,4,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,313,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,444,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,22,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,3,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,59,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,4,Malaysia,27,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,13,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,19,Tips,7,Tips Beasiswa,16,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,105,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Waktu Gue Exchange: Satu Tahun Exchange di Belgia, “Can’t get enough of it!”
Waktu Gue Exchange: Satu Tahun Exchange di Belgia, “Can’t get enough of it!”
http://4.bp.blogspot.com/-N4qMQx8hhdU/VHsBkUFz3OI/AAAAAAAAGqU/vxkjKvwiibQ/s1600/1.png
http://4.bp.blogspot.com/-N4qMQx8hhdU/VHsBkUFz3OI/AAAAAAAAGqU/vxkjKvwiibQ/s72-c/1.png
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2014/11/waktu-gue-exchange-satu-tahun-di-Belgia.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2014/11/waktu-gue-exchange-satu-tahun-di-Belgia.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy