Kisah Inspiratif Dari Ida Puspita: Dosen Muda UAD Peraih Beasiswa Australian Development Scholarship!

Australia? Seberapa menariknya negara ini? Kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara ini? Emang ada beasiswa ke Australia? ...

Australia? Seberapa menariknya negara ini? Kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara ini? Emang ada beasiswa ke Australia?


Kalau kamu punya mimpi kuliah ke Australia tapi masih bertanya seperti itu berarti kamu masih perlu update berita tentang Australia lebih banyak lagi. Australia termasuk salah satu negara favorit mahasiswa Indonesia untuk dijadikan negara tujuan untuk menimba ilmu. Biaya hidup yang tinggi bukan halangan untuk bisa kuliah di negera  ini. Ada banyak beasiswa yang bisa mengcover biaya pendidikanmu.

Mungkin kamu nggak begitu yakin dan mantap dengan informasi yang kamu peroleh sampai saat ini. Nah, mending sekarang silakan simak penjelasan panjang tentang pengalaman dari mbak Ida selama kuliah di Australia. Silakan simak ceritanya dengan hikmat ya...

Halo teman-teman berkuliah.com,
Perkenalkan nama saya Ida Puspita, saat ini saya sedang mengajar (dosen) di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Saya menjadi dosen sejak tahun 2004 di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris. Saya kuliah di Australia mengambil program Master pada tahun 2011 di Universitas Wollongong, Jurusan School of English Literatures and Philosophy, dan saya berhasil menyelesaikannya pada tahun 2012 akhir.

Kenapa saya memilih Australia?

Jadi ceritanya gini, pada awalnya saya sebelum memilih Australia, saya dapat tawaran kuliah dengan beasiswa ke Taiwan. Soalnya pada waktu itu, pemerintah Taiwan sedang jor-joran buat kasih beasiswa kepada mahasiswa Internasional. Tapi, setelah saya pikirkan berulang kali, saya kan mau kuliah sastra inggris, kok ke Taiwan? Paling nggak saya harus kuliah ke negara yang berbahasa Inggris dong, setelah itu baru saya memutuskan untuk ke Australia. Selain itu Australia letaknya juga lumayan dekat dengan Indonesia, dan jurusan saya ada di sana.

Penglaman Seputar Apply



Pertama kali waktu itu saya mencari peluang beasiswa ya tentunya. Soalnya kalau pakai biaya sendiri pasti sangat mahal. Kemudian karena saya dosen, jadi saya memanfaatkan kesempatan yang ada, dan saya mendaftar beasiswa DIKTI. Nah, pada waktu itu saya sudah sampai tahap wawancara, kebetulan saya daftar bareng dengan suami, dan kami berdua gagal.

Saya sempat bertanya kepada pihak DIKTI, “Kenapa saya gagal?”

Ceritanya, kebetulan nomor urut wawancara saya dengan suami itu berurutan, saya lebih dulu baru setelah itu suami saya. Nah pada waktu itu saya ditanya, “Bagaimana dengan keluarga, apakah akan dibawa juga ke Australia?” Karena saya terbiasa jujur, maka dari itu saya mengatakan bahwa suami saya juga ikut mendaftar untuk kuliah ke Australia dengan beasiswa DIKTI.

Kemudian pihak DIKTI bertanya kembali “Nama suaminya siapa?”
Lalu saya sebutkan nama suami saya, dan ditanya lagi “Sekarang suami anda dimana?” Saya jawab “Suami saya sedang di luar menunggu giliran untuk wawancara”,  dan nama suami saya pun di catat oleh petugas wawancara. Kemudian saya hanya ditanya 3-4 pertanyaan dan selesai.

Setelah itu giliran suami saya untuk wawancara di tempat yang sama. Saat suami saya belum duduk sudah ditanya namanya, dan suami saya menjawab iya itu nama saya, kemudian nama suami saya di lingkari. Prosesnya sama, cuma ditanya 3-4 pertanyaan setelah itu selesai. Setelah itu kami sudah punya bad feeling, “Ada apa ya kok ditanya-tanya seperti itu?” dan akhirnya memang betul, kami tidak lolos pada saat itu.

Pada waktu itu kami sempat berburuk sangka, tapi akhirnya kami sadar dan yasudahlah. Pada akhirnya suami saya menyerah, namun saya masih tetap semangat dan terus berusaha mencari jalan dan beasiswa lain. Setelah itu saya memutuskan tidak mendaftar beasiswa DIKTI lagi, saya mau mencoba beasiswa yang sistemnya lebih transparan. Akhirnya saya mencoba mendaftar Australian Development Scholarship (ADS), kalau sekarang namanya sudah ganti menjadi Australian Awards Scholarship (AAS).


Setelah saya mendaftar ADS, disusul ada kabar baik dari DIKTI, bahwa kami bisa mendaftar lagi. Pada waktu itu, akhirnya saya mendaftar DIKTI lagi, suami saya sudah menyerah lah pokoknya, tapi saya mengirimkan berkas suami saya tanpa sepengetahuan beliau. Akhirnya kami berdua dipanggil untuk wawancara, nah di sini kami merasakan ada perbedaan. Kami merasa bahwa kami akan lulus di wawancara ini.

Pada waktu itu, ADS tetep jalan terus. Kabar baiknya, saya diterima ADS sebelum pengumuman dari DIKTI. Kemudian saya menelpon pihak DIKTI untuk memberitahukan hal ini, sehingga nantinya jika saya diterima beasiswa DIKTI, nama saya bisa digantikan oleh orang lain. Setelah itu, pengumuman DIKTI, suami saya akhirnya diterima, dan kami bisa kuliah di Australia sama-sama, dan di universitas yang sama.

Lalu untuk berkas-berkasnya memang cukup memakan waktu dan tenaga dalam proses pengumpulannya. Kalau DIKTI, kita harus apply sendiri ke universitas tujuan, dan untuk bisa mendaftar ke DIKTI, kita harus sudah punya LoA (Letter of Acceptance), dan kalau bisa yang LoA Unconditional. Nah, untuk mendapatkan LoA Unconditional syaratnya kita harus sudah punya sertifikat IELTS. Jadi untuk daftar ke DIKTI dokumen penting urutannya Sertifikat IELTS, kemudian LoA, dan baru syarat yang lainnya.

Pada saat itu kami di bantu oleh salah satu lembaga yang ada di Yogyakarta yaitu Edlink. Lengkapnya Edlink & Connex International Education Consultancy, http://www.edlinkeducation.com/. Almanatnya di Jalan Poncowinatan No. 77, Yogyakarta (0274) 517957.  Nah, Edlink ini membantu sekali dalam pengisian-pengisian formulir , terutama pendaftaran dan pengisian aplikasi. Awalnya kami ingin ke IDP, tapi karena sudah ada kenalan di Edlink, jadi ya Edlink aja.

Kemudian untuk IELTS, menurut saya sangat susah. Jadi saran saya adalah, jangan menganggap sambil lalu, kamu harus belajar  dan mempersiapkan sebaik mungkin. Selain memang biaya tesnya yang mahal, jadi supaya nggak rugi nantinya ketika kamu mengikuti TES IELTS.  Kami yang notabene guru, dosen, pengajar dalam bidang bahasa Inggris di Universitas, yang sudah biasa mengajarkan hal yang sama, menulis Essay bahasa Inggris , dan sebagainya. Ternyata ketika kami dihadapkan dengan ujian IELTS, belum tentu semudah yang dibayangkan.

Jadi untuk mendapatkan LoA itu kita harus mengirimkan sertifikat IELTS. Nanti ketika daftar sudah ada form yang harus di isi menggunakan data IELTS kita. Untuk IELTS ini kita bisa daftar ke beberapa lembaga pendidikan bahasa Inggris. Kalau dulu saya daftar ke IALF (Indonesian Australian Language Foundation) Jakarta. Kalau di Jogja itu ada Real English. Nah skor IELTS untu Master pada waktu itu 6.5 minimal. Dengan syarat tidak ada skor/ nilai di bawah 6 di setiap skor (Reading, Listening, Writing, Speaking). Dan biaya untuk tes IELTS pada waktu itu dua juta lebih, dan semuanya tergantung kurs. Kalau untuk Edlink tidak dipungut biaya baik sebelum dan sesudah kuliah.

Tentang Kampus Wollongong dan Jurusan Sastra Inggris

Rata-rata kampus di Australia ini sudah sangat advance, sudah sangat bagus dan besar. Kampusnya memiliki perpustakaan yang sangat besar, memiliki banyak referensi yang luar biasa, dan saya pikir semua kampus di Australia sudah seperti itu. Kalau kita membutuhkan referensi yang saat itu tidak ada di perpustakaan,  kita bisa sampaikan ke petugas perpustakaan kita butuh apa, halaman berapa sampai berapa, dan tidak sampai satu hari biasanya sudah sampai di email kita, dan itu sangat lengkap bisa dari universitas lain di seluruh dunia. Kenapa demikian? Karena perpustakaannya sudah terkoneksi secara online dengan universitas kampus lain di seluruh dunia.

Sebagai informasi, pada tahun 2015 DIKTI mengurangi jumlah universitas di Australia yang dijadikan tujuan kuliah menggunakan beasiswa DIKTI. Pada tahun lalu masih 35 unviersitas di Australia, dan saat ini menjadi 10 universitas, dan Wollongong masih masuk dalam daftar 10 universitas yang masih di percaya.

Untuk jurusan saya banyak hal menarik di dalamnya. Nah dalam Sastra Inggris, selama ini dari S1 saya selalu belajar Sastra Inggris yang berasal dari Inggris. Sastra ini disebut Sastra Agung atau Canon. Jadi Canon ini adalah karya-karya sastra Agung jaman dulu, kayak karya sastra dari William Shakespeare dan sebagainya. Nah ketika saya masuk di Universitas Wollongong, jurusan ini namanya English Literatures bukan English Literature, ada huruf “s” di belakang. Kenapa demikian? Setelah saya tanya, jawabannya, “Fokus dari jurusan sastra Inggris di University of Wollongong itu berbeda dari kebayakan universitas lainnya. Karena yang dipelajari di sini bukan hanya karya sastra agung saja dari Inggris, tapi karya sastra inggris lainnya yang tidak hanya berasal dari Inggris. Misalnya karya sastra Inggris yang ditulis oleh orang-orang Aborigin, atau karya sastra Inggris yang ditulis oleh orang-orang India. Jadi intinya adalah karya sastra manapun dari manapun yang ditulis dalam bahasa Inggris.


Kalau tempat favorit saya di kampus Wollongong ini ya perpustakaan. Soalnya bisa betah banget, dan bukanya sampai jam 10 malam. Saya pikir begini, kenapa di Indonesia menulis skripsi atau thesis itu lama sekali? Sebabnya bukan karena ketidak mampuan mahasiswanya,t api adalah keterbatasan referensi/ resources. Jadi ketika kita bandingkan perpustakaan di Australia dan di Indonesia ya beda jauh, soalnya di Australia itu perpustakaan diibaratkan jantung . Mahasiswa kan perlu riset, dan riset perlu referensi yang banyak. Nah di Indoensia tidak banyak universitas yang memiliki jantung yang sehat. Karena rata-rata universitas di Indonesia perpustakaannya masih sangat kecil, jadi tidak di anggap sebagai organ tubuh yang penting dalam proses hidup universitas.

Kalau animo mahasiswa Australia nya banyak sekali yang tiap harinya datang ke perpustakaan, karena fasilitasnya sangat lengkap ada 5 lantai. Kita bisa booking ruangan untuk diskusi bersama dengan teman-teman. Kemudian di lantai atas ada tempat training, ada tempat baca pastinya, tempat foto copy mandiri tinggal gesek pakai kartu mahasiswa, dan macam-macam.

Menariknya Mengerjakan Thesis di Wollongong

Saya mendapatkan supervisor 3 orang, dan saya sangat beruntung. Thesis saya tentang “Perbandingan Sastra Australia dengan Sastra Indonesia yang Berbahasa Inggris”. Saya memandingkan tulisan Pramoedya Ananta Toer dengan penulis Australia Susannah Katherine Prichard yang menulis tentang  Suku Aborigin Australia. Saya mendapatkan 3 pembimbing yang sangat luar biasa, salah satunya ahli dalam bidang Indonesia. Mereka sangat luar biasa, saya tidak pernah menemukan sebelumnya hubungan dekat antara Dosen dengan Mahasiswa. Di Australia sendiri dalam memanggil dosen cukup dengan nama depan saja, itu sudah menunjukkan kedekatan, dan melambangkan tidak ada jarak antara dosen dengan mahasiswa.

Ada sebuah sistem per dua minggu (minimal), kita harus ketemu untuk membahas dan melakukan evaluasi thesis. Sebelum dua minggu kita sudah mengirimkan thesis kita via email, setelah dua minggu kita ketemuan di mana sambil membicarakan thesis tersebut. Karena saya di Wollongong saya mengambi major thesis, setengah dari halaman desertasi. Minimal dua minggu ketemu itu mereka gunakan untuk evaluasi total, bukan hanya sekedar memberikan masukan, tapi sampai ke grammar. Nah, dari situ saya berpedoman bahwa nanti ketika saya pulang ke Indonesia akan meniru style mereka dalam membimbing.

Oh iya, soal evaluasi ini karena di Australia sangat mementingkan go green ya, jadi mengeprint itu sangat di minimalisir. Jadi koreksi/ evaluasi dilakukan dengan langsung di Ms. Word atau aplikasi lainnya. Kalau grammar mereka langsung membenarkan di tempat, tapi kalau untuk konsep ada hal yang spesial. Dalam konsep mereka hanya memberikan masukan, mau diterima atau tidak terserah kita. Mereka tidak pernah memaksakaan sekalipun itu benar menurut mereka. Jadi betul-betul manusiawi.

Nah, kebudayaan di Indonesia sering sekali mahasiswa bawa makanan atau barang lain untuk dosen pembimbing. Saya coba sekali waktu itu, dan mereka menolaknya dengan mengatakan “You don’t have to do this!”, mereka juga mengatakan bahwa kita sudah bekerja dengan keras, dan itu sudah sangat cukup. Bahkan saya pernah memberikan novel Pramoedya dan mereka bersikeras untuk mengganti, dan saya mengatakan tidak usah diganti, karena saya tidak ada maksud ada apa-apa.
Dalam memilih tema thesis, saya sudah mengontak pembimbing pada saat apply. Dalam website universitas sudah tertera dosen-dosen pembimbing beserta CV nya. Setelah saya memutuskan oh ini dosen yang bagus, maka saya segera mengontaknya dengan mengirimkan draf proposal thesis saya hanya tiga halaman yang penting sudah menjelaskan bahwa nanti kita di sana akan meneliti apa. Setelah mereka melihat kemudian mereka menyutujui, setelah kita mendaftar dan aplikasi sudah masuk, bagian pendaftaran langsung mengkroscek ke pembimbing yang kita sebutkan. Ketika pembimbing sudah mengatakn iya, maka proses kita akan lebih mudah.

Pada waktu itu yang mendaftarkan saya ke universitas dari ADS karena saya penerima beasiswa.  Saya tinggal menuliskan 2 pilihan, mirip sekali dengan SNMPTN , jadi ada pilihan 1 dan ada pilihan 2. Kalau misal yang 1 tidak lolos, kemudian akan ke pilihan ke 2. Tapi karena saya meminta ke Wollongong karena saya sudah mendapatkan LoA, maka ADS memfasilitasi hal tersebut.

Dosen Favorit dan Mahasiswa

Dosen favorit saya adalah salah satu dari supervisor saya, walaupun tiga orang supervisor saya juga sangat istimewa. Nama dosen favorit saya ini adalah Dr. Tony S da Silva, beliau ini adalah orang Australia namun aslinya Portugis. Kenapa saya bisa memfavoritkan beliau? Karena sampai sekarang kami masih terus kontak. Bahkan setelah lulus pun beliau ini bersedia datang ke UAD untuk menjadi Guest Lecture (Dosen Tamu). Beliau datang tanpa kami harus membiayai tiketnya. Kami hanya sekedar memfasilitasi beliau selama ada di Jogja. Sekarang beliau sudah pindah di University of Tasmania, dan beliau masih mengabarkan kepada saya tentang kepindahannya.

Untuk karakter mahasiswa Australia dan mahasiswa internasional secara umum, mungkin bisa kita ceritakan tentang silaturahmi. Nah, kalau orang Indonesia misalkan kedatangan tamu atau ada orang asing di sekitar kita, kita pasti open dan welcome sekali. Tapi ketika kita ada di Australia, terutama untuk penduduk di sana, memang secara permukaan mereka ramah, tapi ketika sudah lama di sana, keramahan itu hanya sekedar basa-basi, dan mereka tidak cukup terbuka dengan orang-orang internasional. Karena mungkin mereka terbiasa dengan bahasa mereka sendiri, sedangkan style Australia lumayan berbeda, jadi untuk ngobrol agak ada jarak “language barrier”.

Kalau budaya sih, mungkin karena mahasiswa Australia sering banget habis dari kelas nongkrong di bar. Sedangkan karena saya muslim, jadi kalau mau nongkrong saya sendiri merasa kurang nyaman. Tapi yang paling utama itu memang ada sedikit perbedaan aksen atau style bicara.
Pengalaman saya, selama 3 hari pertama saya masih belum bisa mengikuti mata kuliah yang disampaikan oleh dosen. Karena dosennya sendiri juga menggunakan aksen Australia yang sangat cepat. Setelah cukup lama, saya sudah mulai terbiasa dengan aksen tersebut.

Nah, dalam bergaul ada hal yang harus diperhatikan. Kalau bisa kita jangan menanyakan tentang usia, agama, status pernikahan, dan politik. Kenapa politik? Karena kemungkinan lawan bicara kita adalah pendukung salah satu partai politik yang sedang kita bicarakan, dan jika kita menjelek-jelekkan, nanti bisa terjadi gap.

Seputar Kegiatan PPI dan KBRI

Kalau PPIA Wollongong itu sangat aktif juga, kebetulan waktu itu saya menjabat sebagai Koordinator Kreativitas Seni dan sekaligus menjadi Manager dari Tim Tari Saman di sana. Kita selalu mengadakan event-event misalnya 17 Agustus. Kalau pas 17 Agustus kita sering ngadain lomba-lomba, misal lomba makan kerupuk sering kita ganti jadi lomba makan donat, karena nyari kerupuk di Australia lumayan susah, sekali ketemu harganya mahal. Untuk lomba masukan paku dalam botol, membawa kelereng, masih bisa kita lakukan untuk anak-anak. Kemudian untuk pentas seni kami sering mengadakan baik untuk dewasa dan anak-anak yang ikut orang tuannya kuliah di Australia. Kemudian untuk Tari Saman beberapa kali sering tampil di event Australia, misalnya International Day di University of Wollongong, Welcome to Wollongong acara pemerintah yang ditujukan untuk menyambut mahasiswa Internasional yang datang ke Wollongong. Kemudian ada Harmony Day, diselenggarakan oleh KJRI.

Tim Saman Dance 
Paling menarik adalah saat mengisi di acara Our Back Yard Festival. Ini lebih ke kebudayaan masyarakat Australia, karena mereka punya halaman belakang yang lebih luas daripada halaman depan. Halaman belakang sering mereka gunakan untuk acara kumpul keluarga, barbeque, dll. Dalam festival ini ada banyak hal, bazar, orang yang jualan makanan, dan PPIA sering mengisi pada acara pentas seninya. Nah, mereka sangat kagum dan tertarik dengan tari saman karena gerakkannya semakin lama semakin cepat.

KJRI sangat mensupport kegiatan kami baik dalam bentuk moril dan materi untuk melaksanakan kegiatan PPIA. Kita juga mengajarkan tari saman ke sekolah SMA di Australia. Bahkan di sekolah tersebut juga ada pelajaran bahasa Indonesia.

Seputar Transportasi, Sekolah Anak, Alat Komunikasi, dan Belanja-Belanja

Selama di Australia saya memakai sepeda, karena saya punya. Tapi kalau yang paling favorit ya bus, soalnya bus di Wollongong ini gratis buat siapa aja, dan pelayanannya sampai jam 10 malam, ini merupakan fasilitas dari pemerintah. Selain itu ada kereta yang saya gunakan untuk ke Sydney kalau pas liburan aja. Karena saya penerima ADS, maka saya juga dianggap sebagai half citizen, jadi setengah orang Indonesia, setengah orang Australia. Oleh sebab itu, saya bisa mendapatkan fasilitas seperti warga Australia, dan diskon-diskon lainnya.


Biasanya untuk keluarga ada yang namanya Sunday Funday. Artinya untuk family day, bisa dapat potongan setengah harga untuk naik bus dan kereta selama masih di New South Wales yang penting hari minggu dan bawa keluarga. Uniknya temen-temen Indonesia yang belum punya anak biasanya pinjam anak dari temen-temen yang punya lebih dari satu anak untuk mendapatkan fasilitas di Sunday Funday tersebut.

Waktu itu saya sudah punya satu anak umur 3,5 tahun, dan saya masukkan Pre-School sampai Kindergarten. Karena saya penerima beasiswa ADS dan sudah dianggap sebagai half citizen makannya anak saya waktu saya masukkan Pre-School mendapatkan potongan harga. Jadi waktu itu saya hanya membayar setengahnya. Ada aturan menarik di Australia, karena negara ini sangat peduli dengan keluarga. Negara ini menyatakan, jangan masukkan anak kesekolah sebelum TK, sebab anak pada umuran di bawah TK itu harus masih selalu di dampingi orang tuannya. Namun jika sudah sangat terpaksa, silakan masukkan ke Pre-School, tapi memang risikonya sangat mahal.

Waktu anak saya masuk TK itu gratis karena saya termasuk half citizen, tapi jika penerima beasiswa DIKTI non ADS, masih harus bayar. TK sudah dianggap pendidikan wajib, dan mulai dari TK sampai kelas  6 itu gratis, serta SD-kelas 6 SD itu sudah dalam satu lingkungan. Nah, syarat untuk sekolah disana tinggal datang aja dan daftar, kasih foto aja. Waktu itu posisi anak saya sudah di Australia, dan mungkin berbeda jika posisi anak masih di Indonesia. Untuk paspor, anak saya waktu itu sudah punya paspor.

Untuk SIM Card selama di Australia saya pakai Vodavone. Untuk alasannya saya lupa persisnya, tapi di Australia waktu itu sangat populer.

Soal belanja kalau saya sih pengennya ke toko asia terus, lupa namanya apa. Soalnya, produk-produk asia banyak termasuk Indonesia, tapi memang harganya mahal, soalnya import. Kalau yang lebih populer ada swalayan yang namanya Woolworths. Kalau saya sih lebih sering masak, dan misal kalau mau jajan masakan Indonesia harus ke Sydney karena pada waktu itu belum ada restoran Indonesia. Pada waktu itu banyaknya restoran Thailand dan Vietnam, tapi sekarang sudah ada restoran Indonesia. Tapi memang lebih baik masak sendiri, apalagi kita bersama keluarga.

Tidak banyak masyarakat muslim di Australia, jadi ketika kita hendak mencari makanan halal, ada beberapa restoran yang memberikan logo halal food di depannya. Nah, jadi kita bisa ke restoran ini, biasanya ada Jepang, Thailand, dan asia lainnya ada logo halal food.

Untuk menjaga sholat saat berada di luar negeri itu lumayan nyaman karena kalau di Wollongong itu ada masjidnya. Mungkin ini karena Wollongong membuka cabang di Dubai, jadi di universitas Wollongong ada masjid. Kalau dalam perjalanan memang agak susah, tapi kita bisa kok sholat di pinggir jalan atau dimana aja, yang penting jangan lupa bawa sajadah kecil. Memang untuk cari air buat wudhu agak susah, kalau di jalan kita bisa tayamum. Menurut pengalaman, saya pernah sampai menangis pada waktu itu karena pada hari pertama saya belum tahu lokasi masjid dimana dan susah sekali mencari tempat wudhu. Buka kran di taman susah sekali, dan masuk toilet di kampus ada aturan kalau di toilet ga boleh ada cipratan air, udah kesana kemari dan akhirnya terduduk menangis, sampai pada akhirnya teman saya menyarankan untuk tayamum. Akhirnya saya tayamum setelah kesana kemari karena waktu dzuhur udah mau habis.

Akomodasi

Jadi ceritanya pada waktu itu saya lumayan tertolong karena salah satu supervisor saya pensiun. Karena pensiun akhirnya saya diminta untuk menunggu selama satu semester sampai pada akhirnya saya mendapatkan ganti supervisor  yang baru. Akhirnya suami saya berangkat duluan, tapi suami saya pada waktu itu belum punya akomodasi juga. Akhirnya beliau tinggal di tempat teman Indonesia yang sudah lebih dulu kuliah di Australia. Jadi kita numpang terlebih dahulu, baru nanti sambil cari  akomodasi.

Sebagai informasi, akomodasi di Australia itu pertama harganya mahal, dan kedua untuk mendapatkannya itu sangat susah karena kita harus bersaing dengan banyak sekali mahasiswa internasional lainnya. Bahkan, kalau ada sati berita tentang akomodasi, yang ngantri itu bisa banyak sekali untuk survei dan melihat. Memang sih University of Wollongong menyediakan asrama untuk mahasiswa internasional, baik yang singgel ataupun yang sudah berkeluarga.  Tapi memang kita harus daftar terlebih dahulu, dan modelnya antri. Jadi waktu kita sampai di Australia belum tentu dapat nomor antriannya, dan kita harus daftar lewat website dan juga harus bayar dulu, waktu itu sekitar 75 dollar Australia.  Walaupun sudah bayar, saat kita tiba di Australia kita udah dapat akomodasinya.

Pada waktu itu saya sudah mendaftar, namun baru satu tahun kemudian kami mendapatkan akomodasinya. Kemudian kami memutuskan untuk tidak pindah, karena kami sudah merasanya nyaman dengan akomodasi kami saat itu. Untuk Wollongong ini akomodasinya lebih murah daripada di Sydney, karena di tempat kami pada waktu itu masih boleh  210 dollar per minggu. Jadi kalau satu bulan sekitar 840 dollar. Memang uang beasiswa itu setengahnya untuk akomodasi, dan setengahnya untuk makan, dan lain-lain.

Bekerja Part Time

Menurut pengalaman saya, mahasiswa Indonesia banyak sekali yang bekerja sebagai cleaning service, di bioskop, di bar-bar, di club malam, dan di restoran. Ada yang biasanya kerja sebagai kitchen hand (pencuci piring) di restoran-restoran. Karena cleaning service ini membutuhkan tenaga ekstra, maka pada waktu itu saya memilih bekerja sebagai kitchen hand di salah satu restoran vietnam. Kitchen hand ini bekerjanya malam hari, jam 12 malam sampai jam 5 pagi. Untuk gajinya 15 dollar per jam, dan mungkins ekarang udah naik.

Kitchen hand di luar negeri ternyata beda lho sama pencuci piring di Indonesia. Ada banyak teknologi dalam mencuci piring, ada yang semprot dari atas dan pokoknya pakai mesin-mesin. Piring yang harus saya cuci ini besar-besar dan banyak lemaknya yang susah bersihinnya. Pada waktu itu saya sudah bawa anak, dan saya bekerja dengan suami saya. Waktu saya bekerja dengan suami saya, anak saya taruh di dalam mobil. Sayacuma bisa bertahan satu hari, dan suami saya yang bisa melanjutkan. Karena saya merasa tidak sanggup, karena mungkin saya sudah punya anak dan besoknya harus kuliah.

Kemudian saya merasa beruntung karena ada tawaran dari ABC TV (TV Australia) untuk mahasiswa Internasional siapapun untuk menjadi guest star dalam film dokumenter. Akhirnya saya mengikuti proses seleksinya, dan yang ikut sangat banyak sekali, banyak mahasiswa Internasional dari seluruh Australia yang mengikutinya. Alhamdulillah akhirnya dari 11 orang yang terpilih saya termasuk salah satu di dalamnya untuk mewakili Indonesia. Walaupun 4 hari saja, tapi gajinya besar sekali karena itu dari stasiun TV.

Dalam acara dokumenter itu, kami sebagai tokoh utama dalam film dokumenter, judulnya “My Australia”. Film ini menceritakan  tentang pengalaman mahasiswa Internasional yang tingga dan kuliah di Australia. Mereka diminta untuk menceritakan bagaimana cara menyesuaikan diri dengan berbagai macam perbedaan, mulai dari budaya, cuaca, sistem pendidikan, dan sebagainya. Waktu itu saya diminta untuk memilih apa sih yang ingin saya tunjukkan, dan akhirnya saya memilih ingin bertemu dengan orang Aborigin di Australia,  ingin belajar olahraga di Australia, dan terakhir ingin camping di Australia.

Episode pertama saya belajar melukis Aborigin. Saya diajak ke komunitas Aborigin, dan di situ saya syuting  8 jam dalam 1 sehari. Episode berikutnya saya syuting tentang keseharian saya sebagai mahasiswa, sebagai ibu rumah tangga, manajer tari saman, dan aktif memberi dari PPIA. Hari berikutnya saya syuting tentang belajar Lawn Bowling, yaitu bowlingnya australia yang bukan di ruangan tapi di rumput. Keempat saya syuting tentang belajar camping dengan pemandangan alam Australia yang istimewa. Nah, acara ini ditayangkan di 45 negara Asia Pasifik, dan di Indonesia ditayangkan di TV kabel. Tayangan ini juga tersedia di youtube, kalau mau melihat silakan cari dengan keyword My Australia Ida.

Pengalaman Traveling

Pada saat liburan sering sekali saya sekeluarga menghabiskannya dengan jalan-jalan. Pertama saya dan keluarga ke Snowy Mountain, cukup jauh dari Wollongong, sekitar 8-9 jam ditempuh menggunakan mobil ke arah Selatan dari Wollongong. Lokasinya hampir mendekati Melbourne. Kemudian yang kedua kami ke Canberra (Ibu Kota Australia). Kami tempuh dengan jalan darat sekitar 5 jam. Kemudian kami ke Queensland  yang jauh sekali dari Wollongong, kami tempuh menggunakan mobil selama 14 jam, jadi saya gantian nyopirnya dengan suami saya. Kami nggak pakai SIM Internasional, karena SIM Indonesia ternyata bisa di pakai di sana.

Kenapa kami nggak bisa cepet, soalnya di Australia nggak bisa kebut-kebutan dan ada patokan speed. Kita nggak bakalan dikejar sama polisi kalau misal kita kebut-kebutan, tapi nanti tiba-tiba ada surat yang datang ke rumah kita dan harus langsung bayar. Pernah saya ke New Zealand karena saya harus persentasi ke sana, tepatnya di Wellington.

Menurut saya dari sekian banyak tempat yang saya kunjungi, yang  paling menarik adalah Snowy Mountain karena di sana saya bisa melihat salju untuk pertama kalinya. Tapi memang, setelah melihat salju saya berpikiran bahwa salju itu tidak sebagus yang dibuku atau di tv, bentuknya mirip banget sama es serut. Tapi saya pikir saya nggak kuat kalau harus tinggal lama di daerah dingin.

Pencapaian Akademik

Pertama yang membuat saya bahagia adalah saya bisa mendapatkan beasiswa ADS yang memang sangat kompetitif dengan jurusan Sastra Inggris. Karena menurut pengalaman teman-teman selama ini, sastra Inggris banyak sekali yang gagal untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS. Entah itu tema thesis atau penelitian saya yang tidak terlalu jauh dari Indonesia atau ada faktor lain. Dalam hal ini Rektor UAD juga sangat bangga, karena sampai saat ini baru ada dua orang yang bisa mendapatkan beasiswa ini.

Kedua adalah saya bisa menyelesaikan thesis tepat waktu. Jadi itu kebanggan yang luar biasa buat saya sendiri. Karena, kita kan nggak bisa tinggal lama-lama di Australia. Jadi kalau sudah selesai tepat waktu, artinya kita bisa pulang tanpa beban. Karena ada juga teman yang sudah pulang tapi thesis atau disertasinya belum selesai.

Pengalaman Paling Menarik dan Berkesan

Selain tadi terlibat dalam film dokumenter dengan ABC TV, saya juga punya pengalaman yang sangat berkesan tentang sistem pendidikan di Australia. Ketika saya menyekolahkan anak saya di sana, saya jadi tahu dengan sistem pendidikan yang sangat luat biasa dan sangat ramah dengan anak, sehingga patut kita contoh. Misalnya begini: untuk menghindari timbulnya gap antara senior dan junior disekolah TK, maka di saat anak masuk ketika itu juga dipasangkan dengan buddy (teman) yang dari kelas 6 atau kelas 5. Jadi yang menyambut mereka ini kakak kelasnya dan mereka sangat ramah. Jadi yang menyambut dan memperkenalkan semuanya adalah kakak kelas. Kalau misal butuh apa-apa nanti tinggal bilang kakak kelasnya. Pada saat itu buddy anak saya namanya Jack.

Kedua, hal tentang Bullying ini sistemnya sangat baik. Sejak kecil anak sudah diberikan materi-materi anti bullying. Dalam hal ini mereka punya motto “Don,t, Go, Tell”. Maksudnya “Jika ada teman yang sedang membully kamu atau membully orang lain maka katakan DON’T do that!” namun “Jika ada teman yang masih melakukaannya ketika sudah dibilang DON’T, maka kamu harus GO (Pergi)!” kemudian “Jika masih di bully juga, maka TELL your teacher!” Jadi 3 hal ini sudah disampaikan sejak masih kecil.

Sistem pendidikan di sekolah dasar juga melibatkan orang tua. Setiap hari ada orang tua siswa yang secara bergantian dijadwal untuk bisa terlibat dalam kegiatan belajar mengejar di dalam kelas. Jadi orang tua diminta untuk menjadi volunteer dan sekedar membacakan cerita di dalam kelas. Selain itu terlibat di dalam kelas, dan orang tua ikut dalam kelompok-kelompok diskusi anak di sekolah.

Oh iya, pertama kali ke sana anak saya kan masih 3,5 tahun, dan bahasa Indonesia aja masih belajar. Kemudian saya masukkan ke Pre-School, namun anak saya cuma diem aja di dalam kelas mungkin sekitar 1-3 bulan. Jadi anak saya benar-benar mereasakan culture shock bahasa. Namun guru di sana sangat luar biasa, karena mereka menganggapnya seperti anak sendiri. Mereka mengatakan kepada saya agar tidak usah khawatir, biarkan anaknya nangis karena itu hal biasa, kalau saya khawatir, nanti mereka tidak bisa maksimal dan nyaman dalam menemani anak saya.


Setelah itu anak saya dibiasakan komunikasi dengan bahasa Inggris, dan di ulang-ulang. Dalam waktu 3 bulan itu, anak saya menjadi pendiam, bahkan  pernah pulang sekolah dalam posisi celananya basah karena nggak berani untuk bilang mau ke kamar kecil. Akhirnya saya dan suami saya memutuskan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi, dan pada bulan ke empat anak saya sudah lumayan pandai dalam menggunakan bahasa Inggris. Anak kecil itu cepat sekali belajar bahasanya.

Pada akhirnya waktu itu anak saya lupa dengan bahasa Indonesia, dan sekarang sudah ingat lagi. Pada saat pertama kali datang ke Indonesia lagi, saya harus mengajari bahasa Indonesia lagi, dan anak saya sempat shock sampai akhirnya dia bilang kenapa kita harus pindah negara ke Indonesia, Australia itu negara saya. Ini memang kesalahan kami karena kami lupa mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kita. Namun sekarang anak saya sudah pandai berbahasa Indonesia.

Kebudayaan unik yang pernah saya temui adalah ketika saya bertemu dengan suku asli Aborigin. Suku Aborigin masih sangat dekat dengan alam, tarian dan ritual-ritual yang dilakukan sangat berhubungan dengan alam. Salah satu upacara penyambutan ketika saya datang ke komunitas Aborigin ini adalah waktu itu kita disemprotkan air  ke kepala kita, nah air itu bekas kumur-kumur mereka. Kalau menurut kita mungkin jijik ya dan kita harus menghormatinya. Katanya kalau kita tidak mau disemprot, nanti akan ada hal buruk terjadi kepada kita misalnya kejatuhan ular, ban mobil pecah, ada anggota keluarga yang sakit, dan lain-lain.

Motivasi Untuk Pelajar Indonesia

Saya punya moto yang sudah saya miliki sejak SMA, karena waktu itu saya sempat memiliki pengalaman beberapa kali gagal. Jadi moto saya, “Orang yang jatuh berkali-kali itu biasa, tapi orang yang jatuh berkali-kali dan mampu bangkit lagi itu yang LUAR BIASA!”. Motto ini selalu saya pegang dan selalu saya ngiang-ngiangkan dalam pikiran saya. Motto ini juga saya terapkan saat saya mendaftar beasiswa.



Kedua “Jangan takut untuk bermimpi!”

Saya dari dulu suka sekali bermimpi, dan waktu kecil saya punya cita-cita untuk bisa upacara di Istana Negara. Kemudian saya mencoba untuk masuk dalam tim PASKIBRAKA dan karena tinggi badan saya kurang saya gagal di tingkat kabupaten. Kemudian saya ikut SISWA TELADAN, dan saya gagal di tingkat Propinsi. Waktu itu impian saya sempat mati suri, saya lalu mencoba masuk ke universitas negeri  tapi gagal, dan impian saya mati suri lagi. Kemudian saya masuk dan kuliah di UAD, dan ternyata di sini saya bisa mewujudkan impian saya. Saya bisa masuk ke Istana Negara, karena saya mengikuti Lomba Mahasiswa Berprestasi, bisa masuk 15 besar, jadi finalis, dan akhirnya bisa ikut upacara di Istana Negara.

Kedua, karena dulu saya sering baca dongeng dan sastra, dan saya berharap bisa pergi ke negara pembuat dongeng atau buku sastra tersebut. Ternyata akhirnya tercapai dengan bisa ke Australia, walaupun itu bukan Inggris tapi mirip lah sama Inggris.

Ketiga, saya dulu pengen masuk tv karena lihat artis kan jadi pengen banget. Akhirnya saya bisa juga masuk tv waktu di Australia (ABC TV) ikut acara pembuatan film dokumenter, dan di situ saya menjadi Guest Star.

Jadi, jangan pernah takut bermimpi, walaupun menurut sebagian atau banyak orang mimpi itu mimpi yang konyol. Ketika kamu benar-benar mengejar dan berusaha mewujudkannya, konyol itu bisa jadi  sesuatu yang masuk akal.

Yang terakhir “Never Give Up!”

Kalau sudah jatuh jangan terus  menyerah tapi bangkit dan mencoba dan terus mencoba mewujudkannya!

Narasumber: Ida Puspita, S.S, M.A. Res, Lecturer of English Literature Department, Head of International Office (OIA), Ahmad Dahlan University.
Reporter: Imam Sultan Assidiq
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,297,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,58,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Kisah Inspiratif Dari Ida Puspita: Dosen Muda UAD Peraih Beasiswa Australian Development Scholarship!
Kisah Inspiratif Dari Ida Puspita: Dosen Muda UAD Peraih Beasiswa Australian Development Scholarship!
https://4.bp.blogspot.com/-GEge-2TFNCg/Vht5oNZKQII/AAAAAAAACGw/s4yNT2_SQkI/s640/Sydney.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-GEge-2TFNCg/Vht5oNZKQII/AAAAAAAACGw/s4yNT2_SQkI/s72-c/Sydney.jpg
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2015/10/kisah-inspiratif-dari-ida-puspita-dosen.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2015/10/kisah-inspiratif-dari-ida-puspita-dosen.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy