Beasiswa Erasmus Mundus & Pengalaman Studi di Portugal: Agung Budiono Punya Banyak Cerita Disini!

Assalamu’alaikum wr wb.

Perkenalkan nama saya Agung Budiono, cah Semarang asli. Pada tahun 2010-2012 (saat itu berusia 30 tahun) berkesempatan kuliah di Universidade do Minho Portugal atau sering disebut dengan Uminho (baca: uminyo) dengan beasiswa Erasmus Mundus Uni Eropa, versi komplitnya—EM EuroAsia Project, Erasmus Mundus External Cooperation Window Programmeuntuk exchange study for 20 months tingkat Doktoral di Department of Geography, Institute of Social Sciences, Campus of Azurém, Guimarães dengan fokus bidang Geografi dan Perencanaan Wilayah.


Universitas Minho adalah universitas publik (semacam PTN) di Portugal yang berusia masih cukup muda, berdiri tahun 1973. Lokasi kampusnya tersebar di dua kota di Region of Minho (semacam Provinsi) di belahan Utara Portugal yang hampir berdekatan dengan wilayah Galicia, Spanyol. Rektorat dan sebagian kampus (umumnya bidang keilmuan Sosial, Ekonomi, dan Bahasa) berada di Kota Braga (ibukota Provinsi Minho). Sedangkan kampus lainnya (pada umumnya bidang keilmuan teknik dan sains) berada di Kota Guimarães. Jarak Braga-Guimarães sekitar 40 Km yang dapat ditempuh selama 45 menit via Tol.
Uminho menempati peringkat 100 besar sebagai universitas terbaik di dunia untuk kategori berusia di bawah 50 tahun (THE-Timer Higher Education, 2012). Secara umum, di Portugal sendiri masing-masing universitas memiliki keunggulan di bidang masing-masing. Informasi umum yang saya dengar dari kolega, Uminho berada di bawah Universidade do Portodan setara dengan Universidade do Aveiro untuk bidang teknik. Sedangkan untuk bidang ilmu sosial dan budaya masih didominasi oleh kampus-kampus tua Universidade de Coimbra (berdiri 1290) dan Universidade de Lisboa (berdiri 1759).

Apa yang membuat Agung tertarik kuliah di universitas Agung saat itu? Bisa diceritakan apa saja kelebihan dari kampus tersebut?

Jujur, sebelumnya saya pribadi tidak mengetahui kelebihan kampus Uminho saat itu. Maklum, saat apply beasiswa, applicant (termasuk saya) lebih berorientasi pada minat bidang studi. Saat itu, bagi mahasiswa yang berasal dari Asia dapat memilih universitas di Eropa yang tergabung dalam EM EuroAsia Project 2010-2012, di antaranya Chalmers University of Technology-Swedia, University of Borås-Swedia, Politecnico di Torino-Italia, Universidad de Alcalá-Spanyol, Université de Savoie Mont Blanc-Prancis, dan Universidade do Minho-Portugal

Baru setelah sekian lama kuliah di sana, ternyata saya baru tahu bahwa Uminho saat ini menjadi salah satu rujukan studi bidang teknologi informasi dan yang lebih khusus mengenai teknik industri tekstil. Tercatat di bidang-bidang studi tersebut banyak menerima mahasiswa (long or short term study) dari berbagai negara. Hal inipun diperkuat oleh informasi teman yang sedang berkuliah di Groningen, Belanda. Pada saat saya berkuliah di tahun 2010-2012, saya menemui semakin banyak mahasiswa internasional yang hadir dari waktu ke waktu di Uminho. Mereka banyak berasal dari Eropa Timur, Italia, Austria, Asia (Pakistan, India, Asia Tenggara), Rusia, Amerika Selatan (Brasil, Peru), dan tentu saja saudara-saudara kita dari Timor Leste.


Bidang keilmuan apa yang Agung dalami ketika studi di Portugal ? Apa saja yang dipelajari, serta adakah kesulitan yang ditemui? Jika ada, bagaimana kemudian cara mengatasinya?

