Artikel Terbaru

Cerita Jenni Wang Studi di Universidad de Granada, Spanyol


Halo, salam kenal untuk semua teman-teman di berkuliah.com! Nama saya Jenni Wang. Saya berkuliah di Universidad de Granada, salah satu universitas yang cukup tua di Spanyol (s.1531). Yang menarik adalah universitas ini merupakan perguruan tinggi ke-4 terbesar di Spanyol, dan juga merupakan salah satu yang top ranking 10 besar universitas terbaik di Spanyol. 

Letaknya yang memiliki atmosfer di kota Granada, menjadikannya cukup terkenal sebagai kota pelajar (selain kota Salamanca) karena ada banyak sekali mahasiswa dari luar kota dan luar negeri berkumpul di kota yang merupakan salah satu kota dengan living cost yang termurah di Spanyol ini. 


Kira-kira, berapa biaya kuliah di sana untuk yang tidak mendapatkan beasiswa dan menggunakan biaya sendiri? 

Untuk biaya kuliah di Granada, bisa dicek di website universitas www.ugr.es sesuai dengan bidang yang diminati. Namun, untuk biaya hidup cukup murah, karena kost-an sebulannya hanya sekitar 200 Euro untuk kamar yang lumayan dan biaya makan sesuai dengan selera masing-masing.


Apa kelebihan dan menariknya jurusan yang kamu ambil? Apa kamu pernah menemukan kesulitan? Jika pernah, gimana cara kamu mengatasinya?

Saya dulunya mengambil jurusan Enviromental Science and Technology yang mencakup engineering dan science. Untuk riset tesis saya adalah mengenai bencana longsor. Karena kuliah saya dalam bahasa lokal, maka dengan kemampuan bahasa yang terbatas, saya harus belajar di perpustakaan lagi setelah kuliah di kelas. Banyak hal yang tidak saya pahami karena masalah bahasa. Namun, dosen yang baik biasanya mau meluangkan waktu untuk menjelaskan kembali garis besar yang dipaparkan di kelas, dan juga mengijinkan saya mengerjakan ujian dalam bahasa Inggris jadinya banyak membantu saya.


Menurut Jenni, apa perbedaan yang paling mencolok jika melihat sistem perkuliahan yang berlaku di Spanyol dan Indonesia?

Sebenarnya perbedaannya mungkin lebih kepada cara mendidik mahasiswa. Kalau di Indonesia sepertinya mahasiswa di’cekokin’ dengan bahan yang diberikan dosen. Kalau di Spanyol, kita diberikan kebebasan dalam memilih bahan yang akan kita baca (walaupun ada bahan bacaan wajib). Dan juga tentunya perpustakaan yang lebih lengkap dibandingkan perpustakaan di Indonesia.


Bagaimana dengan fasilitas penunjang perkuliahan yang ada di Spanyol? Seperti transportasi, perpusatakaan, jam belajar masyarakat, birokrasi, atau hal lainnya.

Birokrasi Spanyol juga berbelit-belit hampir mirip dengan Indonesia. Namun, seperti halnya Indonesia yang terus memperbaiki diri, Spanyol juga demikian. Namun, untuk transportasi dan perpustakaan, tentunya negara maju dan negara berkembang jauh berbeda. Kita bisa menemukan berbagai bahan bacaan di kampus, bahkan akses ke jurnal internasional dengan leluasa sehingga sangat membantu dalam proses belajar. Di sana juga bisa dilihat bus yang teratur dan terjadwal rapi sehingga kita bisa menggunakan waktu lebih efisien dan efektif untuk belajar dan juga melakukan aktivitas lain.



Berapa biaya hidup minimal di kota tempat Jenni tinggal? Misalnya biaya untuk makan, akomodasi, transportasi, atau lainnya.

Granada merupakan kota kecil yang bisa dijangkau dengan jalan kaki walaupun kotanya berbukit-bukit. Saya sendiri orang yang suka berjalan kaki, dan bagi saya 1 jam jalan kaki masih bisa saya jangkau tanpa harus memakai transportasi umum. Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk memberikan ide mengenai biaya hidup, namun 500 Euro per bulan saya rasa itu sudah sangat cukupbuat bisa hidup sederhana secara layak.


Apa perbedaan budaya yang paling terasa antara Spanyol dengan Indonesia? Bagaimana sikap Jenni atas perbedaan tersebut?

Banyak yang berbeda, terutama sifat dari orang lokal yang sangat menikmati hidup dengan suka berkumpul di tempat umum seperti café atau bar. Saya kurang bergaul, jadi mungkin pendapat saya sangat subjektif. Namun, orang local disana juga sangat beragam, seperti halnya dengan suku-suku di Indonesia yang beragam. Orang di bermukin di wilayah utara dan tengah dan selatan Spanyol juga sangat berbeda. Mungkin ketika di awal-awal kita merasakan culture shock (yang juga kita rasakan ketika balik ke Indonesia). Namun, yang saya lakukan adalah menyadari bahwa yang terpenting saya berusaha menerima perbedaan tanpa harus menjadi sama dan mengingat tujuan saya di sana adalah belajar. Sehingga akhirnya saya belajar mensyukuri semua yang saya dapatkan selama di luar dan belajar menghargai perbedaan yang ada.


Apa kamu punya tips yang sebaiknya dilakukan bagi mahasiswa Indonesia setelah selesai kuliah di sana? Misalnya: peluang kerja di sana, dan sebagainya.

Yang perlu dilakukan tentunya adalah melihat peluang bagaimana bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mencari lebih banyak pengalaman dan juga bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kalau bisa tinggal di Spanyol atau Eropa dan bekerja dengan baik, mungkin tidak mengapa tidak balik ke Indonesia. Namun, yang terpenting adalah bisa menguasai bahasa lokal karena jarang orang di Spanyol bisa berbahasa Inggris. Yang terpenting, kita tahu apa tujuan kita melakukan suatu hal, termasuk juga dalam memilih di mana bekerja. Dunia sudah tidak memiliki batas, dan kontribusi bisa diberikan dalam banyak bentuk dan rupa, apakah tinggal di luar atau dalam negeri. Tipsnya adalah bersyukur dan mau terus belajar dan tidak malu dan takut untuk gagal.
Sekian dari saya. Semoga bermanfaat untuk semua. 

Salam berkuliah.com!

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top