Cerita dan Perjalanan Imdad Azizy dari Pondok Pesantren di Jawa Timur Sampai Universitas Al Azhar Mesir

Kuliah ke luar negeri bisa dimanapun sesuai minat dan keinginan. Bagi para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia dengan orientasi studi bidan...

Kuliah ke luar negeri bisa dimanapun sesuai minat dan keinginan. Bagi para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia dengan orientasi studi bidang ilmu-ilmu Islam, Mesir dengan Universitas Al Azhar adalah satu pilihan tepat. Seperti Imdad Azizy yang seorang lulusan pondok pesantren kemudian mengambil kesempatan untuk kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Berikut cerita perjalanan dan pengalamannya.



Mas Imdad terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bersedia di-interview. Pertama Mas Imdad bisa cerita dulu mengenai background-nya, kenapa ingin kuliah di Mesir, sebelum di Mesir belajar dimana, lalu apakah kuliah di Mesir itu dari kecil sudah punya keinginannya atau bagaimana?

Saya lulusan pesantren, Darussalam Gontor, Jawa Timur. Sebelumnya saya sempat mengenyam pendidikan SMP di Pontianak Kalimantan Barat lalu setelah itu baru ke Darussalam Gontor untuk menempuh pendidikan SMA termasuk belajar bahasa Arab juga. Bagi sebagian lulusan pondok tentu ingin melanjutkan studi di luar negeri dengan basic yang memang dipunya, yaitu bahasa Arab jadi alangkah baiknya jika bisa melanjutkan studi ke ngara-negara yang berbasis bahasa Arab.

Banyak pilihan di kawasan Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Mesir, Maroko, dsb. Banyak juga peluang yang memang ditawarkan oleh masing-masing kedutaan dari berbagai negara tersebut untuk pelajar dari Indonesia. Salah satu yang paling menarik adalah Mesir karena disana bukan hanya karena persoalan budayanya saja atau kampusnya saja Al Azhar yang memang terkenal tapi juga dinamika kehidupan disana dan juga sebagai pusat peradaban disana. Banyak hal yang membuat kami lulusan pondol tertarik untuk melanjutkan studi di Mesir dan akhirnya saya serta teman-teman mengikuti ujian yang ditawarkan oleh kedutaan Mesir di Jakarta.

Ikut ujian dan Alhamdulillah terpilih dimana pada saat saya mengikuti seleksi, yang lulus hanya 144 orang, pada tahun tahun 2011. Pada waktu itu sebenarnya ada 2 ujian yaitu ujian di kedutaan Mesir yang ada di Indonesia namun kemudian batal karena sedang ada masalah di Mesir, lalu ada ujian lagi di akhir tahun yaitu di UIN Jakarta yang diadakan oleh Kementerian Agama. Untuk ujian seleksi kuliah di Mesir dari Kementerian Agama memang itu di UIN pusatnya.

Selanjutnya untuk Tes atau Seleksnya Waktu itu Apa Saja dan Bagaimana?
Ujiannya berupa pilihan ganda jadi tidak begitu sulit. Pada dasarnya untuk ujian dibagi menjadi 2 yaitu ujian tulis dan lisan. Pertama untuk ujian tulis memang berupa pilhan ganda dengan cakupan ujiannya berbagai bidang seperti tafsir, sejarah keislaman, ilmu shorof, dsb. Kemudian ada juga ujian lisan, jadi kelulusannya terikat dengan 2 ujian itu. Waktu itu ujian lisan saya pengujinya dosen Al Azhar sendiri yang sekarang menjadi rektor. Ujiannya simple, hanya berbicara dengan bahasa Arab tentang perkenalan diri dan kenapa ingin kuliah di Mesir, lalu diikuti hafalan Al-Quran yang waktu itu pada zaman saya minimal 2 Juz dan sekali maju untuk ujian lisan itu berdua.

Misalnya ingin ikut tes-tes untuk kuliah ke Mesir begitu apa yang harus disiapkan?
Karena Mesir itu negara berbahasa Arab jadi menurut saya sepatutnya belajar bahasa Arab. Kemudian juga harus belajar tentang sejarah-sejarah Islam, karena dominannya mahassiwa di Al Azhar dari berbagai negara mengambil studi di fakultas keislaman dengan berbagai jurusan dan bidang khusus yang ditawarkan disana. Jadi kuatkan fondasinya di bahasa Arab dulu. Kalaupun tidak bisa bahasa Arab tapi ada dasar ilmu-ilmu di sejarah Islam, pernah belajar tafsir dsb, sepatutnya tetap dicoba karena bahasa Arab sangat bisa dipelajari ketika sudah tiba di Mesir nanti.

Setelah ujian selesai, pengumumannya berapa lama?
Karena ujiannya waktu itu akhir tahun, penumumannya cepat, hanya sekitar beberapa hari pengumuman tapi lalu ada ujian lagi untuk mencapai jumlah yang akhirnya lolos 144 orang yang bisa berangkat ke mesir. Pengumumanya juga bisa diakses lewat internet jadi memudahkan untuk melihatnya.

Setelah ada pengumuman jeda waktu dengan keberangkatan ke Mesir?
Kalau tidak salah saya dulu seminggu sampai dua minggu hanya untuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk di Mesir mulai dari jaket karena waktu itu musim dingin, lalu obat-obatan, dll. Saya berangkat pada tanggal 22 Oktober 2011. Untuk visa sudah ada pihak yang membantu, kami tinggal menyiapkan kebutuhan-kebutuhan personal saja.


Biaya waktu itu sendiri atau ada bantuan?
Saya menggunakan biaya sendiri karena tes seleksinya dari kementerian, tiket sendiri, visa sendiri. Lalu setibanya di Mesir setelah mulai masuk kuliah dan keluar nilai atau IPK baru bisa mengajukan beasiswa, jadi setelah minimal selesai 1 tingkat (2 semester). Jadi di Mesir itu memang banyak lembaga yang mengeluarkan beasiswa mulai dari Al Azhar sendiri lalu ada misalnya Rumah Kuwait, dll. Jadi teman-teman tidak perlu pusing bagaimana hidup di Mesir tanpa beasiswa dari pemerintah Indonesia, karena beasiswanya justru didapatka disana. Bahkan ada yang menawarkan sampai 1,2 juta Rupiah per bulan. Beasiswanya itu untuk biaya hidup saja karena memang studi di Al Azhar tidak perlu membayar uang kuliah lagi, hanya perlu membayar uang regisrasi untuk pembuatan kartu. Oleh karena itu biaya yang ditawarkan dari beasiswanya itu sepenuhnya untuk biaya hidup dari berbagai lembaga tadi.

Bulan-bulan pertama di Mesir penyesuaiannya bagaimana dengan berbagai peredaan yang ada?
Awalnya itu pasti kaget ya, apalagi waktu tiba disana sedang musim dingin. Sangat perlu beradaptasi apalagi yang paling penting itu faktor makanan. Adaptasi dengan lingkungan lebih mudah daripada adaptasi mengenai makanan. Jadi harus terbiasa dengan makanan Mesir dulu, bahkan cabe-cabe itu di indonesia yang pasti pedas, di Mesir ada ternyata yang nggak pedas. Pada dasarnya penyesuain itu perlu 1 sampai 2 bulan.

Mengenai cara berinteraksi dengan Mesir juga peru penyesuaian. Dasarnya yang kita pelajari adalah bahasa Arab yang tipenya formal dan yang diterapkan seringkali adalah bicara dengan sesama orang Indonesia yang juga bisa menggunakan bahasa Arab. Jadi saya belajar bahasa Arab di Gontor, lalu saya bicara dengan teman saya dari pondok lain di Indonesia, sama, cocok, dan paham bahasanya. Tapi jika bahasanya diterapakan di Mesir akan jelas ada perbedaan. Jadi harus terbiasa mendengar, terbiasa mamahami yang mereka ucapkan baru bisa.

Pastinya akan butuh proses apalagi dengan lingkungan kuliahnya itu sendiri. Kadang ketika tidak bisa datang pagi untuk kuliah, harus duduk paling belakang, kemudian sound system dikelas tidak bagus karena suaranya menggema jadi tidak jelas kuliahnya. Benar-benar perlu adaptasi pastinya dan itu butuh proses.

Waktu pertama datang itu bareng-bareng atau sendiri?
Saya waktu itu bareng-bareng lalu PPMI yang menjemput. Jadi untuk kuliah di Mesir ada beberapa gelombang pemberangkatan, setibanya di mesir PPMI yang menjemput lalu mengenalkan apa itu Al Azhar, mengenalkan bapak kita disana siapa, mengenalkan bagaimana hidup yang baik di Mesir, lalu ada juga semacam orientasi di Mesir untuk mahasiswa baru.

Untuk tempat tinggal sudah disediakan atau bagaimana?
Tempat tinggal diicarikan, bisa dari PPMI, bisa juga dari teman, bahkan kakak kelas juga bisa, banyak pilihannya. Biasanya sesama anak baru dikumpulkan di 1 rumah dimana disana ada 1 senior yang mengarahkan sebagai pembimbing. Itu sudah menjadi semacam adat di Mesir untuk mahasiswa baru. Jadi intinya anak baru tidak dilepaskan dalam 1 rumah bersamaan. Minimal ada 1 kakak senior sebagai pembimbing untuk mengarahkan, jadi sistem ini menurut saya sangat bagus dan sudah menjadi kearifan lokal di Mesir.


Selanjutnya masuk ke perkuliahan di Mesir, jadi disana kuliahnya bagaimana?
Jadi untuk perkuliahan di Al Azhar itu kebijakannya berbeda di setiap jurusan. Jadi yang berlaku di fakultas Hukum Islam begitu mialnya, tidak berlaku di jurusan-jurusan lain, karena itu bahkan bisa sampai tingkatan kebijakan setiap dosen. Pernah dosen saya itu mewajibkan seluruh siswanya untuk masuk dan membacakan presensi, jadi uniknya di Al Azhar ini karena siswanya banyak ya jika dibacakan presensi maka jam kuliahnya habis untuk itu saja. Kalau masuk semua, satu kelas untuk 600-an orang itu tidak cukup. Jadi memang tidak ada absensi di kelas, itu yang pernah saya rasakan, namun di jurusan lain mungkin ada.

Lalu di Al Azhar itu uniknya ilmu yang kita cari tidak hanya bisa dikenyam di bangku kuliah saja, disitu ada masjid Al Azhar, jadi disitu ada dosen-dosen, pakar-pakar setiap bidang berkumpul dan teman-teman juga sering ikut disana untuk mendapatkan berbagai ilmu tambahan. Kadang taman-teman tidak masuk kuliah karena mejanya penuh dan dipaksakan ikut sekalipun tidak akan dapat kursi. Bisa jadi sudah tidak ada posisi enak, adanya jauh dari sound system, kalau sudah begitu saya sendiri memilih keluar dan mengisi waktu dengan kegiatan lain. Sebagian teman-teman punya cara untuk menyiasati hal tersebut yaitu titip rekaman. Jadi saya sendiri punya rekaman kuliah dari tingkat 1 sampai tingkat 4. Tinggal buka filenya jika perlu untuk belajar, itu dalam mp3 formatnya. Caranya titip rekaman cukup menggunakan hp yang diletakkan di meja dosen dimana itu memang boleh karena untuk mengantisipasi meja yang tidak cukup iu tadi.

Kadang ada mata kulah yang memang cenderung kita memilih untuk tidak masuk, misalnya untuk orang Mesir itu bahasa Inggris. Itu tipikalnya susah bagi orang Mesir karena pada dasarnya mereka seperti kita. Biasanya orang Indonesia menulis bahasa atau huruf latin lalu diminta menulis bahasa atau huruf Arab akan susah. Sementara itu orang Mesir sudah biasa menulis Arab yang ketika harus menulis latin seperti bahasa Inggris itu jadinya susah. Jadi untuk ilmu-ilmu keagamaan orang-orang Mesir yang masuk banyak, namun untuk bahasa Inggris justru sebaliknya.

Menurut saya tidak adanya presensi itu faktor karena fasilitasnya yang belum cukup saja. Sekarang ini Al Azhar sedang melakukan pembangunan besar-besaran jadi mungkin setelah selesai akan ada perubahan sistem. Cara yang dipakai untuk mengantisipasi itu dengan rekaman juga bagus, jadi meski tidak masuk tetap tidak tertinggal pelajaran. 


Kemudian selain kuliah, pada saat waktu luang apa kegiatannya?
Kalau saya lebih banyak bergerak di organisasi, PPMI. Kegiatannya majemuk di Mesir, dimana kalau tidak salah ada sekitar 3000 mahasiswa dan sebagian dari mereka aktif di organisasi. PPMI itu induknya yang menaungi berbagai organisasi di bawahnya dalam berbagai bentuknya dan lingkupnya. Saya dan teman-teman aktif di organisasi induknya, lalu sering mengadakan event yang bahkan tidak hanya bulanan lagi, tapi mingguan. Intinya silaturahim dengan berbagai organisasi, jadi kehidupan di Mesir memang kalau tidak di organisasi ya kuliah atau belajar.

Tetapi ketika sudah masuk masa ujian, minimal 1 bulan sebelum ujian itu kita semua vakum. Semua mahasiswa Indobesia di Mesir kegiatannya hanya diskusi dan belajar bersama. Jadi kegiatan PPMI itu tidak penuh dalam waktu 1 tahun, ada waktu-waktu khusus dimana kami vakum menjelang ujian. Karena sudah umum diketahui bahwa ujiannya di Al Azhar itu mengerikan, sudah belajar sekalipun masih bisa gagal, apalagi jika tidak belajar. Makanya lebih baik mempersiapkan diri secara maksimal dibanding menyesal setelah nanti keluar hasilnya dan hanya bisa menyesal.

Ujiannya seperti apa di Al Azhar?
Ujian di Al Azhar itu unik, sperti saya bilang sistem perkuliahannya juga sudah unik. Ujiannya dibagi 2 yaitu ujian lisan dan ujian tertulis. Untuk ujian lisan tidak banyak yang diujikan hanya sebagian saja, untuk ujian tulis itu lebih banyak lagi materinya. Contoh di kampus-kampus lain itu ujiannya 1 materi misalkan materi hukum, soalnya ada banyak sampai 10 atau lebih, jadi ketika ada salah beberapa tentu mash ada yang benar beberapa juga. Tapi di Al Azhar itu soalnya cuma 1 atau 2, jadi bisa saja kalau salah semua tidak ada harapan. Saya pernah itu ujian saya materi bukunya 500 halaman, soalnya cuma 2 tapi meskipun ada poin-poin tambahannya, secara umum tetap mengikat pada 2 tema utama jadi ketika salah ya sudah, harapan tipis unuk naik tingkat. Kadang soalnya sedikit tapi mematikan. Contoh, yang 500 halaman tadi, saya baca hanya sebagian dari halaman 1 - 400, tapi ternyata soal yang keluar justru mengenai halaman 401 - 500.

Materi yang paling sulit saat ujian?
Jadi ada bahasan mengenai hukum aborsi di sebuah mata kuliah, soal ujiannya tentang bagaimana pandangan UU Mesir terhadap hukum aborsi ini? Nah, jadi menurut saya juga waktu itu saya sebagai mahasiswa Indonesia, kenapa juga membaca Undang-Undang Mesir, tapi ternyata soalnya begitu yang cenderung ke orang-orang Mesir saja yagng paham. Ujiannya juga essay jadi harus benar-benar paham. Teman-teman unik kalau ujian, jadi sebelum menjawab itu sampai menulis doa juga di lembar jawab untuk menarik perhatian penilai. Selain itu bisa juga dengan menulis yang rapi, menggaris pinggir kertasnya, bahkan ada yang menulis sholawat agar pemberi nilai tertarik.


Ada ceita-cerita yang jarang orang tau, semacam untold story ketika kuliah di Mesir?
Saya pernah mengalami pengalaman unik pas tingkat 3. Jadi saya ujian lisan bersama orang dari Singapura dan Malaysia. Berawal dari kebiasaaan untuk ujian lisan dimana kita tahu kemampuan diri sendiri, saya level belajarnya sekian, jadi saya akan mencari teman-teman yang satu level dengan saya, kemudian belajr bareng, lalu ujiannya juga bareng untuk ujian lisan. Tujuannya jadi kalau tidak bisa satu yang lain juga pasti tidak bisa. Jangan mencari yang berbeda level. Waktu itu saya mau masuk ujian lisan, cari teman yang satu level ternyata sudah tidak ada, tinggal yang pintar semua. Lalu saya hanya menunggu tapi kemudian saya ditarik oleh teman saya orang Malaysia, jadilah didalam dengan orang Malaysia dan Singapura. Waktu itu ujian lisan soalnya hanya 1 saja, siapa pengajar kamu di pelajaran ini? Pertama orang Singapura ditanya, nggak tau, alasannya karena sakit, lalu dosennya tanya kamu sakit setahun sampai tidak kenal? Orang kedua orang Malaysia, ia tidak tau juga, lalu dilempar ke saya, saya tahu karena saya pernah masuk kelasnya. Ya dosennya itu yang menguji itu jawabannya, saya bilang anda pak dosen, lalu akhirnya saya disuruh keluar, selesai, itu ujiannya, dan saya berhasil naik tingkat keempat, 2 teman saya tidak. Jadi ada hal unik yang bahkan tidak akan bisa diprediksi, harus siap saja.

Sering ada konflik dengan orang Mesir?
Harus dipahami bahwa tipikal orang Mesir itu keras kepala, benar atau salah memang begitu, malah kebanyakkan orang Timur Tengah ya begitu. Tapi itu kita maklumi, tidak juga menggeneralisir, masih ada juga yg baik, terutama tetangga-tetangga terdekat yg sering memberikan makanan dan bahkan uang. Ketika bulan puasa warga Mesir berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Semua yang memiliki harta lebih biasanya membuat semacam tempat duduk panjang plus meja lalu menyiapkan makanan untuk buka. Jadi disana tidak perlu pusing mencari makan untuk berbuka, karena banyak semacam rumah makan gratis, dan itu makan berat. Jadi disetiap masjid ada, bahkan di setiap pojok jalan ada. Kita sering memilih diluar rumah karena bisa sekaligus berbaur dengan warga Mesir. Intinya ada yang baik, ada yang kurang kerjaan juga pada dasarnya.

Disana biaya hidupnya bagaimana dibanding Indonesia?
Biaya hidup di Mesir secara umum terjangkau. Uang yang digunakan adalah Pound Mesir, sekitar Rp 1500. Standar bagi kita di Indonesia sebenarnya, misalkan mau beli makan di Indonesia, itu sekitar 15rb Rupiah untuk nasi Padang, sementara di Mesir sekitar 15 Pound Mesir untuk sekali makan. Bedanya nol-nya banyak di indonesia untuk mata uang. Transportasi juga terjangkau, kita bisa kemana saja dengan 1 atau 2 Pound Mesir. Ongkos bis 1 pound bahkan mau ke Pyramid saja bisa sampai dengan MRT. Bayar rumah biasanya patungan, 1 bulan 1000 Pound Mesir, ada 5 orang dalam 1 rumah jadi per orang patungan 200 saja. Kita cenderung dirumah kontrakan jadi satu dengan orang Indoneia saja karena ada yang pernah berbaur itu banyak penyesuaiannya yang misal jadi tidak selera makan, kita masak apa mereka tidak bisa makan dan sebaliknya mereka masak apa kita tidak bsia dsb. Jadi interaksi dengan orang luar di kuliah atau diluar kuliah juga diluar rumah.


Orang kuliah di Mesir itu, yang menurut mas Imdad itu prospek di jurusan atau bidang apa?
Pada dasarnya ilmu-ilmu atau jurusan-jurusan dan fakultas di Al Azhar itu ada di Indonesia semua misalnya di UIN. Hanya perbedanaanya adalah kita bisa mendapatkan ilmu dari mana saja, di Al Azhar kita langsung mendapatkan ilmu dari para guru atau para pakar yang tidak diragukan lagi. Lalu kita juga ada di lingkungan yang berbeda jadi kita juga bisa melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda pula. Kita bisa tahu harusnya Indonesia bisa begini begitu, dll. Di Al Azhar ada Hukum Islam, Bahasa Arab, dan Ushuluddin, itu yang paling bayak diambil mahasiswa dari Indonesia. Selain itu ada beberapa yang lain namun tidak begitu ramai. Biasanya sebelum ke Mesir masing-masing sudah tahu ingin ambil jurusan atau bidang apa. Misalkan di daerah saya pakar Hukum Islam kurang, jadi kuliahnya ambil yang itu di Mesir.

Lalu ada sistem baru di Al Azhar, dimana teman-teman yang lolos seleksi di kementerian akan masuk kelas yang namanya markaz bahasa. Disana mereka dididik ulang tentang bahasa. Jadi yang menganggap dirinya tidak bisa bahasa Arab atau bahasa Arab-nya masih kurang, nanti dididik bahasa arabnya sekaligus belajar dasar-dasar ilmu agamanya, itu adalah bekal yang sangat efektif sebelum kuliah. Program itu baru dimulai tahun 2014, jadi pada waktu saya dulu belum ada. Menurut saya hal itu memang bisa memfasilitasi teman-teman yang menganggap dirinya kurang mumpuni dalam skil bahsaa Arab dan juga sekaligus banyak belajar ilmu-ilmu dasarnya yang nantinya akan dipelajari di kuliah lebih lanjut.

Mas Imdad dulu menggunakan beasiswa?
Saya memanfaatkan beasiswa Al Azhar sampai akhir kuliah tapi daftarnya waktu tingkat kedua. Karena biasanya lembaga pemberi beasiswa punya syarat sendiri. Misalkan Rumah Kuwait, beasiswa ditawarkan untuk mahasiswa asing, tapi minimal mengantongi nilai yang baik, bagus, atau good standarnya untuk di Mesir. Di Al Azhar nilai itu tidak menggunakan IPK tetapi yang digunakan adalah good, very good, enough, atau dibawahnya. Bahkan ketika ditanya teman-teman juga menggunakan bahasa itu, bukan bilang nilainya 3,5 atau berapa. Beberapa lembaga beasiswa juga bahkan menyediakan tiket pulang kemanapun negara asalnya. Syarat beasiswa Al Azhar yang saya pergunakan cuma perlu menunjukkan bukti naik tingkat saja.


Pengalaman paling menarik selama di Mesir?
Banyak pengalaman seru, menarik dan unik selama saya berada di Mesir. Namun kalau disuruh memilih salah satu pengalaman diantara beribu pengalaman menarik adalah saat saya berada di tahun ketiga. Waktu itu seluruh mahasiswa universitas Al Azhar sedang tekun mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester. Saya juga demikian, sampai begadang membaca diktat yang akan diujikan lalu mengulang hapalan. Kala itu kami sedang menghadapi ujian lisan. Ujian lisan merupakan salah satu yang paling saya takuti sebenarnya. Karena selain yang diujikan adalah materi-materi dari berbagai mata kuliah juga diujikan pula hafalan Al Quran. Dengan persiapan yang kurang matang karen sibuk di berbagai kegiatan dan kurang menguasai banyak materi untuk menghadapi ujian lisan ini, saya memasuki ruangan ujian dengan terbata bata bersama dua rekan saya dari Singapura dan Malaysia. Ketika duduk setelah mengucapkan salam, sang penguji melontarkan pertanyaan pertama kepada kami. Pertanyaannya 'Man mudarrisuka fid darsi Ushul Fiqh' Siapa pengajarmu pada materi Ushul Fiqh tanyanya. Pertanyaan ini dilontarkan bergantian mulai dari rekan saya yang Malaysia lalu Singapura lalu saya. Sayangnya dua rekan saya tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan itu karena belum pernah masuk pada materi Ushul Fiqh. Ketika tiba giliran saya, saya menjawab 'Antum ya Duktur', Anda pak dosen yang menjadi pengajar dalam materi ushulu fiqh'.

Sang penguji tersenyum dan mengatakan 'Silahkan kamu keluar kamu lulus ujian lisan'. Saya girang dan keluar dengan sangat senang. Karena memang saya sendiri belum matang untuk mempersiapkan ujian lisan dari mulai pemahaman materi kuliah atau hafalan Al-Quran.

Pesan untuk adik adik yang mau kuliah di Mesir?
Orang-orang menjuluki Mesir sebagai pusat keilmuan, kalau kita ingin mengambil ilmu tersebut maka datangi sumbernya. Mesir tidak hanya menjanjikan ilmu, wawasan, pengetahuan dari bangku kuliah saja. Diluar perkuliahan juga demikian. Selain itu Mesir juga menawarkan keindahan alam serta peradaban yang luar biasa dan dikenal dunia. Dengan belajar di luar negeri, kita dapat melihat Indonesia dari perspektif luar untuk dapat berkontribusi lebih baik lagi.

Reporter : Rizqi Akbar Syah

Editor : Denal Sukma Dewa
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,80,Arab Saudi,13,Asia,236,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,288,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,9,Destinasi,65,Eropa,310,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,85,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,14,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,56,Jerman,45,Kanada,26,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,14,PPI,6,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,23,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,23,Student Life,146,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,5,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,1,Universitas,35,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Cerita dan Perjalanan Imdad Azizy dari Pondok Pesantren di Jawa Timur Sampai Universitas Al Azhar Mesir
Cerita dan Perjalanan Imdad Azizy dari Pondok Pesantren di Jawa Timur Sampai Universitas Al Azhar Mesir
https://2.bp.blogspot.com/-Ob0bKBvCQyA/WBae9S-RVOI/AAAAAAAABnY/cGXK50jDvN0SvHIVZeBr5dqwn2RfjcrPwCLcB/s640/14826176_1801200150150220_537381463_n.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-Ob0bKBvCQyA/WBae9S-RVOI/AAAAAAAABnY/cGXK50jDvN0SvHIVZeBr5dqwn2RfjcrPwCLcB/s72-c/14826176_1801200150150220_537381463_n.jpg
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2016/10/cerita-dan-perjalanan-imdad-azizy-dari.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2016/10/cerita-dan-perjalanan-imdad-azizy-dari.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy