Guru Besar UNY yang Melanglang Buana di Zaman Sulitnya Mendapatkan Pendidikan

Siapa yang tidak bermimpi bisa kuliah Ke Luar Negeri? Apalagi jika kuliahnya dibiayai baik melalui beasiswa yang disediakan oleh negara tujuan studi ataupun dari negara sendiri. Tapi terkadang kita merasa ragu bisa kuliah ke luar negeri bagaimana caranya? Jangan khawatir teman, saat ini sudah banyak penyedia beasiswa yang mau membiayai kamu selama masa studi. Coba tengok saja, di zaman masih sulit yaitu tahun 1960-an seorang anak bangsa mampu menjawab tantangan tersebut. Profesor. Dr. Husain Haikal, MA menjadi salah satu Putra pilihan yang menerima beasiswa ke Luar Negeri. Bagaimana cerita perjalanan beliau selama di Luar Negeri? Yuk langsung simak bersama :)

1. Sebagai seorang akademisi senior yang dikenal oleh banyak orang dan seluruh nusantara. Bolehkah diceritakan sekilas profil dari Prof. Husain Haikal, MA? Bisa dimulai dari asalnya dari mana, asal universitas mana, jurusan apa dan profesi saat ini?

Konon saya dilahirkan di Semarang pada zaman Jepang, fisik saya kecil dibanding orang tua maupun putra saya. Keluarga saya beragam etnis, bahkan ada buku Gan Peng, itu saya termasuk kelompok Ting Hoa. Tapi semua keluarga tidak ada yang berpikir suku kelompok, yang dipikirnya sebagai bangsa Indonesia.

Kemudian saya pindah ke Pekalongan, saya masih ingat saya naik truk dan saya masih ingat suasana-suasana penjajahan, ketika Belanda kembali ingin menjajah, berulang kali berkibar bendera merah putih biru. Saya sekolah sejak SD hingga SDA di Pekalongan. Kemudian saya mendaftar ke UNDIP dan UGM, saat itu untuk kuliah harus mendaftar dan ujian sendiri tidak seperti sekarang. Alhamdulillah kedua-duanya diterima. Kenapa diterima? Karena pendidikan lebih menekankan  mutu.

Saya masih ingat ketika ujian rakyat SD saya tidak lulus namun ujian negara saya lulus. Saya termasuk beruntung karena zaman itu belum banyak orang belajar. Pendidikan zaman itu tidak dipungut biaya, tahun 1963 saya masuk UGM bayarnya Rp 100 dan ketika masuk dipungut biaya Rp 400 bukan untuk kuliah tapi untuk OSPEK dan yayasan atau DEMA (Dewan Mahasiswa). Saya juga heran, kok sekarang mahal. UGM dikenal Universitas Genius Mahasiswanya dan sekarang jadi Universitas Gedi Mbayarnya. Saya saat ini sebagai Dosen di jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bagaimana kisahnya ditahun yang masih sulit informasi dapat melanjutkan pendidikan di Amerika?

Beasiswa itu saya dapatkan deng cara kita berjuang bersama teman-teman dekat saya antara lain seperti Sofyan Effendi, Amien Rais, Kuntowijoyo dan tidak ada garis pemisah, kami bergubungan baik. Saya ketemu Kunto dijembatan dan seperti biasa dia berjalan kaki. Lalu saya tanya “Darimana?” dan dia menjawab “Saya baru periksa kesehatan mau keluar negeri”. Dari situ saya bersiap-siap bagaimana dapat meraih kesempatan kuliah ke luar negeri juga.

Saya bersama Yahya A. Mohaimin yang sempat menjadi Menteri Pendidikan Nasional mengikuti tes yang diselenggarakan oleh British Council. Pada kesempatan yang sama akhirnya saya diterima oleh British Council, Fullbright, USAID dan LPPD (Lembaga Pendidikan Post-Doctoral) IKIP Bandung. Saya sempat kuliah di LPPD IKIP Bandung bersama Syafii Maarif.

Karena British Council  hanya memberikan pendidikan non-degree 1 tahun. Akhirnya saya memilih Fullbright yang memberikan kesempatan another degree. Pada tahun 1975 saya disarankan untuk masuk ke Duquesne University yang berlokasi di Pittsburgh, Pennsylvania untuk program Master hingga akhirnya melanjutkan S3 di University of Hawaii di Manoa Honolulu. Kuncinya adalah relasi berteman baik dan buatlah sebuah komunitas atau perkumpulan dengan orang-orang yang memiliki misi visi yang serupa.


Duquesne University tempat Prof. Dr. Husain Haikal menempuh Program Master

University of Hawaii di Manoa Honolulu tempat Prof. Dr. Husain Haikal menempuh Program Doktor


3. Mengapa kuliah di jurusan dan negara tersebut? Apa yang menarik dari negara ini dan menjadi motivasi dari Prof. Haikal?

Saya melanjutkan studi yang berkaitan dengan S1 saya yaitu Sejarah dan ketika di Amerika saya mengambil studi spesifik western culture, History Department, Faculty of Art, Duquesne University karena hasil saran ketika mendapatkan beasiswa Fullbright. Dilanjutkan dengan S3 saya dengan studi spesifik Indonesia and Western History. Namun, saya disarankan juga untuk mengambil studi tambahan India History dan Kependudukan, History Department, University of Hawaii. Motivasi saat itu adalah ingin mendalami ilmu tersebut dan masih sangat sedikit orang yang mau bersekolah untuk menuntut ilmu.

4. Apakah ada hal yang berbeda dari negara Indonesia dengan tempat studi? Dan apakah kesan pertama saat menginjakan kaki di negara tersebut?

Beberapa hal yang berbeda adalah terkait dengan:

1. Ketepatan waktu, disana semua orang terbiasa dengan ontime mulai dari kalangan anak-anak hingga orang berusia.

2. Fighting Spirit, hal ini dapat dilihat dari berbagai macam bentuk aktivitas orang-orang disana dalam menjalani kehidupan dan menyelesaikan sebuah pekerjaan.

3. Makanan yang beragam, disana memang sulit menjumpai makanan halal saat itu, apalagi saya adalah seorang muslim. Namun, saya tidak khawatir dan solusi saya temukan dengan memasak sendiri. Bahkan, kami para mahasiswa memanfaatkan special day yaitu dimana harga makanan yang ada dijual dengan harga yang murah.

4. Perbedaan iklim yang dimiliki, disana dengan 4 iklim yang berbeda dngan Indonesia hanya 2 iklim. Hal ini memberikan dampak terhadap perbedaan waktu solat. Saat musim dingin untuk solat magrib dilakukan pada pukul 16.00 waktu setempat, namun pada saat musim panas solat magrib dilakukan pada pukul 21.00 waktu setempat.

5. Bolehkah diceritakan tentang universitas tempat Prof. Haikal kuliah? Hal apa saja yang disukai dan direkomendasikan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke negara tersebut?

Untuk unversitas S2 saya di Duquesne University yang disukai adalah bagaimana atmosfer perkuliahan yang sangat aktif dan kompetitif termasuk fighting spirit yang saya sampaikan tadi.  Universitas ini merupakan salah satu universitas katolik TOP di Amerika. Selain itu, Kampus Duquesne adalah oasis yang seperti taman, terletak di puncak bukit tepat diatas jantung kota Pittsburgh yang hidup, dengan kemudahan mengakses seluruh fasilitas yang ditawarkan oleh kota tersebut.

Untuk universitas S3 saya di University  of Hawaii saya mendapatkan rekomendasi dan beasiswa lanjutan, sehingga saya melanjutkan studi di universitas tersebut. Karena beberapa hal, akhirnya studi S3 saya lanjutkan ke Universitas Indonesia.

6. Apa kelebihan dari kampus Amerika tempat Prof. Haikal menempuh studi? mungkin dari segi fasilitas, kurikulum, birokrasi, dan suasana J dan apakah pernah menemukan kesulitan?

Dari segi fasilitas kedua universitas ini relatif sama dan yang sangat saya sukai adalah akses ke perpustakaan yang dipermudah. Bahkan peminjaman buku yang dilakukan tidak terbatas pada satu universitas namun seluruh universitas yang ada di Amerika. Pada prinsipnya universitas-universitas tersebut justru senang ketika anggota perpustakaan yang ada semakin banyak, berbeda dengan negara Indonesia yang tidak jarang justru dipersulit dengan sistem birokrasi yang ada.

Untuk kurikulum yang ada di universitas tersebut berbeda dengan yang ada di Indonesia. Banyaknya SKS yang ada tidak ditentukan sebanyak disini. Saat itu saya hanya mengambil sebanyak 30 SKS untuk S2 dan saya berhasil menyelesaikan selama 1,5 tahun. Yang paling unik adalah untuk setiap mata kuliah tidak harus sesuai dengan yang ditentukan, namun jika kamu minat dengan studi lain, meskipun berbeda jurusan, fakultas bahkan universitas anda tetap bisa mengikuti kelas tersebut melalui rekomendasi dari student advisor anda.

Terkait kesulitan yang saya alami pertama kali adalah sistem pendidikan yang berbeda dibandingkan saat saya masih S1 di Indonesia.

7. Terkait dengan bahasa inggris, Prof. Haikal tentu menjadi persyaratan mutlak bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi. Lalu bagaimana dengan kemampuan bahasa inggris Prof. Kala itu. Adakah kesulitan? Jika iya, bagaimana cara menghadapi dan solusinya?

Apabila bahasa Inggris tidak digunakan lamban laun akan menjadi semakin drop. Begitupun sebaliknya, jika digunakan terus menerus maka akan semakin terasah. Selain itu, saat itu saya yang memang sudah menjadi salah satu dosen di IKIP saat ini UNY berlatih bersama dengan dosen lain yang tertarik melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Selain itu, dahulu saya ingat jika ada turis asing yang ke Jogja, saya sering ajak mereka bincang, sekedar untuk mengasah kemmapuan bahasa Inggris yang saya miliki.

8. Kalau sudah sampai sana bagaimana caranya beradaptasi baik dengan suasana belajarnya? Apakah kompetitif dan sulit?

Karena semangat belajar dan pola pikir yang maju, kehidupan dan dunia pendidikan di Amerika antar mahasiswa tentu sangat kompetitif sekali. Saya masih ingat dahulu, Indonesia mengirim mahasiswanya untuk bersekolah ke Amerika hanya sebanyak 1 orang itupun dengan beasiswa luar negeri, sedangkan negara Malaysia mampu mengirimkan 10 orang dengan beasiswa dari negerinya sendiri. Itu juga yang menjadi motivasi penting bagi saya saat itu.

Untuk adaptasi yang saya lakukan adalah saya berusaha untuk tidak malu bertanya kepada mereka jika saya belum tahu, karena prinsipnya “malu bertanya sesat dijalan”. Selain itu karena Profesor dan juga dosen yang sangat enak, ramah dan bersahabat, hal tersebut menjadi kemudahan tersediri dalam belajar dan mendapatkan bimbingan serta ilmu selama di Amerika.

9. Apa pengalaman paling tidak terlupakan selama di Amerika?

Pengalaman paling unik bagi saya adalah karena Amerika memiliki musim yang berbeda dengan Indonesia. Saat musim dingin tiba, saya dan teman-teman tak jarang memanfaatkan toko second hand karena terbilang terjangkau. Atau paling tidak kami memanfaatkan barang-barang yang dibuang dibak barang layak pakai. Hal tersebut kami lakukan selain untuk berhemat juga karena saya berpikir tentu barang-barang tersebut tidak akan terpakai jika saya membelinya dna saat kembali ke tanah air. Bagi saya itu sangat unik.

10. Hal hal apa saja yang dirasakan karena bisa kuliah di Amerika? Lebih percaya diri, bisa memiliki pandangan yang optimis jauh ke depan tentang masa depan Indonesia? Atau hal positif apa yang Prof. Haikal pelajari selama belajar di Amerika?

Saya semkain tahu bahwa tidak semestinya kita tidak terpaku pada kesulitan-kesulitan yang terjadi pada birokrasi seperti di negara kita. Kita dapat berbuat sebaik-baiknya bagi bangsa dan negara ini dengan perbaikan serta optimisme yang kita bangun bersama.

Hal positif yang saya pelajari dari sana adalah belajar dari apapun dan siapapun, sehingga ilmu kita semakin bertambah dan barokah.

11.  Adakah nasihat serta tips dan trik dari Prof. bagi kawan-kawan yang ingin melanjutkan pendidikan di Amerika?

Sebetulnya kita sudah ada modalnya, namun terkadang niat dan kemauannya. Yakin dan percayalah bahwa setiap usaha akan menghasilkan karya terbaiknya. Banyak pemimpin besar yang terlahir dan mengenyam pendidikan disana, jadi yakinalah bahwa kalian bisa :)

Prof. Dr. Husain Haikal, MA befoto dengan buku JKLN

Testimoni untuk JKLN
“Ide ini bagus menciptakan buku dilengkapi  video interview yang akan memberikan motivasi besar bagi putra putri Indonesia untuk menimba ilmu ke Luar Negeri”

Terima kasih,  Prof. Haikal :) Sukses untuk aktivitas dan berkarya-nya saat ini baik bagi nusa dan bangsa serta dunia :)

Warmest Regards,
Pebri Nurhayati, S.Pd
Share on Google Plus

About pebri nurhayati

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.