Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 2)

Setelah pada part 1 diceritakan awal mula perjalanan Gadis Ranty untuk bisa kuliah ke Amerika Serikat, pada part 2 ini akan ada banyak hal ...

Setelah pada part 1 diceritakan awal mula perjalanan Gadis Ranty untuk bisa kuliah ke Amerika Serikat, pada part 2 ini akan ada banyak hal yang terjadi dan didapatkan ketika proses kuliah di University of Southern California...



Mulai kuliah di LA, biaya yang ditanggung beasiswa mencakup?

Beasiswa Spirit mencakup semuanya, uang kuliah, biaya hidup, dan sebenarnya ada juga uang buku dan macam-macam itu tapi saya lupa per-bulan atau berapa waktu sekali, tiap semester mungkin. Tapi ini balik lagi ke kitanya sendiri, jika pintar manajemen uangnya maka bisa tetap bertahan hidup untuk berbagai keperluan. Seperti juga contoh satu hal tentang printer yang itu ada banyak, ada yang terbatas di 1 lokasi maksimal print 25 halaman, ada juga yang free di Student Center. Sebenarnya bisa dibilang allowance saya bisa cukup. Termasuk biaya pesawat juga dibiayai oleh beasiswa.


Awal-awal kuliah bagaimana? Mungkin ada semacam masa-masa krisis atau culture shock?

Culture shock di LA tidak terlalu karena dari sisi kota itu sama dengan di Indonesia cuma memang individualis saja dan buat saya itu tidak terlalu bermasalah dari segi budaya. Paling berat di awal adalah adjustment dengan sistem perkuliahan di US. Saya bisa bilang bahwa cara belajarnya di US itu beda dengan cara belajar di Indonesia apalagi untuk S2. Studi S2 itu di kelas harus seminar yang berarti diskusi, bukan lagi sistem dimana dosen hanya mengajar dan mahasiswa mendengarkan. Mahasiswa harus berinteraksi dengan dosen dimana dosen mengharapkan mahasiswa membaca dulu materinya sebelum perkuliahan dimulai. Dosen akan memberikan info materi sebelumnya agar mahasiswa membaca dahulu jadi di kelas tinggal diskusi saja.

Masa-masa awal saya masih terbawa semangatnya hanya untuk membaca, selesai membaca tapi tidak begitu paham, sebenarnya intinya harus paham intisari bukunya, bukan hanya membaca. Inti dosen mengajar itu lebih ke pandangan dari mahasiswa akan materi yang diajarkan stelah membaca buku-buku yang dipergunakan. 


Mahasiswa harus bisa menjelaskan semua perbedaan dari beberapa buku dan ahli dengan opini berbeda. Dosen itu hanya fasilitator dimana untuk menguji bahwa mahasiswa benar-benar membaca maka diadakan kuis-kuis. Terus ada juga dosen gaya baru tanpa kuis tapi ada portal interaksi khusus antara dosen dan mahasiswa yang disana juga ada forum diskusinya, jadi mahasiswa bisa posting pertanyaan yang memang ini diminta dosen berkaitan dengan bahan ajarnya.

Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan itu artinya mahasiswa benar-benar membaca. Ada juga dosen yang menjelaskan bahan-bahan yang bahkan tidak ada di buku yang digunakan. Meski bisa dibilang sekolah US sangat diverse tapi segala yang diajarkan dan caranya itu Amerika banget. Bahkan ketika membahas sejarah juga lebih ke sejarah Amerika. Tapi ya intinya itu memang buat belajar saja. Apalagi belajarnya public diplomacy jadi wajar belajar politik dan kebijakan Amerika termasuk tentang presidennya lalu sejarahnya  dsb. 

Itu perbedaannya, termasuk belajar hal baru tentang US, lalu sistem pendidikan dimana harus buat paper yang nggak kaya orang ngomong dalam bahasa Indonesia kemudian diterjemahkan. Papernya lebih ke nulisnya itu mau seperti apa? US itu sangat sensitif dengan plagiarism, beda dengan di Indonesia yg copypaste masa bodoh. Cara saya nih, perbanyak bahan yang buntuk riset, baca-baca ini itu, nanti saat nulis pastikan menggunakan opini pribadi, bisa parafrase atau yang lain caranya, pastinya bukan copypaste.


Untungnya saya tidak pernah copy paste, karena bahkan di forum dosen dan mahasiswa tadi itu ada sistem untuk pengumpulan paper yang secara otomatis akan melakukan scan dokumen itu dan bisa mendeteksi plagiarism. Terus juga selain itu, jangan merubah bahasa verbal ke tulisan secara langsung apa adanya. Karena hasilnya akan muter-muter, langsung atau to the point saja ke intinya. Jangan berpikir seperti orang Indonesia lalu hanya diterjemahkan begitu saja yang pada akhirnya terasa sangat cultural dan tentunya susah diterjemahkan.

Menulis paper harus dirubah sesuai apa yang mereka pikirkan dan itu buat saya perjalanan panjang karena saya belajar through the hard ways, tidak ada yang ngajari saya. Paper awal saya ngetik itu buru-buru, stelah itu berusaha kalau bisa dicicil karena harus bekerja lebih keras dari orang US, tidak bisa semalam sebelumnya dikebut. Saya mengerjakan itu 1 atau 2 minggu sebelumnya dan bahkan saya bawa draft ke dosen apakah bisa dilanjutkan. Pernah saya buru-buru banget terus dikumpulkan dan pas saya terimalagi sudah penuh coretan dan tanda tanya, what are you trying to say? Intinya apa? Mau ngomong apa? Buat paper kebanyakan yang intinya dosen tidak mengerti dengan papernya.

Sampai saya menemukan writing clinic yaitu semacam klinik untuk konsultasi masalah tulisan dan beberapa bisa jadi proofreader juga. Meskipun kadang memang harus cari diluar untuk proofreader yang butuh biaya lagi. Mengakali hal ini tipsnya bertemanlah dengan warga lokal, asli lokal, dan pastikan lahir dan besar disana. 

Selanjutnya pastikan mereka bisa membantu kita nulis dengan konsultasi ke dia dimana dia jd reader kita, jada semacam preview, atau misalnya sebelum diberi tugas paper, cek silabus dan tanya ke dosen, bnyak-banyak ngobrol dengan dosen. Sebenarnya mereka terbuka, tanya saja dosen itu pengennya kita bagaimana, papernya harus seperti apa, komunikatif, lebih jelas nanti hasilnya. Ngobrol-ngobrol juga dengan teman, jangan cm dipegang sendiri, kerjain sendiri, pusing sendiri. 


Kebiasaan orang Indonesia bahkan ketika di luar negeri adalah tetap bergaulnya juga dengan sesama orang Indonesia. Ya itu memang nyaman, tapi yang nyaman kadang tidak mengajarkan kita untuk dewasa. Jadi harus menerobos batasan yang ada, ngobrol dan berteman serta bergaul dengan orang lokal. Itu akan sangat membantu bagaimana berhadapan dengan dosen sana. 


Mau tidak mau harus berpikir untuk mereka, jangan anggap bahwa membuat paper itu hanya membuat tulisan dengan pikiran orang Indonesia lalu diterjemahkan, itu tidak akan berhasil. Itu tadi permasalahannya mencakup pendidikan yang berbeda, lalu harus kritis, dan ada lagi, kadang dosen sana ada yang ekstrim banget. 

Misalnya mau ngomong ya ngomong aja, saya minta izin tapi yang lain ngomong kan jadi awur-awuran gitu karena ya memang dari dosennya boleh kalau mau ngomong langsung aja. 

Sampai ada masanya saya stres dan saya menghindari mengambil kelas yang banyak anak Amerika di sana. Sayang kelasnya selalu hanya kelas kecil. Kadang kita bisa bahasa Inggris tetapi belum tentu bisa berkomunikasi dengan mereka. Cara bicara, ekspresi mereka, itu harus diketahui yang tidak hanya bahasanya saja. Tidak mau kan ngomong di kelas tenyata dosen ekspresinya "kamu itu ngomong apa?"

Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung jadi harus tau betul budayanya disana bagaimana gitu.



Dalam hal perbedaan orang Indonesia dengan orang Amerika itu di bidang apa dan contohnya kalau ada? 

Misal mengenai cara berpikir atau apa yang mungkin membuat shock dan mungkin itu bagus dan bisa dicontoh?

Banyak sih ya, pada dasarnya orang US itu simple. Kalau butuh ngomong. Kalau nggak tahu ya tanya gitu, simple. Orang Indonesia kan ada rasa malu lah, gengsi lah, nanti dikira bodoh, stupid question. Terima aja, ngomong aja, kalo ngomong juga nggak ada buktinya. Mereka lebih mengajarkan kita untuk kalau misal bermasalah juga akan menghargai. Awalnya orang Indonesia takutnya bahwa mereka di US seperti tidak menghargai orang Indonesia. Kadang kita sudah malu dulu untuk bicara dan cerita tentang Indonesia karena pertama mereka tidak interest dengan Indonesia, mereka tidak tau budayanya, namun pada dasarnya mereka akan mendengarkan kita, ya kalo bingung ngomong aja.

Ternyata orang US itu lebih terbuka dan toleran yang saya juga baru tahu pas sudah ada di sana. Diluar sekolah sekalipun, di kawasan LA yang paling beragam, bahkan waktu bulan Ramadhan saja ada Ramadhan di LA, beda agama buka bareng, cerita-cerita, kekeluargaannya tinggi. Ya memang yang individual memang individual banget tapi yang justru tolerannya tinggi juga. 

Sementara di Indonesia bulan puasa selalu ada masalah misal orang nggak puasa diusirin segala macem. Ini negara gak ada agamanya bisa dibilang, tapi ya justru berbeda suasananya, mereka menghargai. Waktu itu saya pernah serumah dengan orang-orang US, saya ambil summer course di kota yang muslimnya lumayan, ada masjid juga. Waktu itu ke masjid pas waktu tarawih gitu udah lengkap dengan mukena dan sebagainya. Sempat ditanyain dan saya jawab mau doa. Terus sampai berpikir udah nggak mau ngomong soal Islam, tapi mereka malah penasaran, kayanya enak banget deh punya agama. 

Maksdunya ya saya terkejut mereka ternyata respect. Mereka bahkan bisa belajar, mereka bisa dialog. Jadi buat orang Indonesia jangan minder dulu bahwa orang bule diatas kita. Coba buka diri, ramah, tapi ya lihat dulu, kalau orangnya tidak mau disentuh dalam apapun ya jangan.


Waktu disana mb Gadis tinggal di apartemen atau apa?

Saya tinggal di shared housing, jadi ada rumah mansion yang besar isinya 9 orang, jadi masing-masing punya kamar sendiri. Orang US semua itu, jadi saya tadi bilang saya punya prinsip tidak mau bergaul dengan orang Indonesia, bukan bermaksud sombong, ketemu-ketemu sih biasa dan pasti itu, tapi kalau sampai setiap hari ketemu dan bergaulnya hanya dengan orang-orang Indonesia lagi ya ngapain sampai harus di US. Saya harus tahu pergaulan anak US, cara bicara, budaya, dan lain sebagainya. Awalnya cukup jadi pendengar saja untuk belajarnya, slang-nya bagaimana itu juga perlu diketahui. Itu 9 orang kalau penuh, sempat juga hanya ada 7 orang.


Selain kuliah, ada kegiatan-kegiatan apa yang dilakuin disana?

Kegiatan pribadi adalah masak ya, waktu kuliah dari semester 1 sampai semester 3 totally fokus di kuliah. Waktu itu saya ambil 3 mata kuliah per semester, itu total ada 12 sks di 1 semester karena 1 mata kuliah itu ada 4 sks dimana 4 sks itu sangat berasa. Banyak yang biang bahwa sks di Indonesia itu tidak berasa seperti sks apalagi dibandingkan dengan di US. Makanya sampai ada yang bisa ambil 24 sks di Indonesia, saya dulu pas S1 di Indonesia juga pernah, tapi masih tetap bisa punya kehidupan. Ini di US cuma 12 sks sudah berasa tidak punya kehidupan diluar kuliah. Ya itu tadi memang benar-benar harus belajar banget untuk 12 sks, readingnya banyak. Kalau punya aktivitas lain nggak yakin bisa belajar segitu banyak, belum di tugasnya juga banyak. Jadi semester 1 sampai semester 3 cuma belajar doang, kegiatan lain ya yang sehari-hari doang, belanja misalnya. Semester 3 apalagi, saya ambil kuliah yang skala penelitian, ketiga-tiganya kaya bikin 3 skripsi. Semester 4 itu saya cuma ambil 1 mata kuliah dan dosennya lebih ke praktek, lalu ambil praktikum dan ada magang di Indonesian Trade Promotion Center di LA. Jadi waktu itu semester akhir lebih banyak magang dan kuliah, volunteer NGO di LA juga yang bergerak di bidang pemberdayaan keluarga, orang tua untuk pendidikan anak, dan bantu-bantu KJRI.



Sempat jalan-jalan?

Itu setiap semester, harus, terutama pas break, bukan pas masa kuliah, karena nggak bisa. Cuma pas break aja tapi pernah ada pas pertengahan kuliah itu ada ekskursi kampus di DC, tapi ya memang program dari kampus.


Mengenai musim, diisana ada 4 musim itu bagaimana?

Jadi LA itu ada di US tapi suhunya paling mirip Lembang, bahkan saya dikamar nggak pake heater, kamar jendela terbuka, ada kipas angin juga jadi tergantung kebutuhan. Nggak ada heater, mungkin rumahnya itu rumah tua juga. Spring ada kalanya mendung, kadang hujan, padahal di bulan Juni dan sudah mau Summer. Cuma bedanya kalo disana panas tapi anginya dingin, di Indonesia misal Jakarta gitu udah panas anginnya panas juga, yang itu disebut heatwave.


Disana memungkinkan nggak mb untuk kerja sampingan?

Itu sangat mungkin, visa sekolah ada F1 dan J1 dimana yang F1 itu bisa untuk kerja secara legal selama 20 jam/minggu tapi harus berkaitan dengan akademik misal asistem dosen atau kerja di perpus. Tidak bisa asal kerja dimana-mana kecuali underground, di restoran, bar, beberapa jam dan benar-benar dibayar. Kalau menurut saya mendingan kerja sampingan yang memang sesuai dengan bidangnya saja, bukan pekerjaan yang memberatkan fisik, jangan sampai capek, karena kuliah juga bahannya banyak.


Selama disana apa yang menurut mb Gadis paling berkesan?

Semester terakhir itu yang paling berkesan buat saya. Saya ambil komunikasi, awalnya pengen thesis tentang public diplomacy frameworks di Southeast Asia. Lalu di semester terakhir saya ambil praktikum yang mengarah ke nation branding, dan saat itu saya magang di Indonesia Trade Promotion Center, semacam perwakilan dagang Indonesia di luar negeri dari Kementrian Perdagangan dimana kepala divisnya sedang gencar sekali untuk mempromosikan kopi agar maju. Memang waktu itu dibawah pemerintahan Jokowi sedang percepatan diplomasi ekonomi, jadi saya berpikir bahwa jualan itu butuh marketing dan nation branding itu pas untuk memasarkan Indonesia.

Semester terakhir sangat berkesan karena saya bertemu orang-orang yang hebat dan mengajarkan saya untuk bisa pada akhirnya membuat laporan praktikum tapi udah kaya thesis yang memang penting untuk kuliah saya, nation branding itu, dan saya juga bertemu dosen saya yang mengajari social marketing, dia jewish dan dia bukan profesor tapi praktisi. Jadi benar-benar kuliah yang sangat membuka mata saya untuk marketng sebagai pemerintah yang dalam misi diplomasi publik dan diplomasi ekonomi, saya bisa bantu nation branding, jadi waktu itu Indonesia menjadi ibaratnya negara profil untuk asosiasi kopi yang isinya praktisi kopi, jadi waktu itu saya diajak ke exponya, ketemu pelaku bisnis kopi, lalu aktifdi twiter juga, seru aja sih, ketemu orang-orang dari dunia kopi dan saya belajar mengenai kopi, tapi jadi suka kopi juga. Sampai akhirnya jadi sekarang passionate dengan marketing dan branding. Saya sempat nulis dan dimuat di Jakarta Post sampai ada 1 branding observer, webblog yang terkenal, memang mengangkat branding, mewawancarai saya, smpai juga tulsian saya itu dimuat di syracuse university. Jadi waktu itu saya benar-benar merasa this is my passion, ibaratnya pulang memang membawa sesuatu gitu.



Ada nggak sih semacam untold story yang nggak banyak orang tahu tentang kuliah di US atau kehidupan di US?

Ada banget, kalau orang menganggap kuliah di US tu flashy dan keren sampai bahkan ada yang menganggap di LA itu mau kuliah atau ngartis, buat saya sih sekolah di LA bukan karena mau ke Disneyland. Untuk mahaiswa komunikasi yang mau kuliah komunikasi, buat saya LA itu alternatf yang baik karena LA sama dengan NY juga, pusat industri hiburan dan disana paling banyak ada orang kreatif, diversitasnya tingi. NY juga crowded tapi di LA itu pantainya lebih bagus, dan di California sendiri di utara ada San Fransisco dimana ada banyak startup bisnis bidang teknologi.

Satu hal yang ngak banyak diketahui adalah bahwa LA itu sama dengan Jakarta, biaya hidup mahal nggak juga karena kalau hemat saya bisa habis cuma 200 dolar per bulan untuk hidup, bukan untuk rumah. Yang mahal itu biaya rumah bisa 800 dolar keatas. Nah, disana tingkat kejahatannya agak sketchy, karena itu kan banyak percampuran budaya, latin, kaya di film-film, jadi lumayan kotor, nggak bersih, terus tembak-tembakan, itu beneran, antar geng, Cuma sepanjang sekolah saya nggak cerita ke ortu juga. Nggak terlalu wah banget gitu pada dasarnya, kalau bisa hemat ya bisa kaya Jakarta. Lalu kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi, warna-warni banyak, Amerika sendiri beda-beda, mungkin kalo di midwest masih redneck banget, bahkan bisa liat orang berjilbab atau liat orang Indonesia nggak mau ngomong, ada yang nggak mau liat imigran sama sekali. Cuma buat saya US itu tanah buat semua orang, jadi kebebasan beragamnya sepnjang pengetahuan saya sangat tinggi sekali, nggak ada masalah utk itu.


Itu tadi yg 200 dolar per bulan, gimana biar ngirit disana?

Kuncinya masak sendiri. Permasalahannya disana lagi ngetrend makanan organik, dan itu mahal. Salad itu mahal, jadi buat saya sih ada tuh ya di banyak tips traveling atau sekolah, kalau di luar negeri ikuti gaya makan mereka biar murah. Menurut saya nggak begitu, bisa murah tapi bakal ngabisin banyak akhirnya. Kalau saya sih tetap harus ada nasi, masak sendiri, lalu beli sayur, beli lauk, bisa masak buat seminggu, asal tahan aja makan sama terus. Jangan terjebak nongkrong dan harus makan diluar. Jadi saya belanja sendiri, saya masak, saya batasi setiap minggu paling 50 dolar gitu. Bisa-bisa aja sih, kadang-kadag ditraktir juga, ya gitu lah, masak dan jangan terlalu konsumtif. Bisa mengendalikan diri, nongkrong-nongkrong itu habis banyak. Saya nggak gaul dengan oarng Indo disana karena mereka senang nongkrong, dan sekali nongkrong bisa sampai 50 dolar. Anak sekolah yg beasiswanya kadang telat, nggak bisa gitu.