Saya tercatat sebagai mahasiswa Indonesia yang pertama kali di Departemen Geografi Uminho. Departemen saya terinternasionalisasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negara Lusophone atau Lusofon (negara yang penduduknya berbahasa Portugis—biasanya bekas koloni Portugal), khususnya dari Brazil dan sedikit dari Pantai Gading (Cote d'ivoire atau Ivory Coast). Bagi mahasiswa program doktoral disediakan ruang kerja tersendiri. Saya sendiri seruangan bersama mahasiswa dari Brazil, Iran, Ghana, dan Ceko. Para pengajarnya mempunyai pengalaman memberikan kuliah di berbagai negara-negara tersebut. Bahkan dosen koordinator mahasiswa Erasmus Mundus pernah mengajar di Timor Leste. Untuk tingkat doktoral, departemen menyediakan tutorial di bidang minat Human Geography, Physical & Environmental Geography, dan Geography & Regional Planning


Perlu diketahui, bahwa untuk tingkat doktoral tidak ada perkuliahan khusus melainkan tutorial langsung dengan dosen pembimbing. Namun tidak menutup kemungkinan, mahasiswa doktoral dapat mengambil mata kuliah di tingkat master atau bahkan undergraduate (S1). Saya pribadi hanya mengambil 2 mata kuliah di tingkat undergraduate dan satu mata kuliah di tingkat master, selebihnya saya berfokus pada penelitian disertasi. 

Saya mengambil kuliah di tingkat undergraduate karena alasan tertentu. Pertama, karena saya ingin mendapatkan kesempatan mengenal Portugal (via mata kuliah Human Geography of Portugal) dan kedua, bisa membaur dengan mahasiswa. Maklum saat itu saya masih satu-satunya mahasiswa doktor yang stay on campus, jadi rasanya sunyi sendiri di ruangan kerja, meski kemudian selang beberapa bulan hadir mahasiswi Doktor dari Brasil blasteran Italia dan mahasiswa master dari Ceko. Tapi, apa yang terjadi kemudian adalah saya sama sekali tidak mudeng dengan perkuliahan yang diberikan. Bahkan saya merasa malah merepotkan dosen pengajar. Bagaimana tidak, dosen terpaksa memberikan materi kuliah secara bi-lingual (Portuguese and English). 

Bagi mahasiswa asing dari Lusofon (Brasil dan Pantai Gading) mereka tidak menemukan kendala berarti dalam berbahasa (seperti Bahasa Indonesia dan Melayu). Namun, sebagai satu-satunya mahasiswa yang non-Lusofone di perkuliahan tersebut, saya harus menerima kenyataan yang terjadi. Akhirnya saya minta kepada dosen untuk mengikuti private tutorialin English tentu saja. Alhamdulillah, semester awal terlampaui dan tugas perkuliahan dapat diselesaikan dengan baik (dapat nilai 16 dari skala 1-20). Semester 2 saya mengambil mata kuliah Regional Development dan Sistem Informasi Geografis. 


Bahasa memang menjadi kendala serius saat kuliah di sana. Persiapan dan pembekalan bahasa Portugis sangat minim. Apalagi saat keberangkatan dulu, para mahasiswa yang terpilih ke Portugal sangat kesulitan mencari kursus bahasa Portugis di tanah air. Namun, tidak semua mengalami hal demikian. Sepertinya tergantung dari universitas atau departemen. Departemen teknik biasanya lebih siap dalam menerima mahasiswa asing yang berbahasa non-Lusofon, dan itu biasanya hanya untuk level doktoral. Rekan yang studi master di Universidade do Aveiro terpaksa harus intensif belajar bahasa Portugis meski campur English dalam kegiatan perkuliahan (tatap muka, tugas kuliah, dan ujian). Sering kami menyebutnya Portuenglish. Begitulah, Portugal sebagai sebuah bekas negara penjelajah dunia sepertinya tidak ingin kalah dengan Inggris dan Spanyol dalam soal penggunaan bahasa. 

Untuk mengatasi kendala bahasa, universitas pada umumnya menyediakan kursus bahasa Portugis dari berbagai level. Bagi mahasiswa yang serius meluangkan waktu untuk belajar bahasa Portugis sepertinya akan mendapat keuntungan lebih. Dengan menguasai bahasa Portugis seseorang akan mampu belajar cepat bahasa Spanyol, Italia, bahkan Prancis. Selain itu dapat menjadi alternatif berkomunikasi saat berkunjung ke negara-negara tersebut. Pengalaman pribadi saat travelling ke Milan-Italia, pengelola hostel yang seorang ibu paruh baya tidak paham bahasa Inggris lalu kami mencoba mengutarakan dengan bahasa Portugis sepotong-sepotong ibu tersebut malah paham. Padahal saat itu kami tidak sengaja, karena terdesak situasi dan setelah melihat istilah-istilah di jalan bahwa bahasa Italia hampir sama dengan bahasa Portugis. Mungkin karena mereka memang satu rumpun bangsa.



Apakah ada lembaga khusus Portugal di Indonesia yang bisa membantu mahasiswa dari Indonesia untuk mendaftar kuliah di Portugal?

Lembaga khusus Portugal di Indonesia yang bisa membantu calon mahasiswa Indonesia untuk mendaftar kuliah di Portugal sepertinya belum ada. Alasannya Portugal belum menjadi tujuan utama studi bagi mahasiswa Indonesia di Eropa. Masih terhitung sangat sedikit mahasiswa Indonesia di sana. Kebanyakan mahasiswa Indonesia adalah peserta study exchange atau short-time study mengikuti alur studi yang dibiayai oleh lembaga beasiswa. Sangat umum dijumpai mahasiswa Indonesia yang hanya 3-6 bulan berkuliah di Portugal dan kemudian berpindah ke negara lain seperti Perancis, Belgia, dan sebagainya. 


Bagaima kita bisa beradaptasi dengan perbedaan sistem perkuliahan yang ada di sana? Apa saja yang perlu persiapkan?

Sistem perkuliahan di Portugal sebenarnya secara umum tidak berbeda dengan negara Eropa lainnya. Universitas di Portugal sudah menerapkan ECTS – European Credit Transfer and  Accumulation System sejak 1994 (pilot project) meski baru berjalan efektif tahun 2010. Hal itu memungkinkan mahasiswa yang berasal dari negara-negara Eropa yang tergabung dalam Bologna Process (37 negara Eropa dan berkembang 45 negara) dapat melakukan mobilitas studi dengan mudah dan nilai kredit yang didapat dari negara satu diakui di semua negara tersebut. 

Bagi mahasiswa Indonesia yang perlu diadaptasi adalah sistem skoring nilai (academic grading) yang berbeda. Di Eropa sendiri terdiri dari berbagai macam jenis sistem skoring nilai. Di Portugal memberlakukan sistem skor nilai dengan skala 1-20. Jika dikonversi maka nilai 17,5-20 kualifikasinya Excellent atau di Indonesia A. 

Untuk gelar, dapat diterangkan secara singkat sebagaimana berikut: Bacharelato – Titel Bacharel atau Engenheiro Técnico (Bach.) untuk lulusan politeknik (semacam D3); Licenciatura titel Licenciado (Lic.) untuk lulusan program S1 (4-5 tahun atau lulusan politeknik + 1-2 tahun); Pós-Graduação or Especialização titel tidak ada untuk Postgraduate; Mestrado titel Mestre untuk lulusan program S2. Jika mengikuti Bologna Process, maka Licenciatura+1-2 tahun dapat mendapat joint degree (Mestrado Integrado); Doutoramento titel Doutor atau Doutora (untuk wanita)  lulusan program S3 yang berhasil mempertahankan tesis (disertasi). Mahasiswa doktor biasanya diminta untuk menjalani karir mengajar dan meneliti di universitas selama studinya. Tidak ada batasan waktu, tapi pada umumnya dapat ditempuh 3-4 tahun.

Bagaimana karakter para dosen dalam menyampaikan mata kuliah, dan bagaimana keterbukaan dosen di luar dunia perkuliahan?

Berdasar pengalaman mengikuti perkuliahan di sana, khususnya dosen dalam menyampaikan mata kuliah terkesan santai dan menyatu dengan mahasiswa. Sering saya terkejut dan geli melihat tingkah laku dan interaksi dosen dengan mahasiswanya. Diskusi sering berlangsung seru, seakan-akan istilah Jawanya tidak ada ewuh pakewuh, begitu egaliter. 

Di luar jam kuliah, dosen dapat ditemui dan dimintai tutorial untuk materi-materi yang dibutuhkan—asal sudah making appointment. Bahkan,  mereka menawarkan mengikuti perkuliahan kelas lain untuk beberapa materi tertentu. Bagi mahasiswa doktor, beberapa dosen sering mengajak mahasiswa untuk kumpul-kumpul di café centro (pusat kota). Kebetulan kota di mana saya tinggal dan kampus berada—Guimarães merupakan kota kecil bersejarah di mana nuansa pusat kotanya didominasi bangunan peninggalan Abad X. Pada akhir pekan atau momen-momen tertentu banyak civitas akademika sering berkumpul di centro untuk sekedar minum atau jamuan makan malam. Khusus bagi mahasiswa mobility, sebagaimana mahasiswa asing dengan beasiswa Erasmus Mundus, dosen seringkali memberikan keleluasaan bagi mereka untuk melakukan kegiatan ilmiah (konferensi, simposium, kursus singkat) di luar kampus. Sebagaimana ketika saya mengikuti Summer School di Utrecht University Belanda.


Apakah Agung punya saram tentang bagaimana memilih daerah dan rumah untuk dijadikan tempat tinggal selama tinggal disana?

Pada awal kedatangan, saya dan teman-teman Erasmus mendapat fasilitas asrama kampus (dormitory) di kota Braga. Kebetulan saat itu perkuliahan sedang libur. Kami menandatangani semacam kontrak untuk tinggal sementara hingga masa persiapan bersama (kuliah bahasa) selesai, yaitu sekitar satu bulan. Asrama tersebut sebenarnya relatif jauh dari kampus. Tapi beberapa teman senantiasa berjalan kaki selama setengah jam melalui jalan-jalan pintas. Saya sendiri sering memanfaatkan angkutan bus metro yang relatif murah. Namun, dikarenakan jadwal tunggu antarbus cukup lama dan sering mepet dengan jam perkuliahan, maka saya dan teman-teman sering naik taksi dan ongkosnya dishare. Jatuhnya sama dengan naik bus dan tentu lebih cepat. 


Di awal hidup di asrama, mahasiswa asing terlebih yang berasal dari Indonesia harus pandai beradaptasi. Asrama hampir tidak ada zona pemisah laki-laki dan perempuan. Fasilitas cuci sangat terbatas, dua gedung besar hanya memiliki 4 mesin cuci dan 2 mesin pengering yang masing-masing beroperasi dengan menggunakan koin dan antre. Hal ini kemudian disadari setelah beberapa pekan, ternyata mahasiswa Portugal (khususnya yang S1) setiap akhir pekan selalu pulang ke rumah dengan membawa tas atau koper berisi pakaian kotor untuk dicuci. Bagi yang kebagian kamar zona campur dan kamar mandi di luar, maka ‘kewaspadaan dan keimanan’ perlu dijaga. Memang tidak diperkenankan dalam satu ruang digunakan untuk mahasiswa berlawanan jenis, namun area kamar mandi tidak demikian halnya. Setiap lantai disediakan ruang dapur bersama, biasanya komplit dengan kulkas, kompor, TV dan sebagainya. Maka jangan kaget satu kulkas isinya macam-macam. Bagi mahasiswa muslim sering khawatir dalam freezer sering digunakan untuk menyimpan ham atau daging babi yang harganya relatif paling murah dibanding daging lainnya.

Setelah masa persiapan selesai, saya pindah tempat tinggal ke Guimarães. Pada tahun 2012 dipilih menjadi Capital Europeia da Cultura (Ibukota Kebudayaan Eropa) oleh European Council of Ministers of Culture (komisi yang beranggotakan kementerian kebudayaan yang tergabung dalam Uni Eropa) (http://www.guimaraes2012.pt/). Alasannya kota ini dianggap sebagai kota kelahiran Portugal. Sebagai kota wisata berbagai pilihan tempat tinggal perlu dipelajari dengan cermat. Meski kotanya kecil, namun dikarenakan kawasan ini diperuntukan untuk wisatawan, maka biaya hidupnya lebih tinggi. Seorang shopkeepers toko sepatu yang asli kota Porto yang pernah saya jumpai, dia memilih untuk tinggal di Braga untuk sedikit menghemat biaya hidup daripada di Guimarães.



Bagi mahasiswa Erasmus pilihan tinggal di asrama hampir tidak mungkin. Meski asrama kampus di Guimarães berlokasi satu kompleks dengan kompleks gedung perkuliahan, namun peminatnya cukup banyak dan sering harus booking jauh-jauh hari. Selain itu, mahasiswa Erasmus dianggap tidak pantas tinggal di asrama yang biaya sewanya lebih dari separuh lebih murah daripada sewa apartemen di sekitar kampus. Alasannya, asrama kampus disubsidi oleh Portugal sedangkan mahasiswa Erasmus dibiayai oleh Uni Eropa. Jika mahasiswa Erasmus tinggal di asrama, maka dianggap telah mengambil hak mahasiswa lokal. Namun, hal ini tidak berlaku bagi mahasiswa asing yang beasiswanya cukup sedikit, di mana masih ditoleransi dengan syarat menunjukkan besaran beasiswa yang diterima kepada pihak kampus. Akhirnya pilihan terbaik adalah apartemen di dekat kampus yang jaraknya kurang dari 1 km. 

Harga kamar bervariasi dari 120-180 Euro per bulan (sudah termasuk air, listrik dan gas, air). Beberapa keluarga ada yang menawarkan rumah dengan 3-4 kamar dengan biaya 600 Euro per bulan (tapi belum termasuk air, listrik, dan gas). Harga di Guimarães dan Braga bisa berbeda. Di Braga pilihannya lebih beragam dan mahasiswa yang beruntung bisa mendapat harga murah meski berada di kota. 
Denger-denger, mahasiswa Indonesia yang di Portugal dianggap beruntung dari sisi ‘dompet’ karena biaya hidup (living cost) yang relatif murah dibanding mahasiswa Indonesia yang tinggal di negara lain. Info dari teman yang di Perancis maupun Belanda harga sewa kamar per bulan bisa mencapai 300-400 Euro, dan itu katanya kamarnya sempit.
Saya pun memiliki pengalaman mencari tempat tinggal ketika akhirnya pada tahun kedua saya dapat mengundang istri ke Portugal untuk tinggal hingga masa studi berakhir. Awalnya saya berpikir bisa saja saya tetap tinggal di apartemen lama, karena kebetulan kamar saya sebenarnya living room berperapian berukuran 3x5 yang diubah menjadi kamar tidur. Pemandangannya menghadap ke taman bunga sebuah rumah besar bergaya kuno yang dijadikan kantor kota (semacam balai pengelola wisata) dan cukup naik rooftop bisa langsung menikmati Kastil Guimarães yang menjulang dan view kompleks kampus yang hijau. 


Tapi kemudian saya merasa istri tidak akan nyaman karena harus berbagi kamar mandi dan dapur dengan penghuni yang tidak ia kenal. Akhirnya sampailah saya pada pilihan sewa apartemen yang ditujukan untuk keluarga kecil, yang terdiri dari satu ruang tidur, kamar mandi, dapur yang menyatu dengan ruang tengah, dan lengkap dengan furniturnya, yang terdiri dari tempat tidur, peralatan dapur, kompor gas, televisi, kulkas, microwave. Lokasinya pun hanya berjarak 1,5 km dari kampus dan dekat dengan supermarket (Pingo Doce) serta stadion sepak bola (Vitoria de Guimarães). Alhamdulillah saya sangat bersyukur menemukan apartemen tersebut. Sewa apartemen 270 Euro per bulan. Tapi gas, listrik, air harus bayar sendiri (expense). Jika di rata-rata, saya harus mengeluarkan 20-40 Euros untuk expense karena di Portugal berlaku tarif setiap 3 bulan akan dikenakan biaya akumulasi. Semua tagihan bisa dibayar dengan e-banking yang praktis dan tercatat. 
Untuk dicatat, saat mencari apartemen bisa mencari di brosur atau poster agen properti yang banyak ditemukan di sekitar kampus. Namun, alangkah baiknya jika ada waktu kita keliling kompleks-kompleks apartemen yang sekiranya lingkungannya mendukung. Bisa jadi pemilik apartemen menempelkan poster (tidak melalui agen). Keuntungannya harga bisa jauh lebih murah. 
Untuk bernegosiasi harga dan perjanjian sewa maupun cara-cara pembayaran ajaklah teman lokal (mahasiswa setempat) untuk membantu kita. Pada umumnya orang-orang Portugal yang berusia di atas 50 tahun akan sangat sulit diajak berbahasa Inggris, hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris—biasanya  dari kalangan terpelajar. Bahkan banyak pula yang berusia di bawah itu enggan berbicara Inggris dan tentu saja memaksa kita untuk berbahasa Portugis. Ada baiknya saat kita butuh berkomunikasi kita sampaikan secara tertulis dengan SMS. 

Oh iya, pemilik apartemen biasanya banyak yang tinggal di luar kota. Bagi mereka apartemen dekat kampus seperti investasi. Untuk memenuhi order gas, saya mendapat kemudahan. Portugal telah menerapkan single identity number. Jadi apapun transaksi yang meminta menunjukkan kartu KTP (termasuk yang temporal) maka nama dan tempat tinggal konsumen akan dapat diketahui langsung oleh penyedia jasa (penjual). 

Ada kewajiban untuk lapor diri jika berpindah tempat tinggal. Beberapa rekan mahasiswa ada yang tidak mempedulikan hal itu. Tapi jika kita menaati aturan tersebut maka kita akan mendapat banyak keuntungan. Salah satunya jika kita pesan gas, kita tidak perlu menjelaskan alamat kita, cukup tunggu sekian menit bel apartemen berbunyi menanyakan apakah kita benar pesan gas. 

Bicara soal KTP, jangan pernah ragu jika nama kita yang didaftarkan rekan-rekan mahasiswa untuk langganan internet (seperti Speedy rumahan). Asal kita paham dan tanggung jawab teman-teman bisa kita jaga. Keuntungannya sangat besar dan hal itu saya ketahui saat pindah apartemen yang baru. Ternyata provider internet yang saya gunakan menyediakan fasilitas gratis akses internet menggunakan jaringan wifi tertentu yang sinyalnya bisa diakses di public areas

Nah, apartemen di mana saya tinggal dengan istri dapat mengakses sinyal tersebut dengan lancar dan koneksinya sangat bagus dan cepat. Ketika itu saya sudah tidak sharing dengan teman-teman di apartemen lama. Saya sempat berpikir saya sebenarnya harus tetap ikut sharing langganan dengan fasilitas internet gratis, tapi ternyata setelah internet di apartemen lama berhenti karena banyak yang pindah tempat, internet gratis tetap dapat saya nikmati. Bahkan saat saya di luar kota pun (masih dilingkup Portugal) saya dapat mengaksesnya.


Apakah Agung aktif di PPI? Jika iya, dimanakah letak sekretariatnya? Dan event terbesar apa yang pernah diadakan oleh PPI Portugal?


Saya dan rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang datang pada tahun 2010 berkesempatan membidani lahirnya PPI Portugal. Baru pada tahun itulah sejumlah lebih dari 20 mahasiswa hadir bersamaan di kota yang berdekatan. Kondisi itulah yang memungkinkan untuk mendirikan PPI Portugal. PPI Portugal didirikan pada di Braga, 9 Oktober 2010. Event terbesar adalah Indonesian Culture Day (28-29 Juni 2011). Informasi lebih lanjut dapat disimak di  http://www.ppi-portugal.org/. Waktu itu saya dipilih sebagai Koordinator Bidang Kerjasama Luar Negeri. 


Adakah tips spesial yang ingin Agung bagikan untuk teman-teman daari Indonesia yang hendak kuliah di Portugal? Tentang bagaimana cara survive, menghadapi kuliah, bermasyarakat, dan lain-lain

Tips bagi calon mahasiswa Indonesia yang hendak  ke Portugal. Persiapkan kemampuan dasar bahasa Portugis sejak dari tanah air. Hal ini akan sangat membantu jika kita berkomunikasi dengan warga umum yang biasanya tidak menguasai bahasa Inggris. Soal adaptasi cuaca sepertinya tidak terlalu masalah bagi mahasiswa Indonesia, karena Portugal relatif lebih hangat di banding negara Eropa lainnya (maksimal di musim dingin -2 derajat celcius dan itupun umumnya yang berlokasi di wilayah pegunungan Utara). Oleh karenanya salju belum tentu ada di Musim Dingin. Jika memungkinkan usahakan untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan rekan-rekan mahasiswa di kota lain. 

Selain PPI, kami dulu merintis kegiatan pengajian bulanan secara berkeliling. Kebetulan Guimarães tidak mempunyai masjid, sehingga saya setiap Jumat pergi ke Masjid Braga. Namun, jangan dibayangkan masjid sebagaimana di Indonesia. Di Braga komunitas muslim—biasanya dari Asia dan Afrika, beberapa warga asli—mendapat hibah sebuah ruangan di pusat perkantoran yang menjadi satu dengan sebuah kapel gereja yang diubah menjadi masjid berkapasitas kurang dari 40 orang. Bagi mahasiswa muslim dan komunitas muslim Portugal pada umumnya, hari Jumat menjadi waktu yang sangat berkah. 
Di Masjid Braga kami sering disuguhi makan siang bersama makanan khas Maroko (nasi couscous) atau Afrika (Senegal) oleh jama’ah dermawan yang disajikan dalam nampan atau baskom besar untuk dimakan bersama. Subhanallah...momen ini sangat saya rindukan. Belum lagi jika Hari Raya, kami biasanya diundang makan oleh keluarga muslim di sana. Khusus untuk Idul Adha, kami biasanya potong kambing di sebuah peternakan di luar kota, kemudian dagingnya didistribusikan ke jama’ah atau tetangga.Masjid yang besar dapat ditemukan di Porto dan Lisbon. Bagi muslim, kebutuhan daging halal dapat dipenuhi di kota-kota tersebut. 

Mahasiswa Indonesia yang tinggal di wilayah Utara menjadikan Porto sebagai pusat belanja aneka daging halal dan termasuk sajian yang senantiasa dirindukan mahasiswa perantauan di luar negeri yaitu Indomie. Jika beruntung, supermarket besar (namanya Continente) di kota-kota lain biasanya menyediakan daging ayam halal dengan jumlah sangat terbatas. Ayam tersebut diproduksi oleh lembaga muslim Portugal yang bermarkas di Lisbon. Perbanyaklah silaturahmi dengan warga sekitar dan kolega kampus dan tentu saja saudara-saudara kita dari Timor Leste. Sering kami mengundang dan mendapat undangan makan dari kolega. 



Eh satu lagi, jika tidak gengsi, sebaiknya jangan sungkan beli atau menerima second hand untuk pakaian atau barang-barang lain dari rekan-rekan yang hendak pulang ke tanah air untuk keperluan selama tinggal di sana. Ketika nanti hendak pulang, silakan beli yang baru atau bahkan bermerek. Biasanya great sale diskon murah-murahan di bulan Januari atau setelah Natal. Maksudnya kita tidak akan terbebani oleh barang-barang yang tidak perlu saat pergi atau pulang ke tanah air nantinya. 

Kita pun dapat menyalurkan barang-barang pantas pakai ke lembaga-lembaga yang biasanya dikelola oleh gereja untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Saat itu kondisi Portugal sedang didera krisis, banyaknya mogok masal dan PHK, tentunya akan berpengaruh bagi masyarakat lokal yang tidak mampu. Entah bagaimana kondisi sekarang. 

Terakhir, berbahagialah mahasiswa Indonesia yang berkesempatan kuliah di Portugal. Jika pandai berhemat maka kesempatan trip keliling Eropa sudah menunggu di depan mata. Apalagi bagi yang masih bujang. Dengan biaya hidup yang relatif murah, maka budget traveling akan mudah disisihkan. Bem vindo em Portugal!

Salam berkuliah.com.
Share on Google Plus

About Inspira Nina

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.