RYAN INDRA MUKTI: Kuliah di Korea Itu Penuh "Surprise", So... Persiapkan Bahasa Koreamu dan Berangkatlah!

Ryan Indra Mukti merupakan salah satu mahasiswa asal Indonesia yang menempuh program master di Korea Selatan. Petualangannya di negeri gins...

Ryan Indra Mukti merupakan salah satu mahasiswa asal Indonesia yang menempuh program master di Korea Selatan. Petualangannya di negeri ginseng menjadi sebuah bagian seru dalam hidupnya yang patut untuk dibagikan kepada banyak orang. Berikut ini Ryan membagikan ceritanya selama kuliah di Korea Selatan.


Mau kenalan sama Mas Ryan? Baca Ini Dulu!

Nama lengkap saya Ryan Indra Mukti, asal dari Kebumen. Sebelumnya saya kuliah S1 di jurusan Teknik Kimia UI. Setelah lulus saya bekerja di bagian produksi salah satu BUMN dan mendapatkan ijin dari perusahaan untuk cuti kuliah dengan beasiswa dari universitas disini. Saya ambil program master, masuk per Februari 2014 dan insyaAllah wisuda bulan depan (Februari 2016). Di Korea saya kuliah di University of Science and Technology. Setiap semester universitas ini membuka pendaftaran beasiswa program master, PhD, dan integrative master-PhD untuk warga Korea maupun foreigner. Info untuk pendaftaraan bisa dilihat langsung di websitenya www.ust.ac.kr. Beasiswa yang didapatkan tergolong tertinggi di Korea karena universitas berkomitmen agar mahasiswa fokus pada aktivitas riset dan studi tanpa terbebani masalah finansial. Informasi beasiswa dapat dicari sendiri di website tersebut. Hehe.

Kenapa kuliah di University of Science and Technology? Hal istimewa apa yang ada di universitas tersebut?

Yang membuat saya tertarik selain beasiswa dan fasilitas pendidikan yang didapatkan, universitas ini bekerja sama dengan lebih dari 30 lembaga riset pemerintah Korea (Government-funded Research Institute/GRI). Saya dan mahasiswa lain yang diterima di universitas ini, melakukan riset dan perkuliahan di GRI sesuai major yang kita pilih. Terdapat sekitar 60 major di bidang sains dan teknologi. Saya mengambil major Green Chemistry and Environmental Biotechnology, kampus saya di Korea Research Institute of Chemical Technology.  Fasilitas lab yang disediakan di tiap GRI juga tergolong advance dengan topik riset terkini, tidak kalah dengan universitas top Korea lainnya. Di lab saya misalnya, tiap mahasiswa diberi topik tertentu dan bertanggung jawab dengan seperangkat reaktor kimia beserta alat analisisnya. Kita juga tidak perlu khawatir dengan biaya penelitian, karena biasanya dialokasikan dari dana riset di GRI terkait. Mahasiswa juga terlibat langsung dalam proyek riset dari pemerintah Korea, dan topik penelitian untuk thesis/paper kita nantinya juga tidak jauh-jauh dari proyek riset tersebut.

Fasilitas lain yang diberikan oleh universitas antara lain asuransi kesehatan, cek kesehatan rutin, tunjangan untuk overseas exchange atau ikut seminar internasional, dan penghargaan-penghargaan untuk mahasiswa berprestasi. Ini juga sepertinya didapatkan mahasiswa di universitas lain di Korea.

Secara spesifik Mas Ryan belajar apa? Jika ada kesulitas bagaimana cara mengatasinya?

Major sudah saya singgung di atas. Topik penelitiannya lebih ke pemanfaatan gas CO2 dan pembuatan katalis untuk proses konversinya. Kesulitan di awal adalah saat pertama kali terjun ke lab langsung disuruh mengoperasikan seperangkat reaktor seperti yang dijelaskan tadi. Alatnya sudah kayak pabrik versi lab. Software dan komputer pendukungnya juga hanya dalam bahasa Korea. Untungnya di lab saya ada mahasiswa dari Indonesia juga dan sangat membantu saat perkenalan alat-alat di lab dan pengoperasiannya.

Walaupun GRI ini cukup terkemuka di Korea, tetapi researcher dan stafnya tidak begitu mahir berbahasa Inggris sehingga saya sering minta bantuan professor jika sudah berhubungan dengan hal-hal teknis di lab yang mengharuskan pakai bahasa Korea. Tapi, ternyata teman Korea saya merasa cukup terbantu dengan kehadiran saya karena dia bisa praktek speaking bahasa Inggris, dan buat saya juga bisa sambil belajar bahasa Korea ke dia.  Menurutnya mahasiswa Korea kurang percaya diri jika disuruh berinteraksi dengan foreigner karena kendala bahasa sehingga jadi terkesan mereka menjauhi foreigner. Tapi pada kenyataanya mereka welcome kok.


Kalau mau tahu tentang persyaratan apply, tes, dan mau ikutan apply ke University of Science and Technology silakan cek di SINI!

Untuk proses aplikasi, saya bisa dibilang cukup beruntung. Pas di perusahaan saya sedang melakukan overhaul, saya menyampaikan ke manager kalo saya ingin melanjutkan kuliah, beliau menanggapi dengan positif dan saya diijinkan. Sebelumnya saya sudah tanya-tanya ke teman sejurusan di UI yang kuliah di Korea tentang peluang melanjutkan studi disana. Kebetulan di labnya sedang membutuhkan mahasiswa dan atas rekomendasinya ke professor, saya bisa bergabung di research group-nya asal lolos seleksi administrasinya di UST.

Seleksi administrasinya berupa dokumen-dokumen seperti study plan, surat rekomendasi, dan tes kemampuan bahasa Inggris (TOEIC, TOEFL, IELTS). Saya pilih TOEIC karena testnya relative lebih murah dan mudah dari yang lain. Sebelum test TOEIC saya tidak ada persiapan khusus dan percaya diri saja. Saya pernah membaca artikel tentang tips belajar bahasa Inggris praktis yang intinya daripada belajar di lembaga kursus, lebih baik belajar sendiri dengan melakukan apa yang orang Inggris/ native speaker lakukan, seperti menonton televisi, membaca berita/novel, mendengarkan radio/podcast dalam bahasa Inggris. Mulai saat itu saya biasakan untuk baca artikel/berita berbahasa Inggris, nonton serial atau film pun juga pakai subtitle bahasa Inggris. Ternyata metode ini cocok buat saya. Saya mengerjakan test TOEIC tersebut hanya bermodal feeling, entah kenapa jika dibaca pas dan enak, itulah jawaban yang saya pilih dan ternyata benar. Tentunya feeling tersebut bisa didapatkan setelah menjalankannya selama berbulan-bulan bahkan tahun.  Tidak hanya feeling yang kita dapat, tapi juga bisa memakai frasa/kalimat bahasa Inggris yang lazim dipakai oleh native speaker daripada membahasaInggriskan bahasa Indonesia secara langsung.

Lanjut ke topik seleksi masuk, jika dokumen diterima, kita akan diberikan jadwal interview/oral presentation, dimana calon mahasiswa diminta membuat presentasi terkait rencana penelitian. Untuk yang diluar Korea, bisa dilakukan melalui telepon atau video conference dengan mengirimkan materi presentasinya terlebih dahulu. Tata cara nya akan dikirmkan secara detil oleh panitia seleksi. Jika lolos tahap ini, universitas akan mengirim dokumen-dokumen persetujuan sebelum mengeluarkan letter of acceptance yang akan dipakai untuk mengurus visa pelajar.

Syarat lain yang diperlukan setelah diterima adalah copy transcript dan ijazah berbahasa inggris yang telah dilegalisir oleh kedutaan Korea, istilahnya apostille requirement. Kita cukup membawa copy legalisir dua dokumen itu dari universitas dan berkas aslinya untuk verifikasi ke kedubes Korea. Prosesnya juga cepat, sekitar 1 jam pas saya apply dulu dan membayar biaya administrasi (saya lupa, mungkin dikisaran 30-50 ribu).

Cara beradaptasi dengan sistem pendidikan di Korea

Dari proses orientasi juga sudah terasa bedanya. Mungkin karena ini untuk program master dan PhD saja, jadi orientasinya fun dan menarik tidak seperti saat ospek S1 dulu. Orientasi mahasiswa berisi pengenalan kurikulum, metode kuliah, dll dan diisi oleh team building dengan main games ala-ala Running Man, seperti lompat tali group, dan memecahkan kode.

Sistem perkuliahan disini berbasis riset dengan porsi sks untuk field research lebih banyak dibandingkan classwork. Credit field research dinilai dari peran aktif kita selama melakukan riset di lab, sedangkan classwork dilakukan seperti kelas pada umumnya. Tingginya beasiswa yang didapat juga tidak lepas dari aktivitas mahasiswa di lab yang diwajibkan datang full time dari jam 9 – 18 (minimal) di hari kerja seperti researcher/staff di GRI. Aktualnya jarang sekali pulang on time, mengingat kultur sini dimana mahasiswa tidak akan pulang sebelum professor pulang. Ditambah profesor biasanya memiliki jabatan penting di GRI tersebut dan jarang juga pulang on time karena kesibukannya. Tapi, diluar kultur ini, kerjaan lab di sini memang cukup banyak dan strict ke deadline, apalagi yang berkaitan dengan reaksi kimia yang kadang prosesnya berlangsung puluhan jam dan mahasiswa diwajibkan standby untuk alasan safety.

Classwork bisa dilakukan pada saat atau diluar jam kerja. Dosen tertentu yang memilik aktifitas padat saat jam kerja lebih memilih membukanya setelah jam kerja, pukul 19 – 21. Kelas bahasa Korea yang saya ikuti juga dilakukan di jam tersebut karena memang padatnya aktifitas lab di laboratorium saya. Awalya cukup berat buat saya setelah seharian di lab, malamnya belajar di kelas, sangat ngantuk dan capek. Profesor saya selalu mengingatkan untuk olahraga rutin dan makan teratur agar kita bisa mengkuti ritme kerja di Korea dalam keadaan fit dan sehat. Setelah saya ikuti saran beliau, lama-lama jadi terbiasa juga. Untungnya dosen bahasa Korea juga dipilih yang sudah lama berpengalaman dan atraktif sehingga tidak membuat kita bosan dan tetap bersemangat.

Ini tentang Dosen di Korea Selatan

Selama 4 semester, saya mengambil mata kuliah di kelas yang dibuka professor saya sendiri, jadi tidak begitu paham dengan karakter dosen lain. Tapi pada umumnya dosen terbuka dalam menyampaikan pengetahuan yang dimiliki asal kita aktif menggalinya. Professor saya juga sering membantu mencarikan solusi diluar aktifitas riset seperti masalah imigrasi, kontrakan, dan kesulitan hidup sehari-hari lainnya. Beliau justru menekankan agar jangan ragu-ragu mengkomunikasikan masalah kita sedetil-detilnya agar solusinya lebih gampang dicari.


Tentang akomodasi selama kuliah di Korea Selatan

Saya tinggal di kontrakan diluar kampus. Karena saat saya masuk tidak ada kamar tersisa di asrama, jadi saya terpaksa tinggal di kontrakan. Saya lebih menyarankan untuk tinggal di asrama saja jika memungkinkan karena jauh lebih murah. Di kampus saya, tarif asrama antara 80.000 – 160.000 won/bulan (KRW 1 ~ IDR 11.5). Sedangkan biaya kontrakan saya 250.000 won/bulan one-room. Mahal karena fasilitas yang didapat cukup lengkap seperti lemari es, kamar mandi dalam, dapur beserta kompornya, AC, penghangat ruangan. Biaya itu belum mencakup tagihan listrik, air, gas, internet. Tergantung musim, tagihan ini berkisar antara 50.000 – 150.00 won/bulan.

Jika kita mengontrak rumah, juga harus menyediakan uang jaminan sebesar 1- 2 juta won yang akan dikembalikan jika kontrak sudah habis setelah dikurangi biaya maintenance dan penggantian kerusakan. Dulu saya hanya dikenakan biaya 30.000 won saat keluar dari kontrakan saya. Di asrama kita tidak repot memikirkan ini karena sudah include semua. Tetapi, kita tidak bebas memasak di asrama. Hanya tersedia dapur umum yang bisa dipakai oleh semua penghuni asrama, tetapi biasanya hanya mahasiswa asing saja yang memasak. Tergantung kultur dan karakter dari negara asal yang mendominasi dapur, kadang dapur asrama kurang nyaman dipakai karena kebersihannya. Kita hanya bisa bersabar saja.

Biaya hidup di Korea Selatan menurut Mahasiswa Indonesia

Selain biaya asrama/kontrakan tadi, biaya makan dan belanja bervariasi tergantung karakter kita. Rata – rata sekali makan di kantin kampus 3.000 – 4.500 won. Makan di luar juga bisa didapatkan dengan harga segitu dengan menu wajar seperti kimbab dan tteokpokki. Menu yang standar berkisar 4.000 – 7.000 won seperti ramyeon dan bibbimbap.  Total pengeluaran termasuk keperluan hiburan dan belanja pribadi berkisar antara 300.000 – 600.000 won/bulan diluar biaya asrama/kost.

Karena saya muslim, saya sering masak sendiri daripada makan di kantin yang sering menyajikan menu non-halal. Memasak sendiri banyak untungnya, selain bisa menghemat, skill memasak kita juga bakal meningkat. Bahan makanan halal tersedia di foreign market atau di Islamic center yang ada di tiap kota. Di beberapa kota besar, termasuk Daejeon, ada juga mushola yang didirikan oleh pekerja Indonesia di Korea, disini kita bisa membeli jajanan dan bahan masakan langsung dari Indonesia dengan harga lebih murah dari yang dijual di foreign market. Di mushola juga sering diadakan pengajian dan makan-makan gratis untuk mengobati rasa kangen akan Indonesia. Jika lebih memilih tinggal di kost, cari teman yang mau share kontrakan.

Di tahun kedua saya share kontrakan tipe two room dilokasi yang lebih jauh dengan harga lebih murah setelah dibagi dua, rata-rata sekitar 200.000 won termasuk biaya utilitas. Untuk menghemat belanja, system online lebih murah daripada di toko. Hampir semua barang termasuk groceries bisa dibeli melalui online, air mineral, beras, kosmetik, makanan kemasan, buah-buahan. Sistem onlinenya juga mudah dan pengirimannya cepat. Di supermarket, juga banyak promo yang ditawarkan, sepeti 1+1, dan diskon lainnya.

Pengalaman menarik dan tak terlupakan

Disini penuh dengan surprise kok, jadi banyak momen yang tidak terlupakan. Contohnya makan kimchi pertama kalinya (gak nyangka rasanya seperti “itu”), naik T-express (roller coaster kayu) di Everland, liat salju pertama kali, main snowboard, sholat di tempat terbuka dan jadi pusat perhatian, dan mungkin yang paling bikin shock adalah pas bilas di pemandian pantai cuma tersedia shower berjejer tanpa sekat di dalam sebuah ruangan besar. Hehehe.

Pengalaman Traveling

Jalan-jalan sudah lumayan banyak tempat yang dikunjungi, seperti Everland (amusement park), Pyeongchang (ski resort), Busan, Jeonju, Nami Island, dll. Juga pernah naik gunung yang merupakan program rutin di GRI saya. Yang paling saya rekomendasikan adalah ski resort dan Everland.  Buat yang suka drama bisa ke Nami Island atau hanok village yang tersebar di berbagai tempat. Buat yang suka wisata alam, di Korea bentang alamnya juga bagus dan didukung infrastruktur yang memadai.

Yang paling berkesan menurut saya adalah sistem transportasi dan kenyamanan dalam memanfaatkan fasilitas publik. Jadwal bus dalam kota (kalo di Indonesia metromini) saja bisa dipantau melalui apps smartphone, lengkap dengan rute kemana dan transfer kemana bisa kita ketahui lewat apps tersebut. Jangan khawatir kita tersesat. Di Seoul, sistem subway nya juga keren dan mudah dipahami untuk warga asing sekalipun. Untuk bis dan  kereta antar kota, tiket bisa dipesan mudah dengan system online.

Kesan yang lain adalah infrastruktur di tempat wisata dibuat dengan bagus sehingga memudahkan pengunjung selama melakukan aktifitas disitu. Bahkan pendakian gunung pun sudah disediakan jalan dengan paving block atau tangga untuk memudahkan dan memberikan keamanan bagi pengunjung. Harga makanan dan snack di lokasi wisata juga relative standar dengan harga di area perumahan, tidak dimark-up seperti di negara kita.

Dan yang terakhir tentunya kecepatan internet yang nomer 1 (atau 2) di dunia. Hampir di semua lokasi sudah support LTE/4G. Ini semakin mendukung dalam memudahkan pelayanan publik yang kebanyakan berbasis online. Tarif internet pun lebih murah dari di Indonesia dengan speed yang jauh lebih cepat. Saya berlangganan internet rumah LTE unlimited hanya sebesar 19.000 won/bulan (200 ribuan rupiah).


Keikutsertaan di PERPIKA

Paling saya hanya jadi anggota aktif PERPIKA di tahun pertama. Sekretariat dan kontak bisa dicari di websitenya www.perpika.kr. Saya pernah ikut di kepanitian acara PERPIKA 2014 yaitu CISAK, acara konferensi tahunan untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah dimanapun. Ini merupakan event terbesarnya PERPIKA, sebagai wadah bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mempresentasikan hasil penelitiannya di bidang sains dan sosial. Keynote speaker acara ini juga dari public figure yang cukup terkenal, seperti Pak Ridwan Kamil dan Bu Risma pernah menjadi keynote speaker acara ini, disamping itu juga ada dari kalangan peneliti/professor Indonesia.  

How to survive in South Korea? Check this TIPS!

Bisa bahasa Korea saya rasa jadi nilai tambah kalau disini. Warga local, teman, bahkan professor kita akan sangat mengapresiasi kita jika berbicara dengan bahasanya, jadi kalau memungkinkan bisa dipelajari dulu. Atau bisa ambil program beasiswa KGSP dimana kita dituntut untuk kuliah bahasa dulu selama satu tahun sebelum terjun ke kampus kita nantinya. Di UST sendiri, salah satu syarat kelulusan adalah lulus TOPIK level 2, ini semacam TOEFL-nya bahasa Korea, jadi tidak  ada salahnya kita belajar dulu bahasa Korea.

Untuk aktivitas kuliah atau riset, karena perbedaan kultur dalam memandang sesuatu, ada baiknya kita sering berkomunikasi/diskusi dengan professor sejelas-jelasnya untuk menghindari miskomunikasi.

Biar semakin banyak teman di perantauan, gabung saja ke PERPIKA, bisa ikut acara-acaranya atau sekalian jadi pengurusnya. PERPIKA sendiri sering mengadakan acara rutin seperti gathering wilayah, jalan-jalan bareng, dan sebagainya.

Reporter: Adelina Mayang
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,80,Arab Saudi,12,Asia,236,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,283,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,9,Destinasi,65,Eropa,310,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,85,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,14,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,56,Jerman,44,Kanada,26,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,14,PPI,6,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,23,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,23,Student Life,145,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,4,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,85,Tips Travelling,5,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,1,Universitas,35,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: RYAN INDRA MUKTI: Kuliah di Korea Itu Penuh "Surprise", So... Persiapkan Bahasa Koreamu dan Berangkatlah!
RYAN INDRA MUKTI: Kuliah di Korea Itu Penuh "Surprise", So... Persiapkan Bahasa Koreamu dan Berangkatlah!
https://2.bp.blogspot.com/-7JXaRWvC8ko/Vvs28sBsVMI/AAAAAAAAJQE/doMUajy4Wecj5YZbZQViXoJ-QeJ2J4KXQ/s640/Ryan.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-7JXaRWvC8ko/Vvs28sBsVMI/AAAAAAAAJQE/doMUajy4Wecj5YZbZQViXoJ-QeJ2J4KXQ/s72-c/Ryan.jpg
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2016/03/ryan-indra-mukti-kuliah-di-korea-study-in-korea-master-in-korea.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2016/03/ryan-indra-mukti-kuliah-di-korea-study-in-korea-master-in-korea.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy