Artikel Terbaru

SYAFIRA FITRI AULIYA: Awalnya Takut Sama Bahasa Inggris, Tapi Akhirnya Berhasil Kuliah di Edinburgh, Inggris

Halo Fira!

Senang akhirnya punya kesempatan buat wawancara salah satu teman lama yang sekarang dapat kesempatan kuliah di luar negeri : )


Hai berkuliah.com. Saya biasa dipanggil Fira, dari Syafira Fitri Auliya. Sebagian SD, SMP, dan SMA saya lewatin di Yogya tapi waktu kuliah diusir Ibu ke luar kota, ga boleh kuliah di Yogya, biar mandiri katanya. Sehingga saya menjalani sarjana di Teknik Informatika ITB. Sekarang saya kuliah master di jurusan Science and Technology in Society, School of Social and Political Science di University of Edinburgh, UK.

Waktu SMA, saya berkesempatan ikut OSN Komputer dan mengalami bahagianya bikin-bikin program di komputer sehingga mengambil jurusan Teknik Informatika ITB. Saat masa kuliah, seperti halnya semua orang, saya melalui masa pencarian jati diri sampai akhirnya menemukan apa yang saya ingin lakukan di masa depan. Bahkan pada saat sedang idealis-idealis-nya, saya pernah berkeinginan menjadi anggota DPR-RI hehe sehingga melakukan internship di Sekretariat Jenderal MPR-RI dan tugas akhir saya-pun tentang DPR-RI.

Tapi seiring berjalannya hari dan meningkatnya kesadaran akan kelebihan-kekurangan diri, saya memutuskan untuk di masa depan mengambil peran untuk berada di dalam lembaga eksekutif pemerintahan; lebih spesifiknya sebagai bagian pembuat kebijakan bidang teknologi karena saya suka banget mengaji berbagai aspek dalam pembuatan kebijakan. Saya tertarik dalam bidang kebijakan karena percaya bahwa dengan kebijakan yang tepat, manfaat yang dirasakan oleh masyarakat akan sangat teramplifikasi :)


Namun berhubung berasal dari jurusan teknik dan merasa masih sangat kurang dalam aspek non-teknikal (kebijakan publik, human behaviors, pengaruh politik, ekonomi, dll) dalam pengambilan kebijakan, maka saya butuh untuk melanjutkan pendidikan mempelajari hal-hal tersebut. Alhamdulillah jurusan yang saya jalanin sekarang mengajarkan itu.

Proses Awal Kuliah ke Luar Negeri

Seperti hampir semua orang, proses hingga saya memulai perkuliahan di Edinburgh ga mulus begitu saja. Saya awalnya berkeinginan (dan sudah dalam proses pendaftaran) untuk melanjutkan kuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan UGM, Yogyakarta. Tapi, penasehat nomer satu saya, Ibu, merasa saya butuh untuk mencari ilmu di tempat yang lebih jauh lagi. Setelah debat panjang lebar sama beliau, akhirnya saya menyerah (karena restu orang tua nomer satu) dan setengah hati mengganti rencana studi di luar negeri. Sebenernya kalau boleh jujur, alasan utama saya tidak mau melanjutkan kuliah di luar adalah karena keterbatasan saya dalam berbahasa Inggris. Bahasa Inggris selalu jadi ‘momok’ yang saya takuti dan hindari hehehe (saya akan cerita lebih lengkap di bawah).

Singkat cerita, saya mendaftar di tiga universitas yang menawarkan program studi yang saya butuhkan. Informasi tentang mereka didapat dari konsultasi dengan teman di satu field, senior di universitas yang sama, dan terutama rajin-rajin mencari di Google. Alhamdulillah, tiga universitas tersebut yakni University of Edinburgh, University of Manchester, dan University of Southampton memberikan acceptance-nya walau University of Manchester (UoM) baru mengeluarkan conditional acceptance karena nilai IELTS writing saya kurang 0.5 dari yang mereka syaratkan. Padahal justru UoM yang jadi tujuan utama saya karena mata kuliah yang mereka tawarkan paling linear dengan ilmu yang saya butuhkan. Sehingga saya terus dan terus mengambil tes IELTS demi mencapai nilai writing yang mereka minta.

Tapi ternyata, pada percobaan keempat, saya dipaksa memahami bahwa walau usaha maksimal adalah wajib, pada titik tertentu kita harus sadar bahwa ada tanda dari Tuhan kalau mungkin “rezeki-ku bukan di sini”. Saya belajar untuk berhenti, sehingga akhirnya mengambil tawaran dari University of Edinburgh (keputusan yang sama sekali tidak saya sekali!).

Kalau ditanya mana yang lebih penting: ranking universitas, negara, jurusan, atau beasiswa dalam mencari universitas, saya bilang jawabannya “tergantung kebutuhan”. Saran saya ke setiap orang akan berbeda tergantung circumstances dan apa yang dia tuju di masa depan. Tapi generally saya akan bilang untuk jenjang master yang paling penting adalah keterhubungan mata kuliah yang ditawarkan dengan ilmu yang kita cari. Ranking universitas juga boleh jadi rujukan, tapi lebih utamakan ranking fakultas atau jurusannya.

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa LPDP

Fira bersama teman-temannya saat acara Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP. Photo Credit by :Meita Aznira
LPDP menjadi bagian dari rezeki saya. Dari awal saya sadar bahwa track-record akademik saya nggak sekinclong seharusnya (IPK lulus cuma 3.04, syarat LPDP minimal 3.00), sehingga coba maksimalin di komponen lain. Alhamdulillah selama kuliah saya punya beberapa pengalaman organisasi yang cukup bisa menjadi daya tawar dan berhubungan dengan jurusan tujuan kuliah; tetapi hal itu aja ga terasa cukup sebagai kompensasi IPK minim ini.

Berhubung bidang yang akan saya geluti adalah bidang pemerintahan bagian kebijakan teknologi, saya mencoba mencari pengalaman kerja di bagian tersebut. Saya hubungin senior panutan saya, Kak Emil Fahmi Yakhya, yang bekerja di Dewan Smart City Kota Bandung untuk menanyakan apakah ada peluang di sana. Saya dibawa Kak Emil untuk rapat dan lain-lain di kegiatan Smart City tersebut hingga diikutkan di proyek kajian Smart City Kota Bandung yang diadakan oleh BAPPEDA Kota Bandung. Setelah itu, saya juga terlibat di kajian Infrastruktur TIK Kota Bandung yang diadakan oleh Diskominfo Kota Bandung sehingga mendukung argumen kalau saya punya pengalaman/pengetahuan di jurusan yang akan saya geluti.

Jadi, kalau udah sadar ada kelemahan yang ga bisa diapa-apain lagi (seperti IPK), kita ga punya hak buat males dan pasrah tanpa mengusahakan yang masih bisa kita kejar. Anyway, saya pernah menulis lebih panjang tentang kisah dan tips tes LPDP di blog www.herephy.wordpress.com.


TOEFL atau IELTS?

Saat mendaftar LPDP, saya memakai TOEFL ITP karena murah hehe. Untuk pendaftaran universitas saya memilih IELTS karena lebih nyaman berkomunikasi dengan manusia dibanding dengan komputer seperti halnya TOEFL iBT.

Untuk mencapai skor ITP 550 yang disyaratkan LPDP, saya perlu dua kali tes. Metode belajar saya dengan memanggil guru privat selama seminggu dengan durasi setiap harinya selama delapan jam. Tes pertama saya mendapat 547. Berhubung hasil tes pertama tersebut super tanggung, sebelum tes kedua saya tiga hari berturut-turut ngambil prediction test dengan nilai 547, 565, dan 587. Hasil real real tes saya yang kedua 569. 



Kalau IELTS, lebih gencar perjuangannya. Saya les di tiga tempat: TBI Bandung kelas khusus IELTS, Real English Yogya, dan memanggil guru privat untuk academic writing. Saya-pun intensif belajar sendiri sampai sering jadi orang terakhir yang pulang dari perpustakaan. *orang bodoh ga boleh males*

Hasil dari empat kali tes saya adalah Reading 9 – 9 – 8.5 – 7.5, Listening 6 – 6.5 – 6.5 – 6.5, Speaking 6 – 6 – 6 – 6, dan Writing 6 – 6 – 5.5 – 5.5. Sehingga overall saya dari tes pertama hingga keempat adalah: 7 – 7 – 6.5 – 6.5.

Pada saat tes pertama, saya kaget karena nilai yang didapat lebih tinggi dari ekspektasi. Begitupun setelah menerima hasil tes kedua masih optimis karena nilainya naik. Di test ketiga, saya sengajain datang ke Bandung karena percaya dengan selentingan bahwa B* Bandung ngasih nilai speaking dan writing lebih “baik hati” dibanding tempat lain (yang ternyata sama sekali ga terbukti haha). 



Setelah melihat hasil tes keempat, saya berada di persimpangan: antara mencoba lagi demi mencapai nilai writing yang kubutuhkan atau tersadar bahwa, setelah mengusahakan usaha maksimal yang saya bisa, inilah saatnya saya disuruh berhenti sama Allah. Setelah perenungan dan diskusi, saya memilih opsi kedua. Kalau boleh jujur, saya belum pernah mengalami harus memilih Plan B untuk pendidikan jadi awalnya ada protes-protes ke Yang Maha Merencanakan “kok saya ga dapet apa yang saya mau sih Tuhan? Kan udah usaha maksimal!”, tapi ternyata setelah dijalani selama dua bulan di Edinburgh, saya bersyukur telah memilih opsi ini :)


Walaupun saya ga berhasil, bukan berarti ikhtiar test berkali-kali itu selalu sia-sia. Semua temen seperjuangan saya yang test 4-5 kali berhasil kok mencapai nilai incaran mereka. Dua orang temen berhasil menaikkan speaking dan writing dari 6.0 menjadi 6.5 dengan empat kali usaha. Bahkan ada temen berhasil naikin writing dari 4.5 jadi 8.0 dan speaking 5.0 jadi 7.0 dengan lima percobaan. Don’t worry.

Tahapan Paling Menantang

BAHASA! Seperti yang saya sebut di atas, saya sebenernya takut sama bahasa Inggris. Ini juga jadi salah satu alasan saya kuliah di Edinburgh sih. Kalau breaking my limit ga usah tanggung-tanggung sekalian di kota dengan aksen Inggris kental aja.

Fira dan teman-temannya selepas solat Iedul Adha di Edinburgh
Photo Credit: Christie Ruslim
Cara Beradaptasi Versi Fira!


Setelah berusaha mempersiapkan apa yang bisa kita siapkan, cuma satu yang bisa dilakuin: jalani aja. Kondisi saya agak unik sebenernya karena dari jurusan teknik lompat ke jurusan political and social science sehingga banyak banget pola pikir dan pengetahuan yang perlu saya kejar. Tapi ternyata sampai saat ini, saya masih merasa baik-baik aja walaupun usaha pastinya lebih keras dibanding saat kuliah sarjana.


Beda dengan waktu S1 yang hampir ga pernah baca, apalagi beli, buku cetak, di sini saya harus membaca paper/buku hingga 200 halaman perhari. Di hari-hari awal, tentu keteteran. Tapi sekarang (1,5 bulan setelah mulai kuliah) udah mulai bisa ngebikin ritmenya kok. Saya udah bisa memperkirakan kecepatan baca dan kapan harus ngebagi waktu untuk baca paper-nulis essay-kegiatan sosial-dan target pribadi lainnya. Saya biasa tidur cepat di sini, sekitar jam 22 udah tidur, supaya bisa bangun jam 3 pagi karena otak saya paling bekerja di jam-jam segitu.
Tantangan lain adalah diskusi kelas, karena mata kuliah – mata kuliah yang saya ambil formatnya student oriented jadi pasti ada satu jam waktu untuk waktu diskusi. Naah sebagai orang ber-speaking-listening minimum, udah biasa banget waktu berbicara saya dikomentari  “sorry? What do you mean?” “can you repeat it again?”. Bahkan kalau lagi diskusi dengan native yang logatnya kental (dan ngomongnya cepeeet banget berasa satu paragraf ngomong tanpa narik nafas), saya sering cuma bisa ketawa dan sok tau bilang “oh yeah I agree” karena ga nangkep mereka bilang apa (terus diliatin dengan aneh karena jawaban saya ternyata ga nyambung hahahaha).

Kalau lagi ada kesulitan ada temen-temen Indonesia, flatmates mahasiswa internasional, maupun temen-temen sejurusan yang bisa dimintain bantuan. Seperti pada saat terserang measles (campak) di sini, saya diisolasi ga boleh berinteraksi dengan orang lain selama sekitar seminggu sehingga bahkan ke dapur untuk membuat makanan-pun ga bisa. Pada saat itu, temen-temen bergiliran dateng ke flat nganterin makanan di depan pintu kamar.


Karakter Mahasiswa Internasional


Temen-temen sekelas saya ada yang udah pernah ngambil master empat kali, ada yang udah pengalaman kerja puluhan tahun, ada yang lulusan universitas lima besar dunia, bahkan ada yang seusia Bapak saya. Tapi mereka baik-baik banget. Mereka tau kalau kemampuan bahasaku terbatas, jadi bersabar nunggu sampai saya selesai ngomong. Kalau ngobrol, mereka juga sengaja pelanin kecepatannya. Jadinya, saya udah masa bodoh sama ketidakmampuan bahasa ini. Yang penting berusaha ngomong, karena mereka menghargai itu. Walau sering kali yang saya bicarakan tak terlalu berbobot karena kemampuan critical thinking juga kalah, saya udah ga peduli. Namanya aja lagi belajar.

Mahasiswa di sini juga sangat menghargai perbedaan. Setelah saya jelasin kalau ga makan daging non-halal, setiap kali makan mereka ngajaknya ke restoran halal/for vegetarian. Berhubung saya satu-satunya orang Islam di jurusan, mereka juga sering nanya-nanya tentang Islam ke saya. Sayangnya, saya terlewat untuk memperdalam pengetahuan agama sebelum berangkat jadi banyak pertanyaan mereka ga belom bisa dijawab dengan memuaskan. Seperti saat ngebahas fenomena intersex people, saya ga bisa ngasih jawaban gimana agama Islam menyikapi fenomena ini.

Fira bersama teman-teman PPI Edinburgh di hari batik.

Photo Credit: Christie Ruslim
Akomodasi dan Biaya Hidup

Kalau untuk saya yang enggan ribet ngurus bills dan enggan menempuh jarak jauh dari kampus, lebih baik pilih student accommodation. Harga memang lebih mahal, tapi menurut saya totally worth it karena sudah termasuk segala tagihan, shared-kitchen beserta peralatannya yang dibersihin setiap minggu, kamar mandi dalam yang dibersihin setiap dua minggu, dan setiap ada masalah dengan fasilitas flat tinggal hubungin pihak pengelola. Untuk memesan student accommodation, lakuin jauh-jauh hari karena di bulan-bulan mendekati September pasti udah penuh. Saya sendiri dapet akomodasi pilihan keempat karena baru apply sekitar bulan Juni.

Tapi kalau memang tertantang untuk hidup seperti penduduk lokal, belajar ngurus bills, dan ga keberatan dengan jarak tempuh lebih jauh demi menabung maka private accommodation bisa jadi pilihan. Cara pemesanannya bisa dengan cek di website seperti http://www.rightmove.co.uk dan begitu ada yang menarik hati lanjutkan komunikasi dengan landlord-nya. Jangan lupa hati-hati kalau lagi komunikasi gitu, pastiin si landlord-nya valid dan bukan scamming.
Harga akomodasi normal untuk di Edinburgh sekitar £350 – £600 perbulanAkomodasi. Saya mengeluarkan £550 sebulan untuk akomodasi. Berdasarkan catatan pengeluaran (saya nyatat pakai aplikasi “Money Lover” di HP, cobain deh!), pengeluaran lain yang signifikan di bulan kemarin adalah makanan (termasuk makan di restoran dan beli bahan masakan) £130.29, transportasi £11, pulsa HP £10, dan keperluan akademik (beli buku dkk) £101. Pihak universitas juga ngasih estimasi living cost bagi student yang bisa dilihat di sini (http://www.ed.ac.uk/studying/international/finance/cost-of-living)
Pemasukan Tambahan

Kontrak yang kami tanda tangani ga membolehkan penerima beasiswa LPDP untuk bekerja selain pekerjaan yang berhubungan dengan akademik sehingga kami ga bisa mencari pemasukan tambahan dari pekerjaan seperti di restoran. Tapi, temen-temen yang sponsornya ga melarang bisa dapat pemasukan tambahan dengan menjadi partisipan di research atau jadi contributor di media kampus. Renumerasi yang didapat, kalau rajin, lumayan bisa nutupin biaya makan :)  


Kalau Kangen Indonesia

Masakan simple seperti bakwan jagung + sambal bawang, mie jawa, atau tempe mendoan masih bisa masak sendiri karena bahannya juga tersedia. Tapi kalau untuk makanan yang persiapannya ribet seperti pempek atau gudeg, kami biasanya pesen dari Tante Didi. Beliau buka jasa katering makanan Indonesia dan makanannya enak-enak banget. Selain dari beliau, pada saat acara PPI UK yang besar seperti Nusantara Cup di Newcastle kemarin juga banyak banget stand makanan Indonesia yang ngejual dari pempek sampai Sambal Bu Rudy.


Kalau kangen dengan orang-orang di Indonesa, saya biasanya memakai Skype, FaceTime, atau WhatsApp Call dengan orang tua dan temen-temen. Tapi sejujurnya saya belum pernah ngerasain home sick sih di sini; mungkin karena udah terbiasa merantau waktu kuliah di Bandung. Walau komunikasi juga jarang karena perbedaan zona waktu, yang terpenting saya tau kalau orang-orang penting saya baik-baik aja, dan mereka juga tau kalau saya baik-baik aja.

Kegiatan di Luar Kuliah

Kalau untuk organisasi formal, tidak sama sekali karena udah beda fokus hehe. Kegiatan lain di luar akademik yang rutin cuma badmintonan seminggu dua kali, sosialisasi, dan mengejar pencapaian-pencapaian pribadi lain yang udah jadi target saya. Selagi masih kuliah dan punya jadwal yang lebih teratur dibandingin kalau kerja, banyak hal yang pengen saya eksplor.

Traveling!

Photo Credit: Dana Lutfi Ilmansyah
Edinburgh salah satu kota paling cantik yang pernah kulihat, dan kabarnya salah satu yang paling menarik se-UK juga; jadi nge-ekplorasi kota ini ga ada bosennya! Kalau ke luar kota, saya baru ke Leith dan Newcastle aja. Liburan natal besok yang insyaAllah bakal lebih jauh eksplorasinya :)

Peran ‘memiliki pengalaman kuliah di luar negeri’ Untuk Dunia Kerja

Hmmmm… saya sebenernya pengen bilang “ga ada bedanya pernah kuliah di luar negeri atau dalam negeri” karena bukan berarti saya yang kuliah di luar negeri bisa lebih berkualitas dari temen yang karena berbagai pertimbangan memilih melanjutkan pendidikan di Indonesia. Tapi harus diakui, pandangan orang Indonesia akan ‘lulusan luar negeri’ masih ‘elit’ sehingga dipandang lebih mampu dan hebat sehingga pasti meningkatkan nilai jual diri pada waktu berkarya di dunia kerja; baik pada waktu seleksinya maupun waktu mengutarakan pendapat. 



Sebagai contoh; salah satu orang terdekat saya yang lulusan sarjana dan master luar negeri direkrut sebagai jajaran eksekutif oleh perusahaan nasional Indonesia selain karena kapabilitasnya tapi juga karena “titlenya sebagai lulusan universitas luar negeri ternama” bisa dijual untuk menarik kepercayaan investor ke perusahaan itu.

Kesan Terhadap Kuliah di Luar Negeri


Banyak orang bilang setelah kuliah ke luar negeri jadi lebih percaya diri, tapi kalau menurut saya jangan sih kalau jadi lebih percaya diri cuma karena kuliah di LN. Tapi kalau jadi merasa nambah ilmu karena udah memahami buku, paper, artikel berjibun dan menulis essay-essay yang dinilai “bagus” oleh dosen sini yang memang pelit nilai, itu pasti. Daya analisa dan berpikir kritis juga harusnya meningkat karena dipaksa untuk selalu mikir (ga cuma memahami) baik saat membaca, menulis, maupun berpendapat. Atau seminimal-minimalnya, kemampuan bahasa Inggris meningkat jadi waktu punya anak bisa lebih fasih ngajarin bahasa Inggris :D

Kecintaan dan optimisme saya akan masa depan Indonesia ga berubah dari sejak tahun-tahun lalu sampai sekarang (walau jadi lebih realistis). Tapi sekarang, berhubung berniat turut andil masuk ke dalam sistem pemerintahan, saya jadi lebih tau apa yang perlu dilakukan saat mendapat amanah membuat kebijakan. Plus bagusnya, iklim belajar di sini membuat saya juga untuk selalu ‘merasa belum cukup ilmu’ karena dari satu bacaan referensinya ke puluhan bacaan lain. Essay-essay saya juga selalu mendapat feedback “referensi belum cukup” sehingga bikin ada keharusan terus dan terus nambah ilmu.

Selain itu, tentunya saya juga lebih jadi bisa menghargai perbedaan baik beda pendapat, beda culture, maupun beda ideologis yang berimplikasi jadi lebih berusaha memperkuat ‘root’ yang positif biar ga tergerus sama pengaruh lingkungan :)

Tips dan Trik Untuk Teman-teman yang Ingin Kuliah ke Luar Negeri!

1) Persiapkan bahasa sebaik-baiknya.

2) Selagi masih merasa bisa ada jalan yang diusahain, ga perlu banyak excuses dan langsung usahain.

3) Kalau udah ngusahain apa yang bisa kita usahain tapi belom dikasih keberhasilan, coba berhenti sejenak dan cek: “jangan-jangan ini tanda dari Tuhan kalau hal ini memang bukan rezeki kita?”. Pada saatnya, kita bakal tau kok kapan perlu untuk berhenti, kapan perlu untuk terus berusaha :) Rezeki ga akan tertukar dan Gusti Tuhan mboten sare jadi good luck!

Terima kasih banyak Fira sudah mau berbagi dengan berkuliah.com : )

=================================================================

Bagi yang berminat untuk tahu lebih banyak lagi mengenai beasiswa LPDP dan cara PASTI untuk lolos beasiswanya bisa SEGERA membaca dan mempraktekkan Jamu LPDP ( Jurus Ampuh Lolos Beasiswa LPDP )

Baca Jamu LPDP, peluangmu lolos beasiswa LPDP akan meningkat RATUSAN kali lipat. Dijamin 100%!

Paket Jamu LPDP ini terdiri dari :
1. Satu Buku Cetak Jamu LPDP setebal 307 Halaman
2. DVD berisi 4 Ebook dengan total 2500 Halaman
3. 34 Video Interview Mahasiswa Indonesia Penerima Beasiswa LPDP. Isinya tips SUPER RAHASIA langsung dari narasumbernya.
4. 4 Guidebook dengan berbagai topik seputar LPDP dan kuliah ke luar negeri

Semua itu merupakan hasil riset dan juga merupakan hasil wawancara langsung dari narasumber yang sudah berhasil lolos seleksi beasiswa LPDP.

Baca ini, Kamu Pasti Lolos Beasiswa LPDP.


Saat ini stok Jamu LPDP sudah sold out. Tapi kabar baiknya, kurang dari seminggu dari sekarang Jamu LPDP akan SEGERA READY.

Nah, agar kamu tidak kehabisan stok lagi SEGERA booking Jamu LPDP sekarang juga dengan kirim pesan via Facebook Messenger ( https://www.messenger.com/t/inspiraID/ ) atau via WhatsApp 0823-0016-6669 atau LINE @inspirabook ( https://line.me/R/ti/p/%40aqz9337h) ketik " Saya Booking Jamu LPDP "

Semakin CEPAT kamu booking Jamu LPDP, semakin CEPAT Jamu LPDP berada di tanganmu.

Asyiknya, kalau kamu booking Jamu LPDP dari SEKARANG, kamu akan langsung mendapatkan BONUS-BONUS berikut :
1. Buku " Jurus Bikin Motivation Letter Pasti Tembus Beasiswa Luar Negeri" senilai Rp 89.000,00
2. Buku " Jurus Rahasia Lolos Wawancara Beasiswa Luar Negeri " senilai Rp 87.000,00
3. Kalender Inspira Book 2017 senilai Rp 19.000,00
4. Poster Check List Persiapan Kuliah ke Luar Negeri senilai Rp 17.000,00
5. Gratis Ongkir ke Seluruh Indonesia senilai Rp 50.000,00

Total BONUS yang akan kamu dapatkan adalah senilai Rp 262.000,00 !!!

Booking SEKARANG JUGA, sebelum kamu menyesal karena kehabisan stok saat buku sudah ready nanti.

Baca Ini, Kamu PASTI Kuliah ke Luar Negeri. Dijamin 100%



Advertisement
Scroll To Top