NADHILA SYLVIANTI: Lagi-Lagi Mahasiswa dari Undip yang Berhasil Kuliah di Pukyong National University, Korea Selatan!

Sebesar apapun mimpi yang dimiliki oleh seseorang pasti akan selalu ada kemungkinan bagi mimpi itu untuk terwujud. Begitu juga dengan mimpi untuk bisa kuliah di Korea Selatan. Meskipun harus melewati banyak hal dan harus bekerja keras untuk meraihnya, Nadhila akhirnya berhasil juga berangkat ke Korea Selatan untuk melanjutkan pendidikan. Berikut ini sepenggal cerita dari Nadhila Sylvianti di Korea Selatan.


  
Kenalan dulu biar sayang...

Halo, nama saya Nadhila Sylvianti. Bisa dipanggil Dhila. Saya berasal dari Bogor, Jawa Barat. Tapi jujur nggak bisa bahasa Sunda, palingan saeutik tiasana. Dulu saya S1 di Universitas Diponegoro Jurusan Teknik Kimia angkatan 2010. Setelah lulus sekitar bulan Februari 2014, saya sempat kerja 8 bulan untuk 2 perusahaan yang berbeda sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Korea Selatan. Lebih tepatnya tahun 2015 bulan Februari saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Busan, Korea Selatan yaitu Pukyong National University. Dan disinilah saya sekarang melanjutkan pendidikan master saya di bidang Polymer Engineering. 
 

Suasana perkuliahan dan cara adaptasi

Suasana perkuliahan disini sebenarnya hampir mirip dengan Indonesia, dan karena saya S2 disini jadi tidak terlalu banyak mengambil mata kuliah lebih sering experiment di lab. Yang jelas perbedaan bahasa jadi kendala utama, tapi alhamdulillah beberapa professor memberi pengecualian pada foreigner seperti kami dan mengajar dalam bahasa Inggris. Cuma tetap saja ya, susah, karena pelajaran teknik pakai bahasa Indonesia saja sudah susah apalagi pakai bahasa Inggris.


Nah, sampai di sini aja udah keliatan banget betapa pentingnya bahasa Inggris untuk dikuasai dengan baik. Selain sebagai sarana komunikasi, bahasa Inggris di sini digunakan untuk kepentingan pemahaman materi perkuliahan. Hal paling pentingnya adalah dengan menguasai bahasa Inggris, proses pemahaman dan kuliahmu pasti akan semakin lancar.

Caranya yang jelas, dengerin apa yang dosennya jelasin, poinnya saja. Karena sepengalaman saya ya, even para lecturer disini bahasa Inggrisnya masih ngadat-ngadat. Nah, saya mengatasinya dengan ambil poinnya, habis kuliah langsung search google dan buat catatan kita sendiri. Itu jauh lebih efisien ketimbang kita maksa harus mengerti apa yang dosen itu bicarakan. 







Bulan Pertama, Kesulitan dan Cara Mengatasinya


Bulan pertama itu kombinasi takut sama excited kerasa banget. Karena takut benar-benar pertama kalinya hidup bukan di negeri sendiri. Negeri yang sudah beda culture, beda bahasa, beda cuaca, beda agama. Tapi juga excited dan penasaran menjelajah tempat baru. Kesempatan kayak gini ini kita bisa belajar lebih tentang diri kita sendiri. Bagaimana sih sebenarnya kita. 


Adaptasi sama cuaca sih yang agak sulit. Soalnya waktu pertama kali datang kesini itu masih akhir winter sementara di Indonesia suhu nya lagi sejuk which is 24 derajat sampe 30 derajat dan begitu sampai sini langsung minus 2 derajat. Rasanyaa kayak dari gurun savanna masuk kulkas bagian freezer. Segitu dari Indonesia pake baju berlapis lapis sampe sini kena hembusan angin dikit aja langsung membeku. Kulit juga jadi kering, baper mulu (bawaannya laper gegara dingin), perasaan juga jadi kering dan dingin #eh. Cara mengatasinya biar waktu yang menjawab, ini serius. Karena lama kelamaan ya sekitar seminggu sebulanan tubuh kita sudah mulai beradaptasi akan suhu lingkungan. 


Kedua, masalah besar disini adalah soal makanan. Karena saya muslim saya tidak bisa makan pork tentunya disini which is itu nyusahin banget karena hampir sebagian besar makanan mengandung babi. Dan cara saya mengatasinya sih pertama-tama jelas cari makanan yang tidak ada contain babinya dan jauh lebih hati-hati memilih makanan. Terutama makanan kemasan yang kadang mengandung babi tanpa kita sadari, dan harus teliti membaca komposisi, walau pakai bahasa korea, untuk awal-awal kita bisa meminta tolong teman yg lebih dulu disini untuk membaca komposisi dalam makanan tersebut. 


 
Bahasa Korea dan Cara Belajarnya!


Bahasa juga salah satu problem besar, di saat biasanya kita dengar bahasa Indonesia dimana-mana. Ini tiba-tiba masuk ke negara yang 24 jam dalam seminggu pakai bahasa Korea (iyalah ya namannya juga di Korea). Langsung berasa Lee Min Ho dimana-mana padahal sih nggak pernah ketemu artis selama disini. Langsung berasa di dalam scene drama Korea sayangnya nggak ada romantis-romantisnya hidup di Korea Selatan. Intinya, jangan percaya sama drama yang kalian tonton hahaha.


Karena beasiswa saya tidak provide untuk belajar bahasa Korea dulu, jadi saya belajar bahasa Korea secara otodidak dan dibantu sedikit dari mata kuliah bahasa Korea dari kampus. Kalau kalian ingin dapat pelajaran bahasa Korea selama 1 tahun, kalian bisa mengikuti program beasiswa dari KGSP (Korean Government Scholarship Program) yang memprovide pelajaran bahasa Korea selama 1 tahun. Dijamin bahasa Korea kalian langsung ciamik.


Nah kalau macam saya ini, pertama kalau tips dari saya kalian harus bisa baca Hangeul (abjad Korea) yang memang kalo diliat keriting-keriting bikin pengen makan mie gitu #eh. Tapi jujur cuma dengan bisa baca Hangeul saja bisa membantu banyak hal untuk kalian survive disini. Dan belajar Hangeul itu cepet, cukup 2 minggu inshaAllah kalian sudah hapal dan bisa baca walau masih terbata-bata tapi bisa kok baca. 


Dan kalau emang kalian hobi nonton drama Korea disitu juga bisa jadi ajang latihan buat lebih familiar sama bahasa orang sini. Serius, itu bisa membantu asal fokus loh tujuan nya belajar bukan mantengin Kim Soo Hyun. 


Terus untuk arti dari kata, kalian bisa tiap hari paling tidak menghapalkan 10 kata baru. Nanti lama-lama jumlah kata yang kalian mengerti jadi lebih banyak. Dan kalau semuanya digabung kalian pasti jadi lebih ahli berbahasa Korea.

Hal Unik yang Terjadi Selama Kuliah di Korea Selatan 


Banyak sih sebenarnya, tapi yang paling membekas banget adalah salah satu kelas yang saya ambil semester kemarin. Jadi saya selama 2 semester ini alhamdulillahnya selalu dapat kelas Prof yang bahasa inggrisnya lumayan. Jadi masih bisa mengerti dan menjalankan perkuliahan seperti biasanya. Dan semester kemarin, saya tau Prof itu baru pulang dari Universitas di Texas otomatis harusnya bahasa Inggrisnya lancar dong yaa. Jadi saya pilih saja kelas itu. Eh, pas saya mulai hari pertama, ternyata di Texas pun dia ngajarinnya orang-orang Korea dan pake bahasa Korea. Jeleger! 

Selama di kelas yang muridnya cuma 4 orang dan foreigner semua itu, si om Prof sampai morat-marit pake bahasa Inggris. Saya juga tiba-tiba jadi ahli penerjemah gerakan tubuh. Dan ujung-ujungnya kelas berubah dari Kelas Liquid Crystal jadi kelas bahasa korea dan bahasa tubuh. Untungnya masih dapat ilmunya sih karena ada mbah google yang sungguh dahsyat memberi jawaban-jawaban tersembunyi dari gerakan tubuh om Prof. Nggak kebayang kan bagaimana dia menjelaskan kelas Liquid Crystal pake bahasa tubuh. 

So, dari sini kamu bisa paham dan tahu bahwa memang penguasaan bahasa lagi-lagi jadi kendala besar. Tapi bukan berarti yang saat ini kamu belum bisa asing maka kamu tidak bisa kuliah ke luar negeri. Pahami cerita di atas, dosennya nggak terlalu pandai bahasa Inggris, muridnya nggak terlalu pandai pakai bahasa Korea. Dengan bahasa isyarat, gerak tubuh pun mereka masih bisa saling mengerti satu sama lain. Jadi, sekarang bagaimana niatmu?
 Galau, Sedih, dan Cara Mengatasinya!

Jauh dari keluarga jadi problem utama yang bisa buat galau atau sedih sewaktu – waktu. Yang biasanya tiap hari ketemu sekarang cuma bisa ketemu lewat call atau video call. Jadi kerasa banget betapa berartinya kehadiran dan support mereka buat saya. 

Dan karena saya bekerja di lab, yang setiap hari kerjanya melakukan experiment, saat gagal dan professor nggak mau terima hasilnya itu bener-bener bikin down. Kayak semua hasil kerja keras tuh sia-sia begitu saja.


Cara mengatasinya, saya belum menemukan solusi yang lebih efisien selain mendekatkan diri sama Tuhan, karena di saat-saat down, galau dan sedih seperti itu hati pasti bawaannya resah dan gelisah. Nah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan saya merasakan ada ketenangan lain aja. Dan bisa fokus bekerja kembali. 


Kalau kangen sama keluarga saya pasti selalu telepon orangtua saya dua sampai tiga hari sekali. Karena bagi saya mendengar suara mereka saja sudah menjadi salah satu pelepas stress saat penat melanda. 




Gagal, Down, Sedih, Galau, Kangen Rumah, Culture Shock pasti akan menghampirimu dan menemanimu di awal-awal kamu kuliah dan stay kuliah di luar negeri. Untuk itu lakukan banyak ritual-ritual yang membuatmu semakin bersemangat. Kangen keluarga sekarang udah ada banyak aplikasi video call. Galau hasil ujian atau nilai jelek maka belajar lebih lagi, tanya sama senior-senior tentang pengalaman mereka, karena nggak cuma kamu yang mengalami hal itu.
 Hal yang Dirindukan Tentang Indonesia!

Selain orangtua yang dirindukan dari tanah kelahiran jelas makanan. Jangan dibayangin makanan Korea itu seenak kelihatannya di drama Korea. Karena sumpah deh kalo saya mah lidahnya nggak cocok akan makanan Korea. Rasanya itu warbiasyah anehnya haha. Cara mengatasinya ya sesekali numpang masak dan masak makanan Indonesia sendiri. Kadang malah cuma masak Indomie saja sudah mampu menutupi rasa rindu akan makanan khas Indonesia hahaha. 



Makanan emang sering jadi hal yang paling dirindukan diantara hal lainnya. Banyak yang menyarankan untuk masak sendiri untuk solusinya. Nah, buat kamu yang belum bisa masak, harus latihan masak ya sebelum kamu kuliah ke luar negeri. Sekarang di Youtube udah banyak banget tutorial memasak buat pemula. Selain itu, kamu bisa nyiapin beberapa bumbu dapur/ bumbu Indonesia baik yang saset ataupun bukan, yang penting jangan berkilo-kilo bawanya.

Tips Menulis Motivation Letter dan CV!

Iya, dulu saya buat motivation letter dan CV untuk professor yang menawarkan beasiswa. Jadi saya sistem beasiswanya itu ditawari oleh Professor di Universitas yang butuh bantuan researcher di labnya. Okay, saya tidak akan ceritain gimana caranya buat motivation letter dan CV karena itu semua bisa dicari di google, yang mau saya kasih disini lebih ke tipsnya sesuai pengalaman saya saja yaa hehe. 


Nah tips pertama nulis motivation letter sama CV jangan lebay. Serius tulis apa adanya kita, karena semua kata-kata kita di motivation letter dan CV itu akan dipertanyakan sama calon professor kita disini, sesuai atau tidak sih kemampuan kita dengan apa yang kita tulis.


Yang kedua, tulis motivation letter yang memperlihatkan bahwa kita benar-benar tertarik dengan bidang research yang akan kita dalami. Ya sebelum tulis motivation letter bolehlah search sedikit tentang sebenarnya bidang apa sih yang ditawarkan beasiswa ini. Itu penting banget, karena ketertarikan kita pada bidang research tersebut sangat mempengaruhi keputusan perekrut. 


Yang ketiga, be yourself. Pede aja dengan motivation letter dan CV yang kamu tulis sendiri. Bukannya nggak boleh minta bantuan orang lain, akan tetapi ada baiknya segala sesuatunya dipersiapkan dan dibuat oleh kita sendiri. Karena selama proses perekrutan biasanya Professor atau perekrut akan menyadari ketika motivation letter dan CV itu bukan kita sendiri yang buat. Dan seandainya Prof tahu kita tidak membuat semuanya sendiri itu akan jadi nilai minus buat para calon penerima beasiswa.

Beli Barang Asal Indonesia


Kalau di daerah Busan ada daerah khusus yang menyediakan produk-produk Asia termasuk Indonesia. Nama daerah tersebut Sasang. Disana banyak Asian Mart yang menjual berbagai macam bahan makanan dan produk Indonesia. Seperti Indomie, Energen, Saos, Kecap produk Indonesia, bumbu-bumbu, teh, susu. Bahan makanan yang langka seperti tempe pun dijual, ya tapi jangan dibandingin soal harga. Namanya barang import pasti lebih mahal kan hehehe.



Tips Khusus Untuk Apply Kuliah!


Tips khusus rajin cari info. Karena biasanya di universitas saya ini kebanyakan mendapatkan beasiswa dari Professor. Jadi Professor meng-hire kita untuk menjadi research assistant di laboratoriumnya beliau. Jadi memang kebanyakan yang eksak (dari science atau engineering). 


Dan biasanya sistemnya jika Professor yang menawarkan offering sudah merasa cocok (cocok dari GPA, perilaku dan interview) kemungkinan 80% kita bisa diterima di universitas tersebut. Karena disini, jika Professor sudah memberi pertimbangan kemungkinan besar akan lolos.


Nah bisa bahasa Korea memang nilai plus tersendiri, tapi skill bahasa Inggris yang jago juga menjadi pertimbangan besar bagi Prof untuk meng-hire kita. Karena bahasa Inggris adalah satu-satunya cara kita untuk berkomunikasi dengan Prof. Juga semua hasil experiment kita juga akan ditulis dalam bahasa Inggris. Jadi jika Prof merasa bahasa Inggris kita kurang baik, biasanya akan mengurungkan minat beliau untuk meng-hire kita. Nah biasanya motivation letter juga jadi ajang Prof untuk menguji kemampuan bahasa Inggris kita dalam skill writing. Jadi saya sarankan jangan sekali-kali minta orang lain mengerjakan motivation letter, ada baiknya kita sendiri yang mengerjakan dan menunjukkan skill writing kita. 




Dan yang terakhir ada dasar ketertarikan yang kuat akan bidang yang dijalani. Karena kerjaan di lab itu berat, jauh dari jaman undergraduate dulu, jadi kalo tidak ada passion di bidang yang dijalani kerjaanya bakal kerasa beraaat banget dan bawaannya homesick.
So do what you love, and love what you do!

Reporter: Adelina Mayang
Share on Google Plus

About Inspira Tech

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.