Sekarang sudah selesai kuliah di US kemudian apa sih hal yang membuat kuliah di luar negeri itu penting dan apakah itu mendukung pekerjaan mb Gadis saat ini?

Mendukung banget ya, tahun pertama saya kuliah di US itu ngapain sih kalau dipikir-pikir kuliah di US, buku-buku aja bisa diakses dr Indonesia. Baru pada akhir tahun pertama kuliah di US terasa pentingnya. Karena bisa membukakan pikiran, nggak cuma belajar tapi pergaulan, cara pandang, berita-berita, itu mengubah mindset apalagi kita bergaul dengan orang-orang kreatif, inisiatif-inisiatif baru yang sbelumnya tidak terpikirkan bisa didapat. Lalu hal-hal baru, peluang-peluang baru yang nggak kepikiran di Indonesia juga bisa didapat. Sekolah di US orang disana nggak ngurusin orang lain, kamu bisa jadi diri kamu sediri, di Indonesia terlalu banyak social pressure. Jadi kenapa kuliah diluar negeri perlu itu tadi. Berguna bagi pekerjaan iya jelas, saya masuk di kantor staf ahli kemenlu, kerja kembali di pemerintahan ilmunya tmemang tidak selalu dipakai, tapi saya tahu kemana saya akan pergi, saya siap membantu dll, tapi saya juga punya proyek saya sendiri, mau nulis lagi, mau ngajarin mahasiswa komunikasi UI s1, bantu jadi asisten, dan say juga mau bantu ngajar diplomasi publik, sky is the limit, ilmu kita pasti berguna, buat kantor atau buat yang lainnya nanti.


Setelah kuliah di US, harapan mb Gadis untuk membangun Indonesia seperti apa? Aku selepas kuliah pengen apa gitu di Indonesia?

Saya pengen branding sih, rencana sama teman yang ambil public policy dan kerja di kemendagri, kita punya passion utk membranding di Indonesia tapi lebih kepada setiap propinsi dengan otonomi daerahnya untuk memberdayakan daerahnya guna memasarkan daerah tersebut ke luar negeri. Jadi semacam branding consultant ke social merketing setiap daerah, tapi bukan hanya memasarkan masalah wisata, perdagangan tapi juga mengangkat region itu untuk maju secara ekonomi, sosial, budaya, politik, dsb. Hambatan tentu dari perilaku politik elit-elit di daerah tersebut, nggak masalah buat saya karena setiap daerah itu bsia dimajukan dari brandingnya masing-masing.

Saya juga pengen merangkul mahasiswa Indonesia di luar negeri, untuk membantu teman-teman mahasiswa sharing passion, demi menghasilkan ide-ide yang bermanfaat bagi bangsa. Saya sudah kerja di sabangmeraukeid, jadi semacam NGO yang kerja untuk meningkatkan bhineka tunggal ika, pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia, supaya saling mengenal. Saya inspirasinya untuk membuat semacam indonesian network untuk mahasiswa Indonesia karena berpikir kadang kalau belajar di Indonesia saja kita nggak tahu dan nggak berpikir hal apa saja yang sebenarnya bisa dilakukan, sementara mahasiswa Indonesia di luar negeri punya pemikiran yang tentu lebih terbuka dan kreatif, bagaimana kalau sharing saja antara yang di luar negeri dan di dalam, tentang apa yang bisa dilakukan bersama. Kelebihan yang di luar negeri otaknya dan pikirannya lebih terbuka, bisa gini bisa gitu, yang mungkin mahasiswa di Indonesia belum banyak yang tahu. Saya liat saya sendiri bisa seprti sekarang krena bisa kuliah di luar negeri.


Apa prinsip hidup mb Gadis sehingga bisa sukses kuliah di luar negeri?


Nggak ada yang nggak mungkin, sky is your limit, jika kita mau berusaha keras dan mau merubah nasib, dan percayalah jika itu jodoh akan datang dengan sendirinya. Saya sudah lupa mau sekolah tapi pada akhirnya ada kesempatan di US, lalu IBT saya dibawah syarat yang diminta yaitu 114, tapi tetap bisa juga, selama masih bisa diperjuangkan ya diperjuangkan, jangan mundur dulu.

Kurang lebih sudah semua, ketika kita belajar di luar negeri, buka pikiran seluas-luasnya serap semuanya tapi jangan kehilangan fondasi, kita harus punya pijakan bahwa saya Indonesia, atau saya Islam, jadi ada batasan-batasannya. Untuk pendidikan dan pergaulan ya nggak apa-apa kenalan orang-orang US, dia ini dia itu, soal prinsip agama, hal-hal pribadi harus dipegang untuk menjaga diri. Belajar apapun ya itu tadi ada beberapa aspek pendidikan di luar negeri tidak bisa didapat di Indonesia, pelajari saja, serap. Disana akses buku tidak terbatas, tidak seperti di Indonesia.

Jadilah mandiri, kalau saya pas di US, sebagai mahasiswa harus mandiri lah, saya ingat mau ujian, ada tugas paper, nggak ada makan, lalu masak sekaligus jadi terapi buat saya biar nggak stres. Tiap orang pasti punya penyaluran terapi masing-masing. Sekarang di kampus-kampus US sampai ada klinik stress, tapi saya alhamdulillah 2 tahun di US nggak pernah sampai kesana. Nggak perlu malu untuk salah, karena belajar, tanya aja kalau nggak tahu, terbuka saja. Ada banyak juga yang studinya nggak kelar, karena stress, salah pergaulan. Siapapun dari manapun pembiayaan kuliahnya, kamu bertanggung jawab atas biaya itu. Manajemen diri itu peting, harapannya yang mau kuliah ke luar negeri itu manajmen diri, karena cuma diri sendiri yang bisa.


Reporter : Rizqi Akbar Syah
Editor : Denal Sukma Dewa
Nama

Afrika,26,Amerika,67,Amerika Serikat,80,Arab Saudi,12,Asia,236,Australia,75,Austria,12,Beasiswa,281,Beasiswa Amerika,4,Beasiswa Arab Saudi,5,Beasiswa Australia,14,Beasiswa Austria,2,Beasiswa Belanda,10,Beasiswa Belgia,1,Beasiswa Brunei Darussalam,2,Beasiswa Cina,10,Beasiswa Denmark,1,Beasiswa Filipina,3,Beasiswa Finlandia,1,Beasiswa Hongkong,1,Beasiswa Hungaria,1,Beasiswa India,2,Beasiswa Indonesia,3,Beasiswa Inggris,28,Beasiswa Irlandia,1,Beasiswa Jepang,13,Beasiswa Jerman,5,Beasiswa Kamboja,1,Beasiswa Kanada,3,Beasiswa Korea,2,Beasiswa Korea Selatan,5,Beasiswa Malaysia,6,Beasiswa Myanmar,1,Beasiswa New Zealand,3,Beasiswa Perancis,4,Beasiswa Polandia,1,Beasiswa Rumania,1,Beasiswa Selandia Baru,1,Beasiswa Sidney,1,Beasiswa Singapura,3,Beasiswa Skotlandia,1,Beasiswa Slovakia,1,Beasiswa Spanyol,1,Beasiswa Swedia,2,Beasiswa Swiss,3,Beasiswa Taiwan,1,Beasiswa Thailand,3,Beasiswa Tiongkok,1,Beasiswa Turki,5,Beasiswa Uni Emirat Arab,1,Beasiswa Uni Eropa,2,Beasiswa Vietnam,1,Belanda,35,Belgia,10,Brazil,2,Brunei Darussalam,7,Bulgaria,3,Ceko,3,Chili,3,Cina,30,Denmark,9,Destinasi,65,Eropa,310,Event,5,Exchange,26,Fakta Unik,82,Festival Indonesia,2,Filipina,8,Finlandia,16,Hong Kong,6,Hungaria,4,IELTS,5,India,37,Indonesia,113,Info Beasiswa,64,Info Jurusan,11,Info Universitas,34,Inggris,85,Interview,439,Interview di Amerika,13,Interview di Arab Saudi,5,Interview di Australia,23,Interview di Austria,4,Interview di Belanda,12,Interview di Belgia,8,Interview di Ceko,3,Interview di Cina,12,Interview di Damaskus,1,Interview di Denmark,4,Interview di Filipina,3,Interview di Finlandia,10,interview di Hungaria,1,Interview di India,9,Interview di Indonesia,4,Interview di Inggris,32,Interview di Irlandia,1,Interview di Italia,10,Interview di Jepang,20,Interview di Jerman,20,Interview di Kanada,8,Interview di Korea Selatan,28,Interview di Malaysia,1,Interview di Maroko,6,Interview di Meksiko,1,Interview di Mesir,8,Interview di New Zealand,16,Interview di Perancis,25,Interview di Polandia,12,Interview di Portugal,11,Interview di Rusia,2,Interview di Selandia Baru,3,Interview di Singapura,6,Interview di Skotlandia,2,Interview di Spanyol,16,Interview di Swedia,2,Interview di Swiss,2,Interview di Taiwan,5,Interview di Thailand,8,Interview di Tiongkok,9,Interview di Turki,9,Interview di Yaman,1,Interview di Yordania,5,Irlandia,10,Islandia,1,Italia,14,Jakarta,1,Jamaika,1,Jepang,56,Jerman,44,Kanada,26,Karir,13,Kazakhstan,1,Kolombia,4,Korea Selatan,44,Kuliner,21,kuliner khas daerah,7,Kuliner Mancanegara,14,Launching Buku,1,Lebanon,3,LPDP,3,Malaysia,26,Maroko,9,Media,249,Meksiko,7,Mesir,19,motivasi,2,New York,1,New Zealand,15,News,3,Norwegia,2,Paraguay,1,Perancis,48,Polandia,14,Portugal,14,PPI,6,Press Release,1,Prestasi,1,Profil PPI,7,Profil Universitas,51,Qatar,2,Rekomendasi,1,Rumania,2,Rusia,12,Selandia Baru,23,Sidney,1,Simposium Internasional PPI Dunia 2016,6,Singapura,30,Skotlandia,4,Slovakia,1,Spanyol,23,Student Life,144,Studenthack,345,Surabaya,2,Swedia,19,Swiss,15,Taiwan,9,Thailand,13,Tiongkok,18,Tips,3,Tips Beasiswa,15,Tips Belajar Bahasa Inggris,9,Tips Kuliah ke Luar Negeri,84,Tips Travelling,5,Tips Umum Kuliah di Luar Negeri,104,Tips Umum Kuliah Di Negeri Sendiri,47,TOEFL,11,Tokoh Dunia,2,Tokoh Indonesia,20,Traveling,6,Turki,20,Uni Emirat Arab,1,Uni Eropa,1,Universitas,35,Universitas Terbaik,56,Uruguay,2,Vietnam,1,Yaman,1,Yogyakarta,3,Yordania,5,Yunani,3,
ltr
item
Berkuliah.com: Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 2)
Bagaimana Perjuangan Gadis Ranty Diterima Kuliah di Amerika Serikat dengan Beasiswa (part 2)
https://2.bp.blogspot.com/-L7gA0fdMp10/V_7qotHqqaI/AAAAAAAABi4/WqocWCakBiYU8RNwtbkXOOIPQ_SDdZjlgCLcB/s640/IMG_7024.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-L7gA0fdMp10/V_7qotHqqaI/AAAAAAAABi4/WqocWCakBiYU8RNwtbkXOOIPQ_SDdZjlgCLcB/s72-c/IMG_7024.JPG
Berkuliah.com
http://www.berkuliah.com/2016/10/bagaimana-perjuangan-gadis-ranty_13.html
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/
http://www.berkuliah.com/2016/10/bagaimana-perjuangan-gadis-ranty_13.html
true
6823463133590324440
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy