Artikel Terbaru

Windy Puspito: Serunya Kuliah di Spanyol, Ini Pengalamanku!


Hola! Perkenalkan nama lengkap saya Windy Puspito Rini, tapi biasa dipanggil Windy, atau untuk sebagian teman yang  native-nya English, mereka memanggil saya “Wendy”. Haha. Saya bisa memahami karena mungkin buat mereka, nama saya kedengarannya  aneh ‘sounds adjective in English’. 

Baiklah. Saya lahir dan besar di ibukota Jakarta, namun bapak dan ibu saya berasal dari Jawa Tengah. Saya merupakan anak ketiga atau anak terakhir dari 3 bersaudara, orang biasa menyebutnya ‘si bontot’. Sastra Inggris adalah latar belakang pendidikan Sarjana saya. Saya menghabiskan 4 tahun S1 saya di Fakultas Sastra, jurusan Sastra Inggris, Universitas Gunadarma, Depok. 

Semasa kuliah, saya termasuk anak yang bisa dibilang ’hiperaktif’. Berbagai ajang saya ikuti, mulai dari Abang-Mpok Depok, Abang-None Jakarta (Utara), sampai Putra Putri kampus DKI Jakarta. Meskipun hanya berakhir sebagai finalis, namun pengalaman tersebutlah yang membuat mental saya menjadi seperti sekarang ini, tampil berani dan percaya diri. 

Saya lulus tahun 2009 dan langsung mencoba peruntungan di dunia pekerjaan. Sempat bekerja sebagai call center officer di salah satu bank asing di Jakarta, selanjutnya  saya menghabiskan 3 tahun bekerja sebagai front liner officer di bank milik pemerintah, BUMN. Berawal dari kejenuhan terhadap pekerjaan dan ‘merasa kangen’  terhadap suasana kelas, saya lalu mencoba  untuk mulai mencari-cari informasi tentang studi S2. Satu kata ‘MAHAL’. Jangankan S2 di luar negeri, di Indonesia saja studi S2 sudah super mahal. Nah, dari sini lah titik awal saya berpikir untuk mencari beasiswa, namun tidak di Indonesia, tapi untuk universitas di luar negeri. 

Kenapa di luar negeri? Saat itu saya berpikir, kalau S2 domestik sama mahalnya dengan S2 international, kenapa tidak dicoba yang international saja, “all in one package”, saya bisa dapat pengalaman baru, orang-orang baru, disiplin yang baru, dan mental yang baru. Inisiatif saya saat itu adalah mencoba membuka wawasan dan network terlebih dahulu, jangan membiarkan pekerjaan di kantor membatasi cara berpikir kita. Salah satu teman yang telah studi dan bekerja di United States menyarankan untuk menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, untuk di Amerika itu sendiri, sebagian masyarakatnya sudah pandai berbahasa Spanyol. Karena target country saya saat itu adalah Amerika, maka saya langsung mengambil langkah untuk bergabung di lembaga kursus bahasa Spanyol  di Jakarta. 

UCAM Course Jakarta (Universidad Catolica San Antonio) yang berlokasi di Spain inilah awal mula saya belajar bahasa Spanyol sambil terus mencari-cari informasi beasiswa disana sini. Banyak lembaga non-profit organization yang saya datangi, seperti AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation), LPDP (pemerintah), sampai menghadiri event-event seperti Education Fair. Banyak informasi, namun harus tetap fokus. Sampai pada akhirnya, lembaga tempat saya kurus UCAM, menyelenggarakan “Open day application” bagi mereka yang tertarik untuk studi di Spanyol. Nah, kenapa tidak dicoba juga? 

Saya datang pada hari itu dan bertanya langsung dengan perwakilannya. Mereka sejak awal menjelaskan bahwa tidak ada beasiswa penuh untuk program S2, namun tetap saya coba, dengan catatan, diskusi dengan orang tua adalah wajib hukumnya. Prosesnya lumayan cepat dan menguras pikiran. Haha, itulah yang mereka sebut “pengorbanan”. Waktu, tenaga, pikiran. Tapi, bahagianya tidak tergambarkan saat saya dihubungi dan dinyatakan diterima di universitas tersebut dengan beasiswa separuh. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan pergi dan studi di negara matador yang super eksotis ini. Sungguh, perjalanan yang luar biasa dan akan saya ingat proses panjang ini seumur hidup saya. Disinilah saya sekarang, mahasiswa S2 program Master of Business and Administration di Universidad Catolica San Antonio de Murcia, Spain.

Pertama kali tiba di Spanyol seperti sebuah mimpi manis. Senyum-senyum sendiri di pesawat, ada perasaan takut juga, perasaan sedih sudah pasti karena harus berpisah sementara dengan para sahabat dan keluarga di Indonesia, nervous pula karena kendala bahasa, but I was so excited for this experience.  Setibanya di Bandara Barajas, Madrid, dan untuk pertama kalinya, saya seperti bocah lugu yang tidak mengerti apa-apa namun sudah siap untuk mainan barunya. Di bulan-bulan pertama masih banyak yang harus dikerjakan, mulai dari pendaftaran ulang di kampus, lapor diri ke kantor imigrasi, pencarian flat share untuk dihuni, hingga pembuatan temporary national identity and pembukaan rekening bank. Tapi saya hanya punya satu kata saat itu, dinikmati saja..

Bukan Spanyolnya saja yang sebenarnya menyenangkan untuk studi, tapi pengalaman bertemu dengan orang-orang baru dari latar belakang yang totally different itulah yang luar biasa. Sebagai salah satu negara maju, tentu saja, Spanyol menawarkan banyak keunikan, mulai dari transportasi publiknya, eksotika bahasannya, keindahan pantai-pantainya, cita rasa masakan nya (Tapas, Paella dan Churros adalah favorit saya sampai hari ini), seni dan musikalitasnya, dan oh, sejarah peradabannya. 


Homesick, bad mood, bosan, itu pasti pernah terbesit sepanjang saya bersekolah disini. Namun, lucky me! Karena saya bukan satu-satunya mahasiswa Indonesia yang studi di Murcia. Saya punya Akira, Calvin, dan Gitcha, yang bisa ditemui di sela-sela kesibukan masing-masing. Kami terkadang menghabiskan waktu dengan masak-masak bersama, nongkrong bareng, bersenda gurau, hanya untuk melepas kangen sebagai warga Indonesian. Sedikit berolahraga dan berjalan kaki mengitari kota juga saya lakukan untuk melepas bosan. Pilihan terakhir, watching movies! Haha. Internet sangat berjasa menghadirkan film-film via streaming. 

Spanyol memiliki banyak festival setiap tahunnya. Sejauh ini saya hanya menikmati festival yang ada di kota Murcia, seperti El Bando de La Huerta, El Flamenco party, dan festival perayaan San Juan Day. Festival Tomatina terdapat di Valencia, sekitar 4 jam dari Murcia, dan diselenggarakan di setiap minggu terakhir di bulan Agustus. Semoga tahun depan saya bisa ikut bergabung di festival Tomatina ini. hehe.

Berbagai pengalaman menarik pernah saya alami selama studi di Spanyol. Namun yang paling menyenangkan adalah saat melakukan perjalanan bersama 4 orang teman dari Jerman, Italy, dan Indonesia, ke Sierra Nevada yang letaknya di Granada. Kami menyewa mobil dan menginap semalam di kota tersebut. Sierra Nevada adalah satu-satunya pegunungan di Spanyol yang memiliki salju, dan itulah pertama kalinya saya menyentuh salju secara langsung. Agak norak but it was fun!  Haha. 

Anak muda di Spanyol ini adalah fans berat party, atau “fiestas” dalam bahasa Spanyolnya. Mereka mempunyai  kebiasaan fiesta di setiap Jumat malam hingga Sabtu. Dasarnya saya  bukan lah seorang party goers, namun saya sangat terbuka dengan hal-hal baru ini, menyenangkan bisa membaur dan bersahabat dengan orang lokal. Jadi buat saya pribadi, socially party is fine, tapi kontrol diri juga diperlukan loh! Orang Spanyol juga paling suka “ngobrol”. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam dengan mengobrol, tak perduli di jalan, di rumah, di bus, atau di restaurant. 


Hal Unik di Spanyol

Banyak perbedaan budaya yang buat saya unik awalnya. Hal sederhana, setiap bertemu rekan yang berlawanan jenis, mereka akan memberi salam dengan “bercium di pipi kanan dan kiri kita”, yang adalah berbeda dengan Indonesia. Lalu kebiasaan minum , seperti beer, sudah seperti wajib ada di setiap acara. Budaya jam kerja mereka juga cukup unik, mereka punya “Siesta” yang adalah waktu istirahat siang dimulai dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 siang hari. Aneh memang tapi itulah Spanish. Namun, ada pula hal baik dari Indonesia yang dijumpai di Spanyol, seperti orang-orang Spanyol itu sangat ramah dan bersahabat, mereka suka membantu dan saling menyapa.


Kuliner di Spanyol

Hampir semua makanan favorit saya tidak ada di negara ini, bakso, ketoprak, soto ayam, sate ayam, dll. Mereka sangat tidak suka pedas dan berbumbu kuat. Mereka memiliki banyak sekali hidangan roti-rotian dan hanya ada satu favorit masakan saya yang menyerupai masakan Indonesia, yaitu Paella. Masakan berupa nasi, berwarna kuning, dan gurih rasanya,seperti nasi kari.

Buat saya pribadi, Spanyol merupakan negara yang unik dengan banyak potensi di dalamnya. Saya mulai mencintai Spanyol sebagai rumah kedua saya setelah Indonesia. Bertemu dengan banyak orang baru dengan berbagai latar belakang yang berbeda, akan membentuk pribadi kita yang sebenarnya. 

Pesan saya buat teman-teman yang saat ini sedang menuju ke arah yang sama dengan yang telah saya jalankan, teruslah berusaha mencari informasi dari berbagai sumber, jangan batasi pemikiran kalian, buka wawasan dan perluas network, banyak bertanya, cari apa yang kita mau, tentukan pilihan, tetap fokus dengan tujuan. 

Saat ini sudah banyak universitas di luar negeri yang menawarkan berbagai macam jenis beasiswa, diskusikan dengan orang tua, dan berani mengambil keputusan. Perasaan “capek”, mood yang up and down itu pasti datang, tetapi ingat saja, bahwa hasilnya akan berasa manis dan menyenangkan. 



Terakhir, berdoa. Salam saya buat teman-teman di Indonesia semua.  Semoga apa yang saya share di sini bisa membawa manfaat buat teman-teman sekalian, dan semoga apa yang kita cita-cita kan dapat tercapai. Buena Suerte!  

Salam berkuliah.com!

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top