Profil Jakob Oetama: Kenalan dengan Jurnalis dan Pendiri dari 'Kompas Group'

Sekarang ini, siapa sih yang tidak mengenal surat kabar ‘KOMPAS’? Begitu mendengar kata ‘Kompas’, pikiran kita pasti langsung tertuju pada ...

Sekarang ini, siapa sih yang tidak mengenal surat kabar ‘KOMPAS’? Begitu mendengar kata ‘Kompas’, pikiran kita pasti langsung tertuju pada surat kabar yang memuat banyak berita-berita penting. Namun, apa kamu mengenal siapa orang yang berada di balik kesuksesan koran ‘Kompas’ tersebut?

Jakob Oetama
Jakob Oetama atau Jakobus Oetama merupakan wartawan dan salah satu dari pendiri surat kabar Kompas. Beliau lahir di daerah Jawa Tengah yang terkenal dengan candinya yaitu Borobudur, tepatnya di desa Jowahan yang terletak 500 meter di sebelah timur candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah pada tanggal 27 september 1931. 

Saat ini beliau merupakan Presiden Direktur dari Kelompok Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasihat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. Beliau juga pernah berkiprah sebagai politikus dan tidak lupa untuk selalu aktif menyuarakan dan menyalurkan aspirasi maupun suara rakyat dengan memanfaatkan posisinya sebagai anggota DPR utusan golongan pers. 

Dedikasinya yang sangat baik bagi dunia pers dan jurnalistik Indonesia membuat beliau menerima gelar doktor honoris causa ke-18 dari Universitas Gajah Mada. Universitas Gajah Mada memberikan gelar ini kepada Jakob Oetama, karena UGM menilai jika Jakob Oetama telah mampu dan berhasil mengembangkan kultur jurnalistik dan pers yang jujur dan edukatif bagi Indonesia dari tahun 1965. Selain itu, beliau juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973. Selain memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia pers dan jurnalistik Indonesia, Jakob Oetama juga dikenal sebagai sosok yang sering berkontribusi dalam berbagai organisasi di dalam maupun di luar negeri. Beliau pernah menjabat menjadi Sekjen dan Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia dan anggota asosiasi internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Beliau merupakan putra dari pasangan suami-istri Raymundus Josef Andiyo Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah. Kedua Orang tua beliau merupakan pensiunan dari guru di daerah Sleman, Yogyakarta. Jakob menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah rakyat (SR) Yogyakarta kemudian berlajut ke sekolah menegah pertama (SMP) Panghudi Luhur Boro, Kulonprogo, Yogyakarta dan akhirnya beliau kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari di Yogyakarta pada tahun 1951. Selama masa SMP, beliau tinggal di panti asuhan yang sekaligus menjadi asrama yang diasuh oleh Br Servatius FIC. Sebenarnya orang tua Jakob Oetama ingin beliau menjadi seorang imam, sehingga beliau masuk ke sekolah seminari pada tahun 1945. Asrama seminari Mertoyudan baru di mulai pada tahun 1941, namun saat beliau dan 4 teman remajanya masuk, seminari berada dalam masa diaspora. Pada tanggal 8 maret 1942 asrama Mertoyudan dibumi hanguskan oleh tentara Jepang, dan akhirnya asrama seminari Mertoyudan dibangun kembali pada tahun 1952 dan pada tanggal 3 Desembar 1952, asrama ini diberkati oleh Mgr Albertus Soegijaprnata SJ.

Jakob sempat berpindah asrama dari Ambarawa, Ganjuran, Muntilan dan akhirnya kembali lagi ke Yogyakarta. Para seminaris akhirnya tinggal di asrama yang terletak di belakang Kolese Ignatius (Kolosani) Kotabaru. Saat Jakob lulus dan menjadi calon imam Praja (Diosesan) Vikariat Apostolik Semarang, tempat ini akhirnya menjadi asrama bagi para frater. Setelah 3 bulan menjadi fraeter, ternyata Jakob merasa tidak betah dan akhirnya beliau mengundurkan diri dan ingin mencoba menjadi seorang guru. Beliau  sempat bekerja dengan menjadi guru di SMP Mardiyuwana di daerah Cipanas, Jawa Barat pada tahun 1952 hingga 1953, lalu pindah pada tahun 1953 hingga 1954 mengajar di Sekolah Guru Bantu (SGB) yang terletak di Lenteng Agung dan akhirnya pindah lagi ke SMP Van Lith di Jakarta pada tahun 1954 hingga 1956. Semua sekolah ini masih berada dalam asuhan para biarawan Ordo Fratrum Minorum (OFM). Selama mengajar, Jakob tinggal di kompleks sekolah yang sekarang sudah berubah nama menajadi panti asuhan putra di Jalan Kramat Jati 134. Selama menjadi guru sekolah, beliau juga mengikuti kursus B-1 Sejarah dan akhirnya lulus dengan hasil nilai yang sangat memuaskan. Lalu akhirnya pada tahun 1956 hingga 1963 beliau bekerja sebagai sekretaris redaksi penabur. Majalah ini terbit setiap 2 minggu sekali dengan jumlah halaman sebanyak 24 halaman. Tidak sampai di situ, Jakob kemudian terus melanjutkan pendidikanya dengan melanjutkan sekolah  ke Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan lulus pada tahun 1959. Setelah lulus beliau masih melanjutkan sekolah ke Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada dan lulus pada tahun pada 1961. 

Jakob Oetama
Awal tahun 1960-an merupakan tahun yang menjadi pintu masuk Jakob untuk menjadi semakin berkembang di dalam dunia jurnalistik. Beliau berkenalan dengan P.K Ojong yang akhirnya bersatu menjadi rekan satu tim dalam pengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Saat itu P.K Ojong sudah memiliki jaringan pergaulan yang sangat besar dan luas. P.K Ojong telah menjalin hubungan relasi yang baik dengan banyak tokoh terkenal seperti Soe Hok Gie, Prof. Widjojo Nitisastro, Arief Budiman dan beberapa tokoh lainnya.

Jakob sudah memulai karir di dunia jurnalistik saat menjadi redaktur Mingguan Penabur pada  tahun 1956 dan dilanjutkan dengan mendirikan majalah Intisari pada tahun 1963. Dalam membangun majalah Intisari, beliau dibantu dengan seorang temannya yang bernama P.K. Ojong. Selain memiliki kesamaan profesi, yaitu sama-sama pernah melakukan profesi sebagai guru, Ojong dan Jakob ternyata juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pers dan sejarah. Dari kesamaan minat inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal dari kerjasama Jakob dan Ojong untuk membuat sebuah barang baru yang berbentuk  majalah yang akhirnya majalah tersebut diberi nama majalah Intisari.

 Ide untuk mebuat majalah ini sebenarnya berasal dari majalah Reader's Digest yang ada di Amerika yang di dalamnya memuat banyak berita penting seputar Amerika. Majalah Intisari buatan mereka memiliki karakteristik sendiri dengan memakai tema berupa ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Majalah ini terbit secara resmi pertama kali pada bulan Agustus 1963 atau lebih tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1963 dan majalah ini terbit setiap satu bulan sekali. Bentuk fisik dari majalah intisari ini seperti Star Weekly, yang warnanya mesih berwarna hitam dan putih serta tanpa kulit muka alias telanjang. Majalah ini memiliki ukuran 14 X 17,5 cm dengan ketebalan buku sekitar 128 halaman. Majalah “Intisari” memiliki logo yang sama dengan logo rubrik senama yang ditulis Ojong di Star Weekly. 

Saat pencetakan edisi pertama, majalah ini dicetak hanya sebanyak 10.000 eksemplar. Penjualan dari majalah ini memiliki respon yang sangat baik karena  tanpa diduga majalah ini  ternyata sangat laris manis. Semakin lama, isi dari konten-konten majalah Intisari semakin berkembang, dan isi konten ini semakin diperkuat oleh bantuan dari teman-teman Jakob dan Ojong yang berasal dari Yogyakarta seperti Swantoro, J. Adisubrata, Indra Gunawan dan Kurnia Munaba. 

Dengan mengacu pada Reader’s Digest dari Amerika, majalah Intisari terus berusaha untuk menapilkan serta menyajikan berita-berita yang bermutu, intelek dan kompeten yang nantinya diharapkan majalah ini mampu membawa pengaruh positif bagi dunia pengetahuan terutama di Indonesia. Majalah Initisari termasuk menjadi majalah yang paling sukuses penjualannya di Indonesia dan setelah majalah Intisati berjalan selama 2 tahun, tepatnya pada 28 Juni 1965 para pengurus Yayasan Bentara Rakyat yang beranggotakan I.J. Kasimo yang saat itu menjabat sebagai  Ketua, Frans Seda menjabat sebagai Wakil Ketua, F.C. Palaunsuka menjabat sebagai Penulis I, Jakob Oetama menjabat sebagai Penulis II, dan Auwjong Peng Koen menjabat sebagai bendahara pergi untuk bertemu dengan Bung Karno dan akhirnya Bung Karno mengusulkan sebuah nama “Kompas”. Para pengurus Yayasan Bentara Rakyat menyukai nama tersebut dan akhirnya menyepakati nama tersebut. Surat kabar harian Kompas sangat menjunjung tinggi nilai-nilai independen sumber berita yang digali secara mandiri dan selalu mengutamakan kecermatan di bidang profesi dan moral pemberitaan. Pembentukan Kompas ini terjadi pada tahun 1965, di mana pada saat itu Indonesia sedang dihantui oleh bayang-bayang ancaman pemberontakan dari para PKI. 

Jakob Oetama memiliki prinsip “Miliki dulu harga diri, tanpa itu kita akan menjadi robot” dan dengan prinsip inilah akhirnya beliau dan Kompas bisa meraih kesuksesan. 

Dulu Kompas merupakan surat kabar yang sering diejek dan dihina, namun Kompas tetap tampil dengan gaya penulisan yang kalem, padahal dunia pers saat itu sedang  didominasi oleh suara-suara yang lebih garang. Walau oplahnya kecil dan selalu datang terlambat, Jakob terus konsisten dan selalu membangun jurnalisme yang objektif dan netral, sehingga Kompas dapat berhasil hingga saat ini. Semua hal ini tercipta berkat adanya kepercayaan dari para pembacanya. Kompas menjadi koran pertama yang menjaga netralitas, selalu menyajikan fakta yang aktual, jernih serta konsisten selama 4 dasawarsa. 

Memasuki tahun 80-an, Kompas Gramedia Group akhirnya semakin maju dan mampu berkembang dengan pesat, terutama dalam bidang komunikasi. Semakin lama, Kompas akhirnya berkembang menjadi sebuah surat kabar harian yang berkualitas dan selalu  mengedepankan konten-konten yang informatif dan edukatif. 

Dari sini mulailah berdiri sebuah kelompok usaha yang bernama ‘Kompas Gramedia’. Nama Gramedia akhirnya dipilih untuk nantinya digunakan sebagai member label pada usaha toko buku atau dengan kata lain, tim Gramedia lah yang akan bertanggung jawab atas proses produksi dan pencetakan surat kabar harian Kompas. Pada saat ulang tahun harian Kompas yang ke-30, harian ini tercatat  telah memiliki oplah sekitar 460 ribu yang akhirnya membawa namanya menjadi harian yang memiliki oplah tertinggi di Indonesia. 

Tingginya jumlah oplah ini memunculkan sejumlah kekhawatiran karena bisa memunculkan monopoli terhadap opini masyarakat. Mendengar masalah ini, Jakob segera membantahnya dengan berkata ”Monopoli itu tidak benar, karena koran itu tidak hanya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo”. Pendapatan terbesar Kompas didapat dari iklan. Pada awal 1985, surat kabar ini mampu meraih pemasukan sebanyak Rp 1,5 milyar perbulan dari iklan, bahkan jika tidak ada pembatasan jumlah halaman bukan hal yang tidak mungkin jika Kompas meraih lebih banyak lagi pendapatan.

Saat ini, Kompas Gramedia Group sudah melebarkan sayapnya dengan telah memiliki beberapa anak perusahaan atau bisnis unit yang beragam, mulai dari media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV bahkan universitas. Keinginan Kompas Gramedia untuk berkembang tidak berhenti sampai di situ. Jakob Oetama lalu ikut mendirikan Jakarta Post yang  merupakan harian nasional Indonesia yang kontennya diisi dengan bahasa Inggris. Surat kabar ini muncul berkat hasil kerja saama dari  Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, H. G. Rorimpandey dan Harmoko. Bergabungnya orang-orang ini nantinya diharapkan akan memperkuat berita yang tertulis di surat kabar ini, sehingga berita-berita yang ada menjadi lebih tajam, aktual dan akurat. 

Jakob Oetama
Pria yang sudah meraih gelar doctor honoris causa ke-18 dari Universitas Gajah Mada ini dikenal sangat akrab dengan banyak teman wartawan senior seperti Adinegoro, Padad Harahap, Kamis Pari, Mochtar lubis, dan Rosihan Anwar. Jakob menganggap jika mereka semua memiliki jiwa humaniora dan prinsip jurnalistik yang amat teguh, dan hal tersebut yang membuat Jakob terus terinspirasi hingga akhirnya dirinya mampu menjadi yang seperti sekarang ini. Jakob sudah memiliki banyak pengalaman kerja di bidang jurnalisme yang dimulai dari editor majalah Penabur, Ketua Editor majalah bulanan Intisari, Ketua Editor harian Kompas, Pemimpin Umum atau Redaksi Kompas dan akhirnya menjadi Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Jakob Oetama yang selalu hati-hati dan peduli terhadap anak buahnya telah membuat Kompas Gramedia yang berada di bawah kendalinya menjadi sebuah metamorfosis pers dari pers yang sektarian menjadi sebuah media massa yang merefleksikan inclusive democracy, dan akhrinya berhasil menjadi salah satu media cetak unggulan yang bahkan sukses melebarkan sayapnya ke bidang-bidang usaha lain. 

Jakob Oetama merupakan salah satu sosok yang sangat menginspirasi perkembangan jurnalistik dan pers Indonesia. Jacob Oetama merupakan pemilik dari beberapa media kabar yang ada di indonesia, seperti Stasiun Televisi RCTI pada 24 Agustus 1989 di Jakarta yang bekerja sama dengan Kompas Gramedia. Stasiun Televisi SCTV pada 24 Agustus 1990 di Surabaya yang bekerjasama dengan Femina Gruop, Stasiun Televisi TPI pada 23 Januari 1991 di Jakarta yang bekerjasama dengan Tempo Media Group , Stasiun Televisi ANTV pada 1 Januari 1993 di Lampung yang bekerjasama dengan Bakrie Group dan Stasiun Televisi INDOSIAR pada 11 Januari 1995 di Jakarta yang bekerjasama dengan Media Group.

Selain memiliki media kabar, Jacob Oetama juga sudah menelurkan sejumlah karya tulis antara lain, Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin yang merupakan skripsi di Fisipol UGM tahun 1962, Dunia Usaha dan Etika Bisnis yang diterbutkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2001, Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2002 dan Bersyukur dan Menggugat Diri yang diterbutkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun  2009. 

Akhirnya di tahun 2014 ini Jakob Oetama kembali mendapatkan gelar Doktor Kehormatan di bidang jurnalistik. Namun sayangnya saat penganugerahan, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama tidak dapat menghadiri acara tersebut dikarenakan alasan kesehatan. Gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) di bidang Ilmu Jurnalistik ini diberikan oleh Universitas Sebelas Maret, Surakarta dan karena berhalangan hadir akhirnya beliau diwakilkan oleh anaknya yang bernama Irwan Oetama. Dalam sambutannya, Irwan mengatakan jika ayahnya tidak menyangka akan mendapatkan gelar Doktor Kehormatan tersebut dan dalam pidatonya. 

Beliau menyelipkan pesan jika ayahnya berharap agar pers di Indonesia semakin besar peranannya, tidak hanya dalam menghadirkan informasi tetapi juga harus memilih dan mengolah informasi yang bisa terus mengembangkan Indonesia seperti didambakan oleh masyarakat.

Dengan acara ini, Jakob telah menerima gelar Doktor Kehormatan sebanyak 2 kali. Beberapa tahun lalu yang lalu pada tanggal 17 April 2003, Jakob juga menerima anugerah gelar doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gadjah Mada. Dalam pemberian gelar doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gadjah Mada, Ashadi Siregar yang bekerja sebagai pengamat pers mengatakan, penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Jakob sudah sepantasnya diberikan. Jakob dinilai telah berhasil mempertahankan sekaligus mengembangkan eksistensi pers di tengah lingkungan politik Orde Baru yang menekan. Siregar menuturkan "Itu sebuah prestasi. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto". Pernyataan lain muncul dari Mantan Ketua Umum Persatuan wartawan Indonesia Sofyan Lubis.  

Sofyan Lubis menyatakan sangat senang karena Jakob telah memperoleh penghargaan dari sebuah perguruan tinggi ternama. Lubis juga mengemukakan pendapatnya jika penghargaan tersebut pantas diberikan kepada Jakob karena perjuangannya selama ini. Lubis menuturkan "Banyak pembaruan yang bermanfaat yang dikerjakan Pak Jakob bagi kegiatan wartawan dalam mengembangkan peranan pers nasional, dengan tetap mengembangkan semangat kebangsaan saat itu. Dia itu saya lihat konsisten dan dia jadi contoh bagi yang lain”.

Saat menyampaikan pidato penerimanaan gelar doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gadjah Mada, pada akhir pidatonya setebal 21 halaman, dengan tulus dan penuh keharuan, pendiri dan pimpinan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) ini, memberikan gelar terhormat itu kepada seluruh rekan-rekannya di dalam dunia pers. Dengan penuh haru, Jakob berkata "Kehormatan besar yang dianugerahkan oleh Universitas Gadjah Mada kepada saya, untuk merekalah kehormatan itu saya persembahkan". Suasana haru semakin terasa saat Jakob mulai menyebutkan rekan-rekan tokoh pers, seperti Rosihan Anwar yang merupakan wartawan budayawan, PK Ojong yang merupakan wartawan senior serta pendiri Kompas-Gramedia, Herawati Diah, Tuty Aziz, Wonohito, Hetami, Sakti Alamsyah, Rorimpandey, Manuhua, dan Mochtar Lubis. Jakob Oetama merasa terharu sekaligus bangga dengan adanya gelar kehormatan seperti ini. Gelar kehormatan yang telah diraihnya dianggap juga sebagai penghargaan bagi kegigihan dan keuletan para insan pers di negeri ini dalam memperjuangkan demokrasi, seperti juga yang telah dan masih dilakukannya. Melalui jurnalisme yang khas, beliau secara konsisten mampu menunjukkan jika misi jurnalisme tidak hanya sekadar untuk menyampaikan informasi kepada para pembaca, tetapi memiliki misi yang lebih dari itu.

Misi pokok dari para jurnalis adalah untuk mendidik dan mencerahkan hati nurani anak bangsa. Beliau bahkan menyebutkan gaya jurnalismenya yang khas itu disebut dengan ''jurnalisme makna.'' 

Dengan adanya gaya ‘jurnalisme makna’, Jakob bersama Harian Kompasnya dianggap secara konsisten telah berusaha untuk menyadarkan hati nurani para pembaca tentang perlunya bangsa ini menghapuskan nilai-nilai primordial dalam hubungan antar manusia dan antar kelompok, menanamkan etika dan moral demokrasi serta keadilan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Jakob Oetama
Untuk mencapai segala sesuatu memang tidak mudah, memerlukan kesabaran dan konsisten yang terus dijaga untuk mengadapi segala rintangan. Dalam mencari sebuah berita kita juga tidak bisa seenaknya, namun berita yang akan kita cari harus beradasarkan fakta dan aktual agar mucul sikap saling percaya antara pembaca dan sang penulis berita.  

Salam berkuliah.com. 
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,299,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,14,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,442,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,3,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,59,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,27,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,13,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Profil Jakob Oetama: Kenalan dengan Jurnalis dan Pendiri dari 'Kompas Group'
Profil Jakob Oetama: Kenalan dengan Jurnalis dan Pendiri dari 'Kompas Group'
https://3.bp.blogspot.com/-lJD1J2_qqLU/VIFmYATRNkI/AAAAAAAAFqM/IQ5winwRYWk/s1600/wfssg.png
https://3.bp.blogspot.com/-lJD1J2_qqLU/VIFmYATRNkI/AAAAAAAAFqM/IQ5winwRYWk/s72-c/wfssg.png
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2014/12/profil-jakob-oetama-kenalan-dengan-jurnalis-dan-pendiri-kompas-group.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2014/12/profil-jakob-oetama-kenalan-dengan-jurnalis-dan-pendiri-kompas-group.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy