Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 1)

Kali ini Berkuliah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan cerita luar biasa dari Gadis Ranty, seorang mahasiswi Indonesia yang kuliah di ...

Kali ini Berkuliah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan cerita luar biasa dari Gadis Ranty, seorang mahasiswi Indonesia yang kuliah di University of Southern California, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Bagaimana kisah perjalanannya? Berikut hasil interview tim Berkuliah.



Mbak Gadis, sebelum di US itu kuliah dimana? Apakah sempat bekerja dulu atau langsung ambil kuliah S2, terus juga ambil jurusan apa, kenapa kuliah di US pada jurusan tersebut?

Awalnya saya kuliah S1 di UI pada jurusan Computer Science, tahun 2002, dan saya cuma bertahan 1 tahun. Setelah itu lalu saya ikut SPMB lagi untuk pindah ke jurusan Komunikasi di Fisipol UI. Selama kuliah itu saya juga ikut di Indonesia Student Association for International Studies (ISAFIS), senat, lalu saya juga sempat magang di pertengahan perkuliahan, yaitu semester 6 di Free Magazine. Kemudian saya menyelesaikan magang dan lulus pada tahun 2008. Setelah itu saya ikut Yayasan Jurnal Perempuan, yaitu yayasan yang bergelut di bidang kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan Indonesia, sambil berencana mengambil kuliah S2.


Sambil saya mencari-cari beasiswa untuk S2, saya diajak teman untuk ikut tes bekerja di Kementerian Luar Negeri dan justru diterima itu masih di tahun 2008 juga. Waktu itu ada beberapa tes, administrasi, substansi, wawancara, dan ada beberapa lagi saya lupa. Waktu itu saya tidak hanya ikut tes di Kementerian Luar Negeri saja tetapi juga di Bappenas. Setelah lulus S1 saat itu saya berpikir apakah kuliah S2 saja atau bekerja. Kalau mau S2 bisa cari beasiswa tapi jadi belum punya pengalaman kerja.


Kalau mau kerja tinggal pilih swasta atau PNS. Saat itu pilihan di PNS juga saya batasi hanya ke Kementerian Luar Negeri saja pada akhirnya karena memang sesuai dengan saya sebagai lulusan jurusan Komunikasi. Kalau masuk ke bagian-bagian yang merujuk ke teknis, mungkin bakal ada persaingan ketat dengan mahasiswa yang memang lulusan teknik atau ekonomi. Saya pikir Kementerian Luar Negeri nantinya akan lebih ke hubungan luar negeri jadi ya bisa lebih sesuai, mirip dengan lulusan HI. Kalau di Bappenas saya akhirnya menolak meski sudah diterima karena lebih ke pembangunan. Daripada karirnya tidak jelas disana meskipun juga PNS, mending ke Kemenlu.


Pada waktu itu saya juga sepat mengajukan permohonan bekerja di pihak swasta tapi tidak ada yang benar-benar sesuai keinginan saya. Saya pernah bekerja di detik.com tapi ternyata pekerjaannya yang sebagai jurnalis junior itu super berat. Saat orang tua juga tidak senang karena pernah sampai sakit tipes karena pekerjaan, jadi ya lupakan saja.




Akhirnya bekerja di Kemenlu dan waktu itu juga sebenarnya sudah tidak berpikir untuk lanjut kuliah S2. Waktu itu untuk fresh graduate akan diposisikan sesuai background sekolahnya atau pengalamannya, karena saya pernah aktif di penggerak HAM, awalnya saya ditempatkan di Direktorat HAM sebelum akhirnya bisa pindah ke Direktorat Diplomasi Publik. Bagian Direktorat Diplomasi Publik itu lebih ke humas dari kementerian kalau kata orang-orang, padahal tidak begitu juga tetapi lebih ke diplomasi publik.


Masa awal bekerja ada kegiatan di pusdiklat dalam bidang karir diplomatik dimana ada sekolah dinas luar negeri, sekolah staf luar negeri, dan skolah pimpinan luar negeri. Tujuannya adalah untuk peningkatan dan perbaikan karir dari para pekerja di kementerian tersebut. Jadi memang harus mengikuti kegiatan itu dulu untuk nantinya bisa menyatukan visi sampai pikirannya benar-benar sejalan. Dalam kegiatan itu ada tugas juga untuk membuat semacam paper atau laporan. Waktu itu setelah selesai lalu rangking atau peringkatnya dikeluarkan, saya ada di peringkat ke-11 dari total 148. Oleh karena itu kemudian saya ditugaskan untuk magang selama 3 bulan di Washington DC.


Sebelum masa bekerja dan yang pasti sebelum lulus saya sempat mengajukan permohonan di VoA untuk mengikuti fellowship, namun waktu itu prosesnya lama dan ternyata baru ada kontak lagi setelah saya mulai bekerja di Kemenlu, jadi ya sudahlah tidak dilanjutkan prosesnya. 


Saya masuk ke camp di Washington, yang sempat juga main ke VoA, magang selama 3 bulan dari Oktober 2009 sampai Februari 2010. Setelah itu, saya mendapatkan beasiswa training di Clingendael Institute, Belanda yang merupakan pusat Ilmu Poiitik dan Diplomasi di kawasan Eropa. Beasiswanya diberikan oleh Belanda ke Kemenlu di negara-negara sahabat Belanda termasuk Indoesia. 

Saya mulai mengikuti beasiswa itu pada bulan Februari 2010 sampai bulan April tahun 2010. Jadi dari Washington lalu ke Belanda dan setelah itu ke bagian HAM sampai awal tahun 2011 mulai di Diplomasi Publik.

Kenapa akhirnya bisa dirotasi ke bagian Diplomasi Publik? Terlepas dari hanya ada hak pimpinan untuk menempatkan karyawan sesuai pendidikan dan kemampuannya, namun memang waktu itu saya sudah menyampaikan keinginan untuk lebih mendalami Diplomasi Publik ketika mengikuti camp.



Semangatnya adalah bahwa diplomasi itu sebenarnya bukan kegiatan yang hanya eksklusif untuk kalangan tertentu saja seperti diplomat, tetapi sebenarnya semua juga bisa jadi diplomat. Banyak kegiatan yang bisa digali dibwah payung Diplomasi Publik. 

Bagi saya sebagai lulusan komunikasi yang saya pikirkan adalah untuk bisa meningkatkan ilmu itu diplomasi sendiri sehingga bisa diterapkan di pemerintah. Jadi saat itu memang ambisi saya harus ada di Diplomasi Publik. Waktu itu saya sempat bicara dengan sekretaris dirjen yang memang juga teman saya, intinya menyampaikan keinginan untuk ditarik ke Diplomasi Publik. Namun memang harus lapang dada, sabar, dan terima saja apa jadinya, karena sebenarnya ya harus seperti apa kata pimpinan. Ternyata yang saya sampaikan itu di follow up lalu jadilah saya dirotasi ke bagian Diplomasi Publik.

Selama bekerja itu saya sangat menikmati karena pekerjaan saya selalu ke lapangan dan bertemu banyak orang. Waktu itu lebih kepada sosialisasi kebijakan luar negeri karena hal itu tidak hanya didukung oleh masyarakat internasional saja tetapi juga oleh masyarakat dalam negeri. Jadi bukan hanya masyarakat internasional yang wajib tahu tetapi juga yang di dalam negeri juga harus tahu. Pemikiran ini sebenarnya sudah jauh diangkat oleh Hatta dari awal merdeka bahwa dukungan masyarakat itu penting untuk pemerintah dalam berbagai kebijakan termasuk dalam hal ini kebijakan internasional.


Waktu itu kegiatannya lebih banyak ke masyarakat dari mulai tokoh agama, pelajar, mahasiswa, yang pada dsarnya sebagai stakeholders diplomasi publik itu sendiri. Jadi juga ada kegiatan edukasi, dialog antar tokoh dan pemuka agama, lalu pada tahun 2012 ada Nusantara Model of United Nation. Itu semacam simulasi sidang PBB yang daripada hanya 1 universitas mending sekalian dicoba dalam lingkup nasional dan waktu itu kegiatannya sukses. 


Saya dan beberapa orang dikantor yang merasa kegiatan itu berguna karena bisa untuk belajar mmbangun model itu. Saya sampai pergi ke Milan karena merupakan yang paling tua untuk model simulasi sidang PBB. 

Selain itu, pelaksanaannya juga dibantu teman-teman dari berbagai universitas di Indonesa, dari berbagai daerah, yang rata-rata dari HI kemudian membangun network untuk menyelenggarakan kegiatan itu.

Pada saat itu saya merasa sudah senang dengan pekerjaan sampai sudah tidak tertarik kuliah dan bahkan tidak kepikiran sama sekali. Kemudian ternyata ada teman yang tiba-tiba mengajak daftar beasiswa Chevening di Inggris. Pada dasarnya saya tidak begitu tertarik karena kalaupun sekolah hanya pengen sekolah komunikasi yang bukan di Eropa termasuk Inggris, tapi ke Amerika Serikat. Karena memang dasarnya beda yang di Amerika lebih ke jurnalis, marketing, dunia baru, dan Eropa yang sebaliknya. Tapi ya karena teman maka mendaftar dan lalu gagal bareng karena memang tidak ada persiapan sama sekali.


Kemudian pada tahun 2013 ada beasiswa Spirit yang berupa loan dari World Bank untuk Bappenas yang bsia dimanfaatkan untuk menyekolahkan PNS Indonesia kaitannya dengan reformasi birokrasi. 


Beberapa kementrian yang mendapatkan beasiswa ini antara lain Kemenlu, Kominfo, Bappenas, dan Kemendagri. Saat itu teman saya mengajak saya lagi yang tadi gagal di Chevening. Sebenarnya saya sudah malas tapi ya lagi-lagi karena teman saya lalu ikut mendaftar dari program beasiswanya dulu baru ke sekolahnya yang dituju. 

Karena saya sudah tahu yang saya inginkan untuk tujuannya maka sudah jelas dalam proses pendaftaran. Sementara teman saya belum tahu mau apa dan kemana atau dimana yang akhirnya dia gagal tapi saya justru diterima waktu itu. Sempat kemudian merasa terjebak, lha yang awalnya antusias sampai ngajakin malah gagal dan justru saya yang diterima. 



Pada akhirnya ya sudah sekalian saja deh diambil karena semua memang sudah ditanggung, yang itu tidak murah, apalagai tujuannya saya ada di US.



Ada banyak tes yang harus dilakukan seperti GRE, meski pada dasarnya ada yang tidak meminta tes itu, tapi memang mending diambil saja karena jika ada hasil tes GRE akan ada lebih banyak pilihan untuk sekolah tujuannya. Jika dicek untuk tes GRE yang juga setara GMAT itu biayanya sangat mahal. Jadi pada saat itu Spirit sudah termasuk menanggung biaya tes GRE dan TOEFL IBT sekali. Namun tentu untuk segala persiapannya seperti kursus dsb itu ditanggung sendiri. Pihak kantor tahu saya diterima tapi ya tentu kantor tidak mau tau karena saya sudah bekerja disana jadi harus tetap bekerja seperti biasa, padahal saya perlu persiapan untuk tes-tes tersebut dan persiapan berbagai hal seperti statement of purpose, aplikasi online, dsb. Program dari Spirit sangat membantu karena ada program persiapan untuk berangkat seperti pelatihan pembuatan statement of purpose, dsb. Pada angkatan yang saya diterima itu lebih banyak yang tujuannya ke Eropa dimana punya IELTS saja tidak masalah. Tapi untuk di US kalau hanya punya IELTS malah sebelah mata dilihatnya karena US lebih ke TOEFL IBT.


Dalam TOEFL IBT itu benar-benar belajar selama masih sambil bekerja. Mengerjakan kerjaan kantor lalu mengurusi persiapan GRE dan TOEFL IBT, lalu ada buku-buku juga yang harus dibaca. Waktu itu saya ambil tes TOEFL IBT 2x dan tes GRE 1x.


Sedikit mengenai TOEFL IBT, ada 5 komponen dengan total nilai 120. Untuk bisa ke Amerika skornya minimal 100 yang bisa disebut sebagai nilai aman karena itu nilai minimal untuk sekolah-sekolah yang bsia dikatakan baik atau bagus. Waktu itu saya hanya mendapatkan skor 97 karena ada beberapa technicalities padahal sebenarnya bisa lebih. Waktu itu sebenarnya gampang, pokoknya latihan dan harus tahu bahwa US itu lebih to the point aja dalam menyampaikan sesuatu. Misalnya penuangan topik itu biasanya gampang jika baca tulisan dimana itu juga harus mudah dicerna, intinya apa aja. Karena biasanya di awal tulisan untuk topiknya tapi bisa ada yang ditengah juga untuk reading. Lalu bagian writing itu yang penting apa argumennya di awal, lalu sampaikan bukti. Untuk paper jangan terlalu lama kemana-mana muter-muter, tidak usah mengulang-ulang dan to the point aja.


Sdangkan untuk GRE, mahasiswa dari Indonesia pasti bisa bertahan di bagian kuantitatif yang mirip Matematika dasar, hitung-hitungan. Namun di bagian verbal, bagian lain yang lebih ke bahasa, jadi di tes aka nada banyak kata bahasa Inggris yang tidak lumrah dipakai. Lebih ke padanan kata, lawan kata, dsb dimana kata-katanya itu banyak banget. Cara satu-satunya untuk memaksimalkan bagian itu ya dengan menghafal. Misalnya ditunjukkan 1 kalimat lalu pertanyaannya kata ini dekat maksudnya dgn kata apa? Nah karena dasarnya bahasa Inggris bukan first languagenya jadi tidak gampang.


Selanjutnya ada bagian critical writing yang lagi-lagi memicu untuk berpikir secara kritis. Pada dasarnya sekolah di US itu harus berpikir kritis dan rasional. Pada bagian ini nantinya akan diberi bacaan yang panjang dan lebih ke hasil-hasil penelitian lalu harus mengkritisi dalam format tulisan juga. Tulisannya harus jelas dan to the point saja, misal penelitian itu tidak valid karena ini itu dan dijelaskan secara terstruktur. Waktu itu saya agak lemah disitu, jadi dari 6 nilai tertingginya cuma dapat 3. Tapi untuk bagian verbal dan kuantitatifnya sesuai dengan kuartil atau range nilai yaitu dalam 1 perguruan tinggi di US itu ada banyak orang yang mendaftar dimana akan dilihat nilai persebarannya dari hasil GRE itu sejauh apa. Dalam tes masuknya persyaratan mereka itu untuk orang asli dari US sama dengan persyaratan orang dari luar US, jadi yang menantang adalah untuk bisa masuk di kelompok dengan nilai yang sama dengan orang-orang asli US. Bagian verbal kalau bisa 160 keatas, saya lupa berapa tapi bisa masuk juga. Bagian kuantitatif juga 160 tapi itu lebih gampang. Pada dasarnya harus kerja keras 2 kali karena mereka menggunakan bahasa Inggris dan kita tidak yang pada waktu kuliah juga harus kerja keras.




Waktu itu saya daftar di beberapa sekolah, NYU, American University, Georgetown University, George Washington University, semua ada di Eastcoast karena suasananya yang paling enak untuk belajar ada disana. Saya sudah pernah disana pas magang 3 bulan, jadi sudah tahu kondisi kota disana, enak, mirip Bandung tapi malah tidak terlalu rame. Lalu orang-orangnya juga lebih ke orang-orang pemikir karena memang khusus untuk kawasan pemerintahan, ada juga library conggress yg lengkap banget koleksinya. Museum2 juga bagus banget untuk di Washington DC. Antara DC atau New York pilihannya waktu itu, meski New York lebih ramai dan tidak terlalu pas untuk kuliah dan belajar. Sebenarnya di NY ada juga Syracuse yang paling bagus untuk komunikasi namun karena ada beberapa hal yang dirasa kurang cocok disana jadi tidak ambil yang disana. Lalu ada juga Boston di Masachussets yang ada banyak mahasiswa internasional dan banyak sekolah bagus juga, namun ada teman kuliah disana yang tak lihat koq rasanya berat banget, banyak requirements. dan memang harus siap untuk kuliah di US itu papernya banyak dan bukunya juga banyak. Bahkan bisa 1 buku untuk per pertemuan bahannya itu. Jadi harus baca terus dan banyak bukunya tentu dalam bahasa Inggris.


Saya sempat nanya-nanya teman senior yang ambil komunikasi tentang sekolah yang bagus tapi bukan yang full komunikasi, tiba-tiba ada rekomendasi University of Southern California karena ada Master of Public Diplomacy yang pas banget dengan minat saya, tapi requirements-nya TOEFL IBT harus 114 atau 120 padahal saya cuma 97. Tapi waktu itu ya bolehlah meski tidak terlalu tertarik tetap masuk daftar pertimbangan.


Lalu coba-coba juga cari di internet, dari indeks sekolah terbaik di dunia dan menemukan di bidang komunikasi ada London School of Economics di Inggris. Artinya saya harus tes IELTS lagi dan akan berat kalau disana. Tapi ternyata ada kerjasama dengan USC tadi untuk program Global Communication yang lokasinya di LA, lalu nekatlah daftar. Akhirnya juga yang menerima cuma USC dan Georgetown. Sempat bingung mana yang mau diambil, Georgetown saya sudah tahu kotanya, enak, bagus, namun mahal biaya hidupnya. Setelah itu kepikiran kenapa nggak di LA aja, sekali-sekali tinggal di Westcoast dan akhirnya memilih USC.


Lanjut ke part 2

Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,81,Arab Saudi,13,Asia,237,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,297,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,10,Destinasi,65,Eropa,312,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,6,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,12,Info Universitas,34,Inggris,86,Interview,441,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,11,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,4,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,16,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,58,Jerman,46,Kanada,27,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,Lithuania,1,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,15,PPI,6,Prancis,1,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,24,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,24,Student Life,150,Studenthack,348,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,7,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,89,Tips Travelling,6,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,12,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,2,Universitas,36,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 1)
Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 1)
https://3.bp.blogspot.com/-sCtNTLf_jtA/V_xTOjv1PtI/AAAAAAAABhw/rAaiKqiKk4omPjDB1_NPy0deWQKzgzOGACLcB/s640/IMG_6701.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-sCtNTLf_jtA/V_xTOjv1PtI/AAAAAAAABhw/rAaiKqiKk4omPjDB1_NPy0deWQKzgzOGACLcB/s72-c/IMG_6701.JPG
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2016/10/bagaimana-perjuangan-gadis-ranty.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2016/10/bagaimana-perjuangan-gadis-ranty.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy